Kyoukai no Koi

Chapter 2

Warn : Incest/Twincest, A LOOOOOOT OF OCs and etc.

Enjoy reading!

.

.

.

.

.

.

"Sena sudah pulang bukan?"

"Tentu. Kurasa dia masih di kamarnya.."

Pria separuh baya bernama Sojirou itu berdehem pelan. Suasana makan malam di ruang makan keluarga Akashi saat itu cukup damai. Berbagai macam makanan enak tersedia lengkap di meja makan hingga dessert. Namun terdapat satu kursi yang kosong padahal makanan sudah tersedia lengkap diatas meja.

"Kenapa dia tidak kunjung kemari? Makan malam sudah siap semuanya.."

"Biar aku memanggilnya.."

Yukina hendak berdiri, sebelum dihentikan oleh Seijuurou. Pemuda itu tersenyum lembut kearah ibunya sejenak sambil menghentikan beliau untuk berjalan. Dan hal itu sukses membuat ibunya hanya bisa berdiam setelah melihat senyuman anaknya yang kembali tertampang di wajahnya hari ini.

"Aku saja.."

"Seijuurou! Apa yang kau lakukan?! Nanami sedang disini!"

Gadis cantik yang baru saja disebut namanya oleh Sojirou menoleh sebentar. Kemudian ikut melirik Seijuurou yang berdiri untuk meninggalkan meja makan.

"Apa salah.. Aku memanggil kakakku sendiri untuk makan malam?"

Seijuurou menatap ayahnya tajam. Tatapan penuh emosi dan kebencian. Ini bukan yang pertama kalinya. Sebenarnya sudah sangat lama Seijuurou membenci pria tua itu.

Tepatnya, sejak delapan tahun lalu setelah Sena meninggalkan rumah itu. Bahkan kata 'Otou-san' sudah tidak pernah keluar lagi dari mulutnya. Seijuurou tidak pernah memanggilnya lagi. Hampir seperti menganggap jika keberadaan ayahnya itu sudah tidak ada lagi.

Tidak memperdulikan yang lainnya lagi, Seijuurou pun berjalan menuju kamar Sena. Dirinya sudah menduga jika Sena akan melewatkan makan malam.

"Sena! Makan malam sudah siap.." Seijuurou mengetuk pintu dan menunggu Sena keluar dari kamarnya.

"S-Seijuurou.. A-aku tidak makan malam. Kalian bisa makan tanpaku.." Ucap Sena seadanya dan kembali memainkan nitendo 3DSnya.

Mendengar jawaban aneh dari Sena, Seijuurou langsung membuka pintu kamar Sena.

"Apa kau mau perutmu kosong lalu sakit?"

"Aku akan makan malam sendiri nanti.. Aku masih harus membereskan barang-barangku dan…."

"Membereskan barang-barangmu, huh?" Seijuurou bertanya dengan nada mengejek dan berjalan mendekati Sena. "Maksudmu berkencan dalam game simulasi percintaan ini?" Nada bicara yang digunakan Seijuurou makin sinis. Setelah itu langsung mengambil nitendo 3DS tersebut. Memandang sebentar pria 2D berambut merah dengan sangat tajam dan sinis. Setelah itu dia menutup nitendo 3DS itu dan mematikannya.

"S-Seijuurou! Aku sedang main! Dan sudah kukatakan bukan, aku akan makan malam sendiri nanti. Sekarang aku sedang sibuk."

Tidak memperdulikan alasan Sena, Seijuurou menarik tangannya. Mencengkramnya agar Sena tidak bisa kabur, tetapi memastikan agar dia tidak menyakiti tangan Sena.

"Jangan berpura-pura. Aku tau kau tidak ingin bertemu dengannya.."

Dari cengkraman berubah menjadi gandengan. Dengan lembut Seijuurou menggandengnya dan menahannya agar tidak lepas. Tidak lupa kembali menampilkan senyumnya yang paling menawan pada gadis didepannya ini.

"Mari kita hadapi dia bersama-sama.."

Seijuurou tersenyum, sedangkan Sena hanya bisa diam dan pasrah karena tidak bisa melepaskan tangannya dari Seijuurou.. Sambil berdoa dalam hati agar tidak akan terjadi hal buruk setelah ini. Rencananya untuk menghindari Seijuurou benar-benar gagal. Bahkan tadi siang dia menumpahkan semua tangisannya didalam pelukan Seijuurou.

"Aku membawanya.."

Semuanya menoleh ke sumber suara. Mata pria separuh baya yang sedang duduk dan belum menyantap makanannya itu, memincingkan matanya kearah mereka. Tepatnya kearah tangan mereka yang bergandengan. Seorang gadis yang asing bagi Sena juga melihat mereka dengan heran. Sedangkan Yukina hanya bisa melihat mereka dengan tatapan sedih.

Dengan cepat Sena melepaskan tangannya, kemudian berjalan mendekati mereka semua.

"Ko-konbanwa, Okaa-san.. Otou-san.. E-etto.."

Sena memandang heran seorang gadis cantik didepannya.

Gadis itu tersenyum.

"Hajimemashite! Aku adalah Fujiwara Nanami, tunangan dari Seijuurou-kun!"

Kata-kata itu bagaikan petir menyambar bagi Sena. Dia tidak dapat menahan matanya yang membesar. Kaget. Sangat terkejut. Seijuurou hanya mendengus kesal mendengarnya. Sedangkan gadis yang bernama Nanami hanya terus menampilkan senyum pada Sena.

Sena masih belum bisa lepas dari kebingungan yang menyelimuti otaknya.

Tunangan?

Apa itu benar?

Seijuurou sudah memiliki tunangan? Dia mencintai gadis lain?

Selain dirinya?

Apa maksudnya?

Kenapa?

"Ah, maaf! Tepatnya, aku akan segera menjadi tunangan Seijuurou secara resmi! Pesta pertunangan kami diadakan sebulan lagi.."

Wajah kesal Seijuurou dan tatapan bersalah dari ibunya cukup membuktikan jika kata-kata gadis didepannya ini benar. Membuat Sena akhirnya dengan sangat terpaksa mempercayai semua kata-kata itu.

"O-ohh.. Begitu.."

"Kau adalah Sena-chan bukan? Senang bertemu denganmu!"

"A-aah.. Aku..juga.."

Kembali memasang senyum palsu, akhirnya dengan terpaksa Sena duduk. Walau dalam hatinya sekarang dia ingin segera pergi dari sini. Dan menumpahkan air mata yang sedang ditahannya dengan susah payah. Namun keluarga Akashi tidak pernah mengajarinya bertindak tidak sopan seperti itu. Yang bisa dilakukannya hanyalah menahan diri dan menunggu hingga makan malam berakhir.

"Lama tidak berjumpa Sena.."

"I-iya.."

Sojirou menolehkan wajahnya kearah Sena.

"Kau bertambah dewasa dan cantik.."

Dan kemudian pria separuh baya itu menggigit daging di sumpitnya. Sena hanya bisa tersenyum tipis mendengar pujian ayahnya itu. Dia pun dengan terpaksa memakan makanan didepannya walau sekarang dia sedang dalam kondisi tidak ingin makan.

"Seijuurou-kun, ada nasi di pipimu.."

Dengan segera Nanami mengambil butiran nasi itu dari wajah Seijuurou, kemudian memakannya.

"Kau cukup memberitahuku, tidak perlu begitu.."

Seijuurou menjawab Nanami dengan cukup dingin. Sementara Sena berhenti makan sejenak. Secara tidak sengaja dia melihat Nanami yang mengambil butiran nasi dari pipi Seijuurou. Hal itu membuat hatinya sesak entah kenapa.

Sena terus menahannya. Berusaha menahan dirinya. Berusaha agar air mata tidak keluar. Berusaha tidak memperdulikan apa yang terjadi di depan matanya. Berusaha mengacuhkan semuanya. Berusaha untuk melupakan kata-kata Nanami tadi.

Dan berusaha menahan perasaannya.

Tetapi bagaimanapun dia berusaha menahan semuanya itu, setitik air mata mulai keluar dari matanya. Hati Sena sakit melihat ini semua. Ini bukanlah hal yang diinginkannya saat pulang kembali ke Jepang.

GYUT

Menyadari ada yang menggenggam tangan kirinya, Sena pun menoleh. Tangan hangat Seijuurou kini menggenggamnya, dan berusaha tetap makan malam dengan satu tangan. Sena berusaha melepaskannya, tetapi tidak kunjung bisa.

"Sena.. Kenapa tidak makan?"

"A-aah.. I-iya, Okaa-san.."

Dengan susah payah pun Sena makan dengan satu tangannya. Menggunakan tangan kanannya untuk menggunakan sumpit bukanlah hal yang mudah. Tetapi bagaimanapun usahanya melepas tangan Seijuurou, itu tidak pernah berhasil. Sena pun pasrah membiarkan tangan Seijuurou menggenggamnya.

Untuk sejenak, Seijuurou menoleh kearah Sena. Memberinya senyuman tulus lagi.

Sena tidak dapat membohongi dirinya sendiri kalau dia menyukai genggaman tangan Seijuurou yang hangat. Seijuurou terus menggenggamnya erat seakan-akan mengatakan tidak akan pernah melepas Sena lagi.

"Sena, tentang kepulanganmu ini, Otou-san sudah punya rencana.."

" Apa itu, Otou-san?"

"Daripada kau menjadi desainer freelancer di Prancis, sebaiknya kau membuka sebuah butik disini.. Otou-san sudah menyiapkan tempatnya.."

"Benar, Sena. Okaa-san juga sudah menyiapkan penjahit-penjahit profesional yang dapat membuat pakaian yang kau desain nantinya..".

"Maksudnya.. Aku akan kembali menetap disini?"

Sena cukup kaget dengan kata-kata kedua orang tuanya barusan. Apakah itu berarti.. Dia akan menetap di Jepang?

Kembali ke Negara asalnya.. Dimana Sena dibesarkan..

Dan juga mengalami peristiwa menyakitkan itu?

"Benar, Sena! Dengan begini Okaa-san tidak perlu lagi ke Prancis untuk melihatmu. Okaa-san benar-benar senang!"

"Dan barang-barangmu di Paris, Otou-san akan segera menyuruh asisten Otou-san untuk mengurusnya dan memindahkannya kemari. Mungkin mulai minggu depan, barang-barangmu sudah bisa diurus.."

Sena terus terdiam, berusaha mencerna semua kata-kata kedua orang tuanya.

"Baiklah.."

Dalam hati sebenarnya Sena cukup senang. Dia sudah terlalu lama meninggalkan Jepang. Selama berada di Paris, hampir setiap hari dia merindukan Negara asalnya ini. Merindukan tempatnya dibesarkan dan bertemu dengan orang-orang yang dicintainya. Tetapi jika dia kembali ke sini.. Maka perasaan yang sudah berusaha dikuburnya, mungkin akan bangkit lagi disini.

"Bukankah itu bagus, Sena? Mungkin aku akan menjadi pelanggan butikmu nanti.." Seijuurou kembali tersenyum. Sepertinya dia turut bahagia dengan kabar Sena yang kembali ke Jepang dan menetap disini. Itu artinya dia dapat melihat Sena kembali setiap hari. Kembali bertemu dengan gadis yang selama ini dirindukannya dan dimimpikannya saat tidur.

"A-aku hanya mendesain gaun, Seijuurou.."

"Aahh! Kalau begitu, bagaimana jika Sena-chan mendesain baju pernikahan kami berdua nanti? Soalnya kalau baju untuk pesta pertunangan kami, sudah disiapkan.."

Mendengar itu, rasanya hati Sena menjadi retak. Dia tidak ingin mendengarnya. Dia tidak ingin mengenal atau berbicara dengan gadis di depannya ini. Terlebih lagi mendengar soal pertunangan bahkan pernikahan mereka.

Bolehkah dirinya menangis sekarang? Berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan semua perasaannya yang tertahan? Atau pergi dari sini sekarang juga?

Tetapi yang bisa Sena lakukan, hanyalah menerima semuanya dan memasang topeng.

"Tentu.."

Sena menampilkan senyum palsunya, berusaha menyembunyikan isi hatinya yang sebenarnya. Seijuurou yang mengetahui itu hanya mempererat gengamannya pada tangan Sena. Seolah-olah mengatakan jika dia akan selalu berada di sisi Sena. Tetapi itu tidak sepenuhnya berhasil. Wajah Sena kembali sedih dan menunduk. Sekali lagi Sena berusaha menahan air matanya untuk keluar. Kemudian dia melepaskan genggaman tangannya dan Seijuurou dengan sedikit paksa hingga berhasil.

"Aku harus merapikan barang-barangku dulu. Jadi aku permisi dulu, minna-san. Oyasuminasai.."

Setelah itu Sena kembali ke kamarnya tanpa memakan dessert. Tidak peduli walau dia merindukan dessert buatan koki rumahnya, yang dia ingingkan kali ini adalah sendiri di kamarnya. Bahkan kalau bisa berteriak sekencang-kencangnya untuk meluapkan isi hatinya.

"Sena!"

Sojirou merasa kelakuan putrinya itu sangat tidak sopan, walaupun dia baru saja kembali dari Paris. Dan dia juga cukup mengerti kenapa putrinya melakukan hal itu.

Semua reaksi Sena dan perbuatannya.. Sesuai dengan prediksinya..

"Biarkan dia.."

Giliran Yukina yang mencegah suaminya. Membiarkan putrinya untuk kembali, seperti mengetahui jika kini Sena ingin sendiri.

Semuanya kembali ke meja makan, menyantap penutup mulut yang sudah disediakan untuk mereka.

Seijuurou mempercepat makannya. Membuat tiga orang lainnya yang berada disana memandang Seijuurou dengan sedikit heran karena tingkahnya yang makan dengan sangat tergesa-gesa itu. Setelah selesai, Seijuurou berdiri sambil membawa piring yang berisi potongan cake strawberry.

"Aku akan membawa ini untuk Sena.."

"Tidak perlu, Seijuurou!"

"Apakah salah membawakan cake untuk kakakku?"

Kembali keduanya saling bertatap tajam. Seijuurou tidak terlalu memperdulikan pria tua itu dan langsung berjalan meninggalkan ruang makan. Tidak ada kata-kata 'terima kasih untuk makanannya' yang keluar dari bibirnya. Seijuurou meninggalkan ruang makan dengan kata-kata dingin yang dilontarkan pada ayahnya barusan. Nanami yang menyaksikan ketidak akuran ayah dan anak itu hanya bisa diam. Tinggalah dirinya dengan kedua orang tua mereka di meja makan.

"Oh ya, Nanami-san. Apakah kau mau menginap disini?"

"E-eeh? Tidak perlu.."

"Sekalian membicarakan gaun pengantin yang ingin kau buat dengan Sena.."

Yukina yang mendengar itu langsung menoleh kearah suaminya dengan kaget. "Suamiku! Tidak perlu secepat itu.."

"Apa yang kau katakan? Lebih cepat lebih baik.. Bulan depan pesta pertunangan mereka akan dilaksanakan, dan pernikahan mereka juga akan dilaksanakan secepatnya."

Yukina hanya bisa terdiam sambil memasang raut wajah bersalah. Lagi-lagi seperti ini.. Sojirou mengetahui itu, tetapi dia hanya mengacuhkannya.

"Bagaimana, Nanami-san?"

"Hmmmm.. Baiklah kalau begitu. Aku akan menghubungi orang tua ku dulu.."

"Oh ya, kau bisa gunakan kamar Sena sementara. Mungkin kalian juga bisa mengakrabkan diri.."

Pria itu tersenyum, sedangkan istrinya pun shock. Berusaha mencegahnya, namun tidak bisa. Dia tidak memiliki alasan yang kuat mengapa Nanami tidak bisa memakai kamar Sena. Semuanya tidak bisa dia cegah. Suaminya terlalu kuat..

"Tentu. Aku rasa Sena-chan anak yang menarik.."

.

.

.

"Sena.. Buka pintunya.."

Sena tidak menjawabnya. Berpura-pura tidur mungkin yang terbaik untuk menghindari pria bersurai merah itu. Lagipula dia juga tidak ingin Seijuurou melihatnya dengan keadaan membenamkan wajahnya ke bantal dan membasahinya.

"Sena. Aku tahu kau belum tidur.-"

Kembali mengetuk pintu, dan tidak kunjung ada jawaban.

"Kalau kau tidak mau membuka kuncinya, aku akan menggunakan tali dan memanjat ke balkon dan masuk lewat pintu balkon kamarmu dari luar.."

Mendengar itu, Sena langsung berdiri dan mengunci pintu balkon serta jendela kamarnya. Memastikan tidak ada celah untuk Seijuurou masuk

"Dan kalau ternyata kau menguncinya, aku akan memecahkan kaca jendelanya.. Atau mendobrak pintu ini saja ya?"

Skakmat untuk Sena. Kini mau tidak mau pun dia harus membuka pintu kamarnya daripada Seijuurou membuat kerusakan nantinya. Tetapi sebelum itu, dia menghapus air matanya dan akhirnya membuka pintu dengan terpaksa.

"Ada apa?"

"Ini.. Dessertmu.."

Sena mengambil sepotong cake dari tangan Seijuurou, dan kemudian hendak menutup pintu kamarnya kembali.

"Hoi.."

Seijuurou menahannya sebelum Sena benar-benar menutupnya.

"A-ada apa lagi?"

"Biarkan aku masuk.."

"Ini sudah malam, Seijuurou..."

"Tidak peduli.."

Seijuurou berhasil membuka pintu dengan paksa dan membuat pertahanan Sena melemah. Kemudian dia lah yang mengunci pintu kamar Sena sekarang. Piring berisi cake strawberry yang tadi diberikannya pada Sena diambilnya kembali.

"A-apa yang kau lakukan, Seijuu-mpphh!"

Tanpa aba-aba Seijuurou memasukkan sepotong kecil cake strawberry kedalam mulut Sena. Tertawa pelan sambil menunggu Sena menghabiskannya.

"Enak?" Dengan lembut Seijuurou mengusap sisa-sisa krim yang berada di pinggir mulut Sena. Sesekali tertawa ringan lagi sambil memandang wajah Sena.

"S-Seijuurou! Jangan tiba-tiba memasukkan seperti itu!" Sena memprotes apa yang baru saja dilakukan pemuda didepannya ini. Tentu saja hal tersebut membuatnya sebal. Tetapi si pembuat masalah hanya terus tersenyum memandanginya.

"Hei.." Seijuurou meletakkan piring itu diatas meja. Lalu berbalik memandang Sena. "Hentikan itu.."

"E-eeh?"

"Hentikan menahan perasaanmu sendiri.."

Dan untuk yang ketiga kalinya hari ini, Seijuurou membawa Sena dalam dekapannya. Memeluknya dengan penuh cinta seperti sebelumnya. Menyentuh wajah mulus milik Sena dan mengusap sedikit air mata yang masih tersisa.

Seijuurou memandangnya sendu..

"Hentikan.. Kumohon..."

Mendengar itu, rasanya Sena ingin menumpahkan kembali air matanya. Tetapi dia masih mempertahankannya agar tidak keluar.

"Aku ada disini sekarang. Aku tau perasaanmu. Karena itu, jangan ditahan lagi.."

Sena pun tidak tahan lagi setelah mendengar ucapan Seijuurou, dan mengulang kejadian tadi siang. Menangis dalam dekapan Seijuurou. Baru sehari mereka bertemu dan Sena benar-benar tidak bisa menghindarinya. Bahkan menangis dalam dekapannya sampai dua kali.

Dan apakah ini berarti Sena tidak akan bisa menghindarinya terus?

"Sei..."

"Ya.. Aku disini.."

Sena mencengkram erat lengan Seijuurou. Dan Seijuurou hanya terus mengelus kepala Sena, membiarkannya terus menangis sampai dia lega. Seijuurou tau jika sejak tadi Sena selalu menahan tangisannya.

Tangisan Sena adalah hal yang tidak ingin dilihatnya. Namun jika terus membiarkan Sena menahannya seperti itu, maka akan membuat hatinya lebih sakit dibandingkan melihat tangisan Sena.

"Itu.. Selamat.. Atas pertunanganmu.."

Setelah berhenti menangis, Sena mengucapkan itu pada Seijuurou.

"Aku belum bertunangan dengannya. Si pak tua itu dan keluarga Nanami yang memutuskannya."

"Tapi.. Dia akan menjadi tunangan resmimu. Dan lalu.. Istrimu.."

Wajah Seijuurou mendadak sebal.

"Aku sama sekali tidak mencintainya. Bahkan menyukainya saja tidak. "

"Eh? Apa yang kau bicarakan, Seijuurou? Kurasa Nanami orang yang cantik.."

"Tidak bagiku.."

"Bagaimanapun juga.. Kau.. Harus menerimanya.."

Ucapan Sena barusan membuat Sena dihadiahi tatapan tajam dan sebal dari Seijuurou. Akhirnya Sena berhenti membicarakan seseorang yang akan jadi tunangan resmi Seijuurou. Sebenarnya dia juga tau jika Seijuurou sama sekali tidak menginginkan pertunangan itu. Terlihat bagaimana sebalnya Seijuurou jika pembicaraan menyangkut Nanami.

"Dengar.." Seijuurou menaikkan dagu Sena. Membuat wajah cantik itu kini menatapnya dengan jarak yang sangat dekat.

Jantung Sena tiba-tiba berdegup sangat kencang. Apakah….

"Yang kucintai di dunia ini.. Hanya kau.."

Dan perlahan-lahan Seijuurou semakin mendekatkan wajah mereka berdua. Hingga hidung mereka pun bersentuhan dan jarak antara bibir mereka hanya satu centi.

TOK. TOK. TOK.

Seijuurou mendecak sebal. Dia memandang pintu itu dengan tatapan tajam seakan-akan ingin membunuh siapapun yang baru saja mengganggunya. Sedangkan Sena sepertinya merasa sedikit lega. Baru saja.. Seijuurou..

"Sena-chan? Bisa aku menginap di kamarmu hari ini? Aku juga ingin mengakrabkan diri denganmu.. Sebentar lagi kita juga akan menjadi keluarga bukan?"

DEG.

Suara dari gadis dewasa yang baru dikenalnya itu kembali terdengar. Jantung Sena rasanya kembali sakit. Dari tadi dia terus berusaha untuk menghindari gadis dewasa itu.

"Kalau kau tidak ingin, tidak perlu membukanya.. Aku juga tidak ingin melihat wajahnya.."

Seijuurou mendecak sebal. Sebenarnya Sena pun setuju dengan Seijuurou. Hanya saja.. Jika ayahnya sampai tau..

"Dia menginap disini, Seijuurou.."

Sena pun berjalan dengan terpaksa menuju pintu kamarnya, lalu membuka kuncinya.

"Eh.. Seijuurou-kun juga disini?"

Tidak menanggapi pertanyaan dari Nanami yang dianggapnya bodoh, Seijuurou hanya mendengus dan merebahkan badannya diatas kasur lamanya.

"Nee, Seijuurou-kun! Bagaimana kalau kita meminta Sena-chan untuk merancang baju pernikahan kita? Ahh kalau saja aku mengenalmu lebih cepat, aku bisa memintamu untuk merancang gaun yang akan dipakai di pesta pertunangan kami.." Nanami berjalan kearah Seijuurou. Ikut duduk di ranjang tempat Seijuurou merebahkan tubuhnya.

"Jadi kau tidak puas dengan pilihanku?"

Mendengar itu, rasanya hati Sena kembali sakit. Seijuurou.. Yang memilihkan gaun untuk Nanami?

"Bukan begitu, Seijuurou-kun! Sena-chan, bisakah aku melihat beberapa rancangan gaun pengantin yang sudah kau buat?"

"E-eh.. Itu.. Semuanya tertinggal di Paris.."

"Eeh?! Sayang sekali.. Kalau begitu setelah butikmu buka, kami akan mampir!"

Seijuurou hanya terus mendengus malas. Menunggu gadis di sebelahnya berhenti mengoceh.

Sena pun hanya bisa mengangguk dengan terpaksa. Yang ada didepannya adalah orang yang menjadi tunangan Seijuurou secara resmi. Dia harus mendukungnya. Apapun yang ada didalam hatinya sekarang, dia tidak bisa melakukan apapun selain mendukungnya.

"Oh ya.. Apakah Sena-chan sudah memiliki pacar?"

"Eh? Tidak.. Aku tidak mempunyai pacar.."

"Heeee.. Padahal kau sangat cantik dan imut, Sena-chan.."

"A-ah... Begitukah.."

Sena hanya bisa tertawa garing yang dipaksakan sedangkan Seijuurou terus diam sambil memperhatikan Sena dan mendengarkan keduanya berbicara. Seijuurou tau benar pembicaraan ini akan mengarah kemana. Dia hanya menanti apa yang akan dijawab oleh Sena nantinya. Matanya beralih untuk focus memandang Sena saja dan menanti apa yang akan dikatakannya. Membuat rona merah di wajah Sena mulai muncul karena merasakan pandangan Seijuurou itu padanya. Dengan segera dia mengalihkan wajahnya agatr tidak bertatapan dengan Seijuurou.

"Kenapa kau tidak mencari pacar? Apa Sena-chan pernah pacaran?"

Sena mengangguk, "Hanya sekali.."

"Uso! Padahal Sena-chan sangat cantik.. Lalu? Apa kau tidak ingin mempunyai pacar lagi?"

Sena menundukkan kepalanya. Pertanyaan ini cukup dibencinya karena tidak tau bagaimana harus menjawabnya..

Namun..

"Seperti.."

"Hm? Seperti?"

Sena mengangkat wajahnya.

"Seperti ada yang lebih baik dari mantan pacarku saja.."

Sena tersenyum miris sambil menjawab itu. Sepertinya tanpa sadar dia menjawab pertanyaan Nanami dengan sangat jujur. Membuat Seijuurou yang mendengarnya menjadi membesarkan matanya sejenak, kemudian dia kembali menyeringai.

"Heee.. Pacar pertama Sena-chan pasti sangat berarti ya.."

"Tentu saja.." Tanpa diduga Seijuurou menjawab pertanyaan Nanami. Dia berjalan kearah Sena dan mengacak rambutnya perlahan. Kemudian memandang sebentar wajah kakaknya itu dengan lembut dan sayang.

"Oyasumi.."

"O-oyasumi.."

Setelah itu Seijuurou meninggalkan kamar Sena, yang mendapat tatapan aneh dari Nanami. Dia merasa ada yang tidak beres dengan keduanya. Tidak hanya itu, hari ini juga ada yang aneh dengan Seijuurou. Biasanya pemuda itu akan selalu dingin dan menampilkan wajah acuh tak acuh. Namun hari ini.. Dia sedikit menghangat. Bahkan Nanami akui jika hari ini adalah pertama kalinya dia melihat Seijuurou tersenyum lembut seperti itu.

Apa yang sebenarnya terjadi?

.

.

.

.

.

To be Continued.

Thanks to EVERYONE who read, follow, and fave :'D

Bagi yang mrasa farmiliar critanya mmg ini pernah dibuat doujinshinya sm tmn saya yg d post di tumblr/deviantartnya tahun lalu. Tapi mmg ide ini jg pasaran sih ya :'D

Please wait for next Chapter! ^^~