NaruXFemSasu

M for Lemon full scene

OOC berat, Little bit Humor (gagal), abal, nista, dan gejenesss

Naruto Desclaimer by Masashi Kishimoto


Antara aku, tetangga dan Nafsu bejat ku

AnnieSakkie


.

.

.

Enjoy reading Minna

_Uchiha Sasuke's Mansion pukul 11 malam_

"Apa?" Teriak ku seperti gadis yang akan kehilangan keperawanan

"Apakah kau keberatan, Naruto?" tanyanya dengan nada berat yang menandakan wanita cantik ini terangsang hebat.

"Tapi Sasuke. Kau yakin dengan ini?" Sejujurnya aku ingin sekali mengganggahi wanita cantik ini, namun aku masih mengingat bahwa dia memiliki anak dan suami. Mana mungkin aku tega berbuat seperti itu. Aku buka pria kesepian yang berbuat bejat dengan sembarangan wanita. Well, aku memang pria kesepian.

"Ku mohon padamu—" mohonnya dengan tatapan sayu yang maut. "Aku butuh penismu." Tambah Sasuke yang hanya ku balas dengan tegukan ludah paksa.

Apa kepala wanita ini ada yang tidak beres. Meminta di perkosa oleh orang asing seperti ku. Yang menjadi TETANGGA nya. Oke, aku memang sedang ingin berhubungan seks saat ini, tapi bukan pada istri orang dan parah nya lagi dia tetangga ku. Bagaimana kalau ada yang tahu tentang perselingkuhan ini. Walaupun ini tidak bisa disebut berselingkuh karena, aku belum pernah berhubungan dengan Sasuke sebelumnya tapi tetap saja. Apa ini juga bisa di sebut dengan menyeleweng. Kami baru bertemu tadi sore, kemudian aku diundang makan malam bersama, lalu wanita cantik ini minta di gagahi. What The Hell, ini membuat ku bingung.

"Sasuke, tunggu jangan—" Ucapanku terhenti dengan sepihak karena kini bibirku sedang di lumat kecil oleh Sasuke. Bibir merah muda miliknya begitu lembut saat menempel pada ku.

"Jangan menolak ku, Naruto. Ku mohon." Pinta wanita Uchiha ini dengan wajah yang sangat imut dan sensual. Oh My God, tolong cabut nyawaku bila ini mimpi. Ku cubit sedikit pahaku, aww…sakit. Berarti ini bukan mimpi. Ini NYATA. Kami-Sama, Dewa Janshin dan kawan-kawan, tolong aku. Aku sudah tidak tahan lagi dengan makhluk pembawa dosa mu ini.

"Bagaimana kalau ada yang tahu?" tanya ku gusar dengan tanganku yang mulai membingkai wajah cantiknya. Pipinya sungguh mulus dan licin. Terlebih kulitnya putih tanpa noda sedikitpun. Aku terpesona dengan aura sensual istri dari Neeji ini. Bulu mata yang tebal dan lentik, hidung bangir dan bibir merah muda tipis yang sensual. Lelaki bodoh mana yang tidak mau di suguhi tubuh istri nakal ini.

Ia menggelengkan kepalanya seolah sebagai jawaban lalu menciumi telapak tanganku yang membingkai wajah nya. "Tidak ada yang tahu. Hanya ada kau dan aku di sini, oke." Ucapnya yang hanya kubalas anggukan cepat. Aku sungguh tidak tahu berbuat apa lagi. Tidak mau menuruti tentunya akan sayang sekali, tapi aku juga tidak bodoh karena Sasuke adalah istri orang. Dua-duanya sangat tidak menguntungkan. Kami dua orang hanya kesepian dan tidak memiliki hubungan apapun. Bagaimana kalau dia menyesal nantinya. Aku tidak ingin memiliki image yang buruk di depan tetanggaku.

Ia mendekat padaku yang masih setia duduk di atas sofa. "Kita lakukan disini atau dikamar ku?" tanyanya yang sungguh membuat telingaku panas. Nada suaranya sangat rendah sanggup menggetarkan jiwa. Apa dia akan melakukan ini bila meminta jatah pada suaminya. Pasti si cowok gondrong a.k.a suaminya bahagia bukan main memiliki istri yang sangat nakal seperti ini. Tidak meminta pun akan datang dan menawarkan diri. Ini sih istri idaman para suami.

Ku beranikan diri untuk menyesap harum tubuhnya, lewat leher jenjang Sasuke. "Terserah kau Sasuke-Chan." Jawabku yang sudah parsah. Ingat pasrah pemirsa.

Ia menggeliat kecil dan menutup bibirnya seolah meredam desahan. Rupanya Sasuke masih sadar dengan posisinya walaupun ia sudah terlihat bernafsu sekali. Ia tidak akan mendesah keras saat di ruang tamu seperti ini. Bagaimana kalau setan kecil-Sarada-dengar ada ribut-ribut di sini. Tidak. Setan kecil yang berwujud bocah manis umur 7 tahun itu, tidak boleh tahu. Aku tidak ingin dia tahu.

"Ki—kita di kamar saja." Ucapnya tergagap dan tersendat karena kini tanganku semakin aktif di dada besarnya. Wajahnya yang memerah terlihat begitu seksi dan manis. Hebat sekali istri dari Neji ini, ia dapat menyembunyikan wajah nakalnya dengan ekspresi datar pada orang lain. Aku kan juga orang lain, kenapa ia mau menunjukannya padaku. Aku malas berpikir yang lain-lain. Aku harus fokus pada tubuh sintal Sasuke yang kini berkeringat.

"Dimana pun tempatnya aku tidak keberatan." Ucapku lalu menggendong tubuhnya. Aku harus memberi kesan romatis pada Sasuke.

Ia tersentak kaget lalu memekik kecil.

"Turunkan aku Naruto. Bagaimana kalau anak ku tahu?" Ia berkata seolah malu tapi mau. Tsundere. Tipikal.

"Tidak akan tahu. Dia pasti sudah tertidur pulas." Jawabku asal saja. Aku ingin segera membuka pakaian Sasuke lalu menyesap apa saja yang ada di dalam sana. Otak ku sudah panas oleh hal-hal yang berbau hentai dan fulgar. Semua hanya berisi pikiran kotor dan bejat. Apalagi celana ku semakin sempit dengan bertambah besar ukuran kejantanan mungilku yang sejak tadi berdiri menantang akibat obrolan panas. Tenang saja -sesuatu yang dibawah sana- malam ini kau akan memasuki lubang hangat dan lembab. Hahahaha…aku pasti sudah gila. #Author pingsan#

.

.

"Hmmph..mpckk." bunyi decak saliva yang berkumpul di mulut ku terdengar. Tentu saja karena saat ini kami –aku dan Sasuke- sedang memulai sesi bercinta dengan ciuman panas. Ia begitu pintar meliukan lidah kecilnya di dalam mulut. Aku mengeryit saat lidahku di hisap dengan kalap oleh bibir mungilnya. Wanita ini benar-benar tidak sabar rupanya, dari cara dia berciuman sudah sangat membuktikan segalanya.

"Enggh—ahhn." Lenguhnya kecil saat ku gigit gemas bibir bawahnya. Sungguh kenyal benda mungil yang satu ini.

"Ssshh—akh. Naruto..hah..hah." Ia lepas panggutan panas ku saat ku jatuhkan tubuhnya di atas ranjang empuk. Ia terengah dan itu menambah erotis wajahnya. Ku usap jejak basah saliva yang merembes keluar di sudut bibirnya. Sialan. Dia benar-benar sudah membakar habis kewarasanku.

"Akh Naruto. Aku sudah tidak tahan." Rengek Sasuke manja seakan tidak sabaran. Aku tersenyum melihat ekspersinya. Walaupun kamar ini remang, aku tetap bisa melihat wajah nya anggun itu berubah layaknya pelacur kelas atas yang minta di hajar habis-habisan.

Ku dekatkan bibirku di telinganya. Sedikit mendesah kecil aku menggodanya "Tidak sabar, eh?"

"Engh—Sssh." Geliatnya kecil sembari menggelengkan kepala. Hanya dengan sentuhan kecil saja sudah membuatnya panas. Benar-benar wanita bernafsu besar.

Ku naikkan wajahku hingga aku bisa menatap wajah cantiknya. Ku elus pelan wajahnya dengan gerakan yang melayang. Sasuke hanya terpejam dan lenguhan kecil tak lepas dari bibir mungilnya.

"Kau benar-benar seperi pelacur, Sasuke. Apakah kau selalu menunjukan wajahmu ini pada suami mu?" godaku dengan suara serak dan mencekal kedua tangannya di atas kepala. Ia merengut kesal yang kubalas dengan kekeh kecil.

Sasuke mengangguk kecil seperti terhipnostis. "Vagina ku basah sekali. Tolong jangan siksa aku." Mohon nya dengan kerlingan nakal sembari menggesek kedua pahanya dan itu membuat lututya mengenai selangkangan ku. Uuh..usahanya yang seperti itu sempat meruntuhkan imanku. Tapi tenang, aku bukan pria yang terburu-buru dalam urusan ranjang. Aku lebih suka melihat partner ku tersiksa dan meminta sendiri mau gaya yang seperti apa. Aku pendominasi namun aku tidak ingin pasanganku pasrah seperti orang di perkosa. Aku lebih tertantang dengan wanita yang ganas seperti Sasuke.

"Bersabar lah. Aku akan memuaskanmu. Kau mau aku yang seperti apa?" tanya ku lalu ku kecup mesra kedua pipi tembamnya. Ia mendesis kecil sembari menutup mata. Ia terlihat sangat menikmati sentuhan kecil ku yang melayang di atas kulitnya. Apa dia benar-benar sedang ingin di jamah. Hahaha, sumpah aku sudah tidak kuat dan ingin ku masuki lubang vaginanya.

"Ter..terserah kau Naruto." Jawabnya tersendat dengan bibir sedikit membuka dan meneteskan saliva. Aku menyeringai kecil. Merasa di untungkan dengan penerangan yang minim di kamar ini, karena Sasuke tidak dapat melihat seringaian setan yang menghiasi wajahku. Aku yakin wajah ku sekarang pasti seperti om-om mesum.

Ku elus rambut panjang hitamnya yang tergerai tak beraturan namun membuat sosoknya terlihat semakin sensual. "Benarkah. Apa kau sudah tidak sabar ingin ku jamah, ku kecup, ku sesap dan ku remas. Heh, Sasuke." Godaku dengan tangan yang menjelajah kesana kemari. Mengusap lembut tubuhnya yang masih berbalut mini dress yang berwarna hitam.

Sasuke mengangguk pelan lalu mengelus lembut pipiku. Matanya nanar namun tersembunyi gairah tinggi di sana. "Lakukan apapun padaku. Keras atau lembut aku akan menyukai nya." Mohonnya lagi dengan kerlingan nakal. Ku teguk ludahku dengan susah payah. Wanita ini ingin menantangku rupanya. Baiklah ku pastikan kau tidak akan sanggup berjalan esok hari. Aku juga sudah lama membutuhkan sentuhan wanita di tubuhku. Mungkin aku tidak akan berbuat lembut. Aku meyukai seks yang kasar karena membuat permainan menjadi panas. melihat partnerku menangis dan memohon ampun, itu yang biasa aku lakukan.

"Baiklah. Jangan melarang atau menghentikan ku." Bisikku kecil dengan jilatan basah pada telinganya. Ia mendesis kecil dan mengggeliat.

Ia menatap mata biru ku dengan nanar. Mata hitam yang menghopnitis ku saat pertama kali bertemu, kini telah berubah. Obsidian itu terlihat sayu dan pasrah seakan tunduk dengan kuasa ku. "Aku tidak akan menghentikan mu." janji Sasuke lalu berusaha membuka resleting pakaiannya. Aku menahannya lalu mencium telapak tangannya. Tidak, dia tidak boleh membuka pakaian nya.

"Biarkan saja pakaian itu. Kau terlihat sangat cantik dengan dress ini." Ucapku jujur lalu mengecup dahi, mata, hidung, pipi lalu bibirnya. Ciuman panas kembali terjadi karena aku sudah sangat ketagihan dengan rasanya. Ini sungguh nikmat apalagi liukan mesra lidah panasnya membuat ku semakin kuwalahan.

"Akh..Naruto..hhh." Desah Sasuke kecil saat mulai ku endus leher jenjangnya. Aroma tubuhnya benar-benar seperti madu yang membuatku mabuk. Rasanya manis dan begitu lembut. Ku jilat melayang lalu ku gigiti kulitnya.

"Enggh—ja..jangan buat tanda. Akh..nanti suamiku—" Kata-katanya tersendat seakan tercekik di tenggokan.

"Bukankah kau berkata tidak akan menghentikan ku."

"Akh!—ku..kumohon!—Narutohh—" Pintanya dengan nada frustasi. Ku tatap wajahnya yang kini basah oleh keringat dan saliva. Ku usap dahinya lalu ku kecup singkat bibir merahnya.

"Serahkan semuanya padaku, oke."

"Narutohh. Buat aku puas."

Kecupanku melayang di atas tubuhnya yang masih lengkap oleh pakaian. Dada besarnya, perut, lengan, lengan dan paha, semuanya tidak luput sedikit pun dari mulutku. Kembali ku sesap leher putihnya yang kini terlihat mengkilat karena berbaur dengan keringat. Aroma tubuhnya benar-benar feromon yang menyesatkan iman. Ku landaskan ciuman mesra di kedua dada besarnya. Walaupun ini masih di atas pakaian, entah kenapa membuat tubuhkuku bergetar. Apalagi respon Sasuke yang luar biasa.

"AKHH!—yah..situ." Rancaunya keras dengan kepala terangkat keatas. Ia remas sprei ranjang hingga berantakan dan kusut. Tubunya bergetar hebat, padahal ini hanya kecupan panas di atas dadanya. Ku gigit gemas puncaknya lalu ke remas-remas payudaranya yang masih bebas menggantung di sana. Ku remas pelan namun sedikit kasar. Besar dan kenyal. Aku sangat menganggumi dadanya yang masih kencang walaupu memiliki anak.

"Arrggh!—e..enak. Akh." Ku lirik ekspresi wajahnya nya terpejam penuh kenikmatan. Alisnya mengkerut dan bibirnya terbuka sensual. Sepertinya ia sangat senang bila di sentuh di kedua payudaranya.

"Apakah enak. Bila aku mencium dada mu seperti ini?" tanyaku dengan kerlingan nakal. Ia mengangguk lalu berkata litih.

"Lagi. Lakukan lagi. Aku suka." suaranya bergetar dan serak.

"Tidak semudah itu. Sasuke."

Ku singkap mini dressnya hingga ke bagian perut. Ku teguk ludahku lagi. Perut yang datar dan putih mulus. Tidak ada noda sedikit pun disana. Dia begitu erotis dengan menggeliat seperti cacing.

"Akh..Naruto. Jangan melihat perut ku seperti ini." Katanya malu lalu menutupinya dengan tangan. Ku singkirkan tangannya lalu mengecup ringan perut datar tersebut. Lembut dan menuntut. Kuberanikan lidah ku untuk mencoba rasanya. Akh, lembut dan manis.

"Sssh!—akhhh. Akhh." Desahnya keras menggaung di sudut kamar. Ku tulikan pendengaranku dari rintihan kenikmatannya, Kulitnya begitu licin dan halus membuatku ketagihan. Secara perlahan ku jilat pusar kecilnya dengan gerakan melingkar lalu ku gigit tengahnya.

Sasuke melengkungkan tubuhnya dan suara desahannya keras seakan tidak tahan. "Akhhh..ouh..enggh." Tubuhnya bergetar hebat. Aku bisa merasakannya dan itu malah membuatku semakin mesra menjamah pusar seksinya. Seandainya pusar ini terdapat percing, mungkin akan terlihat menakjubkan.

Nafsu sudah memenuhi otakku. Aku benar-benar menyerah saat ini. Dengan cepat ku lepas kemeja yang seakan menghalangi pekerjaan ku. tidak peduli kemeja itu berharga mahal dan hadiah ulang tahun ku dari Hinata, ku sobek paksa hingga kancingnya berhamburan lepas dan menggelinding di bawah.

Aku berdiri dan tidak bermaksud untuk menindihi tubuhnya yang terlihat berantakan dan seksi itu. Rambutnya nampak awut-awutan serta pakaian yang terbuka hingga mengekspos bahu putihnya. Malaikat penuh dosa ini, benar-benar sanggup membuat mata ku gelap. Tidak peduli dia istri orang atau tetangga ku, aku akan menganggahi dan memperkosa nya hingga pingsan. Sudah 3 tahun aku hidup sendiri tanpa jamaahan lembut dari seorang wanita. Malam ini, akan ku buang semua harga diri dan memilih menyerah pada nafsu ku untuk meniduri wanita ini. Kini aku hanya bisa menuruti naluriku sebagai lelaki yang kesepian. Yah, karena aku dan Sasuke sama-sama kesepian. Kami hanya bersama karena kebetulan. Setelah semua ini selesai, dia akan menjadi istri Neji dan aku akan melupakan semuanya. Malam ini biarlah kita melebur menjadi satu untuk memuaskan hasrat. Hanya malam ini. Maafkan aku Tuhan, aku adalah lelaki lemah dan butuh pelampiasan.

Ku usap perut ku dengan gerakan sensual dan menatap intens matanya "Kau suka dengan ini?" tanyaku pada Sasuke yang kini tertuduk lemas di ranjang. Aku tahu matanya tidak berkedip memandangi perutku. Walaupun aku dokter, aku sering olah raga di rumah. Tak heran, aku memiliki 6 otot abdomen sempurna.

Sasuke mengangguk kecil lalu menjilati jemarinya sendiri hingga basah ujungnya. Ia terlihat sangat lapar dan tatapannya yang seperti itu membuatku menyeringai kecil. Ia melempar begitu saja dressnya hingga melayang jatuh di lantai bawah. Kini tubuh itu tidak lagi terlindung oleh pakaian. Dada besarnya masih terbungkus oleh bra namun dia sudah telanjang di mataku.

"Kau mau ini Sasuke-Chan." Suaraku terdengar serak dan rendah. Aku benar-benar sudah tidak tahan dengan ini semua. Perlahan dan pelan ku usap kejantanku yang masih terbungkus oleh celana dalam. Membuat gerakan mengocok dan memutar di atas kain segi tiga dan itu membuatku mendesah kecil. Ia terlihat meneguk ludah lalu Ia mengangguk pasrah.

"Aku mau penismu. Akh!—" Ia mendesah sendiri tanpa sebab lalu memperlihatkan vaginanya yang masih tersembunyi di balik celana dalam tipisnya di hadapnku. Ia buka lebar pahanya di bibir ranjang. Ku telan saliva ku yang hampir menetes. Sialan. Wanita penggoda sialan. Dia sudah membuatku frustasi seperti ini.

Aku benar-benar tidak sanggup menahan sesuatu yang menegang ini. Tapi bagaimanapun aku harus membuat wanita ini tunduk di bawah pesonaku.

Aku perlahan mendekat kearahnya tanpa melepaskan tatapan intens pada kedua matanya.

Ku tatap lapar, tubuhnya yang kini hanya tinggal bra dan celana dalam hitam. Ukh..payudara yang hebat sekali. Apalagi kulitnya putih seakan menyala di malam hari.

"Naruto." Panggilnya dengan suara rendah dan sungguh seksi. Ia mengerling genit dan sukses membuat adik kecil a.k.a penis ku semakin tegang. Sumpah ini sakit sekali.

Manik biru ku tak bergeser dari tubuh indahnya. Pahatan sempurna itu begitu menggairahkan. Ku tatap baik-baik dan merekamnya di otakku. Seolah ini adalah pertemuan terakhirku dengan sosok malaikat pendosa ini. Sungguh aku tidak menyangka Sasuke benar-benar cantik tanpa pakaian.

"Sasuke." Ku tindihi tubuhnya yang seakan mengandung magnet itu. Ku landaskan ciuman berkali-kali pada bibirnya hingga membengkak. Namun biarlah, aku tidak peduli dengan bibirnya.

"Akh Naruto. Masuk kan. Akh." Desahnya nikmat saat ku gesek lembut vagina basahnya. Wow, apa ini kenapa basah sekali.

"Kau benar-benar tidak sabar, eh?" godaku lalu mengulum puting kecokelatannya yang mungil itu.

"Ssssh…enghh..ahnn." Desisnya layaknya ular yang kepanasan. Aku tahu dia pasti akan tidak tahan dengan terpaan kenikmatan ini.

Klitorisnya membengkak dan menonjol keluar. Aku benar-benar ingin meneguk habis cairan cinta miliknya ini. Ku jamahi mesra bagian yang menjakubkan ini.

"Akh..akh. Naru aku akan..." desahnya keras memecahkan keheningan malam. Ku hentikan gesekan tanganku lalu menunduk mengahadap vaginanya. Benar-beaar vagina yang cantik dan indah. Bulu-bulu halusnya sangat mengairahkan dan aroma nya begitu menyengat membuatku mabuk dalam dosa besar.

"Aku akan meminum semua ini." Ucapku pelan lalu menjilat vaginanya.

"Ssssshh!—Akhhnn!" Jeritnya kecil sembari melengkungkan punggungnya. Ia jambak kuat rambutku saat ku gigiti klitorisnya.

"Slurph..slruuph..apakah enak, Sasu?"

"Enggh—iya. Nikmat." Jawabnya jawabnya dengan gerakan naik turun painggulnya.

Ku hentikan jilatan ku pada vaginanya dan ku dengar ia mendesah protes. Ku usap jejak basah cairannya di sudut bibirku. Ia menatapku dengan nafas terengah dan tersengal. Aku memang belum membebaskannya dengan orgasme.

Ku tepuk pipinya lalu berbisik kecil.

"Lakukan pada penisku. Dia ingin mulutmu yang hangat ini." Ucapku dengan mengusap bibirnya. Sasuke mengangguk kecil sebagai jawaban. Akh, dia penurut sekali.

Ia jongkok di bawah ranjang dan aku duduk di tepinya. Ku tatap sosoknya yang tampak begitu mempesona dari atas. Payudara besar yang menggantung dan paha basah akibat cairan kewanitaan. Ini benar-benar pemandangan yang luar biasa. Aku hampir mimisan rasanya.

"Ssshh..Sasu." desis ku kecil saat ia jilat batang penisku dengan perlahan. Lidah basahnya sangat panas saat meliukan disana. Perlahan ia kecup mesra puncak penis lalu melahap habis batangnya hingga tak ada bagian yang terlewatkan. Ku tahan getaran pahaku karena lihainya ia memanja batang ereksiku. ia menggerakkan kepalanya naik-turun dengan konstan. Membuat gerakan lambat lalu cepat. Dia sangat pandai dalam mounth job. Pasti suaminya akan orgasme bila mendapatkan service seperti ini.

"Akhh—" Tak kuasa aku menjerit kecil karena ia kulum lembut dua bola scrotum ku. Terlebih jemari lentiknya nya seakan tidak berhenti untuk membelai dan memainkan ujung kejantananku yang sudah basah akan precum.

"Arghh!" geram ku lalu mejambak rambut panjangnya dan memaksanya mendongak kearah ku. Bunyi plop kecil menandakan kejantananku sudah terlepas dari mulut panasnya. Aku benar-benar menahan mati-matian untuk tidak orgasme di mulutnya.

"Sudah cukup Sasuke. Kau hebat sekali." pujiku yang hanya di balas senyuman kecil oleh nya.

"Lalu, buat aku puas.." Sasuke berbalik badan dan bediap dengan tangan yang menumpu berat badannya.

"Masukan kan penismu." Pinta nya lagi lalu menungging di hadapanku. Aku hanya tersenyum melihat tingkah lakunya.

"Suka dengan doggie style, huh?" tanyaku dengan tiupan kecil di telinganya dan menggesek ujung penis ku di belahan pantatnya yang seksi itu.

"Enggh..i..iya." gagapnya lalu menelungkupkan wajahnya pada bantal saat perlahan ku masuk kan penisku dalam lubangnya.

"Ssshh…akhh. Naru." Desisnya keenakkan disertai jeritan kecil. Aku melenguh rendah merasakan betapa nikmat dan rapat vaginanya. Aku marasa hampir orgasme padahal belum seutuhnya masuk kedalam vaginanya.

"Sssh..engh." keluhku saat penisku amblas di lubang basahnya. Aku berhenti sebentar. Menahan hasrat ingin menembakkan sprema ku kedalam lubang lembab miliknya. Aku belum boleh menyerah. Ini masih awal permainan.

"Arrgghh!" Sasuke mendesah keras dengan mencengkram penisku yang ada dalam vagina nya.

"Ja..jangan ketatkan. Sssh." Aku sudah tidak sanggup menahan nikmat lubang kecilnya ini.

"Sa..sakit..akhh." Ia menoleh kebelakang dengan wajah bercucuran air mata.

Deg. Jantung ku berdegup. Sungguh erotis sekali wajah ini. Membuat ku tidak sanggup saja.

Ku bingkai pipi basahnya dengan satu tangan.

"Tahan sebentar. Ini tidak akan lama."

Sasuke tersenyum kecil dan terlihat terpaksa.

"Bergerak lah. Akh!" desahnya kecil. Aku mengangguk. Dengan gerakan pelan aku menggerakkan pinggulku. Aku merasa menjadi pria seutuhnya saat menyetubuhi gadis seperti ini.

"Enggh..akh..akh..Narutoh. akhh." Sasuke menjerit kecil yang membuatku semakin tidak tahan. Sudah sangat lama aku tidak menikmati tubuh wanita seperti ini. Benar-benar membuatku hidup kembali. Kejantanan ku menggesek apapun yang ada dalam sana dan tak lupa tanganku yang menganggur meremas dan membelai payudara serta puting kecilnya yang menegang. Sedangkan Sasuke mendesah keras, menjawab kenikmatan yang selalu kupertanyakan.

.

.

Suhu dalam kamar ini meningkat entah menjadi berapa derajat celcius. Tubuh kami berdua yang aktif bergerak seduktif menjadi berkeringat dan lengket. Lenguhan kecil dan geraman rendah membuat suasana malam yang begitu dingin menjadi hangat. Ranjang ini berderit dan begoyang namun itu tidak menghentikan kegiatan panas kami. Sasuke, tetangga ku yang cantik kini sedang diambang batas kenikmatan saat ku tumbuk paksa vagina sempitnya. Otot pantatnya menegang dan teriakan nya sedikit tinggi menandakan dia akan orgasme.

"Akhh.. Narutohh..akh..aku hampir..." Ucapnya dengan tersengal dan tidak jelas.

"Enggh..tahan sedikit lagi." Pintaku karena aku juga akan keluar. Ku gerakan paksa pantat sintalnya mengikuti gerakanku yang maju mundur.

Ia menggeleng. "Sudah tidak kuathh…akhh." Aku ingin sekali melihat ekspresinya namun karena gaya ini, aku hanya bisa menatap punggung nya yang berkeringat.

"Sabarlah. Ini tidak akan lama. Enggh." Ucapku juga tersendat-sendat karena gelombang itu akan datang menerpaku. Ku gerakkan cepat pinggulku. Sasuke menjerit semakin keras dan aku tidak peduli. Ku cengkram erat pantatnya hingga memerah. Mataku terpejam erat dengan bibir yang megap-megap menghirup oksigen. Kenikmatan ini sungguh tidak ada duanya di dunia.

"Aku ke..keluar. Arrghh!" Desahnya keras lalu ku rasakan basah menyelingkupi penisku.

"Akh..Sasu. Aku keluar. Engghh..akh." Ku semprotkan sperma di lubang vagina yang basah. Terpaan kenikmatan ini membuatku menutup mata dan jatuh di sebelah Sasuke yang terengah.

"Kau baik-baik saja." Tanyaku pelan dengan membelai rambutnya yang basah. Sasuke tersenyum kecil lalu mengangguk.

"Terima kasih." Ucapnya dengan mata nanar. Ku rengkuh tubuh gemetar nya di pelukan hangat.

"Maafkan aku. Aku tidak dapat menahan diri."

"Tidak apa-apa. Kita memang kesepian. Wajar kita menginginkan ini." Jawabnya yang memang benar. Aku dan Sasuke adalah manusia yang membutuhkan kenikmatan namun kesepian. Aku duda dan dia wanita yang ditinggal suami bekerja. Bagaimana pun wanita juga ingin di penuhi kebutuhan biologisnya. Aku tidak dapat meyalahkan Sasuke sepernuhnya karena ini memang kebutuhan dasar manusia.

Ia melesakkan wajahnya pada dadaku. "Aku ingin lagi. Bisakah kita melakukannya lagi?" pintanya. Dan aku hanya tersenyum.

"Tentu saja. Tidak mungkin ini berakhir hanya dengan satu ronde kan." Kataku mantap lalu memanggut kembali bibir tipisnya.


_Uzumaki Mansion pukul 7 pagi. Keesokan harinya_

Aku mengusap rambutku yang basah dengan handuk. Aku harus berangkat jaga di rumah sakit karena memang ini adalah jam dinasku. Ku tatap bekas kemerahan di leher serta dada lewat pantulan yang ada di cermin. Aku tersenyum tipis lalu menyentuh bekas itu. Dadaku bergetar kecil yang aku tidak tahu apa artinya itu. Mengingat aktivitas panasku bersama Sasuke -tetanggaku- membuatku menyungingkan senyum.

Aktivitas kami benar-benar berakhir hingga 8 ronde dan aku hampir pingsan di buatnya. Tapi tiadk apa-apa, lagipula dia adalah wanita yang cantik dan ideal. Pintar memasak, sensual, cantik, pintar dan nakal-saat di ranjang-. Beruntung juga pria berambut panjang itu memilikinya sebagai istri. Andai saja ku mengenal wanita itu lebih dahulu. Akh, rupanya aku terlalu banyak melamun hingga berpikiran yang tidak-tidak.

Ku kancingkan kemeja biru lautku dengan benar lalu memakai jas dokter putih di tubuhku. Ku tatap pantulan wajahku pada cermin. Wajahku masih tampan seperti kemarin -narsis boleh dong-, rambutku juga masih pirang dan mataku masih berwarna biru. Kenapa ada yang kurang dalam diriku. Semenjak kelakukan bejat ku pada Sasuke semalam, aku terus merasa kosong. Aku tidak bisa tidur hingga pagi dan pikiranku melayang tak tentu arah. Entahlah apa yang merasa kosong. Hidup ku begitu hampa padahal jadwalku sangat padat.

Ku sentuh dada ku yang berdetak kencang.

"Aku harus segera mencari istri baru agar tidak kesepian." Gumamku lalu menyambar tas dan melangkah pergi.

.

.

Ku nyalakan mesin mobil sebelum mengendarai nya keluar bagasi. Ku ambil handphone untuk melihat smua jadwalku hari ini. Akh, sial jadwalku padat sekali hingga malam hari. Aku harus siap tidur di rumah sakit lagi.

"Semoga pasien hari ini tidak rewel dan cerewet." Doaku lalu mengendarai mobil keluar apartemen.

Udara pagi begitu bersih dan hangat. Membuatku semangat memulai hari baru.

"Hati-hati dijalan Sarada. Jangan pulang sore." Suara wanita yang sudah tidak asing membuatku menoleh.

"Iya bu. Aku langsung pulang begitu sekolah bubar." Jawab gadis kecil bernama Sarada tersebut lalu mengayuh sepeda mininya.

Ku lirik wanita cantik yang sedang berdiri menatap kepergian anaknya ke sekolah. Wajahnya begitu cantik dan lembut. Membuatku sedikit berdebar. Aku ingin menyapanya namun aku tahan. Aku tidak boleh memelihara rasa yang aneh ini lebih lama. Dia adalah wanita yang sudah menikah dan memiliki anak. Aku tidak boleh membiarkan perasaan ini tumbuh liar. Bagaimanapun aku harus menghapus bayangan tubuhnya yang mengusik ku semalaman.

"Akh, Naruto. Ohayou." Sapanya dari luar dengan senyuman hangat. Wajahku memanas.

"Ohayou Sasuke." Sapaku kembali sedikit gugup.

"Mau berangkat dinas?" tanyanya dan kujawab dengan anggukan kepala.

"Hati-hati dijalan ya. Aku permisi dulu. Suamiku pulang mendadak hari ini. Aku harus memasak dan membersihkan rumah." Uacapnya riang dan aku hanya diam tak menjawab. Entah kenapa hati ku kesal melihatnya.

"Oh, baiklah. Aku pergi dulu." Pamitku lalu menutup kaca mobil.

"Bye-bye." Ia melambai kecil lalu berbalik dan melangkah pergi.

Ku tatap senduh punggungnya yang ramping itu. Semalam aku sudah melihat sisi lain dari wanita cantik itu. Wajahnya, ekspresinya, suara manjanya, desahan panasnya dan kenikmatan tubuhnya. Semua itu hanya ku simpan dalam memoriku. Yah, biarlah itu menjadi kenangan. Hanya aku, tetanggaku dan nafsu bejatku.

.

.

.

FIN

Terima kasih buat yang udah review ya

Nah, aku sudah selesai dengan fic ini.

Apakah kalian suka?

Lemonnya kurang hot?

Oke, review pliss