Tittle : Way for Love

Author : Kim Joungwook

Pairing : YunJae

Length : Chaptered – Chapter 2

Genre : Romance, Hurt/Comfort, drama

Summary :

Warning : Shounen-ai, BoyXBoy. Don't Like Don't Read!

.

.

.

YunJae

.

Part 2

.

Sudah hampir satu minggu berlalu sejak pembicaraan mereka malam itu, dan tak ada kelanjutannya. Bahkan Jaejoong belum bertemu dengan Yunho lagi. Mereka hanya bertukar pesan atau saling menelpon. Entahlah, Yunho sangat susah untuk ditemui akhir-akhir ini. Setiap ajakan kencannya selalu ditolak oleh Yunho. Namja tampan itu selalu beralasan sibuk untuk mengurus skripsinya yang sudah mulai maju ke dosen. Dan sms atau percakapan mereka lewat telepon selalu berakhir dengan kekesalan Jaejoong. namja cantik itu sangat tak suka jika ada yang menolak ajakannya, bahkan itu kekasihnya sendiri.

"dasar Yunho bodoh." Gerutu Jaejoong saat ia membaca pesan masuk dari Yunho yang mengabarkan bahwa namja itu lagi-lagi tak bisa menemani Jaejoong pergi.

"kemana namja itu? Sudah jam 8 juga belum pulang-pulang." Tambahnya sembari merebahkan tubuhnya yang baru saja selesai makan malam. Tadi ia juga sempat menelpon rumah Yunho, dan kebetulan yang mengangkatnya Changmin. Namja jangkung itu juga bilang bahwa Yunho belum pulang. Ia juga mengatakan kalau Yunho sudah seminggu ini selalu pulang diatas jam 10.

Bahkan Jaejoong tak tahu soal itu.

"hah~"

Jaejoong menghela nafasnya panjang. Ia sangat lelah seharian ini. Setelah ia ingat kembali, di kampus pun Yunho juga sangat jarang terlihat. Bahkan ia sudah tak pernah makan siang bersama lagi. Dari Yoochun, Jaejoong tahu bahwa Yunho mengambil kelas tambahan.

"aku jadi sedikit merindukannya." Gumam Jaejoong lirih.

Ia mengingat lagi saat dulu awal mereka berpacaran. Bahkan hanya ditinggal sehari tanpa melihat namja Jung itu sudah bsia membuatnya menangis karena rindu. Sekarang. Sudah seminggu mereka tak bertemu dan Jaejoong hanya merasa kesepian. Entahlah, Jaejoong juga tak paham pada dirinya sendiri. Mungkin karena mereka sudah sangat lama bersama membuat dirinya bisa menahan untuk jauh-jauh dari Yunho.

Dan yang membuatnya merasa lebih aneh lagi. Ia mulai menjadikan ciuman dan sex sebagai sebuah keharusan, bukan sesuatu yang istimewa lagi. Ia berpikir, bukankah salah satu tujuan menjalin hubungan itu untuk memuaskan kebutuhan sex? Karenanya, ia melakukan semua itu dengan Yunho. Dan ia juga tak mau berbohong bahwa ia merasa sangat puas dengan hubungannya selama ini dengan namja Jung itu. Dan ia juga tak mau merubah apa yang sudah mereka jalani.

.

Jaejoong tiba-tiba langsung bangun dari keadaan berbaringnya saat mendengar suara gerbang yang dibuka dari rumah Yunho yang tepat berada disebelah rumahnya. Apalagi kamarnya berada di lantai dua dan disisi yang berdekatan dengan rumah Yunho.

Ia segera berjalan mendekat ke jendela disamping meja belajarnya dan membuak gorden yang menutupinya. Dapat ia lihat Yunho berjalan memasuki pekarangan rumah.

"benar kata Changmin, Yunho pulang sangat larut." Ucap Jaejoong lirih saat melihat jam dinding dikamarnya yang sudah menunjukkan pukul 10.30 malam.

"dan dia tak mengatakan apa-apa padaku. Aku sangat kesal padanya! Jangan harap aku akan menghubunginya duluan lagi mulai sekarang."

Ia sangat tak suka jika ada yang ditutupi darinya. karena ia tak suka menjadi orang yang tak tahu apa-apa. Dan ia merasa kesal luar biasa saat Yunho tak memberitahunya soal kepulangannya yang cukup larut. Tak ada kelas hingga semalam ini.

"aku sangat kesal!"

.

.

.

Mood buruknya sejak semalam masih bertahan hingga siang ini. Bahkan sejak pagi ia tak memperhatikan dengan baik apa yang dikatakan oleh sang dosen. Ditambah Yunho yang tak mengiriminya pesan apapun. Dan pagi tadi Jaejoong kembali berangkat seorang diri. Changmin bilang, Yunho sudah berangkat duluan sejak jam 6 pagi.

"hyung, dimana Yunho hyung?" pertanyaan Junsu itu membuatnya mendongak dan menatap sahabatnya itu.

"dia sedang ada kelas tambahan." Jawab Jaejoong singkat. Ia tahu tentang kelas itupun dari salah satu teman Yunho. Namja Jung itu tak mengatakan apapun padanya.

"sudah satu minggu aku tak bertemu dengan Yunho hyung. Aku sedikit merindukannya." Gumam Ryeowook. Changmin yang tengah sibuk dengan Kyuhyun dan ikut mendengarkan pembicaraan mereka memandang namja mungil itu.

"kau datang saja ke rumah kami sore ini. Tak apa kan, Kyu?" ucap Changmin sembari memandang bergantian antara Kyuhyun dan juga Ryeowook.

"tentu saja! aku akan ke rumahmu. Kita selesaikan level ini. Ah, aku tak sabar untuk mengalahkanmu." Balas Kyuhyun bersemangat, matanya masih focus menatap layar didepannya.

"baiklah! Kita lihat siapa yang berhasil memenangkan level ini."

Dan kedua namja itu kembali sibuk dengan laptop didepan mereka. Membuat Ryeowook mengerucutkan bibirnya kesal.

"mereka jadi autis saat bermain game." Komentar Jaejoong tajam. Junsu dan Ryeowook yang mendengarnya tertawa menanggapi hal itu.

"hyung sangat benar." Pekik Junsu riang. Ia melanjutkan makan siangnya masih dengan tawa yang mengiringinya. Apalagi komentar-komentar yang dilontarkan oleh Jaejoong dan juga Ryeowook membuat suasana dimeja mereka sedikit berisik. Ditambah teriakan Kyuhyun dan Changmin tidak bisa dikatakan pelan.

.

"Yunho hyung benar-benar berusaha sangat keras." Gumaman Changmin itu cukup membuat Jaejoong mengabaikan makan siangnya. Ia menoleh manatap adik Yunho itu.

"apa maksudmu?" Tanya namja cantik itu penasaran.

Masih dengan wajah yang menghadap laptop dan tangan yang bergerak lincah diatas joy stick, namja jangkung itu menjawab pertanyaan Jaejoong, "aku mendengar dari eomma bahwa appa akan segera menyerahkan perusahaan ditangan Yunho hyung. Karena itu hyung berusaha menyelesaikan kuliahnya secepat mungkin." Jelasnya singkat.

Jaejoong mengangguk paham, "pantas saja ia sering menolak ajakan kencanku." Gumamnya pelan, ia sedikit lega mengetahui bahwa Yunho memang disibukkan oleh kuliahnya, bukan hal lainnya yang tak ia ketahui. Tapi tetap saja, jam 10 malam itu terlalu malam untuk kuliah. Apalagi jam 6 pagi!

"oleh karenanya malam ini kalian menginap saja dirumah. Eomma dan appa akan pergi, jadi rumah kosong." Tambah Changmin.

Junsu memekik senang, "benarkah? Baiklah. Aku juga akan menyeret Chunnie untuk ikut menginap. Sudah lama sejak kita menginap. Iya kan Jae hyung?"

"ya. Seingatku, kita terakhir menginap bersama saat tahun terakhir SMA. Wah~ itu sudah 3 tahun yang lalu." Balas Jaejoong sama bersemangatnya. Ia cukup antusias untuk bertemu Yunho. Menginap dirumah Changmin sama dengan bermalam bersama Yunho kan?

Ryeowook menggigit bibir bawahnya ragu, "apa tak apa jika aku ikut menginap? Tidak, maksudku aku kan bukan siapa-siapa." Ucap namja manis itu.

Jaejoong mengacak sayang rambut Ryeowook, "tentu saja tak apa jika kau menginap. Bahkan kami akan sangat senang. Dan kau itu teman kami Ryeowookie. Apalagi kekasihmu itu juga tak bisa jauh-jauh dari Changmin." Ucap Jaejoong lembut, moodnya membaik sekarang.

Junsu mengangguk cepat, "ya. Kami akan sangat senang jika kau ikut. Ini akan menjadi malam kita menginap bersama." Ucapnya senang. Ryeowook tersenyum lebar mendengar tanggapan itu.

"gomawo hyungdeul~"

"kau sangat manis saat tersenyum seperti itu. Aku jadi ingin me – "

"ARGH!" teriakan Changmin dan Kyuhyun yang terdengar bersamaan itu membuat perhatian ketiga namja lain disana terpusat pada mereka. Bahkan beberapa pengunjung kantin yang lainnya ikut memandang kea rah meja mereka.

"What on earth are you shouting for?!" teriak Jaejoong kesal. ia memandang tajam dua namja disampingnya itu.

Changmin dan Kyuhyun menoleh, memandang ke arah mereka bertiga dengan wajah yang tertekuk dan mata yang berkaca-kaca, "Lap – laptopnya Jae hyung~ Hwa!" Changmin kembali berteriak. Kali ini tidak sekeras tadi.

Jaejoong menajamkan matanya, "ada apa dengan laptopnya? Rusak? Kau merusaknya?!" tanyanya kesal. Kyuhyun menggeleng cepat, "Laptopnya mati~ Baterai nya habis~ Hwa~ Gameku~" kali ini Kyuhyun ikut berteriak. Dan dua namja tampan itu justru berpelukan sembari berteriak bersama.

Jaejoong menoleh dengan wajah datar dan menatap Junsu dan Ryeowook yanga hanya diam dengan mulut yang terbuka tak percaya.

"Junsu, Ryeowook, ayo kita tinggalkan dua namja autis ini." Ajak Jaejoong sembari bangkit dari duduknya. Dan tanpa mengucapkan apapun, Junsu dan Ryeowook hanya mengangguk dan mengikuti Jaejoong yang mulai melangkah keluar.

"yah! Kenapa kalian meninggalkan kami~"

.

.

.

"Yunho!"

Teriakan Yoochun itu membuat langkahnya terhenti. Ia berbalik dan melihat saabatnya itu berlari kearahnya.

"ada apa?" tanyanya begitu Yoochun sudah berdiri didepannya. Namja Park itu mengernyitkan dahinya melihat Yunho yang sudah bersiap meninggalkan kampus, "kau ada shift malam ini?" Tanya Yoochun.

Yunho mengangguk singkat, "ya. Kau tahukan satu bulan ini aku mengambil shift penuh? Aku perlu mengumpulkan uang secepat mungkin." Jawabnya. Yoochun menghela nafasnya mendengar hal itu.

"padahal kau bisa langsung mendapatkan uang hanya dengan meminta pada Ahjussi Jung. Kau membuat semuanya terasa sulit, Jung." Ucap Yoochun.

Yunho tertawa dan menepuk pelan bahu Yoochun, "tak ada salahnya mencari uang sendiri untuk membeli benda sacral seperti itu. Apalagi, ini pengalaman pertama dan terakhirku untuk bekerja part time sebagai waiter."

Ya, sudah satu minggu ini Yunho bekerja sebagai pekerja part time di salah satu restaurant cepat saji yang cukup jauh dari rumah ataupun kampusnya. Ia tak mau Jaejoong dan teman-temannya yang lain tahu soal hal ini. Bukannya ia malu atau apa. Jika ia ingin, ia bisa meminta uang kepada appanya dan langsung ia terima. Tapi, ia ingin mencari uang dengan usahanya sendiri. Itu semua demi sebuah cincin yang akan ia berikan pada Jaejoong saat ia melamarnya nanti.

"apa kau tak tahu bahwa Jaejoong dan yang lainnya akan menginap dirumahmu malam ini?" tanya Yoochun. Yunho mengangkat salah satu alisnya, "menginap?" tanyanya tak percaya.

Yoochun mengangguk, "ya. Kata Junsu, Changmin mengajak mereka menginap. Dan sekarang mereka semua sudah berada di rumahmu. Bahkan aku juga dipaksa Junsu untuk datang."

Yunho terdiam beberapa saat sebelum memandang Yoochun tajam, "kau harus membantuku. Jaejoong tak akan percaya jika aku pulang larut untuk kelas tambahan. Ia tak sebodoh itu. Jadi, kau harus membantuku saat ini."ucapnya cepat.

"membantu bagaimana?" Tanya Yoochun bibgung.

"kau harus ikut aku malam ini untuk bekerja. Atau kau menjemputku nanti dan kita ke rumahku bersama. Aku akan menjadikan dirimu sebagai alasan untukku pulang larut." Jelas Yunho singkat. Yoochun memutar bola matanya malas.

"kau selalu merepotkanku." Keluh Yoochun pelan. Yunho tersenyum tipis, "mian. Tapi kali ini kau benar-benar harus membantuku." Ucapnya memohon.

Yoochun menghela nafasnya dan mengangguk pasrah, "baiklah. Aku akan membantumu. Nanti jam 10 aku akan menjemputmu di sana. Dan kau harus memberi alasan bahwa kita belajar bersama. Ok?"

Yunho mengangguk dan menepuk pelan pundak Yoochun, "ya. Aku sangat berterima kasih padamu."

Yoochun tertawa dan balas menepuk pundak Yunho, "aku akan menjadi pemeran penting bagi pernikahanmu kelak saat Jaejoong menerima lamaranmu. Hahahahaha~"

.

Sejujurnya Yunho sangat merindukan sosok namja cantik itu. Seminggu tanpa bertemu dengan Jaejoong membuat dirinya tersiksa. Tapi mau bagaimana lagi? Ia harus bekerja keras selama satu bulan kedepan.

Selain ia mengambil kerja part time, ada hal lain yang membuatnya menghindari bertemu Jaejoong.

Salah satu hal yang cukup menjengkelkan saat kau sudah mengenal seseorang selama hampir seumur hidupmu, yaitu dia bisa sangat memahami dirimu. Sampai-sampai kau tidak bisa menyembunyikan kebohongan sekecil apapun. Dan Yunho takut jika ia sudah bertemu Jaejoong, akan berakhir dengan ia menceritakan semua yang ia rencanakan untuk bulan depan saat anniversary mereka.

Karena alasan konyol itulah selama enam tahun mereka berpacaran tak ada kejutan yang berhasil dengan sempurna. Bahkan anniversary mereka juga dilewati dengan hal-hal biasa seperti makan malam bersama atau hanya berkencan. Tak ada yang special. Tapi Yunho sangat menghargai setiap detik yang ia lewati bersama sang kekasih tercinta.

.

.

.

Jam sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, dan Yunho belum pulang ke rumahnya.

Setidaknya hal itu yang memenuhi pikiran Jaejoong sekarang. Kyuhyun dan Changmin masih terdengar asik dengan game mereka di kamar namja jangkung itu. Junsu dan Ryeowook pun dengan tenang menonton film di ruang TV. Dan hanya dirinya yang berjalan mondar-mandir gelisah di Ruang tamu.

Jaejoong menunggu Yunho pulang. Ia ingin meminta penjelasan dari mulut kekasihnya itu atas apa yang terjadi selama seminggu ini. Ia tak tahan lagi jika mereka tetap begini. Ia bagai berhubungan jarak jauh dengan namja Jung itu, padahal faktanya mereka tinggal bersebelahan. Hanya untuk bertemu kekasihnya sendiri butuh perjuangan yang tak mudah. Ini sudah keterlaluan menurut Jaejoong.

"aku pulang,"

Sebuah suara yang didahului oleh terbukanya pintu depan membuat Jaejoong menegakkan kepalanya dan memandang intens ke arah pintu. Tadi suara Yunho, Jaejoong sangat menghafalnya. Dan kini, namja Jung itu sudah berdiri didepan dirinya yang memang sudah menunggu disana sejak tadi.

"jae? Kau kenapa berdiri disini sendirian?" Tanya Yunho saat melihat Jaejoong yang berdiri dekat pintu depan.

Jaejoong mendengus keras dan melangkah mendekati kekasihnya itu, "kau darimana?"

Ouh, Yunho bisa merasakan nada suara Jaejoong yang kesal. sepertinya lebih dari kesal, namja cantik itu tengah marah kepadanya. Yunho tak terlalu kaget, bagaimanapun ia sudah memprediksi hal ini sebelumnya.

"aku dari tempat Yoochun. Tadi aku belajar kelompok dengannya. Karena keasyikan, aku sampai tak sadar sudah selarut ini." Jelas Yunho singkat. Ia mencoba bersikap biasa dan tersenyum tipis ke arah Jaejoong.

Namja cantik itu tak langsung percaya dan justru selangkah maju dan menyipitkan matanya memandang Yunho, "kita tahu kau tak pandai berbohong." Ucapnya tajam.

Yunho menggeleng cepat, "aku tidak sedang berbohong. Aku memang bersama Yoochun tadi. Junsu tak mengatakan padamu? Seingatku tadi Yoochun mengabari kekasihnya itu." Jawab Yunho mencoba meyakinkan Jaejoong. dalam hati ia merutuki Yoochun yang lama sekali memarkir mobil diluar.

"Junsu tidak mengatakan apa-apa padaku. Dan lagi, kenapa kau tidak mengabariku saja? kau bisa mengirim pesan atau menelponku." Tanya Jaejoong menyelidik.

Yunho menelan ludahnya gugup, ia sangat tak pandai berbohong. Karena itu ia membenci kebohongan. Tapi ini sangat penting untuk kejutannya tiga minggu lagi.

"po – ponselku mati. Ya, ponselku mati karena kehabisan baterai. Aku lupa mengisinya pagi ini." Jawabnya singkat mencari alasan. Memang ponselnya mati, tapi karena ia sengaja mematikannya.

"tak perlu beralasan Yunho. Aku tahu kau ti – "

"loh? Yun? Kenapa kau masih berdiri didepan pintu?"

Suara Yoochun membuat Yunho menghela nafasnya lega. Ia merasa sangat tertolong dengan kehadiran namja Park sahabatnya itu.

"tidak ada apa-apa. Jaejoong hanya bertanya aku darimana." Jawab Yunho. Ia memberi isyarat melalui tatapannya pada Yoochun. Dan namja itu menyadarinya.

"oh, Yunho dari rumahku. Tadi kami belajar dan mengerjakan beberapa tugas." Ucap Yoochun sembari tersenyum selebar mungkin ke arah Jaejoong.

Jaejoong tak begitu saja percaya. Ia memandang tajam ke arah dua namja didepannya itu, "kalian pasti bersekongkol! Argh! Aku sangat frustasi seminggu ini diacuhkan oleh namja Jung sialan ini. Kau itu kekasihku bukan?!"

"Jae – "

"apa? Kekasih tak akan memutus kontak begitu saja."

"aku tak memutus kontak. Aku – "

"tidak menelponku dan tidak membalas pesanku itu namanya memutus kontak. Kukira kau pandai Yunho. Tapi untuk urusan seperti ini kau sangat payah."

"maafkan aku. Aku tak menghubungimu karena – "

"cari saja alasan. Aku tak akan percaya. Kau pikir kau bisa membohongiku? Kita sudah mengenal lebih dari 15 tahun! Dan kau itu kekasihku selama 6 tahun Yunho. Kau tega membohongiku?! Aku sangat membencimu!"

teriakan Jaejoong dikalimat terakhirnya itu membuat 4 namja lain dirumah itu menyusul kea rah ruang tamu. Dan mereka hanya diam saat melihat Jaejoong tengah marah dengan Yunho dan Yoochun didepannya. Kurang lebih mereka sudah bisa menduga apa yang terjadi.

"Jaejoong, maafkan aku. Bukannya aku berniat untuk mengacuhkanmu. Kau tahu sendiri aku tengah sibuk menghadapi ujian skripsi. Sungguh! Ini tidak akan lama, hanya satu bulan. Dan semua akan selesai begitu aku sudah menyerahkan skripsiku." Ucap Yunho mencoba memberikan pengertian. Untuk satu ini ia tak berbohong. Selain sibuk dengan kerja part timenya, ia juga sibuk dengan bahan skripsinya.

"tadi setidaknya kau masih bisa menemuiku kan? Demi Tuhan! Rumah kita bersebelahan Yunho! Tapi kau seakan berada jauh sekali dariku. Aku merasa seakan tak memiliki kekasih."

Kali ini Yunho hanya diam. Ia baru saja sadar, ia sudah cukup keterlaluan satu minggu ini.

Dan keadaan menjadi hening disana. Secara perlahan, Yoochun menyingkir dan menarik ke empat orang lainnya untuk meninggalkan Yunho dan Jaejoong sendirian disana. Pasangan itu butuh waktu bicara berdua.

.

"kau tak ingin mengatakan apapun?" Tanya Jaejoong lirih saat keadaan sudah cukup lama hening. Keduanya menyadari bahwa kelima namja yang lain sudah menghilang dari ruangan ini.

Yunho menatap Jaejoong lembut, "aku minta maaf." Ucapnya tulus. Jaejoong mengalihakan wajahnya dari Yunho. Sial, suara tulus namja Jung itu selalu membuatnya terlihat lemah. Bahkan matanya sudah berembun sekarang. Ia tak sadar bahwa sudah semarah ini pada Yunho.

Yunho yang menyadari kekasihnya itu tengah menahan tangisnya justru memeluk Jaejoong. ia membelai lembut punggung namja itu, "aku benar-benar minta maaf. Aku sudah keterlaluan seminggu ini."

Jaejoong hanya diam dan terisak pelan. ia memeluk erat tubuh Yunho yang sudah seminggu ini tak berada didekatnya.

"aku merindukanmu." Gumam Jaejoong lirih. Yunho mengangguk dan mencium lembut pucuk kepalanya, "aku juga."

"kau sangat jahat padaku."

"aku tahu."

"kau tak menanggapi telepon serta pesanku."

"aku menyesal."

"aku sangat mengkhawatirkanmu."

"aku tahu."

"aku sangat membencimu."

"aku tahu."

"berhenti untuk mengacuhkanku."

"ya."

"kau namja paling bodoh."

"aku tahu."

"kau tak berperasaan."

"aku tahu,"

"berhentilah mengatakan 'aku tahu', kau tak tahu apapun tentang semua itu!" Jaejoong memekik pelan. Yunho tersenyum dan menjauhkan wajah namja itu dari pelukannya. Ia menangkupkan kedua tangannya di pipi Jaejoong.

"maafkan aku. Berhentilah menangis, kau membuatku merasa tambah bersalah."

"biarkan saja."

Jaejoong menjawab kesal meski tetap mencoba menghentikan tangisnya. Yunho terkekeh pelan dan mengecup bibir namja cantiknya.

"aku akan mengajakmu jalan-jalan besok. Sebagai permintaan maafku." Ucap Yunho.

Jaejoong terdiam dan memandang intens Yunho, "benarkah? Kau akan mengajakku berkencan besok?" tanyanya antusias.

Yunho mengangguk, "ya, jika kau menganggap acara jalan-jalan kita sebagai kencan."

Jaejoong tersenyum kecil dan mengecup kedua pipi dan bibir Yunho sebelum kembali memeluk namja tampan itu. Yunho balas memeluk Jaejoong dan tersenyum lebar.

Hah, masalah untuk satu minggu ini sudah berakhir dengan permintaan maaf dan ajakan kencan.

Tapi, jika seminggu saja sudah semarah ini Jaejoong padanya, bagaimana 3 minggu kedepan?

Sepertinya Yunho harus mencari cara agar Jaejoong tak kesal padanya. Bagaimanapun, kejutan untuk anniversarynya bulan depan harus terlaksana dengan sempurna.

Ya, kejutan. Yunho yakin kejutan kali ini akan berhasil.

.

.

.

TBC

Holla! Chapter 2 datang~

Akan diusahan fic ini selesai secepatnya. Dan mungkin akan ber-chapter kurang dari sepuluh. Akan saya usahakan secepatnya update~

Dan saya sebenarnya juga bingung. Kenapa hampir semua fic yang saya tulis konfliknya selalu berhubungan dengan perasaan dan batin tokohnya ya? Jarang ada orang ketiga.

Di fic ini memang konfliknya ada di perasaan Jaejoong. tapi, akan ada kehadiran orang ketiga. Tapi tidak sampai menjadi cinta segitiga kok~ ff saya gak ribet-ribet amat! Dan pastinya happy end~ hahahaha

So, saya sangat berterima kasih atas review dan semua yang telah membaca di chapter 1 kemarin. Saya sangat mengapresiasinya.

Dan sekarang, review lagi? Kritik dan saran sangat diperlukan. Gomawo~ ^^