Tokyo, dua bulan yang lalu, pukul 14.30
Natsu berjalan di tengah kota, dengan kedua tangannya di masukkan kedalam saku celananya. Wajahnya begitu muram dan terlihat sangat bosan. Terbukti karena ia sudah menghembuskan nafasnya beberapa kali.
"Apa tak ada yang menarik ya.." gumamnya.
Ia berhenti dan melihat kearah Tokyo Skytree. Ia menimbang-nimbang, haruskah ia kesana, sekarang?
Natsu mengangkat bahunya, "Yah, daripada berjalan tak jelas seperti ini.." ia pun berjalan menuju arah dimana Tokyo Skytree berada.
Why It's So Complicated?
Disclaimer : Hiro Mashima
Genre : Romance, Family, Friendship
Rate : T
Warning : AU, OOC, Typo
.
.
.
.
.
"Wah, tidak buruk juga" ucapnya.
Tokyo Skytree, adalah menara tertinggi sedunia dengan ketinggian mencapai 634 meter. Ya, kini Natsu berada disana. Melihat pemandangan kota Tokyo dari atas sana. Disana belum terlalu banyak orang karena memang menara ini baru saja dibuka untuk umum.
Natsu melihat ke sekelilingnya, ia melihat beberapa orang atau bisa dibilang turis sedang asyik berfoto. Natsu menghela nafas dan mengalihkan lagi pandangannya ke pemandangan kota Tokyo. Dari atas menara, ia melihat mobil-mobil yang ada dijalanan seperti mainan. Lucu sekali.
"Kira-kira..dimana ya rumahku?" gumam Natsu sambil tertawa pelan.
Tuk..tuk..tuk..
Terdengar langkah sepatu ber-hak di telinga Natsu. Natsu pada awalnya tak terlalu memperdulikannya, suara tersebut pasti berasal dari sepatu tante-tante yang heboh. Begitulah anggapannya.
"Waaahh..indah sekali.."
Natsu menoleh dan mendapati sosok gadis yang sedang menatap pemandangan Tokyo dengan sumringah. Gadis itu berdiri tak terlalu jauh dari Natsu.
'Apa harus sebegitu terpesonanya?' batin Natsu.
Natsu melihat penampilan gadis itu dari atas ke bawah, dari bawah ke atas. Dan pada saat itulah ia menyadari bahwa suara sepatu itu berasal dari gadis itu.
'Ah jadi dia..' pikir Natsu.
Natsu pun memalingkan wajahnya dan menghela nafasnya lagi, ya yang kesekian kalinya.
Kyou umareta kanashimi ga
Sora e maiagaru
Natsu membulatkan matanya saat mendengar suara merdu yang melantunkan sebuah lagu didekatnya. Ia melirik dari sudut matanya tepat ketempat dimana gadis yang didekatnya berdiri. Nyanyian itu berasal dari gadis itu.
Sora wa mezame kaze wo yobi
Kono mune wa furueru
Akhirnya Natsu menolehkan kepalanya dan sepenuhnya memperhatikan gadis itu yang sedang terpejam, bibirnya terus bergerak mengucap lirik lagu yang ia lantunkan sambil mengulum senyum.
Anata wo mamoritai unmei ni sawaritai
Koboreta namida mune no kubomi wo
Yorokobi de mitashitai no
Natsu terus mendengarkan nyanyian gadis itu, dan ia pun tak menampik bahwa suara gadis itu membuatnya merasa nyaman. Bahkan saat ini pemuda dengan surai pinkish itu sedang memejamkan matanya—sangat menikmati lagu itu.
"It's a tender rain.. Anata no moto—"
"Merdunya.." gumam Natsu tanpa sadar. Ucapannya itu terdengar oleh gadis itu sehingga gadis itu berhenti bernyanyi dan menoleh padanya.
Natsu membuka matanya dan menoleh ke arah gadis itu. Gadis itu sudah menatapnya dengan terperangah. Detik kemudian, gadis itu pun terkekeh dan melemparkan senyumannya pada Natsu. "Kau memujiku? Arigatou.." ucapnya
Saat itu pula jantung Natsu berdebar dengan cepat, ia juga merasakan wajahnya memanas. Pikirannya pun kini kosong. Bahkan ia bingung, ia sekarang harus mengatakan apa pada gadis itu. Masih dengan kelakuannya yang menurutnya sangat bodoh, Natsu melihat gadis itu melangkah pergi membawa ponsel yang didekatkan ketelinganya. Natsu menjitak kepalanya sendiri dan berulang kali menggumamkan kata bodoh.
"Ya..aku akan segera kesana..hmm Jaa nee"
Saat percakapan gadis itu selesai, ia pun menoleh kepada Natsu yang masih terdiam. "Anoo.."
Natsu menoleh dan memandang gadis itu, "Hmm?"
"Aku duluan ya..Jaa nee" Gadis itu pun melangkah pergi meninggalkan Natsu yang diam-diam masih terpesona pada gadis itu. Natsu membuka mulutnya, "Si—siapa namamu.." ucapnya pelan.
Suaranya tercekat ditenggorokannya. Bahkan kakinya kini tak bisa bergerak untuk melangkah—bahkan mengejar sang gadis.
'Dia cantik..dan ramah..' pikir Natsu.
Natsu membalikkan tubuhnya dan memandang kembali pemandangan yang disajikan dari menara tersebut. "Aku harap kita bisa bertemu lagi.." gumamnya.
WWW
Tokyo, hari minggu, pukul 11.15
"Lucy-chan? Apa kau pernah bertemu dengan Natsu?" tanya Igneel sambil menoleh pada Lucy dengan wajah yang penasaran.
Lucy menoleh dan mengangguk. "Ya, aku pernah bertemu dengannya dua bulan yang lalu. Kalau aku tak salah mengenalinya..hehe"
"Ah, saat makan siang dengan ku dan Ibumu ya waktu itu? Yang kau tiba-tiba menghilang" ucap Igneel.
Lucy mengangguk, "Benar!"
Lucy memandang Natsu dan tersenyum, semburat merah tipis terlihat di pipi Natsu, Sting yang menyadari itu pun memandang jijik apa yang dilihatnya. 'Jadi dia gadis yang selalu di impikan Natsu..' pikir Sting.
"Baiklah..baiklah..bagaimana kalau kita masuk dulu dan bersantai di ruang tengah?" tanya Igneel.
Semuanya pun mengangguk menyetujui.
Igneel membawakan koper milik Layla dan berjalan berdampingan. "Sting, Natsu..bantu Lucy-chan membawa kopernya ya!" ucap Igneel.
Sting menghela nafas, "Dia hanya membawa satu koper, Ayah. Dan ia bisa membawanya sendiri"
Lucy terkekeh dan menggenggam tali kopernya, "Benar, Igneel-san. Aku akan membawanya sendiri" sahut Lucy sambil tersenyum.
Lucy melepaskan sepatunya dan melangkah melewati kedua pemuda tersebut. Saat Lucy melewati mereka, Natsu dan Sting bisa mencium aroma vanilla bercampur dengan strawberry dari Lucy. Natsu pun menoleh, wajahnya terperangah. Sedangkan Sting menutup mulutnya saat mencium harum wangi yang bersumber dari Lucy.
'Sial!' batin Natsu dan Sting.
"Natsu! Sting! Kemarilah" ujar Igneel dari dalam ruang tengah.
"Ha—ha'ii!" jawab mereka. Setelah itu mereka pun berjalan melangkah masuk ke ruang tengah untuk bergabung dengan Ayahnya di ruang tengah.
"Nah, Sting..Natsu..Layla dan Lucy-chan akan tinggal disini mulai hari ini. Kalian harus bersikap baik, ya" ucap Ayahnya—Igneel.
Lucy duduk berdampingan dengan Layla. Sedangkan Igneel duduk di sofa yang berada di tengah-tengah, lalu Sting dan Natsu duduk berhadapan dengan Layla dan Lucy.
Natsu terus menerus memandang Lucy dengan tatapan menelusuri, Sting yang menyadarinya pun menyikut lengan adiknya, "Oy" panggilnya.
Natsu menoleh, menyipitkan matanya, "Ada apa?" tanyanya sambil berbisik.
"Jangan menatap calon adik kita dengan pandangan mesummu itu. Kau terlihat seperti ingin menerkamnya" jawab Sting.
"HAA?! APA LO BILAAANGG!" ujar Natsu tiba-tiba, membuat Layla, Lucy dan Igneel yang sedang berbincang pun menoleh dan memandang heran pada dirinya.
Sting memalingkan wajahnya dan menutup mulutnya untuk menahan tawanya. Igneel menyipitkan matanya, "Natsu, bisa tidak kau bersikap sopan sedikit?" ucapnya dengan tegas.
Natsu menoleh dan tangannya menunjuk kearah Sting, "Dia—maksudku, Sting. Dia menuduhku yang tidak-tidak, Ayah" adunya.
Sting menoleh, "Ayah, anak ini sangat mencurigakan, bagaimana ia bisa memandang gadis itu dengan tatapan mesumnya" jelas Sting santai.
"Eh?"
Wajah Lucy dan Natsu pun memerah, Igneel pun memberikan death glarenya pada Natsu, "Apa benar itu, Natsu?" desisnya.
"A—aaku..ti—TIDAK MUNGKIIIIN! AKU TIDAK MELAKUKAN ITU!" tukas Natsu, wajahnya kini benar-benar memerah—sangat merah.
"Pfffttt.." Sting menahan tawanya lagi melihat ekspresi adiknya yang menurutnya sungguh memalukan itu. Sedangkan Lucy memandang Natsu kemudian tersenyum. "Kawaii.." gumam Lucy tanpa sadar.
Sting, Natsu, dan Igneel membelalakkan mata mereka saat mendengar gumaman Lucy. Layla hanya tersenyum tipis, "Lucy..kau tak boleh begitu"
"Ta—tadi dia bilang apa? Kawaii? Siapa? Siapa maksudmu? Apa itu Natsu? Ya kan? Dia kan?" desak Igneel.
Lucy menunjuk kearah Natsu, "Habis ekspresi marahnya sangat lucu..menggemaskan hihi" jawabnya dengan polos.
Tubuh Natsu pun memutih mendengar jawaban Lucy yang terdengar seperti meledeknya itu. Dan Sting? Kalian tahu apa yang dilakukan Sting saat mendengar penjelasan Lucy? Dia tertawa terbahak-bahak.
"Hahahaha, lucu sekali..hahaha" ucapnya disela tawanya.
Lucy memiringkan wajahnya, "Apa aku salah berbicara ya? Gomennasai" ucapnya dengan wajah tanpa dosa.
Igneel menepuk kedua tangannya, "Baiklah..Sting, sudah cukup tertawanya. Dan kau Natsu, bisa tidak berhenti untuk melakukan hal yang aneh terhadap Lucy-chan?"
Natsu mendengus kesal, "Aku tak melakukan hal yang aneh-aneh padanya, Ayah!" ucapnya dengan gemas.
"Baiklah.. Natsu..Sting..cih aku harus mengulangnya dari awal karena kalian! Baiklah, begini..Lucy-chan ini masih berumur 16 tahun. Berarti ia yang paling muda disini dengan kata lain, dia ini adik kalian, mengerti?" jelas Igneel.
"Ya..yaa..aku tahu.." jawab Sting.
Natsu terdiam, ia sedang berpikir kali ini. Gadis yang didepannya itu akan menjadi Adiknya? Yang benar saja?
'Adik? Ah, ya Adik..Adik? TIDAAAKKK AKU TAK TERIMA INIIII!' Natsu membatin.
"Tsu..Natsu..NATSUUU!" bentak ayahnya pada Natsu. Natsu tersadar dari lamunannya dan menoleh, "Ha? Ada apa?"
"Apa kau mengerti apa yang tadi aku jelaskan?"
Natsu mengangguk, "Gadis itu akan menjadi ad—MATTEEE! AKU TAK TERIMA INI!"
"Eh?"
Natsu bangkit berdiri dan tangannya menunjuk ke arah Lucy yang sedang menatapnya. "Sampai kapanpun aku tak akan menerimanya sebagai Adik ku! Tidak akan!" ujarnya
Setelah mengatakan hal itu, Natsu pun meninggalkan ruang tengah. Lucy terdiam dan kemudian tertunduk. Sting melihat kepergian Natsu dan mengalihkan pandangannya pada Lucy yang tertunduk.
'Merepotkan..' batin Sting.
Sting bangkit berdiri, berniat untuk menyusul Natsu tapi ditahan oleh Ayahnya. "Sting, tunggu"
"Ada apa?"
"Besok, Lucy akan pergi sekolah bersama denganmu dan Natsu. Jadi tolong bantuannya. Dan bilang Natsu, ia harus terima hal ini" jelas Igneel.
Sting pun ingat dengan kata-kata guru-guru disekolahnya tentang kedatangan murid pindahan. Jangan-jangan yang dimaksudkan oleh guru-guru tersebut adalah Lucy—calon Adiknya.
Sting menghela nafas, "Baiklah" jawabnya.
Pemuda surai pirang pucat itu melirik Lucy yang sekarang sedang berbicara dengan Igneel sambil tersenyum sesekali. Sting menggaruk kepalanya dan melangkah pergi.
Lucy menoleh dan menatap kepergian Sting dari ruangan tersebut. 'Sepertinya mereka tak menyukaiku' pikir Lucy.
WWW
Natsu masuk kedalam kamarnya dan membanting dirinya ke atas tempat tidurnya, "Sial! Dari banyak wanita, kenapa Ayah menikahi Ibu gadis itu..ah dasar!"
Tiba-tiba pintu kamar Natsu terbuka dan menampakkan sosok Sting disana. Bersandar dan tersenyum mengejek. "Patah hati?" tanyanya, ada nada meledek dipertanyaannya itu.
Natsu bangkit duduk, "Patah hati? Apa maksudmu? Dasar gila" balas Natsu dengan sinis.
Sting masuk kedalam kamar Natsu dan menutup pintunya, "Dengar. Gadis itu tak punya salah dan Ibunya pun tak punya salah. Lagipula apa susahnya untuk menerima gadis itu menjadi adik kita?"
Natsu menoleh dan memandang kakaknya dengan satu alis yang naik, "Apa kau menerimanya? Begitu?"
Sting memutar bola matanya dan menghela nafas, "Mau bagaimana lagi, tak ada pilihan lain bukan?"
Mendengar jawaban Sting itu, Natsu pun mendecih dan membaringkan lagi tubuhnya, "Ya sudah, keluar dari kamarku. Aku ingin tidur siang"
"Heh, kau tidak ingin makan siang dulu?" tanya Sting sebelum keluar dari kamar Natsu.
Natsu menggeleng, "Aku tak lapar!" jawabnya.
Sting pun tertawa, "Baguslah, porsimu aku yang makan ya!"
"Terserah saja, dasar perut karung!" balas Natsu.
Sting mendecih dan segera menutup pintu kamar Natsu dengan keras. Saat Sting menoleh, ia membelalakkan matanya karena terkejut melihat sosok yang ada dibelakangnya.
"Kkk—kau"
Sosok Lucy sedang berdiri sambil membawa koper pink miliknya. Gadis itu merundukkan kepalanya, memberi hormat pada Sting, setelah itu Lucy berjalan melewati Sting tanpa berkata apa-apa. Sting melirik sebal gadis yang lewat itu.
"Soal omongan Natsu tadi, jangan dipikirkan. Dia memang begitu" ucap Sting.
Lucy yang sudah sampai didepan kamarnya pun menoleh, "Tak apa. Aku tak terlalu memikirkannya" gumam gadis itu.
Setelah menjawab ucapan Sting, Lucy pun masuk kedalam kamar. Sedangkan Sting hanya mendesah kesal. "Apa-apaan dengan ucapannya itu. Berbeda dengan sikapnya" gumam Sting.
WWW
Lucy melihat ke sekeliling kamarnya, wajahnya nampak senang karena kini ia memiliki kamar yang kebih luas dari kamarnya yang berada di Osaka. Bahkan di kamarnya saat ini ada sebuah kamar mandi, Lucy pun tersenyum ceria saat mengetahui ada sebuah bathup di kamarnya.
Lucy menutup pintu kamar mandinya dan melihat ke arah barang-barang miliknya yang masih tersimpan rapi didalam dus. Lucy tersenyum, ia menggulung lengan bajunya yang panjang, mengikat rambut panjangnya.
"Yosh! Saatnya berbenah!" ucapnya.
Lucy pun menurunkan satu per satu dus yang ditumpuk tersebut ke lantai kamarnya dan membuka satu per satu dus tersebut. ada dus yang berisi buku-buku koleksi novelnya, lalu ada juga pernak-pernik hiasan kamar yang ia bawa dari Osaka, lalu ada beberapa frame foto disana.
Lucy mengambil frame foto yang berisikan foto ayahnya, ia mengusap foto tersebut sambil tersenyum.
"Otou-san..apa aku akan bahagia ya disini? Tapi sepertinya kakak-kakakku tidak begitu menyukaiku..bagaimana ini.." gumamnya.
WWW
"Nah, Lucy-chan..apa kau sudah membereskan kamarmu? Kau menyukainya?" tanya Igneel sambil tersenyum pada Lucy.
Lucy tersenyum dan mengangguk, "Sudah beres semuanya! Aku sangat menyukainya, arigatou, Igneel-san" jawabnya.
"Ah kawaiii..Lucy-chan kawaiii" seru Igneel diiringi tawa Layla yang duduk didekatnya. Kedua putranya hanya ber-sweat drop melihat kelakuan Ayahnya.
Lucy menyuap makanannya ke mulutnya sambil melirik kearah kedua pemuda yang duduk tak jauh dari dirinya. Lucy mengunyah makanannya dan mengalihkan pandangannya pada Ibu dan calon Ayahnya. Ya, mereka semua sedang makan malam bersama.
Lucy tersenyum tipis saat melihat hubungan Igneel dan Layla. Ia bahagia melihat Ibunya yang tersenyum ceria seperti itu. Sempat terpikir untuk tak menyetujui rencana pernikahan ini, tetapi Lucy berpikir untuk kedua kalinya, kalau Ibunya bisa bahagia kenapa tidak? Walaupun Lucy harus menanggung kedinginan dari kedua putra Igneel.
Lucy menghela nafasnya dan melirik lagi kearah kedua pemuda tersebut.
'Eh?'
Lucy dan Natsu pun bertemu pandang saat itu. Lucy mengerjapkan matanya beberapa kali lalu ia membuka mulutnya untuk berbicara pada Natsu, "Anoo.."
"Aku sudah selesai" ucap Natsu yang kemudian bangun dari meja makan dan pergi begitu saja.
Lalu Sting pun bangkit berdiri, "Aku juga sudah selesai, terimakasih atas makanannya" ucapnya, kemudian ia pun ikut berlalu.
Lucy memandang kepergian Natsu dan Sting dengan tatapan sedih, ia pun menghela nafas.
WWW
Malam hari pun tiba, Natsu melirik jam nya yang berada di meja nakasnya yang sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Ia sama sekali tak bisa terlelap dengan pulas bahkan memejamkan matanyanya saja sulit. Natsu bangkit duduk dan melirik kearah balkon kamarnya. Ia menghela nafas dan menggaruk kepalanya yang tidak terasa gatal.
"Apa aku sudah kelewatan ya padanya?" gumamnya.
Natsu bangkit dan berjalan untuk membuka pintu untuk menuju ke balkon kamarnya, tetapi saat itu pula ia mendengar lantunan lagu dan juga suara yang begitu ia kenal.
"Kirakira..hikaru..osora no hoshi yo.."
'Suara ini..' batinnya.
Natsu segera membuka dan berjalan ke balkon kamarnya. Ia menoleh ke balkon kamar sebelahnya dan matanya membulat sempurna.
Lucy—gadis itu sedang menyanyi sambil tersenyum melihat kearah langit malam. Suaranya yang merdu, suara yang sangat ingin Natsu dengar membelah keheningan di malam itu.
"Mabateki shite wa..minna wo mitteru.." lanjut gadis itu
Natsu tersenyum tipis dan tanpa sadar ia telah tenggelam memandangi wajah cantik Lucy yang ditempa dengan sinar rembulan dan mendengar suara merdu Lucy.
"Kirakira hika—" Lucy pun menghentikan nyanyiannya saat sadar kalau ada Natsu di balkon sebelah kamarnya. Semburat merah tipis terlihat menghiasi kedua pipinya, Natsu pun ikut salah tingkah dan membalikkan tubuhnya.
"Ah..Hmm Dragneel-san..anoo..etto..be—"
"Gomenasai, Luigi. Aku berkata kasar padamu saat tadi siang" potong Natsu.
"Eh? Luigi?"
Natsu membalikkan tubuhnya dan memandang Lucy, "Hontou ni, gomenasai. Luigi" ucapnya lagi.
"Hmm anoo..namaku bukan Luigi..tapi Lu-cy" jelas gadis itu sambil tersenyum.
Natsu bersandar di balkonnya, "Ha? Luigi? Lese?" tanyanya sambil memasang wajah lugunya.
Lucy menggembungkan pipinya, mungkin sebal dengan tingkah Natsu yang tak bisa memanggil namanya dengan benar. "LU-CY..Dragneel-san" ucap Lucy dengan gemas.
"Ah merepotkan..baiklah..baiklah, Luce"
"Eh? Dragneel-san. Lucy..namaku Lucy..apa susahnya untuk menyebutkan nama singkat itu?"
Natsu memasukkan kedua tangannya kedalam saku celana pendeknya dan memandang Lucy, "Lalu apa susahnya untuk memanggil namaku dengan Nat-su?"
"Eh?"
Mereka berdua berdua pun berkontak mata—mata elang hitam milik Natsu dan juga mata caramel Lucy bertemu pandang.
Deg!
Natsu segera memalingkan wajahnya kearah lain dan memegang dadanya. "Ja—jangan memandangku seperti itu, baka!" omelnya.
Lucy memiringkan wajahnya, "Eh? Memangnya aku memandangmu seperti apa?"
Natsu mendesah dan mengacak-acak rambutnya—sepertinya ia mulai frustasi. "Sudahlah. Sudah malam, tidurlah. Besok sekolah bukan?" ucap Natsu mengalihkan pembicaraan.
Lucy tersenyum memandang punggung Natsu yang membelakanginya, "Hnn, baiklah..oyasumi, Natsu.."
Natsu membulatkan matanya saat mendengar namanya di sebut oleh gadis itu. Oleh Lucy, iya oleh Lucy.
"Hnn, oyasumi" jawabnya singkat, berusaha menutupi perasaan yang sebenarnya.
Tak terdengar lagi suara Lucy. Natsu bertaruh kalau Lucy sudah masuk kedalam kamarnya dan tidur. Natsu menghembuskan nafas leganya dan memandang kearah langit malam. Ia tersenyum,
"Rasanya ini sedikit aneh.." gumamnya.
Natsu meletakkan lagi tangannya didadanya, "Apa ini yang dibilang oleh orang-orang, hmm jatuh cinta?"
Natsu segera menepis pikiran tersebut dan menggelengkan kepalanya dengan cepat. "Tidak..tidak..itu bukan yang seperti itu..ya..bukan.." tepisnya.
Di sisi lain, Lucy sudah berbaring di tempat tidurnya. Ia menutupi sebagian wajahnya—hanya sampai bagian hidungnya dengan menggunakan selimutnya. Dibalik selimut itu, Lucy tersenyum. Gadis itu pun memejamkan matanya dan terlelap masuk dalam mimpinya.
WWW
Pagi pun menjelang. Seperti biasanya, Natsu dan Sting belum juga bangun dari tidur lelapnya. Sedangkan penghuni baru rumah sudah terbangun dan sudah menyiapkan sarapan untuk penghuni yang lainnya.
"Lucy-chan? Bisa kah kau membangunkan Natsu dan Sting? Mereka akan telat kesekolah jika bangun kesiangan terus" ucap Igneel sambil menurunkan sedikit koran yang sedang ia baca.
Lucy yang sedang meletakkan gelas di meja makan pun mengangguk, "Baik!"
"Ah ya, Lucy-chan?"
Lucy menoleh, "Ya?"
"Mereka berdua memiliki kebiasaan buruk saat tidur, hmm seperti tubuh tak bernyawa. Jadi kau harus keras membangunkan mereka, okey?" jelas Igneel. Lucy mengangguk.
Lucy pun menaiki anak tangga dengan pelan—ralat, gadis itu merasa ragu. Kenapa? Jelas saja, Lucy tahu betul kalau kedua pemuda itu tak menyukainya. Tetapi tiba-tiba ia teringat dengan kejadin semalam. Diaman ia bertemu dengan Natsu dan berbincang walaupun sebentar.
Lucy mengulum senyum, "Yossh! Aku akan membangunkan Eucliffe-san—etto..kira-kira kenapa nama dia berbeda ya?"
Lucy memutar knop pintu dan membuka pintu kamar Sting. Lucy membulatkan matanya, menutup matanya. "IIIIKKKK" pekiknya pelan.
Gadis itu dihadapkan dengan pemuda tertidur dengan bertelanjang dada, dan hanya memakai boxer pendek. Menurut Lucy itu terlalu vulgar dimatanya. Ia melangkah pelan mendekati Sting yang masih bergelung di kasurnya.
"Anoo, Eucliffe-san..bangun sudah pagi" ucapnya dengan suara kering.
Sting hanya menggeliat pelan saat mendengar suara Lucy. Lucy mendesah dan mengulurkan tangannya untuk menyentuh tubuh Sting. Ia ragu-ragu dan akhirnya ia menyentuhnya juga.
"Eucliffe-san, sudah pagi ayo bangun.." Lucy menggoyang-goyangkan bahu Sting lumayan keras.
"Hmm..sebentar lagi, Ma" jawab Sting tanpa sadar.
"Ha? Apa maksudnya dengan Ma? Apa aku disebutnya mama?" gerutu Lucy dengan sebal.
Lucy menggembungkan pipinya, ia bertolak pinggang. "EUCLIFFE-SAAAN! WAKE UUPP!" seru Lucy dengan kencang.
Sting langsung bangkit duduk dan membuka kelopak matanya. Ia menoleh, mengedipkan matanya hingga pandangannya menjadi jelas dan tiba-tiba..
"KKKKAA—KKKAAAUUU! NGAPAIN ADA DISINII!" bentak Sting sambil menunjuk kearah Lucy dengan memasang wajah yang panik.
Lucy merundukkan tubuhnya berkali-kali dan mengucapkan permintaan maaf. "Gomenasai..gomenasaii!"
Sting mengacak rambutnya sekilas, kemudian menatap Lucy yang berdiri disana dengan mata tertutup. Sebelah alis milik Sting pun naik melihat tingkah Lucy. "Oy, kenapa kau menutup mata seperti itu?!"
"Etto..anoo..bisakah kau menutupi badanmu itu? Itu terlalu vulgar" jawab Lucy secara blak-blakan.
Sting memandang kearah tubuhnya yang bertelanjang dada dan juga hanya memakai sebuah boxer pendek. Sting menarik selimutnya dan menutupi tubuhnya, ia berpikir gadis ini begitu polos dan lugu. Bahkan ia takut untuk menatap pria bertelanjang dada—lucu sekali.
"Sudah..sudah..keluar sana, aku mau mandi" ucap Sting.
Lucy mengangguk dengan cepat lalu berjalan keluar dari kamar Sting, setelah sampai di pintu, Lucy berhenti, "Setelah mandi, kita sarapan bersama ya. Aku dan Kaa-san sudah membuatkan sarapan" ucap Lucy.
"Ha'i.." jawab Sting dengan cepat.
Lucy pun keluar dan menutup pintu kamar Sting kembali. Gadis itu menghembuskan nafas leganya, karena satu tugas sudah diselesaikan. Jadi sekarang tinggal membangunkan Natsu.
Lucy berjalan sedikit sudah sampai di depan kamar Natsu. Lucy menghirup nafas dalam-dalam dan menghembuskannya kembali. "Yosh!"
Lucy mengetuk pintu terlebih dahulu, "Natsu..apa kau sudah bangun?"
Tidak ada jawaban dari dalam.
Lucy menghela nafas, ia sudah bersiap untuk memutar knop pintu kamar Natsu. "Aku akan masuk~" izinnya.
Lucy pun membuka pintu kamar Natsu dan terbelalak melihat keadaan kamar pemuda yang satu itu. Gadis itu melangkah dan melihat kesekelilingnya. "Berantakan sekali.." ucapnya.
Lucy memunguti beberapa kaos yang berserakan di lantai kamar Natsu dan meletakkannya di lengannya. Ia berjalan menghampiri Natsu yang masih tertidur lelap.
'Ah dia masih tidur lelap..' batin Lucy.
Lucy menoleh kearah jam dinding yang ada dikamar Natsu. Sudah menunjukkan pukul 06.15. kalau ia tidak cepat-cepat membangunkan Natsu, bisa-bisa ia akan terlambat masuk kesekolah barunya.
Gadis itu menggelengkan kepalanya dan segera membangunkan Natsu. "Natsu..Natsu? sudah pagi ayo bangun"
Natsu hanya menggeliat dan menyembunyikan wajahnya dibalik selimut. Lucy pun menjadi gemas dan segera meraih selimut Natsu kemudian menariknya kencang. "Natsu! Ayo banguun!" ujarnya.
"Hmm.." jawab Natsu sambil merubah posisi tidurnya.
Lucy yang tidak sabaran pun menepuk keras bahu Natsu, "Natsu! Naaatsuuuuu! Banguuun!"
Jika Natsu masih belum membuka matanya dan segala cara halus Lucy tidak membuahkan hasil, Lucy berjanji akan menggulingkan tubuh Natsu dari ranjangnya.
Dan benar saja, Natsu tak membuka matanya.
Lucy melipat kedua tangannya di depan dada. Aura kekesalan semakin menguat.
"Natsuuuuu, banguuuunnnnnn!"
Brak!
Dan Lucy kini sukses menendang bokong Natsu hingga pemuda itu terpental dari kasurnya dan akhirnya membuka matanya.
"Ku—kurang AJAAAARRRR!" ujar Natsu
"KYYYYAAAA!" Lucy pun dengan terbirit-birit keluar dari kamar Natsu.
WWW
Natsu menutup pintu kamarnya, kemudian berjalan menuju ruang makan. Tangan kirinya sesekali mengelus bokongnya yang terasa sakit. Gila saja, Lucy membangunkannya dengan menendang bokongnya hingga terpental dari atas kasurnya yang empuk.
"Ohayou" sapa Natsu
Lucy mengunyah makanannya dan tak menjawab sapaan dari Natsu. Sting dan Natsu menatap Lucy dengan pandangan kesal.
"Oy! Kalo bangunin orang tuh kira-kira dong. Jangan pake nendang-nendang segala!" omel Natsu.
Lucy menatap sebal, "Dengar ya, Natsu. Ini sudah jam berapa? Aku bisa telat gara-gara membangunkan kalian berdua" balas Lucy dapat didengar nada sinis didalamnya.
"Natsu?" Igneel dan Layla saling berpandangan. Layla berpikir, jarang sekali Lucy memanggil nama depan seorang pemuda dengan mudah. Kalau bukan sanak saudaranya atau memang teman dekat.
Sting dan Natsu hanya melongo yang mendengar ucapan Lucy. Sting memicingkan matanya, "Kau sedang marah ya?" tanya Sting.
Lucy bangkit berdiri, melirik jam tangan yang ia pakai dan menoleh kearah Igneel dan Layla. "Kaa-san..Igneel-san..aku pergi sekolah dulu ya. Doakan aku agar dapat teman yang banyak!" serunya dengan ceria.
Sting dan Natsu memandang tak percaya pada gadis itu, gadis itu berani-beraninya tidak memperdulikan pertanyaan Sting dan membalas omelan Natsu? Benar-benar..
"Eh? Kau akan berangkat sekarang? Tak menunggu kedua anak ini?" tanya Igneel sambil menunjuk kearah kedua putranya.
Lucy memandang sinis kedua pemuda itu dan memalingkan wajahnya, "Tidak. Aku tidak mau dihari pertamaku sekolah, sudah terlambat" jawabnya.
Igneel pun tertawa geli, "Baiklah..baiklah..tapi apa kau tahu jalannya?"
"Eh?"
Layla mengangguk, "Iya, apa kau sudah tahu jalan menuju kesekolahmu?" tanya Ibunya.
Sting dan Natsu menunggu jawaban dari gadis itu—penasaran. Lucy pun tersenyum, "Aku tidak tahu"
"Pffftttt"
Lucy menoleh dan menatap sebal Sting dan Natsu yang sedang berusaha menahan tawa mereka hingga muka mereka memerah. "Kalau mau tertawa, tertawa saja! tak usah ditahan! Nanti, kalau tidak bisa kentut baru tahu rasa" oceh Lucy.
"Benarkah?" tanya Sting dengan nada meledek.
"Hahaha..kau lucu Luce..lucu sekali hahaha" ucap Natsu di sela tawanya.
Igneel memangku wajahnya, "Baiklah..baiklah..Lucy-chan, tunggulah Natsu dan Sting sarapan, barulah pergi kesekolah"
Lucy duduk kembali dan memandang sebal Sting dan Natsu yang masih tertawa. "Sudah tertawanya! Cepat habiskan sarapan kalian" perintahnya.
Natsu mengunyah makanannya dan menelannya, "Pada akhirnya kau menunggu kami kan? Sudah jangan banyak memerintah"
"Ha'i.." jawab Lucy yang pada akhirnya mengalah dan menunggu kedua pemuda yang akan menjadi kakaknya tersebut menghabiskan sarapan mereka.
WWW
"Sudah, jangan mengoceh terus, aku pusing mendengarnya!" omel Sting pada gadis yang berjalan disampingnya.
Lucy menoleh, "Kalau begitu kau bisa memasang headset ditelingamu itu!" balas Lucy tanpa ada rasa takut.
"Ap—APAAA?! Kau..kau berani sekali padaku!" bentak Sting yang sudah habis kesabaran.
Lucy pun memalingkan wajahnya kearah lain, Sting menggeram kesal melihat kelakuan Lucy. Tangan pemuda itu sudah terkepal, sekarang ia benar-benar marah—sangat marah.
'Di—dia tak ada manis-manisnya!' pikir Sting.
"Lagipula, ini belum bel masuk. Ini baru jam 06.55, okey? Jadi berhenti mengomel" ucap Natsu yang berjalan disisi lain disamping Lucy.
Ya, mereka sekarang sedang berjalan menuju sekolah mereka—Fairy Tail High School. Lucy menggembungkan pipinya, kesal. "Ya..Ya.." jawabnya dengan malas.
"Nah sampai juga!"
Lucy melihat dengan takjub gedung seklah yang ada dihadapannya. Matanya terlihat berbinar, bibirnya membentuk huruf o. "Bagus sekali..sasuga FT High School!" ujar Lucy.
"Eh..eh..gadis itu siapa? Kok bisa berada ditengah-tengah preman itu sih"
"Hmm, mungkin komplotan baru mereka"
"Ha? Tapi gadis itu sangat cantik, tidak mungkin ia seorang preman"
"Eucliffe-san dan Dragneel-san pun mempunyai wajah yang tampan, mereka ternyata preman sekolah"
Lucy menoleh dan memandang heran kesekitarnya. Ia merasa sangat aneh. Kenapa semua orang—semua murid yang baru datang memandangnya dengan aneh.
Sting mendecih, "Heh, kita berdua masuk duluan. Kau ke ruang guru saja. Tanya pada siapa saja yang ada nanti. Oke?"
Lucy mengangguk. "Baiklah..sampai nanti!" balasnya.
Natsu dan Sting pun berjalan dahulu dan melambaikan tangan mereka. Lucy tersenyum tipis, "Yossh! Lucy, semangatt!" ucapnya.
Setelah itu, gadis itu pun berjalan dengan semangat untuk masuk kedalam gedung sekolahnya.
Tanpa gadis itu sadari, ada seorang gadis menatapnya dengan pandangan tidak suka. "Siapa dia ya..berani-beraninya dekat-dekat dengan Sting.." desisnya.
WWW
Didalam sebuah ruangan kelas, banyak pemuda-pemuda berseragam putih hitam dengan blazer abu-abu, dimana di saku blazernya terdapat tulisan nama sekolah mereka—Sabertooth Academy. Sekolah khusus anak laki-laki tingkat SMA.
"Rogue. Bagaimana dengan penyerangan ke FT High School?" tanya seorang pemuda dengan rambut panjang pirangnya. Anehnya pemuda itu memakai sebuah topeng—sok misterius.
Sosok yang dipanggil dengan nama Rogue pun menoleh dan menyeringai ngeri. Rambut hitamnya dan bola mata merahnya menambah kesan brutal di diri sosok itu.
"Yah, benar. Kita harus secepatnya menyerang sekolah itu..hmm, bagaimana kalau besok?"
Beberapa pemuda yang berdiri disekitar pemuda itu pun ikut menyeringai, "Ide bagus!"
Rogue tersenyum licik dan memandang keluar jendela kelasnya.
'Sting..dan Natsu..lihat saja pembalasanku' batinnya
.
.
.
.
To be continued
Hehe akhirnya bisa update juga. Terimakasih yang udah review chapter kemaren. Btw, bagaimana dengan chapter kedua ini? hehe
Yaudah sekarang langsung bales review aja deh.
Yang pertama dari YuukiViona, Salam kenal ^^ hehe makasih ini udah lanjut chapter 2, bagaimana? ^^. Yang kedua dari Kissuragi Kurushi, Iya udah diganti kok. Makasih ya udah diingatkan. Yang ketiga dari Yusa-kun, hehe salam kenal, Yusa-kun. hehe makasih ya. ini udah lanjut loh, tapi kayaknya ini bukan update cepet ya? hehe. Yang terakhir dari Annataillie, ini udah lanjut kok ^^
Udah selesai deh balesnya, nah minna..mohon maaf kalo ada typo banyak atau dikit didalam cerita, pemakaian kata yang kurang senonoh atau kurang pantas, gomenasaaaaiii! Maklum pemula ^^ Mohon saran dan kritiknya yang membangun ya, minna-san..
Akhir kata, Koji berterima kasih pada yang udah bersedia baca, review, dan menjadikan ini favoritnya dan memfollownya. Arigatou Gozaimasuuu..
Koji pamit. Sampai bertemu di chapter depaaan...
