January, 14th


Sebenarnya aku tidak perlu pergi ke sekolah karena hari ini adalah hari libur. Spesifiknya lagi adalah liburan sekolah untuk musim dingin. Tapi nyatanya aku disini, di ruangan OSIS, bersama dengan lelaki yang bulan lalu aku omeli karena berusaha melakukan hal yang bodoh. Dan sejak saat itu, aku belum ada berbicara dengannya lagi.

Rasanya aku mau mengubur kepalaku dalam salju sekarang juga. Seluruh kertas-kertas laknat ini membuatku pusing dan aku heran kenapa Akashi bisa mengerjakan semuanya dengan santai dan bahkan bisa sambil bermain basket. Apa dia memang contoh manusia sempurna yang bisa melakukan apapun?

Eh, sepertinya itu harus direvisi. Bulan lalu, untuk pertama kalinya Akashi dikalahkan.

"Perbaiki data ini. Dan kenapa laporan keuangan bulan Desember defisit?"

"Aku tidak tahu. Aku hanya sekertaris yang tahunya mengolah data yang diberikan wakil dan bendahara."

"Hm. Perbaiki datanya dan aku menanyakan pada wakilku."

Dan kami sibuk dengan kegiatan kami masing-masing. Aku dengan laporan-laporan yang harus kurevisi dan Akashi sibuk menelepon orang-orang yang bertanggung jawab saat dia tidak ada ditempat karena fokus dengan turnamen basket.

Lalu aku menghentikan tarian jari-jariku diatas keypad saat sebuah pesan masuk kedalam handphone milikku. Dari pacarku dan dia bilang tidak bisa menemuiku hari ini karena ada urusan keluarga. Aku hanya menghela nafas dan melanjutkan pekerjaanku lagi tanpa membalas pesan itu.

Aku sudah terlalu sering diabaikan pacarku seperti ini. Janji-janjinya tidak pernah ditepati, padahal aku membawa buku diary tahun lalu yang dia berikan dan aku membawa buku diary baru untuk diberikan padanya. Sepertinya tahun ini aku harus membuang jauh-jauh memberikan diary satu sama lain.

Dan tanpa aku sadari, sejak tadi Akashi memperhatikan gerak-gerikku selama membaca pesan. Akashi mungkin terlihat sibuk dengan teleponnya, tapi matanya lurus menatapku.


.

.

Fourteen

Kuroko no Basuke © Fujimaki Tadatoshi

School life, lil OOC, typos. Tidak mengambil keuntungan profit dalam pembuatan fanfic ini. Saya tidak sanggup memasangkan Akashi dengan chara perempuan di fandom ini karena saya cinta Akashi sepenuh hati #nak

Akashi Seijuuro x YOU (terserah bagaimana interpresentasi kalian dengan ini, yang jelas saya pakai first POV)

Fourteen © tsaforite

.

.


"Habis disaat seperti ini?" perkataan Akashi itu membuatku mengalihkan pandanganku yang sejak tadi terus berkutat didepan laptop lantaran Akashi terus-terusan memberikanku dokumen yang harus aku revisi.

Kalau kau bilang tugas berat anggota OSIS setelah ketua adalah wakilnya, maka kau akan berhadapan denganku. Aku sekertaris OSIS dan aku adalah orang yang paling menderita didalam OSIS. Apalagi jika Akashi sedang dalam mode teliti dan semua dokumen selama tiga bulan diperiksanya hari itu juga. Aku berasa seperti kerja romusha dengan rajanya adalah Akashi.

"Err, Akashi-san kenapa?" tanyaku hati-hati. Akashi yang sedang marah bukanlah pilihan yang baik untuk dihadapi dan jika hanya ada kami berdua didalam ruangan OSIS ini. Aku sudah pernah mengalaminya sekali dan aku trauma. Cukup tahu aku bagaimana sifat Akashi saat marah dan aku tidak sanggup menggambarkannya karena aku terlalu trauma untuk mengingatnya.

"Tidak apa-apa." Aku tidak percaya begitu saja. Dan saat aku melihat buku agenda yang dipegang Akashi ditutup begitu saja, aku baru sadar dengan apa yang terjadi.

Akashi biasanya selalu mencatat apapun yang perlu pada buku agendanya dan mungkin saja perkataanya itu menyangkut buku agendanya. Aku teringat dengan buku diary yang akan kuberikan pada pacarku. Sebenarnya sih dibilang diary juga tidak pantas karena bentuknya lebih mirip seperti buku agenda.

Lebih baik kuberikan saja pada Akashi dari pada nanti aku buang. Kebiasaanku sejak satu setengah tahun aku berpacaran dengan pacarku sekarang adalah setiap tanggal 14 terlewat begitu saja tanpa kami bertemu, aku akan membuang benda yang sudah aku siapkan.

"Akashi-san, mau menggunakan ini?" aku sudah berada di depannya dan meberikan sebuah kotak berwarna merah dan berpita warna gold. Sungguh, aku tidak mempunyai rencana untuk menyamakan mata heterokom Akashi dengan bungkus hadiah itu. Aku kan hanya mengambil sebuah kotak kado dengan acak.

Akashi tidak menjawabnya, namun menerima hadiahku. Alisnya terangkat sebelah saat menatap isinya. Aku tidak perlu menunggu reaksi Akashi karena aku sudah kembali ke tempatku dan melanjutkan kegiatanku, merevisi berbagai laporan yang menurut Akashi salah.

"Terima kasih."

Eh? Akashi berterima kasih pada siapa? "Ya?"

"Terima kasih hadiahmu. Dan juga waktu itu."

"Ah ya. Aku juga harus berterima kasih karena kau memberiku sarung tangan." Aku sebenarnya juga mau bilang tidak perlu memberiku sarung tangan karena tanganku memang selalu memucat saat suhu udara menurun. Tapi nanti kesannya aku tidak tahu berterima kasih.

Ah sudahlah, selesaikan pekerjaan yang diberikan Akashi dan aku bisa bergulung nyaman didalam selimut kamarku.

"Tanganmu baik-baik saja?" Hah? Setelah aku mengerjakan banyak hal, Akashi baru menanyakan hal itu?

"Tenang saja, tanganku baik-baik saja. Lukanya tidak dalam kok, meski kadang masih agak pedih sih memegang benda," tawaku tanpa melihat Akashi. Bukannya tidak mau melihat Akashi, tapi atensiku sepenuhnya pada layar laptop yang ada didepanku.

Dan aku mengerjap-kerjapkan mataku saat layar laptop tiba-tiba saja ditutup dan Akashi sudah berada didepanku. Aku memandangnya, bertanya apa maksudnya lewat pandangan dan dia berkata, "Lanjutkan saja besok. Sekarang kita pulang."

"Tapi datanya—"

"Pulang. Sekarang." Oke, perintah Akashi yang mutlak keluar lagi. Dan meskipun aku sudah beratus kali menanamkan niat untuk memberontak pada Akashi, pada akhirnya aku hanya menurut.

Mengambil barang-barangku dan keluar dari ruangan OSIS. Dan kalau aku tidak menghormati Akashi yang ada disampingku, aku sudah pasti memasang headset pada telingaku dan mendengarkan lagu-lagu random yang tentu saja semuanya adalah lagu favoriku. Kami berdua memang jarang berbicara kecuali memang diperlukan. Satu-satunya kesempatan dimana aku berbicara dengan bebas dan mempunyai cukup keberanian untuk mengomeli Akashi adalah bulan lalu.

Sekarang sih, sepertinya kemampuan linguistiknya mengalami penurunan yang signifikan. Dan tanpa sadar aku sudah berada di depan gerbang sekolah.

"Kau mau kemana?" Akashi menyentuh pundakku dan menahanku agar tidak melangkah lebih jauh.

"Pulang." Memangnya aku pergi kemana lagi? Dari sini aku biasanya berjalan kaki menuju halte bus yang akan mengantarkanku pulang ke rumah. Dan sepertinya bahan makanan di rumah sudah mulai menipis, jadi aku akan mampir ke supermarket untuk berbelanja bahan makanan.

"Aku mengantarmu." Eeh? Tapi aku mau pergi ke supermarket dulu.

"Ti-tidak usah. Nanti merepotkanmu lagi," tawaku dan mengambil ancang-ancang untuk berlari. Siapa tahu aku bakalan dipaksanya untuk ikut kedalam mobilnya. Aku tahu karena aku pernah sekali dipaksa —coret, diseret— masuk kedalam mobilnya lantaran dia memaksaku untuk diantarnya pulang.

"Aku tidak menerima penolakan." Huuh, kenapa Akashi keras kepala sekali sih?

"Tapi aku harus mampir ke supermarket. Ada beberapa benda yang harus kubeli," aku tentu saja masih berusaha untuk pulang sendirian. Lagipula sejak tadi aku sudah gatal mau memasang headset ditelingaku dan mendengarka lagu-lagu kesukaanku. Karena ada Akashi, aku jadi mengabaikan keinginanku itu.

"Kita bisa mampir sebentar," dan tahu-tahu mobilnya sudah ada didepan kami berdua. Supirnya sudah membukakan pintu dan Akashi menatapku. Terpaksa aku menuruti karena itu bahasa isyarat Akashi untuk menyuruhku masuk ke mobil duluan.

"Mampir ke supermarket sebentar." Perintah Akashi pada supirnya yang membuatku panik. Aduh, Akashi benar-benar mau mengantarku ke supermarket?

"Tidak usah deh, Akashi. Langsung pulang saja."

"Tadi kau bilang ada barang yang harus dibeli." Iya sih, tapi tidak sopan meminta orang yang sudah mau mengantarkanmu memintanya untuk mampir ke supermarket.

"Tidak perlu. Besok aku bisa pergi sendirian kesana. Lagipula banyak yang mau aku beli,"

"Banyak?"

"Ya."

Maaf aku berbohong. Tapi ini demi kebaikan kita bersama, Akashi. Dan baru saja akan bernafas lega karena Akashi diam, tiba-tiba saja supirnya berkata, "Tuan muda, kita sudah sampai."

Eh? Apa?!

Akashi keluar dari mobilnya dan menatapku yang mematung. Dan dengan berat hati, aku keluar dari mobil dan melangkah menuju supermarket.

Haa— sepertinya tadi aku tidak mempunyai niat apapun memberikan hadiah kepada Akashi deh. Jadi kenapa akhirnya aku menjadi seperti ini?


Fourteen January : End


Baiklah, saya akan menjelaskan makna 14 Januari disini (meski saya yakin kalian semua sudah menangkap maksudnya lewat cerita diatas). 14 Januari itu adalah Diary Day. Maknanya sendiri adalah sepasang kekasih saling memberikan diary atau agenda tahunan. Gunanya buat nyatat kejadian-kejadian yang mereka alami dan dilakukan setahun penuh (well, dengan catatan mereka enggak putus ditengah jalan ya ^^). Kalau masih langgeng hubungan mereka, kegiatan ini bakalan dilakukan lagi tahun depan.

Tapi lantaran tokoh 'aku' dan Akashi masih belum punya hubungan apa-apa, ya Akashi gak mungkin kasih hadian balasan yang sama dong. Anggap saja Akashi tidak tahu adanya hari ini dan tokoh 'aku' memberikan Akashi agenda kan lantaran buku agenda Akashi sudah habis :D

Mind to Review?

tsaforite

01/04/2014