Character figure is mine.
BTS belonging to their parents and BigHit.
_ HELP! _
"Ya Tuhan, lindungi kami." Taehyung bergumam.
"Eh? Kalian siapa?"
Seorang pria mengintip di balik pintu, menatap dua orang di depannya keheranan.
"Kami--" Jimin menyahut.
"Oh, kalian temannya Jungkook?"
Pria itu mendekat. Tubuhnya kurus dengan kulit pucat bersih bersinar.
"Aku kakaknya," Dia tersenyum. "Yoongi." Menawarkan berjabat tangan.
"Jimin, dan dia Taehyung." Jimin menyentuh tangan lembut itu. Kemudian melempar pandang pada Taehyung yang sekarang terlihat sangat pucat.
Taehyung menerima tangan itu. Ia tersenyum kikuk.
"Kami sebenarnya--"
Belum juga melanjutkan, perkataan Jimin dipotong lagi.
"Jungkook di mana?"
Keduanya mengernyit bingung, 'Jungkook?' apa dia si penodong tadi? Pria berbadan besar tadi?
"Ah, dia memang seperti itu. Selalu menghilang. Kalian sudah makan?"
Pria pucat itu memecah keheningan. Ia kemudian menarik ujung bibirnya. "Belum yah. Tunggu di sini, akan aku buatkan."
Lalu berlalu pergi menghilang di balik pintu.
Jimin dan Taehyung saling berpandangan. Tanpa kata-kata. Mereka terlihat kebingungan.
"Aku tak menyangka ada yang tinggal di gedung tua ini."
"Hanya di luarnya saja nampak tua." Jimin menaikkan dagunya, menunjuk dinding di ruangan itu yang dipoles cat biru langit. Nampak bersih.
Taehyung memerhatikan. Pria satu ini sangat antusias. Mereka kembali memerhatikan seluruh isi ruangan.
"Barang-barang terlihat usang karena bias cahaya neon tadi. Tapi jika diperhatikan, semuanya modern dan masih bagus."
Jimin berkata sembari memerhatikan. Beralih ke bawah mereka, lantainya.
"Ini bukan koran yang berserakan. Tapi wallpaper yang di tempelkan di lantai."
Ia meraba lantai itu. Pantas saat mereka menginjakkan kaki, tidak ada gemerisik sama sekali.
"Tapi buku-bukunya asli," Taehyung ikut menganalisa. Dia mengambil salah satu buku. "Alfred Hitchcock?"
Taehyung mencoba mengingat-ingat. Mengulum kedua bibirnya. "Dia seorang sutradara terkenal pada tahun 1930-an."
Menatap Jimin yang mungkin sedikit kebingungan. "Dijuluki Bapak film-film."
Membalikkan buku di tangannya. "Aku punya beberapa buku ciptaannya. Dia seorang sutradara film petualangan dan misteri."
Jimin yang sedari tadi mendengarkan mengelus tengkuknya. Mulutnya sedikit terbuka. Bukannya tak paham, tapi ia memang tak tahu siapa itu.
"Aku pernah membaca buku ini." dia membuka lembar-lembar buku itu. Tidak membacanya, hanya melihatnya.
"Tunggu," kemudian kembali ke halaman awal. Membaca dengan seksama. Penuh antusias. Tidak memedulikan Jimin yang sedari tadi tak paham-paham.
"Jim, cerita awal di buku ini hampir sama dengan yang kita alami."
Ia membuka mulutnya sendiri. Jimin masih tak mengerti. Lalu diambilnya buku di tangan Taehyung, membacanya.
"Misteri Nuri Gagap?" ia menyebutkan kata-kata yang ada di cover buku itu. "Alfred Hitchcock dan Trio Detektif?" Menatap Taehyung sebentar, melanjutkan membaca halaman lainnya.
Jimin termangu setelah membaca halaman pertama dan kedua awal bab. Hampir sama dengan kejadian yang mereka alami barusan. Namun halaman lainnya, berbeda.
"Apa yang kalian lakukan?" mereka terkejut. Pria pucat itu kembali dengan nampan berisi mangkuk putih di atasnya.
"Aku membawakan ramyeon. Kami belum berbelanja untuk minggu ini." menaruhnya di atas meja kayu di depan kursi. "Ah, itu milik Jungkook. Dia menyukai buku dan film bergenre thriller." tersenyum pada Jimin, yang memegang buku itu.
"Bagaimana kalian mendapatkannya?" Taehyung mendekat. Ikut duduk di samping Jimin, di depan Yoongi.
"Ayahku seorang guru. Kami pernah tinggal di perumahan di dalam sekolah. Buku-buku itu terbuang saat perpustakaan di renovasi. Ibuku yang menyukai membaca, mengambilnya dan membawanya pulang." dia menjelaskan itu sambil merapikan buku-buku yang berserakan untuk dinaikkan di atas rak.
"Aku akan keluar sebentar. Kalian bisa menghabiskan makanannya dulu. Tidak lama, kok." Pria pucat itu kemudian berlalu.
"Aku masih penasaran dengan persamaan kejadian di buku dan kejadian pada kita."
Jimin mengangguk. Setuju.
_
Jimin meraih sumpit kayu yang masih terbungkus plastik bening di samping mangkuk. Ia membuka bungkusnya kemudian menjatuhkan sumpitnya ke dalam kuah ramyeon. Taehyung mengikuti. Mereka makan tanpa bicara. Entah memikirkan apa.
"Bagaimana kalau selesai makan, kita melihat-lihat rumah ini dulu?" Taehyung memberhentikan kegiatan menyesap kuahnya sebentar. Jimin mengiyakan dengan gumaman tidak jelas karena ramyeon di mulutnya disertai anggukan.
"Kalau begitu, cepat habiskan."
"YAAAKKKKKKK!"
"Kenapa, Tae?"
"Lihat itu, Jim! Aku hampir memakannya!" dia menunjuk mangkuknya tanpa melihat ke arah situ. "Ya Tuhan!"
Jimin beralih. Medekatkan pandangannya ke arah yang ditunjuk Taehyung. "Ya Tuhan!"
Dia mengangkat benda di dalam mangkuk Taehyung dengan sumpit. Menjatuhkannya ke lantai setelah memerhatikan dengan seksama.
"Itu jari siapa?"
Jimin mengangkat kakinya, menjauh dari sebuah jari jempol yang terpotong. Jari itu berwarna putih pucat, tanpa darah. Kukunya pun begitu. Ada bekas cat kuku berwarna hitam di sana.
"Apa yang dilakukan pria itu pada kita!"
"Pokoknya ada yang tidak beres di sini, Jim!" Taehyung kembali dengan ketakutannya. Ia hampir terisak lagi. "Kita harus keluar dari sini." dia memukul Jimin.
"Kita harus cari tahu, Tae." Jimin berdiri. Mengambil ancang-ancang untuk melangkah pergi. Taehyung dengan segera mengikutinya. Mereka berjalan menuju pintu.
"Tolong!"
Suara itu kembali. Memekik seperti orang tercekik. Seperti ditarik keluar raganya.
Taehyung dan Jimin membatu. Mereka mungkin saja terkena serangan jantung karena kaget.
"Tolong!"
Lagi. Semakin jelas. Seperti berjalan mendekat.
"Tolong! Tolong!"
Mereka berbalik. Suara itu tidak memekik, namun menjadi bisikan, seperti mengendus telinga, memberi udara dingin yang tertinggal. Merinding.
"Tolong!"
Terasa sangat dekat. Namun tidak nampak. Taehyung dibuat ketakutan setengah mati. Ia sudah berteriak seandainya suara itu tidak muncul lagi.
"Tolong."
Kali ini melembut. Seakan mengatakan kasih sayang.
Taehyung menjatuhkan dirinya. Terduduk di lantai, di samping kaki Jimin. Ia menggigit bibirnya, menahan agar isakannya tak terdengar. Matanya sudah berair dari tadi.
Sementara Jimin mencoba untuk menguatkan dirinya. Tetap berdiri meski kakinya juga ikut keluh.
"Kalian sedang apa?" sebuah siluet muncul dari depan, di balik lorong. Ia berjalan mendekat.
"Butuh sesuatu?" ia sampai di depan Jimin dan Taehyung. Yoongi, sang pria pucat. "Kalian kenapa?" Ia melirik Taehyung, kemudian meminta jawaban pada Jimin.
"Kami ingin pulang." Jimin menjawab dingin sembari membantu Taehyung berdiri.
"Tidak bisa." Yoongi membalasnya dengan senyuman. Mengedipkan matanya lembut.
"Kami harus pulang!"
"Tolong!"
Jimin dan Taehyung terdiam. Suara pria ini. Suara yang sedari tadi meneror mereka. Sama.
"Tolong!" Yoongi menunduk. Poni rambut hitamnya ikut jatuh.
"Tolong." ia mengangkat kepalanya kembali. Ada yang berubah di sana. Kulit wajahnya penuh memar, tak semulus sebelumnya. Rahangnya mengeras. Irisnya menjadi hitam pekat, sewarna dengan seluruh matanya.
Taehyung tidak berani menatap. Ia menurunkan pandangannya dan mendapati tangan pria itu. Tidak ada yang aneh, hanya jari-jarinya tak ada. Ia menelan ludah, menarik lengan Jimin untuk digenggamnya.
Jimin menyipitkan matanya. Memerhatikan pria itu sekalipun merasa takut.
"Tolong!" Yoongi berjalan ke depan. Melewati Jimin dan Taehyung, bersamaan hawa dingin menerpa.
"Aku tersesat. Tak bisa pergi, tak bisa kembali." suaranya seperti isakan. Menyayat sekali. Memenuhi lorong.
Jimin berbalik untuk melihat ke mana pria pucat itu pergi, tapi nihil. Dia menghilang.
"Aku kebingungan." suara itu menggema seperti berasal dari langit-langit. Memantul-mantul.
"Tolong!"
Hilang. Kembali senyap.
CONTINUED
