"—sekarang kau memang melupakanku. Tapi suatu saat nanti, yang aku sendiri tidak tahu kapan itu terjadi, kau pasti akan bisa mengingatku lagi."
.
"Aku tidak bisa mengingatnya, tapi aku bisa merasakan kalau dia ada."
.
"And because you'll never really forget me."
.
Remember Me
© Sapphire
-1-
Meet The Destroyer
Derap langkah bising seekor kuda perang memasuki wilayah Istana. Castillo del Dragòn. Benteng naga, begitulah tempat tinggal keluarga kerajaan itu disebut. Dua buah patung naga raksasa menjadi penyambut kedatangan orang-orang yang memiliki urusan di wilayah sakral tersebut. Patung itu jugalah yang menjadi simbol dari kerajaan Barat ini, Kerajaan Shinryuuji.
Shinryuuji, kerajaan dengan komoditi baja terbaik, berada di barisan terdepan dalam kekuatan militer. Beberapa Kerajaan kecil di sekitar sudah mereka jarah untuk memperlebar kekuasaan. Sejak rezim yang dipimpin sang Raja, Sumita Sendouda, Shinryuuji maju menjadi Kerajaan tak terkalahkan.
Dan jangan lupakan sosok penting dari keberhasilan Kerajaan Barat ini dalam memenangkan seluruh pertempuran, sang Jendral Perang, Putra Mahkota Shinryuuji. Usianya baru menginjak 17 tahun, tapi jangan pertanyakan lagi mengenai keperkasaan dirinya di medan tempur. Seluruh lawan akan tunduk di kakinya, mati terhunus oleh pedang perak miliknya.
Kebiasaannya yang selalu menghabisi musuh tanpa basa-basi membuat dirinya mendapat julukan Il Distruttore, sang penghancur. Akan siap menghancurkan apapun atau siapapun yang menghalangi dirinya.
Tak punya hati, itu kata orang kebanyakan. Mengingat usianya tak kurang dari 17, tapi sudah tak terhitung berapa nyawa yang harus berakhir di pedangnya. Wajahnya dingin, tak pernah berekspresi. Sekalinya bicara, akan sanggup membungkam mulut semua orang. Aset kesayangan sang Raja, yang dibenci sekaligus ditakuti.
Tapi itu hanya tampak luarnya.
Tak pernah ada yang tahu sisi terdalam dari diri sang Putra Mahkota. Tak ada yang tahu bahwa segala perilaku dan sifat layaknya iblis yang kini bersarang di dirinya bukanlah diri aslinya, melainkan hanya pelampiasan akibat kekecewaan yang kelewat mendalam. Akibat kejadian bertahun lalu yang menorehkan luka parah di hatinya yang sampai sekarang tak pernah terobati, membuatnya kini menjadi nanah busuk.
Ya, kejadian 5 tahun lalu, penghapusan memori seorang manusia yang dilakukan malaikat.
.
.
Pemuda berwajah dingin itu menuruni kuda perangnya dengan gagah, lalu berjalan dengan langkah tegap memasuki bangunan Istana. Tiap kali ia melangkah, seluruh orang akan selalu bersujud untuk mengiringi langkahnya. Putra Mahkota tetap memasang ekspresi dinginnya, tak peduli dengan apa yang dilakukan para rakyat jelata. Itu bukan urusannya.
"Yang Mulia!"
Sebuah suara menghentikan sejenak langkah kaki sang Pangeran. Ia berbalik, menampilkan sorot mata onyx-nya pada si lawan bicara, seorang pengawal seperitnya. "Ya?" desisnya.
Pengawal itu, bohong sekali jika dibilang ia tak takut kini. Ia jadi menyesali tindakan nekatnya menegur sang Pangeran, siapa yang tahu sedang dalam mood baik atau burukkah remaja menyerupai iblis ini? "A-ada seorang pencuri yang tertangkap siang ini, Yang Mulia," sanggup juga akhirnya mulutnya berbicara. "Harus kami apakan pencuri itu?"
Pangeran mendengus, menganggap pertanyaan itu seakan pertanyaan paling bodoh yang pernah ada. "Kau bertanya padaku?" balasnya setengah mencibir. "Bunuh, tentu saja." Jawabnya ringan tanpa beban, seakan perkataannya barusan bukanlah menentukan hidup dan mati seorang manusia.
Si Pengawal meneguk ludah, tak menyangka reaksi dari Tuan-nya ini. "Tapi—"
"Tidak ada tapi, kau memutuskan untuk menyerahkan hukuman pencuri itu padaku, dan kau tahu pasti bagaimana nasib semua pendosa jika berurusan denganku—" berhenti sejenak untuk mendramatisir. "—Mati. Bukankah bagus jika mengirim mereka lebih cepat ke Neraka?"
Pengawal yang kiranya berusia paruh baya itu menggigit bibir, kali ini ia memaki dirinya sendiri karena perbuatannya ini. Ingin rasanya ia membalas: bukankah kau yang paling pantas untuk berada di Neraka? Tapi jelas ia masih sayang akan nyawanya. Jadi, daripada memperpanjang urusan dengan Pangeran sakit jiwa ini, keputusan bijak sekali ketika akhirnya sang pengawal memutuskan undur diri dan segera kabur sejauh mungkin.
Putra Mahkota tetap pada ekspresi dinginnya. Menghela nafas, lalu akhirnya kembali berjalan.
"Yang Mulia,"
Suara lagi, apa sekarang adalah hari sibuknya, eh? Tapi sang Pangeran tak ambil pusing, ia tetap melangkah tanpa menoleh sedikit pun pada orang yang memanggilnya. Sudah terlalu banyak yang perlu ia urus untuk hari ini, yang ia inginkan hanya bisa beristirahat sejenak di ranjangnya—sebelum kemudian harus kembali menampilkan topeng bengisnya di hadapan semua orang.
"Pangeran,"
Tetap tak peduli. Ia tahu pasti milik siapa suara ini, lebih baik didiamkan daripada harus mendengar ocehannya. Langkahnya ia percepat, ingin segera sampai tujuan tanpa perlu mengalami gangguan.
"Putra Mahkota,"
Terus mengoceh, yadda yadda, seperti dirinya peduli saja. Ada jeda sesaat sebelum kemudian orang itu melanjutkan.
"Ikkyu,"
Deg.
Langkah sang Pangeran terhenti. Ikkyu? Kapan terakhir kali ada seseorang yang memanggilnya dengan nama itu? Bahkan ayah kandungnya lebih memilih memanggilnya Il Distruttore dibanding nama aslinya sendiri. Ikkyu. Nama itu terasa asing di telinganya, seperti orang lain. Siapa Ikkyu?
Melihat air muka sang Pangeran yang melunak, orang itu memutuskan untuk berjalan mendekatinya. Kedudukannya sebagai penasihat kerajaan di usia yang baru memasuki 22 tahun membuat pemuda dengan rambut gundul itu tak bisa dianggap remeh. Unsui Kongou, namanya.
Langkah lambatnya berhenti ketika akhirnya mensejajarkan diri dengan sang Pangeran. Lama ia menatap wajah bocah 17 tahun itu—ah, tak seiblis yang semua orang kira, sebenarnya. Jika diamati baik-baik, Pangeran sebenarnya memiliki wajah inosen biasa seperti layaknya remaja normal lainnya. Hanya saja ia mungkin terlalu keras mencoba agar menunjukkan topeng kejamnya pada semua orang.
Terkadang Unsui lupa, Il Distruttore ini lebih muda 5 tahun darinya.
"Ikkyu," panggilnya lagi.
"Siapa yang kau maskud?" desis sang Pangeran tertahan.
Unsui menghela nafas sejenak. "Kau," Lupakan sejenak formalitas, karena sekarang Unsui ingin berhadapan dengannya bukan sebagai bawahan-atasan—tapi sebagai teman. "Tidak ingatkah kau, Ikkyu? Dulu kita sering bermain bersama, aku sering menemanimu latihan pedang." Entah kenapa Unsui mengucapkannya dengan rasa rindu yang terlihat jelas.
Ikkyu hanya diam menanggapinya. Unsui Kongou adalah temannya—atau dulu temannya. Keluarga Kongou gugur dalam perang, hanya meyisakan Unsui dan seorang adik kembar, Agon Kongou. Sang Raja lalu memutuskan untuk mengasuh dua bersaudara itu, mendidiknya untuk menjadi pengabdi Shinryuuji.
Si adik, kini menjadi salah satu anggota elit Crusader, pasukan perang kerajaan. Dan Unsui sendiri, menjadi penasihat sang Raja.
Ikkyu tak pernah akrab dengan Agon, tapi tak bisa dipungkiri bahwa masa kecilnya banyak ia lalui bersama Unsui. Orang yang bahkan sudah ia anggap sebagai kakak. Tapi itu dulu, sebelum kejadian itu.
"Terasa seperti sudah lama sekali," Ikkyu akhirnya menanggapi.
Unsui tersenyum kecil. "Aku malah beranggapan seperti baru kemarin."
Sudut bibirnya terangkat sedikit, membentuk senyuman samar. Tapi lalu kembali pada ekspresi dinginnya, ditatapinya Unsui dengan pandangan tajam. "Apa maumu?"
Pemuda gundul itu mengangkat bahu. "Hanya ingin bicara denganmu."
Sang Pangeran mendengus. "Menurutmu aku akan percaya?" cibirnya
Kembali Unsui menghela nafas, ia memandang Ikkyu dengan wajah lelah. Sedikit nostalgia kecil tadi tak berarti apa-apa tampaknya bagi Putra Mahkota. Apa sudah tak ada lagikah Ikkyu yang dulu? Apa yang ada kini hanya sosok kejam Il Distruttore? "Kenapa semudah itu kau memutuskan untuk mengakhiri nyawa seseorang?" tanya Unsui lirih.
"Kenapa harus sulit?" balasnya santai.
"Mereka manusia!"
"Yeah, lalu?"
Unsui menggigit bibir bawahnya, percakapan ini rasanya melelahkan sekali. Kemana Ikkyu yang dulu? Yang polos, yang manis, yang konyol? Siapa sebenarnya sosok di hadapannya ini? Ikkyu yang dulu tidak akan seperti ini. Menggelengkan kepala, lalu barkata. "Aku tak pernah menyangka kau akan tumbuh menjadi penghancur seperti ini." desisnya.
Wajah itu kini memandangnya remeh, memamerkan seringai keji. "Menurutmu aku jadi seperti ini karena siapa, eh?" balasnya, balik menuding. "Tahu tidak, Unsui? Jika saja 5 tahun lalu kau memberi saran pada sang Raja agar membunuhku saja, semua tak perlu seperti ini." Tandasnya.
"Jadi ini semua salahku?" Ucapan itu lebih seperti ia ucapkan untuk dirinya sendiri.
Ikkyu memutar bola matanya bosan. "Pikir sendiri," bersamaan dengan itu ia segera beranjak pergi, mendadak teringat dengan tujuan semula untuk beristirahat sejenak di kamarnya.
Dan meninggalkan Unsui dalam kesunyian, yang membuatnya kembali bertanya. "Apa ini semua memang benar-benar salahku? Aku, yang dengan egoisnya memisahkan Ikkyu dan Putri Kerajaan Timur."
Apa memang lebih baik bila membunuhnya saja saat itu?
Terdiam. Hanyut dalam pikirannya sendiri.
Tidak, tidak akan pernah menjadi lebih baik jika Ikkyu terbunuh.
.
.
Ikkyu Hosokawa tidak pernah terlahir menjadi seseorang yang jahat. Peran antagonis sama sekali tidak tepat bila disandangkan dengan dirinya. Selama 12 tahun, ia tumbuh menjadi Pangeran Shinryuuji yang memiliki moral dan kepribadian yang baik.
Tapi segalanya harus berubah dalam satu hari.
Ia bertemu dan jatuh cinta dengan Putri Kerajaan Timur, Mamori Anezaki. Sejarah panjang kedua kerajaan itu mengharuskan mereka untuk saling membenci. Hanya peperangan panjang tanpa akhir yang menghiasai jika mereka mencoba untuk bersama. Bukan hal yang aneh jika kemudian Raja Shinryuuji bertindak, memisahkan Ikkyu dan Mamori bagaimanapun caranya.
Dan lalu, Unsui sebagai penasihat memberi saran agar meminta bantuan sekutu Shinryuuji—pihak Surga, yang oh pastinya akan sangat senang bila kembali berurusan dengan manusia. Ingatan Mamori tentang Ikkyu terhapus, dan Ikkyu tidak. Mamori tidak perlu merasakan rasa sakit, dan Ikkyu tetap menanggungnya sampai sekarang.
Dilupakan oleh gadis yang ia cintai, usianya baru beranjak 12 tahun dan harus menerima kenyataan bahwa kebahagiaannya direnggut dengan seenaknya. Lalu di tengah keterpurukan itu, benaknya bertanya: Orang lain berhak bahagia, kenapa ia tidak? Orang lain bebas mencintai siapapun, kenapa ia tidak? Kenapa harus ia yang menerima semua sakit ini?
Sisi terkelam dirinya lalu bangkit, menempanya menjadi pribadi keras yang tertutup. Mengubahnya menjadi sang Penghancur. Kebahagiannya diambil, lalu kenapa ia tidak boleh mengambil kebahagian milik orang lain?
Dari situlah cikal bakal dari Il Distruttore.
.
.
Menghabiskan sore dengan duduk melamun di salah satu bangku taman Istana, sama sekali bukan kegiatan yang biasa dilakukan oleh sang Pangeran. Tapi di sinilah ia sekarang, mengosongkan pikiran dengan hanya menatap hamparan rumput yang membentang di halaman belakang Castillo del Dragòn.
Sedang malas menghadiri latihan militer, malas juga mengikuti jamuan bangsawan. Kadang ia pikir betapa lebih mudah jika seandainya ia dilahirkan hanya sebagai rakyat biasa, tanpa embel-embel Putra Mahkota Shinryuuji di belakang namanya. Dan Ikkyu percaya, jika memang ia terlahir tidak sebagai dirinya yang sekarang, mungkin ia bisa bersama dengan Mamori. Bebas mencintai gadis itu tanpa takut akan memicu perang.
Tapi sekali lagi, itu hanya angan yang tak mungkin terjadi.
"Wajahmu berantakan sekali."
Teguran halus itu menyadarkan lamunan Ikkyu, dengan wajah keras, ia memandang pemilik suara lembut itu. Sosok gadis berambut panjang pirang balik memandangnya dengan senyum manis.
Ikkyu mendengus. "Jangan muncul mengagetkan begitu!" gerutunya.
Sosok itu tertawa kecil, terdengar sangat merdu sekali di telinga Ikkyu. Segala keindahan memang terdapat pada dirinya, Karin. Sebenci apapun Ikkyu dengan sekutu dari Kerajaannya ini, ia tak pernah bisa benar-benar membenci malaikat satu ini.
"Maaf," ujarnya, masih dengan tatapan lembut. "Tapi aku serius, makin hari kau makin terlihat berantakan saja."
"Bukan urusanmu!"
"Dan juga makin ketus."
Ikkyu memutuskan diam saja daripada meladeni Karin.
"Kau sudah sangat berubah, Pangeran." Karin melanjutkan, dipandanginya Ikkyu. "Kau tahu, ingin sekali rasanya aku mengambil semua beban dan rasa sakit yang kau derita. Aku tak pernah sanggup melihat ada orang lain kesusahan di depan mataku sendiri."
Sang Pangeran tetap bungkam.
Karin menghela nafas. "Maafkan saudaraku, bisakah kau?" tanyanya penuh harap. "Maafkan atas eksekusi yang ia lakukan 5 tahun lalu."
Ingin rasanya Ikkyu tertawa keras-keras mendengar ucapan Karin barusan. Memaafkan Yamato, katanya? Bah! Yamato saja tidak minta maaf padanya, untuk apa ia memaafkan? "Dengar, Karin, sampai mati aku akan tetap menaruh kebencian padanya! Itu dosa tak termaafkan!"
Wajah itu kini mengiba. "Yamato tak pernah bermaksud merenggut kebahagiaanmu. Yang ia lakukan demi kebaikan. Menghapus ingatan Putri Deimon itu tentangmu, dan memisahkan kalian berdua adalah yang terbaik."
Pembicaraan ini hanya akan menguras tenaga Ikkyu saja, padahal ia hanya ingin bersantai. Wajah dinginnya memandang Karin tajam. "Cukup, oke? Aku sedang tidak ingin membahas masalah itu."
Karin diam, memandang wajah pemuda itu dengan tatapan iba yang sama.
Ikkyu mendadak seperti menyadari sesuatu. "Omong-omong, sedang apa kau di bumi, Karin?"
"Sang Raja memanggil kami." Jawabnya singkat sambil mengangkat bahu. "Sekarang ia sedang berbicara dengan Yamato."
Ikkyu makin berkerut keningnya. "Bahkan Yamato juga ada di sini?" ulangnya tak percaya. Malaikat dengan kedudukan tinggi seperti Yamato bahkan juga dipanggil, ada apa ini? "Apa yang diinginkan Raja sampai memanggil malaikat?"
Karin seperti hendak mengatakan sesuatu, tapi kemudian menahannya. "Lebih baik kau tanyakan sendiri pada ayamu."
"Aku butuh jawaban langsung!"
Ragu-ragu, tapi akhirnya membuka mulutnya juga. "Shinryuuji akan memulai perang dengan kerajaan Timur, Deimon."
.
.
Marah, kecewa, kesal, semuanya bercampur jadi satu.
Ikkyu tak habis pikir, apa yang di pikiran ayahnya sebenarnya? Sang ayah memisahkannya dengan Mamori agar perang tak perlu terjadi, tapi kini ia sendiri yang hendak melakukan penyerangan ke Deimon. Permainan apa lagi kali ini yang sang ayah mainkan?
Langkahnya ia percepat, berjalan menuju ruangan rapat biasa diadakan dengan para petinggi kerajaan. Tidak akan ia biarkan sang Raja berbuat seenaknya lagi kali ini. Melindungi Mamori dan membiarkannya tetap hidup, itu adalah prioritas dan tujuan satu-satunya Ikkyu selama ini.
Sampai juga akhirnya, dengan penuh emosi, Ikkyu membuka lebar-lebar pintu besar itu.
"APA MAKSUD DARI RENCANA PENYERANGAN ITU, YANG MULIA?"
Sumita Sendouda berjengit mendengar teriakan keras dari sang putra. Di sebelahnya, Yamato hanya menatap Ikkyu dengan wajah tanpa emosi. Ada beberapa malaikat di ruangan ini selain Yamato, diantaranya; Taka, Heracles, Shin, dan Achiles. Ikkyu menyipit melihat kehadiran malaikat dengan jumlah cukup banyak ini.
"Pangeran, tenangkan diri Anda." Suara ini terdengar dari sudut ruangan, Unsui. Ya, ia kembali menjadi Penasihat Kerajaan, bukan lagi berperan layaknya teman seperti beberapa saat lalu.
"Diam!" desis Ikkyu, matanya masih tertuju pada sang Raja.
Sendouda menggelengkan kepalanya, lalu menghembuskan nafas perlahan. Usia tak bisa menipu, ia sudah tak sekuat dulu. Badannya sudah rapuh digerogoti umur. Berbicara keras jelas bukan opsi yang ia inginkan. "Jadi kau sudah tahu?" tanyanya.
"Ya."
"Dengar, kita akan memperluas kekuasaan bila berhasil menghancurkan Deimon. Tidak akan ada lagi penghalang jika berhasil menduduki wilayah mereka!"
Ikkyu masih tetap tidak puas dengan jawaban itu. "Sampai meminta bantuan makhluk Surga?" tanyanya membelalakkan mata seraya menunjuk barisan malaikat yang berderet di samping ayahnya.
Sang Raja tetap menjaga emosi, dengan tenang berusaha menjelaskan. "Ksatria Templar mereka tidak akan bisa mengalahkan Crusader, karena itu aku memikirkan kemungkinan jika Deimon juga ikut meminta bantuan pihak lain."
Meyipitkan mata. "Pihak lain?"
"Sekutu Deimon—pihak Neraka."
Oh, jadi kini akan menjadi perang Neraka vs Surga jilid dua dengan manusia sebagai perantaranya? Serius, Ikkyu muak!
Menghembuskan nafas, lalu berbalik pergi. "I'll pass."
.
.
TBC
Author: Udah 5 bulan ya ==' ckckck saya gak tau kenapa saya ini kayaknya lamban banget dalam masalah mengapdet fic, maap ya readers (_ _)
Oke, pengen ngebahas lebih lanjut masalah Ikkyu yang mendadak OOC sekali di sini. Oye, banyak yang nebak Pangerannya Hiruma ya O.O Ikkyu di manga emang keliatannya konyol dan objek bully dari anak-anak Shinryuuji. Tapi perhatiin deh, tiap ada yang nantangin dia masalah perang catch, mukanya pasti berubah jadi nyeremin. Nah, wajah serem yang kayak gitu yang biasa ia tunjukkan sebagai Il Distruttore xD jadi anggep aja saya sedang menggambarkan sisi tergelap dari seorang Ikkyu Hosokawa *plak*
Dan masalah Ikkyu yang kayaknya cinta mati banget sama Mamori padahal baru sekali ketemu. Yah, maklum ya, ini kan jaman dulu -_- liat aja tuh RomeoJuliet, baru sekali ketemu aja udah crazy in love u_u atau Cinderella sama Prince Charming, yang baru dansa semalem aja udah sampai rela nyari-nyari Cinderella ke penjuru negeri. Jadi ngertiin lah perasaan Ikkyu :D
Waktunya review reply XD
Kazuazul: nyaha misterius ya? Sengaja sih, soalnya chap kemaren kan masih prolog, jadi tokohnya juga gak dijelasin XD dan emang masih banyak bagian yang belum saya jelasin, di chap2 mendatang mungkin :) yap, ini apdet
Chian30ne: Bukan Hiruma XD Muahaha masa' Raja-nya yang Hiruma =)) yep udah apdet
Hore gak login: nyaa~ jangan sedih dong *?* udah ketebak kan di chap ini :3 udah apdet
Angels's Apple: Huwaa~ kangen dirimu *nemplok* kemana saja kau, nak u_u iya ada perang, ta-tapi jangan bandingin sama karyanya engkong Tolkien atau mas Paolini dong XDD yep, Ikkyu, selamat kau doang yang berhasil nebak :D haha iya gpp, aku ngerti kau sibuk sampai2 melupakanku *?* =='
RisaloveHiru: bukan Hiruma, gomen :3 iya udah setaun nih =) udah apdet
Rizu Auxe09: gak Mamo centric juga sih, karena fokus terbagi ke Mamo sama Ikkyu =D iya udah apdet, maap lama (_ _)
Yoshikitty29: ro-romantis o.O huwee makasih *peluk* XDD iya bukan Hiruma, ini udah apdet :D
Kazeyana Fami: udah apdet XD
YohNa-nyu: nyaa makasih *peluk* oke udah apdet XD
Dilia Shiraishi: makasih makasih *peluk* =)) iya bukan Hiruma, tapi dia juga nanti muncul kok XD makasih ucapannya, nih apdet :)
Gekkou Kitsu: iya itu puisi :3 nih adpet XD
Oke, berminat review lagi?
