Disclaimer: Kuroko no Basuke is belong to Tadatoshi Fujimaki, of course
Main Cast: Kuroko Tetsuya, Akashi Seijuro, Kise Ryouta, Aomine Daiki, Murasakibara Atsushi, Midorima Shintarou
Warning: Au, ooc, konsep yang (mungkin) sudah umum
Akira Scarlet present: How to Survive
Chapter 2: Escape
Dengan tergesa-gesa, keenam lelaki itu mengambil senjata mereka. Saat mereka pergi menemui Kasamatsu yang berada di halaman tempat wamil itu dilaksanakan, mereka dapat melihat banyaknya Niger yang berusaha menembus barrier mereka.
Tempat wamil ini berada di Tokyo, dan jika Niger sudah menyerang hingga sampai ke tempat ini, artinya Tokyo sudah diserang. Untunglah tempat wamil ini memiliki barrier lagi, yang sudah hampir rusak. Barriernya sendiri merupakan sebuah lapisan transparan seperti kaca, yang mengandung suatu zat yang tidak disukai Niger.
"Kasamatsu-senpai, ada yang bisa kami bantu?" Tanya Kuroko.
"Kalian bantulah murid yang lain, sepertinya barrier disisi kanan sudah rusak," Kata Kasamatsu. Aomine, Kise, dan Akashi segera pergi, sementara sisanya membantu Kasamatsu kalau-kalau barrier dihadapan mereka ini rusak.
.
.
Kise menggenggam long sword nya erat-erat. Ia mendengar teriakan seseorang dari gedung utara. Karena ia berada dekat dengan gedung itu, ia segera masuk kedalam.
Benar apa yang dikatakan Kasamatsu. Barrier sisi kanan sudah rusak. Kini para Niger sudah berkeliaran disekitar gedung utara dan barat. Saat ia hendak naik keatas, 3 Niger menghadangnya di tangga.
"3 lawan 1? Sunguh tidak adil," Ujarnya sambil mengayunkan long sword, meskipun ia tahu kalau lawannya tidak akan membalas ucapannya.
Dalam waktu singkat, ia berhasil mengalahkan Niger itu. Ketika didengarnya teriakan yang sama, Kise segera berlari menuju lantai 2.
Ia melangkah masuk kedalam perpustakaan. Disana ia melihat seorang lelaki dengan rambut coklat, yang dikenalinya sebagai Ryo Sakurai dan seekor Niger didepannya. Dengan cekatan, Kise menusuk Niger itu dari belakang.
"Kau tidak apa-apa?" Tanya Kise. Lelaki itu mengangguk. Meskipun demikian Kise bisa melihat luka di tangan Sakurai.
"Kemana yang lain ssu?" Tanya Kise.
"Mereka..Beberapa dari mereka kabur, dan beberapa dari mereka sudah meninggal," Jawab Sakurai. Kise mengedarkan pandangannya, banyak darah dilantai perpustakaan, dan juga darah biru yang merupakan darah Niger. Sudah pasti ada pertarungan yang sengit terjadi di perpustakaan ini. Niger memang makhluk mengerikan, mereka mengeluarkan cairan yang sangat beracun.
"Sebaiknya kita segera menuju bagian pengobatan. Kudengar para tim medis berada di ruang bawah tanah agar aman. Kau bisa berjalan kan?"
.
.
Sial
Setelah berpencar tadi, Aomine sudah menemui lebih dari 10 Niger. Semua berhasil ia lumpuhkan. Sekarang aku harus kemana? Pikirnya. Pertanyaannya terjawab setelah ia melihat senior nya, Shoichi Imayoshi, terluka. Seniornya itu terduduk disebuah pohon.
Aomine segera menghampiri Imayoshi. "Apa yang terjadi?" Tanya Aomine. "Niger menyerang, dan aku terluka karena serangan, seperti yang kaulihat."
Meskipun hampir tidak pernah mendengarkan saat pelajaran teori Niger, Aomine ingat bahwa luka karena serangan Niger berbahaya karena Niger mempunyai cairan beracun. Luka itu bisa diobati dengan suatu ramuan yang disebut Medica.
"Ayo pergi ke ruang bawah tanah. Ada yang bisa mengobati lukamu disana," Ujar Aomine. Tapi Imayoshi menggeleng. "Aku bisa kesana sendiri. Lagipula ada hal yang harus kau urus terlebih dahulu."
"Hah, apa?"
.
.
"Ada 2 Niger menghalangi pintu depan, itu artinya aku harus masuk lewat pintu belakang," Ujar Akashi berlari dari semak-semak menuju pintu belakang gedung selatan. Firasatnya mengatakan kalau ada sesuatu di gedung selatan, dan selama ini firasatnya tidak pernah salah.
Akashi mendobrak pintu belakang yang terkunci itu. Gedung itu kelihatan sepi. Akashi segera menuju ruang bawah tanah. Menurut firasatnya, ia harus menuju ke ruang bawah tanah.
"Apa ini?" Tanyanya saat melihat banyak murid yang tergeletak di lantai. Akashi memperhatikan salah satu murid yang tergeletak itu. Ada luka di pundaknya. Saat Akashi memeriksa, murid itu sudah meninggal, begitu juga dengan murid yang lainnya.
Terlambat diobati sepertinya. Tapi dimana Niger yang menyerang mereka? Pikir Akashi. Ia kembali berjalan.
Saat hampir sampai, ia melihat banyak Niger berdiri dihadapannya. "Saatnya beraksi!" Ujarnya sambil meraih sebuah pistol semi otomatis dari sakunya.
Para Niger itu tidak tinggal diam, tentu saja. Mereka mulai menyerang Akashi. Dengan cepat Akashi menghindar, namun salah satu Niger menyerang Akashi dari belakang, membuatnya mendapat luka di punggung.
"5 menit, aku harus meminum ramuan sebelum 5 menit. Kalau tidak aku bisa mati."
Akashi menembak Niger yang melukainya tadi, lalu ia bersandar pada dinding. Ia menembak 4 Niger didepannya. Tidak tepat di organ vitalnya, namun dapat membuat perhatian Niger itu teralih sebentar.
Akashi mengambil kesempatan itu untuk mengambil sebuah botol dari sakunya. Ia segera meminum ramuan di dalam botol itu. "Aku selamat," Gumamnya. Ia memang selalu membawa sebotol ramuan untuk berjaga-jaga.
Setelah meminum ramuan tadi, Akashi melihat kalau lawannya sudah akan mulai menyerang. Ia menembak lagi, membuat 3 Niger mati. Hanya tinggal satu lagi.
"Tidak mungkin," Ujar Akashi saat mengetahui bahwa pelurunya habis. Ia terpojok, sementara Niger terakhir berdiri dihadapannya. Pukulan atau tendangan tidak mempan pada makhluk ini, jika pukulannya kencang, hanya akan mengakibatkan pergerakan mereka berhenti sebentar. Mereka hanya bisa mati apabila ditembak atau ditusuk.
Akashi sudah berusaha semampu yang dia bisa untuk melawan mahkluk itu. Luka dipunggungnya membuat ia tidak dapat bergerak dengan bebas. Sudah tidak beracun memang, namun tetap terasa perih.
Mungkin seharusnya aku tidak kesini, Pikirnya. Ia terpojok. Meskipun bisa menghentikan pergerakan Niger itu, Akashi tidak dapat lari karena makhluk itu menghalangi jalannya.
Dor
Akashi melihat Niger itu roboh. Saat Akashi menoleh, ia melihat Kuroko memegang sebuah revolver silver.
"Kau tidak apa-apa, Akashi-kun?" Tanyanya.
"Tetsuya..Sedang apa kau disini? Bukannya seharusnya kau bersama Kasamatsu-senpai?"
"Barrier nya hancur, dan Kasamatsu-senpai terluka. Kami membawanya ke ruang bawah tanah gedung timur. Ada tim paramedis disana."
"Lalu apa yang kau lakukan disini? Ini kan gedung selatan."
"Para senior memberitahuku dan yang lain untuk pergi ke ruang bawah tanah gedung selatan melalui lorong bawah tanah."
"Lalu?"
"Aku tertinggal, dan mereka mengunci pintu lorongnya. Karena itu aku lewat sini," Jawab Kuroko datar. Akashi menatapnya, Tertinggal? Pikir Akashi. "Baiklah, ayo pergi."
"Akashi-kun, kau terluka," Ujar Kuroko saat mereka sedang berjalan.
"Oh ini? Tidak apa-apa kok," Kata Akashi.
"Midorima-kun bisa mengobatimu, ia lumayan bisa mengobati."
"Terima kasih."
Akashi dan Kuroko akhirnya sampai keruang bawah tanah gedung selatan. Disana ia melihat Midorima, Aomine, Kise, dan Murasakibara.
"Kurokocchi, Akashicchi, darimana saja kalian?" Tanya Kise.
"Ada sedikit masalah," Jawab Akashi. "Lagipula, kenapa kita disini?"
"Karena ada yang harus kubicarakan," Jawab sebuah suara. Mereka menoleh. Ternyata kepala wamil mereka, Katsunori Harasawa.
"Dan apa itu?" Tanya Murasakibara.
"Wamil ini dan Tokyo tidak akan bertahan. Tadi ada informasi kalau Niger yang menyerang berjumlah lebih dari 1000. Kita tidak akan menang. Jadi saya ingin kalian lari dari sini."
"Lari? Kenapa kita tidak melawan saja?" Tanya Aomine.
"Kita kalah jumlah."
"Lalu kenapa hanya kita yang melarikan diri?" Tanya Midorima.
"Karena yang lain akan berusaha menahan para Niger tersebut. Semua orang percaya kalau kalian dapat memecahkan rahasia mengenai Niger ini. Tidak ada gunanya kalau kalian meninggal disini."
"Kalau begitu mungkin kita harus mengikuti kata Katsunori-sensei ," Ujar Kuroko, membuat yang lain menoleh kepadanya.
"Anggap saja kita sudah diberi tugas penting," Lanjutnya.
"Ya, kalian memang diberi tugas penting. Kita tidak akan bertahan melawan makhluk aneh itu terus menerus."
"Baiklah, baiklah kita kabur ssu."
"Bukan kabur, tapi melarikan diri. Ada lorong rahasia yang berhubungan langsung dengan terowongan bawah tanah kota ini. Kalian hanya harus berlari sejauh mungkin, sisanya bergantung pada kalian. Dan ini," Katsunori menyerahkan sebuah file.
"Ini merupakan data mengenai Niger sejauh yang diketahui. Data ini hasil penelitian para peneliti terkemuka. Siapa tahu bisa membantu. Sekarang cepat pergi."
Meskipun mereka harus cepat, namun mereka meluangkan beberapa menit untuk bersiap-siap. Midorima mengobati Akashi, sementara yang lain mengambil ransel –yang berada diruangan itu- dan mengisinya dengan barang seperti obat, peta, dan senjata.
"Baiklah, saatnya berangkat."
Mereka berenam sudah membuka pintu lorong ketika pintu ruang bawah tanah itu digedor.
"Sensei! Para Niger sudah hampir masuk kesini!" Seru seseorang dibalik pintu tersebut.
"Ayo cepat, kalian pergi!" Katsunori mengibaskan tangannya, menyuruh mereka pergi.
Keenam lelaki itu menurut, mereka menutup pintu lorong dan berlari.
"Menurutmu para Niger itu akan mengejar kita?" Tanya Murasakibara sambil berlari.
"Kupikir sensei dan yang lainnya akan berusaha menghalangi Niger itu. Lain soal kalau mereka sudah kalah. Bisa saja Niger itu mendobrak pintu lorong dan mengejar kita," Jawab Akashi.
Terowongan bawah tanah itu hanya diterangi oleh sebuah lampu yang hampir padam. Jalannya pun bercabang, sehingga mereka harus menggunakan senter untuk menerangi jalan.
"Yah, jalannya bercabang. Mana yang kita pilih ssu?" Tanya Kise saat mereka menemui jalan bercabang yang kesekian kalinya.
"Ada tulisan di tanda panah ini, tapi sudah hampir terhapus," Ujar Midorima. "Kyo… Mungkin Kyoto."
"Kyoto? Baiklah kita ambil jalan itu saja."
Mereka kembali berjalan.
.
.
"Jauh sekali jalannya," Keluh Aomine. "Mungkin sudah berjam-jam kita berjalan."
"Kita istirahat sebentar, Akashi-kun," Ujar Kuroko. Akashi mengangguk, "Baiklah, tapi jangan terlalu lama."
Mereka duduk dipinggir terowongan bawah tanah itu, beristirahat. Sementara Kuroko tampak mengambil file dari dalam tasnya.
"File dari sensei?" Tanya Midorima. Kuroko mengangguk. "Ada baiknya kita mulai melihat apa isinya."
Kuroko membuka halaman pertama,
Bab pertama, Kedatangan Niger
Tahun 2222, New York. Keadaan damai, dan rutinitas berjalan seperti biasanya. Tiba-tiba dari arah barat muncul sekumpulan makhluk berwarna hitam keabuan. Mahkluk itu mengeluarkan cairan beracun, yang dapat mengakibatkan kematian apabila tidak dinetralisir selama 5 menit setelah terkena cairan tersebut. Belakangan ditemukan obat untuk menetralisir racun makhluk itu, dan diberi nama Medica. Sementara makhluk itu sendiri diberi nama Niger yang berarti hitam.
Kuroko membolak-balik file tersebut. "Midorima-kun, ada yang aneh mengenai makhluk ini," Ujarnya. Midorima menatap Kuroko. "Apanya?"
"Ini," Kuroko menunjuk salah satu bab dalam file tersebut. Bab kedelapan, dugaan-dugaan. "Disini dikatakan kalau dari tahun 2210 hingga tahun 2221 diadakan penelitian mengenai sesuatu yang sangat rahasia. Tahun 2215 dikatakan kalau selain meneliti, mereka juga menemukan sesuatu. Dan pertengahan tahun 2221 dikatakan bahwa penelitian mereka gagal total. Semua peneliti yang terlibat dalam proyek itu menghilang, beserta penemuan mereka. Tahun 2222 sekumpulan makhluk aneh menyerang kota. Tidakkah menurutmu itu aneh?"
"Jangan-jangan maksudmu.."
"Ya, Midorima-kun. Mungkin Niger ini merupakan hasil penemuan peneliti yang menghilang itu," Ujar Kuroko. "Tapi tetap saja itu hanya dugaan," Lanjutnya.
"Menurutku itu mungkin saja," Kata Midorima.
"Kalian dengar sesuatu?" Tanya Akashi tiba-tiba. Yang lain menajamkan pendengaran mereka. Dan mereka mendengar, suara lengkingan aneh.
"Itu suara Niger!" Seru Aomine. "Apa mereka sudah mengejar kita?"
Akashi menatap jalan yang tadi mereka lalui. Ekspresi wajahnya berubah, "Para Niger itu sudah mengejar kita, ayo cepat kita lari!"
Keenam lelaki itu segera berdiri dan berlari. Mereka berlari hingga menemukan jalan bercabang.
"Sekarang bagaimana?" Tanya Murasakibara ketika para Niger mulai mendekati mereka.
"Kita lurus saja," Akashi berlari tanpa melihat lagi kemana mereka tujuan mereka. Yang penting, mereka harus selamat dari para makhluk itu.
"Mungkin sebaiknya kita melawan mereka," Usul Kuroko.
"Yang benar saja Kurokocchi. Kita tidak akan menang," Tolak Kise.
"Mungkin kita tidak dapat mematikan makhluk itu, tapi kita dapat memperlambatnya," Ujar Akashi sambil mengambil pistol semi otomatis miliknya, lalu menembakkannya.
"Ide bagus," Midorima mengambil pistolnya, diikuti yang lain. Mereka berenam mulai menembaki para Niger itu. Tidak sampai mati memang, tapi dapat memperlambat laju para Niger. Aksi kejar-kejaran terus berlangsung.
"Aku dapat melihat pintu terowongan ini ssu," Ujar Kise. Mereka akhirnya sampai didepan pintu tersebut.
"Keras sekali, tidak dapat digerakkan," Midorima dan Aomine berusaha menggeser pintu terowongan itu. Namun pintu itu sangat sulit digeser.
"Cepatlah Midorimacchi, Aominecchi! Para Niger sudah mulai menyerang!" Seru Kise. Para Niger memang sudah berada dihadapan mereka. Dan sebisa mungkin Akashi, Kuroko, Murasakibara dan Kise menahan mereka. Sementara Midorima dan Aomine berusaha membuka pintu geser tersebut.
"Murasakibara, bantu kami," Pinta Midorima. Murasakibara segera membantu Midorima dan Aomine. Dan untunglah, pintu itu berhasil digeser.
Mereka segera keluar dari terowongan itu dan menutup kembali pintu geser tersebut sebelum ada Niger yang sempat keluar.
"Akhirnya kita keluar juga. Tapi dimana kita?" Tanya Akashi. "Ini tidak tampak seperti Kyoto."
"Ayo kita cari tahu."
Mereka berenam berjalan menuju pusat kota kecil tersebut. Letak pintu terowongan bawah tanah tadi memang terletak dipinggir kota.
Karena sudah sangat lelah, mereka memutuskan untuk beristirahat sejenak. Mereka duduk dibawah pohon dipinggir kota. Pohon merupakan hal yang langka pada jaman ini.
"Ada seorang lelaki mendekat ssu. Apa kita mau bertanya kita ada dimana?" Tanya Kise sambil menunjuk seorang lelaki berambut merah.
Lelaki itu mendekati mereka berenam. "Kalian, bukan berasal dari sini ya?" Tanyanya.
"Kenapa kau bertanya begitu?" Balas Akashi.
"Yah, pakaian kalian berbeda. Pakaian itu seperti seragam wamil dikota-kota besar," Jawab lelaki itu.
"Ya memang benar. Kami bukan berasal dari sini. Jadi sebenarnya ini dimana?" Tanya Kuroko.
"Oh begitu. Ini adalah kota Kibune."
"Kibune?" Tanya Murasakibara.
"Itu adalah kota dekat Kyoto. Sepertinya kita salah memilih jalan tadi," Jawab Midorima.
Rupanya lelaki itu mendengar percakapan Murasakibara dan Midorima. Karena itu ia berkata, "Apakah kalian butuh tempat tinggal?"
"Tunggu dulu," Ujar Akashi. "Kenapa kau begitu baik pada kami?"
"Karena begitulah sikap kami. Ramah pada orang asing," Jawab lelaki itu. "Lagipula firasatku mengatakan kalau kalian orang baik."
"Begitu, jadi dimana kami bisa mendapatkan tempat tinggal?" Tanya Aomine.
"Kalian bisa tinggal dirumahku. Ngomong- ngomong, namaku Kagami Taiga."
Note: Pada abad ini, alat komunikasi menggunakan surat, kecuali untuk kota besar, mereka menggunakan suatu alat untuk mengirimkan pesan dengan sangat cepat (alat ini akan dibahas nanti). Sedangkan untuk penunjuk jalan, tidak ada gps, tetapi menggunakan peta.
Second chapter^^
Maaf kalau karakternya agak terlalu ooc.
Lalu nama ramuan Medica itu merupakan kependekan dari Medicamento. Medicamento sendiri merupakan bahasa latin yang berarti obat.
Thank you . .
