Chapter 2

.

"Kita akan melakukan perubahan besar-besaran pada kota ini, karena kita adalah... Akatsuki!" ujar pria tadi sambil menyorot tajam layar monitor di depannya yang kini tengah memantau situasi di KonohaHighSchool.

.

.

The Best Fighter

.

Disclaimer :Naruto[Masashi Kishimoto]

Warning :OOC! Typo[s]! AU! Miss typo(s)! GaJe!

Genre :Drama, Friendship, Family, SchoolLife.

Main Cast :Naruto U., Sasuke U., Sakura H., Akatsuki.

.

.

Minato memandang tajam Sound System di pojok kiri ruangan hotel. Hal ini, juga dilakukan oleh Hashirama, Fugaku, serta Kakashi. Mereka masih mendengarkan dengan seksama ocehan kelompok bernama Akatsuki itu.

"Jadi inti dari perbincangan kita hari ini adalah aku akan memberikan game pada kalian!"

Mendengar suara dari sound system itu, Hashirama tersulut emosinya. "Jangan main-main dengan petinggi seperti kami!" ancamnya.

Orang dibalik sound system itu terdengar mendengus geli. "Badut seperti kalian dinamai sebagai petinggi? Yang benar itu, perendah. Kalian tak pantas dilabeli gelar petinggi! Akan kubuktikan sebentar lagi apa arti petinggi yang sebenarnya," ucap tegas anggota Akatsuki itu.

"Wah aku kelamaan ngoceh, waktunya makin tipis jadinya. Baiklah langsung saja. Ini game mudah untuk kalian. Temukan jawabannya sebelum matahari tepat di atas kepala esok hari!" lanjutnya.

Keempat petinggi Kota Konoha masih memandang sound system dengan keringat dingin membanjiri wajah mereka. Kelompok Akatsuki ini tak main-main.

"Aku akan lahir di mana para tunas bangsa juga terlahir. Sang perantara belum menyadari akan dirinya. 26 jam lagi, jerit tangisku akan pecah di kota amburadul ini. Jika bisa, cegah kelahiranku esok hari!"

DRTZZZ!

Suara dari sound system itu sudah tidak terdengar lagi. Namun di lain sisi, rasa shock menghampiri jiwa para petinggi itu.

Mereka tak bisa membiarkan ini semua. Mengancam para petinggi. Meneror sekolah. Dan sekarang beraninya mereka main-main dengan aparat. Hal ini sudah tak bisa ditoleransi lagi. Akatsuki berbahaya.

Hashirama kini memandang ketiga bawahannya tegas. Matanya memancarkan ketegasan penuh.

"Kita tak bisa biarkan hal ini menjadi ancaman bagi penduduk kota. Kita harus bertindak tegas dari sekarang. Dengarkan rencanaku ini," perintah Walikota Konoha tersebut pada tiga bawahannya.

Minato, Fugaku, dan Kakashi mendengarkan dengan saksama rencana yang dikemukakan oleh Hashirama. Sebuah rencana untuk mengakhiri teror terselubung kelompok Akatsuki sebelum menjamur di penjuru kota.

.

~0o0o0~

.

Di sebuah ruangan yang hanya menggunakan cahaya monitor komputer sebagai sumber pencahayaan terlihat dua orang muda-mudi yang sibuk dengan PC masing-masing.

Seorang pemuda tampak berdiri dari tempat duduknya dan berjalan ke arah sofa di sudut ruangan guna mengambil tas ransel miliknya.

"Kau mau ke mana?" tanya sang pemudi pada pemuda tersebut.

Tangan pemuda itu menekan saklar lampu yang tak jauh dari sofa.

Sontak, ruangan yang tadi minim cahaya tersebut menjadi terang dan menunjukkan kehadiran pria bersurai merah bersama wanita bersurai biru yang masih duduk di depan komputer.

Pria dengan surai merah itu mendengus geli. "Ini sudah siang. Aku bisa terlambat kuliah jika masih bersemedi di tempat ini."

Wanita bersurai biru gelap itu justru tertawa renyah. Hal ini sontak membuat pemuda tadi mengernyit heran.

Masih menatap komputer, wanita tadi berujar santai. "Seorang Namikaze Nagato kuliah di jurusan farmasi? Bahkan sampai sekarang aku tak habis pikir dengan jurusan yang kau pilih itu. Daripada meracik obat. Kau lebih pintar meracik racun Nagato," ucapnya datar.

Nagato yang diejek, justru merengut kesal. "Apa-apaan kau itu, Konan?! Setidaknya, aku juga berbakat tahu!"

Tak ada jawaban berarti yang keluar dari perempuan bernama Konan tersebut. Merasa tak ditanggapi oleh sahabatnya, Nagato segera membawa tasnya dan berniat untuk keluar dari ruangan ini.

"Dasar, dingin! Beraninya kau mengacuhkan orang tampan sepertiku!" ujar Nagato sembari berjalan ke arah pintu.

"Jika sekali lagi kau berani mengataiku, kau tahu bukan akibatnya, Nagato-kun?" desis Konan tak terima.

Nagato yang mendengar itu meneguk ludahnya kasar. Namun, tak lama kemudian wajahnya mengeras dan tampak serius.

"Selama aku belum pulang kuliah, tolong kau awasi semuanya. Aku ingin lihat, apa yang bisa dilakukan oleh badut pemerintahan mengatas namakan keadilan itu." Nagato mengatakan hal tersebut dengan nada datar.

Konan mengangguk tegas. "Kau tenang saja. Hari ini aku tak ada jadwal kuliah. Aku akan bertahan di sini sambil menyaksikan film opera sabun di depanku ini."

Mata Nagato melirik ke arah Konan. Wanita itu tengah melihat video CCTV Hotel Hikari yang kini menampakkan gambar keempat aparat petinggi Konoha.

"Rencana kita baru saja akan dimulai." Konan yang mendengar itu mengangguk menyetujui.

Mereka menamai diri mereka sendiri dengan nama Akatsuki. Sekelompok pahlawan dalam bayangan yang kelak akan melakukan perubahan besar pada Konoha.

.

.

.

Matahari semakin lama semakin menyingsing. Senja telah menghampiri kota Konoha. Di Konoha High School kini tampak para siswa yang hilir mudik keluar dari gedung sekolah megah itu.

Naruto kini tengah berdiri tak jauh dari pagar sekolah. Masa orientasi siswa kali ini menurutnya begitu membosankan. Pemuda kuning ini memanglah tipe orang yang cepat sekali bosan. 'Benar-benar kegiatan yang tak berguna,' keluh Naruto dalam hatinya.

Namun tak lama setelah itu, sebuah mobil putih tampak berhenti di depan pemuda Namikaze ini. Mengetahui siapa pengendara mobil tersebut, Naruto segera membuka pintu mobil dan masuk ke dalam mobil putih mewah itu.

"Selamat sore, Naruto-sama. Bagaimana harimu?" sapa ramah seorang sopir pribadi keluarga Namikaze bernama Yamato. Naruto yang mendengar sapaan sopan dari Yamato, tersenyum kecil.

"Tak ada yang spesial. Hanya kegiatan yang tak berguna untukku," ucap Naruto sambil beralih memandang pagar sekolah dari dalam mobil.

Yamato tersenyum maklum. Putra bungsu dari tuannya ini begitu unik. Tak mau memperlambat waktu, Yamato segera menanyai Naruto perihal tempat yang akan mereka tuju sekarang.

Ada perubahan di raut muka Naruto. Pemuda berdarah Namikaze ini tampak menunjukkan wajah lelah. "Hari ini aku punya jadwal shooting iklan. Kita langsung ke studio saja, Yamato-san," ujar Naruto.

Keheningan sempat menyelimuti mobil putih milik keluarga Namikaze ini. Yamato mengerti jika pemuda pirang di belakangnya ini begitu benci menjadi pusat perhatian. Ia lebih memilih menjadi bayangan daripada cahaya.

Namun entah karena alasan apa, remaja 14 tahun tersebut menerima permintaan sang kakek yang notabenenya seorang sutradara film ternama untuk menjadi seorang artis mengikuti jejak karier ibunya.

Menyahut dengan bahasa sopan, Yamoto pun mulai menjalankan mobilnya pelan. Karena ia tahu, jika putra bungsu dari Namikaze Minato itu sedikit trauma dengan kebut-kebutan. Sebuah kecelakaan yang menyebabkan keluarga angkat Naruto meninggal dunia. Keluarga besar dari pengusaha tersohor di Klan Uchiha, Uchiha Kagami. Dan menjadikan Naruto satu-satunya korban selamat dalam kecelakaan tragis itu.

Naruto yang merasa bosan mengalihkan pandangannya ke arah halaman depan sekolah yang sedikit terekspos dari kaca mobilnya. Netra birunya menatap dalam-dalam seorang siswa baru sepertinya yang sedang berdiri memandang ke arah mobilnya juga.

Meskipun tertutup oleh kaca, entah mengapa pandangan sosok remaja berambut hitam itu seolah-olah menatapnya langsung. Pandangan yang dilontarkan oleh iris obsidian di seberang sana terasa familiar. Seiring dengan berjalannya mobil, Naruto sudah tak bisa menangkap sosok pemuda bersurai raven tadi.

Sasuke Uchiha, putra kedua dari Uchiha Fugaku yang bergelar Kepala Kepolisian Konoha ini tampak menatap dalam-dalam ke arah kursi belakang sebuah mobil putih mewah yang baru saja berlalu meninggalkan gedung sekolah.

Tak ada alasan pasti, ia tiba-tiba begitu ingin memandang mobil itu. Namun, lamunannya tak berlangsung lama karena sebuah telapak tangan menepuk pundaknya. Pemuda berklan Uchiha ini tersentak kaget.

"Kenapa kau melamun di sore hari begini? Kesambet baru tahu rasa, kau!"

Di depan Sasuke, kini berdiri seorang pria yang tampak lebih tua beberapa tahun dari pemuda ini. Beberapa kemiripan antara kedua pemuda ini membuktikan jika mereka adalah kedua saudara.

Sasuke memandang sosok di depannya dengan kesal. "Kau terlambat, Onii-san! Apa kau tahu jika aku menunggumu begitu lama?" rajuknya kesal.

Uchiha Itachi, putra sulung dari Uchiha Fugaku ini memiliki umur yang sepadan dengan Namikaze Nagato. Ia mengambil jurusan hukum di universitas yang sama dengan Nagato. Pemuda ini begitu dikenal dengan keramahan dan kehangatannya.

"Err, ano soal itu. Maafkan aku ya, Sasuke? Hari ini aku sedikit telat pulang kuliah. Jadi jangan marah begitu," bujuk Itachi pada adiknya yang terlihat begitu kesal.

Masa bodoh. Sasuke tak begitu peduli dengan alasan klise sang kakak. Ia segera beranjak dan berjalan ke arah mobil hitam sang kakak yang terparkir tak jauh dari tempatnya berdiri tadi. Namun langkah Sasuke harus terhenti karena Itachi mencekal tangannya.

"Nanti malam, jangan lupa. Kita diundang oleh keluarga Namikaze untuk makan malam."

"Iya-iya, aku ingat. Dasar cerewet!"

Itachi memutar bola matanya bosan. Pemuda berusia 20 tahun ini begitu kewalahan dengan sikap judes adiknya. Tak mau menambah kemarahan Sasuke, ia segera memasuki mobilnya dan pulang menuju kediaman Uchiha.

.

.

0o0o0

.

.

Malam telah benar-benar menyinggahi Konoha. Sebuah mobil putih mewah tampak membelah jalan raya bersamaan dengan kendaraan lainnya.

Sementara di dalam mobil mewah itu, terlihat Yamato yang tengah serius menyetir mobil. Sesekali manik hitamnya melirik ke kursi belakang lewat kaca spion untuk melihat Naruto yang tampak tertidur karena kelelahan.

Malam sudah mulai larut, jam bahkan menunjukkan pukul sembilan lewat beberapa menit. Yamato mengerti jika tuan mudanya itu pasti begitu lelah. Setelah berjam-jam melakukan kegiatan OSPEK, ia juga harus melakukan shooting iklan yang terbilang cukup melelahkan bagi seorang remaja seusia Naruto.

Melanjutkan perjalanan dalam kesunyian, akhirnya mobil putih yang dikendarai Yamato sampai di rumah besar keluarga Namikaze. Setelah mematikan mesin mobil, Yamato berusaha membangunkan Naruto yang masih terlelap mengarungi dunia mimpi.

"Engg... Yamato-san?! Eh? Kita... kita sudah sampai?" tanya Naruto linglung dengan mata yang masih belum terbuka sepenuhnya.

Hanya senyum yang mampu Yamato berikan. Melihat senyum itu, sudah cukup membuat Naruto mengerti jika sekarang ia telah sampai di rumah.

Dengan langkah tertatih, pemuda bersurai pirang itu berjalan ke arah pintu utama rumahnya mengabaikan Yamato yang membawa mobil putih tadi ke garasi. Ia begitu lelah dan mengantuk, bahkan matanya masih berkunang-kunang. Satu tempat yang ia tuju sekarang, kamar tidurnya.

Hari ini adalah hari di mana jamuan makan malam antara keluarga Namikaze Minato dan Uchiha Fugaku digelar. Kedua keluarga ini tampak menikmati makan malam yang tersaji di rumah Namikaze meskipun ada beberapa kejanggalan di sini. Entah apa itu.

"Kau tahu Mikoto Baa-san, Itachi ini kemarin dihukum oleh guru olahraga karena ia tak mampu melemparkan bola basket! Hahaha...," tawa Nagato menggelegar di ruang makan.

Nagato dan Itachi memanglah bersahabat sejak mereka satu asrama dulu di Kota Suna. Bahkan persahabatan mereka masih terajut hingga detik ini juga.

Itachi yang mendengar itu langsung memasang wajah cemberut karena aibnya begitu saja diumbar oleh sahabat merahnya ini.

Sebelum Itachi sempat menjawab perkataan dari Nagato tadi, seorang pemuda bersurai pirang berjalan begitu saja melewati ruang makan menuju tangga yang menghubungkan lantai satu dengan kamarnya di lantai dua.

Menyadari siapa sosok pemuda tadi, Mikoto terpekik kaget. "NARUTO!"

Naruto yang mendengar seruan seorang wanita menghentikan langkah kakinya untuk menapaki anak tangga. Suasana di rumah Namikaze ini berubah mencekam. Rasa tidak suka terpancar jelas dari Nyonya besar Namikaze, Namikaze Tsunade.

Fugaku dan Mikoto langsung berdiri dari kursi makan mereka dan berlari ke arah Naruto. Paras mereka menunjukkan rasa khawatir yang begitu kentara. Itachi juga memandang kaget ke arah Naruto sementara Sasuke hanya diam karena sejujurnya ia tak begitu mengerti kondisi saat ini. Minato, Kushina, dan Nagato bangkit dari duduk mereka dan berjalan menghampiri Naruto.

Mendapat terjangan pelukan tiba-tiba membuat tubuh Naruto sedikit oleng. Sejujurnya, pemuda ini begitu mengantuk sehingga matanya sedikit tertutup dan ia pun tak memperhatikan kondisi sekitarnya di mana di ruang makan rumahnya tengah diselenggarakan jamuan makan malam.

Setelah benar-benar membuka matanya, Naruto begitu terkejut melihat Mikoto yang kini memeluk dirinya. Kenapa bisa-bisa adik perempuan dari ayah angkatnya ini berada di kediaman Namikaze?

"Mikoto Baa-san?! Kenapa Anda bisa ada di sini?!" tanya Naruto kaget.

"Kau dari mana saja? Ini sudah larut malam dan kau baru pulang? Bahkan kau belum berganti seragam sekolah," keluh Mikoto panjang lebar.

Mikoto dan Fugaku tentu saja khawatir akan kondisi Naruto yang tak lain dan tak bukan adalah keponakan mereka. Naruto adalah putra angkat dari kakak mereka, Uchiha Kagami.

"Bola matamu bahkan berkantung hitam layaknya hewan panda. Tak seharusnya seorang remaja sepertimu pulang jam segini. Beritahu Jii-san dengan jujur, kau dari mana Naruto?!" tuntut Fugaku absolut.

Dari kecil, Naruto memang tak bisa membantah ucapan paman angkatnya ini. Fugaku seolah memilki aura kharismatik yang membuat siapa saja tak mampu membantah perintahnya. "Aku baru saja melakukan shooting iklan," jawab Naruto lirih.

Mendengar pernyataan dari Naruto membuat Mikoto tersulut emosi. Ia sontak memandang ke arah Minato dan Kushina yang kini nampak berjalan menghampirinya.

"Inikah? Inikah janji manis yang terus kalian agung-agungkan demi memperoleh hak asuh Naruto dulu?! Munafik! Apa-apaan ini? Kalian justru mengeksploitasi Naruto yang notabenenya seorang remaja yang masih di bawah umur untuk bekerja hingga larut malam?!" ucap Mikoto marah.

"Jaga ucapanmu itu, Mikoto! Kau adalah sahabatku, tak pantas seorang sahabat mengatai sahabatnya sendiri! Naruto melakukan ini bukan karena paksaan dariku, Minato, atau siapapun. Ia melakukan ini karena keinginannya sendiri!" balas Kushina sengit.

Tsunade memandang kesal pertengkaran antara Mikoto dan Kushina. Netranya kini beralih menatap benci Naruto yang telah merusak suasana kondusif makan malam ini tadi. Sementara Nagato, Itachi, dan Sasuke hanya diam memperhatikan.

Naruto merasa semakin jengah akan perdebatan yang dilakukan oleh kedua keluarga ini. Ia menggeram pelan. Namun geraman lirih ini mampu menghentikan perdebatan antara kubu Minato dengan kubu Fugaku.

"Kumohon hentikan semua ini! Aku lelah sekarang dan ingin istirahat. Tak bisakah kalian tenang dan membiarkanku pergi ke kamar?" keluh Naruto.

Nagato yang mendengar itu langsung mendekati adiknya. "Sudahlah. Ayo aku antar ke kamarmu."

Naruto mengangguk setuju. Keduanya berlalu menaiki anak tangga meninggalkan orang-orang di lantai bawah. Setelah beberapa saat terdiam, mereka kembali melanjutkan perdebatan tadi dengan topik yang sama.

Sasuke memandang dalam diam seorang anak sebayanya yang kini menaiki anak tangga menuju ke lantai dua. Pemuda bersurai pirang itu terasa tak asing baginya. Tapi siapa pemuda itu, yang bahkan mampu membuat kedua orang tuanya begitu marah pada Tuan dan Nyonya Namikaze?

.

0o0o0

.

Pagi hari tiba, Naruto terbangun dari tidurnya. Sosok pemuda pirang ini kini tengah duduk di tepi ranjangnya mengenakan seragam putih dan celana hitam untuk sekolah hari ini. Hari ini adalah hari terakhir kegiatan OSPEK dan besok ia mulai bisa belajar secara efektif di Konoha High School.

Netra biru Naruto memandang sebuah kertas lusuh yang baru saja ia keluarkan dari tasnya. Sebuah surat ancaman yang ia temukan kemarin hari.

"Apakah surat ini serius? Kemarin adalah hari OSPEK yang pertama namun tak terjadi apa-apa. Jika surat ini benar-benar serius, maka akan terjadi hal buruk di sekolah nanti."

Naruto masih memandang kertas di depannya serius. Suara ketukan pada pintu kamarnya membuat perhatiannya teralih. "Masuk."

Sosok Nagato muncul dari balik pintu dan berjalan mendekati Naruto. Alisnya mengernyit heran ketika memandang sebuah kertas yang dipegang adiknya. "Apa itu?" tanyanya penasaran.

Naruto menggeleng pelan. "Aku menemukannya kemarin di sekolah. Kata-kata yang tertera di surat ini lebih mengarah ke sebuah ancaman. Aku menduga jika ini adalah sebuah surat ancaman."

Nagato memandang curiga surat di tangan Naruto. Ia langsung membaca surat itu ketika Naruto menyodorkan benda tersebut ke arahnya.

'Tak salah lagi. Bukankah ini surat yang kemarin aku layangkan ke Konoha High School? Bagaimana mungkin ini bisa ada di tangan adikku?' batinnya tak mengerti. Nagato begitu kaget.

"Kau pasti berpikiran hal yang sama denganku 'kan, Onii-san? Ini adalah surat ancaman!"

Nagato masih diam tak bergeming. Naruto yang melihat itu segera berdiri dan mengambil tasnya. Ia berjalan ke arah Nagato dan meraih kertas itu secara paksa. Pemuda pirang ini mengira jika kakaknya terdiam karena mengkhawatirkan kondisinya.

"Sudahlah, kau tak perlu mencemaskanku. Aku bisa menjaga diriku sendiri. Aku sudah hampir terlambat. Ayo turun ke bawah!" ujar Naruto yang keluar dari kamarnya terlebih dahulu.

Nagato pun segera berjalan menyusul adiknya. Meskipun ia masih kaget, ia mampu menyembunyikan hal itu. "Ini masih pukul 7. Bukankah kegiatan Ospeknya akan dimulai satu jam lagi?" tanyanya tak mengerti. Nagato mengalihkan pembicaraan.

"Hari ini aku ada pemotretan. Jadi aku berangkat pagi sekalian."

"Oh."

Tak berlangsung lama, mereka berdua telah tiba di ruang makan. Sudah banyak aneka sarapan yang tersaji di meja namun, tak ada seorang pun yang kini duduk dan makan di sini.

"Aneh. Kenapa sepi sekali?" tanya Naruto tak mengerti pada kakaknya.

Nagato menghelakan nafasnya. "Tsunade Baba sudah pulang ke rumahnya. Para pelayan sepertinya sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Sementara Tou-san dan Kaa-san tengah ada urusan dengan klan Uchiha."

"Uchiha?" tanya Naruto tak paham. Ada apa lagi sebenarnya?

Nagato kemudian menceritakan semuanya pada Naruto pasal keributan yang terjadi semalam setelah ia mengantarkan adiknya itu ke kamarnya. Keluarga Uchiha menuntut kembali hak asuh Naruto dengan dugaan bahwa Naruto disuruh bekerja oleh keluarga Namikaze secara paksa.

Minato dan Kushina tentunya tak tinggal diam. Mereka tak mau kehilangan putra kandungnya lagi. Mereka membantah dugaan tersebut. Dan pada akhirnya, kedua keluarga ini mengadakan pertemuan di perumahan klan Uchiha untuk membahas pasal hak asuh Naruto itu dengan mendatangkan pengacara masing-masing.

Naruto yang mendengar hal itu menghela nafas lelah. Ia sudah lelah dengan semua ini. Baik Namikaze ataupun Uchiha telah ia anggap sebagai keluarga. Kedua keluarga ini tak seharusnya meributkan hal sepele seperti ini. Di mana pun ia tinggal, ia akan tetap bahagia dan bersyukur karena masih diberikan kesempatan hidup oleh Tuhan.

Nagato menepuk bahu Naruto dan melemparkan senyum ke arah pemuda pirang ini. "Jangan dipikirkan, kita sarapan saja. Karena hari ini aku tak ada jadwal kuliah, aku akan mengantarkanmu ke studio pemotretan juga ke sekolahmu."

Naruto membalas senyum kakaknya. Ia mengangguk mengerti dan segera duduk untuk memakan sarapannya. Mereka berdua pun menghabiskan sarapan dengan gelak tawa dan canda seolah-olah kedua anak Minato Namikaze ini tak menanggung beban apa pun.

.

0o0o0

.

BRAK!

Suara gebrakan meja yang keras membuat Asuma Sarutobi tersentak kaget. Guru fisika berumur 37 tahun ini tengah menjadi pelampiasan kemarahan sang kepala sekolah dari Konoha High School yang notabenenya adalah ayah kandungnya sendiri.

Sosok kepala sekolah yang sudah tua renta ini memandang kesal ke arah anaknya. "Kenapa kau tidak becus sama sekali, Asuma? Bagaimana mungkin kau menghilangkan surat ancaman dari Akatsuki itu?!"

Asuma menghelakan nafasnya. Ini semua memang salahnya, andai kemarin ia tak buru-buru melewati koridor, pasti surat ancaman itu tak akan hilang. Ini adalah masalah yang tak bisa diremehkan.

Hiruzen, sang kepala sekolah juga menghelakan nafasnya. Hacker yang mengaku bernama Akatsuki itu memang menyebalkan.

"Sudahlah." Asuma memandang kaget ayahnya. Setelah hampir satu jam ia dimarahi, sepertinya amarah ayahnya sudah mereda.

"Maafkan aku karena menjadikanmu sebagai luapan emosiku. Abaikan surat itu. Aku percaya hacker itu hanya main-main dengan kita. Kita sudah melaporkan kasus pencurian data sebelumnya ke pihak polisi. Lupakan kasus teror ini. Kita tak usah takut dengan orang-orang seperti Akatsuki itu!"

Asuma mengangguk tegas. Apa yang dikatakan ayahnya tadi benar. Memang beberapa hari yang lalu, Akatsuki sempat mencuri rekening resmi dan data-data penting Konoha High School. Tapi ia begitu yakin jika teror kali ini hanyalah main-main belaka.

Mata hitam Hiruzen melirik ke arah jam dinding yang berada tak jauh darinya. Ia tersenyum ke arah Asuma. "Sudah pukul delapan lebih. Sebaiknya kau keluar dari ruanganku dan kembali bekerja."

Asuma mengangguk mengerti dan segera keluar dari ruangan kepala sekolah. Namun, langkahnya terhenti karena hampir menabrak seorang siswi baru yang berlari bak orang dikejar anjing dari arah gerbang.

"Apa yang kau lakukan, Nona? Peraturan sekolah tidak memperbolehkan siswanya untuk berlarian di sepanjang koridor!" tegur Asuma.

Siswi berambut merah muda yang tadinya berlari itu langsung berbalik dan memandang ketakutan sosok guru yang menegurnya tersebut.

"A-ah, maafkan aku sensei. Aku terburu-buru karena sudah terlambat 15 menit. Aku berlari di koridor karena aku tak mau dihukum oleh anggota OSIS," terang siswi itu seadanya.

Asuma memandangnya datar. "Siapa namamu?"

Dengan gugup siswi itu menjawab, "Haruno Sakura, sensei."

"Hm, Sakura ya? Sekarang, ayo ikut aku!"

Tak mau membuat kemarahan gurunya tersulut, Sakura mau tak mau harus menuruti keinginannya. Ia terperanjat kaget mengetahui jika gurunya ini membawa dirinya ke lapangan tempat dilaksanakannya OSPEK. Siswa-siswi baru sepertinya saat ini tengah melakukan beberapa games kecil-kecilan.

Sakura tak terlalu mengerti kondisinya sekarang. Setelah sang guru yang menyuruh ia untuk mengikutinya tadi pergi kembali ke gedung sekolah, ia kini beralih mengikuti seorang pemuda berambut merah yang ia ketahui menjabat sebagai Ketua OSIS.

Sekarang sosok Ketua OSIS itu menatapnya lurus yang jujur saja membuat Sakura sedikit ngeri. "Karena kau terlambat datang 15 menit. Aku menghukummu untuk membantu siswa berambut pirang itu membersihkan halaman belakang sekolah," ucapnya sembari menunjuk seorang siswa.

"APA?! HALAMAN SELUAS INI?! KAU BERCANDA?"

Sakura begitu terkejut harus membersihkan halaman seluas ini apalagi yang membersihkannya hanya dua orang. Sayang si Ketua OSIS itu berkata tidak dan kemudian pergi begitu saja meninggalkannya.

Dengan hati tak ikhlas, Sakura berjalan mendekati siswa bersurai pirang yang sibuk menyapu dedaunan itu. Ia pun langsung mengikuti jejak siswa itu yakni menyapu halaman luas ini.

Ia beberapa kali mencuri pandang ke arah siswa pirang ini. Entah kenapa ia seperti mengenal sosok yang membelakanginya tersebut. Beberapa kali ia mendengar geraman kesal dari siswa itu. Sepertinya dia juga tak terima membersihkan halaman ini, seperti dirinya.

"Hai..," panggil Sakura untuk mencairkan suasana.

Ia dapat menangkap keterkejutan dari siswa itu. 'Apa dia sedari tadi tak menyadari keberadaanku di sini?' batin Sakura kesal.

Sosok itu berbalik menghadap Sakura. Gadis bersurai merah muda itu begitu terkejut. "K-kau?! Kau Namikaze Naruto penyanyi lagu Kaze itu?!" ucapnya terpukau. Pantas saja, ia seolah mengenal siswa di depannya ini.

Naruto yang mendengar itu mengangguk kaku. Tapi, beberapa saat kemudian ia menghelakan nafasnya ketika gadis cantik di depannya ini mulai teriak-teriak tak jelas.

Setelah puas berteriak kegirangan, Sakura lantas memandang Naruto heran. "Apa kau juga terlambat datang sepertiku?"

Naruto mengangguk menyetujui. "Ini semua gara-gara kakakku. Kalau saja , ia tak terlambat menjemputku dari tempat pemotretan pasti aku tak akan disuruh menyapu halaman seluas ini," keluh Naruto. Ia jadi teringat kakaknya, gara-gara kakaknya itu mampir di kedai ramen, ia jadi terlambat begini. Dan pada akhirnya menerima hukuman seperti ini.

.

0o0o0

.

Namikaze Nagato kini memandang Konan, sahabatnya yang tengah sibuk dengan komputer. Setelah ia pergi mengantar adiknya ke sekolah, ia langsung tancap gas menuju ke basecamp-nya. "Bagaimana, Konan?"

"Keras kepala. Pihak KHS masih saja melaksanakan kegiatan OSPEK ini meskipun kita sudah melayangkan surat ancaman pada mereka. Bagaimana selanjutnya, Nagato?" tanya Konan tanpa memandang Nagato.

Surat ancaman ya? Nagato jadi teringat surat teror itu kini berada di tangan Naruto Namikaze, adiknya. Pemuda berambut merah ini menghelakan nafasnya.

"Kita tunggu saja jawaban dari empat petinggi Konoha itu. Jika sampai tengah hari nanti, mereka tak memberikan kita jawaban atas game yang kemarin. Maka, mereka semua harus tahu jika kita tak pernah main-main," ucap Nagato serius.

"Konan, hacking sekarang juga CCTV Kantor pusat kepolisian Konoha, serta CCTV Kantor Walikota. Kita lihat apa yang mereka lakukan sekarang," lanjut Nagato.

Konan mengangguk mengerti. "Kita tak pantas diremehkan. Para tikus-tikus itu berani sekali."

"Kita melakukan ini semata karena menginginkan kebebasan di kota ini. Kita akan menghapus segala kesenjangan yang ada. Para siswa di sini dinilai dari prestasi yang mereka dapat bukan dari cara mendapatkan nilai prestasi itu. Bahkan di mata semua siswa, jujur itu tak sepenting nilai. Karena yang masyarakat Konoha lihat bukan kejujurannya, melainkan nilai prestasi akademik seorang siswa," sahut Nagato.

"Kau benar, Nagato. Hal ini pasti membuat siswa tertekan karena mereka bagaikan seekor ikan yang diharuskan memanjat pohon," tanggap Konan sembari mengetik sesuatu di keyboard komputernya.

"Ditambah dengan kegiatan OSPEK tak berguna ini. Kegiatan ini memang benar karena tujuannya adalah untuk mengadaptasi siswa dengan lingkungan sekolah. Tapi sering kali, pihak senior memanfaatkan kegiatan ini untuk melakukan hal yang kurang ajar kepada juniornya."

Konan mengangguk mengerti, apa yang dikatakan Nagato memang benar. Konoha sudah terlalu tua, sudah selayaknya generasi muda seperti mereka bertindak. Mereka, Akatsuki tidak akan membiarkan para orang tua itu menyalahgunakan kekuasaan di kota yang sudah ruwet ini.

"Adikku adalah salah satu korban ketidak adilan ini."

Perkataan Nagato kali ini membuat Konan menghentikan kegiatan penyadapannya. Wanita bersurai biru itu lalu memandang Nagato. Sosok sahabat merahnya ini terlihat rapuh. Namikaze Naruto adalah hal yang paling berharga bagi Nagato.

"Naruto... dia di diagnosa oleh dokter mengidap ASD. Hal inilah yang membuatnya selalu dibully oleh teman-temannya sejak di play group hingga sekolah dasar. Meskipun sejak ia dimasukkan ke panti asuhan aku tak pernah lagi bertemu dengannya, namun aku selalu mengawasinya. Ia menjadi korban keegoisan manusia-manusia itu!"

Nagato begitu kesal mengingat bagaimana masa lalu Naruto. Ia merasa sebagai kakak yang paling gagal di dunia ini karena membiarkan adiknya tersiksa. Konan berdiri dari kursinya dan menghampiri Nagato yang saat ini terpukul.

"Cobalah, tenangkan dirimu Nagato. Kita sudah sampai di titik ini. Jangan biarkan masa lalu membuatmu terpuruk," nasehat Konan sembari mengelus punggung Nagato berusaha menenangkannya.

Wajah Nagato berubah drastis. Senyum lebar merekah di bibirnya. "Ahh, kau begitu peduli padaku, Konan-chan. Aku terharu. Kapan kita bisa menjadi pasangan suami istri ya?"

Gerakan tangan Konan di punggung Nagato terhenti. Wanita ini bahkan tak segan untuk menjitak kepala merah sahabatnya yang sudah error ini. Merasa mood-nya berubah jelek, Konan kembali duduk di depan komputer dan melanjutkan pekerjaan hacking-nya yang sempat tertunda.

"Aku pasti tertimpa sial karena mengenal orang gila sepertimu, Nagato."

"Hanya orang gila yang mau berteman dengan gila. Mengakulah jika kau juga merupakan orang gila, Konan."

Mendengar jawaban tak nyambung dari Nagato, membuat Konan mengacak rambutnya frustasi. "ARGHH! AKU PASTI SUDAH GILA!"

Nagato yang mendengar itu tertawa keras. Bahkan gelak tawanya itu mampu membuat burung-burung yang bertengger di atap beterbangan. Namun gelak tawanya terhenti karena terdengar dering telepon dari dalam sakunya.

"Halo, ini aku Hidan. Kembang api yang kau minta itu sudah kupasang setengah jam yang lalu di halaman belakang Konoha High School. Waktunya juga sudah berjalan mundur," suara dari sambungan telepon milik Nagato.

Pemuda bersurai merah ini menyeringai. "Bagus, bagus. Jika kita tak mendapatkan jawaban dari orang tua - orang tua naif itu sampai tengah hari. Jangan segan-segan untuk meledakkan bom waktu itu. Eh? Maksudku, hanabi itu. Hahaha..."

.

.

TBC

.

.

A/n : Halo, saya kembali setelah sekian lama lenyap (?). Oke, langsung saja aku mau balas review yang non-login karena yang login sudah aku balas lewat PM.

Fajar : "Pantunmu juga mantap jiwa, kok. Ini dah lanjut. Thx for RnR :D"

.

Gunawan : "T_T Maafkan aku yang tak bisa update cepat karena beragam alasan. Makasih udah RnR!"

.

Eleorans : "Pasti nista ya? Ehehe, maafkan aku. Sebenarnya gak autis sempurna juga. Nanti juga pasti bakal tahu. Thx for RnR!"

.

Honey : "Maafkan aku yg lama update karena berbagai alasan :D Thx for RnR!"

.

.

Cuma itu 'kan ya? :D. Sekali lagi terima kasih banyak yang sudah read, follow, fav, dan review. Arigatou ^^.

.

~SAMPAI JUMPA DI CHAPTER SELANJUTNYA~