Regret

.

WARNING: Typo, EYD berantakan

.

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Sasusaku

Rate: T

.

.

Chapter 2 : Our relationship

Terlihat Sakura berbaring di kasur queen sizenya, rambut soft pinknya tergerai indah di kasurnya tersebut. Gadis itu menghelakan nafasnya berat dan beranjak dari kasurnya, kaki jenjangnya melangkah ke lemari pinknya. Mata emeraldnya sibuk mencari baju yang pantas untuk dia pakai malam ini, bibir merekahnya tersenyum ketika Sakura menemukan dress putih panjang. Ia lalu melangkah cepat menuju kamar mandi untuk mengganti bajunya dengan dress putih panjang itu.

Bibir merekahnya bersenandung dengan indahnya. Mata emeraldnya melihat pantulan dirinya di cermin yang berbalut dress putih panjang yang ia telah ambil dari lemari pinknya, wajah persolennya semakin cantik dengan make up simple yang dipakainya.

"Sempurna." ucapnya, jari lentik Sakura mengambil handphone yang berada di kasur pinknya. Dia terdiam sejenak seperti mempertimbangkan sesuatu, tetapi lamunannya terbuyar oleh suara dering handphone yang berada di tangan persolennya.

"Hm... Sakura, aku di depan." Ucap Sasuke yang langsung memutuskan hubungan telponnya.

Sakura segera melangkahkan dirinya keluar dari kamar yang bertemakan pink itu, ia kembali teringat di benaknya bagaimana Sasuke mengajaknya untuk pergi ke pesta yang diadakan oleh perusahaan Sasuke. 'Ayah dan ibu ingin kamu datang' begitulah Sasuke mengajak Sakura, walaupun dengan embel-embel orang tuanya, Sakura tetap merasa bahagia karena Ia bisa bersama Sasuke dimana kebahagiaan itu tumbuh.

"Sakura" panggil lelaki berambut raven itu, mata emerald Sakura terpaku ketika melihat penampilan Sasuke, sangat tampan.

Sasuke melangkahkan kakinya menuju mobil sport hitamnya diikuti dengan Sakura dibelakangnya. Selama perjalanan menuju pesta, hanya Sakuralah yang berbicara banyak untuk memecah keheningan diantara mereka. Sementara Sasuke hanya menjawab dengan gumaman singkatnya.

Terlihat mobil sport hitam itu memasuki hotel bintang lima dan berhenti di dekat pintu masuk hotel tersebut. Sakura dan Sasuke turun dari mobil itu, terlihat sesekali Sasuke menyapa tamu-tamu yang berada disana, sementara Sakura tersenyum menyapa mereka dengan senyuman indahnya.

Selama pesta berlangsung, Sasuke sibuk berbicara dengan tamu-tamu. Terlihat Sakura mulai bosan dengan pesta ini, Ia mulai melangkahkan dirinya untuk mencari sesuatu yang bisa membunuh rasa bosannya. Ketika Sakura sedang berjalan-jalan di sekitar hotel ini tangannya ditarik pelan oleh seseorang.

"Sakura aku mencarimu dari tadi." ucap lelaki berambut raven itu, mata kelamnya menatap tajam ke arah Sakura.

"Sasuke-kun, maaf tadi aku bosan jadi aku jalan-jalan sebentar." Sakura mengalihkan pandangannya ke lantai marmer di bawah kakinya.

"Hm... Sakura, ada hal yang harus ku urus. Bisakah kau pulang sendiri?" tanya Sasuke dengan nada datar.

"Tidak apa, aku bisa panggil taksi" Jawab Sakura sambil tersenyum, walaupun begitu mata emeraldnya menatap Sasuke dengan tatapan kecewa.

"Hm..." Sasuke melepaskan tangannya dari lengan Sakura dan pergi menjauh meninggalkan Sakura sendiri.

Sakura POV

Ku helakan nafasku berat, aku sedikit kecewa Sasuke-kun tidak mengantarku pulang. Aku sadar aku tidak boleh egois, jika aku egois itu hanya akan menambah masalah dalam hubungan kita. Ketika ku langkahkan kaki ku untuk pulang tiba-tiba aku teringat sesuatu, aku ingin menanyakan padanya apakah dia bisa bertemu denganku besok untuk makan bersama. Ku langkahkan kembali kaki jenjangku untuk mencari Sasuke-kun.

Ketika ku sibuk mencari keberadaan Sasuke-kun, mata emeraldku melihat Sasuke-kun di ujung lorong hotel. Bibir merekahku tersenyum ketika aku menemukannya, aku melangkah mendekati Sasuke-kun. Ketika ku berusaha mendekatinya, aku mendengar Sasuke-kun berbicara dengan seseorang.

"Karin" Langkahku terhenti ketika mendengar siapa yang di panggil Sasuke-kun tadi. Mata emeraldku melebar ketika ku melihat Sasuke-kun mengurungi Karin dengan tangan kirinya. Karin terpojok di dinding dengan Sasuke-kun yang berada di depannya, ku sandarkan punggungku di dinding untuk menyembunyikan diriku.

"Dimana kekasih tercinta mu Sasuke-kun" Sindir Karin.

"Aku bersamanya tadi dan sekarang aku ingin bersamamu" ucap Sasuke-kun, ku rasakan amarahku mulai memuncak tetapi ku berusaha untuk tetap menahannya.

"Jika ingin bersamaku mengapa kau tidak tinggalkan saja dia?" Mendengar hal itu ku kepalkan tanganku emosi, ku rasakan gelisah menjalar dalam diriku takut dengan jawaban yang di berikan oleh Sasuke-kun.

"Kita sudah membicarakan ini sebelumnya Karin" Ucap Sasuke-kun dengan nada dingin

"Aku tau... aku tau kau mencintainya dan kau tak bisa meninggalkannya tapi kau bosan dengannya dan kau menjadikan ku sebagai pelampiasan dari rasa bosanmu itu" Sindir Karin dengan entengnya, aku mencengkram kuat dress putihku takut jika kenyataannya Sasuke-kun memang sudah bosan denganku.

"Karin" Ku dengar suara dingin Sasuke-kun memanggil nama sekretaris sialannya itu.

"Tak apa sayang, jika kau hanya menjadikan ku pelampiasan rasa bosanmu dengannya. Asalkan kau selalu bersamaku itu sudah cukup bagiku" Ucap Karin, ku rasakan air mata sudah deras mengalir di pipiku ketika ku melihat Karin memeluk leher Sasuke-kun sementara Sasuke-kun membalasnya dengan melingkarkan tangannya di pinggang Karin.

Aku tak bisa lagi menahan amarah yang berkecamuk di dalam diriku, ku langkahkan kaki ku untuk berlari menjauh dari tempat ini. Ku berlari tak tentu arah hingga ku rasakan hujan turun membasahi kulit persolenku seakan langit ikut bersedih dengan apa yang ku alami sekarang.

Sakura POV end


Terlihat lelaki berambut merah sedang duduk santai di sofa besar berwarna putih, mata hazelnya menatap serius ke arah buku yang dia baca sesekali. Dia mengerutkan dahinya dan mengangkat satu alisnya, tetapi tiba-tiba kegiatan membacanya terganggu oleh suara ketukan pintu. Lelaki itu beranjak dari tempat duduknya dan membuka pintu rumahnya.

"Sakura, kenapa kamu ba... astaga Sakura apa yang terjadi!" Mata hazelnya melebar ketika melihat penampilan gadis berambut soft pink yang berada di depannya.

"Sa...sasori nii-chan" Panggil gadis itu dengan dress putihnya yang kotor dan basah, rambut soft pinknya yang awalnya tertata rapi menjadi basah dan berantakan. Wajah persolen yang awalnya terbalut oleh make up luntur begitu saja, terlihat dia menenteng high heels putih di tangan kanannnya.

"Mana Sasuke, bukannya kamu bersamanya tadi?" Tanya Sasori dengan nada dingin mata hazelnya mencari-cari keberadaan lelaki itu. Mendengar itu Sakura hanya bisa tertunduk.

"Jawab Sakura! mana lelaki brengsek itu, apa dia penyebab semua ini!" Teriak Sasori dengan emosi, tangannya mencengkram erat bahu Sakura. Mata hazel menatap emerald itu tajam, meminta penjelasan dengan apa yang dia lihat sekarang.

Bibir pucat Sakura lalu terbuka, seperti ingin mengungkapkan sesuatu. Tapi ternyata, selang beberapa lama, tetap tak ada kata yang mampu terucap. Semua yang ingin disampaikannya seperti tercekat bersama tangisnya yang pecah.

Melihat itu Sasori hanya bisa menarik Sakura ke dalam pelukannya dan mengelus pelan rambut soft pink sakura.


Terlihat gadis berambut soft pink duduk di Restoran sushi ternama di Jepang. Mata emerald-nya sibuk mencari seseorang yang sedang ditunggunya, mata emerald-nya berhenti mencari ketika handphonenya berdering.

"Sasuke-kun dimana? Aku menunggu ditempat biasa" Sakura bertanya dengan semangat, dalam setiap ucapannya terdapat harapan agar dirinya dan Sasuke dapat bertemu, karena semenjak kejadian itu Sasuke-kun susah sekali untuk ditemui bahkan dihubungi.

"Hm... Sakura aku tidak bisa kesana" jawabnya dengan nada dingin dan datar seperti biasa.

"Kenapa? Ta...tapi, tadi Sasuke-kun berkata kalau kita bisa bertemu." Sakura membalas dengan nada kecewa.

"Aku ada urusan mendadak." Sasuke menjawab dengan dingin dan memutuskan sambungan teleponnya.

Sakura POV

Ku dengar sambungan telpon diseberang sana sudah ditutup, mengetahui hal itu membuatku mencengkram handphone yang berada ditangan persolenku dengan erat. Semenjak kejadian di pesta itu, aku berusaha untuk tetap tegar mempertahankan hubungan kita yang sebenarnya sudah rapuh ini.

"Aku akan ke kantor Sasuke-kun" Ucapku pada diriku sendiri, aku beranjak dari tempat yang ku duduki, kaki jenjangku meninggalkan Restoran sushi itu.

Ketika aku berada dikantor Sasuke-kun, aku melangkahkan kaki jenjangku keruanganya. Sebelum sempat tanganku memutar kenop pintu, aku mendengar suara perempuan mendesahkan nama Sasuke-kun. Kali ini aku tidak bisa menahan amarahku lagi, ku buka pintu yang ternyata tidak dikunci dan ku lihat Sasuke-kun sedang berciuman dengan sekretarisnya Karin.

"Sasuke-kun!" Teriakku marah, mata emerald-ku mulai mengabur karena pelupuk mataku mulai tergenang oleh air mata.

"Sakura! Apa yang kau lakukan disini?" Tanyanya sambil membuat jarak antara dia dan Karin.

"Ini yang kau sebut urusan!" Teriakku, setetes demi setetes air mataku mulai jatuh di pipiku. Mendengar itu Sasuke-kun hanya terdiam dan mengalihkan pandangannya.

"Kau! Keluar kamu dasar wanita murahan!" Aku menarik tangan Karin dengan kasar menuju keluar ruangan Sasuke-kun.

"Sakura berhenti!" Sasuke-kun berteriak sambil menarik lenganku.

"Lepaskan! Kenapa Sasuke-kun lebih memilih pelacur ini daripada aku?!" Ku rasakan air mataku semakin deras mengalir di pipiku. Kulihat Karin pergi menjauh dari ruangan ini, sementara Sasuke-kun menatap ku dengan tatapan dinginnya.

"Sa...Sasuke-kun sepertinya hubungan kita hanya sampai disini a...aku capek Sasuke-kun, Seakan hanya aku yang selalu menjaga hubungan ini " Ucapku sambil mengepalkan tanganku, mataku mencoba menghindar dari mata kelam yang menatap tajam ke arahku.

"Kamu ingin hubungan ini berakhir?" Sasuke-kun bertanya padaku, mata kelamnya menatap dingin ke arahku. Tiba-tiba, Sasuke-kun mencengkram erat bahuku. (*Editor note : Sasuke-kun mulai menggila*)

"Sakura, kau mungkin bisa memutuskan hubungan kita. Tapi kau tak akan pernah bisa pergi dariku, tak akan pernah!" Mata emerald-ku melebar ketika mendengar apa yang dikatakan Sasuke-kun barusan. Mata kelamnya seolah mengunci pergerakan ku untuk tidak pergi darinya. Ku tersadar lalu ku hempaskan kasar tangan Sasuke-kun dari bahuku.

"Kau gila, kau egois!" Teriakku emosi, aku berlari berusaha untuk pergi darinya tetapi ku dengar dia meneriakkan namaku, ku dengar dia berlari mengejarku.

Ku terus berlari berusaha untuk pergi darinya, tetapi ketika ku langkahkan kakiku ke jalan raya mata emeraldku melebar. Aku melihat sebuah truk melaju kencang ke arahku, tak sempat menghindar ku rasakan badanku terhempas dan seketika semuanya menjadi gelap.

Sakura POV end


Sasuke POV

Ketika mata kelamku melihat Sakura terus berlari berusaha untuk pergi dariku, kaki ku berusaha secepat mungkin untuk menggapainya. Tetapi mataku melebar ketika melihat sebuah truk melaju kencang dari arah kanan Sakura, berusaha aku untuk menariknya, tetapi hal itu sudah terlambat. Aku melihat badannya terhempas keras, suaranya bagaikan mimpi buruk bagiku.

Ku berlari secepat mungkin, tanganku meraih tubuh ringkih itu. Aku melihat darah membalut kulit persolennya, keringat dingin pun mulai menjalari tubuhku. Rasa takut mulai membelenggu ku jika aku tak akan pernah melihat lagi senyum cantik di bibir merekahnya. Segera ku angkat tubuh rapuh itu menuju rumah sakit.

Sesampainya di rumah sakit, Sakura langsung di larikan ke ruang operasi. Ku lihat pintu ruang operasi tertutup dan lampu ruangan tersebut menyala, aku berusaha untuk menenangkan diriku dengan duduk di ruang tunggu. Tetapi hatiku tidak bisa tenang memikirkan orang yang ku cintai di dalam sana sedang berjuang melawan kematiannya. Aku menyadarinya aku salah, telah melampiaskan rasa bosanku dengan mengorbankan cinta tulus Sakura. Aku menyesal dengan apa yang ku perbuat selama ini pada Sakura.

Ketika pikiranku berkecamuk dengan apa yang ku perbuat selama ini, tiba-tiba kemejaku di tarik oleh lelaki berambut merah yang tak lain adalah kakak Sakura. Mata hazelnya menatap ku dengan penuh emosi dan setelah itu ku rasakan tinjunya mengenai wajahku.

"Kau... kau lelaki bajingan! Kau apakan Sakuraku!" Teriaknya padaku sambil menarikku berdiri, tangannya mencengkram kuat kerah bajuku.

Aku tau aku pantas menerima itu, bahkan pukulan saja tidak cukup untuk membayar apa yang telah ku perbuat selama ini pada Sakura. Ketika Sasori ingin melayangkan lagi tinjunya ke wajahku terdengar suara pintu ruang operasi terbuka.

"Siapa diantara kalian keluarga dari pasien tersebut" Mendengar itu bibir pucatku terbuka, Aku ingin sekali menanyakan keadaan Sakura kepada dokter itu. Tetapi niatku tercekat ketika Sasori sudah lebih dulu berbicara.

"Aku...aku kakaknya" Ucapnya sambil berjalan masuk dalam ruang operasi, ku langkahkan kaki masuk ke dalam ruang operasi itu.

"Tetap disitu bajingan!" Mendengar hal itu ku hentikan langkahku dan kembali menunggu dengan gelisah.

Dua jam telah berlalu, Aku masih setia menunggu kabar Sakura berharap jika tidak terjadi apa-apa padanya. Aku melihat ruang operasi terbuka dan terlihat sosok dokter paruh baya keluar ruangan tersebut, seketika itu segera ku langkahkan kaki ku mendekati dokter itu.

"Bagaimana keadaan Sakura, apa dia baik-baik saja?" Tanyaku cemas.

"Maaf, dia tidak bisa di selamatkan" Ketika mendengar jawaban dari dokter itu duniaku seakan hancur. Tanpa sadar air mataku sudah mengalir di pipiku.

"Tidak mungkin, itu bohong!" Teriakku, ku coba menenangkan diriku dan mulai berpikir.

"Jika dia sudah mati, mengapa Sasori tidak keluar dari ruang operasi dan tidak berusaha untuk membunuhku disini" Tanyaku curiga, mata kelamku menatap tajam ke arah lelaki paruh baya itu, dia hanya bisa terdiam dan berusaha menghindar dari tatapan mataku. Melihat reaksinya seperti itu aku langsung melangkahkan kakiku masuk ke dalam ruang operasi, mataku melebar ketika tidak menemukan sosok Sakura maupun Sasori di ruangan itu.

Ku alihkan pandanganku ke arah pintu belakang ruang operasi yang terbuka. Lalu ku berlari keluar ruang operasi, Aku melihat Sakura dibawa oleh Sasori masuk ke dalam Ambulance. Ketika aku melihat mobil itu mulai pergi menjauh, aku berusaha mengejar secepat mungkin. Tapi mobil itu sudah pergi menjauh dari pandanganku.

"Arghh... Sakura!" Teriakku sambil menarik rambut ravenku frustasi, berharap jika aku bisa secepatnya bertemu dengannya.

.

.

To be continued

.

Akhirnya chapter duanya jadi juga T_T

Banyak yang bilang kalau chapter satu kependekan setelah ku perhatikan ternyata memang kependekan, maafkan aku (digebuk masa)

tapi next chapter lagi aku akan berusaha untuk lebih panjang T_T

Review? ^^