"Kalau begitu biar aku yang coba." Kata Kuroko mengambil sesendok nasi goreng yang ada di piringnya. Semuanya menatap serius ke arah Kuroko termasuk kamu. Iapun memasukan nasi goreng itu ke dalam mulutnya dengan sendok. Mengunyahnya, dan menelannya. Tiba-tiba matanya berhenti berkedip.

"Kurokocchi!" Kise menangis

"Ini.."

"Segera bawa dia ke UGD!" kata Momoi panik.

"Ini enak kok.." kata Kuroko memakan sesendok lagi nasi goreng yang ada di piringnya. Semuanya masih ragu-ragu untuk mencobanya.

"Ini enak kok!" kata Momoi. Semuanya mulai makan walau pertamanya sedikit ragu-ragu. Kecuali Akashi.

"Kenapa kau tidak memakannya Akashi-chin? Ini enak kok." Kata Murasakibara sambil mengunyah makananya.

"Jangan berbicara sambil mengunyah makanan Murasakibara!"

"Kenapa Mido-chin selalu mengatur-aturku hah?"

"Cukup." Kata Akashi menghentikan mereka berdua. Dengan sekejap, mereka langsung diam.

"Aku tak mau memakan makanan yang membuatku sakit perut. Terlebih lagi, dia itu gadis yang pernah di jual." Kata Akashi melirikmu. Kamu hanya menghela napasmu berusaha menahan amarahmu. Kalau di tempatmu dulu, pasti temanmu sudah kau congkel bola matanya dengan garpu. Akashi hanya menatapmu tajam lalu bangkit dari tempat duduknya.

"Akashi-kun memang begitu [Name]" kata Momoi menatapmu.

"Ya, aku mengerti." Katamu menunduk.

'apa-apaan dia itu? Kalau aku memang tidak di terima di sini, aku akan pergi! Tak usah merendahkanku! Dia kira dia siapa huh?' gerutumu dalam hati. Kamu-pun menunggu semuanya menghabiskan makanannya dan mencuci piring mereka.

"[Name]-chan! Harusnya kau tak usah repot-repot!" kata Momoi yang baru datang selesai kamu membereskan semuanya.

"Aku yang memasak, jadi aku juga yang harus membersihkannya." Katamu meninggalkan Momoi yang masih ada di dapur. Makanan dan piring milik Akashi masih kamu biarkan di meja dengan di tutupi dengan tudung saji dari rotan. 'barangkali nanti malam ada seseorang yang kelaparan' pikirmu. Kamu beranjak pergi ke kolam berenang di halaman belakang. Rumah yang cukup luas kan? Bahkan sangat luas jika hanya untuk 10 orang. Kamu duduk di kursi malas yang ada di pinggir kolam. Memperhatikan cahaya yang terpantul di air. Tiba-tiba terbayang terakhir kali kamu berenang bersama keluargamu di kolam belakang rumahmu dulu.

"Apa yang kau lakukan disini malam-malam begini?" seseorang memecah lamunanmu. Kamu menoleh ke arah orang itu.

"Tidak." Katamu singkat. Lalu kamu bangkit dari tempatmu. Kamu pergi meninggalkan Midorima yang masih berdiri di sana.

"Lebih baik aku segera tidur, Nanodayo." Katanya.

Kamu pergi ke dapur untuk mencari makanan kecil yang ada di sana. Kamu memutuskan membuat salad dan akan makan di meja makan. Kamu melihat Akashi yang sedang duduk di depan piringnya.

"Apa yang kau lakukan di sana?" katamu. Akashi menoleh ke arahmu

"Tidak ada."

"Mau kau apakan makanan itu? Kau lapar?" katamu

"Tidak, aku akan membuangnya." Kata Akashi, kamu hanya menghela napasmu dan duduk di kursi di sebrang kursinya. Kamupun meletakan mangkuk berisi salad yang kamu buat di depan Akashi.

"Kalau kau lapar, makan ini, biar aku yang makan nasi gorengnya." Katamu menarik nasi gorengnya ke depanmu. Akashi hanya diam memperhatikannya.

"Aku tidak mau memakan makanan yang di buat oleh gadis murahan sepertimu." Kamu yang sedang memasukan sendok ke mulutmu berhenti tiba-tiba. Kamu menundukan kepalamu.

"Siapa yang kau maksud gadis murahan?" katamu sambil tertunduk.

"Tentu saja ka-"

DUAR!

Sebuah peluru melewati leher Akashi sebelum dia selesai berbicara. Matanya membelalak akibat terkejut dengan apa yang terjadi barusan.

"Bisa kau jaga perkataanmu?" katamu masih sambil menunduk.

"karena aku juga manusia biasa yang punya perasaan." Katamu sambil menghela napasmu dan kembali menyantap makanan yang ada di depanmu. Akashi masih shock dengan yang barusan. di mana tiba-tiba kamu berubah menjadi monster pembunuh.

"[Name]cchi menyeramkan-ssu." Kata Kise yang mengintip kalian berdua

"Dia itu monster." Kata Aomine dengan kaki yang gemetar.

"Aku rasa aku harus menjaga sikapku, kalau tidak aku bisa mati di tempat." Kata Momoi dengan suara agak gemetar.

Kamu yang sudah menyadari kalau mereka ada di sana hanya bisa tersenyum sambil tertawa kecil melihat kelakuan mereka.

"Hei kalian! Jangan bersembunyi di sana!" katamu sambil terkekeh. Yang dimaksud hanya ber-sweat drop berjamaah dan mendekatimu. Sedangkan Akashi bangkit dan pergi entah kemana.


Nothing

Kuroko no Basuke © Tadatoshi Fujimaki

Warning: Typo(s), Gaje, Alur gak jelas, aneh, OOC maybe, OC, dll..

Genre:Crime (Maybe), Drama (Maybe), Ecchi (Maybe), Friendship, Romance (Little)

Gak suka? jangan lanjutin baca.


"[Name], Truth or Dare?" kata Midorima

"Truth."

"aku yang memberikannya pertanyaan! Siapa orang yang kau sukai [Name]-chan?" kata Momoi langsung bersemangat.

"Tidak ada." Katamu singkat. Yang lainnya hanya menghela napas. Kamupun memutar pulpen yang ada di depanmu dan pulpennya berhenti menunjuk ke arah pemuda bersurai merah dengan matanya yang berwarna merah.

"Truth or Dare?"

"Dare." Kata Akashi menghela napas. Kise langsung tersenyum mendengarnya.

"Di misi yang akan datang, kau harus satu kelompok dengan [Name]cchi!" kata Kise bersemangat. Kamu yang sedang meminum susu kotak sampai tersedak mendengarnya.

"Apa?" katamu protes.

"Yang protes hukumannya akan ditambah 3x lipat nanodayo." Kata Midorima menaikan kacamatanya. Kamu hanya berdecih kesal. Akashi kembali memutar pulpennya dan menunjukan ke arahmu.

"Truth or Dare?"

"Truth."

Seseorang membanting pintu dengan keras membuat semunya menoleh secara otomatis ke arah pintu itu.

"Ada apa senpai?" kata Momoi yang melihat Izuki terengah-engah..

"Kalian dipanggil Alex-san." Katanya terengah-engah. Semuanya segera bangkit dan pergi keluar. Tanganmu ditarik oleh Momoi. Sayangnya kamu tak punya alas kaki. Untunglah Momoi meminjamkannya padamu. Rumah Alex memang tidak terlalu jauh. Jadi kalian hanya berlari kesana.

"Ada apa memanggil kami Alex-san?" kata Midorima terengah engah.

"Aku ada misi untuk kalian." Kata Alex dengan muka serius. Kalian semua langsung bersiap mendengarkan apa yang akan ia katakan.

"Nanti, aku akan mengadakan pertemuan dengan orang penting malam ini." Kata Alex. Kalian semua masih siap mendengarkannya.

"Jadi misi kalian adalah…"

"Belikan daftar barang-barang ini. Waktunya hanya 30 menit. (Name)-chan akan pergi bersama Momoi-chan." Kata Alex. Kalian hanya bersweatdrop ria.

"Misi macam apa itu?" katamu dengan suara yang kecil. Momoi hanya tertawa garing di sampingmu. Kalian segera berpencar membeli barang-barang itu. Lebih tepatnya makanan-makanan itu. Kamu bersama Momoi berlari ke pertokoan mencari toko kue kering di sana.

"Seingatku disini ada…" Kata Momoi berlari di depan diikuti denganmu. Orang-orang hanya memperhatikan kalian. Kalian memasuki toko kue kering yang cukup terkenal dan membeli pesanan-pesanan yang ada di sana.

.

.

.

.

"Sepertinya orang itu lebih besar dari Musarakibara nanodayo." Kata Midorima sweatdrop melihat meja makan rumah sensei-nya itu.

"Jangan makan satupun Atsushi!" kata Akashi dengan suaranya yang tegas. Kamu hanya meliriknya dengan kekaguman. Karena, kamu suka suara yang seperti itu. Seperti ada manis manisnya gitu /lho?

"Aku lapar Aka-chin~"

"Aku jadi lapar-ssu…" kata Kise memegang perutnya melihat makanan itu.

"Tetsu, pakai misdirection milikmu untuk mengambil makanan ini.." bisik Aomine.

"Jangan macam-macam kalian! Nanti kalian akan kena marah Alex-san!" kata Momoi mengingatkan. Semuanya langsung terdiam membayangkannya.

Tiba-tiba seseorang datang dengan dua pemuda berambut hitam di belakangnya.

"Kalian sudah rapihkan semuanya?" kata Alex melihat-lihat sekeliling. Kalian hanya mengangguk.

"Baiklah! Ayo kita makan-makan!" kata Nijimura mengangkat tangannya semangat. Alex hanya tersenyum melihatnya. Kamu hanya diam karena tak tau apa yang harus kamu katakan.

"Aominecchi! Itu punyaku!"

"Ini punyaku!"

"Muk-kun, kau jangan terlalu banyak makan…" kata Momoi, tapi Murasakibara tak menghiraukannya. Kamu hanya diam menatap mereka dan pergi ke balkon. Menatap lurus ke arah menara listrik yang cukup tinggi. Entah kenapa kau teringat latihan memanjat di neraka mengerikan itu dulu. Bahkan kamu melihat beberapa temanmu mati karena jatuh dari ketinggian. memang sudah biasa melihat orang-orang itu mati karena mereka lemah.

"Apa yang kau lakukan di situ, kouhai?" suara seseorang membuat lamunanmu pecah. Kamu menoleh ke arah orang itu dan menemukan seorang pemuda berambut hitam yang kamu tidak tahu siapa namanya.

"Tidak ada…" katamu menatapnya datar. Kamupun berbalik menatap menara itu kembali. Kembali mengingat masa lalumu yang lumayan suram itu. Kamu menyadari pemuda berambut hitam tadi ada di sampingmu.

"Sebentar lagi mereka akan datang." Katamu masih menatap menara itu.

"Kami sudah menghancurkan pelacak yang diselipkan di bagian tulang pahamu." Katanya menatap lurus. Bicaranya sangat tenang sehingga kamupun juga bisa menenangkan dirimu.

"Apa kau merasa aman bersama kami?" katanya masih menatap lurus. Kamu memikirkan jawaban dari pertanyaan itu.

"Aku tidak tahu.." katamu sambil menghela napasmu. Menurutmu, semuanya sama saja, pada akhirnya akan ada yang mati. Entah itu karena kecelakaan, atau karena memang harus dilakukan untuk bertahan hidup.

"[Name]-chan! Ternyata kau disana! apa yang sedang kau lakukan Nijimura-senpai?" suara cempreng dari gadis bersurai pink kembali membuatmu menoleh ke arah belakang. Ia menarik tanganmu menuju ruangan Alex. Sesampainya di ruangan itu, kamu duduk di sofa yang lumayan empuk. Momoi meninggalkanmu berdua dengan Alex.

Semuanya hening. Alex sedang membereskan dokumen-dokumen berantakan yang tergeletak di mejanya. Kamu hanya melihat kesekeliling ruangan.

"Jadi, siapa nama panjangmu?" katanya.

"[Long Name]."

"Apa yang sudah dia lakukan padamu?" kamu mengerti siapa yang dimaksud 'dia' kamu hanya perlu mengingat sedikit masa lalumu.

"Dia bilang, aku harus kuat untuk bisa bertahan hidup. Dia memasukanku ke tempat itu. Setelah lulus, aku dijadikan sebagai model olehnya." Katamu menghela napas. Alex mendekatimu dengan membawa beberapa kertas foto di tangannya.

"Kau ingat siapa dia?" kata Alex duduk disampingmu sembari menunjukan foto itu. Kamu melihat foto itu. Di foto itu, terdapat seseorang yang amat kamu sayangi. Tanganmu bergetar memegang foto itu.

"Mama…" katamu menatap foto itu dalam-dalam. Kamu memeluk foto itu. Foto orang yang sudah sangat lama kau tak lihat wajahnya. Alex hanya tersenyum melihatmu.

'kenapa jantungku berdebar debar? Perasaan apa ini? Kenapa rasanya ada air yang akan keluar dari mataku? Aku kenapa?' pikirmu tak mengerti apa yang kau rasakan. Yang kamu rasakan selama ini hanyalah ketakutan. Ketakutan akan dibuang.

"aku sangat merindukanmu [Name]-chan" kata Alex memelukmu. Kamu hanya diam di pelukannya sambil memeluk foto ibumu.

"Apa kau tak mengingatku?" katanya tersenyum ke arahmu. Kamu hanya menatapnya bingung. Dia hanya menghela napasnya.

"Kau waktu itu hampir diculik tahu…" kata Alex terkekeh mengingat kejadian itu. Kamu hanya mengingat kejadian saat kamu masih berumur 5 tahun. Kamu berusaha pulang sendirian dari sekolah, saat di tengah jalan, seseorang menggendongmu dan menutupi mulutmu dengan kain agar tidak bisa teriak. Untunglah ada Alex disana.

"Aku ingat itu…" katamu bersweatdrop ria. Alex masih terkekeh mengingat kejadian itu.

"Untunglah kau baik-baik saja…" katanya tersenyum padamu.

.

.

"Akashi…" suara seseorang membuat pemuda bersurai merah yang sedang duduk di kursi itu menoleh ke arah suara. Pemuda berambut hijau dengan benda aneh di tangannya menatap dingin pemuda bersurai merah itu. Midorima duduk di samping Akashi yang sedang duduk sendirian.

"Apa yang kau pikirkan?" kata Midorima

"Tidak ada…" katanya datar. Iris matanya menatap ke arah bulan purnama.

"Kau sedang memikirkan dia?"

"dia? Siapa maksudmu?" kata Akashi melirik ke arah temannya itu.

"lupakan.." kata Midorima membenarkan kacamatanya.

"bagaimana pendapatmu pada gadis itu?" kata Midorima kembali menaikan kacamatanya.

"Tidak ada, dia hanya gadis murahan."

"sepertinya kau sedikit tertarik dengannya."

"aku tidak tertarik, Shintarou. Aku hanya akan menjadikannya budak kita." Kata Akashi bangkit dari kursi taman itu lalu pergi.

To: Akashi

From: Alex

"kids, sepertinya aku ada misi darurat sekarang! Pergilah ke bandara dan temui aku disana! Aku ada di landasan E12."

-Alex

Akashi membacakan pesan itu di depan semuanya. Kalian langsung bersiap berangkat. Dengan membawa 1 mobil dan 2 motor kalian berangkat ke bandara dengan kecepatan tinggi.

"Izuki-senpai!" kamu memeluk tubuh Izuki kuat-kuat.

"peluk aku yang kuat!" kata Izuki, ia menarik gas hingga bertambah cepat. Bukannya kamu takut kecepatan. Hanya saja alas kakimu terjatuh tadi.

"Alas kakiku jatuh!" katamu sedikit berteriak.

"nanti kau bisa pakai milik Momoi-chan!" katanya tanpa mengurangi kecepatan. Dengan menambah kecepatan lagi, kalian menggunakan motor ke bandara. yang kamu pikirkan adalah 'mungkin sebentar lagi aku akan terkena masuk angin.'

Bandara selalu ramai. Jam masih menunjukan pukul empat sore. 10 orang anak muda menerobos memasuki area landasan.

"Maaf, kalian dilarang masuk."

"Tapi ini tugas kami-ssu!" kata Kise.

"Ini berbahaya!"

"Sialan kau!" Aomine mulai marah. Tapi dua orang penjaga memegang tangannya. Aomine memberontak dengan berusaha menendang mereka.

"Biarkan mereka lewat." Seseorang datang. Kalian tersenyum mendengarnya. Aomine langsung dilepaskan. Kalian langsung berjalan menuju TKP.

"Apa yang sebenarnya terjadi Alex-san?" kata Kuroko.

"Dia, Vero dan kelompoknya, penjahat itu ingin membajak pesawat. Sepertinya ia akan pergi ke Dubai." Kata Alex dengan muka yang serius. Kamu langsung memikirkan rencana untuk menyelamatkan seorang sandera yang sedang di todong dengan pistol.

"Kau membawa bala bantuan, Alex." Kata seseorang menyeringai dari dalam pesawat.

.

.

"To..tolong aku…" seorang gadis berumur 12 tahun di todong pisau di bagian lehernya.

"Isi bahan bakarnya! Atau aku akan membunuhnya!" kata penjahat itu.

"Hahahaha! Apa kalian sudah gila? Kalian membawa bocah sebagai bala bantuan kemari?!" katanya tertawa. Aomine yang amarahnya mulai memuncak berlari ke arah penjahat itu.

"Tenang Mine-chin!" kata Murasakibara menahan Aomine.

"Kenapa bocah ingusan? Kau takut?" kata penjahat yang menodong anak itu.

"Sebentar lagi bahan bakarnya akan terisi penuh. Apa semua penumpang sudah di evakuasi?" kata Alex

"Sudah nyonya."

"bagus."

Tiba-tiba Alex mendapat telpon dari nomor yang aneh (#4234742954#)

"Lama tak bertemu, Alex…"

"Vero! Lepaskan sanderanya!"

"Isi bahan bakarnya sampai penuh… baru aku akan melepaskannya. Jika tidak, aku akan meledakan bandara ini…" katanya sambil terkekeh.

'tch."

Vero mematikan teleponnya sambil tersenyum melihat keluar jendela.

'Dari jarak ini, aku dapat melihat jelas pesawat itu' katamu membatin

Kamu tiarap di belakang rerumputan yang belum di potong. Jarak antara kau dan pesawat itu adalah 4 km. kamu segera mencari tempat yang bagus di tubuh penjahat itu untuk menancapkan peluru.

"Di jantung? Ah, terlalu cepat untuk mati. Di punggung telapak tangan? Pelurunya pasti akan tembus dan melukai sandera..baiklah di bagian sikunya." Gumammu. Kamu siap mendengarkan aba-aba dari ruang pengawas.

"bisa aku menembaknya sekarang?" katamu berseringai ria.

"ya." Kata seseorang dari ruang pengawas.

DUAR!

Kamu menembakan peluru itu dengan halus. Dengan cepatnya peluru itu menancap di siku sang penodong. Bukan menancap. Peluru itu menembus tangannya. Penjahat itu melepaskan gadisnya.

"ketahuan kau gadis nakal…" kata seseorang dari belakang. Kamu hanya menoleh ke arahnya.

"Ara?" katamu kaget melihat teman lamamu itu.

"lama tak bertemu [name]" katanya sambil menodongkan pistol ke kepalamu. Kamu hanya berdecih melihatnya. Ara memang memiliki julukan The Shadow karena dia sangat tenang dan tak berbunyi.

"turunkan senjatamu." Kata seorang pemuda bersurai merah menodongkan pistol ke arah gadis berambut Fanta itu.

"tch." Kata Ara menurunkan senjatanya. Kamu hanya menatap Akashi yang menatapmu dingin. Akashi memborgol kaki dan tangan Ara.

"[Name], tetap siaga dengan senjatamu. Sebentar lagi pesawatnya akan terbang." Kata seseorang dari ruang pengawas. Kamu segera kembali ke posisimu. Pesawatnya benar-benar terbang.

"semua orang disana sudah menghirup racun." Kamu langsung melihat Alex dan teman-temanmu yang masih berusaha berdiri.

"tch." Katamu kesal melihatnya.

"saat aku memberi aba-aba, aku mau kau menembak pesawat itu. mengerti?"

"apa? Itu terlalu berbahaya!"

"Itu cara terakhirnya! Bersiaplah!" katanya. Kamu menelan ludahmu. Dan bersiap dengan senjatamu. Pesawatnya sudah naik dan melipat rodanya.

"tahan…, tahan…,tembak!"

DUAR! JEDER! ((Apa itu jeder? :v / itu suara ledakan -"))

Kamu terkena radiasi dari ledakan tersebut. Dan tentu saja udara panas dan serpihan pesawat yang berterbangan ke arahmu. Kamu memejamkan matamu dan mengucapkan doa-doa yang kamu ingat.

.

"Satsuki! Tiarap!" kata Aomine merebahkan tubuh Momoi di aspal. Semuanya tiarap dengan segera.

"[Name]-chan!" teriak Momoi menoleh ke arah tempatmu berada. Tempatmu sudah ditutupi asap yang tebal karena ledakan itu.

.

"Aku dimana?" katamu berusaha memfokuskan pandangan. Dadamu terasa sesak karena asap yang tebal. Kamu merasa sesuatu menimpa badanmu. Kamupun menoleh ke arah belakang.

"Akashi?" katamu segera melepaskan diri dari tubuhnya yang menimpa badanmu. Kamu segera mengangkat Akashi. Dengan terbatuk-batuk, kamu berusaha membawanya ke dalam bandara. Kabut tebal yang membuat matamu perih dan napasmu terasa sesak. Kamu mengangkatnya berjalan ke sembarang arah.

"Akashi-kun?" kata Kuroko melihat dari asap yang tebal. Kuroko berlari ke arah kalian berdua.

"aku tak melihat apapun-ssu!"kata Kise dengan sedikit berteriak.

"Kuro-chin! Jangan!" kata Murasakibara hendak menghentikan Kuroko. Kuroko tak mendengarkannya.

"Tetsu!" Aomine berlari mengejar Kuroko yang berlari ke arahmu.

Dengan tertatih-tatih, kamu berjalan lurus. Paru-parumu sudah penuh dengan asap. Matamu yang semakin buram membuatmu terlalu memaksakan dirimu. Pandanganmu tambah memburam.

"[Name]-chan!" kata seseorang yang suaranya sudah tak asing lagi bagimu.

"Kuroko-kun…"

Kamupun tak sadarkan diri.

.

.

.

.

Akashi P.O.V

"ehm.." kataku berusaha membuka mataku perlahan. Cahaya lampu membuat mataku terasa sakit. Aku menggerakan tangan kananku dengan perlahan. Menyentuh kepalaku karena terasa sangat pusing. Aku menoleh ke sebelah kananku. Terdapat meja berwarna putih. Aku menoleh ke sebelah kiriku. Terdapat gadis berambut abu-abu sedang tertidur dengan alat bantu napas di hidungnya.

"[Name]…" kataku menatapnya dari jauh. Suara pintu terbuka membuatku menoleh ke arah pintu. Wanita berambut pirang datang mendekatiku.

"Alex-san.." kataku meliriknya.

"Kau sudah sadar Seijuurou.." katanya menatapku lega.

"bagaimana keadaannya?"

"dia terlalu banyak menghirup asap. Dia juga memaksakan diri untuk membawamu menemui kami. Walau itu gagal." Kata Alex tersenyum dan menoleh ke arahmu.

"apa dia baik-baik saja?" kataku khawatir padanya.

"Istirahat dulu saja." Kata Alex menenangkanku. Aku memejamkan mataku dan kembali tertidur.

.

.

.

.

Aku melirik dingin gadis besurai abu-abu itu. iris matanya tampak menunduk sejak pulang dari rumah sakit tadi. Kami ditinggal berdua di rumah. yang lain pergi ke sekolah. Aku melihat ke arah jam dinding. Masih menunjukan pukul 3:19. Sebentar lagi yang lainnya akan pulang. Aku masih memperhatikannya diam-diam. Dengan earphone di telinganya, ia mengotak-atik ponsel yang diberikan Alex-san padanya. Aku bangkit dari sofa yang aku duduki lalu duduk di lantai. Aku memainkan shogi dan sesekali meliriknya. Ia bangun dari tempat duduknya dan berjalan.

'Dug'

Kakinya tersandung kabel playstation. Tubuhnya menimpa tubuhku.

Krek

Suara pintu terbuka. Kami menoleh ke arah pintu itu.

"Ya Tuhan! Kalian cocok sekali-ssu!" kata Ryouta berteriak seperti anak kecil. Satsuki mengambil foto kami berdua dengan ponselnya.

"Belum waktunya Akashi…" kata Aomine dengan nada malas. Dia segera bangkit dan menendang tubuhku ke tembok.

'tendangan macam apa itu?' kataku dalam hati. Mukanya terlihat memerah.

"APA YANG MAU KAU LAKUKAN PADAKU HAH?! MESUM!"

DUAR DUAR DUAR!

Gadis gila itu melepaskan tiga peluru dari pistol yang ia pegang. Aku dapat melihat semuanya bersweatdrop berjamaah. Begitu juga denganku. Untunglah pelurunya tidak mengenaiku. Semuanya terkena tembok.

"JELAS JELAS KAU YANG JATUH DI ATAS TUBUHKU! AKU BUKAN LAKI-LAKI YANG SUKA DENGAN WANITA MURAHAN!" kataku. aku mengambil pistol yang ada di atas meja di sampingku. Aku mengarahkan pistol itu padanya.

DUAR!

"Masih terlalu cepat untuk membunuhnya." Seseorang mengubah arah tembakanku ke langit-langit. Itu Shuuzo yang datang. Aku menghela napasku. Sorot mata gadis itu tiba-tiba berubah menjadi calm.

"Daijobu?" katanya mendekatiku.

"Tch. Jangan dekati aku…" kataku membuang muka. Dia hanya diam tak berkutik. Aku bangkit dari tempat itu dan pergi menuju kamarku.

Tok tok tok!

Suara pintu diketuk membuatku menoleh kearahnya.

"Masuk." Kataku. lagi-lagi gadis berambut abu-abu yang hampir membunuhku itu datang menghampiriku.

"Kau lagi, apa maumu?" kataku bicara dengan nada datar padanya.

"Aku minta maaf!" katanya memberikan sebatang coklat padaku. aku mengambil barang manis itu dari tangannya.

"Apa ini? Coklat?"

"sebagai permintaan maafku." Katanya menunduk.

"kau pikir kenapa ada polisi dan hakim jika maaf itu berguna?" kataku menatapnya dingin.

"Aku akan melakukan yang kau mau. Asalkan maafkan aku" katanya. Aku menyeringai mendengarnya.

"Baiklah kalau begitu, jadilah budakku." Kataku dengan senyuman paling tulus/? yang bisa ku buat.

.

.

.

.

.

TBC


ada yang kangen sama Author? sudah berapa lama saya menghilang? Thanks For Reading yaa... janga lupa Review... w kalo adaa ide buat judul tulis aja di Review w Sankyuuu...