Disclaimer : Kuroko no Basuke milik Fujimaki Tadatoshi

Warning : Nggak tau ini AU apa Canon, genre berubah-ubah, OOC (semoga nggak), EYD berantakan, pergantian sudut pandang yang tiba-tiba, typo(s), cerita ngawur dan banyak ngayal, DLDR

.

Karena beberapa alasan, Vee nggak bisa publish jawaban bersamaan dengan ch 2. Karena memang jawabannya udah ada, jadi Vee publish sekarang. Mungkin dengan jawaban ini, ceritanya jadi lebih mudah dipahami.

Langsung aja kalau begitu. Enjoy!

.

Sebelum membaca ini, coba lihat sampingmu! Adakah orang?

Atau lihat di belakangmu? Adakah yang mengikuti?

Kalau ada sosok mencurigakan, segera tutupi punggungmu dengan apapun! Harus keras!

Kalau tidak, kau mungkin akan bernasib sama dengan Kuroko Tetsuya!

Answer : Kuroko Tetsuya (Koroko PoV)

Kalau kau fokus dengan suatu hal yang menarik minat, kadangkala hal lain terlupakan begitu saja. Ingat, kekagetan berlebih bisa menyebabkan beberapa peristiwa menghilang dari pikiran!

.

Berlari! Berlari! Terus berlari!

Hujan masih mengguyur, tapi langkahku tak kunjung berkurang kecepatannya.

Di belakang, ada apa di sana?

Aku takut menoleh untuk sekedar memeriksa.

Awalnya aku hanya berjalan santai, karena memang sedang tak enak badan. Beberapa jam lalu, aku masih bisa berdiri dengan tegak. Tapi entah kanapa, menjelang jam istirahat pusing menyerang kepalaku. Segera saja aku meminta izin untuk pergi ke ruang kesehatan. Tapi begitu di ruang kesehatan, pintu terkunci. Entah memang benar-benar terkunci atau ada yang tak menghendaki aku beristirahat, lantas kuambil keputusan untuk beristirahat di rumah.

Saat di koridor, aku sempat berpapasan dengan Fukuda-kun dan Furihata-kun dari kelas 1-3, teman dari klub basket. Mereka menawarkan bantuan dengan mengantarkanku pulang. Tentu saja kutolak. Mungkin kalau Kagami-kun yang menawarkan bantuan, aku bisa mentoleransi karena beberapa faktor. Tapi Kagami-kun sedang tak ada di kelas, mengabaikan beberapa mata pelajaran karena harus mengejar ujian susulan.

Kembali pada keadaanku, kali ini aku hampir menyebrangi pertigaan. Was-was mulai mendominasi, lagi-lagi teringat tentang kejadian yang berawal beberapa hari yang lalu, dimana aku melihat sesosok wanita bermuka pucat dan berpunggung penuh sayatan menghadangku. Bagaimana aku bisa tau tetang sayatan itu? Sebenarnya hanya kebetulan saja. Saat itu aku berlari, tapi setelah rumahku mulai terlihat, aku menoleh ke belakang, dan menemukan sosok itu tetap di tempat semula, membelakangiku. Sejak saat itu, kejadian serupa terulang setiap hari, seperti menunggu saat yang tepat untuk memuncak.

Dan sepertinya hari ini puncaknya.

Sayup-sayup aku bisa mendengar suara orang memotong sesuatu. Ah... mungkin hanya perasaanku saja.

Kubuka pintu, lalu menguncinya. Perasaan lega menjalari karena suara besi beradu dengan kayu itu telah berhenti. Semoga saja sosok itu tak mengikutiku sampai rumah. Kali ini aku aman. Tapi apa akan terus berlanjut?

Aku memandang ke arah pigura di dekat pintu, bunga-bunga mengering terletak di sekitarnya. Kurasa aku harus mengganti bunganya.

Kulangkahkan kaki ke dalam, berniat ke kamar untuk mengganti pakaian yang basah. Sepertinya aku harus mengenakan seragamku yang satunya untuk besok. Tapi langkahku berhenti saat merasakan tepukan di pundak. Bagaimana hantu itu bisa masuk?

"...chan, Tet-chan!"

Aku tersentak, tak sengaja menyenggol gelas kaca di meja hingga pecah ke lantai. Aku mengerjap, kemudian berbalik. Sosok yang kuyakini sebagai ibuku berdiri di sana, menghapuskan semua perasaan was-was yang belakangan bersarang.

Tangan terulurku, menggapai wanita yang surainya identik dengan driku. Tapi... kenapa, kenapa tubuh yang kini digapainya terasa dingin?

"O-okaasan?"

Tubuhku menggigil lagi saat menyadari kalau...

...aku sudah tak memiliki seorang ibu.

Ibuku—tidak! Hantu itu membelai rambut balakang kepalaku dengan satu tangan. "Tet-chan jangan khawatir. Okaasan ada di sini. Memangnya, apa yang Tet-chan khawatirkan?"

Aku menelan ludah, memaksa cairan itu masuk ke tanggorokan. Tangan itu bergerak turun, hingga berakhir di leher. Sentakan kuat kuterima saat merasakan rasa perih di punggung.

Sakit! Sakit sekali! Apa yang barusan dilakukan hantu itu?

Perlahan, rasa sakit itu membuat kesadaranku menurun, hingga segalaya berubah menjadi... gelap.

Buk!

Suara buku yang dihempaskan ke meja membuatku tersentak. "Kuroko, kau tak mau pulang? Tak ada latihan basket hari ini."

Oh, ternyata Kagami-kun yang sengaja mengagetkanku dengan buku. "Sepertinya sudah waktunya kembali, Kagami-kun."

"Apa yang kau bicarakan, Kuroko? Bel sudah berbunyi lima belas menit yang lalu. Aku bahkan tak habis pikir bagaimana bisa kau tertidur dari istirahat ke dua hingga pulang. Dan hebatnya, sensei sama sekali tak menyadari. Kadang aku iri dengan kemampuan alamimu."

Apa? Tertidur? Jadi, apa hal-hal tadi hanya mimpi? Ah... memang apa yang terjadi denganku tadi? Aku tak terlalu ingat.

"Sepertinya hujan belum kunjung reda."

Kulayangkan pandang ke arah jendela. Benar saja, tetesan tak berwarna jatuh dari atas sana, menciptakan genangan yang mungkin dikutuk bahkan disumpahi oleh kebanyakan orang. Seingatnya cuaca masih cerah sebelum aku tertidur.

Kagami-kun dan aku pulang bersama-sama, karena setengah tujuan kami melewati jalan yang sama. Tapi baru seperempat jalan, hujan kembali lebat.

"Ayo berteduh dulu, Kuroko."

Tuk! Tuk!

Tidak! Tidak suara itu lagi! Aku tak ingin mendengar suara itu lagi! Masih dapat kuingat kejadian kemarin, dimana sosok hantu dengan punggung tersayat menghadangku di pertigaan jalan.

Aku melihat ke kanan dan kiri. Tapi ternyata tangan Kagami-kun yang mengetuk besi sandaran dari kursi halte yang kami duduki

Sepertinya halte yang seharusnya berfungsi sebagai tempat menunggu bus, mulai beralih fungsi menjadi tempat singgah sementara.

"Ah, hujan sudah reda," ujar Kagami-kun sambil menengadah, mengamati sang surya yang mngintip di ufuk barat.

Tuk! Tuk!

Tidak-tidak! Kenapa suara itu lagi? Kulirik tangan Kagami-kun. Buruk! Bukan dia yang mengetuk besi.

"K-kagami-kun."

"Ada apa, Kuroko?"

Tuk! Tuk!

"Bisa mengantarku pulang?"

Kau tak seperti biasanya, Kuroko. Apa ada yang menganggumu?"

Tuk! Tuk!

Aku menggeleng cepat, tak ingin Kagami-kun tau apa yang tengah terjadi denganku. Konyol kalau Kagami-kun tau aku bertingkah seperti ini karena hantu. Ah tidak, aku tak ingin membuat Kagami-kun pulang dengan wajah pucat pasi. "Aku hanya merasa tidak enak badan, Kagami-kun."

Kami berjalan berdampingan dengan salah satu lenganku yang ditahan oleh Kagami-kun, seperti takut aku akan kehilangan keseimbangan. Sepertinya Kagami-kun mulai menyadari tingkah lakuku. Tak apa, rumah sudah tak jauh lagi dan pertigaan jalan hampir kami lalui tanpa tanda-tanda kehadiran sang sosok misterius.

Tapi bagaiamanapun, aku tetap bisa mendengar bunya 'Tuk!Tuk!' sedari tadi.

"Kagami-kun, tak masuk dulu?" tawarku ketika gagang pintu sudah berada dalam genggamanku.

Kagami-kun menggeleng. "Sampai jumpa, Kuroko."

"Sampai jumpa, Kagami-kun."

Aku berjalan ke kamar, sedikit heran dengan pecahan di kaki meja. Kapan aku memecahkan gelas?

Sampai kamar, aku mengehempaskan tubuh ke tempat tidur. Tapi baru sepersekian detik tubuhku menyentuh benda empuk hangat, rasa sakit luar biasa menyerang area punggung. Kubekap mulutku agar tak menghasilkan suara yang mungkin bisa membuat para tetangga terbuka mulutnya, mara-marah.

Aku berlari kecil ke arah cermin, lantas melihat punggungnya. Sebuah sayatan kecil nan dalam ada di sana, terlihat masih segar. Tapi entah kenapa, luka itu tampak seperti baru dijahit paksa, membuat darah yang mengalir tak terlalu banyak. Kemejaku juga penuh bercak merah. Darahkah itu?

Bagaimana?

Bagaimana hal seperti ini bisa terjadi padaku? Kenapa aku tak menyadari rasa sakit itu? Kenapa Kagami-kun tak melihatnya. Oh benar, aku memakai blezer hitam, pantas tak terlihat.

Tapi sekarang itu sakit! Sakit sekali!

Aku menggerakkan mataku, memindai kamarnya dengan kecepatan tinggi. pandanganku terpaku pandang pada seragam basah di sudut ruangan.

AKU INGIN BERTERIAK!

Tapi... tapi kenapa tak ada suara yang bisa keluar dari mulutku?

Kini, aku tau apa yang tengah terjadi.

Aku pulang, diikuti hantu, hujaman pisau di punggungku, aku pingsan, dan lalu tiba-tiba terbangun di sekolah dengan pakaian bersih dan luka yang baru saja kusadari. Kalau dipikir-pikir, waktu kejadiannya pas sekali. Aku kembali ke rumah sebelum istirahat ke dua, lalu kembali lagi kesekolah lagi saat istirahat (karena biasanya kelas kosong saat istirahat, jadi tak ada yang .

Yang jadi pertanyaan sekarang...

"S-siapa? S-si.. siapa yang... yang m-memindahkanku?"

"Aku."

Suara serak terdengar dari belakang punggungku. Memicingkan mata, takut-takut aku menoleh ke belakang.

Dan disanalah ia, sosok hantu yang biasanya mengahadangku.

D-dan dia... dia membawa pisau!

V

Ingin dengar cerita? Hanya cerita singkat sebenarnya. Tentang seorang gadis yang menjadi korban pembunuhan di tengah pertigaan jalan. Punggungnya tak bisa ditebak bentuknya, dengan seragam yang sobek, dan bekas-bekas jaitan asal di sana-sini. Penjahat membunuhnya karena gadis itu memiliki banyak benda berharga yang melekat pada tubuhnya.

Gadis itu tak terima, tentu.

Kali ini, dia ingin mencari teman. Teman yang menyadarinya, dapat melihatnya, dan tau tantang kronologi kematiannya!

.

Kira-kira, apa ada kau tau bagaimana gadis itu terbunuh?

Kuroko tau, kah?

FIN

.

Satu : sayup-sayup ia bisa mendengar suara besi yang beradu dengan kayu dari dalam rumah :pisau beradu dengan telenan, tanda ada seseorang yang memotong sesuatu.

Dua : Langkahnya berhenti sejenak di dekat pintu, lantas memandang figura seorang perempuan yang disayangnya, yang sering membelainya hingga terlelap. Bunga-bunga mengering terletak di sekitar figura itu. Ingatkan ia untuk mengganti bunganya besok : itu fotonya ibu Kuroko yang udah meninggal, berarti yang jadi ibu Kuroko...

Tiga : Matanya membulat sempurna, menengada memandang ke langit-langit putih kusam. Pupil itu mengecil seukuran biji jagung sedang mulutnya terbuka, berusaha mengeluarkan apa saja yang bisa membuatnya terbebas dari kondisinya saat ini : pisau yang dipegang ibu Kuroko ditancapkan ke arah Kuroko.

Empat : "Aku bahkan tak habis pikir bagaimana bisa kau tertidur dari istirahat ke dua hingga pulang. Dan hebatnya, sensei sama sekali tak menyadari. Kadang aku iri dengan kemampuan alamimu." : sebenarnya Kuroko bukan tertidur, tapi pingsan.

Lima: Tubuhnya gemetar hebat, wajahnya pucat pasi, dan peluh terlihat di pelipisnya padahal sekarang suhu cukup rendah : Kuroko nggak sakit, tapi takut.

Enam : Di dalam rumah, Kuroko berjalan ke kamar, mengabaikan pecahan di kaki meja : pecahan gelasnya masih ada, berarti kejadian Kuroko yang bertemu dengan hantu itu benar-benar terjadi.

Tujuh : Matanya memaku pandang pada sesuatu yang meneteskan liquid di sudut ruangan : pakaian Kuroko yang basah.

Kalau ada yang kurang jelas, bisa ditanyakan ^^

.

Terima kasih sudah membaca :D... Dimohon kritik dan sarannya.