Naruto © Masashi K.

Genre : Friendship/General

Rated : T

Warning : AU, OOC SANGAT, Alur maju-mundur *next chap maybe*, crack pairing *SasuHina-NaruSaku*

Summary : Keduanya sama-sama egois. Keduanya sama-sama saling membenci. Padahal seharusnya mereka bisa saling berbagi dan melengkapi, 'kan? Ada masalah apakah sebenarnya?

BAB II : Ego

xxXXxx

Haruno Sakura melangkah cepat. Ingin cepat-cepat sampai apartemennya. Rasa kesal, marah, jengkel, sebal, dongkol dan semua rasa-rasa tidak mengenakan membendung di hatinya. Kalau tau begitu seharusnya sejak awal Sakura mengalah dan mengakui kesalahannya. Tetapi ia tidak bisa menahan emosinya. Yang berada di hadapannya adalah Hinata –wanita yang bisa membangunkan amarahnya kapan saja. Ergh! Bahkan mendengar nama 'Uchiha Hinata' sudah membuat kuping Sakura panas.

Hanya saja ... sebenci-bencinya dia, Haruno Sakura tetap merasa ganjil. Merasa tidak enak jika terus-terusan memandang Hinata dengan pikiran yang negatif.

Tidak seharusnya ia membenci Hinata, yang juga sahabatnya. Dulu sih.

Tidak seharusnya ia dilanda api kemarahan yang terus mengitarinya,

Hanya karena sebuah masalah kecil. Cinta dan cita-cita.

Sakura segera menepis pikirannya. 'Cih, untuk apa dipikirkan.' Tanpa sadar wanita berparas cantik itu sudah berdiri di depan pintu flatnya. Ia membuka ganggang pintu setelah memutar kunci.

"Haruno Sakura!"

Sebuah sambutan yang tidak ia harapkan. Dugaannya tepat, Uzumaki Naruto terlebih dahulu sampai di flatnya. Bahkan Sakura yakin, setelah ini pria berambut kuning jabrik itu akan mengomel tidak jelas. Jangan heran kenapa Naruto bisa masuk seenaknya ke dalam flat milik Sakura, karena dia memang memegang duplikat kunci flat itu.

"Jangan bilang kamu udah tau." Gumam Sakura yang berhasil menghentikan gerak mulut Naruto. Ia berjalan melalui Naruto, membuat Naruto berdecak kesal. 'Pastinya Naruto sudah tau, siapa lagi kalo bukan Sasuke yang ngasih tau!' umpat Sakura.

"Kamu bikin ulah apalagi, heh?" gerutunya sambil menyusul Sakura yang kini telah duduk di atas sofa.

Rasa lelahnya hilang sudah setelah ia mendapat kesempatan untuk duduk. Selama di bis tadi, ia terus berdiri. Tidak ada yang mau memberinya bangku. Dasar orang jaman sekarang! Pelit. Lagipula salah Sakura juga, kenapa menabrak mobil orang sembarangan. Akibatnya, dia harus pulang naik bis 'kan?

Sakura tidak menggubris pertanyaan Naruto dan lebih memilih untuk memanjangkan kakinya. Naruto terpaksa duduk di sebrang wanita berambut pink itu, karena jelas sekali Sakura tidak mau memberikan tempat di sebelahnya.

"Kamu bikin ulah apalagi?" ulang Naruto dengan menekankan kata ulah.

Sakura masih memejamkan matanya. Sebelah tangannya ia letakkan di kening. Hari ini benar-benar melelahkan.

Naruto menghela nafas. Tunangannya itu memang bisa menjengkelkan kapanpun di manapun. Ralat, tetapi setiap saat.

"Aku gak bikin ulah." Jawab Sakura santai.

"Tadi Sasuke menelponku, lalu dia bilang–"

"Iya, aku menabrak mobil Hinata, dan itu tidak sengaja." Sela Sakura langsung. Mendengar Naruto berkomentar hanya membuat kepalanya semakin sakit.

Tepat dugaan Naruto, Sakura memang bikin ulah lagi. Seharusnya ia tidak membiarkan tunangannya keluar sendiri, apalagi membawa mobil, sendiri pula. Sudah berapa kali wanita itu ditilang, hanya karena kebiasaan buruknya; ngebut kapan saja di mana saja.

"Jadi, semua ini salah siapa?"

"Aku."

"Kamu udah mengakui kesalahanmu ke Hinata?"

"Sudah."

"Lalu kenapa sampai ribut di persimpangan?"

Sakura tidak menjawab. Siapa sih yang memulai pertengkaran itu kalau bukan dirinya sendiri? Ya ampun, lagi-lagi Sakura merasa begitu menyesal.

Tidak mau mengalah, dan menyinggung masalah pribadi di sela-sela pertengkaran –apalagi pertengkaran itu berlangsung di depan publik dan sukses membuat macet selama beberapa menit– bukanlah tindakan yang tepat.

Tetapi –sekali lagi– Hinata adalah satu-satunya orang yang bisa meninggikan tingkat keegoisannya. Orang yang bisa memancing emosi dan amarahnya. Orang yang seharusnya tidak berhadapan dengannya, apalagi disaat menegangkan seperti tadi.

"Maaf." Akhirnya Sakura mengalah.

Naruto menghela nafas. Lelah juga melihat tunangan dan temannya itu bertengkar. "Minta maaflah padanya, Sakura."

Minta maaf?

Hell no! Sampai kapanpun Sakura tidak akan meminta maaf.

Lagi-lagi keegoisannya muncul.

"Terserah kamu deh." Ujar Naruto kesal sambil beranjak dari duduknya. Ia melangkah ke arah pintu dan segera keluar dari flat.

Sakura mengkerutkan kening. Menatap pintu yang telah tertutup rapat itu.

"Kenapa malah dia yang marah?" cibirnya sebelum kembali memejamkan mata.

Ia lelah dan ingin segera tidur.

xxXXxx

Mobil Ford merah itu melaju kencang. Jalanan begitu sunyi, karena sekarang memang bukan jam pulang kerja. Keheningan terus menyelimuti selama perjalanan. Kedua insan itu tenggelam dalam pikiran masing-masing.

Pemuda bermata onyx itu sesekali mengalihkan pandangannya sepintas, menatap wanita yang duduk di sebelahnya. Sebelah tangan wanita itu menopang dagunya, dan kedua mata lavendernya memandang jalanan nan sepi. Tatapannya kosong –membuat pengemudi mobil Ford itu penasaran akan isi pikirannya.

"Karin bilang kamu mau keluar kota, hm?" ujar Sasuke pada akhirnya setelah kedua matanya kembali fokus ke depan.

Hinata sama sekali tidak mengindahkan. Ia benar-benar sibuk dengan pikirannya. Kejadian beberapa waktu lalu masih terngiang di benaknya.

Haruno Sakura terus mengusik pikirannya. Mempertambah masalah saja, pikir Hinata.

"Hina–"

"Kau tau, aku benar-benar kesal!" potong Hinata yang berhasil membuat Sasuke bungkam. "Aku tidak percaya Sakura malah membentakku, padahal jelas-jelas salah dia! Menabrak mobil orang sembarangan."

"Mungkin dia tidak sengaja." Imbuh Sasuke sebelum istrinya meledak-ledak. Lagi PMS kah dia?

"Tetap saja, dia gak mau mengaku, bahkan minta maaf pun tidak!" Lanjut Hinata lagi. Masih terselip kekesalan di nada bicaranya.

Sasuke menghela nafas. Ia memang tidak berani menanggapi perkataan istrinya. Yang ada, ia akan dimarahi. Mungkin?

"Lupakan saja." Hanya itu yang bisa Sasuke lontarkan. Selebihnya mereka kembali membisu.

Kembali, pertanyaan Sasuke sebelumnya masih belum terjawab. Untuk apa Hinata keluar kota?

"Hinata."

"Hm?"

"Karin bilang tadi kau mau keluar kota. Ada apa memangnya?"

"Aku mau ke dokter." Jawab Hinata santai.

Sasuke menyerngitkan dahinya. Ke dokter? Untuk apa? "Kamu sakit?"

Hinata mengangguk. "Sepertinya, perutku mual."

Sasuke menghela nafas. Dipikir-pikir, untuk apa pergi ke luar kota jika hanya ingin ke dokter. Apalagi Hinata hanya mual, paling masuk angin.

"Kenapa harus keluar kota? Di sini kan banyak rumah sakit, Hinata."

"Tapi aku gak mau diperiksa dokter lain." Hinata berdecak kesal.

Seharusnya Sasuke menyadari itu. Hinata memang paling tidak mau diperiksa oleh seorang dokter, selain kerabat dekatnya. Yah, mungkin bawaan dari kecil.

Berhubung Tsunade –salah seorang dokter yang dikenalnya– sedang bertugas ke luar kota, Hinata terpaksa pergi ke Suna, menemui Matsuri yang ternyata adalah temannya.

"Kamu bisa tunggu aku rapat kan tadi?" lanjut Sasuke.

"..."

Hinata hanya diam. Sepertinya perutnya mulai merasakan sesuatu yang tak enak. Seperti diguncang-guncang kecil.

"Hinata?"

"Sa-Sasuke-kun, turunkan aku di sini!" pintanya sambil memegang perutnya yang terasa semakin sakit. Sesuatu akan keluar dari mulutnya.

Mendengar itu Sasuke kontan memutar setir sehingga Ford merah kini memasuki halaman sebuah restoran. Ia memarkirkan mobilnya cepat sebelum Hinata mengeluarkan isi perutnya.

Setelah mobil Ford merah itu benar-benar berhenti, Hinata segera membuka pintu dan berlari ke arah sebuah restoran. Sasuke mengikuti Hinata yang tampaknya sudah menjadi-jadi.

"Hinata!" panggil Sasuke, namun sepertinya Hinata tidak mendengar dan lebih memilih masuk ke dalam kamar mandi.

Sasuke menghentikan langkahnya tepat di depan kamar mandi wanita. Ia menghela nafas. 'Kenapa sih dia?' batinnya.

Akhirnya ia melangkah ke arah kasir. Mengambil sekaleng Cocacola yang sengaja diletakkan di dekat kasir.

Untungnya restoran ini sepi, sehingga Hinata tidak mengundang perhatian para pengunjung.

Sambil menunggu istrinya, Sasuke duduk di salah satu meja, dan menegak Cocacolanya.

"Mau pesan apa?" tanya salah seorang pelayan yang menyadari akan kehadiran Sasuke.

"Oh, iie. Ini saja. Saya lagi nunggu seseorang."

"Baiklah." Akhirnya pelayan itu pergi setelah membungkuk pelan.

Selang beberapa menit orang yang ditunggu-tunggu keluar.

Hinata berjalan dengan lunglai ke arah dimana Sasuke duduk. Sasuke menangkap sosok Hinata yang terlihat seperti orang sakit. Mukanya pucat, dan Hinata terus memegangi perutnya. Sesekali wanita itu menutup mulutnya.

Kontan Sasuke menghampirinya dan merangkul tubuh wanita itu supaya tidak jatuh.

"Hi-Hinata, kamu kenapa?" tanyanya panik.

Tidak ada tenaga lagi untuk mengeluarkan suara. Rasanya semua tenaganya telah terkuras habis.

Mau tidak mau kesadaran wanita itu beringsut. Membuatnya tidak dapat menahan tubuhnya lagi.

Sebelum Hinata jatuh ke lantai, Sasuke kontan menahannya.

"Hinata!"

Dan kesadaran Hinata benar-benar hilang sepenuhnya.

xxXXxx

Tuut ... tuut ...

Nada sambung itu terus berbunyi sampai akhirnya sebuah suara memutus.

"Halo?"

"Naruto ..."

"Hm?"

"Kamu marah sama aku?" gumam Sakura sambil menggigit bibir bawahnya.

"Kalo iya kenapa?" balas suara di sebrang sana datar –membuat Sakura semakin merasa bersalah.

"Maaf ..."

"Hn."

"Jangan gitu dong ngomongnya."

"Emang harus gimana?"

"Yang panjangan dikit lah biar aku yakin kalo kamu gak marah."

"Iyaaaaaa."

Sakura berdecak kesal. Rasanya Naruto terus mendesaknya untuk menyelesaikan konflik antara dirinya dan Hinata. Akhirnya Sakura mengambil satu keputusan. Keputusan yang tidak pernah terlintas di pikirannya.

"Kalo itu yang kamu mau, ok! Aku akan minta maaf pada Hinata."

"Eh?" KLIK!

Dan sambungan diputus. Sakura masih merebahkan diri di atas sofa. Ia menatap layar hand phone-nya. Apakah ia serius dengan perkataan sebelumnya. Minta maaf ke musuh bubuyutannya itu?

Ego mulai menguasai dirinya namun segera ia tepis. 'Demi Naruto.' Dan Sakura bangun dari posisinya.

Setelah mengirim satu pesan singkat, ia segera beranjak pergi.

xxXXxx

"Dia baik-baik saja."

Ucap wanita paruh baya yang mengenakan jas putih itu.

Sasuke menghela nafas lega. Insiden tadi benar-benar membuatnya panik setengah mati. Ditambah keluhan-keluhan Hinata sebelum ia jatuh pingsan.

"Oh ya, saya ucapkan selamat." Lanjut dokter itu lagi yang berhasil membuat Sasuke mengkerutkan keningnya.

"Maksud dokter?"

"Anda akan menjadi seorang ayah, jadi selamat." Dan dokter itu berlalu pergi.

Meninggalkan Sasuke yang masih tercengang.

Ayah? Maksudnya ... Hinata hamil?

xxXXxx

"Sakura!" teriak Naruto yang berhasil menghentikan langkah Sakura.

Sakura membalikkan badannya dan mendapati Naruto tengah berlari kecil ke arahnya. "Naruto?"

"Kamu mau kemana, huh?" tanya Naruto setelah berdiri tepat di depan Sakura.

"Aku kira kamu ..."

"Hei, aku tidak kemana-mana. Aku dari tadi di lobby tau!" sela Naruto langsung.

Sakura berdecak kesal. Ia kira Naruto sudah kabur ke rumahnya, ternyata dia masih berada di Court Annex Apartment *1), tempat dimana flat Sakura berada.

Dua sejoli itupun akhirnya melangkah ke ruang tunggu dan duduk di atas sofa yang disediakan. "Kenapa kamu gak pulang? Aku kira kamu marah."

Naruto terkekeh. "Untuk apa aku marah?"

Sakura mencibir. 'Cih, orang ini pasti cari perhatian tadi.'

"Jadi kamu beneran mau ketemu Hinata?" tanya pemuda bermata biru safir itu.

Sakura mengangkat bahunya. "Gak jadi kayaknya."

"Gara-gara aku ya?" ucap Naruto setengah bercanda. "Lagipula Hinata sepertinya tidak bisa kemana-mana."

"Maksudmu?"

"Dia masuk rumah sakit."

Kontan Sakura mendelik. "Nani?"

"Tadi Sasuke sms. Dia pingsan."

Imbuh Naruto. Sasuke dan Naruto memang sudah berteman sejak mereka duduk di bangku SMA. Bahkan sempat berada di satu sekolah yang sama waktu SD.

Sungguh jauh berbeda dengan keadaan Sakura dan Hinata yang kesannya lebih panas, atau lebih dingin?

"Oh." Air mukanya yang panik berubah menjadi datar seperti sebelumnya.

"Kok gitu doang sih tanggepannya?" cibir Naruto.

Sakura sama sekali tidak peduli. Hinata bukan siapa-siapanya. Ya ... musuhnya sih.

Tapi jika ia boleh jujur, Sakura benar-benar cemas saat ini.

xxxXXXxxx

FLASH BACK

"Maafkan saya." Ucap wanita paruh baya itu sembari membungkukkan badannya sedikit. Sungguh ia merasa tidak enak akibat perlakuan anaknya. "Ma-maafkan saya."

"Eh? Ini bukan salah Haruno-san, sungguh." Balas wanita lainnya sedikit terkejut. "Maklum, anak saya memang begitu." Imbuhnya sambil terkekeh pelan.

Mendengar kehebohan di taman bermain merupakan hal yang biasa. Tetapi tetap saja orang tua dari Haruno Sakura merasa tidak enak hati.

"Anak saya memang begitu, suka jahil, jadi tolong maafkan ya Hyuuga-san."

"Yare, yare, saya bilang tidak apa."

Kedua wanita paruh baya itu sibuk bercengkrama di depan gerbang TK Himawari, sedangkan kedua gadis kecil yang memiliki paras serupa dengan kedua wanita paruh baya itu sibuk menunggu sembari duduk di bangku dekat taman bermain.

Bocah berambut indigo pendek sibuk melipat kertas merah jambu berbentuk kotak, sedangkan bocah berambut pink hanya bisa melengos. Sesekali ia mengayunkan kakinya yang tidak menyentuh tanah. Rasa bosan mulai mengitari.

"Kamu suka origami?" ucap Haruno cilik pada akhirnya.

Hinata masih menundukkan kepalanya. Tidak menggubris pertanyaan Sakura. Bukannya tidak mau, tetapi ia benar-benar malu. Setiap berhadapan dengan orang lain, rasa takut selalu menghampiri. Menyedihkan ...

Sakura menghela nafas entah untuk ke berapa kali. Percuma berbicara dengan patung.

Akhirnya mereka kembali diam. Hanya ada suara gemersik semak-semak, juga suara ayunan yang bergoyang kecil akibat angin yang bertiup pelan.

Kertas yang berada di genggaman Hinata kini telah berubah menjadi sebuah burung kecil yang indah. Mata hijau zamrud Sakura melebar ketika melihatnya. Sungguh lucu. Sakura belum pernah melihat burung kertas.

"Su-sugoi ..." gumam Sakura.

Kedua pipi Hinata kontan dihiasi semburat merah, tetapi jika boleh jujur, ia senang ada yang memuji hasil karyanya. Dan Sakura adalah orang yang pertama.

Hinata merogoh tas selempang yang terletak di sebelahnya. 'Tidak ada?' umpatnya ketika menyadari bahwa burung kertas itu merupakan lembaran kertas warna terakhir. Ah, disaat seperti ini ia tidak tau mau melakukan apa selain melipat origami.

Seakan menyadari apa yang dikhawatirkan Hinata, Sakura ikut merogoh tasnya. Sepersekian detik kemudian 5 lembar kertas berwarna merah, kuning, hijau, biru, dan merah jambu telah berada di tangannya.

"Ta da~" ucapnya girang.

Hinata menatap kelima kertas itu. Sungguh ia ingin melipat kertas-kertas itu. Ingin ia minta, satuuu saja.

"Mau?" tawar Sakura seakan mengetahui keinginan Hinata.

Hinata mengangguk pelan.

"Boleh, asal kamu ngomong. Satu kalimaaat aja." Ucap Sakura sambil tersenyum jahil.

Hinata mendelik. Tenggorokannya tercekat. Rasanya susah mengeluarkan sesuatu, meskipun hanya diminta 1 kalimat. 'Apa yang harus kukatakan? Uhh ...'

Sakura masih memasang senyum bangga, membuat Hinata makin terpuruk.

"Ayo! Satu kalimat saja." Desak Sakura.

Hinata menelan ludahnya sebelum membuka mulut. "O-Okaasan pe-pergi ke-ke pa-pasar." 'Baka.'

Kalimat itu berhasil membuat Sakura tercengang. Bingung ingin berkomentar apa. Apakah sebelumnya ia berkata 'Boleh, asal kamu ngomong. Buat satu kalimaaat saja.'? Rasanya tidak -_-"

Namun Sakura tidak bisa membendung tawanya. Ia tergelak dan berhasil membuat Hinata tersentak kaget.

Kedua mata lavender itu mulai berkaca-kaca, tetapi Sakura tidak berhenti tertawa. Apakah Hinata bodoh sampai ia ditertawakan seperti itu? Sekuat tenaga Hinata membendung air matanya yang sudah di ujung pelupuk.

Ingin ia berkomentar namun kata-katanya terhenti ketika melihat Sakura yang tertawa begitu puas. Di satu sisi, Hinata mengambil kesimpulan lain; Sakura menertawainya karena dirinya memang lucu. Karena dirinya bisa membuat Sakura senang.

"Kamu itu benar-benar lucu, Hinata." Kata Sakura di sela tawanya.

Perasaan senang menyeruak masuk di hatinya. Air mata mulai menyusut sedikit demi sedikit dan digantikan oleh senyum yang mengembang di bibir mungilnya.

Sampai akhirnya dua bocah itu tertawa bersama.

BERSAMBUNG

RR :

wajan dan panci : -Souka? hehe,, saya juga terinspirasi sieh dari film Amerika gitu ;) Makasih ya reviewnya!-

kakkoi-cha : -Udah apdet ea..-

Seichi : -Cinta segi 4? Hmmmm liat nanti aja y,, karena flashback-nya belum saya ceritain he he. Makasih reviewny ;)-

KET :

*1) Court Annex Apartement : Namanya saya dpt dari google, kalo gg salah itu nama Apartemen di Jepang deh,, apa hotel ya?

Catatan :

Flashback belum saya tonjolkan jadi pertanyaan 'Kok Sakura ama Hinata berantem sih?' belum bisa terjawab hehehe *ditendang*. Di sini Hinata jadi istrinya Sasuke, dan Sakura tunangannya Naruto.

Kalo gak suka SasuHina jangan mencak-mencak di fik ini yaa ...

Kalo suka ama SasuHina boleh RnR fic saya yang Why Did I Know You? tuh ,, *ditendang gara" promosi*

Yosh! Pendapat, kritikan, pujian? Klik aja tombol hijau di bawah XDD

6 Juni 2010,

Cialarissa