Satu malam di ruang makan mansion mewah milik keluarga Akashi, duduk berderet di ruang makan seperti pada malam-malam sebelumnya. Dalam khusuk saat bersantap malam, satu suara rendah dari ujung meja, membuat lima pemuda yang lain mengongak memandang ke arah si bungsu yang sepertinya ingin mengatakan sesuatu.

"Ano niichan~" mulainya lirih, "Aku ingin mengatakan bahwa—"

"Aku tidak suka basa-basi Tetsuya, lebih baik segera katakan apa yang kau inginkan." potong si sulung dari ujung meja di depan Tetsuya.

Kalimat Seijuurou mau tak mau membuat si bungsu terdiam sejenak, satu tarikan napas dilakukan, mental dipersiapkan untuk rangkaian kata selanjutnya.

"Sabtu depan akan ada festival kembang api di sekolah, aku ingin datang bersama niichan semuanya." dan satu senyum dikulum, berharap jawaban indah akan terdengar dan mengabarkan berita baik.

"Aku pasti akan datang –ssu, aku juga ingin melihat kembang api bersama Tetsucchi." koar Ryota bersemangat, "Nee~ bagaimana dengan yang lain? Semua pasti bisa datang menemani Tetsucchi kan?" tanya sang model kepada keempat kakaknya yang lain, yang sedang memasang pose berpikir khas milik mereka masing-masing.

"Aku juga akan datang Tetsu, aku akan dengan senang hati merangkap menjadi bodyguard pribadimu jika perlu." satu cengiran Daiki lakukan bersamaan dengan lengan kekarnya terjulur untuk mengacak-acak surai si bungsu.

"Mou~ asal Daicchi jangan terlalu genit, dan mengoda remaja-remaja yang datang saja –ssu," goda Ryota yang dibalas dengan deathglare dari kakak yang hanya berjarak dua tahun darinya.

"Dengar itu Daiki, jangan selalu mengoda remaja-remaja dan memperlihatkan ototmu yang tidak seberapa itu, nanodayo." Shintarou ikut berkomentar, membuat pemuda tan itu hanya makin mendengus kesal. "Aku akan mengatur shif kerjaku, agar aku bisa datang untuk mengawasi kalian supaya tidak mempermalukan nama keluarga kita, nanodayo."

'Mengawasi apanya? Bilang saja ingin ikut juga. Dasar tsundere.' batin Ryota dan Daiki bersamaan.

"Lalu Atsushi-nii dan Seijuurou-nii bagaimana? Bisa datang kan?" takut-takut Tetsuya bertanya, dia tau benar sang kakak sulung adalah orang yang gila kerja. Tapi mereka sudah lama tidak pernah berkumpul bersama, setidaknya dia juga punya hal juga kan untuk berkumpul dengan kakak-kakak tercintanya.

"Selama di sana ada makanan, aku akan ikut Tetsuchin."

Keempat kakaknya sudah menyanggupi akan datang, dalam benak Tetsuya sudah terbayangkan bagaimana bahagianya bisa menghabiskan waktu bersama dengan kakak-kakak terkasih, tinggal menunggu satu belah bibir mengucapkan pengakuan akan turut bergabung juga.

"Seijuurou-nii bagaimana, bisa datang?"

Lima pasang manik berbeda warna menatap lekat-lekat si sulung yang masih khidmat menyantap makan malamnya, merasa ada yang tengah menunggu jawabannya. Satu lengan menopang dagu, menatap lurus azure di depannya.

"Apa kau ingin aku datang Tetsuya?" tanya si sulung tajam.

Anggukan dan senyum terkembang diberikan Tetsuya sebagai jawaban.

"Baiklah aku akan datang."

.

.

.

.

.

*Protektif Overdosis*

Disclaimer:

Kuroko No Basuke © Fujimaki Tadatosi

Story by Aoi-Umay

Pairing:

Tetsuya x GoM!Posesif

Warning:

Typo, OOC yang berlebihan, sedikit Humor, AU parah

DLDR, R&R please...

Enjoy Reading Minna... ^^

.

.

.

.

.

One-Shot 2 : Festival Kembang api

.

.

.

.

.

Hari sabtu yang cerah~

"Empat puluh derajat celcius." ujar Shintarou saat melihat termometer yang sebelumnya berada di dalam rongga mulut pemuda bersurai baby-blue yang kini terkapar di atas ranjang nuansa birunya.

Ryota mencoba mengukur demam si bungsu menggunakan telapak tangannya dan pada detik berikutnya, pemuda blonde itu harus mengibaskan telapak tangannya karena tubuh sang adik yang kelewat panas. "Demammu tinggi sekali Tetsucchi."

"Apa yang kau lakukan kemarin Tetsu, kenapa setelah pulang sekolah kau jadi demam seperti sekarang?" tanya sang kakak keempat, sepasang jemarinya mulai melepas satu persatu kancing yang melekat pada kemeja biru gelap miliknya.

"Mou~ apa yang kau lakukan Daicchi."

"Yang akan kulakukan adalah ini."

Selesai menanggalkan kemeja yang melekat pada tubuh kekarnya, tanpa aba-aba Daiki melesat ke atas ranjang sang adik dan mendekap tubuh mungil itu erat-erat.

"Aku akan terus memeluk Tetsu sampai demamnya berpindah pada tubuhku." jawabnya bangga. Dan rasa bangga itu sekejab harus menghilang saat sebuah tangan terjulur dan memukul kepalanya sehingga menimbulkan bunyi yang cukup keras, mungkin karena saking kerasnya batok kepala Daiki.

PLAK

Dan pukulan sayang pada kepala navy blue dari pemuda yang tadi menggenggam termometer menjadi akhir dari tindakan konyol Daiki.

"Berhentilah bertindak konyol, aku tidak akan sudi merawatmu jika kau juga ikutan sakit, nanodayo." hardik Shintarou tidak suka dengan sikap sang adik.

"Aku tidak bertindak konyol, itu adalah cara paling cepat menurunkan demam." kilah Daiki tak mau kalah.

"Dari mana kau dapat ide gila seperti itu? Demam Tetsuya tidak akan turun dengan cara mesum seperti itu, demamnya akan segera turun jika dia minum obat dan berstirahat."

"Sudahlah... jangan bertengkar, lebih baik kita segera merawat Tetsucchi, -ssu."

Mau tak mau, Ryota yang merasa cukup waras di sini harus mengelarai bertengkaran kedua kakaknya, tumben sekali meraka bersitengang, biasanya malah dirinya dan Daiki yang suka bertikai, sekarang kenapa kakaknya yang seorang dokter muda juga ikut-ikutan meladeni si dekil Daiki.

Ryota mendesah, semua ini pasti karena Tetsuya mendadak demam, semua pasti akan berlebihan jika sudah menyangkut si bungsu.

Dan Tetsuya hanya bisa terkikik kecil melihat tingkah kakak-kakaknya, hari ini adalah hari sabtu dan dia malah terkapar di atas ranjang karena demam. Padahal kemarin dia hanya pulang dengan kaos dan celana yang basah karena keringat, tanpa sempat mandi atau berganti pakaian seusai latihan basket. Apa karena hal sepele seperti itu, dia jadi masuk angin dan demam. Sungguh hal yang sangat memalukan untuk diungkapkan.

Dalam suasana yang masih gaduh akibat pertikaian Daiki dan Shintarou, masih dengan suasana Ryota yang mencoba menenangkan amarah kedua kakaknya, dan dengan Tetsuya dengan kikikannya. Pintu dengan dua daun pintu terjeblak terbuka, menampilkan pemuda dengan surai merah dan ungu yang membawa satu nampan makanan di belakang si sulung yang membuka pintu.

"Apa yang kalian lakukan? Membuat gaduh di depan adik kalian yang sakit? Apa kalian tidak punya otak?" baritone itu bergema garang membuat ruangan yang sebelumnya gaduh menjadi hening seketika.

( -_- )

"Ayo buka mulutmu Tetsuya..." sesendok bubur disodorkan sang kakak pada pemuda yang kini duduk sambil bersandar pada tumpukan bantal di belakangnya.

"Aku bisa makan sendiri niichan." kilah si bungsu sambil mengembungkan pipinya.

"Kau— apa kau berniat membantah perintahku?"

Gelengan kepala dilakukan Tetsuya, "Aku malu niichan~" gumam Tetsuya jujur. Bagaimana mungkin pemuda enam belas tahun itu tidak malu, jika makan disuapin sang kakak dengan penonton yang berjubel pada sisi ranjangnya.

"Jadi, aku harus mengusir mereka semua supaya kau mau makan?"

"Bukan seperti itu, tolong biarkan aku makan sendiri niichan." senjata moe ala Tetsuya kembali dilancarkan dan, Viola~ tumben sekali kali ini berhasil dengan suksesnya pada Seijuurou. Karena dengan ajaibnya nampan berisi bubur dan segelas susu itu beralih tangan menjadi tepat di pangkuan si pasien.

"Dalam sepuluh menit kau harus sudah menghabiskan buburmu, Tetsuya. Jika tidak, aku pastikan nanti siang kau akan aku suapi secara pribadi." dan ancaman Seijuurou ditanggapi Tetsuya dengan senyum ala malaikatnya.

Satu suapan...

Tetsuya melihat sekeliling, di ujung ranjang ada pemuda blonde sedang menopang dagu dengan kedua tangannya, manik matanya memancarkan binar yang menyilaukan, menusuk-nusuk seperti tatapan anak anjing yang terbuang di tengah badai.

Suapan kedua...

Tetsuya merasa ada lengan kekar yang membebani lehernya, menoleh ke samping dan manik azure itu mendapatkan pemandangan Daiki beserta cengiran khasnya dengan nyaman sedang mengalungkan lengan coklat eksotisnya pada leher pucat sang adik.

Suapan berikutnya...

Tak jauh dari ranjangnya sedang berdiri sang dokter muda, kedua manik zamrudnya mengawasi setiap gerak-gerik Tetsuya. Walaupun genture tubuhnya nampak cuek dan kelihatan tidak peduli.

Suapan selanjutnya...

Tak jauh dari Shintarou, Atsushi sedang duduk bersila. Sama dengan yang lain, mahluk ungu ini juga mengawasi sang adik yang tengah menyantap buburnya, hanya saja Atsushi tak lupa untuk menyantap cemilannya sendiri.

Suapan terakhir sebelum Tetsuya tersedak, karena melihat sang kakak sulung yang duduk di samping ranjangnya menampakkan seringai yang membuat bulu kuduk Tetsuya meremang luar biasa.

"Kenapa niichan masih di kamar Tetsuya? Sekarang sudah siang." teriak Tetsuya pada kelima kakaknya yang masih enggan mengubah pusat pendangannya.

Pemandangan yang mengagumkan tersaji di depan manik azurenya. Merah, ungu, hijau, biru dan kuning berkumpul, mengelilingi dirinya yang masih bergelung selimut di atas ranjang, hanya untuk mengawasi setiap gerak tangan dan bibir yang menyantap satu mangkuk bubur.

'Apa tak ada objek yang lebih menarik dari pada melihatku seperti ini?' batin Tetsuya lesu.

Dan jika saja Tetsuya cukup peka untuk melihat bagaimana sorot mata kelima kakaknya, jawabannya adalah Tidak ada, tidak ada objek yang lebih indah daripada itu. Tetsuya dengan bedheadnya, piama yang mempertontonkan jelas lekuk tubuhnya karena sudah bersimbah keringat, ditambah dengan wajah datar yang memerah karena demam. Jadi jangan pernah salahkan kakak-kakakmu, Tetsuya. Jika kini mereka tak juga beranjak dari kamarmu karena masih terpaku dengan pemandangan di depannya.

"Aku bolos hari ini." jawab serentak keempat pemuda yang sebelumnya menatap adik mereka lekat-lekat. Namun begitu mendengar jawaban yang serentak membuat empat pemuda itu hanya saling melempar tatapan tidak suka, dan ditambah dengan tatapan tajam dari Seijuurou pada satu persatu adiknya.

"Apa maksud kalian dengan berniat bolos hari ini?" baritone Seijuurou memulai sesi perdebatan panas pagi ini.

"Hari ini, hari sabtu sekolah pasti hanya sebentar, lagipula aku ingin menemani Tetsucchi –ssu, kasihan Tetsucchi sendirian di rumah, -ssu."

"Apa aku pernah mengajarimu untuk membolos? Berangkat sekolah sekarang Ryota." perintah Seijuurou tegas dan tajam. Bagaikan anjing kecil yang baru saja dibuang, remaja delapanbelas tahun menunduk sambil berderai airmata meninggalkan ruangan sang adik.

"Aku akan pulang cepat Tetsucchi, jaga dirimu –ssu." pesan Ryota dengan pose dramanya sebelum tubuhnya menghilang dari balik pintu.

"Siapa lagi, yang tadi bilang mau membolos?"

"Hari sabtu kuliahku memang libur, jadi aku tidak terhitung membolos." ujar Daiki yang masih setia mengalungkan tangannya pada mahluk mungil di sampingnya.

"Bukannya kau harus masuk kelas tambahan karena nilaimu yang berada di bawah rata-rata, huh?"

JLEB

Kalimat tajam yang tepat sasaran, langsung menghujam hati Daiki hingga tak berbentuk.

"Segera kembali ke kamarmu dan bersiap-siap berangkat kuliah Daiki."

"Tapi..."

"Tidak ada tapi-tapian."

Dua serangga berhasil diusir.

"Lalu Atsushi? Kenapa kau belum berangkat? Apa kau tidak membuka toko kuemu?"

"Aku ingin menemani Tetsuchin yang sedang sakit Seichin." jawab Atsushi masih tetap dengan posisi bersilanya di dekat ranjang Tetsuya.

"Jadi kau ingin aku menutup tokomu selama-lamanya Atshushi?" tanya Seijuurou tajam, sambil menyeringai ke arah sang adik bersurai ungu itu.

"Baik~ Baik~ aku akan membuka toko sekarang." dengan sangat enggan, Atsushi beranjak dari tempatnya duduk, berjalan ke arah ranjang, mengulurkan lengan panjangnya sejenak untuk mengusap puncak kepala si bungsu. "Sampai jumpa Tetsuchin, semoga cepat sembuh."

Tersisa satu penganggu.

"Kau tak berangkat ke Rumah Sakit, Shintarou?" tanya Seijuurou pada satu-satunya pemuda yang masih bertahan di dalam kamar Tetsuya.

"Aku bertugas merawat Tetsuya." jawab Shintarou datar.

"Memang siapa yang menyuruhmu Shintarou?" mengabaikan nada mengejek yang terselip dalam tanya sang kakak, dengan tenang sang dokter muda itupun menjawab. "Aku dokter Seijuurou, aku yang lebih tahu bagaimana merawat orang yang sedang sakit, kau pikir siapa lagi yang akan merawat Tetsuya?"

"Jadi kau mau mengabaikan semua pasienmu yang ada di Rumah Sakit? Apakah begitu?" debat Seijuurou mulai panas, karena kesulitan mengusir adik pertamanya itu.

"Bukan seperti itu juga, aku akan berangkat jika sudah memastikan Tetsuya baik-baik saja." itu adalah alasan terbaik yang dimiliki Shintarou untuk bisa lebih lama berada dalam kamar sang adik.

"Aku baik-baik saja Shintarou-nii, jangan khawatir, jadi niichan bisa berangkat ke Rumah Sakit dengan tenang." namun nampaknya sang adik dengan kurang ajarnya malah mengusirnya tanpa belas kasihan. Dan parahnya adalah... "Kau dengar apa yang dikatakan Tetsuya? Lebih baik kau bergegas untuk segera berangkat, Shintarou." si sulung merasa menang karena mengusiran lembut yang di terimanya.

Shintarou hanya mendesah, berhenti memprotes dan memutuskan melangkah keluar dari kamar Tetsuya setelah meletakkan obat di meja samping ranjang. "Selama aku tidak mengawasimu, pastikan kau memimun semua obat yang aku sediakan."

Anggukan diberikan si bungsu sebagai jawaban sebelum Shintarou melanjutkan kaliamatnya "Karena aku tidak suka jika ada yang menyebutku dokter yang tidak becus menangani pasien yang hanya kena demam."

Empat kakaknya sudah menghilang dan tersisa satu pemuda dengan surai merahnya, masih tetap di samping ranjangnya tanpa ada niat untuk berpindah tempat.

"Lalu kenapa Sei-nii masih ada di sini? Tidak berangkat ke kantor?" tanya Tetsuya masih dengan mencoba melahap bubur yang ada di pangkuannya.

"Aku sedang memastikan kau menghabiskan buburmu dalam sepuluh menit Tetsuya, dan sekarang sudah lebih dari sepuluh menit, jadi mau tidak mau nanti siang aku akan pulang dan memastikan kau makan langsung suapan dari tanganku." kalimat panjang lebar dari sang kakak, membuat Tetsuya membeku di tempat. Salahkan konsentrasinya yang buyar karena adegan usir mengusir oleh Seijuurou sehingga Tetsuya lupa dengan titah sang kakak.

Dan satu seringai tersungging di bibir Seujurou sebelum surai merah pemuda itu lenyap dari manik azure karena ditelan pintu kamarnya.

( -_- )

Siang hari, adegan kembali terulang. Dimana merah, hijau, ungu, navy blue dan pirang kembali bergerumbul di depan baby blue yang kini tengah disuapi sang kakak. Semua pemuda itu tidak membantah saat sang kakak menyuruh mereka untuk berangkat walaupun pada akhirnya kelima pemuda itu buru-buru pulang setelah menyelesaikan semua urusannya dengan sangat cepat. Berharap mereka bisa menemani si bungsu yang tengah terkapar sakit.

Perasaan hangat menyergap relung hati Tetsuya, walaupun kadang dia merasa jengah dengan sikap kakaknya yang terlalu protektif, tapi Tetsuya masih menganggapnya dalam kadar wajar menurut versinya.

"Nee~ nanti malam kita semua jadi berangkat kan?" tanya Tetsuya mencoba mengingatkan pada sang kakak tentang janjinya untuk hadir pada acara festival kembang api yang sudah diumumkan Tetsuya minggu lalu.

Lima pemuda saling bertatapan satu sama lain, tidak mungkin mereka melupakan janji mereka dengan si bungsu, tapi keadaannya sekarang berbeda, mana mungkin mereka akan pergi jika yang mengajak malah terkapar karena demam.

"Tapi kan Tetsucchi sedang sakit –ssu," mulai Ryota dengan nada ragu-ragu. "Kita tunda saja perginya, tunggu sampai Tetsucchin sembuh, ya..."

"Tapi kan niichan sudah janji akan datang?"

"Tapi kau sedang demam Tetsu, tidak mungkin kita berangkat kalau kau masih demam, kau malah tidak sembuh-sembuh." sambung Daiki

"Sebelum malam, demamku pasti akan turun. Dan kita harus pergi bersama." tegas Tetsuya.

"Walaupun demammu sudah turun, kau masih tidak boleh berkeliaran apalagi waktu malam, angin malam hanya akan membuat tubuhmu kembali terserang demam, nanodayo." sekarang giliran Shintarou yang memberikan argumen.

"Aku akan memakai jaket tebal supaya tidak masuk angin lagi." kilah Tetsuya, lagi.

"Lagipula setiap tahun festival kembang api selalu ada kan Tetuchin, jika tahun ini tidak bisa datang, bagaimana kalau tahun depan kita datang bersama."

Manik azure itu memancarkan sinar sedih yang kentara, hancur sudah semua bayangan indah yang dibangunnya dalam mimpi seminggu ini, hilang sudah impiannya yang ingin bersenang-senang dengan semua kakaknya di malam festival kembang api.

"Sei-nii~" suara lemah Tetsuya coba memanggil sang kakak yang duduk di samping ranjangnya. "Kita akan pergi bersama-sama ke festival sekolah kan malam ini?" dan jurus moe plus puppy eyes kembali dilancarkan.

"Tidak Tetsuya... selama kau belum benar-benar sembuh kita tidak akan keluar kemana-mana." tegas Seijuurou, mengabaikan wajah moe yang tersaji di hadapannya.

"Jadi andaikan sebelum malam demamku sudah turun, kita tetap berangkat kan?"

"Tidak..."

Kesal dengan penolakan yang dilakukan sang kakak, emosi Tetsuya sedikit terpancing untuk memperontak. Selimut disibak, sepasang kaki mungil berusaha turun dari ranjang.

"Apa yang kau lakukan Tetsucchi?" teriak Ryota mulai panik melihat tingkah sang adik yang mulai turun dari ranjang.

"Menyakinkan pada niichan semua bahwa aku sudah sembuh sehingga nanti malam kita bisa pergi bersama."

Tubuh ringkih itu mencoba berdiri dengan kedua telapak kakinya, pening yang menjalari kepala bersurai baby-bluenya diabaikan, lemas pada tubuhnya akibat demam tak dihiraukannya, semua dilakukan demi suksesnya acara malam ini.

Dua kakak Tetsuya melangkah mendekati si bungsu yang kelihatan bisa tumbang kapan saja.

"Jangan memaksakan diri sampai seperti ini, Tetsu."

Bagaimana pun juga tak akan ada yang cukup tega membiarkan tubuh ringkih sang adik tanpa topangan. Kini Daiki dan Ryota saling bekerjasama untuk menopang tubuh si bungsu yang masih keras kepala karena ingin berdiri sendiri.

"Sudah cukup Tetsucchi, Seicchi... tolong katakan sesuatu." pinta Ryota pada si sulung yang terlihat mulai beranjak dan hendak melangkahkan kaki keluar pintu.

"Tak ada yang perlu aku katakan lagi, jika aku bilang kita tidak akan pergi itu berarti satu hal. Kita tidak pergi." ujar Seijuurou tanpa berniat membalikkan badan pada sosok rapuh di belakangnya.

"Seichin, apa tidak bisa kita pergi sebentar. Kasihan Tetsuchin, sepertinya dia sangat ingin pergi." bujuk Atsushi yang kini mencoba menyusul langkah Seijuurou.

"Apa kau tidak dengar apa kata Seijuurou, jika dia sudah berkata tidak akan pergi, itu artinya tidak akan ada dari salah satu dari kita yang akan pergi. Lagi pula dengan tubuh Tetsuya yang lemah seperti itu bisa dipastikaan dia akan terserang demam lagi." jelas Shintarou panjang lebar. Manik zamrudnya memandang sang adik dengan tatapan sendu, tak ada hal yang bisa dilakukannya untuk membantu si kecil. Setidaknya menjaga kesehatan Tetsuya adalah hal yang bisa dilakukannya sekarang ini.

"Niichan~ lihat aku! Aku sudah bisa berdiri sendiri, aku sudah sembuh... SUDAH SEMBUH!" teriak Tetsuya, menghentikan Seijuurou yang berniat medorong pintu kamarnya.

Menepis kedua lengan yang sedari tadi penopang tubuh ringkihnya, Tetsuya ingin membuktikan pada si sulung bahwa dia tidak sedang berbohong jika sudah sembuh.

"Jika kau yakin sudah benar-benar sembuh, coba kau berjalan ke arahku sekarang." perintah itu langsung mendapat proters dari empat pemuda yang lain, sekali lihat semua orang yang ada di ruangan itu bisa tahu kalau si bungsu hanya berbohong tentang kesembuhan dirinya.

Tak menghiraukan teriakan dari kakak-kakaknya yang lain, yang ada dalam pikiran Tetsuya hanya melangkah menuju si sulung yang sudah menantinya di dekat pintu. Langkah demi langkah di buat Tetsuya, sambil menahan pening di kepala, gemetan pada kakinya, dan demam yang hampir menyita konsentrasinya.

Satu senyum dikulum dengan bangga ketika kini Tetsuya sudah berdiri dihadapan Seijuurou, "Aku bisa niichan, aku sudah sem—" satu pukulan telak pada tengkuk Tetsuya merebut seluruh kesadaran si bungsu, tubuh ringkihnya limbung dan berakhir pada dekapan Seijuurou yang baru saja memberikan pukulan telak pada dirinya.

"Kau terlalu memaksakan diri. Selamat tidur Tetsuya..."

( -_- )

"Ya..."

Satu panggilan membuat gerak azure yang masih terbalut dalam kelopak mata bergerak dengan gusar.

"Tetsuya..."

Dalam alam bawah sadarnya dia tahu, yang memanggil dirinya adalah salah satu dari lima kakaknya.

"Tetsuya... sudah malam, nanodayo."

Azure itu terbelalak, otaknya mengolah kata 'sudah malam' dengan mengedarkan pandangannya seantero kamar, dan hasil yang didapatkan hanya lampu-lampu kamar yang menyala, tirai biru pada dua jendela besar kamarnya juga sudah ditutup, ketika azure itu melirik jam dinding terdekat, napasnya tercekat karena waktu yang menunjukkan pukul sembilan malam. Sudah sangat terlambat untuk festival yang mulai pada pukul tujuh malam.

"Sudah cukup lama kau tidur, atau lebih tepat disebut dengan pingsan. Dan sekarang waktunya kau minum obat, nanodayo."

Satu lengan Shintarou mengulurkan satu resep obat beserta segelas air putih pada si bungsu, dan diterima dengan ekspresi datar namun syarat dengan ekspresi yang kecewa.

"Setelah selesai minum obat, pakai jaketmu dan temui Seijuurou di ruang makan."

Tetsuya hanya mendesah samar, sejak kapan semua kakaknya berubah seperti si sulung, selalu memerintah. Setelah memastikan Tetsuya menelan semua obatnya, Shintarou pun beranjak dan meninggalkan kamar si bungsu.

Desahan napas panjang dilakukan Tetsuya lagi, punggung tangannya diarahkan pada dahinya. "Sudah tidak demam." gumamnya sambil cemberut.

Terimakasih pada Seijuurou yang sudah membuatnya tidak sadarkan diri lebih dari delapan jam, sehingga dia melewatkan acara festival kembang api di sekolahnya.

Tetsuya hanya bisa mendengus saat mengingat kejadian di siang hari, rasa kesal mencongkol jauh dalam relung hatinya, namun anugerah wajah datarnya bisa dengan sempurna menyembunyikan semua rasa jengkel yang mengerogoti hatinya. Satu lengan meraih jaket berwarna biru gelap yang tersampir di sisi ranjang. Langkah kakinya bergegas menuju ruang makan.

( -_- )

Suara ricuh, ribut dan gaduh memenuhi ruang makan. Tetsuya yang masih berdiri dibalik pintu ruang makan, keningnya berkerut. Entah sejak kapan ruang makan keluarganya terdengar seperti pasar yang penuh dengan ibu-ibu pengosip. Ragu-ragu, Tetsuya mendorong dua daun pintu yang ada dihadapannya.

Dan bibirnya terkatup tak percaya, tak ada kata yang bergulir keluar, manik azurenya bercahaya terang, senyum bahagia jelas nampak pada wajah datarnya, menghapus semua kesal dalam dadanya, menghilangkan kecamuk hati yang meradang.

"Jadi kita semua akan pergi ke festival sekolah kan?"

Melihat kelima kakaknya yang sudah rapi dengan berbagai macam yukata, tentu pikiran si bungsu hanya tertuju pada satu kata 'festival'. Kelima kakaknya sangat mempesona dalam balutan yukata berbagai warna, rata-rata memakai warna dengan menyesuaikan warna surai mereka masing-masing dengan corak yang tidak terlalu berlebihan.

"Apa kau lupa apa yang aku katakan tadi siang Tetsuya? Kita tidak akan pergi kemana-mana." baritone itu tetap berkata tajam, tak ada rasa sesal dalam balutan nada suaranya setelah membuat si bungsu pingsan sekian lama.

Tetsuya kembali mendengus kesal, hilang sudah semua euoforia tentang kembang api, ramainya stan makanan, dan berbagai macam permainannya. Dia sadar sangat sadar, malam sudah larut dan mungkin festival sekolahnya sudah dimulai sejak tadi.

"Lalu kenapa niichan berpakaian seperti itu?"

Masih dengan pipi tembam yang merengurut kesal, telunjuknya mengabsen satu persatu kakaknya menunjuk tajam pada pemuda-pemuda yang masih duduk dengan tenangnya.

"Kita akan ke festival, Tetsucchi~" teriak Ryota sambil menghaburkan diri untuk memeluk tubuh ringkih si bungsu.

"Tapi kan Sei-nii bilang kita tidak akan pergi kamanapun." kembungan pada pipi Tetsuya makin menjadi, karena kalimat sang kakak yang tak dapat dicerna otaknya.

"Karena kita memang tidak akan pergi ke sekolahmu, Tetsu." Daiki menambahkan dan bergerak mendekat sambil mengacak-acak surai si bungsu.

"Lagipula, acara di sekolah Tetsuchin pasti sudah dimulai sejak tadi." raksasa ungu Atsushi juga ikut mengelilingi si bungsu, sekantong cemilan dalam pelukannya, dan sekotak maibo dijulurkan untuk sang adik.

Shintarou adalah orang terakhir yang melangkah kakinya mendekati Tetsuya, satu kain hitam panjang ada pada tanganya, dan pada detik berikutnya kain hitam itu sudah melilit dan menghalangi pandangan si bungsu.

"Shintarou-nii apa yang kau lakukan?" tanya Tetsuya dalam gelap yang dialaminya. Sebuah sentakan pada tubunya sebagai jawaban. Dan tanpa melihat Tetsuya tahu bahwa tubuhnya sudah diangkat dalam gendongan salah satu kakaknya.

( -_- )

Kain hitam itu dibuka, menampilkan azure yang mulai terpana dengan pemandangan di depannya. Halaman belakang yang biasanya terhampar rumput hijau sejauh mata memandang dan sebuah lapangan bola basket di sudut yang lain kini disulap menjadi satu halaman penuh dengan stan makanan dan mainan khas festival. Hias lampu berwarna-warni menghiasi setiap stan dan dilanjut mengintari kolam renang yang terdapat di tengah-tengah halaman.

"Inilah festival kita, Tetsuya..."

Manik azure itu terlalu terpaku pada pemandangan yang tersaji di depannya, sehingga sedetik dia melupakan kehadiran kakak-kakaknya yang berderet di belakangnya. Bahu ringkih si bungsu bergetar halus, manik azurenya berkaca-kaca saat mengetahui sebesar apa usaha yang dilakukan kakaknya untuk mewujudkan keinginan kecilnya.

"Tetsucchi senang kan –ssu?"

Kaki kecil Tetsuya melangkah mendekati si model yang berdiri paling ujung. "Aku yang menyiapkan yukatanya –ssu." Koarnya bangga, dan Tetsuya harus sedikit berjinjit untuk mengecup pipi si pirang. "Terimakasih Ryota-nii, yukatanya sangat indah."

Meninggalkan Ryota yang sedang blussing, Tetsuya berpindah menghadap Daiki yang berdiri di samping sang model.

"Aku yang memasang lampu-lampunya Tetsu." ucapnya sambil memukul dadanya sendiri dengan bangga. Senyum dikulum Tetsuya sebelum lengan sang kakak ditarikan agar bisa mendaratkan kecupan pada pemuda berkulit eksotis tersebut. "Terimakasih Daiki-nii, lampunya sangat indah."

"Tetsuchin, aku yang membuat semua kue malam ini." kekehan pelan diberikan Tetsuya, sebelum kode tangan pucatnya meminta si raksasa agar menduduk ka arahnya. "Terimakasih Atsushi-nii, aku yakin makanannya pasti enak." dan kecupan manis diterima Atshushi dengan senang hati.

"Jika kau ingin tahu, aku yang menyiapkan semua tenda dan hiasannya, nanodayo." Shintarou hanya bersedekap sambil sesekali menaikan kaca matanya yang melorot.

Senyum tak henti-hentinya berhias dalam bibir pucat Tetsuya, dan si bungsu harus berjinjit kembali untuk mendaratkan kecupan pada kakak keduanya. "Terimakasih Shintarou-nii, karena sudah bekerja keras menyiapkannya."

Tinggal satu kakak lagi yang harus dihadapinya, kaki mungilnya melangkah menghadap pemuda yang tingginya tak terlalu jauh dengan tingginya sendiri.

"Terimakasih Sei-nii," gumam Tetsuya pelan. "Aku tidak melakukan apapun Tetsuya." baritone itu tetap bernada penuh arogan walau dalam suasana mengharu biru seperti sekarang. Azure itu menatap tajam haterocrome sang kakak, "Aku tahu, pasti Sei-nii yang merencanakan semua ini." jarakpun dieliminasi Tetsuya agar bibir hangatnya menyentuh pipi si sulung dan meninggalkan sembutan merah di sana.

.

.

.

.

.

FIN

A/N:

Gomen (~/\~) kalau one-shot kedua ini ceritanya membosankan, dan terlalu panjang. Saya belum pernah membuat one-shot sepanjang ini *pundung*

Untuk yang pengen Midorima, atau yang pengen Tetsuya kencan. Maaf belum bisa dihadirkan. Mungkin pada one-shot selanjutnya~ (jika ada yang mau menanti, dan mau baca...) #plak

Waktunya balas review~

[Megumi]

Terimakasih sudah review Megumi-san. ^^

Sekuel ya? Ini sekuelnya sudah dipublis, semoga Megumi-san berkenan membaca dan review lagi...

[Yuzuru]

Terimakasih sudah review Yuzuru-san. ^^

Akashi memang dewanya raja tega, tidak perduli Tetsuya yang sudah mengharu biru... *dirajam gunting*

Sekuel ya? Ini sekuelnya sudah dipublis, semoga Yuzuru-san berkenan membaca dan review lagi...

[Mel]

Terimakasih sudah review Mel-san. ^^

Reques anda akan ditampung, ditelaah dan diproses ficnya. XD

Saya juga sudah memikirkan plotnya tapi, kadang WB tiba-tiba menyerang *Dasar Authot nggak guna* #plak

Semoga Mel-san sabar menanti~~~

Ada bonus Epilog bagi yang masih ingin membaca kelanjutannya~~~~

Epilog

Minggu pagi yang cerah~

Desahan panjang keluar dari bibir mungil Tetsuya yang cemberut, dihadapannya terkapar empat pemuda dengan berbeda warna tengah terbaring saling bersisihan pada dua ranjang yang tiba-tiba saja sudah dipindahkan oleh pelayan mereka ke dalam kamarnya.

Berkat istirahat panjang selama lebih dari delapan jam (baca : pingsan), Tetsuya bangun pagi dengan keadaan yang segar bugar, festival pribadi kemarin sungguh menyenangkan. Dimulai dengan saling mengunjungi setiap stan permainan satu persatu, kemudian mencicipi kue setiap stan yang ada, acara dilanjut dengan menikmati indahnya kembang api dari pinggir kolam renang. Dan berakhir dengan acara saling dorong, saling tarik terjun dalam dingin air kolam renang.

Petaka diawali dengan canda Daiki dan Ryota yang saling dorong satu sama lain membuat si pirang tercebur dalam kolam, merasa tidak terima pirang menarik yukata Daiki dari dalam kolam, gerakan reflek luar biasa yang dimiliki pemuda tan itu membuat dengan kurang ajarnya menarik lengan yukata si sulung yang kebetulan berdiri tak jauh darinya.

Menyadari bahaya datang, buru-buru Shintarou mengendong si bungsu agar tidak ikut ditarik dan tercebur dalam kolam yang dingin, tepat disaat Ryota menarik ungu yang masih sibuk menyantap cemilannya di samping kolam, membuat cemilan dalam pelukan Atsushi mengambang indah di atas air.

Selesai menjauhkan si bungsu dari kolam yang kini sedang terjadi perang sirat air oleh Ryota, Daiki dan Atsushi, Shintarou mendesah pelan dan kembali ke arah kolam berniat untuk membantu si sulung yang bersendekap di sudut dengan wajah kejam miliknya. Dan sialnya, sebelum niat baiknya dilaksanakan lengan Ryota lebih cepat menarik kaki dokter muda untuk turut bergabung dalam dinginnya air kolam renang bersama saudaranya yang lain.

.

.

.

"Mereka semua bodoh, masuk angin hanya kerena hal seperti itu." tak terenyuh sedikitpun dengan keadaan adik-adiknya, Seijuurou menyilangkan kaki duduk pada sofa yang tak jauh dari ranjang.

Tetsuya mendengus kesal, menatap wajah si sulung yang nampak memerah karena tengah menahan demam yang sama seperti adik-adiknya.

"Sei-nii lebih baik juga ikut berbaring seperti niichan yang lain."

Tak kenal takut, Tetsuya berkacak pinggang menjulang dihadapan si sulung.

"Aku tidak sakit Tetsuya, kenapa aku harus ikut berbaring bersama mereka."

Melihat sang kakak yang tetap keras kepala, mengundang punggung tangan Tetsuya untuk menyentuh kening si sulung. "Demam niichan tinggi sekali."

"Huh, hanya demam biasa, kau tidak perlu berlebihan Tetsuya."

Dengusan kesal terang-terangan dilakukan Tetsuya di depan si sulung yang masih keras kepala. Satu tarikan tangan dilakukan Tetsuya, memaksa agar Seiijuurou mau menuruti perintahnya, tapi bukan Seijuurou namanya jika dia rela saja diperintah, bahakan oleh si manis Tetsuya.

"Baik... aku akan menurutimu untuk berbaring, jika kau setuju memenuhi satu syarat dariku," satu alis baby-blue bertaut, diikuti dengan deathglare dari para pemuda yang sedang bersisihan di atas ranjang tak jauh darinya.

"Asal niichan mau ikut berbaring dan istirahat, aku akan mengabulkan syarat yang niichan ajukan."

Satu seringai nampak dari bibir Seijuurou, membuat empat pemuda yang lain bergidik ngeri, sedangkan si bungsu masih dengan ekspresi datarnya.

"Aku hanya mau dirawat secara pribadi olehmu." Kalimat ambigu itu diakhiri dengan colekan seduktif pada dagu si bungsu dan teriakan cemburu dari empat manusia yang lain.

End of Epilog