The Girl Is Mine
by
nessh
Ginny lebih banyak diam, sementara Draco lebih banyak bicara. Mulai dari menanyakan hal-hal sepele pada Ginny, seperti apa warna kesukaannya atau musim favoritnya. Yang tentunya dijawab Ginny dengan sangat singkat. Draco hanya nyegir.
"Aku lapar. Bagaimana kalau kita pergi ke Three Broomstick?" tanya Draco. "Atau kamu mau kita pergi ke Madam Puddifoot?" seringai jahil menghiasi wajahnya. Kedua alisnya naik turun.
"Jangan pernah mengajakku ke Madam Puddifoot," kata Ginny pelan dan tajam. Dia mendelik pada Draco.
Draco tetap nyengir. "Three Broomstick kalau begitu,"
Draco menarik tangan Ginny ke arah Three Broomstick. Ginny protes dan menarik tangannya dari genggaman Draco. Draco tidak bereaksi dan kembali memasukkan kedua tangannya ke saku celananya.
Ketika mereka akhirnya sampai di depan Three Broomstick, Draco berjalan mendahului Ginny dan membukakan pintu untuknya.
"My Lady," kata Draco sambil sedikit membungkuk. Ia menunggu Ginny masuk ke dalam sebelum ia mengikutinya dan membiarkan pintu tertutup.
Seulas senyum tersembunyi di sudut bibir Ginny. Tidak ada yang pernah memperlakukannya seperti itu. Tidak Michael Corner, tidak Dean Thomas dan bahkan Harry Potter pun tidak.
Mereka melihat ke sekeliling, mencari-cari meja yang kosong. Namun yang mereka temukan adalah Hermione yang melambai dengan semangat pada mereka. Draco hanya mengangkat kedua alisnya sementara Ginny berjalan menghampirinya.
"Hey, kalian! Duduklah disini, tempat yang lain penuh," kata Hermione sambil bergeser ke kiri, memberi tempat untuk Ginny sementara Draco mengambil kursi dari meja sebelah, memaksa Harry yang duduk di sampingnya ikut bergeser.
"Weasley, Potter," kata Draco, mengangguk pada Ron dan Harry.
"Malfoy," kata Harry, tersenyum kecil.
Ron menggumam tidak jelas. Tapi Luna menyikutnya pelan dan menatapnya dengan alis kanan terangkat. Ron mendengus dan akhirnya berkata. "Hey,"
Draco tidak mengidahkan Ron dan berpaling pada Ginny. "Aku mau mengambil Butterbeer dan memesan makanan. Kamu mau apa?"
"Umm. Hanya Butterbeer, aku rasa," Ginny membuka tasnya. "Uangnya…."
Draco menyentuh tangan Ginny. "Tidak usah," kata Draco sebelum bangkit dari kursi. Ginny berkedip, menatap punggung Draco yang menjauh.
"Dia cukup manis. Iya kan Gin?" komentar Hermione setelah Draco keluar dari zona pendengaran.
Ron mendengus. "Yang benar saja. Dia Malfoy. Malfoy tidak manis,"
"Aku rasa dia cukup manis," sahut Luna. "Aku melihatnya membukakan pintu untukmu Ginny. Ronald tidak pernah melakukan itu untukku,"
"Yeah. Harry juga," kata Hermione, nyengir.
"Hey!" protes Ron dan Harry.
Hermione tertawa pelan dan mengecup pipi Harry. "Kamu masih manis,"
"Yah. Dia cukup…manis. Aku rasa," gumam Ginny.
"APA?!" , "Wow," , "Oh Ginny," Ron, Harry dan Luna berkata bersamaan.
Hermione hanya tersenyum geli. Ia menyelipkan rambut Ginny ke belakang telinganya. "Jadi apa akhirnya Draco berhasil meluluhkan hatimu?"
"Apa?! Tidak! Aku hanya mengatakan Malfoy orang yang baik dan aku rasa aku telah salah menilainya selama ini. Dia menyebalkan, tapi baik," dahi Ginny berkerut mendengar kata-katanya sendiri. "Oke itu tadi agak aneh,"
"Jadi kamu tidak menyukai Draco?" tanya Harry.
Ginny menggeleng tegas. "Tidak. Aku rasa tidak menyukai Malfoy,"
"Dia akan menyukainya," sahut Luna.
"Tidak. Dia tidak akan menyukainya!" kata Ron, jelas-jelas tidak menyukai bayangan Ginny bersama Draco. Hell, Ron lebih memilih Harry menjadi adik iparnya dibandingkan Draco. Tapi melihat bagaimana Harry melihat Hermione, dia tahu Harry tidak akan memilih Ginny.
"Mau bertaruh?" tantang Harry, nyengir lebar sambil mengulurkan tangan. "Sepuluh galleon, Ginny akan menikahi Draco,"
"Yang benar saja!" gerutu Ron, tapi tetap meraih uluran tangan Harry.
Ginny memutar mata. "Hey, aku masih disini. Aku bisa mendengar semua itu. Dan apa yang membuatmu yakin aku akan menikahi Draco, Harry?"
"Dia memanggilnya Draco bukan Malfoy lagi!" seru Harry dengan semangat.
Semburat pink terlihat di pipi Ginny. "Aku keceplosan!"
"Aww, lihat. Wajahnya merah. Itu manis," goda Harry lagi. Hermione menyikut Harry pelan, tapi ikut tersenyum.
Wajah Ginny semakin memerah. Tapi sebelum ia bisa membalas Harry, Draco kembali dengan dua gelas Butterbeer dan sepiring besar kentang goreng melayang di depannya. Percakapan itu berhenti begitu saja, digantikan dengan obrolan seputar Quidditch yang tentu saja dimulai oleh Harry dan Ron.
Hari itu berakhir dengan cukup menyenangkan. Harry, Ron dan Luna mengantar mereka sampai depan gerbang Hogwarts.
Ginny berpamitan dengan Harry, Ron dan Luna yang harus segera kembali ke London. Ron dan Harry mewanti-wanti pada Ginny untuk tidak membiarkan Piala Asrama Quidditch jatuh ke asrama lain. Ginny, yang tahun ini memegang posisi sebagai Kapten Quidditch Gryffindor, memutar matanya. Tentu dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi. Dan Ron juga mewanti-wanti padanya untuk menjauh dari Draco. Ginny hanya memutar matanya. Harry nyengir. Luna hanya senyum dan mengingatkannya untuk menjauh dari Nargle dan Wrackspurt—apapun itu.
Ginny melihat Hermione memeluk Ron dan Luna, mengingatkan mereka untuk sering mengirim surat dan berjanji untuk menghabiskan natal bersama. Ginny tersenyum kecil saat Harry memeluk Hermione erat, menciumnya dan mengangkat tubuhnya. Mereka terlihat manis, pikir Ginny. Tepukan di bahu Ginny membuatnya menoleh.
Draco tersenyum padanya dan meraih tangan Ginny, menggenggamnya erat.
"Terima kasih untuk hari ini. Aku sangat senang," kata Draco, sembari tersenyum. Bukan senyum sombong yang biasa Ginny lihat, tapi seulas senyum yang terlihat sangat tulus.
"Aku bisa bertaruh bahwa kamu masih tidak menyukaik. Bukan begitu?" Draco mengulurkan tangannya dan mengusap pipi Ginny pelan. Mata kelabunya menatap Ginny dalam. Ginny menahan nafas, tatapannya begitu intens.
"Dan aku berjanji padamu aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini. Aku selalu menepati janjiku, jadi aku tidak akan mengganggumu lagi setelah ini,"
Entah kenapa, ada sesuatu menggelitik dalam diri Ginny setelah ia mendengar hal itu. Dia tidak merasa senang atau lega, tapi kosong. Ada apa?
"Setidaknya, aku ingin melakukan ini. Walau itu hanya satu kali," bisik Draco.
Draco meraih dagu Ginny dan menariknya pelan. Jarak di antara mereka menyempit. Ginny bisa merasakan nafas Draco di wajahnya, ketika akhirnya bibirnya dan bibir Draco bersentuhan.
Ginny menutup matanya. Sesuatu seperti menggelitik perutnya, sensasi aneh yang dia tidak kenal sebelumnya. Tidak ketika dia mencium Dean, Michael atau Harry. Kali ini berbeda. Berbeda dalam arti yang bagus. Ginny bisa mendengar Hermione dan Luna memekik, Ron berseru protes dan Harry yang menyuruh Ron diam. Tapi Ginny tidak peduli, dia hanya menikmati kembang api di kepalanya dan semakin tenggelam dalam pelukan Draco.
Ginny hampir mengeluh ketika Draco melepaskannya.
"Selamat tinggal, Ginny,"
Dan begitu saja, Draco berjalan menjauh dari Ginny, tanpa menoleh lagi ke belakang. Draco tidak melihat Ginny menoleh menatapnya, dengan tangan kanan menyentuh dadanya. Draco tidak melihat bagaimana Ginny menatapnya saat itu.
Dia hanya berjalan menjauh.
Ginny mencengkram t-shirt yang dikenakannya. Tepat di bawah kepalan tangannya, jantungnya berdebar kencang. Pikirannya kosong. Tubuhnya terpaku di tempat.
Ada apa denganku?
