Titik-titik hujan perlahan turun dari langit, mendung tak kentara karena tersamarkan waktu yang beranjak malam.

Hinata menengadahkan tangannya, merasakan tetesan air yang perlahan turun ke pipinya lalu membasahi rambutnya sedikit demi sedikit.

"Apa rumahmu masih jauh Naruto-san? Sepertinya hujan sudah turun." Ucap Hinata sambil menutupi rambutnya dengan satu tangan karena tangan kirinya masih digenggam Naruto. Hinata merasa genggaman tangan Naruto yang kuat mengindikasikan dirinya sedang membutuhkan support. Ia pernah membaca artikel yang berkata jika lelaki lebih rapuh saat patah hati lebih dari perempuan, Hinata tidak akan percaya artikel itu jika saja ia tidak bertemu Naruto saat ini.

"Rumahku ada di ujuk kompleks, Hinata. Dari sini kita berjalan lurus ke depan, lalu belok kiri." Naruto menjelaskan sambil ujung telunjuknya mengarah ke jalan yang hendak mereka tuju.

Hujan semakin deras, titik-titik air kini berubah menjadi gerimis yang semakin rapat. Jaket hitam Naruto mulai basah, ia sedikit menggigil merasakan guyuran air yang merembes menyentil kulitnya. Lalu matanya memperhatikan Hinata, gadis itu telah basah kuyup, dress selutut berwarna putih yang Hinata kenakan telah sepenuhnya basah. Menonjolkan leluk tubuh dan kulit putih yang membayang dibalik dress yang di kenakan gadis disampingnya.

Naruto sedikit menelan ludah, namun juga agak risi melihat lelaki yang lalu-lalang memelototi "partner" barunya yang kebasahan. Naruto menghentikan langkahnya sebentar. Ia membuka resleting jaketnya, kemudian memakaikan jaket basahnya ke tubuh Hinata. Lumayan untuk melindungi Hinata dari tatapan nakal orang-orang dijalan.

Hinata menegang, ada getaran-getaran halus merambat ke tubuhnya. Ia memperhatikan wajah Naruto dihadapannya hampir mengenai wajahnya sendiri, Naruto sedikit membungkuk karena tubuh Hinata hanya setinggi dadanya. Embusan nafas Naruto yang hangat menerpa kulitnya, menimbulkan sensasi aneh nan menggelitik. Dia mati-matian menyembunyikan debaran jantungnya karena perlakuan Naruto barusan. Hinata memilin-milin ujung bajunya, debaran jantungnya mulai menggila. Wajahnya panas sekali, rona merah menjalar di pipi gadis itu.

"Ayo kita bergegas, Hinata." Naruto mempercepat larinya, ingin segera sampai rumah sebelum Hinata masuk angin.

Naruto segera membuka pintu sesampainya mereka di rumahnya. Lalu mengajak Hinata masuk.

"Aku pulang." Suara Naruto sedikit bergetar karena kedinginan, setelahnya terdengar bunyi langkah kaki mendekat. Seorang wanita berambut merah menyala tergesa-gesa berjalan sambil membawa handuk, wajahnya terlihat khawatir.

"Selamat datang, Naruto. Eh ? Ada temanmu juga rupanya. Ibu khawatir karena di luar hujan deras, sejak siang kau tidak memberi kabar, lagipula kau tidak membawa payung," Kushina memperhatikan dua remaja di depannya, keduanya basah kuyup, mengingatkannya pada anak ayam yang tercebur kedalam kolam. Ia menghela nafas panjang. "Kasihan sekali kalian berdua pasti kedinginan, ayo masuk." Kushina―ibu Naruto―ini memang sedikit cerewet pada anak tunggalnya.

Ada sedikit perasaan ganjil terpercik dihati Kushina saat melihat gadis yang dibawa Naruto, dari sekian banyak teman anaknya ia tak pernah merasa mengenal gadis ini. Selain itu, satu-satunya teman wanita Naruto yang pernah berkunjung ke rumahnya hanya Sakura saja. Ia menggeleng perlahan, tidak bagus terlalu curiga pada orang yang baru dilihatnya. Kushina menyunggingkan senyum lembut lalu mempersilahkan Naruto dan Hinata masuk, setelah sebelumnya melemparkan handuk pada Naruto yang ditanggap sigap oleh lelaki pirang itu. Naruto sudah hapal sekali sikap ibunya.

"Ibu, Ini Hinata. Hinata, ini ibuku. Ibu tolong pinjamkan baju ibu ya, Kasihan Hinata kedinginan."

Hinata membungkuk hormat, mencoba tersenyum dengan bibir bergetar, pakaiannya yang basah serta suhu yang menurun drastis membuat badannya terasa beku.

"Baiklah... bibi rasa ada baju yang cocok untukmu, Hinata-chan." Seru Kushina riang sambil mengajak Hinata masuk ke kamarnya.

Naruto sempat memperhatikan sepasang sepatu berwarna merah marun di lantai. Sepatu cantik dengan model yang ia kenal, ia tidak ingin berspekulasi macam-macam tentang pemiliknya. Mungkin saja sedang ada tamu, teman ibunya barangkali.

Naruto melangkahkan kaki menuju kamarnya. Ia menggosok-gosok handuk ke kepala untuk mengeringkan rambut pirang nya yang jadi lepek karena basah, juga menggaruk garuk badannya dengan kesal, kulitnya terasa gatal akibat pakaian yang ia kenakan. Ahh.. Ia jadi ingin berendam dalam ofuro untuk melemaskan ototnya dan mengurangi rasa gatal ini. Namun, ia menghentikan langkahnya ketika sepersekian detik matanya menangkap bayangan rambut merah muda sedang duduk di kursi tamu.

Naruto berdiri mematung, lalu mengucek-ngucek matanya yang mungkin kemasukan debu hingga ia berhayal macam-macam.

"Naruto-kun, sudah pulang?"

Suara itu...

Aksen itu...

Naruto memutar badannya perlahan, menatap nanar seseorang di sampingnya.

"Sakura?"

.

.

.

Love Is Like An Empty Bowl

By ChihaBlossom

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate M

~enjoy~

.

.

.

Hinata menyisir rambutnya yang setengah basah, tatapannya tertuju pada wajah cermin yang memantulkan bayangannya terbalik, Kiri menjadi kanan, kanan menjadi kiri, tapi toh tidak salah karena memang begitulah sifat cermin. Seperti hidupnya yang kini berbalik, menukik tajam. Tak satu inchipun dalam cerebrum otaknya dia menyangka akan berakhir di rumah asing ini, dengan pasangan baru nya yang asing, dan ibunya yang asing juga. Hinata tidak suka orang asing. Namun, wanita berambut cerah di belakangnya tidak membuatnya gugup seperti yang ia rasakan jika berkenalan dengan orang baru, ia seperti telah mengenal Kushina lama sekali. Emm... pada Naruto juga seperti itu, apa ini sifat keluarga ? Entahlah ia tak tahu.

Matanya tertuju kembali pada pantulan dirinya di cermin. Baju dari Ibunya Naruto sangat pas, sebuah mantel berwarna merah dan rok pendek hitam melekat manis di badannya.

"Kau cantik sekali, Hinata. Tidak kusangka bajuku waktu muda cocok sekali kau pakai." Kushina tersenyum lembut.

"Terimakasih, bibi. Maaf merepotkan." Hinata menyelipkan anak rambutnya ke telinga. Rasa haru tiba-tiba mengisi sebagian rongga dadanya. Melihat Kushina, Ia jadi merindukan ibunya yang telah tiada. Amat rindu.

Sebuah tepukan menyedot kesadaran Hinata kembali ke dunia nyata. Di depannya Kushina mengerling jahil, "Ayo kita tanya pendapat Naruto, dia pasti kaget melihatmu."

Hinata mengekor langkah Kushina dari belakang, sambil memperhatikan pernak pernik di sepanjang dinding rumah Naruto.

"Oh iya, di ruang tamu ada Sakura tadi berkunjung. Apa kau sudah mengenalnya, Hinata-chan?" Kushina menengok sebentar ke belakang, melihat ekspresi Hinata sekejap lalu membuka ikatan apron nya dan menyelipkan apron itu di tangan kirinya. "Kalian bisa berbincang di bawah, aku akan membangunkan suamiku dulu. Setelah itu kita akan makan malam bersama-sama. Anggaplah rumah sendiri ya, Hinata."

Hinata mengangguk pelan, nama Sakura terngiang-ngiang ditelinganya. Ada perasaan ragu dan gamang dalam hatinya. Haruskah ia teruskan rencana ini ? Apa Sakura kembali karena ia menyesal telah meninggalkan Naruto ? Ataukah ada maksud lain?

Tak terasa langkahnya telah sampai di depan pintu. Hinata melihat Naruto dan Sakura berhadapan, entah menggumamkan apa.

Mata peraknya memperhatikan Sakura. Gadis itu cantik, matanya yang jernih, warna rambutnya yang unik, tubuh mungil dan kaki jenjang yang begitu indah. Pantas dua lelaki itu memperebutkannya. Pantas Sasuke menyukainya. Dia jadi membandingkan Sakura dengan dirinya sendiri, ah begitu jauh. Seperti jarak antara Artik dan Antartika.

Hinata melangkahkan kakinya perlahan, sayup-sayup ia bisa mendengar ucapan dua insan di depannya.

"Untuk apa kau kemari lagi?" Naruto membuka suara. Untuk pertama kalinya suara lelaki itu tak terdengar bergetar.

"Kau jahat sekali, Naruto-kun. Aku hanya ingin mengunjungi ibumu, juga kau." Sakura berbalik, melangkahkan kakinya menuju kursi dibelakangnya lalu duduk menyilangkan kaki.

Naruto bergeming, menuntut penjelasan lebih banyak dari wanita itu.

"Err... Kau tahu? Aku agak tidak enak hati membatalkan pernikahan kita tiba-tiba. Jadi aku membawa sedikit kue sebagai permintaan maaf dan ingin... Ya, kau tahulah memperbaiki hubungan kita yang renggang,"

Naruto mengangkat sebelah alisnya. Dia benar-benar tidak mengerti sikap Sakura. Sebentar begini, sebentar begitu.

Hinata yang mengintip di balik ceruk pintu lebih paham situasinya. Dia tahu, Sakura itu rakus. Sakura ingin keduanya. Dia ingin memiliki Sasuke―lelaki yang selalu ia idamkan, dan tidak ingin melepaskan Narutol―lelaki yang selalu ada untuknya.

Hinata menggeram marah dalam hatinya. Sakura telah merampas Sasuke dari sisinya. Dia juga masih ingin Naruto ? Raut wajah wanita itu menunjukkan sisi terbalik dari penampilan luarnya. Wajahnya angkuh, tamak dan ingin memonopoli.

Jika ia ingin Sasuke kembali, ia harus melakukan sesuatu. Ia harus memperalat Naruto, ia harus membuat Sakura sadar tentang pentingnya keberadaan Naruto untuknya. Dia harus membuat Sakura sadar jika wanita itu sebenarnya mencintai Naruto.

Dia tahu. Dia harus membuat Sakura cemburu.

Sakura berdiri, menggenggam tangan Naruto lembut. "Aku ingin kita dekat lagi seperti dulu, maafkan aku."

Hinata memberanikan dirinya, dia berjalan dengan cepat ke arah Sakura dan Naruto, melepaskan dengan kasar genggaman tangan Sakura pada lelaki pirang disebelahnya dan menghempaskan tubuh Sakura ke kursi.

Sakura terjengkang, sedikit rasa sakit menjalar di punggungnya akibat beradu dengan sandaran kursi.

Ups. Hinata rasa dia terlalu keras mendorong Sakura.

"Lepaskan tanganmu dari pacarku!" Hinata membentak Sakura, suaranya cukup keras hingga wanita bersurai merah muda itu menganga. Tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

Sakura meringis, mengusap punggungnya yang sedikit sakit, ada rasa tidak senang dalam hatinya. Ia merasa dipermalukan. Pandangan Sakura beralih pada Naruto.

"Dia pacarmu ? Kau hebat sekali, Naruto. Sehari berpisah denganku sudah menemukan perempuan lain. Hahaha." Tawa Sakura menggema. Nadanya terdengar mengejek.

Naruto Terkesiap. Ia terkejut dengan apa yang baru saja dilihatnya. Namun beruntung ia dapat cepat menguasai diri. Naruto paham rencana Hinata, meskipun gadis itu tak mengatakannya secara langsung.

Naruto mendengus, "Bukankah kau lebih hebat dari pada aku, Sakura? Kau telah menemukan penggantiku bahkan sebelum kita berpisah. Bukan main, kau berselingkuh dengan temanku sendiri."

Sakura mematung. Ucapan Naruto barusan menohok hatinya. Berbagai perasaan campur aduk dalam hati sakura, marah, kesal, serta perasaan tidak senang ketika Naruto merangkul perempuan berambut indigo itu. Sakura tidak tahan lagi. Tanpa mengucap sepatah katapun, ia melangkah pergi dengan perasaan kesal.

Naruto menyeringai, mengeratkan rangkulan ke bahu Hinata lalu ber-high five ria dengan gadis itu, tanda jika rencana dadakan mereka berhasil.

Tanpa Hinata dan Naruto sadari, Kushina dan Minato―suaminya―tanpa sengaja datang dan melihat keributan barusan, mereka berdua berpandangan dengan raut wajah yang tidak dapat di definisikan.

.

.

.

Naruto menguap lebar, entah mengapa badannya lelah sekali. Dia memarkirkan mobil silvernya di garasi. Naruto baru saja sampai setelah mengantarkan Hinata pulang hingga gerbang depan rumahnya. Gadis itu tak membiarkannya masuk bahkan untuk mengucapkan salam pada orang tua Hinata. Takut dikira macam-macam katanya.

Ah kolot sekali.

Naruto membuka pintu rumahnya lalu buru-buru merebahkan badannya di sofa. Suhu tubuhnya terasa menghangat, Naruto merasa sendi-sendinya rontok dan ngilu. Sepertinya ia demam.

Naruto baru saja memejamkan matanya ketika ia merasa ada seseorang duduk di sampingnya. Dia memicingkan matanya sedikit, melihat bayangan ayahnya di ekor matanya.

"Bangunlah, ada yang ingin ayah bicarakan."

Naruto merenggangkan tubuhnya, menyandarkan punggungnya pada badan kursi dengan malas.

"Bicara saja, Ayah." Katanya singkat. Ia memperhatikan mata ayahnya lekat. Mata saphire itu tidak sejenaka biasanya, terlalu tajam hingga rasanya pandangan itu bisa menusuknya.

"Sejujurnya, Ayah melihat kejadian tidak mengenakkan tadi. Ayah ingin kau perjelas maksud kau mengajak gadis bernama Hinata itu ke rumah,"

Naruto mengusap hidungnya, "Dia hanya kehujanan, Aku hanya mencoba berbuat baik dengan mengajaknya berteduh."

Minato menghela napas panjang, lalu mengacak pelan rambut anaknya. "Kau tahu ? Seorang ayah hapal sekali kebiasaan anaknya, termasuk saat berbohong. Kau akan selalu mengucek-ucek hidungmu meskipun tidak gatal, itu mengindikasikan tubuhmu tidak nyaman dengan ucapanmu sendiri." Minato melihat raut kekagetan pada wajah anaknya. Kemudian ia menggeser duduknya lebih dekat. "Bicaralah yang sebenarnya."

Naruto menundukkan pandangannya, setetes keringat meluncur dari dahinya.

"Ayah... Ayah tahu sendiri hubunganku dengan Sakura tidak baik. Dia memutuskanku sepihak, bahkan sebulan sebelum kami menikah." Mata Naruto menerawang, mengeruk memori menyesakkan yang menumpuk di dadanya. "Ayah tahu ? Itu cukup menyakitkan karena aku mencintainya bahkan sebelum aku mengenal penjumlahan satu di tambah satu. Namun cintaku selalu bertepuk sebelah tangan, sekeras apapun aku mengejarnya, yang bisa kutangkap hanya bayangan Sakura saja. Terakhir, dia berselingkuh dengan temanku. Cukup sampai disini aku melakukan hal bodoh itu."

Minato terenyuh, betapa sakitnya menjadi Naruto. Sebelumnya ia senang melihat Sakura dan Naruto akan menikah, ia kira penantian anaknya akan berakhir indah, ternyata tak seindah bayangannya. Minato tidak menggumamkan sepatah katapun, ia ingin anaknya menyelesaikan ucapannya.

"Lalu aku menemukan gadis itu. Hinata. Dia sama terlukanya seperti aku, dia sama kesakitan karena dihinati. Tapi bukan itu saja, bukan karena aku tidak waras lalu memilih sembarangan orang untuk menggantikan Sakura. Dia... ada sesuatu yang istimewa dalam dirinya yang menguatkan aku. Hatiku bilang, dia bisa menggantikan tempat Sakura. Karena itu, Aku ingin menikah dengannya."

Minato memijit pelipisnya perlahan, kepalanya pusing memikirkan kelakuan anak semata wayangnya ini. Dia menyesap seteguk kopi dari cangkir di atas meja, lalu mengucapkan kata selembut mungkin karena tak ingin melukai hati putranya.

"Ayah tahu kesakitanmu. Ayah merasakannya juga. Tapi kau terlalu muda untuk mengerti apa itu cinta. Kau bahkan tidak bisa membedakan antara cinta, kasihan, dan keputusasaan. Ayah ingin kau bahagia, Naruto. Sangat. Tetapi pernikahan ini hanya emosimu sesaat untuk melampiaskan sakit hatimu." Jeda sesaat, dengan berat hati Minato melanjutkan ucapannya. "Batalkan rencana pernikahan ini. Berhenti berpura-pura bila semua baik-baik saja."

Rahang Naruto mengeras, ayahnya sama sekali tak mengerti perasaannya. Ia sontak berdiri, meski limbung karena panas badannya membuatnya pening. Hatinya memanas, seluruh tubuhnya memanas.

"Ayah tidak mengerti! Pernikahan ini akan tetap dilanjutkan. Aku ingin berhenti mencintai Sakura, Ayah! Kenapa ayah tidak mau mengerti sedikit saja!" Ia mengeraskan volume suaranya, setengah membentak sang ayah di depannya.

Naruto terisak. Ia kehilangan kontrol karena semua emosi berkumpul dalam hatinya, memukul-mukul kesadarannya seperti racun yang menyebar secepat aliran darah hingga menghanguskan seluruh logikanya.

Minato ikut berdiri, memegang bahu putranya dengan kuat.

"Kau yang tidak mengerti, Naruto. Pernikahan ini hanya pelarianmu saja. Menikah tanpa cinta hanya akan menambah lukamu. Ayah tidak ingin bantahan. Ayah tidak merestui pernikahan ini, jadi batalkan sekarang juga!"

Naruto menatap kosong punggung Minato yang berjalan menjauh.

Ia tak mengira akan jadi sepelik ini.

.

.

.

To be continued

.

.

.

Author Note :

Arggghhhh fanfic macam apa ini? -" bener bener gak puas sama hasilnya :'( feel nya nggak dapet, rasanya flat banget.

Jujur aja chapter ini lebih sulit daripada chapter pertama. Tadinya mau aku langsung ke inti cerita aja tapi bakalan jomplang banget kayaknya. Maaf ya kalo chapter ini gak memuaskan reader semua. Maaf juga buat sasusaku lover sasusaku nya aku jadiin peran antagonis :p

Yang heran dengan kelakuan Hinata, aku memang bikin karakterna super OOC, hinata disini lebih kuat dan mandiri dibanding di manganya. Gapapa kan? :p

Thanks buat yang udh review, fav, sama follow. Aku kasih Peluk cium dari jauh deh hehe :*

Saatnya balas review ! Yeay!

Uchiha Junior, .777, setya566 , gemini, IndigoRasengan23, Nazumi, Zafreel G, Shun Watanabe.

Hai, makasih udah review :) ini udah di lanjut yaa ;-)

Bebek kuning

Waa makasih :D aku juga pengen Naruhina baik-baik nikahannya, eh tapi jadi nikah gak ya? XD #plak

Chaca Savika

Aku usahain ya :D thanks udah review *kedip mata*

Akbarjr121

Gak kok, aku usahain gak cepet cepet, malah rasanya lelet banget alurnya ini.. Huaaa *nangis di pelukan sasuke* #eh

Wulan875

Wah kalo halilintar flash bisa kalah dong XD maaf ya update nya lamaa.. Abis gimana, sibuk sih :D *alesan mulu*

Meli Hyuu

Haha aku rasa juga gitu. Maklum Naruto kayaknya gak mau jadi jones wkwk #dirasengan

Zielavienaz96

Sasusaku pasti nyesel kok karena udah ninggalin orang yang sayang tulus sama mereka. Ah aku jadi baper :(

Byakugan no Hime

Makasih :D ini udah dilanjut kakaaa

Sarah Hyuzumaki

Seneng kalo kamu suka, hihi. Iya ini udah dilanjut kok, review lagi ya *plak

Rinne TEN

Mengenaskan ya? Yahh cewek yang suka selingkuh pantes kok digituin *evilsmirk

Avader

Haloo... Makasih ah aku jadi malu XD iya gak akan digantung. Aku tanggung jawab pasti selesein ff ini, semangt juga buat kamu :D

Mishima

Agak maksa ya? Naruhina emang susah dimengerti sih :p kalo gak dipaksain gini ceritanya gak akan jalan loh. Hahaha. *Author gak tahu malu* Kalo mau tahu kehidupan mereka gimana nantinya, ikutin terus fic nya, oke :D

Yudi

Udah update Yudi-san, selamat membaca. Hehe

Nameaysha Kun

Mereka pasti jatuh cinta kok nantinya :) *spoiler dikit*

Guest

Hai thanks udah dibaca guest-sa, ini udah dilanjut :)

Cute Guest

Aku juga gregetan nulisnya hahaha. Jangan ditonjok dong ya, kalo masuk rumah sakit gimana? Masa couple nya aku ganti tsunade-jiraiya? XD

Lavender San

Halo thanks udah review, ini udah dilanjut :)

.940

aku juga pengennya gitu XD

Aku gak tahu ini konfliknya manis atau asem:( semoga sesuai harapan kamu ya :)

Jasmine DaisymoYuki

Waw kamu peramal ya? Hihi. Chapter ini udah bisa ngejawab pertanyaan km kan? Bikin sasusaku nyesel? Aku yakin mereka pasti nyesel :)

Hime-Chan

Thanks udah review, ini udah dilanjut ya hime-chan

Naruto Boruto

Wah ada anaknya naruto :D makasih :)

Terimakasih yang udah menyempatkan baca fic ini, syukurlah banyak yang suka. Makasih juga yang udah nunggu lanjutan ff ini. Karena aku author baru jangan sungkan kasih saran, kritik, atau masukan ya :3 mohon bantuannya *ojigi*

Silahkan corat-coret di kolom review \:D/

With love,

Chiha