Note:
This is YAOI BTS PAIRING
'...' = batin ; pikiran
"..." = percakapan
"...min"
"Jimin..."
"eungh~~" Jimin bergerak dalam tidurnya dan perlahan-lahan membuka matanya. Ia melihat Suga berada didepannya.
"Suga-ssi?" Jimin menyebut nama Suga dengan suara serak khas bangun tidurnya.
"Panggil hyung saja. Bagaimana keadaanmu? Masih merasa pusing?" Suga bertanya dengan sedikit nada kekhawatiran, hanya sedikit hampir tidak ketara. Tapi Jimin cukup peka untuk menangkap rasa khawatir Suga.
"hmm.. sudah lebih baik dari pada kemarin. Hanya saja, kepalaku masih sedikit berat, h-hyung." Jimin agak tersendat saat akan memanggil Suga sebagai hyung.
Suga mengangkat tangannya untuk mengusap surai hitam Jimin, mengelusnya pelan lalu tersenyum
"bagus kalau begitu. Sekarang mandilah, tadi Seokjin sudah menyiapkan air hangat untukmu. Setelah mandi, segera turun ke bawah. Kita akan sarapan bersama."
"oke hyung~~" Jimin menjawab dengan senyuman. Suga sempat terpana untuk beberapa detik karena senyuman Jimin. Betapa miripnya senyuman Jimin dengan mendiang istrinya. Tangan Suga perlahan-lahan terangkat, membelai pipi Jimin dan menatap mata Jimin dengan lembut.
"h-hyung? W-waeyo?" Jimin gugup melihat tatapan yang Suga berikan pada Jimin. Suga tersentak saat mendengar Jimin bertanya kepadanya.
"a-ani, gwaenchanayo. Hanya saja tadi ada bekas air liur di pipimu." Suga yang gugup akhirnya memutuskan untuk sedikit berbohong kepada Jimin. Suga bisa melihat pipi Jimin memerah karena malu.
"AH! Hyung~~~" Jimin segera menutupi pipinya yang katanya Suga ada bekas air liurnya lalu berlari ke kamar mandi dengan cepat.
"kkkk~" melihat Jimin seperti itu entah mengapa membuat Suga merasa bahagia. Mengingatkannya pada setiap pagi yang ia lewati dengan isrinya dulu.
-YO JMIN-
.
Jimin sudah selesai mandi dan ia masih mengeringkan badannya di kamar mandi. Ya, Jimin masih telanjang di dalam kamar mandi. Ia membelitkan handuknya ke daerah pinggangnya lalu keluar dari kamar mandi.
Saat ia berjalan menuju kamarnya, tak sengaja ia berpapasan dengan Namjoon.
"Eoh? Selamat pagi Namjoon-ssi." Jimin menyapa Namjoon. Namjoon yang merasa namanya disebutpun mengarahkan pandangannya ke sumber suara.
'Oh Tuhan~~' Namjoon membatin saat ia melihat tubuh Jimin yang habis mandi. Namjoon merasa gugup sekarang.
'tubuhnya ramping sekali. Kulitnya putih dan terlihat sangat halus.' Batin namjoon sekarang. Ia bertahan mati-matian untuk tidak menyentuh tubuh Jimin sekarang.
"Namjoon-ssi?" jimin memanggil nama Namjoon dengan bingung. 'apa ada yang salah? Aku menyapanya dengan benar kan?' jimin membatin
"a-ah. Ya- S-selamat pagi, Jimin. Segeralah pakai baju. Kau akan terkena flu jika terlalu lama seperti itu." Namjoon menunjuk ke arah dada Jimin. Jimin yang sadar bahwa ia masih menggunakan handuk sebagai satu-satunya kain yang menutupi tubuhnyapun segera masuk kekamarnya.
Tak lama setelah Jimin memasuki kamarnya, Jimin harus kembali lagi keluar dan memanggil Namjoon
"Namjoon-ssi!" Jimin sedikit beteriak karena Namjoon sudah berada agak jauh dari tempat Jimin. Tepatnya sekarang Namjoon ada didekat tangga di ujung lorong.
Namjoon menoleh ke arah Jimin lalu menaikkan salah satu alisnya. "kenapa?!" Namjoon sedikit menaikkan volume suaranya melihat cukup jauhnya jarak antara dirinya dan Jimin.
Jimin berjalan mendekati Namjoon, masih menggunakan handuk untuk menutupi tubuh bagian bawahnya. Namjoon sedikit menelan ludahnya saat Jimin berjalan semakin dekat kepadanya.
"Namjoon-ssi" jimin memanggil nama Namjoon dengan pelan.
"y-ya? Ke-kenapa?"
Jimin mendongakkan kepalanya untuk menatap mata Namjoon. Namjoon bisa merasakan pancaran mata Jimin yang memelas.
"Namjoon-ssi, aku tidak punya baju disini. Bisakah aku pinjam salah satu bajumu?" jimin bertanya kepada Namjoon dengan wajah dibuat semelas mungkin. Sebenarnya, malu juga untuk meminjam baju kepada orang yang baru kemarin dia kenal kemarin. Tapi ini adalah pilihan terbaik dari yang terburuk dibandingkan harus turun kebawah dengan keadaan setengah telanjang mengingat bahwa mereka semua tidak normal.
Namjoon melonngo mendengar pernyataan beserta pertanyaan yang diberikan Jimin dan sepersekian detik setelahnya, Namjoon menjawab Jimin.
"boleh. Tunggulah dikamarmu. Nanti aku bawakan."
"oke. Namjoon-ssi? Bisakah aku memanggilmu hyung? Kelihatannya kamu lebih tua..."
"boleh. Panggil aku hyung dan aku memang lebih tua dibanding dirimu Jimin. Tapi kamu lebih tua dibandingkan Taehyung dan Jungkook."
"oke hyung, aku tunggu." Jimin tersenyum lalu berlari ke kamarnya.
-YO JMIN-
Jimin keluar dari kamarnya dengan baju yang terlalu besar untuk badan Jimin. Secara Namjoon jauh lebih tinggi dibandingkan Jimin, jadi hal yang masuk akalh bila baju yang ia pakai sekarang terlalu besar.
Jimin menuruni tangga dan menuju dapur untuk ikut sarapan dengan yang lainnya.
"selamat pagi semua~" jimin menyapa 6 orang yang ada di meja makan sambil tersenyum.
"pagi jim" taehyung balas menyapa Jimin
"ada apa dengan bajumu?" Jungkook bertanya pada Jimin
"eoh? Aku kan tidak punya baju disini. Jadi ya aku pinjam Namjoon hyung saja." Jelas Jimin
"ooohh~~ lain kali pinjam punya Suga hyung saja. Kelihatannya ukurannya denganmu hampir sama." Jawab Jungkook
"lho? Memangnya kenapa dengan yang ini?" Jimin bertanya-tanya sambil menggeser kursinya disebelah Jin
"tidak masalah kalau kamu mau memakai itu Jimin. Hanya saja, kamu perlu ingat bahwa kami disini adalah suamimu dan dengan kamu menggunakan baju seperti itu membuka peluang kami untuk... yah... itulah. Kamu tahu kan?" Seokjin menjelaskan kepada Jimin sambil memberikan Jimin sepiring nasi
Jimin yang paham maksud Seokjinpun memerah. Ia lupa akan kenyataan itu. Kenyataan yang mengatakan bahwa ia adalh istri dari mereka di dunia mereka. Jimin sedikit mengerucutkan bibirnya,
"hyungdeul, bagaimana kalau hari ini kita membelikan Jimin pakaian? Kasihan juga Jimin kalau harus pinjam baju terus." Jungkook memberi saran
"nah, aku juga mau berkata seperti itu." Hoseok menyahuti, "yang jelas Jimin tidak bisa ikut kita beli baju. Tidak mungkin kita mengajak Jimin membeli baju dengan pakaian seperti itu." Lanjut Hoseok
"salah satu dari kita harus stay dirumah ini bersama Jimin." Tanpa melihatpun Jimin sudah tahu siapa yang menjawab pernyataan Hoseok tadi. Suara datar yang khas ini pasti milih Yoongi.
"aku saja yang stay dirumah." Jawab Jungkook
"baiklah, setelah makan pagi kita akan pergi. Oh ya Jimin, berapa ukuran ehem- celana dalammu?" Seojin bertanya. Hoseok yang sedang menyuruput kuah supnya sedikit tersedak
"uhuk- t- uhuk tolong air"jimin segera mengambilkan air untuk Hoseok, melihat wajah Hoseok memerah entah karena tersedak atau karena ukuran celana dalam Jimin.
"hmmm, belikan yang M saja hyung." Jimin menjawab dengan sedikit malu. Hei siapa yang tidak malu harus memberitahukan ukuran celana dalam kepada orang yang baru kamu kenal kemarin huh?
" hoseok hyung~" jimin memanggil hoseok
"kenapa?" Hoseok menanggapi panggilan Jimin.
"kalian bisa beli baju dapat uang dari mana?"
"kami bekerja tentunya."
"lalu kenapa kalian tidak bekerja hari ini?"
"hmm? Apa kamu lupa, hari ini kan hari sabtu. Tempat kerja kami menerpakan sistem fullday. Jadi hari Sabtu dan Minggu libur."
"oooh begitu, kelihatannya aku juga harus mulai bekerja." Jimin berbicara dengan suara pelan tapi hoseok cukup jelas mendengar pernyataan Jimin
"tidak perlu, minnie" Hoseok menanggapi
"waeyo hyung? Aku kan tidak mungkin merepotkan kalian terus."
"bukan masalah. Dikehidupan kami sebelumnya, kami juga bekerja untukmu." Jelas Hoseok
"ya, kamu tidak perlu bekerja Jimin." Sahut Namjoon
Jimin menunduk memikirkan perkataan Namjoon dan Hoseok
"tapi aku tidak suka menganggur di rumah sendirian." Jimin menggerutu
"apa aku mulai cari tahu tentang penyelesaian masalah ini?" jimin masih menggerutu dan tanpa sadar ia makan sambil mengerucutkan bibirnya. Mereka melihat Jimin yang mengerucutkan bibirnya sambil tersenyum, Jimin tampak begitu lucu dengan bibir yang dikerucutkan.
"baik. Jimin tidak akan bekerja. Tapi jimin akan cari tahu cara kita supaya bisa kembali ke dunia kita masing-masing." Jimin akhirnya membuat keputusan finalnya. Seluruh penghuni yang ikut makan menatap Jimin dengan pandangan yang sulit diartikan.
"dan Jimin tidak menerima protes." Jimin segera melanjutkan ucapannya saat ia melihat Taehyung membuka mulutnya untuk mengucapkan sesuatu.
"terserah kamu, Jimin. Kamu bisa pakai ruang komputer di sebelah kamar Suga." Jin menjawab pernyataan Jimin
"oke hyung~~"
"sekarang makan makananmu, min."
Jimin sadar bahwa makanannya masih sisa banyak maka ia memakannya dengan sedikit terburu-buru melihat semua orang yang makan hampir selesai. Hanya dia saja yang masih sisa banyak. Jimin tidak suka makan sendirian, Jimin tidak suka melakukan semuanya sendirian.
-YO JMIN-
Sekarang, semua orang sedang pergi ke toko baju untuk membeli baju dan tinggallah Jimin dengan Jungkook berdua dirumah ini.
"jungkook~~" jimin memanggil Jungkook
"ya, hyungie? Wae?" jungkook membuka pintu kamarnya dan melihat Jimin membawa gulingnya ke kamar Jungkook.
"boleh aku masuk?" jimin bertanya kepada Jungkook
"jimin tidak suka sendirian..." jimin melanjutkan ucapannya
"kkkkk~ masuklah" Jungkook sedikit terkekeh saat melihat wajah memelas Jimin dihadapannya.
"Wooooo... kamarmu sangat rapi." Jimin menatap takjub kamar Jungkook
"hmmmm? Yah, aku bukan orang yang suka bersih-bersih. Jadi dibandingkan meletakkan barang-barangku sembarangan lebih baik aku meletakkannya langsung ke tempat aslinya. Aku tidak suka jika pada akhirnya harus bersih-bersih." Jelas Jungkook
"kenapa bisa begitu?" jimin bertanya
"karena dulu, istriku yang akan membereskan kamar kami." Jawab Jungkook
Jimin tersedak mendengarnya. Karena secara tidak langsung, Jungkook keberadaan Jimin di masa lalunya. Jimin tiba-tiba teringat sesuatu,
"hei, jungkook. Kalau tidak salah, kamu pernah bilang kalau kamu punya bukti bahwa aku adalah istrimu. Bolehkah aku melihat bukti itu?"
Jungkook melihat Jimin lalu tersenyum tipis, "tunggu, akan kuambilkan."
"ini.." jungkook menyerahkan bukti itu kepada Jimin. Jimin membelalakkan matanya melihat bukti tersebut
"ini... bagaimana bisa?"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
TBC
Ah~~~~ maafkan!
Updatenya telat banget kan ya?
Huks~~ pasti lama banget
Soalnya Rin ada UTS sih. Masa habis UTS selesai besoknya sudah harus ulangan lagi
UH fisika lagi, belum lagi ngumpulin tugas laporan biologi kimia sama b ing.
Sedih banget..
Ini kelihatannya TBCnya nggak enak banget
Mohon kritik dan saran yang membangung ya , Chingu.
Dan, bagi yang masih UTS.. semangat ya. Semoga nggak ada yang remidi. AMIN
^.^
