'Apakah anak baru itu benar-benar seorang vampir?'
.
.
.
"Tae! Ya Kim Taehyung!" teriak Jungkook sambil mengguncang-guncangkan pundak Taehyung.
"Kim Taehyung! Ireonaaa!" sekarang Hoseok yang agak menampar-nampar pipi Taehyung.
Jungkook menghela napasnya. "Lupakan. Dia tidak akan bangun jika begini caranya. Ayo kembali ke kelas."
Seokjin dengan pelan berjalan ke kasur di UKS tempat Taehyung berbaring. Seokjin yang membawanya dan memanggil Jungkook dan Hoseok. Taehyung pingsan karena melihat... kalian tahulah.
Seokjin menatap Taehyung perlahan. "Kim Taehyung-ssi," katanya pelan, ia mensejajarkan mulutnya dengan telinga kanan Taehyung lalu berbisik dengan nada rendah. "Kim Tae-"
"AH!" jerit Taehyung dan langsung sadar dari pingsannya yang lumayan lama.
"Taetae!" seru Hoseok dan Jungkook bersamaan. Lalu mereka berdua berlari menuju Taehyung dan memeluk temannya itu... berebutan.
Taehyung hanya tersenyum sambil sesekali menggumamkan kata 'maaf' atau 'aku juga tidak tahu' tapi matanya hampir setiap kali menatap sosok Seokjin yang bersandar pada dinding di sebelah pintu UKS dengan senyum samarnya yang membuat ia tambah tampan.
Aish Kim Taehyung dia itu bukan manusia!
Matanya menatap tajam Seokjin seakan memberi perintah 'jika mereka sudah pergi, kau tetap disini. Kita perlu membicarakannya' dan Seokjin mengangguk mengerti tatapan Taehyung.
.
.
.
Jungkook dan Hoseok sudah kembali ke kelas sejak tadi, dan Seokjin tetap di UKS dengan alasan 'Taehyung-ssi pasti takut sendirian'.
"Jadi... apa?" Taehyung menggumam pelan.
Seokjin mendongakkan kepalanya dan sedikit menatap Taehyung. Dirinya sekarang duduk di kursi sebelah kasur tempat Taehyung mulai menegakkan tubuhnya.
"Apa?" Seokjin bertanya.
Taehyung menatap mata Seokjin. "Kau seorang vampir?"
Seokjin diam. "Beritahu sajalah yang lain. Jungkook maupun Hoseok. Atau teman sekelas kita. Atau seangkatan kita. Atau sesekolah saja-hmpf." Omongan Seokjin terpotong satu jari Taehyung yang menutup bibir tebalnya.
"Diamlah Kim Seokjin. Tenangkan dirimu lalu bicara padaku nanti," ucap Taehyung sambil sedikit tersenyum.
Saat Taehyung menjauhkan jarinya, Seokjin juga membalas tersenyum dan... jantung Taehyung berdegup lebih kencang.
Setelah 5 menit, barulah Seokjin menghela napasnya dan mulai berbicara. "Maksudku... tolong jangan beritahu siapapun. Aku tidak ingin pindah sekolah lagi dan mengasingkan diriku lagi. Dan aku juga tidak ingin pergi dari... mu," kata Seokjin sambil menatap mata Taehyung yang berbinar mendengar perkataannya.
Taehyung menunduk karena merasa diperhatikan. "A-apa? Pe-pergi dariku?" Dirinya tidak percaya anak baru yang belum ada 1 hari di sekolahnya yang sudah menjadi idola para gadis maupun uke-uke cantik menyatakan perasaan padanya.
"Aku tahu aku vampir dan kau berpikir vampir tidak memiliki hati tapi..aku menyukaimu. Sebenarnya sudah lama. Aku melihatmu dengan seekor kucing kecil sangat manis.. kalian sangat mirip. Ah tapi itu sudah sekitar 5 tahun yang lalu, tapi baru sekarang aku bisa melihat wajahmu dari dekat," katanya sambil membelai rambut oranye muda Taehyung. "Keluargaku belum mengetahuinya tapi-" lagi-lagi omongan Seokjin terpotong tangan Taehyung yang terangkat, seperti menyuruhnya diam.
"Keluarga?" mata Taehyung menyipit. "Kau punya keluarga?"
Seokjin membentuk senyuman paksa bercampur kecut. Sepertinya ia tersinggung. "Tentu aku mempunyai keluarga. Ayahku seorang profesor. Ibuku mengelola klub berkuda. Kakakku seorang model. Tapi sayangnya aku bukan apa-apa.."
Taehyung yang merasa bersalah karena membuat sosok tampan di depannya ini tersinggung dengan refleks memeluk tubuh dingin Seokjin. Kulitnya merinding dan tubuhnya tersentak sedikit saat bersentuhan dengan kulit dingin Seokjin, tapi ia merasa hangat. "Maafkan aku jika menyinggungmu. Kau idola sekolah kita, Seokjin. Kau terkenal di penjuru sekolah. Kau rupawan, dan tidak ada seorang pun yang tidak akan terpesona olehmu."
Seokjin tersenyum manis sambil mulai membalas pelukan Taehyung. "Gomawo, kau juga rupawan," bisiknya pelan di telinga Taehyung.
.
.
.
Untuk pertama kali dalam hidupnya, Jungkook tidak bisa berkonsentrasi sama sekali pada pelajaran Cha seonsae, yaitu matematika. Padahal ia sangat menyukai pelajaran ini tapi sekarang ia tidak bisa berkonsentrasi pada pelajaran ini.
"Hoseok hyung..." bisik Jungkook perlahan pada namja di sebelahnya.
Hoseok menoleh dan menatap Jungkook dengan lembut. "Ada apa?"
"Bi-bisakah kita sepenuhnya percaya pada Kim Seokjin itu?" Jungkook bertanya sambil mencoba menghindari tatapan Hoseok.
Hoseok terkekeh sedikit dan sebelah tangannya terulur untuk mengusap rambut merah marun Jungkook. "Taehyung akan baik-baik saja. Kelihatannya Seokjin anak baik. Kau tidak usah khawatir, Kookie," jawab Hoseok sambil tersenyum. 'Atau kuharap saja begitu.'
.
.
.
Sementara di UKS, 2 namja itu sekarang sama-sama di atas kasur itu, dengan namja yang berkulit dingin dan tampan diatas namja mungil dan imut dibawahnya. Ciuman mereka yang semakin lama semakin dalam dan menuntut, dengan tangan yang menggerayangi tubuh pasangan masing-masing.
"Ah-eunghh.. Seo-Seokjin..." bisik Taehyung lirih saat Seokjin mulai menciumi, menjilat, menggigit, dan menghisap dada Taehyung dengan leluasa karena ia sebelumnya sudah membuka kemeja sekolah Taehyung.
Seokjin hanya menjawabnya dengan gumaman. Mulutnya tengah asik bermain-main di daerah dekat nipple kanan Taehyung dan memasukkannya ke dalam mulutnya yang entah mengapa hangat dibandingkan bagian tubuh lainnya.
Taehyung mendesah keras. Dirinya tidak bisa membantah bahwa sentuhan dan kecupan dan segalanya dari Seokjin membuatnya mabuk. "Aghhh.. a-apakah kau sudah mengunci pintu-AKH!" Desahan Taehyung bertambah kencang saat Seokjin tanpa aba-aba meremas sesuatu di balik celananya.
"Pintu? Kurasa tidak usah. Tidak akan ada yang datang ke sini pada jam pelajaraan, Sayang," jawab Seokjin dengan suara diberatkan dan dengan tangan yang meremas sesuatu itu dan tangan satunya menarik-narik nipple Taehyung.
Taehyung merasa tubuhnya melemas. Sentuhan Seokjin terlalu... "A-ahhh Seokjin~ eunghhh."
Taehyung merasa klimaksnya sudah dekat, saat...
"TAEHYUNGIIEEEEE SEOKJIN-AH KAMI DA-whatthefuck," teriak dan umpat Jungkook.
Hoseok yang dibelakang Jungkook pun ikut menyahut, "Kookie ada apa-shit," dan mengumpat.
Taehyung membuka matanya dan menatap ke arah pintu. Dan sontak saja matanya melebar. "Shit. KOOKIE, HOSEOKIE KENAPA KALIAN KESINI?!" jerit Taehyung frustasi.
Sementara Seokjin hanya melirik sekilas lalu menarik selimut UKS, menyelimuti mereka berdua dan berbaring di samping Taehyung, memeluknya posesif di bawah selimut.
Setelah Seokjin memeluk Taehyung, badan Taehyung tersentak dan merinding sebentar karena perubahan suhu akibat kulit Seokjin. (Berasa fisika._. *ups)
"Apa-apaan...ugh! Persetan kalian berdua!" seru Jungkook, keluar UKS sambil menghentak-hentakkan kakinya.
Hoseok hanya menatap mereka berdua sebentar lalu mengikuti Jungkook keluar dan menutup pintu.
Taehyung menghela napasnya. "Ini semua salahmu."
"Apa? Ini salahku? Siapa tadi yang menciumku duluan?" bela Seokjin.
Taehyung menundukkan kepalanya, pipinya agak memerah. "A-aku tidak tahu nafsumu bisa terpancing begitu mudah.."
Seokjin tersenyum dan melingkarkan tangannya di dada Taehyung. "Nafsuku tidak mudah dipancing, Sayang. Justru nafsumu yang mudah kupancing. Nafsu vampir tidak mudah dipancing~"
Mendengar kata 'vampir', Taehyung membulatkan kedua matanya dan baru ingat bahwa tangan yang sedang melingkari dadanya ini adalah tangan seorang vampir. Tapi, entah kenapa ia sama sekali tidak merinding. "Ke-kenapa kau membunuh Namjoon tadi?" tanya Taehyung ragu-ragu.
Seokjin mendongakkan kepalanya sedikit. "Namjoon? A-ah, Kim Namjoon? Aku tidak tau. Aku lapar, dan aku butuh darah manusia untuk melepaskan dahagaku."
Taehyung dengan sedikit susah, memutar tubuhnya sehingga kini wajahnya dan wajah Seokjin berhadapan, hanya berbeda beberapa senti sebelum bibir tipis miliknya dan bibir tebal Seokjin bertemu. "Tapi... kenapa harus Namjoon? Kau bisa saja membunuh Jungkook, atau Hoseok, atau aku, atau murid kelas lain."
Seokjin lagi-lagi tersenyum dan mengecup bibir Taehyung sekali. Hanya mengecupnya. "Kau akan cepat melepaskan dahagamu jika orang itu mengenalmu, meski hanya sekilas, bukan orang yang kau sukai, bukan teman dari orang yang kau sukai, bukan orang yang memiliki perasaan terhadapmu. Lebih baik kau makan orang yang baru saja kau kenal, akan lebih cepat untuk redakan dahagamu," jawab Seokjin panjang lebar. "Itu kata eommaku. Aku tidak mungkin membunuhmu karena aku menyukaimu-ups, mencintaimu. Aku tidak akan membunuh Hoseok dan Jungkook karena mereka teman dekatmu. Kenapa aku membunuh Namjoon? Aku tahu kau tidak punya hubungan dengannya, walaupun sekedar teman. Yang menganggapnya teman hanyalah Hoseok." Seokjin menatap Taehyung dengan lembut.
Taehyung dengan imut tanpa sadar mengerjapkan matanya menatap mata coklat tua Seokjin. "Ba-bagaimana kau tahu? Aku atau yang lain bahkan belum memberitahumu.."
Seokjin terkekeh lalu tersenyum. "Aku mempunyai instingku sendiri, Tae," jawabnya. "Ah, satu lagi. Jika kau sudah tahu rahasiaku, bersiap-siaplah menghadapi bahaya."
"APA?!" mata Taehyung membulat lagi dan tanpa sadar dia menjerit. "Apa maksudmu dengan 'bahaya'?!"
Seokjin hanya tersenyum dan mengangguk, mengiyakan pemikiran Taehyung tentang kata 'bahaya' yang diucapkan Seokjin tadi.
'Berarti... aku akan menemui hal mistis lainnya?! Andwae. Andwae. ANDWAEEE!'
.
.
.
"Maaf, aku juga tidak ingin kalian melihat hal itu," kata Seokjin sambil sedikit membungkuk di depan Jungkook dan Hoseok.
Jungkook mendengus kesal. "Tentu kau tidak ingin, hyung bodoh!"
"Kookie, sudahlah. Lagipula ia namjachingu-ku mulai sekarang," ucap Taehyung.
Hoseok dan Jungkook menoleh ke arah Taehyung, dengan mata melebar dan begitu juga mulut mereka. "NE?! KAU PASTI BERCANDA!"
.
.
.
"Huft, terima kasih Tae, sudah menyelamatkanku tadi," kata Seokjin saat ia dan Taehyung duduk berdua di atap sekolah, menunggu sunset.
Taehyung menatap Seokjin dan tanpa sadar mengerjap lucu lagi. "Ah itu bukan apa-apa. Kookie memang agak kelewatan tadi," jawab Taehyung sambil sedikit tersenyum.
Seokjin hanya tersenyum sebagai jawabannya. "Ah dan soal namjachingu itu..."
Blush. Pipi Taehyung memerah saat mendengar Seokjin mengatakan kata itu. "A-eh tentang itu lu-lupakan saja, oke?"
Seokjin tersenyum geli, mendekati wajah Taehyung, dan mengecup bibir Taehyung. "Tidak mau," jawabnya sambil dengan jahil menjulurkan lidahnya sehingga mengenai bibir tipis Taehyung.
"Ah lupakan," usir Taehyung sambil dengan susah payah menjauhkan tubuhnya dari Seokjin, namun tetap saja Seokjin merangkul bahunya dan merapatkan tubuh mereka. "Omong-omong, bolehkah aku tahu umurmu, tempat kau dijadikan... kau tahulah, tempat lahirmu, ulang tahunmu, nama keluargamu dan umurnya, rumahmu, dan berapa banyak pacar yang sudah pernah kau miliki?"
Seokjin menunduk agar ia bisa melihat bibir Taehyung yang sedikit mengerucut. "Aku akan menjawabnya, tapi kau nanti juga akan menjawabnya, oke?" Taehyung membalasnya dengan anggukkan ringan. "Umurku... hampir mencapai 161 tahun pada tahun ini, tempat aku dijadikan vampir di Shanghai, tempat lahirku aku tidak begitu ingat tapi sepertinya di Bucheon, ulang tahunku 4 Desember, pada tanggal itu juga aku dijadikan vampir. Ayahku Kim Junmyeon, tahun ini ia hampir mencapai 175 tahun. Ibuku Kim Yixing, tahun ini hampir 173 tahun. Kakakku Kim Chanyeol, tahun ini 165, tidak jauh berbeda dariku. Rumahku... aku memiliki satu apartment di Gangnam, Busan, Seoul, Incheon, Daejeon, dan Bucheon, itu pun untuk pribadiku. Aku belum pernah berpacaran dengan serius sebelumnya."
"Wowww~~ hidupmu pasti sangat nyaman! Kau pasti kaya raya! Dan... 161 tahun? Ayolah, kau terlihat seperti remaja 16 tahun, Seokjin!" ucap Taehyung, matanya berbinar-binar tanpa sadar.
"Hidupku biasa saja," jawab Seokjin. "Sekarang giliranmu. Kau berjanji."
Taehyung mengangguk dan menatap Seokjin. "Umurku 16 tahun, normal saja. Tempat lahirku kalau tidak salah di Seoul. Ulang tahunku 30 Desember. Ayahku Kim Yifan, umurnya tahun ini mencapai 35 tahun. Ibuku Kim Zitao, umurnya 34 tahun. Kakakku Kim Baekhyun, baru saja 19 tahun. Rumahku ada di Incheon. Aku... juga belum pernah berpacaran dengan serius sebelumnya."
"Jadi, aku yang pertama untukmu?" tanya Seokjin jahil.
Taehyung meng-glare Seokjin. "Ah ya baiklah. Kau namjachingu-ku mulai sekarang, kau hanya milikku seorang, aku hanya milikmu, kau yang pertama dan terakhir. Puas?" Taehyung mendengus kesal.
"Sangat. Sangat puas." Seokjin mendorong tengkuk Taehyung dan mulai menciumnya dengan lembut, tak seperti saat di UKS tadi. Sunset pun menghiasi ciuman mereka.
Mereka memutus ciumannya dan menoleh sebentar, menatap ke arah matahari yang tenggelam dengan segala warnanya dan tersenyum ke satu sama lain.
"Aku mencintaimu," ucap keduanya bersamaan. Taehyung dan Seokjin tertawa, lalu menyatukan kedua bibir mereka yang kontras lagi, lagi, lagi, dan lagi.
TBC
Yuhuuuuuuuuuuuu~ author's back with new chapter! Rada gaje ya? Rada gangerti ya? Tanya aja yaaa~
Oh iya, mau minta pendapatnya nih. Kan author udah bikin buanyak ff baru(?) Menurut kalian yang harus di post duluan yang mana, ok ok?
1. B1A4 BaDeul (BaroxSandeul)
2. GOT7 MarkSon (MarkxJackson)
3. GOT7 MarkBam (MarkxBamBam)
4. Infinite WooGyu (WoohyunxSunggyu)
5. B.A.P DaeJae (DaehyunxYoungjae)
Udah ya segitu aja^^ meskipun banyak ff numpuk kan biar ga ribet/? Hehe~ (•̅_•̅ )
And I just want to say, I'll send a lot of love for readeeerrrssss!
(P.S: boleh invite author di pin bbm, 28D7D7E3. Atau di line: kimsurassi kalo di line chat aja ya, nanti author invite)
Saranghae!
End weirdly (again), but mind to review?
Love,
Me
