Cerita sebelumnya.

Di UKS Naruto hanya memandangi Hinata yang terbaring. Tanpa sadar pikirannya terfokus pada gadis indigo yang terbaring didepannya.

Naruto POV.

Aku hanya memandangi Hinata yang terbaring. Apa Hinata memang secantik ini setiap harinya? Matanya yang terpejam, pipinya yang sering memerah entah kenapa membuat aku gemas, bibirnya… tidak, tidak, tidak. Apa yang aku pikirkan. Kenapa hanya Hinata, Hinata, dan Hinata yang ada dikepalaku? Apa aku menyukai Hinata? Aku bingung harus bercerita dengan siapa, Nagato Nii-chan dan Karin Nee-chan sudah kembail ke Ame. Mungkin Sasuke mengerti. Aku akan bertanya padanya.

Naruto POV. End

Our Story

Masashi Kishimoto

Pair: NaruHina / Slight SasuSaku, SaiIno, ShikaTema

Warning: AU, OOC, Typo, no EYD, Pasaran, ABAL

Rate : T

Friendship/Romance

Chapter 2.

"Engghh.." suara erangan Hinata yang tersadar dari pingsannya membuat Naruto meolehkan pengelihatannya pada Hinata.

"Hinata!" ucap Naruto spontan.

"Na-na-naruto-kun, ke-kenapa aku ada disini?" Tanya Hinata yang kebingungan.

"Tadi kau pingsan Hinata-chan, dan aku membawamu kesini. Tadi Shizune-sensei bilang kau hanya kelelahan." Jawab Naruto dengan suara lembut.

"Naruto-kun membawaku ke UKS? Apa Naruto-kun menggendongku?" batin Hinata. membayangkan bagaimana Naruto membawanya ke UKS membuat rona merah di wajah Hinata semakin kontras dan Hinata hanya menunduk malu demi menyembunyikan wajah meronanya dari Naruto.

"Hinata-chan, sepertinya kau masih pusing, lebih baik kau istirahat. Aku akan menemanimu." Ucap Naruto sambil tersenyum.

"Ta-tapi Naruto-kun ti-tidak ikut pelajaran." Ucap Hinata merasa tidak enak karena Naruto meninggalkan pelajaran demi dirinya walau sebenarnya Ia senang karena Naruto mau menemaninya.

"Tidak apa. Aku tadi sudah diizinkan Shikamaru untuk menemanimu. Istirahatlah Hinata" Jawab Naruto. Sambil menepuk pucuk kepala Hinata pelan dan sontak membuat Hinata semakin merona karena perlakuan lembut Naruto.

"Um-m" Hinata hanya mengangguk sebagai jawaban 'iya'

Sementara Hinata hanya berbaring dan memejamkan matanya, namun Hinata tidak tertidur. Pikirannya hanya berisi Naruto, Naruto dan Naruto.

Hinata POV.

Naruto-kun sangat hangat. Entah mengapa perlakuan Naruto-kun semakin membuatku sangat bahagia. Apa rasa sukaku berubah menjadi cinta kepada Naruto-kun? Kami-sama bolehkah aku terus berharap agar Naruto-kun selalu bersamaku seperti ini dan membalas perasaanku?

Hinata POV. End

.

.

.

Jam pelajaran di sekolah telah selesai. Terlihat beberapa murid berada di UKS.

"Hinata-chan, apa kamu baik-baik saja?" Tanya seorang gadis bersurai pink.

"A-aku sudah tidak apa-apa Sakura-chan" jawab Hinata sambil tersenyum lembut.

Naruto yang tidak sengaja melihat senyum lembut Hinata tiba-tiba terpaku dan hanya menatap Hinata yang tersenyum lembut. Tanpa sadar ada sedikit rona merah dipipi laki-laki bersurai pirang itu.

"Dobe, berhentilah menatap gadis itu seolah kau ingin memakannya." Bisik Sasuke di telinga kanan Naruto.

"Teme, apa maksudmu?!" Tanya Naruto yang terkejut dengan bisikan Sasuke.

"NARUTO NO BAKA. Kenapa kau teriak!?" bentak Sakura pada teman kuningnya itu.

Naruto hanya diam kikuk karena teriakannya sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

"Teme, bolehkah aku nanti bertanya-tanya sedikit?" bisik Naruto pada Sasuke

Sasuke hanya mengangguk sebagai jawaban 'iya'

"Naruto kau harus antar Hinata-chan pulang." Perintah Sakura dengan nada suara agak menyeramkan.

"I-iya, Sa-sakura-chan" jawab Naruto terbata karena takut. Ia tahu sangat bagaimana Sakura kalau sedang marah.

"kenapa Teme bisa tahan ya dengan sifatnya yang seperti itu?" batin Naruto.

"Dan jangan lupa untuk latihan band kita di rumahku. Setelah kau antar dia pulang, Dobe." Ucap Sasuke. Sepertinya dia cukup antusias dengan tawaran kontrak dari Akatsuki Caffe.

"Iya, Teme aku tidak lupa" jawab Naruto

.

.

.

Di parkiran Naruto sedang duduk diatas motor sambil memandang bingung Hinata.

"Hinata-chan, kau kenapa? Kenapa diam saja ayo naik." Ucap Naruto yang tidak lain adalah perintah.

"H-ha'I" jawab Hinata sambil menahan gugupnya karena akan dibonceng oleh Naruto.

"Pakai ini, dulu Hinata." ucap Naruto sambil memberikan helm kepada Hinata, Hinata langsung memakainya dan menaiki motor Naruto.

"Pegangan Hinata-chan." Ucap Naruto sambil memegang tangan Hinata dan ditaruhnya di pinggang Naruto. Naruto sedikit merona saat memegang tangan Hinata dan menaruhnya di pinggangnya. Namun karena Ia lebih takut Hinata jatuh saat Ia mengendarai motor, Ia memilih melupakan kegugupannya untuk menaruh tangan Hinata di pinggangnya.

"Ehh.." Hinata terpekik pelan, dan semakin merona karena tangannya memeluk pinggang Naruto.

Motor yang dikendarai Naruto melaju dengan kecepatan sedang. Hanya keheningan yang terjadi diantara mereka. Naruto fokus pada jalanan yang dilewatinya. Hinata yang berusaha menahan debaran jantungnya.

.

.

.

Sesamapainya di depan sebuah rumah mewah bergaya tradisional namun tetap terlihat modern. Naruto menghentikan laju motornya.

"Sudah sampai, Hinata-chan." Ucap Naruto.

Hinata langsung turun "terimakasih Na-naruto-kun." ucap Hinata sambil tersenyum. Dan lagi-lagi Naruto terpaku pada senyuman Hinata.

"I-iya, sama-sama Hinata. Ja-jaga ke-ke-sehatanmu ya." ucap Naruto sedikit terbata. Dibalas anggukan oleh Hinata dan Naruto pun melajukan motornya meninggalkan rumah mewah itu menuju rumah sahabatnya-Sasuke.

.

.

.

Sesampainya dirumah Sasuke. Ia langsung masuk kedalam rumah Sasuke. Melihat Sasuke yang duduk disofa Naruto langsung menghampirinya. Ia terkejut, karena teman yang lain belum datang.

"Teme." Panggil Naruto pada sahabatnya. Dan seperti bisa membaca pikiran Naruto, Sasuke langsung menjawab pertanyaan yang akan Naruto sampaikan.

"Kau menyukai gadis pemalu itu, Dobe" jawab Sasuke datar.

"Ehh…" terkejut. "kenapa Teme langsung menjawab pertanyaanku? Kan aku belum bertanya?" batin Naruto.

"Kepalamu transparan Dobe."ucap Sasuke datar. "Sebaiknya kau coba untuk menulis lagu untuk band kita. Coba kau tuliskan apa yang kau rasakan." Ucap Sasuke.

"Cih.. Dia, ini membuatku kesal saja." batin Naruto.

"Aku akan memberi saran bagaimana kau menyatakan perasaanmu pada gadis pemalu itu." Ucap Sasuke datar.

"TEME! KAU MEMANG SAHABATKU!" teriak Naruto senang sambil melompat untuk memeluk Sasuke dan melupakan rasa kesalnya.

"Dobe, apa yang kau lakukan. Cepat lepaskan." Perintah Sasuke yang kesal karena dipeluk-peluk oleh sahabatnya.

"Ne ne, Teme, boleh aku tahu bagaimana kau bisa berpacaran dengan Sakura-chan?" Tanya Naruto tiba-tiba.

Glek

Sasuke menelan ludahnya. Karena iya sangat malu. Karena Ia bisa berpacaran karena Sakura yang menyatakan perasaannya terlebih dahulu. Merasa cara Ia bisa berpacaran dengan cara yang tidak pria sejati Ia pun mulai mengingat detik-detik sebelum Sakura menyatakan perasaannya.

Flashback

Diatap sekolah Sasuke sedang menyendiri, karena merasa bosan. Ia bosan karena sahabatnya yang selalu bersamanya sedang tidak masuk karena diare hebat.

"cih.. si Dobe itu" gumamnya

Hening

Tiba-tiba ada suara permpuan yang mengintrupsi keheningan diatap sekolah itu.

"Sasuke-kun" ucap si perempuan.

"Sakura?" ucap Sasuke terkejut.

"Sasuke-kun, etto.. ano.. a-aaku.. AKU MENYUKAIMU SASUKE-KUN." ucap Sakura yang gugup setengah mati.

Sasuke membelakkan matanya terkejut. Ia ditembak oleh gadis yang aneh yang sering meneriakinya 'Sasuke-kun, Sasuke-kun, Sasuke-kun' yang sering hadir dimimpinya dengan cara yang aneh namun mampu membuatnya terpikiran belakangan ini.

"Sa-sakura, aku.." belum selesai Sasuke bicara sudah dipotong oleh Sakura.

"Aku sudah tau jawabanmu Sasuke-kun. Aku hanya tidak mau terluka oleh jawabanmu. Baiklah aku pergi." Sakura membalikan badan dan mulai melangkah tiba-tiba iya merasakan rasa hangat di punggungnya dan Ia melihat sepasang tangan melingkari pinggangnya. Ia terkejut karena Sasuke tengah memeluknya.

"Aku akan menjadi kekasihmu. Karena sepertinya aku juga menyukaimu gadis aneh, yang selalu menggangguku" Bisik Sasuke.

Flashback End.

"…me.. Teme.. TEME!" teriak Naruto karena Ia bertanya namun Sasuke melamun.

"Kau berisik sekali, Dobe!" balas Sasuke kesal.

"Jadi bagaimana kisahmu dan Sakura-chan?" Tanya Naruto yang penasaran.

"Sudahlah, saran untukmu agar kau bisa berpacaran dengan gadis pemalu itu. Buat dia senang dan buat dia nyaman bersamamu. Jika dia sudah senang dan nyaman bersamamu kau harus menyatakan perasaanmu." Ucap Sasuke mengalihkan perhatiannya.

"Aku bertanya tentang kisahmu Teme!" ucap Naruto kesal.

Kekesalan Naruto langsung sirna karena personil band yang lain sudah datang a.k.a Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba dan Sai.

Uzumaki Naruto, Uciha Sasuke, Nara Shikamaru, Inuzuka Kiba dan Sai telah membentuk band, sudah selama satu tahun yang lalu. Mereka memberi nama band mereka dengan nama 'Shinobi'. Shinobi berposisikan dengan Kiba drummer, Sai keyboardist, Shikamaru bassist, Sasuke lead-guitarist dan backing vocal, Naruto lead-vocalist dan rhythm guitarist. Naruto merengek bila hanya bernyanyi saja, karena Ia juga ingin bermain musik dalam band bukan hanya menyanyi saja, memang kekanakan karena merengek karena hal itu, namun personil lain memahami kenapa Ia mau menjadi lead-vocalist dan rhythm guitarist. Itu karena Ia pernah ditunjukan rekaman video ayahnya saat muda yang bermain band oleh kakak sepupunya –Nagato. Video itu diberikan pada Nagato oleh teman ayahnya Naruto –Minato- setelah pemakaman Minato dan Kushina.

"Kalian lama sekali" Ucap Naruto sewot, karena saat dia terlambat Ia diomeli.

"Kami tepat waktu Naruto, kau tidak melihat jam berpa sekarang? Kau saja yang terlalu cepat dating." Ucap Shikamaru dengan nada mengantuk.

"Hn, baiklah. Ayo kita ke studio sekarang." Ucap Sasuke datar. Rumah Sasuke sangatlah besar. Sehingga ia membuat studio dirumahnya. Walau rumahnya besar Ia hanya tinggal bersama kakaknya-Itachi Uciha dan 5 orang pelayan. Karena kedua orang tua Sasuke telah tiada. Ibu Sasuke. Mikoto telah meninggal lima tahun setelah melahirkan Sasuke karena sakit. Ayahnya meninggal karena serangan Jantung karena mengetahui perusahaanya bangkrut. Namun kebangkrutan itu membuat Itachi kerja keras untuk membangkitkan perusahaan yang telah didirikan dengan kerja keras ayahnya, karena Ia tidak mau usaha ayahnya bertahun-tahun harus mundur dari persaingan dan berhenti.

Mereka pun segera menuju studio. Sesampainya distudio mereka langsung menempati posisi masing-masing. Sebelum latihan mereka dimulai.

Sasuke sempat berbicara. "Besok malam jam 8 kita akan menemui pihak dari Akatsuki Caffe untuk tanda tangan kontrak." Ucap Sasuke datar. Yang dibalas dengan anggukan oleh personil yang lain.

Mereka pun memulai latihan mereka. Mereka men-cover lagu, lagu band terkenal asal Jepang. Dan juga memainkan lagu ciptaan mereka sendiri.

.

.

.

Sesudah latihan mereka pun makan malam dirumah Sasuke, makanan yang di hidangkan oleh pelayan dirumah Sasuke. Mereka makan sambil bergurau agar suasana tidak canggung. Tentunya yang paling banyak berbicara adalah Naruto.

"Ne ne Shikamaru, Sai. Aku ingin tahu bagaimana kalian bisa berpacaran dengan kekasih kalian? Yang aku tahu kita sering bermain bersama kami, tapi aku bingung kalian bisa memiliki kekasih." Tanya Naruto.

Tangan Shikamaru dan Sai langsung berhenti sebelum menyuap makanan yang hampir mereka masukan kedalam mulut. Dan saling bertatapan. Tatapan seolah berbicara teman-kita-sepertinya-sedang-jatuh-cinta. Shikamaru berbicara terlebih dahulu.

"Kau sedang jatuh cinta, eh Naruto?" Tanya Shikamaru.

Naruto yang diberi pertanyaan seperti itu tiba-tiba memerah wajahnya.

"Sudah ku duga kalau kau sedang jatuh cinta. Terlihat di raut wajahmu yang berubah. Hahaha" ucap Sai

"Sudahlah jangan menggodaku." Naruto mengerucutkan bibirnya tanda mulai ngambek.

"Siapa gadis tidak beruntung yang kau sukai Naruto?" Tanya Kiba malas, karena hanya dia yang sedang tidak memiliki gadis yang disukai setelah patah hati ditinggal ke Paris oleh mantan kekasihnya.

"Sembarangan kau pecinta anjing. Hinata-chan kau bilang tidak berunt-" ucap Naruto keceplosan dan langsung menutup mulutnya.

"uhuk.. .. jadi gadis itu Hinata. kau beruntung akan bisa mendapatkannya dengan mudah, karena yang aku tahu dia sudah dari SMP menyukaimu maniak ramen!" ucap Kiba yang terkejut.

"uhuk..uhuk..uhuk.. apa kau serius Kiba?" Tanya Naruto antusias. Setelah bergantian terkejut dengan Kiba.

"Aku serius" jawab Kiba santai.

Senyum pun berkembang di wajah Naruto. "Aku harus mengajaknya kencan sepulang sekolah besok." Ucap Naruto semangat.

"Tapi aku masih mau tahu cerita asmara Shikamaru dan Sai. Maukah kalian berbagi cerita? Kita sudah berteman dari SD." Pinta Naurto dengan puppy-eyes yang bagi Sasuke itu adalah tatapan paling menyebalkan seumur hidupnya.

"Baiklah. Aku akan bercerita lebih dahulu." Ucap Sai.

Flashback

Lima bulan yang lalu.

Di pagi yang cerah Sai sedang menjalankan hobinya yang lain. Melukis. Ia sedang melukis awan yang cerah dengan sedikit awan yang berubah-ubah bentuknya dari kamarnya. Lalu ia mendengar suara perempuan sedang mengeluh. Ternyata itu Ino tetangganya sekaligus teman sekolahnya.

"huh. Kaa-san, ada-ada saja, kalau aku belum punya kekasih sampai lulus SMA aku akan dijodohkan." Ucap Ino cemberut.

Dari kamarnya Sai melihat Ino yang cemberut, lalu tidak lama dari itu Sai melihat Ino tersenyum memandangi taman bunga di rumahnya dari kamarnya yang ada dilantai dua. Sai sempat terpaku. Lalu Ia melukis Ino yang sedang tersenyum. Dengan cekatan Sai melukis Ino dengan media kanvas. Sai telah menyediakan beberapa kanvas sesaat sebelum melukis.

Sesaat setelah Sai melukis Ino. Sai memandangi Ino. Sai merasa jantungnya berdebar-debar. Sai tidak bodoh untuk mengetahui perasaannya. Karena ia pernah membaca buku yang menjelaskan tentang jantung yang berdebar-debar bila melihat seseorang yang berbeda gender.

Lalu pandangan mereka bertemu. Sai memandang Ino. Ino memandang Sai. Mereka sama-sama berdebar-debar dengan pandangan mereka yang bertemu. Ino yang merasakan wajahnya memanas segera memalingkan wajahnya. Begitu pun Sai. Sai langsung pergi. Namun karena ada angin. Kanvas lukis yang Sai gunakan untuk melukis Ino terjatuh dan menampakkan apa yang Sai lukis. Ino yang memiliki mata yang cukup jeli melihat apa yang Sai lukis. Itu ternyata dirinya, wajahnya pun bersemu merah kembali.

Keesokan harinya saat Sai hendak berangkat sekolah Ia melihat Ino yang juga ingin berangkat sekolah. Sai pun mengajak Ino untuk berangkat bersama menggunakan motornya.

"Ayo, berangkat bersama." Ajak Sai dengan senyum yang berbeda dari biasanya. Senyum tulus.

"Apa tidak merepotkan, Sai?" Tanya Ino

"Tentu saja tidak untuk gadis cantik sepertimu." Ucap Sai. Ino yang mendengar itu bersemu merah. Dan memakai helm yang diberikan Sai.

Sejak saat itu. Ino dan Sai semakin dekat. Sering berangkat sekolah bersama dan pulang bersama. Sampai suatu hari Sai menyatakan perasaannya didepan rumah Ino setelah pulang dari sekolah.

"Ino, setiap kali aku melihatmu, aku selalu berdebar-debar. Entah kenapa, namun itu menimbulkan rasa yang menyenangkan pada diriku. Dan aku rasa aku telah jatuh cinta padamu. Maukah kau menjadi kekasihku?" ungkap perasaan Sai.

Ino yang mendengar itu pun tanpa ragu langsung memeluk Sai.

"Aku mau, Sai. Aku juga merasakan hal yang sama denganmu. Semenjak kita saling pandang setelah kau melukisku dari kamarmu. Kau selalu ada dalam pikiranku. Aku juga jatuh cinta padamu." Ucap Ino

Flashback End.

Setelah mendengarkan Sai bercerita. Sahabat-sahabatnya cengo. Tidak menyangka dari hal yang kecil 'eluhan Ino pada Ibunya' bisa menjadi besar dan penuh arti.

"begitulah, kisah asmaraku, Naruto." Ucap Sai setelah menceritakan kisah asmaranya.

"hm. hm." respon Naruto mengangguk-angguk sambil memejamkan mata.

"Lalu kalau kau Shikamaru?" Tanya Naruto.

"Aku sangat sederhana. Saat aku sudah beberapa kali bertemu dengannya. Aku sudah berdebar-debar. Keesokannya aku menyatakan perasaanku padanya. Dan diterima. Dia pun juga bilang kalau dia juga merasakan hal yang sama denganku." Cerita Shikamaru membuat sahabat-sahabatnya sweatdrop masal karena sangat sederhana. Memang benar kata Shikamaru kalau itu sangat sederhana.

.

.

.

Di pagi hari yang indah seorang gadis berambut indigo terbangun. Ia mengerjapkan mata Indahnya yang berwarna amethyst yang indah. Seulas senyum terukir diwajahnya yang cantik. Ia mengingat kembali kedekatannya kemarin dengan pujaan hati –Naruto.

Ia pun bergegas mandi dan bersiap-siap untuk sekolah. "semoga hari ini menjadi hari yang menyenangkan" batin gadis itu a.k.a Hyuga Hinata. anak pertama dari Hyuga Hiashi. Seorang direktur dari perusahaan Hyuga Corp. Ibunya telah tiada setelah melahirkan adiknya Hyuga Hanabi. Ia memiliki kakak sepupu yang sudah Ia anggap sebagai kakak kandung bernama Hyuga Neji. Yang bersekolah di London.

Telah siap dengan seragamnya Ia pergi ke dapur unuk menyiapkan sarapan untuk ayah dan adiknya, walau memiliki pelayan dirumah namun Hinata lebih suka membuat sendiri makan untuk keluarganya. Setelah sarapan Hinata segera berangkat ke sekolahnya.

"Tou-sama, Hinata berangkat sekolah." Ucap Hinata setelah mencium pipi ayahnya. Adiknya sudah berangkat lebih pagi karena jadwal piketnya.

"Iya, hati-hati Hinata." ucap Hiashi datar

Setelah keluar dari gerbang Hinata melihat Naruto sudah ada didepan rumahnya. Duduk diatas motornya. "Na-naruto-kun?" batin Hinata.

"Ohayou Hinata-chan." Sapa Naruto dengan semangat dan cengiran rubahnya.

Hinata yang melihat senyum Naruto sontak memerah wajahnya.

"O-ohayou Na-Naruto-kun" balas Hinata dengan gugup.

"Ayo, berangkat. Nanti kita terlambat." Ucap Naruto sambil memberikan helm pada Hinata yang terdiam.

"Kau kenapa Hinata-chan? Ayo, pakai dan naiklah" ucap Naruto memecah kebingungan Hinata.

"Naruto-kun ke-kenapa tidak bi-bilang padaku kalau menjemputku?" Tanya Hinata sambil menahan gugupnya.

"Aku lupa bilang kemarin. Dan aku lupa minta nomor ponsel dan emailmu Hinata-chan." Jawab Naruto salah tingkah sambil menggaruk pipinya.

"Hinata-chan, boleh bertukar nomor ponsel dan email?" Tanya Naruto.

"Bo-boleh" jawab Hinata. Naruto langsung memberikan ponselnya pada Hinata, Hinata pun juga memberikan ponselnya pada Naruto. Setelah bertukar nomor ponsel dan email, Naruto mulai bingung harus bagaimana. Ia malah melupakan sekolah.

"Na-naruto-kun. Ada apa?" Tanya Hinata.

"Ti-tidak apa. Ayo berangkat." Ucap Naruto. Hinata pun menaiki motor Naruto. Seperti kemarin Naruto menaruh tangan Hinata di pinggangnya untuk memeluknya dengan gugup, Hinata kembali merona seperti kemarin. Tanpa berbicara Naruto melajukan motornya dengan kecepatan sedang.

.

.

.

Sesampainya di sekolah Naruto dan Hinata menjadi sorotan dari fans girl Naruto. Sasuke yang tidak sengaja melihatnya hanya menyeringai. "sepertinya dia sudah memulai agresinya" batin Sasuke.

"Sasuke-kun kau kenapa?" Tanya Sakura yang sedang bergandengan dengan Sasuke.

"Tidak ada apa-apa. Hanya si Dobe sudah memulai rencananya saja pada sahabatmu yang pemalu itu." Ucap Sasuke datar.

"Hah?" Sakura hanya terkejut heran.

.

.

.

Naruto dan Hinata yang baru turun dari motor langsung berjalan menuju kelasnya.

"Hinata-chan" panggil Naruto

"Nani?" Tanya Hinata agak memiringkan kepalanya tanda heran.

"Apa nanti sepulang sekolah kau sibuk?" Tanya Naruto

"Ti-tidak Na-naruto-kun. Na-nanda?" Tanya Hinata.

"Nandemonai" jawab Naruto sambil memalingkan wajahnya dengan gugup

Hening. Hanya hening perjalanan mereka menuju kelasnya. Sesampainya didepan kelas, Naruto mengacuhkan kegugupanya.

"Hinata, maukah kau kencan denganku sepulang sekolah nanti?" Tanya Naruto dengan sedikit memalingkan wajahnya yang tampak rona merah yang samar terlihat dipipinya.

"Ke-kencan?" Hinata gugup. Rona merah dipipinya semakin kontras. Hinata menunduk. Lalu mengangguk kecil. Sebagai jawaban 'iya'.

Naruto yang melihat Hinata seperti itu tidak tahan lagi. Ia langsung mencubit gemas pipi hinata yang sedang merona.

"Kau ini lucu sekali Hinata-chan" ucap Naruto lalu menarik tangan Hinata untuk memasuki kelas.

Teman-teman sekelas mereka yang sedang bercanda gurau langsung berhenti. Hening. Teman-teman sekelas mereka memandang heran kepada Naruto dan Hinata yang sedang bergandengan tangan –lebih tepatnya Naruto yang memegang tangan Hinata.

"A-ada apa? Kenapa kalian menatap kami?" Tanya Naruto kikuk dipandang menyelidik oleh teman-teman sekelasnya.

"WAH.. NARUTO APA KAU SUDAH MENYATAKAN PERASAANMU PADA HINATA?" Tanya Kiba sambil berteriak semangat melihat temannya yang sedang bergandengan.

"EEHH.." Naruto melepaskan gandengannya dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal sambil tertawa kikuk. Dan Hinata hanya diam sambil menahan diri agar tidak pingsan.

KRIIINGG..KRIIINGG..KRIIINGG.

Suara bel tanda pelajaran dimulai menyelamatkan Naruto dan Hinata dari introgasi teman-temanya.

Skip

.

.

.

Sakura sedang memandang Hinata yang gugup dipandang menyelidik olehnya.

"Kau jahat Hinata. kenapa kau tidak cerita padaku kalau kau dan Naruto sudah menjadi sepasang kekasih." Ucap Sakura dengan mengerucutkan bibirnya tanda sebal

"A-aku tidak jadian dengan Naruto-kun Sa-sakura-chan" jawab Hinata sambil menunduk.

"Na-naruto-kun hanya menggandeng tanganku setelah Na-Naruto-kun mengajak kencan" ucap Hinata dengan suara pelan.

"APA!?" Sakura terkejut. "wah.. doamu akan terkabul Hinata-chan" ucap Sakura sambil memeluk sahabatnya.

.

.

.

KRIIINGG..KRIIINGG..KRIIINGG..

Suara bel berbunyi mengundang senyum laki-laki bersurai pirang dan bermata biri sebiru samudera. Ia memikirkan tentang kencannya nanti. Sahabat anak laki-laki itu yang bersurai raven melihatnya seperti orang gila karena tersenyum sendiri. Ia menyeringai.

"Kalau kau hanya tersenyum sendiri seperti ini. Akulah yang akan berkencan dengan Hinata" bisik Sasuke di telinga Naruto.

"TEMEEEE!" Naruto terkejut. "Awas saja kalau itu terjadi!" ucap Naruto kesal walau tahu sahabanta itu hanya bercanda.

"Sudahlah. Aku akan pulang, aku mau mengantar Sakura membeli hadiah untuk ayahnya. Semoga sukses." Ucap Sasuke sambil tersenyum tipis dan Naruto membalas dengan cengiran rubahnya.

Pandangan Naruto berpaling menuju gadis yang telah mengisi pikirannya dan hatinya –Hinata. Hinata menoleh kearah Naruto dan tersenyum malu-malu. Naruto segera menghampiri Hinata.

"Hinata, ayo" ajak Naruto sambil menarik tangan Hinata, membuat Hinata kembali bersemu merah di pipinya.

.

.

.

Sesampainya diparkiran Naruto dan Hinata segera menghampiri motor sport milik Naruto.

"Na-naruto-kun. ki-kita akan ke-kemana?" Tanya Hinata gugup.

"Aku akan mengajakmu ke tempat yang paling indah dan aku pastikan kamu menyukainya." Jawab Naruto sambil tersenyum lembut.

TBC

Silahkan review. Semua review saya tersima sebagai pelajaran dan semangat untuk saya.

terimakasih. untuk yang sudah review. cahp. sebelumnya.