Untuk penyebutan karakter:

Akashi Tetsuya : Tetsuya

Kuroko Tetsuya : Kuroko

.

.


.

.

Duduk saling berlawanan—bersandar satu sama lain adalah dua orang pemuda dengan wajah yang sama.

Di sisi kiri, Akashi Tetsuya meluruskan kakinya sementara wajahnya menatap langit-langit yang kosong. Sementara di sisi kanan, Kuroko Tetsuya—duduk sambil memeluk kedua lututnya.

"Hei, bagaimana aku memanggilmu? Bukankah pada dasarnya kita ini 'sama'?" Akashi Tetsuya memulai pembicaraan. 'Sama' disini maksudnya dalam artian mereka adalah orang yang sama, hanya dunia mereka saja yang berbeda.

"Panggil saja aku Kuroko, kemudian aku akan memanggilmu Tetsuya. Bagaimana?"

"Baiklah."

Hening menyelimuti. Keduanya merasa tak nyaman akan suasana ini. Canggung. Masih tak terbiasa.

Pada akhirnya, yang lebih tua diantara mereka mengambil inisiatif.

"Apa kau tahu, kenapa kita berada di sini?" Tetsuya bertanya kembali.

"Menurutmu kenapa?"

Tetsuya menggeleng. Sungguh, ia memang tidak tau. Setahunya, setelah mati kita akan dikirim menuju surga atau neraka? Kenapa dia masih di sini?

Kuroko menghela napas, Tetsuya memerhatikan. "Ini hanya perkiraanku saja sih,"

"Tapi sebelumnya aku ingin bertanya, 'bagaimana kau mati?'"

Pertanyaan yang sedikit menyinggung.

"Bunuh diri," jawabnya singkat.

"Tch. Bodoh. Hanya orang tolol dan putus asa yang melakukan hal itu."

"Terserah kau mau mengatakan apa. Memang aku bodoh dan putus asa."

Kuroko menggelengkan kepalanya, heran dengan 'kembarannya' yang duduk disampingnya ini. Bisa-bisanya ia berkata seperti itu, sementara di luar sana masih banyak yang ingin hidup. Seperti dirinya.

"Kalau aku, mati tertabrak mobil," kata Kuroko pelan. Tetsuya menyadari ada nada kesedihan yang tersirat di dalamnya. Buru-buru Kuroko mengalihkan pembicaraan, "Kemudian biar aku jelaskan hipotesisku. Aku dan kau-kita mati diwaktu yang sama. Perbedaannya kau—Akashi Tetsuya, memutuskan bunuh diri dan mati, singkatnya kau belum saatnya mati tapi kau malah bunuh diri. Kau seharusnya kembali ke tubuhmu dan duniamu, tapi mungkin keadaan tubuhmu tidak memungkinkan. Tahu kan yang aku maksud?"

Tetsuya mengangguk.

Lompat dari gedung lantai sepuluh... Tetsuya bahkan tidak ingin membayangkan bagaimana kondisi tubuhnya.

Kuroko melanjutkan, "Lalu, aku—Kuroko Tetsuya, mati tertabrak mobil. Tubuhku masih utuh, mungkin hanya mendapat luka dalam yang serius. Tapi aku mati, mungkin karena waktuku di duniaku telah berakhir. Aku tidak bisa kembali ke sana lagi. Ada sesuatu yang belum aku selesaikan. Satu urusan yang benar-benar harus aku selesaikan. Mungkin itu yang membuatku tertahan di sini. Hal yang sama berlaku padamu, kau tertahan disini karena kau tidak memiliki tubuh untuk kembali."

"Makanya..." Kuroko menatap Tetsuya disampingnya. Manik biru muda mereka bertemu,

"Maukah kau menggunakan tubuhku dan menyelesaikan urusanku di dunia itu? Aku tahu ini ide gila. Tapi setidaknya... setidaknya, mungkin bila urusanku selesai. Kita berdua bisa kembali ke tempat kita yang seharusnya."

Tetsuya menunduk, wajahnya tertutupi oleh poni panjangnya, "Itu... gila." ia bergumam pelan.

"Tapi aku akan mencobanya. Hanya aku yang bisa melakukannya kan? Jika kita tidak melakukan apa-apa, kita mungkin akan terjebak di sini selamanya. Dan aku bunuh diri tidak untuk tinggal di dunia yang hampa seperti ini."

Manik biru muda Kuroko berkilau, terlihat berkaca-kaca. Kemudian bibirnya kembali menunjukan senyum lemah, "Terima kasih."

"Sebelumnya, aku ingin bertanya sesuatu padamu. Kenapa kau memutuskan bunuh diri, padahal diluar sana masih banyak yang ingin hidup."—Termasuk aku.

"Kenapa... ya? Aku... hanya merasa kesepian dan tertinggal, mungkin?"

"Kau tahu? Jika itu yang kau rasakan, berarti hidup kita hampir sama, bedanya kau menyerah dan aku tidak." Kuroko berbicara sambil tersenyum getir, "Mau dengar ceritaku?"

.


.

From You to You

We are not so different

Kuroko no Basket milik Tadatoshi Fujimaki-sensei

From you to you barulah milik saya, desu

.


.

.

Sewaktu bayi, Kuroko Tetsuya dibuang oleh orangtuanya.

Entah karena keberadaannya tidak dibutuhkan. Entah karena orangtuanya membuangnya karena menyusahkan. Atau bahkan apa karena orangtuanya tidak sudi merawatnya sebab ia anak haram?

Kuroko bahkan tidak tahu wajah mereka. Orangtuanya meninggalkannya begitu saja, tanpa meninggalkan setitik identitas mereka.

Sore itu, ada wanita yang kebetulan melewati taman. Ia baru saja pulang dari pasar sehabis berbelanja kebutuhan sehari-hari. Panggil saja ia Miyuki, umurnya sekitar tiga puluh tahun. Miyuki adalah pemilik panti asuhan di sekitar sana.

Saat melewati taman, Miyuki mendengar suara tangisan bayi, buru-buru ia mencari dari mana asal suara itu. Kemudian, saat ia memeriksa semak- semak, di sana ia menemukannya.

Di bawah tiang lampu taman yang bersinar redup, dihalangi oleh bayang-bayang pohon sekitar taman, Miyuki dapat melihatnya dengan jelas. Bayi mungil bersurai biru muda yang sedang menangis di dalam kardus kecil.

Miyuki buru-buru memeluk bayi yang ia temukan. Kira-kira baru berumur beberapa hari. Ia menangis, bayi itu menangis karena kedinginan dan ketakutan.

Ia langsung membawanya ke rumahnya.

Kemudian, Miyuki memberikan nama "Kuroko Tetsuya" kepada bayi tersebut.

'Kuroko' yang berarti bayangan, karena ia menemukannya yang sedang menangis di balik bayang-bayang.

'Tetsuya' yang artinya orang bijaksana. Miyuki berharap agar anak yang ia temukan menjadi anak yang bijaksana dalam mengambil keputusan apapun di hidupnya kelak.

Kuroko besar di sana, panti asuhan yang didirikan Miyuki. Ia tidak merasa kesepian karena di sini banyak juga anak yang senasib dengannya. Ia juga tidak sedih, Kuroko harus menjadi anak yang kuat. Harus bersyukur dengan apa yang Tuhan berikan, sekalipun itu pahit.

Kemudian di sana mereka bertemu. Kuroko bertemu dengan keempat saudara tirinya.

Dimulai dari Aomine Daiki.

Saat itu Aomine sedang bermain basket sendirian sore hari. Tidak sengaja saat Aomine bermain, bola basketnya terlempar, dan tanpa Aomine sadari mengenai seseorang yang sedang membaca buku.

Aomine mencari-cari bola basket satu-satunya itu. Di sekitar taman, kemudian di semak-semak.

Tiba-tiba ada yang melemparkan bola yang dicarinya kearahnya, membuat Aomine refleks langsung menangkap bola tersebut.

"Ah, Terima kasih!" Aomine memandang keadaan sekitar. Kosong. Tidak ada orang.

Tiba-tiba bulu kuduknya merinding. Rumor mengatakan taman ini memang angker jika sedang senja seperti ini.

"Ano..." Ia mendengar sesuatu, padahal tidak ada orang. Aomine yang sudah parno sontak langsung berjongkok sambil menutupi telinganya dengan kedua tangannya.

"HUAAAA MAAFKAN AKU! AKU BERJANJI TIDAK AKAN TIDUR DIKELAS! AKU BERJANJI AKAN MENGERJAKAN PR! AKU BERJANJI TIDAK AKAN MEMBAWA MAJALAH, AMPUNI AKU!"

"Eh?" Kuroko kecil yang kebingungan hanya memiringkan wajahnya. Tangan mungilnya menyentuh pundak Aomine. "Aku... bukan hantu."

Aomine melompat menjauh, mendapati sosok anak kecil sama sepertinya. Bedanya ia kecil, Aomine besar, dan, ia putih tapi Aomine tidak.

Aomine mendekat.

"K-kau bukan hantu kan?" Aomine meraba-raba tubuh ringkih anak di hadapannya. Dari rambutnya, pipinya, badannya. Ia juga memastikan kalau kaki anak itu menapak di tanah atau tidak.

"Syukurlah kau bukan hantu." Ia akhirnya bernapas lega. Aomine mengulurkan tangannya. "Namaku Aomine Daiki, kau?"

"Kuroko Tetsuya."

"Oh, Tetsu, kah? Yoroshiku !"

Tanpa mereka sadari mereka tinggal di panti asuhan yang sama.

.

.

Kemudian pertemuannya dengan Midorima Shintarou dan Murasakibara Atsushi.

Saat itu Kuroko sedang berada di ruang baca panti asuhannya— atau bisa dibilang perpustakaan. Berniat ingin membaca salah satu buku yang membuatnya tertarik, sebuah buku dongeng yang belum ia baca. Kuroko suka membaca. Di umurnya yang sekarang ini ia lebih suka membaca dongeng-dongeng dan legenda atau sejarah. Semuanya sudah Kuroko baca, hanya buku itu yang belum sempat diintipnya.

Judulnya 'Kisah Pinokio', teman-temannya di sekolah dasar bilang kalau cerita itu seru dan menarik juga sedih. Ketika Kuroko bertanya detilnya, teman-temannya malah menyuruhnya membacanya sendiri.

Dan di sinilah Kuroko, perpustakaan.

Masalahnya buku tersebut berada di rak yang bukan dalam jangkauannya.

Kuroko melompat-lompat berusaha meraihnya, tapi tetap saja tangan kecilnya tidak pernah sampai, menyentuhnya saja tidak.

Kuroko merasakan ada seseorang di belakangnya, ia melihat tangan orang tersebut yang mengambil buku yang sedari tadi ia ingin ambil, lalu memberikannya padanya.

"Kau ingin buku ini?" tanyanya.

Kuroko berbalik, menatap sosok bersurai hijau, yang lebih tinggi beberapa sentimeter darinya.

Ia mengambil buku tersebut. "Umm.. Arigatou, ano..." Kuroko nampak bingung ingin memanggil orang di hadapannya siapa, berhubung Kuroko kecil sangat menuntut sopan santun.

"Midorima Shintarou."

"Arigatou, Midorima-kun. Aku Kuroko Tetsuya."

"I-Ini bu-bukan karena aku kasihan padamu-nodayo! Kalau bukan karena suara lompatanmu yang berisik itu, aku tidak akan membantumu, Kuroko." jawab Midorima malu-malu.

"Are? Mido-chin lama sekali. Sudah menemukan buku yang kau cari?" tiba-tiba sosok yang tingginya lebih tinggi dari mereka menghampiri, Kuroko bahkan harus mendongak ke atas untuk menatapnya. Sosok bersurai ungu itu memegang bungkus snack jumbo yang masih tertutup rapat.

"Ah.. maaf membuatmu menunggu. Aku sudah menemukannya." Midorima menunjukan buku ensiklopedia tebal di tangannya, "Lucky item-ku hari ini."

Kuroko kecil hanya memandangi mereka dalam diam. Midorima-kun masih anak-anak sama sepertinya, apa ia mengerti isi dari ensiklopedia setebal itu? Bahkan Kuroko yang gemar membaca pun tidak mengerti. Umurnya baru sepuluh tahun, wajar kalau ia tidak mengerti, kan?

Dan tunggu... apa itu Lucky item? Bahasa inggris kah? Apa artinya?

Kuroko memiringkan kepalanya, tanda kalau ia benar-benar sedang bingung.

"Murasakibara, perkenalkan anak ini, namanya Kuroko Tetsuya."

Murasakibara celingak-celinguk, "Eh? memang ada orang di sini selain kita? Di mana?"

"Umm... aku Kuroko Tetsuya." Kuroko menarik baju Murasakibara pelan. Murasakibara menunduk, melihat sosok mungil yang sedang mendongak menatapnya di bawahnya.

"Are~ Sejak kapan kau di situ? Aku tidak melihatmu." Murasakibara sedikit membungkuk.

"Kau sangat kecil, aku jadi ingin menghancurkanmu~"

Mata Kuroko membulat, kaget dengan apa yang baru saja dikatakan orang di hadapannya ini, sedikit takut.

Murasakibara kemudian menempatkan tangannya pada kepala Kuroko. Kuroko menutup mata, takut dengan apa yang selanjutnya dilakukan oleh orang yang dipanggil 'Murasakibara' oleh Midorima ini.

Apa ia akan meremasku? Atau mengangkatku kemudian membantingku hingga tubuhku hancur? Apa itu yang dia maksud?

Pemikiran polos dan berlebihan dari Kuroko.

"Bercanda~ aku tidak akan menghancurkan orang semanis Kuro-chin."

Kemudian tangan Murasakibara yang diam di kepala Kuroko mulai mengelus surai biru muda tersebut.

Kuroko membuka mata, melihat Midorima yang sedang tersenyum tipis sambil menatapnya, kemudian Murasakibara yang sedang tersenyum hangat padanya.

Dan yang terakhir pertemuannya dengan Kise Ryouta..

Hari ini, Kuroko ada janji bermain basket dengan Aomine. Tepatnya di taman tempat pertama kali mereka bertemu.

Setelah mereka berteman, Aomine mengajari Kuroko cara bermain basket. Membuat Kuroko tertarik dan akhirnya terus berlatih dibimbing Aomine.

Yah... walaupun hasilnya Kuroko masih payah.

Dan hari ini ia akan berlatih kembali. Kuroko tidak akan menyerah. Ia akan berusaha sekuat tenaga sampai bisa.

Dari pinggir taman, Kuroko dapat melihat Aomine yang sedang asik bermain one-on-one dengan seseorang. Pemuda bersurai pirang dengan paras yang bisa dibilang tampan, seumuran dengannya.

Kuroko mendekat, "Doumo, Aomine-kun."

Aomine menghentikan permainannya. "Oh... Tetsu sudang datang."

Kuroko mengangguk, kemudian memperhatikan sosok pirang disamping Aomine. Yang ditatap kembali menatapnya, mereka saling memandang satu sama lain.

"Oh iya. Perkenalkan, ini Kise Ryouta, anak baru di panti asuhan kita, dan Kise—" Aomine menunjuk Kuroko, "Dia Kuroko Tetsuya, dia sudah di panti asuhan sejak bayi."

Aomine mulai memperkenalkan, tapi mereka berdua masih saling bertatapan, manik gold bertemu manik bulat biru muda.

"Aominecchi?" Kise memanggil

Yang dipanggil hanya menyahut seadanya, "Ya?"

Kise mendekat ke arah Kuroko kemudian..

"KAWAII! Hidoii Aominecchi! Kenapa kau tidak bilang punya teman semanis dan selucu dia. Ahh~ Kurokocchi, Daisuki-desu!"

Kise memeluk Kuroko erat, membuat Kuroko kesulitan bernapas.

Sementara tangan Kuroko mencoba meraih-raih kearah Aomine, meminta bantuan.

"Aku sudah mengenalkanmu padanya dan OI! BERHENTI MEMELUKNYA! KAU BISA MEMBUATNYA MATI KEHABISAN NAPAS!" Melihat wajah Kuroko yang mulai membiru, Aomine berusaha memisahkan mereka dan berhasil. Seketika Kuroko yang terlepas terbatuk-batuk kemudian langsung bersembunyi dibalik punggung Aomine, takut.

"Gomen ne Kurokocchi! Aku tidak menyadarinya, Ahh~ baru kali ini aku bertemu anak semanis Kurokocchi. Jadilah adikku, ne~ ne~" Kise berusaha mendekati Kuroko, membuat Kuroko meremas baju yang dikenakan Aomine, takut dengan makhluk pirang di hadapannya, Aomine merentangkan tangannya, berusaha melindungi Kuroko dari makhluk gila di hadapannya ini

"OI KISE, BERHENTI! KAU MENAKUTINYA, BAKA!"

"HIDOII AOMINECCHI! DAN SIAPA YANG KAU BILANG BAKA, AHOMINECCHI?!"

Kuroko memutuskan untuk kabur menyelamatkan diri saat mereka sibuk dengan pertengkaran kecil mereka.

MEREKA bertemu dipanti asuhan yang sama pada umur sepuluh tahun.

Kemudian takdir mengikat mereka, mereka berempat—Aomine Daiki, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi, dan Kise Ryouta memutuskan untuk menjadi kakak bagi Tetsuya, dan berjanji untuk selalu melindunginya dan menyayanginya seperti adik kandung mereka walaupun dengan cara yang berbeda-beda. Karena bagi mereka keberadaan Kuroko Tetsuya sangatlah berharga.

Umur mereka memang sama, sepuluh tahun, hanya berbeda beberapa bulan saja. Tapi, diantara mereka Kurokolah yang paling muda, dari segi umur juga wajah tentunya.

Mereka berempat mulai memanggil Kuroko dengan nama depannya. Tapi ketika mereka meminta Kuroko untuk memanggil mereka dengan nama depannya juga, Kuroko menolak halus dengan alasan itu-tidak-sopan. Juga Kuroko menghargai dan tidak terbiasa dengan panggilan seperti itu. Dengan terpaksa keempat kakak(angkat)nya menerima alasan tersebut. Mengingat kepribadian Kuroko yang memang sudah seperti itu dari lahir.

Satu tahun kemudian, saat umur mereka genap sebelas tahun. Satu keluarga yang terdiri dari Ayah-Ibu-dan anak laki-lakinya datang kepanti asuhan—keluarga Akashi. Niatnya keluarga tersebut ingin mengadopsi anak untuk teman anak laki-lakinya lantaran anak laki-lakinya—Seijuuro, terlihat kesepian dan tidak ada teman bermain di rumah. Kedua orangtuanya sibuk tidak sempat menemani anak semata wayang mereka bermain.

Mereka dari keluarga terpandang. Siapa yang tidak mengenal Akashi? Tentu saja semua orang di Jepang tahu, mengingat nama tersebut sangat berpengaruh di dunia perindustrian Jepang.

Sementara kedua orangtuanya berbicara privat dengan pemilik panti asuhan, Akashi Seijuurou keluar dari ruangan tersebut. Kaki kecilnya melangkah menuju halaman belakang.

Di sana ia dapat melihat sekelompok anak—tidak, tepatnya lima orang anak yang sedang bermain basket.

Basket... kah?

Akashi tahu sedikit, baru-baru ini ibunya baru mengajarkannya tentang basket.

Sedang asik-asiknya memperhatikan sekumpulan anak yang sedang bermain, tiba-tiba bola basket tersebut terlempar dan menggelinding menuju kaki Akashi, Akashi mengambilnya, memandanginya sebentar—

"Ano... sumimasen, bolehkan aku ambil bola di tanganmu?"

Akashi dikejutkan oleh suara lemah diikuti dengan sosok mungil yang sedikit-lebih-pendek darinya sedang berdiri di hadapannya sambil menjulurkan kedua tangannya, bola ditangan Akashi pun terlepas dari genggaman karena kaget, buru-buru anak bersurai biru muda ini menangkapnya.

Sejak kapan anak ini ada di sini!?

Manik krimson beradu dengan manik aquamarine yang juga sedang mengamatinya.

"Umm... apakah kau sedang berkunjung kesini?" Kuroko baru melihat anak bersurai merah ini. Kuroko tahu, dilihat dari pakaiannya yang terlihat bagus. Ia pasti bukan anak di sini atau anak baru di sini.

"Etto... kalau tidak keberatan, bagaimana kalau ikut bergabung dengan kami? Kami sedang bermain basket. Pasti bosan juga hanya berdiri di sini sambil mengamati... um,"

"Akashi Seijuuro."

"Akashi-kun."

Akashi diam tidak menanggapi, antara bingung ingin bergabung atau tidak. Tapi, melihat mereka bermain seperti itu...

"Oi Tetsu, cepat ambil bolanya kita harus melanjutkan permainannya!" Aomine berteriak.

"Tunggu sebentar, Aomine-kun." Kuroko balas berteriak. "Ayo, Akashi-kun!"

Kuroko menarik paksa lengan Akashi menuju gerombolan anak-anak tersebut.

"Kau lama sekali, Tetsuyacchi! Dan siapa dia?"

Kise yang pertama kali bertanya ketika Kuroko sudah mendekat, memperhatikan Akashi.

"Perkenalkan, ini Akashi-kun. Dan Akashi-kun, perkenalkan, ini Aomine-kun, Kise-kun, Midorima-kun, dan Murasakibara-kun." Kuroko menunjuk kakaknya satu persatu, "Dan dia akan ikut bermain bersama kita!"

"Aku tidak masalah dengan itu." Midorima menaikkan bingkai kacamatanya yang sama sekali tidak jatuh.

"Terserah." Titan ungu yang memiliki tinggi tidak normal—Murasakibara, berkata malas.

"Yosh! Kalau begitu kita bisa bermain three-on-three!" kata Aomine bersemangat.

"E-eh? tapi aku belum terlalu bisa—"

"Tidak masalah, Akashi-kun. Aku juga sama, nanti pasti Akashi-kun akan terbiasa setelah bermain. Ayo!"

Sebenarnya Akashi sedikit jengkel perkataannya dipotong, tapi mau bagaimana lagi, ia juga ingin bermain.

Akashi mengangguk bersemangat, "Kalau begitu, bring it on now!" kata Akashi kecil dengan logat bahasa inggris yang masih terdengar aneh.

Dari kejauhan, dua pasang mata tengah memperhatikan anak-anak yang sedang bermain basket, di antara keenam anak yang sedang bermain salah satunya adalah anak mereka.

"Hei, sayang. Lihat, bukankah Seijuuro terlihat senang?" Sang Istri bertanya sambil tersenyum memperhatikan anaknya—Seijuurou yang sedari tadi tak berhenti memperlihatkan senyumnya saat bermain.

"Ya. Aku lihat, sayang. Bukankah mereka terlihat lucu. Aku berpikir tentang mengadopsi mereka semua—"

"Ide yang bagus! Tidak pernah terpikirkan kita akan mengadopsi lima anak sekaligus! Rumah kita pasti akan ramai, aku sudah tidak sabar!"

Sang istri mengintrupsi dengan semangat.

Dan hari itu, hari dimana mereka- Kuroko Tetsuya, Aomine Daiki, Midorima Shintarou, Murasakibara Atsushi dan Kise Ryouta diangkat menjadi anggota keluarga Akashi.

Akashi senang tak terkira. Mengetahui bahwa ia tidak akan kesepian lagi di mansion besar miliknya.

Sayangnya, mereka menolak untuk mengganti nama depan mereka menjadi Akashi. Bukannya tidak tahu berterimakasih pada orang yang sudah baik hati mau mengadopsi mereka. Mereka hanya menghargai nama yang telah diberikan oleh mereka dari awal, hanya itu. Untungnya kedua pasangan Akashi dapat memaklumi hal itu.

Umur sebelas tahun, Kuroko mendapat satu tambahan kakak—Akashi Seijuurou yang saat itu juga mendeklarasikan sumpahnya bahwa ia akan melindungi Tetsuya, berjanji bahwa ia akan menjadi kakak yang baik untuknya.

Mereka tinggal di kediaman Akashi yang bertempat di Kyoto, mansion megah itu kini tidak sepi lagi karena diisi oleh keenam anak berambut pelangi.

Kemudian mereka memasuki sekolah menengah yang sama, Teiko.

Rumor mengatakan kalau sekolah menengah ini memiliki tim basket yang kuat, membuat mereka berenam tertarik dan mempunyai pemikiran sama untuk masuk ke sekolah Teiko.

Sekolah tersebut berada di Tokyo, jadi mereka pindah dari Kyoto ke Tokyo. Keluarga Akashi mempunyai rumah juga di Tokyo walaupun tidak sebesar yang di Kyoto, tapi tidak bisa dibilang biasa juga.

Mereka menjalani hidup mereka seperti biasa, sampai sesuatu mengubah hidup Kuroko perlahan.

Di Teiko, kelima kakaknya sekarang dikenal dengan sebutan 'Kiseki no Sedai' karena kejeniusannya bermain basket, mereka tidak tertandingi, tidak terkalahkan, tidak ada yang sebanding dengan mereka, mereka-adalah-seorang-prodigy-sejati.

Mungkin ini yang mengubah mereka menjadi angkuh dan sombong. Perlahan mereka kehilangan minat mereka dalam bermain basket. Mulai mempermainkan lawan mereka sebagai hiburan tersendiri untuk membunuh kebosanan mereka.

Tidak boleh seperti ini... mereka terikat karena basket, basket yang mengikat mereka. Tapi kenapa basket juga yang mengubah mereka?

Kuroko tidak rela, sungguh.

Kemudian dihari itu, Kuroko memutuskan sesuatu.

Ia harus menyadarkan kakak-kakaknya dengan cara mengalahkan mereka semua satu-persatu.

Sekarang, ia sudah kelas tiga, sebentar lagi akan lulus dan melanjutkan ke SMA pilihannya.

Pun begitu dengan kelima kakaknya, mereka sudah memilih SMA pilihan mereka, tentunya mereka mempunyai pilihan berbeda.

Akashi menginginkan Para anggota Kiseki no Sedai bermain melawan satu sama lain dalam kompetisi SMA. Akashi ingin membandingkan kekuatan mereka dan untuk memastikan bahwa siapa yang lebih kuat di antara mereka. Akashi ingin menghilangkan siapa pun kecuali para Generasi keajaiban sehingga mereka bisa menunjukan terhadap satu sama lain kekuatan mereka yang sebenarnya.

Mereka berjanji bahwa mereka akan bertemu lagi di SMA sebagai lawan dan siap untuk menunjukan siapa yang terbaik.

Sombong bukan? Agaknya Kuroko merasa muak.

Mereka semua membujuk Kuroko agar ikut dengan salah satu di antara mereka. Tapi Kuroko dengan tegas menolak.

Ia juga punya sumpahnya sendiri. Bahwa ia akan mengembalikan mereka seperti semula, dengan cara mengalahkan mereka.

Sampai kejadian itu terjadi...

.


.

Mengingat hal itu saja sudah membuat hatinya sakit. Tanpa sadar, air matanya sudah membanjiri pipi Kuroko.

Di sampingnya, Tetsuya memandang iba, tapi juga penasaran dengan kelanjutan ceritanya.

Apa yang terjadi selanjutnya?

Sepertinya tidak menyenangkan.

Dan bagaimana 'kembaran'nya ini tidak menyerah, Tetsuya berpikir, kenapa Kuroko yang notabennya lebih muda darinya ini memiliki pemikiran yang lebih dewasa darinya. Bahkan ia menolak untuk menyerah.

Sungguh ironi.

Sibuk dengan pikirannya, tanpa Tetsuya sadari Kuroko telah bangkit dan sekarang berdiri di hadapan Tetsuya yang masih duduk.

Kuroko membungkuk, menelungkup kedua pipi Tetsuya kemudian menciumnya—tepat di bibir. Tetsuya membulatkan matanya dengan apa yang dilakukan Kuroko. Ciuman tersebut hanya berlangsung beberapa detik. Setelah melepas ciumannya, Kuroko menempatkan dahinya ke dahi Tetsuya.

"Sekarang kita sudah terhubung, baik perasaan dan juga memori kita. Jika kau beruntung kau akan memimpikan salah satu memoriku, begitupun aku. Saat kau di sana, aku bisa berbicara denganmu walaupun itu hanya lewat pikiran. Dan... ini saatnya kau pergi."

Tubuh Tetsuya perlahan bercahaya. "Berjuanglah, kumohon bawa kakakku kembali ke diri mereka semula."

Tetsuya dapat merasakan sesuatu yang hangat terjatuh ke pipinya—itu adalah air mata Kuroko.

Sebelum tubuhnya menghilang, Tetsuya memejamkan matanya sambil berbisik.

"Ya, aku akan berusaha."

Beep.. beep.. beep..

Samar-samar suara mesin memasuki gendang telinganya.

Matanya berusaha terbuka perlahan. Manik aquamarine berkedip beberapa kali, berusaha memfokuskan visinya yang buram.

Hal pertama yang ia lihat adalah langit-langit berwarna putih. Kemudian hidungnya mencium bau obat-obatan yang menyengat.

Akashi Tetsuya mengangkat tangannya, memperhatikannya. "Aku masih hidup?" adalah hal pertama yang ingin ia ucapkan.

"Nghh.."

Tapi tenggorokannya serak dan sakit. Tetsuya juga baru sadar ada masker dimulutnya yang membantunya bernapas.

PRANG!

Tetsuya dapat mendengar sesuatu terjatuh. Melirikan matanya pada pintu, ia dapat melihat seorang perawat yang sedang memandanginya kaget, di bawah kaki perawat tersebut terdapat nampan dan juga alat-alat medis seperti suntikan, obat, dan ada papan jalan yang tergeletak.

Sesaat kemudian perawat tersebut berlari ke luar kembali sambil berteriak, "Dokter! Dokter! Pasien sudah sadar!"

Tetsuya tidak mengerti, tiba-tiba saja Dokter dan juga para perawat mengelilinginya. Satu persatu memeriksa keadaannya.

Rasanya juga aneh. Berada di tubuh yang umurnya empat belas tahun, padahal umurnya yang sebenarnya sembilan belas tahun.

Tidak nyaman.

Tetsuya belum terbiasa. Tubuhnya susah digerakkan, itulah mengapa sedari tadi ia hanya diam dan tak berbicara.

"Luar biasa. Ini adalah keajaiban!"

Tetsuya diam, menunggu kelanjutan yang dikatakan Dokter itu.

"Awalnya, harapan untuk kau sadar adalah sepuluh persen, kami perkirakan. Mengingat luka dalam dan pendarahan otak yang kau derita. Jantungmu bahkan sempat berhenti berdetak selama beberapa detik." Dokter itu menghirup napas, "Kemudian kami memberitahukan keadaanmu kepada lima saudaramu, dan kau tahu apa reaksinya?" Dokter itu bertanya, sementara Tetsuya menggeleng pelan.

"Mereka mengamuk. Yang berkulit tan menarik kerah kemeja milikku seolah-olah ingin menghajarku. Yang berambut pirang langsung menangis dan berteriak histeris sambil memanggil namamu dan yang besar dan tinggi seperti titan mengancam akan menghancurkan kami bila kami tidak buru-buru membuatmu sadar." Tetsuya mendengarkan, benarkah mereka bersikap seperti itu?

"Kemudian yang terpendek diantara mereka angkat bicara. Menenangkan mereka semua, baik-baik memohon dengan sangat kepada kami untuk berusaha menyembuhkanmu. Kami bukan Tuhan, jadi kami berusaha sekuat tenaga, hingga kemungkinan kau sadar naik menjadi dua puluh lima persen. Kau dinyatakan koma, tepat dua puluh sembilan hari setelah kecelakaan dan sekarang kau sudah sadar. Mereka pasti senang." Dokter itu tersenyum, kemudian teringat sesuatu, "Ah iya, dan kalau tidak salah mereka sudah berada di luar, menunggu kami selesai memeriksamu. Tidak ada yang salah, semuanya baik-baik saja. Jadi kami permisi ke luar."

Menggantung stetoskopnya kembali di lehernya, dokter tersebut membungkuk kemudian keluar diikuti beberapa perawat.

Jadi begitu ceritanya.

Tetsuya sudah diberitahu oleh Kuroko kalau para kakaknya ini sedikit protektif pada Kuroko, jadi Tetsuya tidak heran. Toh sewaktu kecil dulu kakaknya juga bersikap seperti ini. Sudah biasa, sekalipun itu hanya masa lalu.

Tetsuya menghela napas.

Waktunya sampai Piala Musim Dingin berakhir, sebisanya ia harus menyelesaikan tugasnya, 'Mengalahkan kakaknya dalam pertandingan Basket dan mengembalikan mereka ke kepribadian mereka yang dulu.'

Tapi bagaimana kalau Tetsuya gagal? Ia tidak memiliki mental yang kuat seperti Kuroko, bahkan ia tidak mahir dalam bermain basket.

Sewaktu kecil ia memang sering bermain dengan kelima kakaknya. Mereka sangat hebat dan berbakat. Tetsuya kecil bahkan diam-diam mengagumi permainan kelima kakaknya. Apalagi kakak sulungnya, Seijuurou. Yang bahkan sempat menjadi kapten basket saat SMP dan SMA karena kejeniusannya.

Jadi bagaimana?

Kakaknya di sini adalah pemain basket jenius yang dikenal dengan nama 'Kiseki no Sedai'. Tidak ada yang bisa mengalahkan mereka. Ini juga yang membuat mereka sombong.

Tetsuya sempat bertanya, "Kenapa kau ingin sekali mengembalikan kecintaan mereka kepada basket?" karena jika Tetsuya yang berada di posisi Kuroko, ia akan lebih dulu menyerah.

Dengan pelan Kuroko menjawab, "Karena basket yang mempertemukan dan mengikat kita. Aku tidak rela jika basket jugalah yang menghancurkan kepribadian mereka. Aku rasa mereka hanya butuh merasakan kekalahan, agar mereka tidak merasa satu-satunya yang terkuat."

Oke, daripada membuat pusing, kesampingkan masalah itu. Sekarang yang harus ia pikirkan adalah bagaimana cara ia menghadapi 'Kiseki no Sedai' ini.

Tetsuya memejamkan mata.

Beripikir.

Bagaimana rupa mereka disini? Bagaimana sifat mereka? Apakah sama seperti kakak-kakaknya di dunianya yang sebenarnya?

Terdengar pintu terbuka, derap langkah cepat buru-buru memasuki gendang telinga Tetsuya, Tetsuya perlahan membuka matanya, mendapati kelima surai warna-warni yang tepat berdiri di hadapannya sekarang, mata bulatnya memperhatikan satu persatu mereka.

"TETSUYACCHIII!" yang memiliki surai pirang mendekat, bersiap memeluk tubuh Kuroko yang masih lemah.

Ryouta-nii...

"Jangan bodoh, Kise! Tetsu masih lemah. Kau berniat membunuhnya dengan pelukanmu itu?!"

Yang kulitnya kecoklatan menarik baju si surai kuning, menahannya agar tidak mendekat pada Tetsuya.

Daiki-nii...

"Tetsuya, bagaimana keadaanmu? Hari ini lucky itemmu adalah bunga, jadi kubawakan ini, semoga cepat sembuh." Yang bersurai hijau menyerahkan se-bucket bunga malu-malu, kemudian menaruhnya di nakas samping Tetsuya.

Shintarou-nii...

Tetsuya merasakan ada tangan yang melingkari perutnya, kemudian merasakan tekanan di sana, "Tetsu-chin tidur terlalu lama, aku kangen... ne~ aku punya banyak kue dan permen rasa vanilla, setelah Tetsu-chin sembuh ayo kita makan kue bersama. Aku juga akan mentraktir Tetsu-chin milkshake vanilla ukuran jumbo sebanyak yang Tetsu-chin mau. Makanya Tetsu-chin harus cepat sembuh..."

Atsushi-nii...

"Itu berlebihan, Atsushi. Aku tidak mengizinkannya, kau akan memperburuk kesehatan Tetsuya." Sang surai merah mendekat, kemudian menempatkan tangannya di kepala Tetsuya, "Bagaimana perasaanmu, Tetsuya? Sudah lebih baik? Aku tahu kau akan bangun, karena aku selalu benar." Tangannya bergerak mengusap surai biru mudanya perlahan.

Seijuurou-nii...

"MOUUUU~ TIDAK ADIL. AKU JUGA INGIN MENYENTUH TETSUYACCHI~ LEPAS, AOMINECCHI AKU JUGA INGIN MEMELUKNYA!" masih ditahan oleh Aomine, Kise memberontak.

"Bakakise! Kubilang diam atau kutendang kau keluar!"

"Oi, Jangan berisik. ini rumah sakit. Kalian menganggu pasien yang lain termasuk Tetsuya." Yang bersurai hijau menaikan kacamatanya yang tidak turun, terlihat jengkel dengan kelakuan si pirang dan ganguroo disampingnya ini.

"Diamlah, Ryouta. Atau kau ingin mulutmu kugunting agar berhenti merengek. Be-ri-sik." Sang surai merah berbicara dengan nada penuh penekanan.

"A-ampun, Akashicchi."

Tetsuya terdiam. Berada di tengah-tengah keributan kecil seperti ini, entah mengapa membuatnya terasa nyaman dan nostalgia.

Sayangnya mereka bukan kakaknya.

Dia Akashi-kun, bukan Seijuuro-nii.

Dia Aomine-kun, bukan Daiki-nii.

Dia Kise-kun, buka Ryouta-nii.

Dia Murasakibara-kun, bukan Atsushi-nii.

Dan dia Midorima-kun, bukan Shintarou-nii.

Tetsuya harus mengingat ini baik-baik. Mereka adalah kakak Kuroko, bukan kakaknya.

Tapi, walaupun begitu, tidak apa-apa. mungkin berada di tengah-tengah mereka perlahan akan menyembuhkan penyakit brothersick-nya.

"T-TETSUYACCHI, KENAPA KAU MENANGIS? APAKAH ADA YANG SAKIT?!" Kise panik tiba-tiba.

Tetsuya memegang pipinya. Basah dan hangat.

Ah... Tetsuya tidak sadar.

"A-aku akan panggil dokter! Tahan, Tetsuya."

Midorima baru ingin keluar, tapi tangan Tetsuya cepat-cepat menahannya.

Tetsuya menggeleng pelan.

Aku tidak apa-apa.

Aku hanya merasa senang, sudah lama tidak diperlakukan seperti ini.

Apakah Kuroko selalu dikelilingi oleh mereka?

Tetsuya iri, benar-benar iri.

Kemudian isakan kecil pun dapat terdengar, Tetsuya tidak dapat menahannya.

"WAAAA... JANGAN MENANGIS TETSUYA/TETSUCCHI/TETSU-CHIN/TETSU!"

.


Chapter 1: END


.

A/N:

Saya tau ini masih ada yang kurang jadi mohon maaf, hanya pemula-desu '-'/

Oke, untuk flashback akan di selipkan sedikit di setiap chapternya nanti untuk memperjelas.

Dan juga, terimakasih untuk yang sudah review, seneng banget rasanya *hugsreviewer* *

Ini lanjutannya, semoga tidak mengecewakan :') dan juga maaf bila ada typos bertebaran -

Oiya, baca juga 'Another Side: Reaction', side story dari cerita ini tentang reaksi GoM di dunia Akashi Tetsuya setelah mendengar berita bunuh dirinya Tetsuya.