Nereka!

Ini benar-benar neraka bagi Jinwoo dan Mino.

Ruang kantor Min Yoongi adalah nereka bagi mereka. Benar-benar nereka.

Sejak kedatangan keduanya di sini tak ada yang mengeluarkan suara, Yoongi-pun sama ikut diam. Mungkin dia menungguu kedua muridnya beradu mulut kembali, mengulang perseteruan mereka atau melanjutkan perseteruan mereka di kantin yang tadi dia ganggu.

"Kalian tak berantam lagi? Akhirnya Yoongi yang kalah untuk mengeluarkan suara pertamanya.

Jinwoo dan Mino saling pandang sebelum menatap sang guru horror. "Tidak!"

Yoongi mengangka bahunya malas, ia menumpu kedua sikunya di meja dan menggengam tangannya sendiri, matanya menatap kedua anak didiknya tersebut. "Mino! Kau sudah kedua kalinya dalam sehari datang keruanganku dengan dua masalah, kau mencintaiku? Mengingat anak-anak disini gay." Mino membelalakan matanya mendengar penuturan sang guru anak itu ingin membantah namun tak berani jadilah dia hanya diam saja, "Dan kau Kim Jinwoo, kau mau berhenti menjadi murid teladan? Mau mencoba menjadi anak berandal ya? Apa menjadi anak baik itu membosankan sekarang? memangsih begitu… " dan Jinwoo hanya bisa meringis saja, sama dia juga tak berani melawan. "Kalian tahu kan berantam di sekolah ataupun diluar sekolah itu tak boleh?" keduanya mengangguk.

Yoongi bangkit dari tempatnya namun dia hanya berdiri di balik mejanya, menatap dalam kedua muridnya yang berada di depannya tersebut. "Kalian tahu kan apa hukumannya? Tapi sayangnya hukuman itu sangat tak adil bagi kalian… aku punya hukuman yang lebih menarik."

Kedua murid itu hampir tersenyum sebelum sang guru melanjutkan kalimat yang seperti kumandangan pencabutan nyawa..

"Kalian jadilah roommate…" baru saja mereka mau memprotes sang guru sudah memberikan aba-aba dengan mengangkat tangannya, "Tengkurap di lantai. Sekarang." Dan mereka tak bisa melakukan hal lain selain menurut. Yoongi tersenyum melihatnya, "Kalian akan berjalan seperti itu selama sepanjang tahun sebagai ganti kalian tinggal bersama. Pilih yang mana. Aku menunggu, waktu kalian hanya satu menit! Satu…dua..tiga…"

Mino dan Jinwoo mendesah, mereka tak habis pikir bagaimana bisa mereka memiliki guru menyebalkan seperti Min Yoongi? Dimana hati nurani guru tersebut?!

"Guru Min…" Jinwoo tampak ragu bersuara, Mino dan Jinwoo masih dengan posisi mereka yang tengkurap di lantai. Lucu sekali kalau di lihat.

"Waktu kalian tinggal 34 detik lagi." Dan guru itu tak peduli. Jinwoo dan Mino akan gila saat ini. apa-apaan ini semua? Haruskah mereka bersama? Berjalan dengan tengkurap seperti ini… apa mereka anggota kemiliteran?!

"Waktu kalian hanya 20 detik lagi, cepatlah…" Min Yoongi mejadi guru kejam bukan tanpa alasan. Dia meang benar-benar kejam. Amat sangat kejam. "Kalau kalian memilih bersama bangunlah, 10 detik lagi."

Jinwoo memejamkan matanya sejenak sebelum melirik Mino yang berada di sampingnya, wajah Mino sama putus asanya. Namun entah mata Jinwoo yang salah atau apa Mino bangkit dari tempatnya, laki-laki itu menatapnya dari tempatnya berdiri dengan tajam, "Cepat bagkit! Aku tak mau berjalan seperti orang idiot!" ucapnya sakarstik, Jinwoo mendesah sebelum bangkit.

Yoongi tersenyum melihatnya, "Times up! Dan btw, Mino jalan seperti itu bukan seperti idiot. Kalau jalan seperti itu idiot berarti kau mengatai semua tentara kita idiot. Push up sebanyak 20 kali sebelum keluar dari ruangan ini, dan kau Kim Jinwoo kau bisa kembali ke kamarmu untuk menyediakan tempat untuk roommate barumu."

Jinwooo melirik Mino yang tampak kesal sebelum membungkuk memberikan salam dan keluar dari ruangan tersebut. Mino hanya menggerutu saja dalam hatinya bahwa Jinwoo tak setia kawan, lagian sejak kapan mereka menjadi kawan?

"Ayo Song Minho, lakukan tugasmu!" dan Mino hanya bisa pasrah saja.

Hitung-hitung olahraga.


"Berjalan merangkat itu mengasyikan lagi, kalian jadi anti mainstream." Lawakan Hoseok saat ini sangat menyebalkan, apa-apaan tadi anak itu bilang? Jalan sambil merangkak itu asyik? Coba saja anak itu yang berada di posisinya sudah pasti si kuda liar –Hoseok maksudnya- dia sudah pasti akan menolak keras hal tersebut juga.

"Sungguh tak lucu Jung Hoseok, kau disini mau membantuku atau mau mengajakku berantam sih?"

"Tak dua-duanya, aku hanya ingin melihatmu saja." dan Hoseok memang teman sialan.

Chen yang merupakan teman sekamar dari Mino hanya bisa tersenyum saja, sudah biasa melihat tingkah adik kelasnya itu seperti ini. "Mino kau akan membawa barang-barangmu semua sekarang?" tanyanya. Mengingat barang-barang Mino cukup banyak, ada 4 koper dan 2 dus.

Mino mengangguk, "Iya, bisa bantu aku pindahan kan Hyung?"

Chen mengangguk, "Tentu saja, biarkan aku membawa kardusnya dan Hoseok bantu bawa kopernya ya?"

Hoseok hanya komat-kamit saja di tempatnya. Sudah dibilang kalau anak ini menyebalkan. "Yang lain asik-asikan main basket sedangkan aku harus membantu anak sial ini." seperti itulah kira-kira komat-kamit Hoseok. Mino tahu itu hanya candaan Hoseok, jadlah dia hanya diam saja sambil terus membereskan buku-bukunya.


Song Mino itu sialan bagi Jinwoo, masa iya dia harus sekamar dengan orang yang membuatnya sial. Jinwoo tak henti-hentinya cemberut di atas kasurnya melihat Mino yang sibuk membereskan barang-barangnya di bantu oleh Chen, selain ada Chen juga ada Hoseok tapi anak itu tak membantu, dia asik duduk diatas kursi meja belajar milik Jinwoo.

"Kau pasti merasa kesal ya satu kamar dengan musuhmu?" pertanyaan dari orang di sebelahnya membuat Jinwoo menoleh pada Hoseok, Jinwoo memberikan pandangan 'apa aku yang kau ajak bicara?' dan Hoseok mengangguk sebagai jawaban, "Iya kau anak jenius, kau pasti kesal kan sekamar dengan si idiot Mino?"

Jinwoo mendesah pelan, amat sangat pelan, dia harus jawab apa? bukankah itu sudah terlihat jawabannya? Dia dan Mino saling tak suka sekamar berdua. Apa Hoseok menjadi idiot? Jinwoo ingin mehina si kuda liar itu namun Jinwoo ingat kalau dia berantam lagi bisa saja anggota kamarnya bertambah satu, Mino saja pasti sudah sangat amat merepotkan apa lagi ditambah kuda liar? Hih… Jinwoo merinding membayangkannya.

"Kau memikirkan apa? hal yang tidak-tidak ya? Ah… jadi kau gay juga toh!" pernyataan itu membuat Jinwoo mendelik horror pada Hoseok, Hoseok tampak tak peduli, "Mino juga sepertinya gay, iya tidak Mino?"

Dan Hoseok berhasil mendapatkan delikan tajam dari Mino, Chen hanya bisa terkekeh saja melihatnya.

"Aku straight, aku suka wanita." Tekan Jinwoo setelah selesai dengan kekagetannya. Ia melipat tangannya di dada dan mengangkat dagunya ke atas, memasang gaya angkuh.

"Ckkk… sayang sekali Mino kau tak bisa macam-macam dengan si cantik. Benci menjadi cinta tak ada artinya kalau salah satunya staright."

BUGH… sebuah bantal berhasil mendarat di wajah Hoseok, pelakunya? Siapa lagi kalau bukan Jinwoo, dia kesal di bilang cantik. Apa-apaan cantik? Dia itu laki-laki! Dia bukan Uke demi tuhan!

"Aku tidak cantik!" pekik Jinwoo. "Kau idiot…" dan kalimat itu meluncur juga dari bibir manis itu.

Chen terkekeh melihat wajah Hoseok yang terlihat seperti idiot itu sedangkan Mino hanya memutar kedua bolamatanya malas. Dia tak mau berurusan dengan Jinwoo lagi, sudah cukup dia menderita tidur sekamar dengan si pria cantik itu, dia tak mau nanti Yoongi menambah hukumannya kalau mereka berantam lagi.

"Kau menyebalkan Kim Jinwoo!" sungut Hoseok kesal,

"Sudah kenapa sih Hoseok jangan memancingnya, kau benar-benar idiot kalau kau memancingnya. Berhentilah dan keluar sana, toh kau tak berguna disini." Mino segera memotong saat melihat Jinwoo akan mengeluarkan kata yang mungkin lebih menusuk lagi, perkelahian si kuda dan menyebalkan akan panjang kalau tak di hentikan.

"Aish… aku keluar!" dan keluarlah si kuda dari kamar yang diikuti tatapan tajam dari Jinwoo. sepertinya Jinwoo mendapatkan musuh baru, iya Hoseok.

Chen hanya geleng-geleng saja melihat tingkah adik-adik kelasnya, sepertinya dia akan sedih keluar dari sekolah nanti karna tak bisa melihat adik-adik kelasnya yang menggemaskan seperti ini.


"Jadi bagaimana dengan penambahan teman sekamarnya Hyung? Apakah mengasyikan? Kau jadi ada teman mengobrol kan?" Jungkook seperti yang di duga akan membrondong Jinwoo dengan banyak pertanyaan saat mereka bertemu.

"Jangankan bicara, meihat mukanya saja aku malas. Lagian dia bisa-bisanya menuduhku mengadukannya kepada guru Min, dia benar-benar idiot." Sungut Jinwoo sambil mendorong pintu kantin dan masuk kedalam, didalam sudah ramai sekali ternyata, semoga saja mereka mendapatkan tempat duduk nanti.

"Memangnya bukan Hyung yang mengadukannya?" Jungkook tahu bukan kepribadian Hyungnya seperti itu, Jinwoo walau mulutnya menyebalkan tapi mengadu bukanlah kebiasaanya. Jinwoo bukan orang yang benar-benar brengsek teman-teman.

"Tentu, itu bukan urusanku. Aku sedang bicara dengan guru Min tentang kenapa aku di lorong sendirian saat jam pelajaran sedangkan teman-temanku berjuang di kelas, eh si Mino keluar dan setelah itu dia di panggil guru Min. aku sama sekali tak mengadukannya." Mereka kini tengah di antrian untuk mengambil makan.

Jungkook mengangguk-anggukan kepalanya, "Hyung sudah menjelaskanya pada Mino Hyung? biar tidak ada kesalah pahaman lagi,"

Jinwoo tersenyum kecut dan menggeleng, "Apa dia akan mendengarkanku? Tidak. toh, aku tak begitu peduli dengan dia yang membenciku."

Jungkook hanya bisa mengehela nafas berat saja, Hyungnya memang seperti ini. cuek setengah mampus. Dan sekarang giliran mereka untuk mengambil makanan, setelah mendapatkan makanan mereka, mata mereka sibuk menjelajahi isi kantin untuk mencari meja.

"Disana saja!" tunjuk Jinwoo pada salah satu meja, dan pergilah kedua pasang kaki itu kemeja tersebut. tak ada pembicaraan tentang Mino lagi karna Jinwoo tak mau membahasnya lagi.


"Taehyungie~" suara menyebalkan itu membuat yang memiliki nama itu merinding. Seorang laki-laki bermata rusa. Itu Luhan, pelatih tim sepak bola sekolah Starship, dan kebetulan Luhan adalah saudara Taehyung. Iya Kim Taehyung saudara Luhan, bisa dibilang sih begitu karna kakaknya menikah dengan kakak Luhan. Luhan sendiri masih muda umurnya masih 23 tahun.

"Kenapa sih ge? Jangan bilang—"

"Iya aku mau kau menyampaikan salamku buat si tampan Oh Sehun," potong Luhan yang membuat si pemuda alien menghela nafas berat. "Kau kenapa sih? Bantu aku dong untuk dekat dengan dia, tega sekali dengan gege-mu ini!"

Taehyung mengacak surainya sendiri gemas, "Gege!" suaranya menggeram, dan Luhan malah memasang wajah 'ada apa' dengan menyebalkannya, Taehyung menunjuk wajah Luhan, "Dia terlalu muda untukmu gege! Sadar diri ah!"

Luhan melipat tangannya di dada dan memajang wajah manyunnya sebelum protes, "Aku masih 23 tahun dan dia 17 tahun sebentar lagi, apa salahnya? Kami tak terlalu terpaut jauh! Lagi aku masih terlihat muda…" dan diakhiri oleh gibasan poni laki-laki bermata rusa tersebut.

"Tetap saja… jangan bikin aku malu ah ge!" Taehyung ikutan melipat tangannya di dada dan memejang wajah kesal.

Luhan memberikan gerakan untuk menjitak saudaranya itu namun hanya gerakan tanpa aksi, "Kau menyebalkan, Taehyung! Lihat saja nanti aku akan mendekatinya sendiri!" dan setelah itu Luhan pergi dengan kaki menghentak-hentak disepanjang jalan, meninggalkan Taehyung sendiri yang memandang horror saudaranya terssebut. Bagaimana dia punya ipar semacam Luhan sih?

Dalam hati dia hanya berharap Sehun tak lari mengibrit keluar dari sekolah kalau sudah di dekati rusa liar tersebut.


Mino tengah menggambar padahal guru sedang menjelaskan pelajaran, bukanya mau bandal namun sumpah demi apapun pelajaran gurunya itu tak ada yang nyangkut di kepalanya dan dia memutuskan untuk menggambar daripada harus menggebulkan otaknya.

Tao yang berada di belakangnya menusuk-nusuk punggung Mino, sepertinya anak panda itu juga sedang stress karna pelajaran apa itu namanya istilah di Fisika tentang bola jatuh dan menggelinding, tak tahu ah! Tao pusing.

Mino yang sedang asik menggambar menengok, sakit juga di tusuk-tusuk oleh pulpen. "Kenapa?" desisnya. Bingung juga kenapa anak panda ini mengajaknya mengobrol biasanya Tao hanya akan berbicara dengan para Uke saja. iya, Tao itu uke.

"Aku bosan," anak panda itu memajukan bibirnya beberapa senti setelah mengucap kalimat dengan nada manja itu. Ugh… Uke memang selalu seperti ini. Mino mendesah, kenapa juga dia harus duduk di depan si uke sih?

"Coret-coret saja bukumu atau pakai kuteksmu," ucap Mino sambil menunjuk buku tulis Tao yang terbuka dengan mata tajamnya, dan dia mendapatkan pukulan dari si panda. "Kenapa sih?"

"Aku ingin mengobrol! Dasar seme tak peka!"

Mino mengacak surainya sendiri kesal, "Aku bukan seme, dan ajaklah teman Ukemu mengobrol. Kau punya ponsel, sudah ah aku mau gambar!"

"Menyebalkan!" dan panda itu melayangkan pukulannya lagi pada Mino. Mino hanya bisa mendengus dan membalikan tubuhnya lagi, masa bodolah dengan si uke yang bakal ngambek padanya. Toh itu buka urusannya kan? Dia tak merasa punya urusan untuk tak membuat si pada senang, lagian gambarnya lebih asik daripada bicara dengan panda uke yang suka shopping itu.

Jinwoo yang melihat kejadian itu dari balik kaca hanya bisa mendengus sebelum melanjutkan jalannya kembali ke kekelas. iya tadi dia tak sengaja lihat interaksi antara Tao dan Mino dari jendela saat ingin kembali kekelasnya.

Tapi pertanyaan buat apa dia memandangi Mino? Jinwoo juga tidak sadar dan tak mau sadar sepertinya.


TBC


awalnya aku ingin menyerah karna hanya banyak viewers
tanpa banyaknya Reviewers.
dan berkat kalian yang mereview aku memutuskan untuk lanjut

tak lanjut berarti aku pengecut bukan?
jadilah aku disini untuk kalian yang mau membaca cerita ini
dan berbaik hati memberikan review,
aku cinta kalian.
sungguh!

jangan pernah bosan menunggu dan membaca
cerita abalku ini ya.

ah ya, bila ada typo maafkan aku ya.

-JustPanda-