Captain Tsubasa (c) Yoichi Takahashi

Pihak Ketiga

Chapter 2

by 220734khageswara

Semenjak insiden kemarin sore, Matsuyama dan Yoshiko pun mulai menjaga jarak. Matsuyama yang (pura-pura) cuek, sementara Yoshiko takut-takut untuk mendekati Matsuyama. Tentu saja teman-temannya bertanya dalam hati mereka, apa yang terjadi dengan mereka? Matsuyama yang biasanya ramah pun menjadi kaku.

"Hm, aku jadi khawatir dengan Matsuyama dan Yoshiko." kata Machiko kepada Oda, sahabat dekat Matsuyama di tim Furano.

"Khawatir karena mereka itu jalannya mulai misah?"

"Yah, begitulah. Aku gak ngerti, kenapa Matsuyama bisa semarah itu? Emang Yoshiko buat salah apa?"

"Lo gak tanya ke Fujisawa?" tanya Oda. Machiko hanya menggeleng.

"Gimana mau nanya..., kemarin aja dia menangis terus. Percuma saja, Yoshiko emang agak tertutup kalo ada masalah."

"Gue nanya ke Matsuyama, eh gak dijawab. Kalo pun dia ngomong, dia langsung ngebahas soal sepakbola. Aneh dah."

"Aku harap mereka gak sampai putus ya..."

"Gue harap gitu..."

Di kelas, Matsuyama hanya duduk di kursinya. Tangannya sedang menuliskan sesuatu di buku catatannya. Matsuyama mencatat hasil rangkuman dari temannya karena semenjak tadi, Matsuyama tidak konsen sehingga banyak yang terlewat.

"Matsuyama..."

Matsuyama menoleh ke sumber suara. Ternyata ada Nosaka disitu. Matsuyama berusaha tersenyum saat menyapanya.

"Halo, Nosaka. Ada apa?"

"Aku hanya menyapamu saja, Matsuyama. Oh iya, kenapa sekarang gak bareng sama Fujisawa-san?"

"Yah, kami ada masalah..., sedikit."

"Apa masalahmu?"

Matsuyama menatap Nosaka. Sebisa mungkin dia tidak curhat mengenai hubungannya dengan Yoshiko yang sedang merenggang. Kalau kata orang bijak, pantang berbicara keburukan kita pada orang lain.

"Begitu saja kok. Mungkin kami lagi bosan."

"Oh, moga kamu bisa cepat baikan dengan Fujisawa-san ya..."

Matsuyama mengangguk lemah. Perhatiannya pun kembali ke catatannya sambil berharap dia tidak berpikir yang aneh-aneh lagi.

~000~

Yoshiko membaca buku sejarah dengan tatapan sayu. Bukan, dia bukan mau mereview apa yang dia baca. Perasaannya masih gundah sehingga dia hanya bisa mengalihkan perhatian dengan buku sejarah itu.

"Fujisawa-san..." panggil Nosaka.

"Eh? Iya?" Yoshiko sempat kaget.

"Apa yang kamu pikirkan? Sedih begitu..."

"Yah, hanya sedikit bermasalah dengan Matsuyama-kun."

"Berantem?"

"Mungkin seperti itu."

"Emangnya kamu ada salah sama dia?"

"Justru aku gak ngerti kenapa Matsuyama-kun bisa semarah itu. Karena itu juga, hubungan kami merenggang." Yoshiko menjelaskan hal itu dengan mata berkaca-kaca. Nosaka langsung membelai rambut Yoshiko.

"Sudahlah. Gak usah sedih. Kalo ada apa-apa, ceritakan padaku saja, Fujisawa-san."

"Hm, Nosaka-kun?"

"Ya?"

"Kamu pernah ngalamin hal ini juga pada pacarmu?"

"Tidak pernah. Aku gak pernah pacaran. Soalnya..., orang yang kusuka itu udah ada yang punya. Jadinya aku telat gitu. Hehehe."

"Begitu ya, sayang sekali..." Yoshiko menutup bukunya dan memasukkannya ke dalam tasnya. "Tapi kamu belum bilang suka ke dia?"

"Belum. Aku takut dia menolaknya."

"Ya udah, nanti kamu bilang saja. Gak baik ditahan begitu."

Nosaka mengangguk. Senyumnya kian melebar. Tampaknya ada sesuatu yang direncanakan olehnya.

~000~

Latihan sepakbola dimulai lagi. Yoshiko tetap ikut kegiatan itu meskipun dia menghindari kontak dengan Matsuyama. Benar saja, ketika pembagian handuk dan minuman, Yoshiko lebih memilih menyerahkannya ke Machiko dan mengerjakan tugas lain seperti membantu pelatih menyusun arsip tim.

"Yaaaaaaah, bukan Fujisawa yang ngebagiin handuknya?" celetuk Oda kecewa atau lebih tepatnya dia 'mancing' Matsuyama. Yang dipancingnya tetap acuh tak acuh.

"Gak masalah kok buat gue. Kita kan punya manajer 2 orang." balas Matsuyama to the point. Jawaban yang cukup sarkastik untuk seorang Yoshiko Fujisawa. Untungnya Yoshiko sedang tidak berada disitu.

"Hey, gak baik bilang gitu! Lo sendiri yang bilang kalo kita harus hargain manajer karena mereka rela bersama kita, bukannya nikmatin kegiatan anak cewek lainnya!"

"Kok jadi lo yang perhatian sama dia sih?"

"Emangnya salah ya, kapten? Oda kan bilang kayak gitu karena dia menghargai manajer juga. Kita-kita juga sependapat sama Oda." kata Kato disertai anggukan dari seluruh pemain. Matsuyama yang merasa terpojok hanya mendengus kesal.

"Huh, terserah kalian saja!" seru Matsuyama dongkol lalu berjalan pergi. Oda dan teman-teman lainnya hanya menghela napas panjang.

"Duh, susah kalo kapten masih keras hati gitu." celetuk Kato.

"Entahlah, mungkin ini cobaan buat mereka berdua. Soalnya selama ini mereka akur-akur aja kayak gak ada beban gitu. Kan suatu hubungan itu gak selalu mulus gitu aja." balas Machiko.

"Ahahaha, lo kayak ngerti aja sih, Machida!"

"Iya lah!"

Matsuyama terus berjalan menuju toilet sekolah. Di perjalanannya itu, dia melewati ruangan locker tim SMU Furano. Matsuyama melihat ke dalamnya dan matanya menangkap bayangan seorang gadis yang tengah merapikan arsip-arsip. Itulah Yoshiko yang tengah berkutat dengan arsip-arsip. Matsuyama ingin sekali berbicara dengannya dan menyelesaikan semua ini, akan tetapi dirinya masih minder sehingga dia memilih tetap ke toilet.

Gue harus gimana?, pikir Matsuyama. Gue yang minta maaf atau Yoshiko? Emang gue salah apa sama dia? Bukannya dia yang salah karena dia gak bilang-bilang pergi bersama cowok lain? Siapa cowok itu?

Di toilet, Matsuyama membasuh mukanya berkali-kali. Disibaknya poninya itu sehingga keningnya terlihat dan memandang wajahnya yang basah dengan air itu di cermin. Terlihat sekali dari raut wajahnya bahwa dia masih kesal dengan keadaan ini. Sesuatu yang tidak disukai oleh Matsuyama saat ini.

"Gue harus bicara sama dia!" seru Matsuyama mendadak. Dia pun langsung pergi ke ruang locker tim SMU Furano. Namun ketika dia sudah mendekati pintu, Matsuyama terkejut setengah mati. Matanya menangkap bayangan gadisnya itu sedang bersama lelaki yang sudah tidak asing lagi bagi Matsuyama.

"Nosaka!?"

~000~

"Hey hey, Matsuyama! Kamu kemana saja? Tadi ada pertandingan merah putih dan kamu gak ikut. Ada apa?" tanya pelatih. Matsuyama menggeleng lemah.

"Gak apa pelatih. Maaf saya terlambat."

"Lo kenapa, Matsuyama? Lo kayak gak sehat gitu?" tanya Oda.

"Yah, mungkin saja."

"Matsuyama! Jika kamu tidak fit, lebih baik kamu istirahat saja. Pulang duluan juga gak apa." saran pelatih. Matsuyama hanya mengangguk saja dan pergi mengambil barangnya. Semuanya disitu heran, Matsuyama sedang dalam kondisi yang aneh. Apa pertengkarannya dengan Yoshiko itu membuat Matsuyama terguncang sedemikian hebatnya? Hanya Matsuyama yang mengetahui semuanya.

"Pelatih, teman-teman..., maaf duluan pulang ya..." kata Matsuyama pamit dengan suara bergetar. Semuanya hanya berkata, "Hati-hati di jalan." serempak.

"Oh iya, lo bisa ajak Fujisawa pulang bareng aja!"

Ucapan Oda itu membuat Matsuyama tidak menjawab. Sebisa mungkin dia meninggalkan lapangan tersebut sambil menggenggam hachimaki miliknya dengan gusar.

~000~

-to be continued-