Halo semua, kembali lagi bersama saya XD. Terimakasih untuk Kurotori Rei, Go Minami Hikari Bi, Hikari Syarahmia,Akizuki Airy dan Rei Atsukoyang sudah memberikan review pada chapter sebelumnya. Review dari kalian sangat berarti sekali untuk saya. Dan saya sudah balas satu persatu ke PM kalian ya ^^. Baiklah sesuai permintaan, saya update kilat lanjutan dari fanfic saya. Selamat membaca ^^.

Forbiden

by Yumiharizuki

Vocaloid bukan punya saya, tapi punya Crypton Future Media, Yamaha, dll

Warning: masih abal, banyak typo, mungkin OOC, cerita kurang greget dan legit (?), dll

Part 2

Aroma wewangian lavender menyeruak ke indra penciuman Miku. Aroma itu seperti membangunkannya dari mimpi yang teramat panjang. Mata yang terpejam itu perlahan-lahan mulai terbuka, memperlihatkan bola mata turquoise nya yang indah. Gadis itu pun telah terbangun di tempat yang begitu asing untuknya. Ia tengah berada di dalam kamar rumah sakit. Entah siapa yang telah membawanya kesana dan ia tidak tahu sudah berapa lama tak sadarkan diri. Yang pasti ia sungguh sangat berterimakasih kepada orang yang dengan baik hati telah membawanya kesana.

Pintu pun tiba-tiba terbuka, menampakan seorang perawat berusia paruh baya yang masuk dengan membawa troli berisi nampan makanan. Begitu melihat Miku, ia pun langsung memberikan senyuman terbaiknya.

"Selamat pagi, waktunya sarapan," ucapnya sambil tetap tersenyum.

"Terimakasih banyak," kata Miku.

Perawat itu kemudian menghidangkan makanan yang dibawanya kepada Miku. Makanan rumah sakit bukanlah makanan yang disenangi oleh Miku. Tentu saja makanan tersebut penuh dengan sayuran hijau. Meskipun Miku tak menyukainya, namun ia terpaksa membuka mulutnya dan memasukan sesendok penuh makanan penuh sayuran itu. Sembari makan, Miku mengajukan beberapa pertanyaan kepada perawat itu.

"Maaf, boleh aku tahu siapa yang membawaku kesini?" tanya Miku penasaran. "Lalu berapa lama aku pingsan?"

"Nona sudah tiga hari tak sadarkan diri. Menurut orang yang membawa Nona, Nona tiba-tiba saja pingsan di supermarket," jawab perawat itu sambil mengupas kulit apel untuk cuci mulut Miku nanti.

"Seperti apa dia? Seperti apa orang yang membawaku itu?" Miku makin bertambah penasaran. Perawat itu pun tersenyum sebelum menjawab pertanyaan Miku tadi.

"Orangnya begitu baik. Dia sangat berkarisma sekali, membuat setiap orang tidak bisa berpaling darinya. Dia cantik juga anggun. Sungguh cerminan wanita yang sangat sempurna," celoteh perawat itu.

Miku membulatkan matanya. Ia telah salah sangka. Ternyata orang yang telah menolongnya adalah seorang wanita. Miku menjadi teramat penasaran dan ingin bertemu dengan orang itu. Seolah bisa membaca pikiran Miku, perawat itu pun melanjutkan perkataannya.

"Wanita itu akan datang sebentar lagi. Dia begitu sangat mengkhawatirkan keadaanmu. Selama ini, dia lah yang menjaga dan merawatmu. Luka san pasti akan begitu senang karena Nona sudah bangun," katanya.

Miku hanya terdiam, tak berkomentar sama sekali mengenai hal itu. Ia masih menyantap makan paginya saat pintu ruangan kembali terbuka dengan sedikit kasar.

"Dia sudah sadar?" sebuah suara yang merdu terdengar dari balik pintu, disusul dengan munculnya sang pemilik suara di ruangan itu. Seorang wanita dewasa muda terlihat begitu tergesa-gesa memasuki kamar rawat Miku. Benar kata perawat tadi, wanita itu begitu cantik. Aura keanggunan langsung terpancar dari sosoknya. Rambut merah muda panjang sepunggungnya sedikit berantakan terkena angin. Tubuhnya langsing dan tinggi semampai. Kulit yang putih bersih itu terbalut oleh pakaian kantor yang sederhana namun memberikan kesan anggun untuknya.

"Luka san, tolong jangan berlarian begitu di rumah sakit. Takut mengganggu pasien yang lain," kata perawat itu sambil sedikit tertawa.

"Maaf. Aku begitu senang saat mendapatkan kabar kalau dia sudah bangun. Jadi aku cepat-cepat menyelesaikan pekerjaanku dan segera datang kemari," kata wanita bernama Luka itu sambil berusaha menormalkan kembali napasnya yang masih terengah-engah. "Syukurlah dia sudah sadar,"

Ada nada kelegaan dari ucapan wanita itu. Miku hanya diam mematung. Ia merasa heran, mengapa wanita itu begitu mempedulikan dan mengkhawatirkannya. Padahal mereka sama sekali tidak saling mengenal.

"Halo, sedang sarapan rupanya," Luka menyapa Miku secara tiba-tiba. Miku jadi gelagapan dibuatnya.

"I… Iya," ucap Miku gugup. Tak henti ia menunduk saat Luka menatapnya.

"Apa dia sudah boleh pulang?" tanya Luka kepada perawat itu kembali.

"Kita harus menunggu dokter untuk mengecek kondisi kesehatan terkininya. Dari sana dokter bisa memutuskan apa Nona ini sudah bisa pulang atau masih harus menjalani beberapa perawatan di rumah sakit," jelas perawat. "Tapi karena Nona ini baru saja sadarkan diri, sepertinya butuh pemulihan beberapa hari lagi untuknya sampai benar-benar sehat,"

"Begitu ya," ucap Luka sambil menerawang jauh sementara itu sang perawat hanya bisa terdiam. Ruangan itu terasa begitu sunyi. Yang terdengar hanyalah suara dentingan sendok yang beradu dengan piring.

"Luka san, bisakah kita bicara sebentar di luar?" tanya perawat itu serius. Luka kemudian menjawabnya dengan sebuah anggukkan kecil menandakan ia setuju. Tanpa basa basi ia pun melangkahkan kakinya keluar ruangan rawat Miku, membiarkan Miku fokus untuk menghabiskan makanan sehatnya.

Luka mengikuti perawat itu pergi menjauhi bangsal rumah sakit. Entah kemana perawat itu akan membawanya, yang ia ketahui adalah mereka membutuhkan tempat yang aman untuk berbicara. Ia tahu apa yang akan disampaikan oleh perawat itu adalah hal yang teramat sangat serius. Terlihat dari raut wajah sang perawat yang menegang. Akhirnya setelah cukup lama mereka berjalan, mereka pun memutuskan untuk duduk di tempat duduk yang ada di taman belakang rumah sakit. Saat itu kondisi taman cukup sepi, sehingga mereka tidak terlalu khawatir pembicaraan mereka akan terdengar oleh orang lain.

"Luka san, sebenarnya ada hal penting yang harus saya bicarakan dengan anda. Ini berkaitan dengan Nona itu. Saya ragu untuk mengatakan kondisinya kepada anda. Tapi saya tidak bisa menyembunyikan hal ini dari anda," perawat itu membuka pembicaraan serius antara dirinya dan Luka.

"Apa yang terjadi?" tanya Luka penasaran.

"Sepertinya gadis itu telah mengalami hal yang paling buruk di dalam hidupnya. Sesuatu yang menjadi aib untuknya. Saya benar-benar kasihan kepadanya. Di usia semuda itu ia harus mengalami penderitaan yang ia tanggung sendiri seumur hidupnya," jawab perawat itu.

Luka membelalakkan matanya. Ia sudah bisa menebak maksud dari perawat itu mengenai gadis yang ditolongnya kemarin. Luka membekap mulutnya dengan kedua tangannya. Ia merasa teramat sangat syok sekali mendapati kenyataan yang terjadi kepada gadis itu.

"Begitulah yang terjadi. Saya mengetahuinya ketika memandikan Nona itu saat ia masih pingsan. Di sekujur tubuhnya banyak sekali luka memar. Bagian kewanitaannya juga terkoyak parah dan mengeluarkan darah. Kondisinya ketika pertama kali dirawat sangatlah memprihatinkan. Ia bahkan sampai mengalami demam tinggi akibat luka yang ia derita. Yang lebih memprihatinkan adalah, ia sering mengigau. Seakan-akan sedang mengalami mimpi buruk yang tiada akhir. Sampai ia berteriak-teriak di dalam ketidaksadarannya," lanjut perawat itu.

"Ya ampun," gumam Luka masih sambil membekap mulutnya. "Lalu bagaimana sekarang? Apa yang harus kita lakukan untuknya? Aku sangat yakin kalau hal itu akan menimbulkan beban traumatic untuknya,"

"Entahlah. Saya sendiri bingung bagaimana harus menyikapinya. Kita hanya bisa menyemangatinya dan mendorongnya agar tetap bersemangat. Saya rasa kondisi kejiwaannya masih belum stabil hingga kini. Sebisa mungkin kita harus menopang semangatnya agar ia bisa tetap hidup menjadi gadis seusianya dengan normal," kata perawat itu. "Saya yakin Luka san bisa mengembalikan kepercayaan diri dan semangat hidupnya kembali,"

"Ya semoga saja aku bisa, tapi aku sama sekali tidak yakin bisa melakukannya," ucap Luka ragu.

Kemudian hening menyelimuti keduanya. Masing-masing dari mereka hanyut dalam pikiran mereka. Tiba-tiba perawat itu langsung bangkit dari tempatnya. Ia seakan baru saja mengingat sesuatu.

"Luka san, kita harus segera kembali. Dokter Kiyoteru sepertinya sudah datang," ucapnya.

Luka hanya mengangguk. Kemudian ia kembali mengikuti perawat untuk kembali ke bangsal tempat Miku di rawat. Dengan tergesa-gesa mereka setengah berlari melewati lorong. Luka merasakan suatu firasat yang kurang mengenakan mengenai gadis yang ia tolong. Akhirnya mereka pun sampai di depan pintu ruangan. Dari dalam ruangan tersebut terdengar suara gaduh dan teriakan. Luka benar-benar panik mendengarnya, hingga tanpa sadar ia sampai mendobrak pintu.

"TIDAK! AKU TIDAK MAU! PERGI!" teriak Miku keras.

Luka berusaha mengatur napasnya yang tidak beraturan sebelum bisa memahami apa yang tengah terjadi disana. Ia melihat Miku tengah berteriak histeris sambil berusaha menjauhi seorang dokter yang hendak memeriksa keadaannya. Dokter tampan bersurai hitam itu terlihat kewalahan menghadapi pasiennya satu ini. Bahkan ia sama sekali tak mampu mendekati Miku saat itu.

"Nona, anda harus tenang. Dokter hanya ingin memeriksa kondisi anda," para perawat berusaha menenangkan Miku.

"Tapi aku tidak mau! Aku tidak mau diperiksa olehnya!" pekik Miku keras.

Miku terus berteriak-teriak. Ia meronta. Bahkan kini ia tengah menangis ketika para perawat memegangi tangannya agar dirinya bisa diam. Dokter Kiyoteru pun bersiap memasang stetoskopnya. Ia kini berusaha membujuk Miku.

"Jangan takut Nona, saya hanya ingin memeriksa detak jantung anda," kata Kiyoteru lembut.

"TIDAK!" teriak Miku kencang.

Miku sepertinya sudah benar-benar hilang kedali. Ia berusaha melepaskan diri dari cengkeraman perawat yang menahannya. Bahkan dengan nekad ia menggigit salah satu tangan yang menahannya dengan keras. Setelah berhasil lepas dari pengawasan, tanpa pikir panjang ia cabut satu persatu selang infuse yang terpasang di tangannya dengan kasar sampai tangannya berdarah akibat hal tersebut. Kemudian ia langsung bangkit dari tempat tidurnya dan berlari menuju pintu keluar. Namun ketika hendak melangkah, Miku merasakan sakit yang teramat sangat di bagian pribadinya sehingga ia terjatuh sambil mengerang kesakitan. Melihat hal itu, para perawat tidak tinggal diam. Mereka berbondong-bondong menghampiri Miku dan berusaha untuk membawanya berbaring ke tempat tidur. Tapi yang terjadi, Miku malah makin mengamuk. Ia meraih benda apa saja yang ada di dekatnya lalu melemparkannya sekuat tenaga kepada orang-orang itu. Kemudian Miku menangis sekencang-kencangnya. Begitu memilukan. Membuat hati Luka terluka karenanya.

"Ini benar-benar sulit. Aku tidak bisa menangani gadis ini," dokter Kiyoteru menyerah terhadap Miku. "Kurasa aku akan meminta dokter Sakine untuk memeriksa dan menenangkannya,"

"Mungkin itu yang lebih baik untuk saat ini dokter. Gadis itu rupanya benar-benar mengalami trauma yang luar biasa," komentar perawat yang sedari tadi bersama Luka.

"Begitu ya," gumam Kiyoteru prihatin. "Gadis yang malang,"

Dokter Kiyoteru pun meninggalkan ruangan Miku, meninggalkan Miku yang masih menangis meraung-raung, perawat yang setia menemani dan merawat Miku selama ini, beserta Luka yang sedang termenung melihat Miku. Para perawat yang lain sudah pergi meninggalkan ruangan. Rupanya mereka takut dengan amukan Miku.

Luka merasa prihatin dengan kondisi Miku. Ia bisa merasakan bagaimana pedihnya luka itu dan juga betapa hancurnya perasaan Miku saat ini. Ia benar-benar sedih melihat gadis manis itu kini terlihat seperti orang gila. Penampilannya berantakan akibat amukannya beberapa waktu yang lalu. Yang Miku lakukan sekarang hanya menangis meraung-raung, sesekali berteriak, kemudian ia bergelung memeluk lututnya. Hati kecil Luka menuntun kakinya untuk melangkah mendekati Miku. Ia sama sekali tidak merasa takut kepada Miku. Padahal bisa jadi Miku berbalik melemparinya dengan barang-barang seperti yang ia lakukan kepada para perawat itu. Namun rasa takut itu justru menghilang tergantikan oleh perasaan iba dan ingin melindungi jiwa yang begitu ringkih itu.

Luka terus melangkahkan kakinya. Semakin lama semakin mendekati gadis bersurai teal tersebut. Tangannya berusaha menggapai sosok itu agar mendekat kepadanya. Direngkuhnya tubuh langsing itu ke dalam pelukkannya, membuat Miku membelalakkan matanya. Luka mempererat pelukkannya, membiarkan tubuh Miku tenggelam di dalamnya.

"Lu… Luka san…?" ucap Miku terbata-bata.

"Sssh! Jangan katakan apapun. Kalau kamu ingin menangis, menangislah. Jangan biarkan beban itu melemahkan hatimu. Biarkan kesedihanmu mengalir dalam air mata. Aku yakin sekarang hal itulah yang kau butuhkan," ucap Luka bijak.

"Luka… san…," Miku bertambah sedih saat ini. Ia pun menangis semakin keras di dalam pelukan Luka, menangis sejadi-jadinya. Berusaha mengeluarkan semua kepenatan dan beban yang membelenggu. Luka dengan sabar terus memeluk Miku dan sesekali mengelus puncak kepala gadis itu agar ia tenang. Adegan mengharukan itu disaksikan oleh sang perawat yang baik hati. Ia sampai ikut meneteskan air mata karena terbawa suasana keharuan yang mengharu biru di ruangan tersebut.

TBC

Akhirnya bisa update juga kelanjutannya T^T. Sungguh, saya mencoba untuk update kilat. Tapi kenyataannya ini justru sebaliknya. Berkali-kali saya mohon maaf jika ceritanya terlalu pendek. Saya mengharapkan review dari para readers yang baik hati ^^

10