Chapter 2: Infinite Brutality
.
Naruto perlahan membuka mata, pandangannya sediki mengabur. Dia melihat kedua tangannya. Naruto mengepal. Dapat dirasakan sensasi mengepalkan tangan seperti sungguhan. Naruto tersenyum sambil memandang sekitar, sebuah kota yang megah dengan banyak pemain di dalamnya.
"Aku tak menyangka akan seindah ini," gumam Naruto, kagum.
Dalam pandangannya, dapat Naruto lihat sebuah kanji.
Floor 1: Lilith City
"Jadi sekarang aku berada di lantai 1 kota Lilith ya … apakah ada lebih dari 1 lantai di dunia ini?"
Wajar jika Naruto berkata seperti itu. Dia tidak membaca semua informasi di manual book. Naruto bagaikan anak awam yang tak mengerti dengan dunia barunya. Beberapa orang terlihat berlalu lalang dengan pakaian yang berbeda, sesuai ras yang dipilih. Naruto memakai pakaian serba hitam, plus sepatu ninja yang juga berwarna hitam. Di kepalanya kini terikat sebuah kain.
"Mungkin jalan-jalan lebih asik."
Naruto berkeliling kota Lilith. Melihat sudut demi sudut kota virtual yang dibuat oleh manusia. Pemandangannya tak kalah dengan dunia asli. Menakjubkan. Naruto juga sempat bertemu dengan beberapa orang yang memiliki ras sama sepertinya. Dia bahkan sempat mengobrol seputar game ini. Dari beberapa pertanyaan yang diajukannya, Naruto sedikit mengetahui dasar-dasar dunia ini. Seperti level, health/hit points (HP), experience (Exp), skill, element, dan chakra points (CP)–karena Naruto merupakan ras shinobi yang kekuatannya berasal dari chakra.
Dengan mengetahui dasar-dasarnya Naruto paham makna bar yang ada di pojok atas kiri pandangannya. Bar itu menunjukkan;
Level: 1
Rank: Genin
HP: 200/200
CP: 150/150
To Next Level: 0/100 Exp
"Ternyata aku masih lemah di dunia ini. Aku akan pergi ke hutan barat untuk meningkatkan exp-ku."
15 menit berjalan akhirnya Naruto sampai di tempat tujuan. Banyak monster-monster berbentuk babi di sini. Naruto mendekati salah satu babi yang sedang memakan rumput. Babi itu tiba-tiba melirik ke arah Naruto dan dengan cepat menyeruduk. Naruto yang kaget, tak dapat berbuat apa-apa. Dia harus mengiklaskan tubuhnya terdorong sampai membentur pohon. HP-nya berkurang sebesar 20.
"Sial. Meskipun aku tak merasa sakit tapi tetap saja melihat HP-ku berkurang seperti ini membuat nyawaku sedikit melayang." Rutuk Naruto.
Naruto memandang babi yang menjadi musuhnya. Dia memiliki HP sebanyak 100. Mudah untuk dikalahkan jika Naruto ahli bela diri. Tapi sayangnya dia bukan orang seperti itu. Naruto tak pernah punya pengalaman meninju seseorang. Maka dari itu serangannya selalu meleset. Entah lawannya yang terlalu pintar mengelak atau arah serang Naruto yang tak akurat.
"Hosh … hosh … sial! melawan babi seperti itu saja aku sudah kelelahan. Aku benar-benar lemah." Kesal Naruto. Dalam hati dia merutuki ketidakmampuannya. Jika terus seperti ini bagaimana bisa Naruto menjadi seorang gamer terkenal yang bahkan tak sanggup mengalahkan monster terlemah.
Mata Naruto membulat ketika dia melihat kawanan babi yang lainnya berkumpul, menjadi sebuah kelompok yang menatap Naruto dengan mata merah. Oh sial. Jumlah musuhnya bertambah menjadi 10. Ingat 10! Bagaimana dia bisa mengalahkan 10 monster yang bahkan 1 monster pun tak dapat dikalahkannya. Ini buruk. Naruto harus segera kabur jika tidak ingin mati.
Naruto berlari menjauh, tapi sayangnya lari monster babi lebih cepat. Naruto kembali terseruduk. Dia jatuh tepat di depan pohon besar. Kawanan babi itu menyebar. Menutup segala ruang. Naruto sudah sangat terdesak. Dia tak menemukan jalan kabur. Seluruh babi itu menggesekkan kakinya ke tanah, awalan dari aksi menyeruduk. Ke-10 babi berlari cepat menuju Naruto. Jika dia terkena seluruh serangan maka dapat dipastikan Naruto akan mati. Naruto hanya menutup matanya pasrah.
"Power of Destruction"
Sebuah energi berwarna hitam kemerahan muncul entah dari mana yang langsung melenyapkan ke-10 babi yang hendak membunuh Naruto. Kekuatan tadi itu seperti menyapu bersih apapun yang ada di hadapannya. Sangat dahsyat dan mematikan.
"Kamu bisa membuka mata sekarang,"
Naruto bingung mendengar suara perempuan yang menyuruhnya untuk membuka mata. Tapi dia menurut saja. Di depannya sudah tak ada kawanan babi, melainkan seorang gadis cantik yang tersenyum ke arahnya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya gadis itu halus.
"Eh?! Ah i-iya. Terima kasih karena telah menyelamatkanku." Jawab Naruto.
"Sama-sama. Akhir-akhir ini banyak newbie yang mati saat pertama kali berburu monster. Jadinya mereka harus menunggu 2 hari agar bisa kembali login ke dunia ini. Aku tak tega melihat itu."
"Be-begitu. Jika kita mati di dunia ini maka kita tak dapat memasuki game Skyline Online selama 2 hari?"
"Ya. Begitulah peraturannya, Fatal1ty-san."
"Kau tahu nickname-ku?"
Gadis itu tertawa kecil melihat wajah polos pria di depannya. "Tentu saja. Namamu terlihat jelas di atas bar HP-mu. Kalau tak percaya kamu bisa lihat nickname-ku."
Naruto menyipitkan mata. Menyebutkan nickname gadis yang telah menyelamatkannya. "Ruin Princess."
"Ya. Nickname-ku adalah Ruin Princess. Salam kenal Fatal1ty-san."
"Ya. Salam kenal juga. Dan sekali lagi terima kasih karena sudah menyelamatkanku. Aku tak tahu apa jadinya jika tidak bisa bermain game ini selama 2 hari." Kata Naruto sambil membungkuk.
"Kau lama sekali, Ketua."
Suara datar mengintrupsi pendengaran Naruto. Dia melihat ke belakang gadis yang telah menyelamatkannya. Naruto melihat seorang remaja berambut hitam raven berjalan mendekatinya.
"Maaf Sasuke. Aku sedang mengobrol dengan dia."
"Hn. Kalau sudah cepat pergi ke tempat pertemuan. Semua anggota party sudah menunggu. Kita harus leveling secepatnya agar dapat mengalahkan boss lantai 1." Setelah ucapannya pemuda raven itu menghilang. Gerakannya sangat cepat, mata Naruto tak dapat mengikuti.
"Ano,"
"Ya?"
"Kenapa kau memanggil pria itu dengan nama Sasuke? Padahal aku baca nickname-nya bukan Sasuke. Nama yang kubaca adalah Dark Kenshin." Tanya Naruto bingung.
"Sasuke adalah nama aslinya. Kita telah menjadi teman sejak pertama kali memainkan game ini. Oh ya, apa kamu mau ikut denganku? Kamu newbie, pasti belum memiliki teman di game ini. Aku bisa memperkenalkan teman-temanku padamu." Tawar gadis itu.
Naruto menggaruk pipinya yang tidak gatal. Dia canggung. Selama hidupnya Naruto belum pernah akrab dengan kata 'teman'. Apakah dia benar-benar akan mendapatkan teman? Mungkin tidak mengingat Naruto orangnya sulit bergaul.
"Sudah jangan banyak berpikir, ayo!"
Gadis itu menggenggam tangan Naruto dan menyeretnya. Yang diseret hanya diam pasrah.
Angin berhembus kencang, membuat surai merah panjang gadis dengan nickname Ruin Princess berkibar dengan indah. Naruto terpana dengan pemandangan yang ada di depannya. Mirip seperti ibunya. Cantik dan menawan. Apakah semua perempuan yang berambut merah selalu cantik? Mungkin iya.
Selama perjalanan, Naruto tersipu malu karena tangannya selalu digenggam. Ini pertama kalinya bagi Naruto, jadi wajar jika mukanya memerah. Dia dapat merasakan hangatnya tangan gadis itu. Rasanya seperti bergenggaman di dunia nyata.
"Kita sudah sampai." Kata gadis itu berhenti di sebuah bar yang cukup besar.
"A-ano … bisakah kau melepaskan tanganku? I-ini sedikit canggung." Pinta Naruto sambil menunjuk tangannya yang digenggam.
"Eh?! Ma-maafkan aku." Gadis itu langsung melepaskan tangan Naruto. "Ayo masuk. Tenang saja, teman-temanku orangnya pada baik."
"Baiklah."
Mereka berdua masuk ke bar. Di pojok ruangan sebelah kanan Sasuke dan yang lainnya sudah menunggu. Mereka terlihat sudah akrab satu sama lain. Naruto dan gadis itu menghampiri teman-temannya. Yang lain sedikit bingung karena ketua party mereka membawa orang tak dikenal kecuali Sasuke yang sudah tahu. Gadis itu menyuruh Naruto untuk memperkenalkan diri.
"Namaku Fatal1ty. Aku newbie di game ini. Rasku adalah Shinobi. Salam kenal semuanya." Naruto memperkenalkan diri lalu membungkuk hormat. Dia lalu melihat respon apa yang diberikan ke-6 orang di depannya.
"Nama aslimu apa?" tanya remaja yang diketahui Naruto bernama Sasuke.
"Eh?! Apakah harus pakai nama asli?"
"Tentu saja. Karena kamu akan menjadi salah satu dari kami." Kata gadis yang membawa Naruto kemari sambil tersenyum lembut.
"Baiklah. Nama asliku Naruto Namikaze. Salam kenal." Sekali lagi, Naruto memperkenalkan dirinya sambil membungkuk.
"Nama yang bagus. Kenalkan, aku adalah Rias Gremory Commander party ini. Rasku adalah iblis." Gadis bersurai merah dengan nickname Ruin Princess itu memperkenalkan diri dengan nama aslinya.
Naruto sedikit terkejut dengan nama itu. Gremory … dia tahu! Gremory adalah nama pencipta game ini. Apakah gadis yang ada di depannya berhubungan dengan pembuat permainan ini, Sirzech Gremory? Naruto harus tanyakan langsung padanya.
"Ehm. Maaf sebelumnya. Namamu mirip seperti nama pencipta game ini. Apakah kamu anggota keluarganya?" tanya Naruto. Jujur dia merasa pertanyaan ini sedikit tidak sopan. Tapi Naruto ingin sekali mengetahuinya.
"Benar. Sirzech Gremory adalah Kakakku."
"Eh?!" Naruto kaget. Ini kejadian langka baginya. Baru kali ini Naruto bertemu dengan keluarga terkenal. Apalagi sempat dekat dan berinteraksi. "Begitu. Pantas saja wajahmu mirip dengan Sirzech Gremory. Ternyata kalian bersaudara."
Perkenalan yang sempat tertunda kembali dilanjutkan. Kali ini pemuda raven seumuran dengan Naruto yang sedang duduk di kursi paling pojok membuka suara. "Namaku Sasuke Uchiha. Nickname-ku adalah Dark Kenshin. Aku Second-Commander di party ini. Rasku adalah manusia, salam kenal."
Selanjutnya, gadis berambut hitam panjang yang duduk di seberang Sasuke. "Kenalkan. Namaku Akeno Himejima. Nickname-ku adalah Kaminari Miko. Aku Soldier di party ini. Rasku adalah malaikat jatuh. Salam kenal Naruto-kun." Akeno tersenyum ke arah pemuda pirang di depannya.
"Salam kenal juga, Akeno-san."
Laki-laki yang duduk di samping Sasuke tiba-tiba berdiri lalu memberi hormat pada Naruto. "Salam kenal Naruto-san, namaku Issei Hyodou. Nickname-ku adalah Harem King. Aku Member di party ini. Rasku adalah manusia sama seperti Wakil Ketua. Mohon kerja samanya Naruto-san."
Perempuan berambut coklat dengan lingkaran bercahaya di atas kepalanya yang sedari tadi senyam-senyum ke arah Naruto mulai buka suara. "Aku Irina Shidou, nickname-ku Sexy Girl. Aku adalah Soldier di party ini. Rasku adalah malaikat. Salam kenal Naruto-kun."
Terakhir. Perempuan bertelinga runcing yang duduk canggung di paling depan buka suara sambil tergagap. Jari-jemarinya dia mainkan. "Na-namaku Hinata Hyuuga. Nickname-ku adalah Hime. Aku Member di party ini. Rasku adalah siluman. Sa-salam kenal Naruto-kun."
"Nah sekarang kamu sudah tahu semua nama asli temanku. Apakah kamu mau bergabung dengan party-ku?" tawar Rias. Inilah tujuan dia mengajak Naruto ke sini. Untuk memintanya bergabung.
"Apakah boleh? kau lihat aku sangat lemah. Aku takut kehadiranku hanya membebani kalian semua." Kata Naruto, memalingkan pandangan ke bawah.
"Tak apa-apa. Semua yang ada di sini memulainya dari awal. Kamu akan kita latih sampai menjadi kuat. Dan setelah itu kita akan menyelesaikan game ini bersama-sama." Kata Rias meyakinkan Naruto sambil memegang kedua pundak remaja pirang itu.
Naruto menatap ke arah teman Rias. Semuanya menampilkan wajah meyakinkan. Berharap Naruto akan menerima permintaan Rias. Tanpa disadari Naruto, itu telah menjadi dukungan mental untuknya. Semangatnya mulai ada. Naruto tersenyum tipis.
"Baiklah. Aku akan bergabung dengan party ini. Mohon kerja samanya."
Rias tersenyum cerah. Tangan kanannya lalu digerakkan secara vertical. Sebuah bar muncul di depan Rias. Bar itu menampilkan semua informasi yang ada pada akun Rias. Seperti item, skill dan lain-lain. Setelah mengutak-atiknya, bacaan tiba-tiba muncul di depan Naruto. Itu adalah permintaan Rias untuk bergabung ke dalam party. Naruto membacanya dengan seksama.
Undangan party dari Ruin Princess. Apakah kau setuju untuk bergabung ke dalam party Infinite Brutality?
Yes or No
Naruto memencet kata Yes. Sekarang dia telah resmi bergabung dengan Rias dan yang lainnya. Itu dibuktikan dari Naruto yang dapat melihat masing-masing level teman party-nya. Rias sang commander atau ketua sudah mencapai level 17 dengan HP sebanyak 1500. Sasuke level 15, Akeno level 13, Issei level 7, Irina level 10, dan Hinata level 5. Hanya Naruto seorang yang masih level 1.
"Yosh semuanya! Ayo adakan perayaan untuk menyambut anggota baru sebelum melakukan leveling!" kata Rias disambut sorakan dari yang lain. Yang paling bersemangat adalah Issei. Dia dan Akeno langsung memesan makanan.
"Duduk di sini Naruto." Kata Rias sambil menepuk kursi kosong di sampingnya.
Naruto mengikuti intruksi Rias. Dia duduk di samping ketuanya. Sesekali berbincang mengenai hal biasa. Akeno dan Issei kembali membawa banyak makanan dan minuman. Naruto melihat ini seperti bukan perayaan untuk penyambutan, melainkan seperti pesta. Untuk kesekian kalinya Naruto berterima kasih pada Rias.
"Untuk anggota baru kita, bersulang!"
"Bersulang!"
Mereka menikmati hidangan yang tersaji. Yang paling banyak makan adalah Issei. Naruto sedikit terkejut karena panca indera lidahnya dapat merespon rasa makanan dengan akurat. Mirip seperti nyata. Dan lagi, perutnya entah kenapa merasa kenyang. Naruto benar-benar dibuat kagum pada Sirzech Gremory karena telah menciptakan game yang terasa sangat nyata kecuali rasa sakit. Ya, rasa sakit dilarang oleh pemerintah karena game berfungsi untuk kesenangan. Bukan penderitaan. Itu adalah salah satu dari aturan yang ditetapkan pemerintah untuk game VRMMORPG.
"Kulihat tadi kau bertarung tak menggunakan senjata, kenapa?" tanya Sasuke tiba-tiba.
"Senjata? Memangnya aku dibekali hal seperti itu?" tanya polos Naruto.
Sasuke menghela nafas. Gamer newbie yang satu ini ternyata benar-benar polos. "Coba kau periksa di slot bar equipment. Kau akan menemukan senjatamu di sana."
Naruto mengangguk. Dia melakukan apa yang dikatakan Sasuke. Benar saja, Naruto menemukan senjata berupa 10 kunai dan 10 shuriken. Seharusnya dari tadi Naruto menyadari hal ini. Mungkin dia dapat mengalahkan monster babi dan mendapat exp yang lumayan. Bodohnya Naruto.
"Benar apa yang kau katakan, Waki Ketua."
"Panggil saja aku Sasuke." Pinta pria raven itu.
"Baiklah, Sasuke."
"Hn. Masing-masing ras memiliki benda bawaan saat mereka pertama login. Contohnya ras manusia yang dibekali senjata berupa pedang saber, ras shinobi berupa kunai dan shuriken, ras iblis berupa 3 botol pengembali demonic points (DP), dan yang lainnya."
Naruto mengangguk mengerti. Informasi ini harus diserap Naruto dalam-dalam. Masih banyak hal yang belum dia ketahui tentang Skyline Online, mungkin Naruto bisa meminta Rias menjelaskan apa saja hal-hal yang ada di sini ketimbang membaca buku manual yang tebal, itu hanya akan membuatnya sakit kepala.
"Ketua," panggil Naruto.
Rias yang saat itu ingin minum terganggu oleh panggilan Naruto. "Ada apa?"
"Sebenarnya masih banyak yang belum kumengerti di game ini. Bolehkah aku menanyakan beberapa hal?"
"Tentu saja boleh, newbie."
"Pertama-tama, tentang perbedaan ras dan masing-masing kelebihannya. Bisakah Ketua menjelaskan semuanya?"
"Tentu," Rias meneguk wine di tangannya. "Yang pertama adalah ras manusia. Sebenarnya, ras itu jarang dipilih para pemain karena terlihat lemah. Memang benar dalam segi statistik ras manusia adalah ras terlemah. Tapi, manusia memiliki kelebihan yang tak dipunya oleh ras lain,"
"Apa itu?" Naruto penasaran.
"Ras manusia memiliki 3 slot special skill. Beda dari ras lainnya yang hanya memiliki 2 slot."
"Special skill, aku tak mengerti, Ketua." Bingung remaja pirang itu sambil menggaruk atas kepalanya.
Rias mengehela nafas, sepertinya ini akan panjang. "Special skill adalah kemampuan istimewa yang hanya didapat dari hunting. Bukan keahlian bawaan. Seperti skill Power of Destruction-ku yang baru beberapa hari ini kudapat. Keahlian itu khusus untuk ras iblis. Jadi, jika ras lain yang menemukannya mereka tidak akan bisa menyimpan keahlian itu di slot special skill mereka."
Naruto mengangguk paham. Dia lalu memeriksa kebenaran perkataan ketuanya. Benar saja, Naruto menemukan deretan bar yang berhubungan dengan skill. Ada 2 bar skill, yaitu general skill dan special skill. Di-general skill, Naruto melihat 1 kemampuan bawaannya yaitu Bunshin no Jutsu. Slot di-general skill tak terbatas.
Rias melanjutkan penjelasannya. Yang dapat disimpulkan Naruto adalah semua ras kecuali manusia memiliki kelebihan dan kekurangan yang hampir sama, untuk ras malaikat, malaikat jatuh, dan iblis memiliki sayap sehingga mereka dapat terbang. Rias lalu menjelaskan tentang energi yang digunakan untuk mengeluarkan jurus. Setiap ras memiliki energi masing-masing. Ras manusia menggunakan mana points (MP), iblis menggunakan demonic points (DP), malaikat dan malaikat jatuh menggunakan light points (LP), siluman menggunakan senjutsu points (SP), serta ras shinobi menggunakan chakra points (CP).
"Aku mengerti, Ketua. Oh ya! Aku baru ingat. Apa di dunia ini memiliki lebih dari 1 lantai? Pertama aku login ada tulisan lantai 1 di depan."
"Yap. Dunia ini memiliki 100 lantai. Masing-masing lantai dijaga oleh boss. Jika ingin membuka lantai berikutnya maka kita harus mengalahkan boss terlebih dahulu."
"Lalu, sudah berapa lantai yang terbuka?"
"Belum ada yang dapat mengalahkan boss lantai 1. Dari data book yang kuperoleh saat mengalahkan monster di kawasan boss menunjukkan level-nya sudah 20. Sedangkan aku baru 17." Jawab Rias lalu menghela nafas.
"Memangnya berapa max level di game ini?"
"Level 250, itu adalah level terakhir di dunia ini."
Naruto sedikit terkejut. Baru kali ini dia memainkan game yang max level-nya mencapai angka 250. Biasanya hanya 100. Naruto semakin semangat saja untuk menjadi gamer pro.
Acara penyambutan anggota baru sudah selesai 5 menit lalu. Kini mereka bersiap untuk melakukan leveling. Tujuan mereka adalah hutan timur kota Lilith. Hutan itu memiliki banyak penghuni monster dengan level lumayan. Agar level cepat naik mereka menargekan monster yang memiliki exp besar.
"Semuanya sudah siap?" tanya Rias pada anggota lainnya.
"Ya. Kami siap!"
"Baiklah, ayo kita berangkat!"
"Hah, melelahkan." Gerutu Naruto yang terbaring di padang rumput. Dia kelelahan.
Kondisi teman-teman yang lainnya tak beda jauh. Mereka terlihat kelelahan. Sudah 5 jam Naruto dan yang lainnya melakukan leveling, kini level mereka meningkat. Naruto sudah memasuki level 6. Pencapaian yang cukup bagus. Dia beruntung karena sudah masuk party dari awal. Biasanya party lain memiliki syarat-syarat yang harus dipenuhi agar dapat diterima. Misalkan member party minimal level 10.
"Entah kenapa tapi setiap monster di game ini memiliki kecerdasan sama seperti manusia," gumam Naruto yang masih dapat didengar oleh Rias.
Gadis berambut merah panjang itu menatap Naruto yang berbaring di sisinya. Rias tersenyum. "Normal kamu berkata seperti itu. Kakakku menerapkan program baru pada seluruh monster dan boss di game ini."
"Apa itu?"
"AI-IQ." Jawab singkat Rias.
Naruto benar-benar bingung dengan apa yang dikatakan ketuanya. Rias yang melihat kebingungan di wajah anggota barunya terkikik kecil. Tangan kanannya menutupi mulut agar tak ada yang tahu bahwa dia sedang tertawa.
"Artificial Intelligence-Intelligence Quotient atau sering disingkat AI-IQ adalah monster yang memiliki IQ, mereka dapat berpikir sesuai IQ masing-masing. Semakin besar level monster atau boss maka IQ mereka akan semakin tinggi. Jika di game lain monster akan semakin susah dan kuat dari stage ke stage tapi pergerakannya SELALU dapat terbaca karena mereka diberikan kecerdasan buatan yang SAMA. Berbeda dengan game ini yang setiap monster atau boss memiliki IQ berbeda. Otomatis pola pikir, pergerakan, strategi dapat mereka analisis dan dirubah sesuai kondisi lawan yang dihadapi." Jelas Rias.
Entah kenapa tapi Naruto benar-benar mengerti. Otaknya berjalan dengan cepat. Dia menyimpulkan semua itu dengan 1 kata, "Manusia."
"Ya. Monster dan boss di sini layaknya manusia. Dapat berpikir, beradaptasi dengan kondisi lawan, dan melakukan gerakan seefektif mungkin. Gerakan mereka tidak diatur oleh AI, tapi diatur sendiri oleh IQ masing-masing. Jadinya kita lebih sulit menyerang monster-monster yang ada di sini, di game ini."
Naruto mengangguk membenarkan. Memang benar apa perkataan Rias. Monster di sini selalu bergerak tanpa diduga. Gerakannya pun selalu berubah tiap kali mereka berganti posisi. Tapi ini semakin menarik. AI-IQ adalah salah satu kelebihan yang dimiliki oleh Skyline Online.
"Ternyata di sini juga bisa terjadi malam ya,"
"Tentu saja. Waktu, tanggal, dan musim di game ini disesuaikan dengan dunia nyata. Jika tiba saatnya musim dingin maka di dunia ini juga seluruh lantai akan bertebaran salju."
"Wow, itu semakin hebat!"
Mereka mengobrol satu sama lain sambil menatap langit gelap yang ditaburi bintang buatan. Indah. 15 menit kemudian mereka semua logout karena hari sudah malam. Rias dan lainnya logout karena ada urusan di dunia nyata besok. Ada yang masih sekolah dan ada yang sudah kerja. Naruto juga sama. Dia logout karena sudah mengantuk.
Besok adalah hari yang ditunggu Naruto, tepatnya pukul 15.00. Karena besok mereka akan menyerang boss lantai 1. Naruto sudah tak sabar menunggu itu karena boss lantai 1 memiliki IQ sebesar 120.
Bersambung
Catatan penulis:
Pertama; Artificial Intelligence-Intelligence Quotient disingkat AI-IQ (ngarang sendiri atau memang sudah ada? Entahlah) jika diartikan ke istilah bahasa Indonesia adalah 'Kecerdasan Buatan yang Memiliki Tingkat Kecerdasan'. Dalam dunia komputer atau robot AI merupakan kecerdasan yang dimiliki suatu robot, mesin, atau aplikasi yang memiliki suatu tujuan untuk dicapai. Semisal robot humanoid (robot yang berbentuk mirip seperti manusia), diciptakan sesuai kebutuhan seperti membantu pekerjaan rumah tangga, menemani sang majikan, atau sampai ke hal yang berbau porno. Mereka diberi AI dan 'tujuan' untuk memuaskan majikannya. Jadi, apapun yang diminta majikan akan mereka lakukan demi tercapainya 'tujuan' tersebut. Tentu saja ada beberapa hal yang dilarang untuk dilakukan seperti menyuruh robot untuk membunuh. Robot tidak akan merespon keinginan sang majikan karena itu keluar dari jalur AI yang ditanamkan ke dalam robot.
Sekarang bagaimana jika robot atau aplikasi memiliki IQ sendiri? Contoh sederhana pada laptop/komputer kita. Benda itu ditanamkan processor yang berguna untuk mengerjakan segala perintah dari kita. Lalu bagaimana processor ditanamkan IQ? Sederhana, pemikiran processor akan sama seperti manusia. Contoh; jika kita mengerjakan sesuatu di laptop yang dianggap membahayakan oleh processor maka dengan sendirinya processor akan mematikan laptop.
Kira-kira seperti itulah penjelasan tentang AI-IQ. Sederhananya segala sesuatu baik itu robot, aplikasi, komputer atau lainnya yang ditanamkan AI-IQ maka mereka memiliki pola pokir sama seperti manusia. Mereka dapat menilai mana yang baik dan mana yang buruk. Atau mungkin mereka dapat menciptakan pemahaman sendiri.
Kedua; mulai sekarang, tokoh wanita menggunakan kata 'kamu' dan pria menggunakan kata 'kau' untuk memanggil seseorang. Apa alasan saya membuat tokoh wanita menggunakan kata 'kamu'? sederhana. Karena kata 'kamu' lebih sopan dan halus daripada kata 'kau' yang terkesan kasar. Mungkin beberapa dari kalian ada yang merasakannya.
Ini adalah fiksi! Jadi, jika ada yang menyimpang dari dunia nyata harap dimaklumi!
Terima kasih untuk kalian semua. Tunggu chapter selanjutnya rilis ya!
Review please!
[18.06.2017]
