Rei : Heaaa..
Rin : Eh, muncul juga tuh orang..
Len : Ah iya tuh..
Miku & Teiru : Itu dia orangnya..
Rei : Eh, kenapa?
Rin : Nggak kok.. Ehehe..
Rei : *merasakan firasat buruk*
Miku : Kok lama ya update ficnya?~
Rei : Ta-Tahuu! *kabur*
Rin, Len, Miku, Teiru : *ngejar Rei*
Disclaimer : Sepintar-pintarnya Rei, Vocaloid, Utauloid, dan Fanloid bukan milik Rei! Kalau milik Rei, pasti Rin sudah Rei jodohin sama Teiru dan buat gedung TeiruxRin *walah*
Warning : OOC banget, aneh, abal, lebay, EYD nggak bener, typo di mana-mana, dll.
.
.
.
Don't Like? Don't Read!
.
.
.
Happy reading, minna..
.
.
.
Setelah mereka bertiga didorong oleh Teiru, mereka pun masuk di tempat yang tidak terduga. Tempat yang sangat mereka tidak kenal sekali.
"Ugh.. Pantatku sakit," rintih Len sambil memegangi pantatnya itu. Malangnya nasibmu Len.
"Punggungku sakit.." rintih Rin gara-gara jatuhnya tepat tiduran.
"Masih mending kalian punggung sama pantat, aku kepala. Kurasa aku bakal geger otak." kata Miku sambil memegangi kepalanya.
"Nee, minna, sudah belum omel-omelannya? Kutungguin nih," ucap Teiru yang sedari tadi menunggu mereka bersandar di sebuah pohon berdaun biru.
"Ah ya.. Er, omong-omong ini di mana?" tanya Rin.
"Nanti bisa kujelaskan, makanya ikut aku dulu." ucap Teiru sambil berjalan pergi. Rin, Miku, dan Len pun mengikuti Teiru.
.
.
Di sebuah rumah yang...
"Wuihh.. Ini rumah atau mansion?" kata Rin sambil terkagum-kagum.
"Lebih besar dari rumah Rin-chan!" Miku yang melihatnya juga ikut-ikutan kagum.
"Cih kalian berdua kampungan sekali," kata Len sambil menatap rumah itu dengan tatapan biasa, padahal dalam hati : 'Widih.. Rumahnya besar banget.. Keren! Keren!'
Teiru memencet bel rumah itu dan tak beberapa lama ada seseorang yang membukakan pintunya itu.
"Sia—Oh, Teiru-nii, ayo masuk, kalian juga." ucap perempuan berambut silver dan beriris bloody-red sama seperti Teiru. Teiru, Miku, Rin, dan Len pun masuk.
"Wew.. Nggak di luar nggak di dalam semua sama-sama keren," ucap Miku.
"Benar! Aku setuju banget!" kata Rin.
Sedangkan Len? Sama kayak tadi di luar cuma diem saja. Kalau kayak Miku dan Rin kan memalukan, gengsi biasa.
"Nah, kalian semua ayo duduk. Jangan sungkan.." ucap gadis itu mempersilahkan mereka duduk.
"Nah, ayo kita mulai perkenalannya. Namaku Sukone Tei, adik dari Teiru-niichan." ucap gadis itu—Sukone Tei—sambil tersenyum manis.
"Namaku, Kagamine Rin, yoroshiku Tei-chan." ucap Rin sambil tersenyum simpul.
"Namaku Kagamine Len, adik dari Rin-neechan, yoroshiku." ujar Len sambil tersenyum juga.
"Namaku Hatsune Miku, perempuan paling cantik sejagad raya, ohohoho~" ucap Miku sambil narsisan di sela-sela perkenalannya. Tei, Rin, Len, dan Teiru hanya bisa sweatdrop.
"Miku... Kaga usah narsis, mukamu juga udah pas-pas'an," ejek Teiru sambil menjulurkan lidahnya ke arah Miku.
JLEB
Ejekan Teiru ternyata menusuk hati Miku, nancep, dalam lagi. Diam-diam Miku juga sedikit mengeluarkan aura hitam pekat. Rin, Len, dan Tei mulai menjauhi tempat kejadian perkara.
"Gzz.. Kau..." ucap Miku lalu menghirup napas dan..
"DASAR KAU LAKI-LAKI MUDA YANG UDAH UBANAN! TAU GAK SIH MUKAMU YANG KAYAK KAMPR*T ITU BERANI-BERANINYA DEKET-DEKET SAMA RIN-CHAN?! MASIH MENDING MUKAKU ITU PAS-PAS'AN DARIPADA ELO MUKANYA DI BAWAH STANDAR! WUUU, MUKA DI BAWAH STANDAR AJA BANGGA. IYA DEH BANGGA, BANGGA DILIATIN AMA SEMUT, EEH, SEMUT AJA NGGAK MAU LIAT MUKA LO YANG UDAH MENJELMA MENJADI KOTORAN SAPI TERDEKAT! EH JANGAN SOK GANTENG YA, INI GUE NGOMONG BENERAN!"
JLEB! JLEB! JLEB! JLEB!
Uwo, dan akhirnya kata-kata Miku bisa menusuk hati Teiru. Sangat menusuk banget, inilah ciri-ciri kalau sang Hatsune Miku sudah marah.
"Oalah.. Kenapa namaku dibawa-bawa sih?" rutuk Rin dengan tampang sebal.
"Mi—Miku, kayaknya itu nusuk banget dah.." ucap Len yang kayaknya mulai ketakutan dengan Miku.
"Miku-san hebat! Ini pertama kalinya ada orang yang berhasil mengalahkan kata-kata nusuk Teiru-niichan!" Tei malah membanggakan Miku, karena itu dihadiahi tatapan aneh oleh duo Kagamine ini.
Sedangkan Teiru? Hanya pundung di pojokan terdekat.
'A—Apa aku separah i—itu ya?' kokoronya Teiru sudah berguntur-guntur dan berkilat-kilat.
.
.
.
Setelah keadaan membaik..
"Nah, aku ingin bertanya, ini di mana?" tanya Rin memecah keheningan yang ada.
"Kau tidak tahu? Berarti kalian bukan dari sini ya?" tanya Tei bingung.
"Ya, mereka manusia, mereka kuseret ke sini.." ucap Teiru yang masih men-death glare Miku.
"Manusia? Wah, jarang sekali nih.." ucap Tei. "Ini adalah Android World, di mana dunia tempat android hidup. Jarang sekali ada manusia yang datang ke sini karena tidak mengetahui pintu untuk ke sini. Tetapi kalian orang-orang beruntung karena dapat ke sini."
"Begitukah? Memangnya jalan untuk ke dunia ini lewat apa saja?" tanya Len.
"Jalan ke dunia ini hanya sebuah cermin raksasa di perumahan tua di salah satu jalan." jelas Tei. Len hanya ber 'oh' ria.
"Ja—Jadi kalian berdua ini android?" tanya Rin tidak percaya. Tei dan Teiru hanya mengangguk pelan.
"Dan jangan menganggap dunia ini aman dan damai," tambah Teiru.
"Nah, sudah jelas kan? Ayo, aku antar ke kamar kalian." ucap Tei. Miku, Rin, dan Len masih mematung di sana.
"Oi.."
"Ah ya!" Miku, Rin, dan Len tersadar dari lamunannya langsung jalan mengikuti Tei yang sedari tadi menatap mereka sambil sweatdrop.
.
.
.
"Ini kamar kalian, silahkan beristirahat." kata Tei lalu pergi dari sana. Menyisakan Len, Miku, dan Rin.
"Jadi kita satu kamar nih?" tanya Rin.
"Kayaknya sih.. Soalnya Tei-chan kaga nunjukin kamar lain." jawab Miku.
"Masa Len-kun satu kamar dengan kita? Bisa-bisa di'ini' dan 'itu' kan." ucap Rin sambil memandang ke arah Len.
"Heeh.. Enak saja! Aku juga kaga mau nge 'ini' dan 'itu'kan kalian! Jangan ge er," kata Len lalu segera masuk ke dalam kamar, diikuti oleh Rin dan Miku.
"Wah.. Kamarnya bagus, ada dua kasur queen size lagi!" Rin benar-benar terkagum-kagum dengan seluruh isi rumah Sukone ini.
"Dari luar sampai dalam kamar bener-bener bagus.. Aku tidak tahu berapa mahalnya rumah ini." ucap Miku.
"Sudahlah, kalian ini kampungan banget sih." cibir Len kepada mereka. Dalam hati : Ini benar-benar bagus kamarnya! Gyaaa.
Satu kata untuk seorang Kagamine Len : Gengsi.
"Yeh.. Bilang aja kamu sebenarnya suka tapi gengsi buat ngomong kan? Ya kan?" kata Rin kepada adiknya itu yang 100% bikin nge-jleb.
JLEB!
"Uuh.. Kok Onee-chan tahu sih?" tanya Len sambil mengerucutkan bibirnya.
"Mana ada sih kakak yang tidak tahu sifat-sifat adiknya." kata Rin langsung merebahkan dirinya ke kasur.
"..." Len mingkem, nggak bisa melawan perkataan onee-channya.
"Rin-chan, Len-kun, udah selesai belum debatnya? Tei-chan dan cowok ubanan udah nunggu di bawah." kata Miku.
"Yah.. Padahal baru tiduran.. Ya sudah deh.. Len-kun, ayo." ajak Rin dan akhirnya dengan malas-malasan Len menurutinya, apapun demi Onee-chan tercintanya.
.
.
-oOo-
.
.
"Semuanya sudah siap?" tanya Teiru. Miku, Rin, dan Len hanya mengangguk.
"Nah, kalian harus mempunyai senjata dulu untuk berjaga-jaga. Makanya kami mengajak kalian untuk membeli senjata," kata Tei.
"Iya iya aja deh," ucap Len dengan malas. Tei yang melihat itu langsung memukul kepalanya dengan tangannya yang kuat itu.
BLETAK!
"Aduh, Tei! Sakit tahu!" rintih Len.
"Makanya! Yang serius dong!" teriak Tei dengan suara yang super-duper-kencang. Len pun mengalami tuli sesaat.
"Ya deh.."
"Jangan lama ah! Ayo cepat pergi!" kata Rin kepada Len dan Tei. Mereka hanya mengangguk.
.
.
.
"Wah, tempat ini bagus bangett!" kalian pasti tahu ini suara siapa, ya, jika jawaban kalian adalah Miku dan Rin maka kalian benar.
"Ya memang begitu kan?~" kata Tei. Disertai anggukan Miku dan Rin.
"Ayo kita ke tempat si Furukawa itu," kata Teiru.
"Eh? Kenapa tempat Miki-chan?" tanya Tei.
"Lebih enakan di situ, dapatnya gratis." kata Teiru cuek-cuekan dan terus berjalan.
"Ya terserah apa katamu lah." jawab Tei sambil terus berjalan, menyisakan Miku, Rin, dan Len yang sedang bingung.
.
.
.
"Selamat da—Eh? Tei-chan? Teiru-kun?" kata seorang gadis berambut oranye, Furukawa Miki.
"Yo, Miki-chan! Kita bertemu lagi~" kata Tei sambil memeluk Miki. Entah berapa lama mereka sudah tidak bertemu.
"Ehem.. Kalau begitu, kalian ada apa berkunjung ke tempatku? Biasa baru dua bulan sekali." kata Miki langsung ke intinya.
"Gini, kami mau membeli senjata untuk tiga orang temanku ini." kata Tei sambil menunjuk Miku, Rin, dan Len.
"Senjata ya..? Baiklah tunggu sebentar." kata Miki lalu masuk ke dalam ruangannya. Tak beberapa lama, Miki keluar dengan membawa beberapa senjata.
"Nah ini senjatanya, silahkan kalian pilih." ucap Miki. Miku, Rin, dan Len langsung memilih yang mereka sukai.
"Hm.. Aku apa ya? Ah! Aku memilih dual shot gun ini saja ah." kata Miku langsung mengambil dual shot gun di sana.
"Itu dual shot gun infinite, shot gun itu memiliki isi peluru yang tidak ada habisnya. Dan pelurunya itu dapat menembus benda setebal 6 meter. Jika kena tubuh, bakal merusak tubuh dan lebih parahnya mati dalam satu tembakan." jelas Miki. Miku pun merinding mendengar penjelasan Miki.
"Ini apa ya?" kata Rin sambil memegang sebuah staff yang bercahaya amethyst.
"Itu magician staff, staff itu bisa mengeluarkan semua sihir yang kau mau dan element, untuk mantra sihirnya, kau bisa melihat dalam buku mantra ini." jelas Miki lalu memberikan buku sihirnya kepada Rin.
"Kalau aku suka dengan katana ini, kekuatannya seperti apa?" tanya Len kepada Miki.
"Oh itu, itu adalah aka no katana, katana itu bisa menjadi warna merah jika penggunanya benar-benar sungguh-sungguh dalam memakainya. Attacknya kuat, defensenya juga. Tapi, berhati-hatilah dalam menggunakannya, kalau tidak berhati-hati, maka kau sendiri bakal dikuasai oleh Aka no Katana itu." jelas Miki panjang lebar. Len lagi-lagi hanya mengangguk.
"Kalian sudah memilih senjata kalian?" tanya Teiru.
"Sudaahh!" jawab mereka kompak.
"Baiklah kalau begitu, dan Miki, berapa bayarannya?" kata Teiru kepada Miki.
"Tidak usah membayarnya, ini gratis kok untuk sesama sahabat, ehehe." Miki berkata sambil tersenyum.
'Tuh kan, gratis..' batin Teiru. "Oh baiklah, terima kasih.."
"Ya! Lain kali datang lagi ya!" teriak Miki. Mereka semua hanya mengangguk.
Saat mereka semua sudah pergi, Miki pun memasang wajah serius.
'Sepertinya mereka bukan android, dan mereka adalah manusia. Semoga Tei dan Teiru dapat menjaga mereka dengan baik.' batin Miki penuh kekhawatiran.
.
.
-oOo-
.
.
"Rin-chan! Kamu mau ke mana?!" tanya Miku kepada Rin.
"Aku mau berjalan-jalan ke pantai dengan mansion ini! Kata Tei-chan ada pantai dekat sini!" kata Rin.
"Jangan Rin-chan, bagaimana kalau ada yang menculikmu?" tanya Miku dengan sikap over protectivenya itu. Hadeh, mulai deh.
"Sudah, aku tak apa kok, Miku-chan. Jangan terlalu mengkhawatirkanku." ucap Rin dengan penuh keyakinan.
"Tapi Rin—"
"Sudahlah, Miku-chan. Aku tak apa. Percayalah, oke?"
"Hm... Baiklah Rin-chan, jaga diri baik-baik." Miku akhirnya mengalah. Rin pun mengangguk mantap dan akhirnya pergi dari sana.
.
.
.
Rin POV
Uwaaah! Ternyata udara di pantai ini sangat segar! Tak rugi aku ke sini.
Saat aku sedang asyik-asyik tiduran di atas pasir, aku melihat seorang anak yang dibully oleh anak-anak lainnya.
"Hei! Anak setan, beraninya kau bermain dengan kita!"
"Iya! Aku sangat membencimu, bisa-bisa kita tertular dengan virusnya itu!"
"Tahu! Mendingan kau enyah sajalah dari kami semua!"
"He—Hentikan.."
Melihat anak itu yang dilempari batu, aku pun geram terhadap mereka. Berani-beraninya mereka memukul anak yang lemah tak berdaya seperti itu!
"Hei! Apa yang kalian lakukan terhadapnya?!" bentakku kepada anak-anak nakal itu.
"Uwa.. Ayo cepat kabur dari sini!"
"Iya! Ayo cepat!"
Setelah melihat anak-anak itu pergi, aku pun menghampiri anak tersebut.
"Kau tidak apa-apa?" tanyaku kepadanya.
"Ah iya... Aku tidak apa-apa kok.." katanya dengan suara yang lirih.
"Siapa namamu?" tanyaku kepada anak laki-laki tersebut, anak laki-laki itu berambut hitam dan beriris kuning emas.
"Rei. Kagene Rei." kata anak itu—Kagene Rei—lalu tersenyum kepadaku.
"Ah, namaku Kagamine Rin, panggil saja Rin." kataku.
"Uh um, terima kasih atas pertolongannya yang tadi ya, Rin-nee.." kata Rei sambil tersenyum kepadaku.
"Yah, tak masalah. Rumahmu di mana?" tanyaku.
"...Aku tak punya rumah..."
"Apa?! Kalau begitu kau tinggal di mana?!" kataku panik.
"Aku hanya mengembara dari satu daerah ke daerah lain. Tapi para penduduk membenciku, karena aku memiliki kekuatan yang sangat besar.." kata Rei sambil tertunduk sedih. Terlihat dia meneteskan air mata.
"Sudahlah, kamu tinggal bersamaku saja. Tidak apa-apa!" kataku mantap. Terlihat Rei menatapku tidak percaya.
"Be—Benar nih, Rin-nee?" tanya tidak percaya. Aku pun mengangguk.
"A-Arigatou, Rin-nee!" katanya. Lalu kami berdua pun pulang ke mansion.
.
.
-oOo-
.
.
"Rin-chaaaan! Kau dari mana sajaa?! Aku mengkhawatirkanmu!" teriak Teiru dari dalam mansion.
"Onee-chan! Aku juga merindukaanmu! Onee-chan ke pantai lama banget sih! Onee-chan kaga kenapa-napa kan?" teriak Len yang berisi banyak pertanyaan kepadaku. Haah, sepertinya virus sisconnya kembali padanya.
"Aku hanya ke pantai, dan menemukan anak ini." ucapku sambil menunjuk ke arah Rei.
"Siapa dia?" tanya Tei.
"Dia anak yang kutemukan di jalan. Dia tidak punya rumah, jadi aku menyuruhnya tinggal bersama kita." kataku. "Boleh kan?"
"Boleh saja.. Lagipula di mansion ini sepi, cuma kita berlima saja." kata Tei.
"Horee!"
"Siapa namamu? Nama Nee-chan Sukone Tei." kata Tei kepada Rei.
"Um.. Namaku Kagene Rei, salam kenal Tei-neechan.." kata Rei. Sepertinya dia sangat malu kepada mereka-mereka ya.
"Eh tunggu, Miku-chan ke mana?" tanyaku. Dari tadi aku tak melihat Miku-chan.
"Tadi katanya mau pergi beli negi, sampai sekarang belum balik juga." kata Len.
DRRT DRRT
Tiba-tiba handphone Tei berbunyi, ternyata di tempat ini ada handphone juga ya.
"Halo?"
"Kalian temannya gadis berambut teal panjang ini ya?"
"Ya ada apa?" raut wajah Tei menjadi serius.
"Khu khu khu, kalian semua cepat datang di depan pantai di sebelah Selatan pusat kota. Paling lambat pukul 12 malam, jika kalian tidak datang, maka nyawa teman kalian tidak akan selamat. Ahahahaha!"
PIP
"Cih.." Tei mendengus kesal.
"Ada apa Tei?" tanya Teiru kepada Tei.
"Miku-chan disekap oleh orang-orang tak dikenal. Kita harus ke pantai di sebelah Selatan pusak kota, paling lambat pukul 12 malam, kalau tidak nyawa Miku-chan tidak selamat," kata Tei lirih.
"Benar-benar orang itu.." Teiru mulai mengumpat tentang orang yang menangkap Miku.
"Tunggu apa lagi? Kita harus ke sana sekarang!" kata Len lantang.
"Baiklah! Tapi jauh loh.." kata Tei.
"Bagaimana kalau kita warp saja ke sana?" ucap Rei yang menciptakan keheningan di sana.
"Kau bisa sihir warp?" tanya Tei. Rei mengangguk.
"Baiklah kalau begitu, ayo cepat lakukan!" perintah Rin. Rei langsung mengucapkan mantra dan mereka berlima pun segera ke tempat Miku disekap.
Bagaimanakah nasib Miku? Apakah dia selamat?
.
.
TBC
.
.
Rei : Akhirnya TBC..
Miku : Apa yang terjadi denganku?
Rei : Tenang saja, tak kenapa-napa..
'Rei' : Kenapa aku jadi senista itu? Sampai dilempari batu..
Rei : Udah sih kaga apa. Yak saatnya balas review~
To ojou-chan 29 : Ampun, ojou-chan seram. Ini sudah update.. Rin, Len, dan Miku hanya dibawa ke dunianya Teiru. Sudah lanjut dan t erima kasih sudah mereview.
To Sasaya-chan : Oke, ini Miki sudah masuk :D. Bisa dong, itu cermin yang menghubungkan dunianya Teiru dengan dunianya MikuRinLen. Sudah lanjut dan terima kasih sudah mereview.
To hikari-lenlen : Kaga tahu tuh si MikuRinLen, maunya ngikutin Teiru. Tenang saja, tidak ada reversed harem XD. Biar seru kalau Len jadi adiknya XD #plak. Sudah lanjut dan terima kasih sudah mau mereview.
Rei : Akhirnya selesai.. Akhir kata...
Mind to review?
