歌うたいのバラッド :All I Want For Christmas Is You
Disclaimer: Cerita ini milik saya, semua karakter Inuyasha milik Rumiko Takahashi, saya hanya meminjam nama mereka. Saya tidak mengambil keuntungan dari penulisan cerita ini dan tulisan ini hanya sebagai hiburan semata.
Summary: Kepercayaan penuh yang tak seharusnya Kagome berikan padanya. Karena malam itu dan sejak malam itu semuanya berubah.
Warn! Typo(s) ‖ OOC ‖ AU ‖ diksi tidak tepat ‖ dll.
Author: Emma Griselda
If you let me, I will give my heart to you
So that I can feel you, what else can I do?
Can you hold on just a little longer still?
In your heart if you believe it then you will
(Can I) call you my own, and can I call you my lover
Call you my one and only girl
(Can I) call you my everything, call you my baby
You're the only one who runs my world
"Maukah kau menjadi pengiringku?" tanya Kikyō mengulang. Ia sedikit memberi penekanan pada kata 'pengiringku' yang menandakan bahwa ia berharap bahwa adik satu-satunya itu mengiyakan apa yang diinginkan, walaupun terdengar egois. Namun, ia berharap hal dipilihnya juga dapat membuat adiknya bahagia.
Kagome diam tanpa memberikan jawabannya pada Kikyō, ia justru melangkahkan kakinya untuk keluar dari restoran perlahan diikuti oleh Sesshōmaru. Kikyō tak ingin berpikiran yang tidak-tidak tentang adik kesayangannya, ia mencoba untuk berpikir positif bahwa adiknya akan mengiyakan permintaannya setelah apa yang terjadi sebelumnya. Peristiwa yang tak pernah disangka Kikyō sebelumnya, bahwa adiknya akan jatuh cinta pada tunangannya. Pikirnya, adiknya jatuh cinta pada Sesshōmaru yang merupakan sahabat karib Kagome sejak kecil, namun dugaannya salah. Ia terkejut saat melihat kado dan sebuket bunga yang akan diberikan Kagome pada Inuyasha tergeletak begitu saja di lantai tepat di depan pintu ruangan Inuyasha, tanpa ia melihat di mana adiknya itu.
"Kagome!" panggil Kikyō dengan sedikit menaikkan nada suaranya, berharap Kagome akan menggubrisnya walau hanya sebentar. Namun, harapannya sia-sia, Kagome mengabaikan panggilannya, "kumohon pikirkanlah kembali!" lanjutnya dengan terisak. Kikyō tak pernah berpikir sebelumnya bahwa hubungannya dengan adiknya akan rusak hanya karena orang yang dipilihnya untuk menjadi pendamping hidupnya. Apakah pilihan yang diambilnya itu salah?
Inuyasha membawa Kikyō yang masih terisak ke dalam pelukan hangatnya, "Sudahlah. Kau tak perlu memaksanya. Mungkin ini pilihan yang susah untuknya. Dia berada pada posisi yang serba salah untuknya. Aku sudah bahagia jika ia mau datang dan memberikan doa untuk pernikahan kita." Inuyasha mendaratkan ciumannya pada puncak kepala Kikyō.
"Mungkin aku yang terlalu egois. Aku berharap kami sama-sama bahagia dengan pernikahanku. Aku berharap dia mau menjadi pengiringku, seolah aku membagi kebahagiaan yang kurasakan padanya sebagai orang paling dekat dengannya. Namun, yang kulakukan hanyalah terus memaksanya ... bagaimana jika ia tak mau datang?" tanya Kikyō masih terisak, ia mendongakkan kepalanya.
"Dia pasti akan datang."
Kagome menghentikan langkah kakinya tepat di samping mobil Sesshōmaru yang terparkir di halaman restoran, mencoba mengatur irama napasnya yang tidak beraturan. Bagi Kagome, apa yang baru saja terjadi di dalam restoran adalah sebuah kejutan yang terorganisir dengan baik hingga membuatnya harus menahan napas untuk beberapa saat. Sesshōmaru yang baru saja datang, langsung menarik Kagome ke dalam pelukannya untuk waktu yang lama, hal yang selalu dilakukannya untuk menenangkan Kagome yang terguncang. Kagome memutuskan untuk melepaskan pelukan hangat yang diberikan oleh sahabat karibnya perlahan.
"Ada apa?" tanya Sesshōmaru padanya, nadanya bergetar karena khawatir.
Kagome menghela napas panjang, "Jangan pernah melakukannya lagi padaku!" ucap Kagome dengan menitikkan air mata, dengan cepat ia menghapus air matanya dengan kasar, memalingkan pandangannya, dan segera membuka pintu mobil. Ketika ia sudah memasuki mobil Sesshōmaru, ia membanting pintu mobil sport itu asal.
Kagome yang berada di dalam mobil pun mengalihkan pandangannya ke samping, memperhatikan apa yang terjadi di luar jendela. Ketika Sesshōmaru masuk ke dalam mobil, tak sepatah kata pun keluar dari bibir keduanya. Sesshōmaru memilih untuk memfokuskan diri dalam mengendarai mobil, membiarkan Kagome bergelung dengan pikirannya untuk beberapa saat. Pikirnya, akan ada saatnya bagi Kagome untuk menceritakan semuanya padanya. Keadaan mulai menjadi lebih tenang dari sebelumnya, Kagome mau menatap Sesshōmaru walau hanya dalam waktu yang singkat.
"Maafkan aku. Aku pastikan, hal itu takkan terulang kembali," ucap Sesshōmaru sambil mengalihkan pandangannya singkat pada Kagome, kemudian ia kembali fokus berkendara.
Tiada jawaban dari Kagome, ia hanya diam dan menutup matanya untuk beberapa waktu. Berharap ia mampu tertidur dan ketika ia bangun nanti, ia akan melupakan segala permasalahan yang terjadi padanya belakangan ini dalam sekejap. Namun, itu semuanya rasanya mustahil. Semuanya butuh proses, bahkan hanya untuk melupakan sebuah kenangan buruk pun.
"Ayo makan?" tanya Sesshōmaru kembali.
Hening.
"Aku lapar karena tadi tidak sempat makan apapun. Tapi, akan membosankan jika harus makan sendiri. Bagaimana kalau makan babi pedas?" tanya Sesshōmaru mencoba untuk memecahkan keheningan yang terjadi.
"Hm, baiklah, terserah kau saja," jawab Kagome masih dengan menutup mata.
Tak butuh waktu yang lama, Sesshōmaru akhirnya menghentikan mobil yang ia kendarai di sebuah tempat makan yang lokasinya tak berjarak jauh dari laut. Semilir angin malam menemani makan malam mereka, Kagome terus memfokuskan dirinya sambil menikmati makanan pedas yang tersaji, sedangkan Sesshōmaru hanya mengamati Kagome makan, berharap Kagome mengeluarkan sepatah kata agar ia tak khawatir lagi. Wanita yang ada di hadapannya itu pada akhirnya tak bisa lagi untuk menahan air matanya, tangisnya pecah di hadapan Sesshōmaru yang diam sambil menikmati segelas sake.
"Ah, kenapa ini pedas sekali?" ucap Kagome dengan mengibaskan tangannya, berharap dengan mengibaskan tangannya ke tubuhnya, rasa pedas yang dialaminya bisa reda. Namun, Sesshōmaru tahu betul bahwa Kagome mencoba tegar dan kuat di hadapannya. Tapi, semua peran yang dimainkan oleh Kagome telah gagal.
"Ini sangat pedas! Ini benar-benar pedas!" ucap Kagome dengan mengusap air mata dengan jari kelingkingnya asal, "pedas sekali. Ini membuatku menangis. Benar, 'kan? Luar biasa pedasnya," keluh Kagome berpura-pura bahwa ia menangis karena makan babi pedas. Air matanya sudah tak bisa terbendung lagi, dan berulang kali Kagome mengusapnya asal.
Siasat yang dilakukan oleh Sesshōmaru berhasil. Untuk membuat sahabatnya bisa bebas menangis, ia mengajaknya untuk makan sesuatu yang pedas, seolah Kagome yang ingin menumpahkan seluruh air matanya bisa dengan bebas melakukannya dengan dalih ia kepedasan.
"Aku akan membayarnya," celetuk Sesshōmaru setelah melihat Kagome kembali tenang. Kagome menyudahi makannya, melepaskan plastik yang dikenakan di kedua tangannya, dan meletakkannya di meja. Ia kemudian bangkit, mengikuti ke mana perginya Sesshōmaru.
Mereka berdua memutuskan untuk langsung pulang menuju apartemen. Kagome sudah tidur dengan pulas dalam waktu yang singkat, sambil mengawasi Kagome dari belakang, Sesshōmaru melakukan sebuah panggilan dengan gawainya pada seseorang. Seseorang yang menjadi tujuannya untuk melakukan panggilan mengangkat telponnya, terdengar suara khas ibunya. Nada suara yang terlontar dari ibunya terdengar khawatir, anak tunggal yang nantinya menjadi pewaris utama Taishō Grup mencoba menangkan ibunya dengan mengatakan bahwa ia baik-baik saja, keheningan tercipta untuk beberapa saat, Sesshōmaru langsung melontarkan sebuah kalimat permohonan pada ibunya untuk menemani Kagome yang kacau di apartemen. Ibu Sesshōmaru tahu betul dengan apa yang dialami oleh Kagome setelah malam itu, anak semata wayangnya bercerita dengan detail kronologis kejadiannya, sebuah kalimat persetujuan terdengar dengan jelas di telinga Sesshōmaru.
Sudah beberapa hari ini Sesshōmaru menemani Kagome di apartemen. Setelah kata persetujuan terlontar dari bibir ibunya, ia memilih untuk terus menemani Kagome di apartemen miliknya. Keduanya tidur dalam satu ranjang, untuk menenangkan Kagome yang selalu terbangun saat tengah malam. Pada awalnya, semua terlihat baik-baik saja, namun Kagome mulai mengalami mimpi buruk beberapa hari belakangan ini setelah melakukan fitting baju untuk pernikahan kakaknya. Kagome selalu berteriak saat tidur, menangis, layaknya seekor anjing yang melolong saat ia kesakitan. Saat itu terjadi, Sesshōmaru yang masih terjaga langsung berlari menuju Kagome untuk menenangkannya, peluh Kagome mulai membasahi pelipis wajahnya yang terlihat pucat, dan saat ia terbangun, ia langsung memeluk Sesshōmaru yang berada di hadapannya. Layaknya pengusir mimpi buruk, Sesshōmaru akhirnya menyetujui permintaan sahabat karibnya untuk tidur satu ranjang dengan menggenggam tangannya. Ia tidak bisa terus menerus melihat sahabatnya terluka lagi, hanya itu yang bisa ia lakukan untuk membantu Kagome. Dan Kagome mulai menyadari bahwa sebagian dari dirinya mulai ketergantungan dengan keberadaan Sesshōmaru di sampingnya.
Sesshōmaru memutuskan untuk pulang sejenak saat makan siang. Setelah membahas apa yang terjadi dan dialami oleh Kagome bersama ibunya, mereka membahas bagaimana keadaan Kagome untuk besok maupun ke depannya. Momen yang dinantikan oleh Kikyō dan juga Inuyasha akhirnya tiba, hari pernikahan mereka akan digelar besok dengan mewahnya, kekhawatiran mulai muncul di kepala Sesshōmaru dan juga ibunya.
"Mungkin itu terdengar kejam, tapi apa yang diharapkan oleh Kikyō juga tidaklah salah. Mereka hanyalah berada pada posisi yang serba salah," ucap ibu Sesshōmaru.
Sesshōmaru hanya menganggukkan kepalanya setelah mendengar apa yang dikatakan oleh ibunya, tak ada yang salah memang. Pengharapan yang terlalu berlebihlah yang salah. Hening kembali tercipta.
"Apa kau yakin dengan pilihanmu?" tanya Ibu Sesshōmaru, Sesshōmaru mengalihkan pandangannya pada ibunya dengan menyunggingkan senyum yang terasa lebih berat yang pernah ia lakukan, mengangguk dalam diam.
"Lalu bagaimana dengan Kagome?"
Kagome tahu bahwa kehadiran Sesshōmaru di sampingnya hanya untuk menenangkan dirinya yang tak sanggup menerima kenyataan bahwa kakak yang ia sayangi menikah dengan Inuyasha. Bahkan, Sesshōmaru berusaha sekuat tenaga untuk menghibur Kagome dengan mengajaknya keluar di setiap malam, beberapa hari menjelang pernikahan Kikyō. Kagome sadar, bahwa jika waktunya tiba, Sesshōmaru pada akhirnya juga akan pergi meninggalkannya. Ia tidak ingin lagi orang yang ia sayangi pergi meninggalkannya, tapi apa haknya untuk melarang Sesshōmaru untuk tidak pergi dari sisinya? Ia sama sekali tidak mempunyai hak atas hal tersebut.
Dahulu, Kagome selalu menantikan momen ketika kakaknya menikah di gereja dan sebuah resepsi mewah diadakan di hotel berbintang. Namun, sekarang, saat momen pernikahan itu tiba, Kagome tidak ingin ikut andil dalam peristiwa yang begitu penting bagi Kikyō. Ia datang ditemani Sesshōmaru layaknya sepasang kekasih, mereka datang dengan bergandengan tangan. Sebuah resepsi mewah yang dahulu hanya ada di bayangan Kagome, kini benar-benar digelar di sebuah hotel mewah, sama seperti dengan apa yang Kagome harapkan. Setelah pengambilan foto bersama, Kagome lebih memilih untuk minum koktail dan beberapa jenis minuman beralkohol, melampiaskan semua perasaan yang susah ia ungkapkan lewat perkataan dengan menenggak habis minuman tersebut. Ia tak nampak seperti Kagome biasanya, ia lebih terlihat seperti orang lain, dengan terus meracau dalam gumamannya yang tidak orang lain ketahui, Sesshōmaru membawanya pergi dari pesta tersebut menuju apartemennya yang kini ditinggali oleh Kagome, takut Kagome akan mengacaukan pesta mewah itu.
Kagome tertidur pulas di atas ranjang, ketika Sesshōmaru yang mengantarkannya akan beranjak, tangan Kagome menahannya untuk tidak pergi, air matanya mulai membasahi pipinya dengan tetap memejamkan matanya. Tak tega melihat itu, Sesshōmaru mengalah untuk sejenak dan menemani sahabatnya tidur, sesungguhnya ia tidak benar-benar tidur, dalam posisi yang saling berhadapan dan tangannya yang digenggam oleh Kagome, ia terus mengamati detail wajah Kagome yang akan ia rindukan itu, ketika sejumput rambut mengganggu pemandangannya, ia menyisir rambut tersebut dan membenahinya. Ketika Kagome berada di batas antara sadar dan tidak sadar dalam tidur lelapnya, ia terbangun dengan sedikit menyipitkan mata, gambaran yang ia lihat kabur. Ketika ia ingin bangkit, jemari tangannya sebelah kanan terpaut erat dengan jemari Sesshōmaru yang kokoh, menjadikannya enggan untuk bangkit, memilih untuk menatap sosok yang ada di hadapannya itu. Genggaman tangan Sesshōmaru tak seperti biasanya, kali ini lebih terlihat bahwa Sesshōmaru tidak ingin kehilangan Kagome. Kagome kembali ke posisinya, miring menghadap wajah Sesshōmaru langsung, sosok yang ada di hadapannya itu terlihat tentram dalam tidurnya, mengamati lekuk wajah Sesshōmaru. Ia juga merasa egois untuk sesaat, tak ingin Sesshōmaru pergi darinya, ia hanya ingin Sesshōmaru terus di sampingnya, namun saat ia mengamati lekuk wajah laki-laki yang ada di hadapannya, ia baru sadar bahwa banyak hal yang Sesshōmaru coba untuk sembunyikan darinya, betapa berat beban yang dipikul oleh sahabatnya itu. Kagome sadar keegoisannya membuatnya 'buta' akan hal yang menjadi tanggungan sahabatnya itu, betapa berat tekanan yang Sesshōmaru dapatkan dari kedua orang tuanya.
Menjadikan Sesshōmaru sebagai objek yang harus ia amati, membuat Kagome merasakan kantuk yang kembali merayap pada dirinya, dalam hitungan detik, ia sudah kembali terlelap dalam dekapan Sesshōmaru. Genggaman tangan Kagome akhirnya bisa ia lepaskan, Sesshōmaru beranjak dari tempat tidur, membenahi selimut yang mereka gunakan untuk menutupi tubuh Kagome sepenuhnya, kemudian ia membenahi baju yang ia kenakan agar terlihat rapi kembali. Ia duduk sejenak di ruang kerja yang ada di apartemennya itu, menuliskan sesuatu secara singkat pada secarik kertas, setelah menurutnya cukup untuk menuliskannya, ia beranjak menuju ke kamar —ke tempat Kagome terbaring dengan nyenyak. Ia kembali mengamati sosok yang ada di hadapannya itu kembali untuk terakhir kalinya, mengeluarkan secarik kertas yang tadi ia tulis dan menempatkannya pada meja kecil yang terdapat di samping ranjang.
Sesshōmaru mencondongkan tubuhnya pada Kagome yang masih terlelap, "Aku akan kembali. Tunggu aku. Aku mencintaimu, Kagome," bisiknya tepat di telinga Kagome lalu mendaratkan sebuah ciuman yang cukup lama di kening Kagome.
Mentari pagi rasanya tak berani untuk menjamah tubuh Kagome yang masih terbungkus oleh selimut yang sengaja Sesshōmaru lilitkan pada tubuh wanita itu sebelum pergi, namun melalui celah yang tercipta dari jendela, cahaya mentari mulai mengganggu Kagome dalam tidurnya. Sebelum Kagome terbangun dari tidurnya, ia bermimpi singkat namun terasa sedikit aneh baginya. Dalam mimpinya, Kikyō dan Inuyasha telah dikaruniai seorang anak perempuan dengan paras cantik yang mereka beri nama Rin, dan Kikyō tengah mengandung anak keduanya. Ketika semua orang mulai menjauhi Kagome tanpa alasan yang jelas, pada akhirnya hanya ada satu orang yang senantiasanya berada di sisinya dengan setia, dia adalah Sesshōmaru. Sesshōmaru bahkan memberinya sebuah pelukan hangat dan kecupan di keningnya. Namun, saat ia baru menyadari bahwa ia juga mencintai Sesshōmaru, laki-laki itu pergi bersama dengan wanita lain yang lebih dicintainya.
"Sesshōmaru!" teriak Kagome dengan keras saat dirinya tertarik dengan sengaja dari alam bawah sadarnya dengan tiba-tiba. Ia terperanjat dengan mata terbelalak. Napasnya tak beraturan disertai peluh yang membasahi keningnya, ia langsung duduk dan mengusap keringat yang rasanya sudah membasahi wajahnya.
Kagome mengatur napasnya yang masih tersengal-sengal, mimpi singkatnya terbuyarkan oleh sentuhan lembut sang dewa matahari. Ia meregangkan otot tubuhnya dengan posisi yang sama, di atas ranjang, mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan mencari sosok Sesshōmaru. Namun, Kagome tak mendapati sosok yang ia cari, mungkin matanya tak mampu menjangkau keberadaan Sesshōmaru atau mungkin saja Sesshōmaru sedang berada di luar sejak ia masih terlelap, pikirnya. Apartemen terasa sepi, hanya ada Kagome seorang di dalam ruangan, menyadari rambutnya acak-acakan, serta gaun pesta yang masih ia kenakan, Kagome langsung berteriak dan merasakan malu pada dirinya sendiri. Ia memutuskan diri untuk mandi, setelah beberapa waktu lamanya, akhirnya ia keluar dengan memakai bathrobe serta handuk yang ia kenakan di kepalanya. Tanpa berganti pakaian terlebih dahulu, Kagome memutuskan untuk sarapan terlebih dahulu barulah ia berganti pakaian.
Sesshōmaru tak kunjung datang, Kagome memilih pakaian yang akan dikenakannya, namun pandangannya teralihkan pada secarik kertas yang tergeletak di meja kecil samping ranjangnya. Ia duduk, mengambil secarik kertas dengan tulisan tangan yang rapi di atasnya, dan membacanya perlahan. Di kertas itu tertulis:
Aku hanya pergi sebentar. Tidak akan lama, tunggulah aku.
—Sesshōmaru
Setelah berganti pakaian, Kagome mengambil kursi dari ruang kerja, meletakkannya di samping ranjangnya, tepat menghadap ke jendela apartemen mewah milik Sesshōmaru yang menampilkan pemandangan indah di luar sana. Kagome duduk bertongkat lutut, tatapannya kosong, menantikan kehadiran Sesshōmaru yang katanya hanya pergi untuk sebentar hingga malam tiba. Namun, sosok yang ditunggu kepulangannya tak kunjung datang, selama satu minggu penuh setelah pernikahan kakaknya dan hari libur kerja, Kagome melakukan hal yang sama, duduk bertongkat lutut menghadap jendela dengan tatapan kosong menantikan kedatangan Sesshōmaru, ia tidak peduli lagi dengan tampilan dirinya, rambutnya yang acak-acakan tak mengggoyahkan dirinya.
Bersamaan dengan kegiatan yang ia lakukan selama menunggu itu, setiap malam sebelum ia tidur, ia menyempatkan dirinya untuk mengirim pesan —walaupun kenyataannya pesan itu tidak terkirim— maupun pos elektronik kepada Sesshōmaru dengan menceritakan keseharian yang dialaminya, ada kosakata yang tak pernah luput ia tuliskan di pesannya itu, bahwa ia merindukan Sesshōmaru dan ia akan selalu menunggunya.
"Sesshōmaru kau menghilang ... seperti lainnya. Sekarang dengan siapa aku bisa berbicara? Aku seperti tersesat. Saat kau pergi, seperti kakakku yang tidak lagi peduli denganku, dan kepergianmu ... terasa seperti rongga besar yang menganga menembus dadaku. Aku juga tidak tahu kenapa menjadi seperti ini setelah kepergianmu. Aku merindukanmu dan akan selalu menunggumu," batin Kagome.
Empat tahun berlalu dengan cepat, tapi bagi Kagome itu terasa begitu lama bahkan tiap hari yang terlewati terasa seperti satu tahun lamanya, seolah jarum jam tak mau berkedip. Tak banyak yang berubah, Kagome masih tetap sendiri. Ia masih menanti kedatangan Sesshōmaru, seperti yang tertulis rapi pada secarik kertas empat tahun lalu kala laki-laki yang membuatnya candu untuk selalu bersama itu pergi tak ada kabar. Kikyō hamil tak berselang lama setelah kepulangannya dari bulan madu bersama Inuyasha waktu itu, kini ia tengah hamil anak kedua. Anak pertama hasil buah cintanya dengan Inuyasha adalah seorang perempuan bernama Rin, nama yang sesuai dengan mimpi Kagome pagi itu sebelum ia menyadari bahwa Sesshōmaru telah pergi.
Kagome selalu berdoa setiap ia sebelum memejamkan matanya kala malam, agar ia bisa bertemu kembali dengan sosok yang begitu ia rindukan selama ini, sosok yang membuatnya ketakutan jika ia sampai kehilangannya. Ia selalu berdoa agar apa yang terjadi padanya dan juga Sesshōmaru tidak sama dengan mimpinya pagi itu —Sesshōmaru meninggalkannya. Selama empat tahun itu pula, Kagome menyibukkan dirinya dengan terus bekerja di kantor Inuyasha setelah surat pengunduran dirinya ditolak. Tak jarang ia memilih untuk lembur hingga larut malam, untuk melupakan bagaimana kekosongan yang ia alami setelah Sesshōmaru menghilang layaknya hantu.
Pada awalnya terasa berat untuk Kagome kembali bekerja setelah apa yang ia alami atas pernikahan kakaknya. Namun, itu semua hanyalah awal siksaan batin yang ia alami, setelah Kikyō hamil ia memutuskan mengundurkan diri sehingga posisi sekretaris kosong dan Kagome menggantikan kedudukan kakaknya sebagai sekretaris Inuyasha. Semua rasa sesak di dadanya rasanya mendesak ingin keluar, berteriak mengatakan apa yang ia rasakan pada dunia bahwa ia tidak ingin lagi menanggung rasa sakit. Pada akhirnya, ia mengetahui bahwa bekerja sebagai sekretaris kakak iparnya hanyalah siksaan batin yang belum ada apa-apanya dibandingkan dengan siksaan batin yang ia rasakan sekarang.
Penyesalan selalu datang di akhir, rasa itu pun akhirnya menghampiri Kagome, penyesalan yang berujung pada keputusasaan setelah Sesshōmaru pergi entah kemana, kini hanya dengan menyebut nama laki-laki itu, buliran air matanya akan menganak sungai. Kagome menyesal bahwa ia terlambat menyadari bahwa hatinya telah terikat dengan Sesshōmaru sejak lama. Jika ia sudah mengetahuinya sejak awal, ia pasti tidak akan seperti ini. Seandainya ... cintanya pada Sesshōmaru datang lebih awal. Seandainya ... ia menyadari cinta itu sebelum sosok yang membuatnya candu itu pergi meninggalkannya. Kini, ia tidak tahu bagaimana kabar Sesshōmaru, apakah ia baik-baik saja atau tidak, setiap hari ia selalu mengirimkan pos elektronik padanya, namun tidak ada balas begitu pula dengan pesan yang selalu ia kirim.
Gawai milik Sesshōmaru aktif, tapi setiap kali Kagome melakukan panggilan, tak ada tanggapan dari sahabat karibnya itu seolah laki-laki itu tidak peduli lagi dengannya, tidak peduli dengan apa yang akan terjadi pada Kagome. Mungkin Sesshōmaru sedang sibuk, pikirnya untuk menghibur diri. Namun, logikanya berkata lain, mungkin Sesshōmaru telah menemukan sosok yang pendamping hidupnya dan telah bahagia. Semua rasa bercampur aduk dan mendesak ingin keluar, sehingga ketika ia ingat nama "Sesshōmaru" ia langsung menangis hingga orang-orang yang ada di sampingnya mungkin berpikir bahwa ia tidak waras.
Tidak jauh berbeda dengan hari sebelumnya, Kagome memilih untuk lembur malam ini hingga larut malam. Tepat tengah malam ia baru sampai kediaman kakaknya, dengan wajah yang lesu dan menahan tangis, ia masuk ke dalam kamarnya. Semua barang yang membebani dirinya ia letakkan di kamarnya, bergegas ke dapur mengambil sekaleng bir. Minum sekaleng bir rasanya sudah menjadi kebiasaan Kagome yang tidak bisa dilepaskan begitu saja semenjak kepergian Sesshōmaru, melalui minuman beralkohol itu, ia bisa melupakan sejenak tentang kerinduannya pada laki-laki itu. Empat tahun bukanlah waktu yang singkat dan mudah untuk Kagome menghadapi tekanan batin, mau tidak mau ia harus bekerja menggantikan kakaknya ketika hati kecilnya meraung hanya dengan berhadapan dengan Inuyasha. Namun, di sisi lain ketika rasa sayangnya pada Sesshōmaru yang mulai tumbuh, ketika ia mulai menganggap perlakuan Sesshōmaru padanya sebagai perlakuan seorang laki-laki bukan sebagai seorang sahabat, itu terasa lebih berat.
Di ruang keluarga, Kagome melihat kakaknya dan kakak iparnya masih duduk dan berdiskusi santai, kemenakan perempuannya yang berumur tiga tahun itu tidur di pangkuan kakakknya. Kagome berdiri mematung, mengamati gerak-gerik kakaknya yang berbincang ria, memindahkan kemenakan kesayangannya —Rin— dari pangkuan Kikyō ke kamar tidurnya.
"Kenapa kau hanya berdiri di situ?" tanya Inuyasha yang baru kembali dari kamar Rin ketika melihat Kagome yang bersandar pada tembok.
Kagome tersenyum dan mengangkat sekaleng birnya, "Mengamati kalian."
"Kemarilah," ajak Kikyō, Kagome menurut apa yang dikatakan oleh kakaknya. Sejujurnya saat ini ia butuh teman untuk bercerita tentang apa yang dirasakannya, jika biasanya ia bercerita pada Sesshōmaru, kini ia tidak punya teman kecuali kakaknya. Dengan lesu, Kagome berjalan mendekat dan duduk di antara Kikyō dan Inuyasha, "kuambilkan makan malam," lanjut Kikyō.
Kagome menggeleng, "Tidak usah. Aku sudah makan tadi di kantor."
"Kau tidak bohong, 'kan?" tanya Kikyō khawatir dengan adiknya yang sering mengabaikan kesehatannya untuk empat tahun belakangan ini.
"Untuk apa aku berbohong?" tanya Kagome balik dengan tersenyum. Sebuah senyum palsu yang ia umbar akhirnya berhasil membuat mereka percaya dengan apa yang dikatakan olehnya.
"Setidaknya kalau kau merindukan Sesshōmaru, kau harus tetap makan. Jika kalian bertemu nanti, dia bisa menuduhku yang tidak-tidak, berpikir bahwa aku yang tidak merawatmu dengan baik," celetuk Inuyasha yang berhasil membuat Kagome terdiam seketika.
Kagome hanya memainkan kaleng birnya di tangannya untuk beberapa waktu lamanya. Suasana menjadi hening, Inuyasha baru menyadari atas apa yang dikatakannya setelah melihat apa Kagome yang terdiam. Kebiasaan Kagome yang baru ketika seseorang membahas Seshōmaru, ia akan terdiam menahan buliran air matanya untuk tidak menganak sungai. Menyadari apa yang terjadi, Inuyasha berdebat dengan Kikyō, tak ada suara yang terdengar. Namun, mereka berdebat dengan menggerakkan bibir dalam diam.
"Kagome, aku tid ..." Belum sempat Inuyasha melanjutkan apa yang ingin ia katakan, Kikyō memotong pembicarannya dengan bertanya mengenai pekerjaan Kagome.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Kikyō kikuk.
Kagome menenggak birnya dan mengalihkan pandangannya pada Kikyō, "Sepertinya aku akan mengalami penuaan dini," jawab Kagome dengan tertawa, menyadari gurauannya tidak lucu Kagome menundukkan kepalanya, "rasanya sulit untuk diriku yang selalu mencoba menyibukkan diri demi melupakannya. Semakin aku mencoba melupakannya, semakin aku menyadari bagaimana perasaanku dan penyesalanku bersamaan. Tapi, jika aku tidak menyibukkan diriku dengan bekerja, aku rasa aku akan gila," lanjutnya dengan tersenyum.
"Maafkan aku, Kagome. Karena aku hamil anak kedua, kau harus menggantikan aku," uca Kikyō kesal pada dirinya sendiri.
Kagome menggenggam tangan kakaknya erat dan menggelengkan kepala, "Minta maaf untuk apa? Karena kalian, aku memiliki kemenakan yang cantik. Karena Rin, setidaknya aku bisa melupakannya sejenak. Aku lelah jika harus terus menerus memikirkannya sepanjang waktu, setidaknya aku bisa beristirahat sejenak."
Kagome kembali menghabiskan birnya dalam sekali tenggak, meletakkan kaleng bir itu di meja yang berada di hadapannya, dan ia menundukkan kepalanya dalam diam. Pikirannya kembali bergelung, akhir-akhir ini ia merasa bir tak bisa mengatasi apa yang selalu ia resahkan, setelah menenggak bergelas-gelas bir itu, ia selalu merasa Sesshōmaru berada di dekatnya dan ia tidak bisa melupakannya. Rasa rindunya sudah berada di ujung tanduk yang tidak bisa ia pendam seorang diri, rasa rindu itu mendesaknya untuk mengeluarkan segala rasanya.
"Kagome ..." panggil Kikyō setelah Kagome menundukkan kepalanya beberapa saat.
"Kagome ... kau tidak apa-apa?" tanya Inuyasha khawatir melihat adik iparnya yang tiba-tiba terdiam setelah menundukkan kepalanya.
"Onee-san ..." panggil Kagome mengangkat wajahnya, menahan buliran air matanya untuk tidak keluar.
"Ya?"
"Aku merindukannya," ucap Kagome lirih.
Inuyasha dan Kikyō terdiam setelah apa yang dikatakan oleh Kagome itu keluar, mereka tak bisa melakukan apa-apa untuk Kagome, perasaan bersalah mulai merayap di diri mereka. Air mata Kagome mulai membasahi pipinya, menganak sungai dalam sekejap mata.
"Kagome ..." panggil Kikyō lirih, melihat adik kesayangannya menderita dalam tangisnya, ia pun membawanya ke dalam pelukannya.
"Aku merindukannya, aku ingin menyentuhnya. Aku ingin sekali bisa bersamanya," ucap Kagome sambil terisak dalam pelukan Kikyō.
Kikyō mencoba menenangkan adiknya dengan mengelus-elus punggung Kagome pelan, berharap ia bisa memberikan ketenangan dan kenyamanan seperti yang Sesshōmaru berikan pada Kagome, ia mengalihkan pandangan bingung pada suaminya, tak tahu harus berbuat bagaimana lagi mengenai hal ini. Jika sudah menyangkut Sesshōmaru, keduanya sudah tidak dapat berbuat apapun lagi kecuali memberikan pelukan yang nyaman seperti yang selalu Sesshōmaru lakukan pada Kagome.
"Apakah harus kalian besok pergi ke Amerika? Tidak bisakah kalian di sini saja denganku? Apakah kalian akan pergi menghilang sepertinya? Seperti Sesshōmaru yang menghilang ... kumohon, jangan lakukan itu. Aku, aku membutuhkan kalian. Cukup Sesshōmaru saja yang melakukan ini padaku," batin Kagome terisak di pelukan Kikyō.
Pada akhirnya keresahan yang dialami oleh Kagome semalam terjadi, keluarga kecil kakaknya harus berangkat ke Amerika dalam rangka liburan. Kagome tak tega untuk mencegah kakaknya yang tengah hamil muda untuk anak keduanya pergi ke Amerika, ia takut sendiri. Rasa takut akan kesepian mulai merayap pada dirinya, layaknya seorang ibu yang tidak rela anaknya pergi untuk menimba ilmu ke negeri orang, perasaan yang sama. Jauh hari sebelum keberangkatan, Inuyasha dan Kikyō membujuknya dengan susah payah untuk ikut mereka ke Amerika, namun wanita berambut panjang dan bergelombang cokelat legam itu terus menolaknya dengan dalih pekerjaan, ada banyak hal yang harus segera diselesaikan. Sebagai seorang pimpinan utama, Inuyasha kembali membujuknya, tak apa sekali ini Kagome tidak melakukannya tepat waktu, toh pada akhirnya Kagome bertanggung jawab atas pekerjaannya pada Inuyasha, dan mengajak Kagome untuk liburan, ia juga butuh suasana liburan. Namun, Kagome kembali menolaknya.
Alasan yang sebenarnya kenapa Kagome menolaknya adalah Sesshōmaru. Ia berasumsi bahwa Sesshōmaru akan pulang ketika ia pergi, ia tidak boleh pergi, ia harus menunggunya. Karena bisa jadi ketika Sesshōmaru pulang nanti adalah pertemuan terakhirnya dengan Sesshōmaru dan Sesshōmaru akan benar-benar pergi jauh dari sisinya, Kagome harus menyiapkan mentalnya. Terasa berat bagi Kikyō meninggalkan adiknya yang saat ini membutuhkannya, tapi ajakannya juga ditolak mentah-mentah, ia juga tidak bisa membatalkan perjalanan ke Amerika seenaknya, karena di sisi lain rencana liburannya kali ini juga untuk bertemu dengan mertuanya. Lagi-lagi, keadaan serba salah menimpanya. Kikyō hanya bisa memberikan nasihat pada adiknya untuk menjaga dirinya selama seminggu kepergiannya, ia juga melarang kebiasaan Kagome meminum bir, serta nasihat akan kekhawatiran lainnya. Namun, nasihat saja rasanya tidak cukup melepas Kagome yang terpuruk.
Setelah mengantarkan keluarga kecil kakaknya untuk terbang ke Amerika, Kagome memutuskan untuk mampir di sebuah toko elektronik yang berjarak kurang lebih lima kilometer dari bandara untuk membeli sebuah kamera. Kagome membuka pintu kaca toko elektronik tersebut dengan hati-hati, pegawai menyambutnya dengan senyuman ramah, bertanya apa yang bisa mereka bantu. Kagome mengatakan bahwa ia ingin membeli sebuah kamera yang memiliki kemampuan memotret yang bagus. Sejujurnya, Kagome sendiri tidak tahu kenapa ia tiba-tiba ingin membeli kamera, seolah ia tahu akan ada hal yang baik yang akan terjadi, suatu momen yang perlu diabadikan menggunakan sebuah kamera, sebuah kenangan yang tidak ingin dilupakannya, dan memerlukan sebuah dokumentasi. Ketika pegawai mengambilkan beberapa jenis kamera yang sekiranya menarik hati Kagome, Kagome mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan dan pandangannya terhenti pada sebuah layar televisi LED yang menampilkan sosok yang ia rindukan selama empat tahun belakangan ini. Sosok itu —Sesshōmaru— tengah berada di sebuah acara talkshow, penampilannya sungguh berbeda dengan empat tahun sebelumnya. Sesshōmaru kini memangkas rambutnya sebahu, membuatnya mengeriting seolah alami, bahkan gaya rambut seperti itu tengah digemari oleh beberapa kalangan selebriti, seperti Harry Styles.
Perhatian Kagome terpecah saat pegawai itu memperlihatkan beberapa kamera di hadapannya. Tidak ingin perhatiannya pada Sesshōmaru terganggu, ia langsung meminta pegawai itu untuk membungkus kamera yang paling bagus di antara beberapa kamera yang dipamerkan di depannya, segera membayarnya, dan memasukkan kamera tersebut ke dalam tas jinjing yang dibawanya. Transaksi yang cukup memakan waktu itu pun akhirnya selesai, Kagome berjalan mendekat ke arah deretan yang memajang sosok yang begitu dinantikannya pada televisi jenis LED dengan berbagai resolusi itu.
"Selamat siang, Tuan Sesshōmaru," sapa seorang pembawa acara perempuan berambut pendek itu ramah.
"Siang," jawab Sesshōmaru ramah, "jangan terlalu formal. Panggil saja Sesshōmaru, tak apa."
"Baiklah," jawab pembawa acara dengan senyuman yang manis, "belakangan ini, Anda menjadi topik hangat perbincangan hampir di seluruh penjuru dunia, berkat akting Anda yang luar biasa pada sebuah film bergenre science-fiction, yang juga kental thriller-misteri."
"Oh benarkah?" Sesshōmaru terkejut mendengar apa yang dikatakan oleh sang pembawa acara tersebut, ia berdiam untuk beberapa saat, "aku tak menyangka untuk proyek film kali ini akan sesukses ini. Aku hanya bekerja keras dan melakukan semaksimal mungkin agar tidak mengecewakan orang lain, hanya itu saja."
"Sejak debut empat tahun silam, Anda telah menyedot perhatian internasional. Bagaimana perasaan Anda?"
"Tentu saja senang," sahut Sesshōmaru cepat, secepat kilat yang menyambar kala hujan dan sebuah senyuman lebar terseungging di bibirnya, "semua kerja kerasku berbuah manis dan tentu saja mimpiku terwujud," lanjutnya dengan tertawa.
Kagome menitikkan air matanya hanya dengan melihat Sesshōmaru di televisi. Ia tidak menyangka bahwa kini antara ia dan Sesshōmaru tercipta sebuah jarak yang mungkin akan membuatnya susah untuk seperti dulu, ia tidak menyangka bahwa gurauan Sesshōmaru kala itu kini benar-benar terwujud, dan sebuah rasa penyesalan terbersit di hatinya, kemana saja ia selama ini hingga ia tidak tahu bahwa Sesshōmaru telah menjadi seorang selebriti? Bukankah ia terlalu jahat?
"Jadi, semua ini adalah mimpi Anda sejak kecil?" tanya pembaca acara itu penasaran untuk menguak fakta mengenai Sesshōmaru lebih dalam.
"Ya," jawab Sesshōmaru mantap, "aku berterima kasih pada sahabatku di sana yang terus mendukungku, selain kedua orang tuaku." Sesshōmaru tersenyum.
Mendengar apa yang baru saja terlontar dari bibir Sesshōmaru, bulir bening di pelupuk matanya kembali terjatuh membasahi pipi mulus Kagome, dan dengan asal ia menghapusnya begitu saja.
"Apakah Anda masih berhubungan baik dengannya?"
Sesshōmaru hanya menjawabnya dengan sebuah anggukan dan tersenyum.
"Bohong!" gumam Kagome, "kau bahkan tidak memberiku kabar sedikit pun tentangmu."
Sang pembawa acara itu mengangguk mengerti, "Terkait rumor di salah satu wawancara majalah ternama, Anda menyebutkan bahwa Anda telah berpacaran sejak lama. Apakah itu benar?" tanyanya dengan berhati-hati, takut menyinggung sang bintang tamu karena pertanyaannya yang bersifat privasi.
"Ya," jawab Sesshōmaru mantap, tak ada kegusaran dari caranya menjawab.
Jawaban mantap yang terlontar dari bibir Sesshōmaru terasa seperti sambaran petir yang mengenai Kagome langsung. Air matanya telah membasahi pipinya kembali, ia tidak tahu persis kapan air mata itu sudah menganak sungai. Kesadarannya dipertanyakan, apakah ia kuat menghadapi kenyataan itu seorang diri? Bagaimana jika suatu hari nanti ia bertemu dengan Sesshōmaru dan ia mengenalkan sosok wanita yang telah mencuri hatinya itu di hadapannya? Apakah ia sanggup? Banyak pertanyaan yang kembali bergelung di kepalanya yang ia sendiri tidak sanggup menjawabnya. Tak tahan untuk mendengar lebih jauh apa yang akan dikatakan oleh Sesshōmaru, Kagome memilih keluar dari toko elektronik tersebut perlahan, ia tidak sanggup mengalami kesakitan yang lebih parah dari apa yang ia alami dulu untuk kedua kalinya. Cukup sampai di sini, Kagome tidak ingin lagi mendengarnya. Telinganya terasa panas dan dadanya rasanya terbakar.
"Kami sudah menjalin hubungan selama empat tahun, jauh sebelum aku debut menjadi seorang aktor. Kami menjalani hubungan jarak jauh untuk saat ini, dia berada di London, sedangkan aku berada di Amerika. Saat aku pulang pun, kami tidak bisa bertemu karena kesibukan masing-masing," lanjut Sesshōmaru.
Langkah demi langkah yang diambil oleh Kagome terasa berat, dengan samar-samar ia masih bisa mendengar percakapan Sesshōmaru dengan pembawa acara perempuan di acara talkshow tersebut.
"Wah sudah lama ternyata. Apakah Anda memiliki target untuk menikah di tahun depan?"
"Tahun ini kami akan melangsungkan pertunangan, mungkin di awal tahun depan, kami bisa melangsungkan pernikahan," jawab Sesshōmaru dengan senyuman.
Akhirnya Kagome berada di luar toko tersebut, terasa berat baginya hanya untuk sekadar mengambil langkah, ia telah kehilangan sebagian dari dirinya. Kagome tak mempedulikan dirinya lagi, ia tak memperhatikan jalanan, bahkan berulang kali ia hampir menabrak orang hanya untuk berjalan menuju parkiran yang hanya berjarak beberapa meter saja. Ia tidak bisa menggambarkan perasaannya kini, orang yang selama ini ia rindukan dan ia nantikan telah menjadi milik orang lain, tanpa memberinya kabar terlebih dahulu melalui pesan ataupun pos elektronik, bahkan pesan singkat yang selalu dikirimnya pun tak berbalas, hubungan Kagome dengan kedua orang tua Sesshōmaru pun tidak ada beda, tidak seperti dulu yang menganggapnya seperti anaknya sendiri, setiap kali Kagome pergi ke sana, ia selalu ditolaknya dengan alasan tengah sibuk atau alasan ke luar kota. Setidaknya, jika Sesshōmaru memberitahunya soal ini lebih awal, ia bisa mempersiapkan mentalnya jika berhadapan langsung dengan Sesshōmaru, tapi laki-laki yang telah membuatnya menangis berminggu-minggu bahkan lebih itu, nyatanya lebih memilih untuk memberinya kejutan.
Sesshōmaru. Hanya dengan melontarkan namanya, Kagome tak tahu lagi harus berbuat apa jika ia berhadapan dengan Sesshōmaru. Dadanya terasa sesak, berulang kali ia memukul-mukul lemah pada dadanya, sebuah rasa sakit yang tak berdarah itu ia tidak bisa lagi untuk menggambarkannya. Ia terduduk di depan mobilnya yang terpakir, tangan kanannya masih memukuli dadanya, banyak orang yang lewat hanya memperhatikannya singkat dan berbisik-bisik tentang apa yang sebenarnya terjadi pada Kagome, apakah mungkin memang Kagome gila, atau dia mencari perhatian, dan lain-lain. Kagome tidak peduli lagi dengan bisikan-bisikan orang yang melihatnya, bahkan udara musim dingin yang menusuk tulang pun tak ia hiraukan. Bolehkah ia membenci Sesshōmaru di saat yang bersamaan dengan hatinya yang masih mencintainya?
—TO BE CONTINUED—
Notes! Awalnya fic ini aku rencanakan menjadi OS, tapi karena sesuatu terpaksa dijadikan dua chapter. Dan ketika kemaren menulisnya, saya syok karena terlalu panjang, jadi saya jadikan tiga chapter. Berharap semoga bisa mempublikasikan chapter selanjutnya dalam waktu dekat. Selain itu, saya ingin memberi kabar gembira untuk Sesshōmaru-Kagome shipper yang memiliki akun wattpad, bahwa saya dan Taishō no Miko memutuskan untuk membuka akun kolaborasi selain di FFN, bagi yang berminat bisa mengikuti akun kami AmeGriselda ^^
Saya mau minta maaf karena tulisan ini nyaris satu tahun baru saya perbarui, karena kesibukan saya. Terima kasih untuk yang sudah menyempatkan diri membaca, menunggu kapan tulisan ini akan diperbarui, mem-follow, dan memfavoritkan tulisan saya ini.
Salam hangat,
Emma Griselda
Surakarta, 3 Maret 2018
