saya kembali bawa part dua nih. langsung aja ke cerita...

Ini mimpi. Ya ini mimpi. Jujur saja, aku benar-benar berharap ini mimpi. Ku tepuk pipiku dan berharap aku terjaga dan aku terbangun dengan matahari yang menyilaukan mataku. Tapi nyatanya hal itu tidak pernah terjadi. Ini masih malam dan aku belum tertidur satu detikpun meski jarum jam menunjukkan pukul dua lewat tujuh menit. Sudah terlalu larut, begitu pikirku. Rasanya tak akan ada mahkluk siang yang akan terbangun sampai selarut ini.

Kata-kata otou-sama masih terngiang-ngiang di telingaku bagai mimpi buruk dan tak terbantahkan. Kata-katanya berkilat tajam di telingaku. Sangat menyakitkan, kenapa harus naruto? Kenapa harus nii-san? Siapa yang salah? Siapa yang harus di persalahkan disini? Ah, rasanya tak pantas aku bertanya siapa yang salah karena jelas-jelas aku yang salah dan membiarkan perasaan ini tumbuh dan berkembang pada naruto. Salahku karena tak jujur dengan perasaanku sendiri.

Sakit. Sekujur tubuhku sakit. Semuanya merasakan sakitnya. Rasanya tubuhku lemas dan ada perasaan yang sangat menyesakkan yang tak dapat untuk aku tuntaskan. Seperti menahan ledakan yang sudah sangat membengkak. Begitu menyiksa dan menuntut untuk dilepaskan. Rasanya tubuhku akan berderai saat kata-kata yang seperti menfonis kematianku itu terucap dari bibir ayahku yang dingin.

"Tanggal pernikahan kalian sudah di tetapkan awal bulan depan" begitu yang ayahku itu ucapkan. Dan bersamaan dengan terucapkannya kata-kata itu jiwaku rasanya lepas dari ragaku. Aku begitu tersiksa dan ini karena ayahku. Kenapa bukan aku yang dijodohkan dengan naruto? Bukan jika itu aku akan sama saja? Atau karena aku masih kecil dan belum punya pekerjaan, lalu kenapa tidak menunggu saja? Terlalu banyak kata kenapa dalam kepalaku yang membutuhkan jawaban karena.

Kembali aku melihat jam dinding dan disana sudah terpampang jarum pendek dan jarum panjang yang mengarah ke angka tiga. Ah, sepertinya malam ini aku terserang insomnia. Jadi begini rasanya terbangun malam hari. Biasanya aku tak akan membuka mata lagi saat sudah pukul sebelas malam, itu sudah selarut-larutnya aku tertidur. Ku seka pipiku yang di genangi air. Sejak kapan air ini ada di pipiku? Apakah aku menangis? Sepertinya iya. Benar kata orang salah satu alasan lelaki menangis adalah saat ia kehilangan orang yang di cintainya. Tapi benarkah aku kehilangan naruto? Aku bahkan tak pernah memilikinya. Kalau dipikir-pikir lagi, aku memang menyedihkan bukan?

Mungkin ada baiknya aku coba pejamkan mata, siapa tahu aku akan tertidur dengan sendirinya. Meski tak bisa ku pungkiri bayangan naruto bersama aniki selalu hadir dan berlarian di kepalaku. Argh, aku butuh tidur untuk menenangkan diriku.


Sesuatu yang terasa sangat menyebalkan menyerang mataku. Memaksa aku untuk membuka mataku yang sebelumnya terpejam. Ugh, sepertinya sinar matahari pagi sukses menyusup dalam kamarku dan aku dengan sangat terpaksa membuka mataku. Tiba-tiba aku merasa pusing karena gerakanku yang langsung bangun dari tempat tidur. Sepertinya aku sudah mulai merasakan efek dari insomniaku semalam. Dan hal aneh lainnya adalah mataku. Kulit dan daging di sekitar mataku seperti menebal dalam semalam. Membuat ruang lingkup penglihatanku berkurang, akh pasti mataku membengkak akibat menangis semalaman. Baru satu hari dan hal ini sudah mengacaukan hidupku, bagaimana kalau ini berlanjut untuk selamanya?

Kata selamanya membuatku bergidik. Hal itu mungkin saja terjadi, dan hal itu sukses membuat air mataku terjun bebas dari pelupuk mataku. Aku harus melihat naruto seumur hidupku dengan statusnya sebagai kakak ipar bagiku. Ugh, dadaku kembali sesak membayangkan hari-hari yang akan terjadi kedepannya. Rasanya aku ingin menghentikan waktu sampai hari kemarin saat aku masih menggoda naruto dan dia balas menjahiliku. Sebuah seringai menyedihkan muncul di wajahku saat mengenang semuanya, teringat bahwa naruto hanya menganggapku teman. Tidak kurang dan tidak lebih.

Apakah kau akan menyetujui rencana ini naruto?

Aku selesai menyiapkan semua keperluanku. Memakai gakuran Mirai High School untuk terakhir kalinya. Hari ini aku berencana untuk mengambil ijazahku dan pulang. Lalu aku melangkah keluar dari kamarku tepat saat itachi-nii lewat di hadapanku. Ia terlihat sangat merasa bersalah padaku. Tatapannya mengatakan seolah ia menghianati aku. Hei, aku tak butuh tatapan itu darimu nii-san. Aku tahu kau tak salah. Ini bukan maumu, dan aku mengerti itu tanpa kau harus menunjukkan tatapan itu padaku.

"Sasuke aku-" ucapnya yang terdengar sangat serak. Sepertinya bukan aku saja yang begadang semalaman.

"Tidak apa-apa nii-san. Aku mengerti." Dan aku merasa heran karena suara yang keluar dari bibirku ini terdengar dingin. Jujur aku tak bermaksud menyalahkan itachi untuk semua ini. Ini masalahku, dan perasaanku. Jadi ini tak ada hubungannya dengan kakakku.

"Aku, akan berusaha menolaknya. Aku tahu kau mencintainya." Ucapnya lagi, dan aku hanya diam. Aku tak tahu harus menjawab apa. Haruskah aku berbohong padanya dan membuat aku semakin terluka? Atau, menuruti keegoisanku dan meminta itachi untuk melepas naruto dan mendapat murka dari ayah? Aku bingung, dan aku tak ingin meminta apa-apa pada itachi karena aku mengerti, ini bukan salahnya.

"Sasuke" panggilnya lagi, mencoba untuk mengajakku bicara. Aku tak tahu apa yang harus aku lakukan dan bicarakan. Padahal selama ini aku selalu terbuka pada itachi, kenapa sekarang aku merasa canggung? Kenapa aku tak ingin itachi tahu tentang diriku seperti sebelumnya?

Aku berlalu meninggalkan itachi begitu saja. Aku tak sanggup untuk berlama-lama berhadapan dengan kakakku, karena itu semakin memperjelas bayangan naruto yang tertawa bahagia bersama kakak. Kenyataan bahwa itachi adalah pria baik dan perhatian yang akan menjadi suami impian wanita manapun adalah hal yang sangat pasti mengingat sifatnya itu.

Tak terasa air mata kembali menggenang di mataku. Cepat-cepat aku keluar dari rumahku, mengabaikan tatapan bingung para pelayan karena tak biasanya aku melewatkan sarapanku. Aku berlari dan terus berlari ditemani genangan air mata. Sepertinya, sasuke si lelaki paling dingin di Mirai High School telah berakhir dan berganti menjadi lelaki paling cengeng karena seorang wanita. Ironis, karena disaat begini aku justru terpikir dengan reputasiku di sekolah dan membuat senyuman sumbang nan bergetar muncul di pipiku.

Tidak lama aku berlari akhirnya aku sampai di stasiun. Menghapus bekas airmataku dan mengantri untuk mengambil tiket untuk menaiki shinkanshen. Tidak lama menunggu, tepatnya saat jarum jam tepat pukul delapan pagi terdengar suara dari speaker stasiun yang mengatakan kereta api yang aku naiki akan sampai. Lalu ular besi berwarna abu-abu dengan garis merah menghiasinya berhenti. Aku dan beberapa penumpang lainnya segera masuk dan menduduki bangku masing-masing, dan kereta pun meninggalkan stasiun.

"Ohayou, sasuke" sebuah suara wanita yang selama ini menyita perhatianku mengalun dengan indahnya di telingaku. Suaranya terdengar riang seperti biasanya.

"Hn" hanya itu kata yang bisa terucap dari bibirku, setelah aku melihatnya yang langsung duduk di sebelahku dan mengeluarkan sebuah novel.

"Setidaknya balas salamku teme" ucapnya kesal dan membalik halaman-halaman buku. Bukannya aku tak ingin menjawab salamnya, hanya saja aku tak mau ia mendengar suaraku yang bergetar menahan tangis, dan aku juga tak mau tangisku pecah hanya dengan berbicara pada naruto. Lalu sepanjang perjalanan kami hanya terdiam. Sepertinya, naruto biasa-biasa saja. Tak ada yang berubah dengan naruto yang kemarin dengan naruto hari ini. Apakah ia belum tahu? Atau sudah, dan dia tidak keberatan? Memikirkan kemungkinan yang ke dua sungguh membuatku semakin terpuruk, karena kalau memang sudah begitu, aku bisa apa? Mana mungkin aku sanggup memaksakan kehendakku pada naruto.

Kereta berhenti setelah kami menempuh perjalanan selama tiga puluh menit. Aku dan naruto turun bersama beberapa penumpang lainnya yang juga memakai gakuran yang sama dengan kami. Kami berjalan beriringan tanpa ada kata dan percakapan. Rasanya sedikit canggung saat aku dan naruto hanya diam saja. Aku juga tidak tahu harus berkata apa, karena biasanya dialah yang memulai pembicaraan, dan aku hanya akan menimpali. Mungkin aku memang pria yang pasif.

"Teme rasanya hidupku aneh" adalah kata pertama yang diucapkan naruto saat kami hampir memasuki gerbang sekolah. Aku menghentikan langkahku tak mengerti maksudnya dan ia pun menghentikan langkahnya.

"Maksudmu" tanyaku tanpa ada nada atau getaran sedih seperti yang aku takutkan. Justru suaraku terdengar dingin karena aku tak ingin naruto tahu apapun di balik suaraku yang dingin itu.

"Huh, aku di jodohkan dengan kakakmu teme. Dan jangan berpura-pura tidak tahu karena aku yakin kau tahu. Ya tuhan, aku bahkan baru menginjak usia tujuh belas tahun. Aku baru lulus SHS, belum memasuki bangku kuliah dan tiba-tiba aku akan menikah. Demi Tuhan, rasanya seperti dunia mau kiamat. Aku masih ingin melewati masa remajaku dengan indah, pacaran dengan beberapa pria, lalu berciuman dengan mereka dan melakukan hal lainnya yang menyenangkan. Dan tentu saja tak kata suami di dalamnya. Yang benar saja" ucap naruto panjang lebar dan hal itu cukup mengejutkanku. Sepertinya naruto tak seserius aku dalam menanggapi hal ini, terlihat dari gayanya yang hanya berkeluh kesah seperti biasa seolah semua ini sama seperti keluhannya tentang para guru yang memberikan tugas yang menumpuk baginya.

"Jadi, kau menolaknya" tanyaku mencoba menekan rasa penasaran dan harapanku bahwa gadis pirang ini akan berkata 'iya'.

"Sasuke, memangnya sejak kapan aku berani menolak ayahku" ucapnya dengan nada manja dan merajuk. Dan jangan lupakan kata-katanya setelah ini yang membuat aku hancur dengan sukses.

"Lagi pula, itachi-nii sangat baik. Aku, cukup suka dengannya. Mungkin dia bisa membahagiakanku, bukankah begitu adik ipar" ucap naruto dengan nada mengejek di akhir kalimat. 'adik ipar''adik ipar' itu yang dia katakan padaku. Menyadarkanku bahwa aku tak akan memiliki kesempatan lagi untuk meraih naruto. 'adik ipar' dua kata yang merenggut naruto dariku.'adik ipar' dua kata yang paling menghancurkan aku.

"Jangan panggil aku 'adik ipar', karena aku bukan 'adik ipar'mu" dan aku berlalu meninggalkan naruto termenung di tempatnya berdiri. Dan samar-samar aku mendengar ia berkata " ada apa dengannya"


Siangnya aku menyendiri, mencoba menghindari naruto. Aku tak ingin bertemu dengannya, karena aku tak yakin aku sanggup untuk menahan diriku untuk tidak berteriak padanya dan mengatakan perasaanku padanya. Aku masih cukup waras untuk mengendalikan diriku dan mendapatkan masalah dari ayahku dan mungkin juga paman minato. Aku tak ingin mempersulit naruto, jika dia memang ingin atau mau lebih tepatnya, menikah dengan itachi. Aku tak bisa melarangnya, karena aku tak berhak. Ya, aku tak berhak.

Mengabaikan naruto yang terus mencariku dan bertanya ada apa denganku, aku memutuskan untuk pulang. Bertemu dengan naruto hanya akan membuat kesehatanku menurun. Melihat naruto membuat emosiku naik, detak jantungku berdetak cepat, dan yang paling parah membuat aku kehilangan akal pikiran karena semuanya sudah di bawa lari oleh naruto. Jadi sebelum naruto membawa bagian diriku yang lainya, jadi lebih baik aku menyelamatkanya dan membawanya jauh dari naruto.

Sampai di rumah, kepala pelayan langsung membukakan pintu untukku. Ia membungkuk hormat dan aku hanya berlalu, mencoba untuk tidak berinteraksi dengan siapapun hari ini. Moodku benar-benar jelek, hal ini terbukti saat seorang gadis yang berpura-pura bertabrakan denganku untuk mencari perhatianku seperti biasa "Jangan menabrakku jika hanya untuk cari perhatian, dasar bodoh" adalah kalimat yang keluar dari bibirku, gadis berambut merah menyala itu langsung lari menghampiri teman-temannya. Tidak biasanya, kata-kataku sedingin itu pada wanita.

Saat aku melewati ruang keluarga kulihat itachi-nii di sana bersama ayah di dalamnya. Aku tidak berniat untuk menguping. Hanya, kata-kata yang terucap dari bibir ayah membuatku membeku.

"Aku ingin sasuke jadi pendamping priamu, jadi besok kalian pergilah untuk pas baju. Kau juga harus menjemput naruto dan sepupunya karena mereka juga akan pas baju bersama kalian" perintah otousama pada kakak dan kakak hanya diam saja.

"Itachi" panggil otousama dengan meninggikan suaranya.

"Hai" jawab itachi-nii dengan suara yang sangat berat. Apakah perjodohan ini juga berat untuk itachi? Apakah dia sudah mencintai gadis lain? Lalu keduanya diam. Aku memutuskan untuk langsung ke kamar,saat itachi-nii kembali bersuara.

"Otousama bisakah perjodohan ini di batalkan? Atau, setidaknya jodohkan sasuke bukan aku?" kata-kata itachi begitu mengejutkan aku, jadi itachi membuktikan kata-katanya tadi pagi padaku?

"Apa maksudmu itachi. Ini sudah kesepakatan ku dengan minato, dan aku tak bisa membatalkannya begitu saja. Ini menyangkut masa depan dua keluarga, dan sasuke, aku tak bisa menjodohkan sasuke dengan naruto, dia masih kecil, masih belum matang untuk memimpin rumah tangga dan menjalankan perusahaan sekaligus. Dan aku juga tak bisa membatalkannya karena naruto juga menyetujuinya."

Jawaban ayah sungguh sangat menyakitkan. Ya, benar aku belum mampu. Aku masih kecil dan tak bisa apa-apa. Fakta bahwa aku terlahir lebih lambat membuatku benci pada diriku sendiri. Air mata yang entah yang keberapa untuk hari ini mengalir begitu saja. Lalu saat aku mengalihkan wajahku pada itachi yang duduk diam disana, aku dapat melihat rona merah dipipinya. Apakah itachi sedang marah? Atau itachi malu karena mendengar kalimat terakhir otousama? Apa, itachi menyukai naruto juga? Dan, pertanyaan terakhir menusukku terlalu dalam, aku sepertinya melupakan kemungkinan bahwa itachi memiliki kemungkinan untuk menyukai naruto. Lalu aku harus bagaimana jika hal itu memang benar adanya, bagaimana jika itachi dan naruto saling menyukai lalu posisiku ada dimana?

Aku berlari meninggalkan otousama dan itachi yang masih terus berbincang disana. Aku sudah tak mau dengar lagi. Aku tak mau disakiti lagi, tidak oleh ayah, tidak oleh naruto, dan tidak juga oleh itachi. Aku harus membentuk tamengku sendiri, aku harus kuat dan membangun dinding yang kuat untuk menutupi perasaanku dan menghalangi mereka semua tahu serapuh apa aku karena hal ini. Aku harus kuat, dan hal itu yang harus aku lakukan.

Kudengar langkah kaki mendekati kamarku, dan tanpa melihat pun aku sudah tahu itu adalah itachi. Dia duduk di atas kasurku dan memandangku lekat-lekat. Rasa canggung yang tadi pagi bertambah parah, dan aku tak suka ini. Aku tak suka itachi yang seperti ini, aku lebih suka itachi yang menjahiliku dan menggodaku dari pada itachi yang memandangku penuh rasa bersalah.

"Sasuke, maafkan aku" adalah kata pertama yang terucap dari bibirnya. Aku tak suka itachi yang ini. Ini bukan kakakku.

"Memang kau salah apa, huh" ucapku mencoba ketus seperti biasa.

"Aku, tak bisa menggagalkan rencana ayah, sekali lagi maafkan aku" ucapnya lagi.

"Kalau aku mengambil fotomu yang barusan, aku yakin fans mu akan besemangat untuk mendownloadnya" ucapku mencoba meledeknya seperti biasa. Ya, aku ingin semua seperti biasa, tak boleh ada yang berubah antara aku dan kakakku. Dirumah ini hanya dia yang paling mengerti aku, dia satu-satunya.

"Aku, gagal sebagai kakakmu. Harusnya aku melindungimu, berusaha membantumu mewujudkan mimpimu, membantumu dekat dengan wanita impianmu. Tapi, aku merampasnya dan menghancurkan mimpimu, aku sungguh bukan kakak yang baik untukmu. Kau boleh memarahiku, menghukumku, tapi jangan coba bertindak tidak apa-apa di depanku karena aku tahu kau terluka. Aku terlalu mengerti kamu sasuke. Kau adikku satu-satunya, jadi kumohon jangan bersikap seperti ini padaku. Katakan padaku apa yang kau rasakan, bagi padaku rasa sakit itu, dan aku akan terus berjuang untuk menggagalkan rencana ini" ucap itachi berurai air mata.

Jujur, ini pertama kalinya aku melihat air mata di wajahnya. Wajahnya tak pantas untuk berhiaskan air mata. Kakakku tak pantas menangis karenaku. Dia terlalu baik untuk menangisiku.

"Wajah kakakku tak pantas berurai air mata. Ia hanya pantas berisikan senyuman, dan itu akan sangat menenangkanku. Dan kapan aku mengatakan aku menyukai naruto kepadamu? Huh, kau berfikir terlalu jauh, aniki no baka" kesalku padanya. Namun ia hanya diam saja.

"Sungguh, aku tak apa-apa. Menikahlah dengannya nii-san. Aku merestui kalian" meski dengan sangat berat kata itu pun terucap di bibirku. Mau bagaimana lagi? Karena inilah fakta yang mau tidak mau harus ku hadapi. Itachi nii memelukku begitu erat. Sangat erat. Kurasakan pundakku basah karena air matanya, dan mataku kembali berkabut. Aku tak boleh menagis, aku tak boleh membuat kakakku susah. Aku harus kuat, demi kakak, dan demi naruto yang akan menjadi istri kakak. Aku harus kuat.


Saat ini aku sedang di halaman rumah naruto. Seperti yang di perintahkan oleh ayah, aku kakak, naruto, serta sepupunya harus pergi untuk fitting baju. Paman minato dan bibi kushina menyambut kami dengan hangat. Setelah menyerahkan kunci mobil yang di bawa itachi nii kepada supir paman minato, kami pun memasuki kediaman uzumaki yang tak jauh beda dengan rumahku. Rumah tradisional jepang.

"Kalian tunggulah disini, bibi akan memanggilkan naruto dan karin" bibi kushina pun meninggalkan kami di ruang tamu seluas sepuluh tatami dengan segelas ocha untukku dan itachi nii. Aku dan itachi hanya diam saja sampai pintu kertas yang menutupi ruang tamu terbuka dan tiga orang wanita muncul dari sana.

"Jadi kau juga ikut teme. Aku jadi khawatir kau ikut hanya untuk meledekku dalam balutan gaun yang menyeramkan itu" aku dan yang lainnya sedikit tertawa dengan ucapan naruto yang dengan ajaibnya menghilangkan kecanggungan yang selama ini melandaku dan itachi nii.

"Jika nanti sasuke menggodamu, aku akan balas menjahilinya untukmu" balas itachi nii dengan menyentil wajahku. Aku langsung menggeram padanya, namun entah di mana lucunya semua orang yang ada di sana tertawa terbahak-bahak.

"Kau lucu sekali, teme. Ekspresi kesalmu bahkan lebih imut dari anak perempuan. Kau belajar merajuk dari siapa" ucap naruto tanpa menahan tawanya. Ia terdengar sangat senang, senyum itu, tawa itu. Aku selalu ingin melihatnya. Aku tak ingin semua itu hilang. Ya aku akan melindungi senyuman dan tawanya itu.

"Sudah, jangan bercanda terus kapan perginya kalau kalian bergurau terus" ucap bibi kushina yang menyadarkanku apa tujuan kami sebenarnya kemari.

"Ah, kalau begitu kami pamit dulu bibi" ucap itachi nii dan hendak berlalu namun kushina menahan lengan itachi.

"Kalian kan sudah mau menikah, setidaknya cobalah untuk bergandengan tangan" dan bibi kushina meraih tangan naruto agar bergelayut di lengan nii-san. Sempat ku lihat nii-san melirik ke arahku dan aku mencoba untuk biasa saja. Lalu aku melihat naruto yang tertunduk malu, meyakinkan aku bahwa mungkin saja naruto menyukai nii san. Kulirik wanita berambut merah di sampingku, sepertinya ia merasa canggung karena sedari tadi hanya diam. Tak ingin membuat itachi nii merasa sungkan aku pun meraih tangan gadis itu yang sepertinya membuatnya terkejut, dan rona merah menjalar di pipinya. Akh, jangan lagi, pikirku. Jangan ada lagi gadis yang terpesona padaku karena aku tak akan punya cukup waktu untuk mengurusi perasaan seorang gadis.

Dan pandanganku kembali fokus ke depan, dan rasanya memang sangat menyakitkan melihat naruto menggandeng tangan lelaki lain di hadapanku. Sepetinya aku memang harus membunuh perasaan ini, sanggup atau tidak sanggup. Bisa atau tidak bisa. Sekali lagi ini demi kakakku, dan demi naruto. Demi senyuman mereka berdua. Dua orang yang tak bisa aku sakiti seumur hidupku

TBC

akhirnya disela kesibukan di dunia nyata saya bisa post FF ini. maaf belum balas beberapa reviewnyaaa, saya udah baca kok. trims udah baca FF saya ini..