Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto
Story by Shizukano Aizawa
Warning: AU, OOC (sepertinya sangat), typo(s), etc.
Will You be My…?
.
.
Beberapa hari berlalu, pengumuman kelulusan pun sebentar lagi akan mulai di pajang di berbagai sekolah. Tapi untuk hari ini, Gaara memutuskan membawa Sakura ke Kanada menemui sang kakak, karena sejujurnya pemuda itu sangat tidak mengerti tentang wanita. Apalagi saat ia sering sekali mendapati Sakura mual. Khawatir? Tentu saja! Ia tidak tahu bagaimana caranya mengatasinya, karena hal ini pertama kali ia hadapi. Ia ingat bagaimana sang kakak memarahinya…
Flashback on
"Apa?! Kau meng-meng-menghamili Sakura?!"
"Nee-san, aku tidak merencanakannya sama sekali."
"Merencanakan atau tidak, sama saja, Gaara! Aaaa… bagaimana mungkin adikku yang manis bisa berbuat seperti ini?!"
"Aku sudah 18 tahun, Temari-nee." Gaara memutar kedua bola matanya, kemudian mengarahkannya pandangannya pada Sakura yang kini tengah tertidur lelap di sebelahnya, dengan kepalanya yang berada di pundak pemuda itu-padahal waktu masih menunjukkan pukul 8 malam- di sofa yang mereka duduki.
"Ya, ya, terserahmu saja, Gaa-chan. Lalu di mana Sakura sekarang? Apa orang tuanya tahu hal ini?"
"Tidak. Aku mengatakan pada mereka Sakura berlibur bersamamu di Amerika. Alasan kedua membawanya kesana juga agar dia bisa menghubunginya di sana, dan… kurasa kau harus mengatakan bahwa Sakura akan melanjutkan Universitas di sana, agar aku bisa selalu memantau perkembangannya dan… anakku." Gaara tersipu, ia menutup mulutnya dengan punggung tangannya, sekedar mengurangi rasa bahagianya –sekaligus malu yang ia rasakan.
"APA?! Bagaimana jika orang tuanya marah padaku Gaara?! Aku membawa anak gadis mereka begitu saja!"
"Ayolah, nee-san. Demi aku dan… keponakanmu." Oh, ini begitu sangat memalukan bagi Gaara, hingga ia harus menatap Sakura –apakah gadis itu bangun dan mendengarnya.
"Kurasa kau benar-benar menyukai Sakura."
"Aku mencintainya, baka onee-san!" Gaara akhirnya berkata jujur, kesal juga karena sang kakak tidak mengerti.
"Benarkah? Sejak kapan?"
"Nee-san tidak perlu tahu itu." Ia berkata datar, tetapi cukup kesal mendengar nada bicara kakaknya yang terdengar begitu antusias ingin tahu.
"Okay. Demi adikku, kekasihnya, dan anak mereka… aku akan mengabulkan permintaanmu kali ini."
"Thanks, sis." Gaara terkekeh dan mendengarkan kembali omelan sang kakak.
Flashback off
Gaara memutar tubuhnya, menghadap wanita yang kini tengah berdiri di depan pintu mansion besar tersebut. Gadis itu menghela nafas, masih tidak rela meninggalkan negara kelahirannya, sekaligus orang tuanya.
"Kau sudah siap, Sakura?" Gaara berjalan mendekatinya, setelah sebelumnya memasukkan barang-barang mereka ke dalam taksi yang akan membawa mereka ke bandara.
"Ya, aku siap." Ia berkata datar. Tapi Gaara tahu, sorot mata itu menunjukkan keterpaksaan. Gaara menggenggam tangan Sakura, membukakkan pintu taksi itu. Setelah keduanya masuk, taksi pun berjalan meninggalkan mansion besar itu.
.
.
Berada beberapa jam di pewasat membuat keduanya merasa lelah. Walau mereka tak harus bangun setiap saat, tapi tentu saja tidur di tempat yang tidak leluasa membuat tubuh mereka terasa lelah. Ditambah lagi dengan kondisi Sakura yang setiap beberapa menit terbangun karena mual dan harus ke kamar mandi, membuat Gaara mau tak mau harus tetap terjaga menjaga kondisi wanitanya.
Kini kedua manusia berbeda gender itu sedang duduk sembari menunggu seseorang yang sudah beberapa saat lalu dihubungi oleh Gaara. Wanita bersurai merah muda itu tampak kelelahan, terlihat dari kedua matanya yang menatap sayu sekelilingnya. Gaara kembali melirik Sakura. Tangan besarnya kini menyentuh tangan mungil wanita itu. Ia tersenyum saat Sakura menatapnya bingung.
"Bersandarlah jika kau ingin tidur. Akan ku bangunkan jika Temari-nee datang." Sakura mengangguk pelan. Dan di menit berikutnya, Gaara tersenyum mendapati Sakura yang tertidur nyenyak dengan kepala yang menyandar di bahunya.
.
.
"Gaara!" Mendengar seseorang meneriakkan namanya, Gaara menoleh pelan, tidak ingin membangunkan wanita yang tertidur lelap di sampingnya.
Seorang pria dan wanita tampak berjalan bergandengan tangan mendekati Gaara dan Sakura. Wanita itu melepaskan genggaman tangannya pada si pria kala melihat adik bungsunya menatap mereka, ia berlari kecil menghampiri Gaara.
"Sakura…?"
"Dia kelelahan. Belum tidur karena setiap beberapa menit harus ke kamar mandi." Gaara menggenggam tangan Sakura. Sedikit aksi protektif yang tidak sengaja terlihat oleh kedua bola mata Temari, membuat wanita itu melengkungkan bibir tipisnya. Ternyata Gaara benar-benar mencintai Sakura. Pikirnya.
"Sebaiknya kita pulang sekarang. Kasihan jika dia harus tidur dengan posisi duduk seperti itu." Shikamaru menimpali. Pria dengan wajah datar itu berbicara setelah berdiri di sebelah istrinya, Temari.
"Tidak perlu dibangunkan, Gaara. Kau bisa menggendongnya, 'kan?" Temari buka suara saat melihat Gaara hendak membangunkan Sakura. Gaara mengangguk sebagai jawaban. "Barang bawaan kalian, kami saja yang membawanya ke mobil." Shikamaru menambahkan. Pria itu mengambil tas yang berada tak jauh dari kaki Gaara. Sedangkan Temari menarik koper mereka.
Tak banyak bicara, Gaara segera memindahkan posisi Sakura. Sebelah tangannya menahan kepala Sakura, sedangkan yang satunya bergerak untuk segera mengangkat tubuh mungil Sakura, menggendongnya protektif dengan posisi bridal style.
"Ku pikir mereka cocok sekali, Shika. Apalagi Sakura manis sekali, dan lihat itu! Adikku sepertinya sangat mencintai Sakura." Wanita itu berkata pelan, tak ingin Gaara yang berada tak jauh di belakang mereka, mendengarkan.
"Hn." Shikamaru melirik sekilas adik iparnya, kemudian tersenyum tipis.
.
.
Sakura tetap tak bangun saat Gaara menggendongnya keluar dari mobil dan masuk ke rumah. Ia tetap tak terbangun saat Gaara menyamankan tubuh mungil itu di atas tempat tidur king size yang sudah di siapkan Temari sebelumnya untuk keduanya. Setelah membaringkan Sakura, Gaara tak segera beranjak dari tempat itu. Ia duduk tepat di sebelah Sakura, memandang lembut wajah gadis manis itu. Ia tersenyum tipis. Pandangannya kini berpindah ke arah perut gadis –wanita itu, mengelusnya pelan.
"Jangan buat repot kaa-chan-mu, nak. Kasihan dia." Tersenyum. Kembali Gaara memandang wajah lelah Sakura. Tangan besarnya kini bergerak mengelus pelan rambut gadis itu. Pandangannya kembali sendu. "Maafkan aku, Sakura." –Aku hanya tidak ingin kau menjadi milik Sasuke. Sambungnya dalam hati. Dan Gaara pun mengecup lembut kening Sakura. Tak sadar akan Sakura yang mendengar perkataannya, Gaara berjalan keluar kamar, meninggalkannya sendiri.
"Gaara…." Ia bergumam, membuka matanya. Sakura mendengarkan semua yang Gaara katakan padanya –pada anak mereka. Ia mengelus pelan perutnya sendiri. "Mungkin aku harus belajar menerima semua ini. Belajar menerima tou-chan-mu." Sakura terkekeh kecil. Lucu juga rasanya mengandung. Pikirnya.
Sakura menghela nafas, lalu tersenyum singkat. "Kupikir sebaiknya mulai saat ini, aku belajar untuk membalas perasaan Gaara." Ia tersenyum, melupakan keadaannya saat ini. "Ganbarre yo, Sakura." Ia berkata pelan, menyemangati dirinya sendiri, kemudian tersenyum.
.
.
Gaara baru saja akan kembali ke kamar setelah berbincang dengan Temari dan Shikamaru saat ia melihat Sakura berlari keluar kamar, memegangi perut dan mulutnya. Ia sedikit panik, kemudian bergerak cepat ke arah Sakura. Ia membantu gadis itu, membawanya ke kamar mandi di lantai bawah.
Temari dan Shkamaru yang sebelumnya akan beranjak ke kamar mereka, sedikit terkejut kemudian membantu Gaara menemani Sakura, karena Temari yakin adiknya akan sangat panik mendapati Sakura seperti itu.
"Sakura-chan, daijoubu?" Sakura mengangguk singkat sebagai jawaban atas pertanyaan Temari. Ia menatap Gaara yang menatapnya khawatir, kemudian tersenyum manis. "Aku tidak apa-apa, Gaara." Gaara sedikit tersentak, kemudian mengalihkan pandangannya, menyembunyikan rona merah yang siap menjalar di wajah tampannya. Temari yang memandangnya tersenyum singkat, kemudian melirik Shikamaru.
"Sepertinya kau baik-baik saja. Tidak apa-apa jika ku tinggal, 'kan?" Temari tersenyum ramah, mengelus lembut punggung mungil Sakura.
"Hn. Daijoubu yo, Temari one-san." Sakura tersenyum manis. Temari dan Shikamaru tersenyum dan menganggguk singkat. Dan keduanya pun meninggalkan Sakura bersama Gaara di sana, di depan pintu kamar mandi.
"Mau ku buatkan susu?" Gaara mulai membuka suara setelah lama terdiam. Ia menatap Sakura yang mengangguk. Pemuda itu menarik tangan mungil Sakura. Menyuruhnya duduk dan menunggunya di ruang keluarga. Tak lama kemudian Gaara kembali dengan segelas susu coklat dan air putih.
"Maaf hanya ada susu coklat, tak apa?" Sakura mengangguk, menerima segelas susu coklat yang disodorkan padanya.
Mereka terdiam cukup lama. Tak ada satupun yang membuka suara, hingga Sakura berkata, "kau tidak mengantuk?"
Pemuda di sampingnya menatapnya sejenak, kemudian menggeleng. "Aku lebih mengkhawatirkanmu."
"Karena anak kita?"
"Ya, begi–" Butuh beberapa detik untuk Gaara sadar akan apa yang di katakan Sakura. Ia terlonjak kaget, sedangkan gadis itu hanya terkekeh melihat reaksi Gaara.
Setelah Sakura bisa menguasai dirinya untuk tidak lagi terkekeh, ia menatap Gaara serius. "Aku sudah memikirkannya." Alis Gaara terangkat, tidak mengerti akan maksud gadis yang dicintainya. Ia tetap menunggu untuk Sakura melanjutkan kalimatnya. "Aku juga ingin membesarkan anak ini." Sakura berkata sembari mengelus pelan perutnya. Gaara kembali terkejut, tapi dengan cepat ia mengembalikan raut wajahnya.
"Walau itu hanya kecelakaan, tapi… dia tetap seorang anak yang tidak berdosa. Ia butuh orang tua, dan aku juga akan ikut membantumu membesarkannya, Gaara." Gadis itu tersenyum manis. Gaara menatapnya dalam diam. Ia tidak dapat mengatakan bahwa ia sangat senang saat ia mendengar penuturan Sakura, karena ia tahu gadis itu hanya tidak ingin anak yang dikandungnya tidak memiliki orang tua –walau mereka orang tua kandungnya. Ia tahu gadis itu pasti masih mencintai orang lain, mencintai Sasuke. Dan suatu saat ketika mereka kembali ke Jepang, ia akan kembali bersama pemuda itu. Ya, pasti. Karena ia juga tahu selama ini Sasuke juga memiliki rasa pada Sakura.
Ia merasa sangat kalah.
.
.
Kicauan burung terdengar jelas dari balik jendela yang tak jauh dari tempat tidur mereka. Sinar mentari memaksa masuk melalui celah-celah kecil ventilasi. Beberapa suara berisik dari lantai bawah pun terdengar, tapi tetap tidak membangunkan kedua manusia berbeda gender tersebut.
Sakura tertidur dengan posisi kepala yang berada di atas dada bidang Gaara yang hanya terbalut kaos tipis berwarna putih. Kedua tangan gadis itu melingkari tubuh kekar Gaara. Sedangkan Gaara tidur dengan sebelah tangan yang memeluk protektif gadisnya. Temari baru saja membuka pintu kamar mereka untuk membangunkan keduanya, tetapi niat itu ia urungkan ketika melihat pemandangan manis yang disuguhkan keduanya. Ah, betapa manisnya mereka, pikirnya.
"Di mana mereka?" Shikamaru bertanya saat melihat wajah istrinya yang tengah tersenyum sumringah ketika turun dari lantai atas.
"Masih tidur. Ku pikir mereka kelelahan. Aku tidak tega membangunkan mereka," –apalagi menghancurkan pose manis mereka. Lanjutnya dalam hati. "Apa sebaiknya aku ikut kau saja ke kantor? Mungkin aku bisa membantu menyelesaikan beberapa dokumen." Temari menatap suaminya. Sedangkan Shikamaru menatap curiga pada istrinya. "Baiklah, baiklah. Ku pikir jika aku di rumah, aku bisa saja mengacaukan suasana romantis mereka. Jadi lebih baik, aku ikut kau saja. Hitung-hitung memberikan sedikit privasi pada mereka." Temari mengedipkan sebelah matanya. Shikamaru mengangguk mengerti.
"Baiklah, aku akan bersiap-siap. Ah, Shikadai habiskan makananmu. Jangan sisakan sedikitpun, mengerti?" Temari memperingati anak satu-satunya mereka yang sejak tadi hanya diam mendengarkan perkataan orang tuanya. Ia mengangguk sebagai jawaban penyataan ibunya.
"Apa Gaara oji-san sudah sampai, tou-san?" Shikamaru mengangguk, dan Shikadai juga mengangguk tanda mengerti.
Dan setelah Temari siap, ketiganya pun pergi meninggalkan dua manusia berbeda gender yang masih tertidur lelap di kamar mereka.
.
.
Jam menunjukkan pukul 9 pagi saat Gaara mulai membuka matanya. Pemuda dengan tato ai di keningnya itu mengusap matanya pelan dengan punggung tangannya. Ia menguap beberapa kali, sebelum menyadari dadanya yang terasa berat.
Perlahan ia menurunkan pandangan ke arah tubuhnya yang terasa berat. Di sana ia mendapati Sakura menjadikan dada bidangnya sebagai bantalan kepalanya. Ia mengerjapkan matanya beberapa kali seolah tak percaya. Dan ia juga baru menyadari lengan mungil gadis itu melingkari tubuh kokohnya, serta Ia lengan kirinya yang memeluk protektif gadis itu. Di detik berikutnya, ia menyadari sudut bibirnya yang tertarik ke atas membuat seulas senyum manis yang belum pernah di lihat siapapun, temasuk gadis yang sedang meletakkan kepalanya di dada bidangnya tersebut.
Bahagia, adalah kata yang tepat untuk menggambarkan suasana hatinya saat ini. Tak peduli bagaimana perasaan gadis itu padanya saat ini, yang ingin ia tahu adalah bagaimana gadis itu kini memeluknya erat seakan tidak ingin kehilangan. Bolehkah ia berharap? Ah, Gaara kini berfikir untuk tidak lagi bermain-main dan menyia-nyiakan waktunya di sini bersama Sakura. Bagaimana pun, ia akan berusaha untuk membuat gadis itu mencintainya, dan melupakan Sasuke. Ya, ia sudah memutuskannya. Ia tidak ingin kalah.
Kembali ia memandang Sakura, tersenyum. Tangan kanannya kini bergerak mengelus surai merah muda itu.
"Ngg…" Sakura bergumam dalam tidurnya. Gaara hanya terkekeh pelan. Gadis itu memutar kepalanya, kini menghadap ke arah Gaara. Gaara sedikit terkejut, takut jika gadis itu bangun dan memarahinya. Ah, ia ingat bagaimana pertama kali gadis itu menangis saat ia terbangun dan mendapati mereka berdua tidur dalam posisi yang tidak jauh berbeda dari sekarang. Hanya saja, saat itu mereka tidak mengenakan sehelai pakaianpun.
Gaara kembali menengang, Sakura perlahan membuka kelopak matanya. Ia buru-buru menutup matanya dan berpura-pura tidur. Mungkin dengan begitu ia tidak akan dimarahi Sakura, pikirnya.
"Ah!" Sakura terlonjak kaget. Ia bangun dari posisi sebelumnya saat sadar bagaimana ia memeluk tubuh Gaara, dan meletakkan kepalanya pada dada bidang pemuda itu. Kedua tangannya kini terangkat menutupi wajahnya yang kian memerah. Tak sadar bahwa Gaara mengintip pergerakan Sakura.
"Ugh! Apa yang ku lakukan?" Wajah Sakura kini semakin memerah. "Ga-Gaara, maafkan aku, aku tidak… ha?!" Sakura terkejut, ia mendapati Gaara yang masih tertidur. Kemudian menarik nafas lega. "Untunglah." Gumamnya pelan.
Gadis itu memandang wajah Gaara. Tenang dan damai. "Kenapa aku bisa tidak peka pada perasaanmu?" Sakura memandang sendu wajah Gaara. Ia tidak sadar bahwa pemuda itu dapat mendengarnya. Sakura mengelus lembut rahang kokoh itu, kemudian berpindah pada rambut halus Gaara. Sakura tersenyum lembut, sebelum mendekatkan wajahnya pada wajah pemuda itu.
'CUP'
Ciuman singkat itu mendarat di pipi Gaara. Wajah Sakura kini merona merah. "Aku akan berusaha membalas perasaanmu, Gaara. Jadi tunggulah, dan maafkan aku yang tidak peka selama ini." Gadis itu kembali mengelus lembut rambut Gaara sebelum akhirnya beranjak keluar dari kamar itu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah mendengar pintu yang tertutup, Gaara membuka matanya. Ia menyentuh lembut pipinya yang baru saja di sentuh oleh bibir lembut Sakura. Dan jangan lupakan perkataan gadis itu.
Wajahnya kini merona, bibirnya sedikit terbuka menandakan bahwa ia masih tak percaya dengan apa yang di katakan Sakura. Tidak, ia tidak sedikitpun mendengarkan nada paksaan dalam kalimat gadis itu. Apa Sakura benar-benar ingin membalas perasaannya? Benarkah? Jika benar begitu, ia juga akan berusaha membuat gadis itu mencintanya. Ya, semangatnya kini bertambah. Ia benar-benar akan membuat gadis itu mencintainya.
"Ya, Sakura. Aku akan menunggumu sampai kapanpun."
.
.
Tsudzuku~~
A/N : Uwaaaaa~~~ Akhirnya setelah sekian lama, akhirnya bisa juga update cerita ini~~ XD /tabok/ Gomenne mina-san~ akhir-akhir ini sibuk uas~ /alasan/ dan juga banyak cerita yang terbengkalai jadi susah mau lanjutin yang mana~ Bingung~ :'(
But, akhirnya ini cerita bisa juga di update~ Yeeeey~ /sorak sorak/ padahal belakangan ini, WB sempat menyerang, /ngeeeek/
Buat Luca Marvell, thanks udah jadi yang pertama review~ XD baca review kamu juga buat aku senyum-senyum sendiri, LOL~
Kyuaiioe, Done~~ XD
Arisha Kyou, Iya kasian~ aku lagi pengen buat si ayam galau~ LOL XD /di chidori Sasu-cake/ Tapi alasan sebenernya sih, pengen buat GaaSaku juga~ Nyehehehe~ Cari suasana beda~ Gahahaha /tawa nistah/
, Saya juga suka GaaSaku~ XD
Kirei apple, Chapter kok~ Hohohoho~ rencana sih buat OS Cuma gk kesampean~ XD
Guest, Lama ato nggaknya, kadang tergantung mood kakak~~ apalagi WB sering menyerang /alasan/~~ :v #sembunyiDiBelakangAyangSasori
Kobayashi,Udah update ini~ XD hohohohoho~ Terimakasih~~ Semangatnya membantu~ LOL~~ Wah, kita sama~ Sakura centric~ Yohooo~~
Aulia 1299, Gini udah belom? XD hahaha~ Rada susah buat Gaara blushing di sini~ XD
Ichajessica, Sankyuu~~ XD
PinKrystal, Hahaha~ Kupikir juga jadinya gk bakal 3 chapter nih~ Belum tau juga bakal jadi berapa chapter~ XD bisa sepuluh, lebih, atau mungkin kurang~ Hohohohoho~ But, Sankyuu udah suka ceritanya~ Jadi semangat buat nih~ hohohohoho~~
Yup itu dia balasan review, mina-san~ Thanks banget~ review kalian membawa semangat untukku~ Eaaakkk /ngalay sok dramatis/ XD
Yosh seperti sebelumnya~~~ Jejak kalian di review, di tunggu~~~~~ XD / Sampai jumpa di Chapter berikutnya~~~~ XD /
