Fic Collab with Saita Hyuuga Sabaku
Drrrrttt
Sebuah getaran handpone genggam yang terletak diatas meja mengganggu atensi gadis bersurai merah muda yang sedang sibuk berkutat dengan buku yang dibacanya.
Manik emeraldnya membulat ketika membaca sebuah pesan dari sahabat kekasihnya.
'Datanglah ke apartemen Sasuke, dia mabuk.'
Sakura langsung beranjak dari duduknya, mengambil jaket yang menggantung di tembok dan berjalan menuju mobil sport nya menuju apartemen kekasihnya.
.
.
.
Tittle : Ima Made Nan Domo
(Sekarang Hingga Berapa Kalipun)
Judul Ost Naruto by The Mass Missile
Author : Hani Yuya dan Saita Hyuuga Sabaku
.
.
.
Disclaimer : Naruto Masashi Kishimoto
Pairing : SasuSaku slight SasuKarin, GaaSaku
Rate : M (for save)
Genre : Drama, Romance, Hurt/Comfort
Warning : AU, OOC, gaje, typo, abal, Eyd berantakan, ga nyambung, dsb.
.
.
.
Don't Like, Don't Read
.
.
.
Chap 2 - Retaknya Kepercayaan.(by Hani Yuya )
.
.
.
Ckiitttt... Brakkk
Suara decitan ban terdengar begitu memilukan, terlihat seorang gadis bersurai merah muda tergesa-gesa turun dari mobil sport pink nya.
Ia menutup kencang pintu mobil dan langsung berlari menuju lift basement, jarinya tak sabaran menekan angka 4 yang tertera di samping daun pintu lift. Ya, itu adalah lantai dimana kamar sang kekasih berada. Tepatnya lantai 4 no 404.
TING!
Pintu lift terbuka ia segera melangkahkan kaki jenjangnya menyelusuri lorong apartemen. Manik emeraldnya nampak gelisah.
Ia menghentikan langkahnya ketika tiba di depan daun pintu apartemen sang kekasih. Merogoh tas selempangnya, mengambil kunci cadangan yang ia miliki.
"Eh?" Ia mengernyit, ternyata pintunya tak terkunci. Lalu Segera melangkah masuk.
"Sasuke -kun... apa yang terja...?"
Mata Sakura membulat sempurna, kedua tangannya refleks menutup mulutnya yang menganga.
Liquid bening menetes dari sudut matanya yang indah. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya tak percaya, kakinya gemetar melangkah mundur.
Kini dihadapannya tersuguhkan pemandangan yang membuat hatinya hancur lebur berantakan. Kekasihnya Uchiha Sasuke kini terbaring lelap diatas ranjang dengan tubuh polosnya dengan seorang gadis bersurai merah yang keadaannya tak jauh berbeda, tanpa sehelai benangpun menutupi tubuh keduanya. Dengan posisi sang gadis memeluk sang pria yang tidur terlentang menghadap langit-langit.
Sakit! Bagai tertusuk sebilah pisau runcing tepat di dadanya. Sakura menggigit bibir bawahnya kencang, menekan rasa sakit yang kini ia rasakan, cairan merah pekat keluar dari sudut bibirnya.
Cahaya di manik emerald sang gadis meredup seketika, menatap nanar kekasihnya yang bergelut mesra dengan gadis yang dikenal baik olehnya. Yaitu, sahabat dekat kekasihnya sendiri. Ia tak sanggup melihat ini semua.
Ingin rasanya berteriak mencaci maki keduanya, tapi apa daya ia tak bisa. Rasa cintanya kepada pemuda raven itu mengalahkan rasa sakit penghianatan yang dilakukan sang kekasih saat ini.
Dia berbalik, dengan langkah besarnya menjauh dan meninggalkan mereka berdua. Sakura tak bisa lebih lama lagi berdiri layaknya patung disana.
Derai air mata bagai menganak sungai membanjiri pipi mulusnya. Berulang kali ia meyakinkan dirinya bahwa semua ini tak nyata, tapi tetap saja terasa nyata. Ya, sakit dihatinya yang menyadarkan dirinya kalau ini memang nyata.
Ia merogoh tas selempangnya, mengambil handpone genggamnya. Dengan lincah jarinya menekan nomer tujuannya.
"Gaara... hiks, aku ingin bertemu denganmu sekarang ... kumohon" Suaranya terdengar sendu dan mengiba, seakan ia tak ingin dengar kata penolakan. Ia butuh teman curhat saat ini, mengeluarkan semua keluh kesahnya.
"Aku kesana sekarang, Arigatou."
Sakura segera menaiki mobil sport pinknya, melemparkan tas selempangnya ke bangku samping kemudinya. Ia langsung tancap gas menuju tempat yang ditujunya, menemui seorang pemuda bernama 'Gaara'.
.
.
.
.
Sepeninggalan sang gadis bersurai merah muda itu, Karin beranjak duduk, ia terkekeh geli melihat expresi Sakura yang terlihat syok dari sudut matanya tadi.
Ia menoleh kearah Sasuke yang masih menutup matanya, mengelus helaian ravennya lembut.
'Sebentar lagi kau akan menjadi milikku Sasuke-kun. Pasti'
Karin menarik selimut ke atas dan menutupi tubuhnya dan pemuda raven itu. Lalu kembali berbaring memeluk tubuh atletis Sasuke. Ikut memejamkan matanya dan menunggu apa yang akan terjadi besok, bagaimana respon pemuda itu tentang kejadian ini.
.
.
.
.
.
.
TOK-TOK-TOK
Suara ketukan pintu yang terdengar kasar dan terburu-buru. Tak berapa lama kemudian pintu pun terbuka, menampakkan sosok pemuda bersurai merah dan terlukis tato 'AI' diwajah rupawannya.
"Gaara-kun... huwaaaa"
Sang gadis bersurai merah muda langsung menghambur memeluk pemuda yang dipanggil Gaara itu. Memeluknya erat. Liquid bening yang sejak tadi mengalir semakin deras mengalir.
"Masuklah dulu" Ujar sang pemuda.
Gaara menuntun sang gadis masuk ke dalam apartemen nya. Dan menyuruhnya duduk di sofa panjang ruang tengah.
"Minumlah" Gaara menyodorkan segelas air putih padanya. Lalu duduk di samping sang gadis, "Apa yang terjadi?" Tanyanya.
Sakura menggigit bibirnya, menoleh ke samping, menatap manik jade Gaara sendu, "Aku melihat Sasuke dan Karin tidur satu ranjang di apartemennya, kau tau itu membuatku sakit. Kenapa dia tega melakukan itu padaku" Sakura menunduk, menarik baju pemuda merah itu erat,"Kenapa... kenapa."
Gaara memandang nanar Sakura, menarik tubuh rapuh sang gadis jatuh dalam pelukannya. Lalu memeluknya erat.
"Tinggalkan dia!"
Sakura terbelalak tak percaya mendengar penuturan itu sebuah kalimat perintah untuknya. Ia melepaskan pelukannya, menatap jade milik pemuda itu tajam.
"Tidak,, aku mencintainya Gaara-kun. Sebentar lagi kami akan menikah" Tolaknya tegas.
"Lalu,, kau rela jika Uchiha itu selingkuh dibelakangmu!"
Sakura menggelengkan kepalanya, "Itu tak benar!" Teriaknya, menutup telinga dengan kedua tangannya. "Pasti ini semua salah paham, besok akan kutanyakan ini padanya."
Gaara mendecih, "Kau sudah dibutakan oleh cinta Sakura, sejak dulu kau selalu mengalah padanya, meski dia lebih percaya sahabatnya daripada kau kekasihnya."Geramnya.
Gaara adalah sahabat dekat Sakura sejak kecil, dia lebih mengerti Sakura dibanding Sasuke kekasihnya sendiri. Sudah lama ia memendam perasaan cintanya yang bertepuk sebelah tangan pada sang gadis. Ia lebih memilih bungkam daripada membuat bingung sahabat merah mudanya ini tentang perasaannya, karena Sakura telah menganggap dirinya sebagai kakaknya.
"Ya, aku selalu menulikan pendengaranku ,menutup mataku dan juga membungkam mulutku rapat-rapat jika Sasuke-kun selalu membela sahabatnya di depanku, meski kutau mereka salah. Karena aku mencintainya, sangat mencintainya bahkan rela mati untuknya."
"Ck, kau sudah mulai gila Sakura?"
"Seperti yang kau bilang Gaara -kun. Mungkin aku sudah dibutakan oleh cinta" Sakura tersenyum miris.
Gaara mendesah panjang, memijit keningnya pelan.
"Nee, Gaara-kun ,bolehkah aku menginap disini hari ini. Kumohon... " Sakura menangkupkan kedua tangannya.
Pemuda merah itu hanya menghela nafas panjang, lalu mengulurkan tangannya, menepuk pucuk kepala sang gadis, "Jika kutolak kau akan tetap memaksaku kan? beristirahatlah di kamar, besok kutemani kau menemui kekasihmu itu"
Sakura mengangguk dan langsung berjalan menuju kamar Gaara. Sedangkan pemuda merah itu sejak tadi tak berkedip menatap punggung sang gadis dengan tatapan nanar sampai sosoknya tak terlihat lagi. Gaara membaringkan tubuhnya di sofa, dengan kedua tangan dilipat keatas untuk bantalan. Menutup matanya lalu berkutat dalam pemikirannya sendiri.
'Hn, dibutakan oleh cinta? Mungkin aku juga termasuk. Diam-diam mencintaimu juga hampir membuatku gila Sakura'
.
.
.
.
.
"Nggg..." Sebuah lenguhan terdengar dari mulut Sasuke. Ia beranjak duduk, memijit pelan kepalanya yang sedikit pusing akibat alkohol yang ia minum tadi. Manik Onyxnya masih tertutup.
"Ngghhh..."
Terdengar suara lenguhan seorang gadis di atas ranjang miliknya. Sontak pemuda raven itu menoleh, matanya terbelalak tak percaya.
"Karin!" pekiknya kaget. Melihat tubuh polos sahabat merahnya ini. Sontak ia pun melihat keadaan dirinya yang tak jauh berbeda,"Tck, apa yang terjadi?"
Sasuke berusaha mengingat apa yang telah ia lakukan semalam bersama Karin, namun nihil. Ia tak bisa mengingat apapun.
Karin beranjak duduk, sekilas menyeringai. Namun kini wajahnya dibuat sendu.
"Maaf Sasuke-kun, tadi malam kita melakukannya. Kau mabuk berat lalu memaksaku, aku..."
"Cukup!"
Belum sempat Karin menyelesaikan kalimatnya, Sasuke memotongnya. Ia mulai berdiri, berjalan mengambil pakaian di lemari yang terletak di samping kanan ranjangnya lalu memakainya.
Kemudian mengambil jaket yang digantung di belakang pintu kamar. Ia menghela nafas panjang.
"Kita bicarakan ini nanti, pulanglah setelah kau merapihkan dirimu!"
Sasuke bicara membelakangi Karin yang masih tak bergeming di atas tempat tidur. Melengos pergi setelah selesai berucap. Meski berulang kali Karin memanggil namanya, namun pemuda raven itu tak menghentikan langkahnya ataupun menengok kearah wanita berhelai merah itu.
"Sasuke-kun, tunggu... kita harus bicara!"
Blam
Sasuke meninggalkan Karin sendiri di apartemen miliknya. Membuat wanita bersurai merah itu menggeram kesal karena merasa tak dipedulikan oleh Sasuke.
"Brengsek!" Karin menjambak rambutnya frustasi dan melemparkan bantal kesembarang arah. Apakah Sasuke tau jika ia dijebak? Tapi tak mungkin, ia mabuk berat meski obat perangsang yang ia minumkan tak bereaksi pada pemuda raven itu. Pemuda itu langsung tertidur pulas ketika sampai di apartemen miliknya.
Karin beranjak berdiri, berjalan keruang tengah dengan tubuh polosnya. Merogoh tas miliknya dan mengambil handphone genggamnya. Lalu menghubungi seseorang disana.
"Sui, aku ingin kau datang ke apartemen Sasuke-kun. Aku butuh bantuanmu lagi, cepatlah!" Karin mematikan sambungannya. Ia menyeringai.
"Kau tak akan bisa lepas dariku Sasuke-kun, berapa kalipun kau mengelak, kali ini kupastikan kau tak akan bisa mengelak lagi ...tunggulah akan kuberi kejutan untukmu"
Wanita merah itu segera melangkahkan kakinya menuju kamar mandi, membersihkan tubuhnya dan menunggu Suigetsu datang menjemputnya.
.
.
.
.
Duk... duk
"BRENGSEK"
Sasuke berulang kali memukulkan tangan ke stir mobilnya. Ia menyetir tanpa arah, pikirannya kacau saat ini. Baru tadi malam ia menuduh Sakura selingkuh dibelakangnya tanpa mencari tau dulu kebenarannya, tapi akhirnya ia sendiri melakukan kesalahan yang sama. Entah mengapa dibandingkan amarahnya pada sang kekasih perasaan bersalah lebih mendominasi hatinya.
Sasuke menghentikan mobil sportnya ditepi jalan, mengambil handphone genggamnya di saku celana. Saat ini ia ingin sekali mendengar suara kekasihnya.
"Sakura, aku ingin kita berte... !" Belum sempat Sasuke menyelesaikan kalimatnya, ucapannya terhenti saat yang di dengarnya bukan suara Sakura, melainkan suara seorang pemuda yang ia kenal dengan baik.
"GAARA!" Pekiknya kaget.
Rahangnya mengeras, tangannya mengepal kuat. Ketika mendengar Gaara lah yang menjawab panggilan di handphone milik kekasihnya.
Ya, Sabaku no Gaara seorang pemuda sahabat dekat kekasihnya, namun rival baginya.
.
.
.
TBC
Arigatou buat para reader.R&R
Special Thanks for Review, follow and favorite
Hezlin Cherry, Luca Marvell, dewazz, , Nakashima Rie. azizaanr, Eysha CherryBlossom, anisasripragita41
