"Bagaimana keadaanmu, Nishio-kun?"

Kaneki duduk di sisi kiri ranjang sembari menatap iba kepada wajah rupawan dengan bingkai rambut shaggy serona jingga yang kini telah terhalang kain perban. Meski begitu, Kaneki masih bersyukur lantaran tak melihat ambuhag dan monitor pasien yang seminggu lalu menemani hari-hari Yoriko di ruang ICU. "Nishio-kun, aku minta maaf atas kecelakaan yang menimpamu. Aku tid—"

"Semua ini bukanlah salahmu." Ujarnya sembari memandang iris medallion seorang teman yang setahun lalu ditemuinya dalam ibadah minggu, "Kondisiku sudah membaik sekarang. " tegasnya. Pria berusia pertengahan duapuluhan itu berusaha menyandarkan bahunya, "Uh, terima kasih." Ujarnya, tatkala Kaneki turun tangan untuk membantu. "Ada seseorang yang ingin bertemu denganmu." Seolah ucapan barusan adalah sebuah isyarat, sesosok wanita berpakaian serba hitam dengan aksen putih di bagian kerah dan lengan pun memasuki ruangan. "Dia adalah Yoriko-san, Biarawati di gereja itu."

Kaneki bangkit dan memhormatkan badan.

"Ano...," ucapnya usai membalas salam Kaneki, "Kaneki-kun, aku ingin memberikan ini padamu." Ia menyodorkan sebuah kotak bermotif polkadot dengan pita kuning yang melilitnya, "seseorang memberikan ini padaku sebelum insiden pengeboman itu. Dia bilang, dia tidak dapat menghadiri acara besarmu."

Sejenak, Kaneki membutuhkan setidaknya tiga detik untuk mengamati hadiahnya, sebelum akhirnya ia memilih membukanya, dan..., pupilnya seketika membelalak begitu mendapati boneka kayu berkepala segitiga yang mengisi ruang kosong di samping secarik kertas berbunyi, "Aku mengalahkanmu, Ken-kun!" . Serta-merta, Kaneki menutup kembali kotaknya, lantas berlari kecil meninggalkan kamar sakit, "Maaf, aku harus pergi." Ujarnya terakhir kali.

Lost in Memory

Tokyo ghoul - Sui Ishida.

Anteikustory

Pandangannya terlalu fokus ke arah lembaran lamaran pekerjaan yang semenit lalu tersimpan rapi dalam tas selempangnya. Ini sudah kedua kali Touka mencoba, dan semuanya berakhir gagal. Entah sore ini, ia akan mencoba kembali, itu belum pasti karena yang lebih penting adalah mengusir dahaga dan rasa laparnya di sebuah kedai pizza sederhana. Dari sudut matanya, nampak seorang pelayan tengah membawakan pesanannya.

"Silahkan!" ujarnya ramah sembari meletakkan di atas meja.

"Oh!" sepasang bola mata Touka mengamati sesaat, "Aku seperti pernah melihatmu, apakah kita pernah bertemu sebelumnya." Ia mengoreksi dari ujung helai rambut bercat grey dengan warna raven di tengah hingga pangkal sepatu loafers-nya.

"Aku rasa tidak." Ujarnya disertai senyum hangat. "Sepertinya, nona sedang mencari pekerjaan?" ia menilik ke arah beberan kertas sarat tinta.

"Yeah..., aku membutuhkan uang untuk membeli rumahku kembali."

"Nona bisa bekerja di sini jika Nona berkenan, " ia mengulurkan jabat tangan, "Namaku Haise Sasaki, pemilik kedai pizza Aome."

Touka sudah menghabiskan makanannya setengah menit yang lalu dan tengah berbenah diri untuk pamit. Namun pemilik kedai itu menyerukan sesuatu, "Touka-san, bawalah ini untuk keluargamu." Ia menyodorkan sekardus pipih pizza yang masih menyeruakkan bau harum.

"Em...," perasaannya sungkan untuk menerima, "Terima kasih banyak, Haise-kun!" Imbuhnya sembari menerima pemberian cuma-cuma dan berjalan menjauh, "Aku akan kembali lagi." Pekiknya kemudian.

Anteikustory

"Gajian hari pertama?!" Seru Hinami ketika menatap senang ke arah makanan italia itu.

Sementara Touka hanya bungkam, lantaran sesuatu di samping jendela kamarnya harus ia pedulikan, "Hinami!" Panggilnya tanpa menoleh, " Apakah aku lupa mengganti airnya." Pandangannya amat tertarik iba dengan seoongok kelopak mawar putih dari pengirim tanpa nama yang mulai berguguran, "Oh, astaga!"

"Aa..., Touka-can. Sepertinya ini dari pacar barumu." Ia mengambil catatan dari bagian dalam kardus, "Makanlah dengan baik, Touka-can!" Hinami membacanya. "Siapa dia?"

TBC

Konichiwa, minna-san.

makasih yang udah like dan review...

salam cinta.

Anteikustory