Of Truths and Lies

Yahuuu~!! Noa kembaliii...!!! *terjun ke hadapan reader*

Hmmm, review yang Noa dapet lumayan juga...

Baiklah, ini Chapter 2-nya!! XD

Kalo ada persahabatan yang aneh antara Deidara-Hidan-Suigetsu,

itu soalnya mereka sama-sama banyak omong dan sifatnya agak mirip...

Makasih buat yang udah review! *cipika-cipiki*

I LOVE YOU ALL!!!

II. Sesuatu yang Tersembunyi

10 tahun kemudian...

Sebuah pagi di kediaman Namikaze, tepatnya hari pertama sekolah di bulan April setelah libur panjang...

"Naruto! Cepat, un! Aku tidak mau terlambat di hari pertama sekolah!" teriak Deidara dari pintu depan pada adiknya yang sedang melahap sarapannya di ruang makan. Ia sendiri pun masih merapikan seragam sekolahnya – kemeja berlengan panjang berwarna putih dan celana panjang biru tua, dengan dasi yang berwarna sama dengan celananya.

"Deidara, biarkan dulu adikmu menghabiskan sarapannya. Memangnya kenapa, sih, harus buru-buru?" ujar Kushina yang sedang memakaikan sepatu Naruto. Anak berusia delapan tahun itu buru-buru menghabiskan sarapannya. Hampir saja ia tersedak karena mulutnya terlalu penuh.

"Tapi, Ibu, perjalanan ke sekolah, kan, tidak menentu. Siapa tahu ada masalah yang tak diduga di tengah jalan, un," jelas Deidara pada ibunya.

"Benarkah?" ibunya hanya menaikkan kedua alisnya. Deidara memutar kedua bola matanya.

"Selesai, Bu!" seru Naruto menyodorkan piring makannya yang sudah kosong pada ibunya. Kushina segera mengambilnya, Naruto pun langsung berdiri dan meraih tas sekolahnya, lalu berlari menuju pintu depan menghampiri kakaknya.

"Ayo, Kak!" ajak Naruto pada kakaknya yang berusia lima belas tahun itu.

"Un," Deidara mengangguk dan menggenggam tangan adiknya. "Sampai nanti, Bu."

Wanita berambut merah yang sedang mencuci piring itu melambaikan tangannya. Deidara dan Naruto pun mulai berjalan meninggalkan rumah mereka...

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Yo, Deidara!" sapa Hidan pada lelaki berambut pirang yang baru saja memasuki ruangan kelas, suasanya tampak ramai seperti biasanya. Anak berambut abu-abu pucat itu segera merangkul pundak sahabatnya itu. "Kita sekelas lagi, kan?" ucap Hidan sambil menyeringai.

"Ya, ya, ya, aku senang sekali, un," balas Deidara dengan nada dan ekspresi bosan.

"Hei, apa maksud wajah itu, hah?" Hidan segera melepaskan rangkulannya dan menatap tajam pada Deidara.

"Bercanda, bodoh," ujar Deidara sambil meninju pundak sahabatnya. Seperti dugaannya, Hidan hanya menyeringai seperti kebal terhadap rasa sakit.

"Mana Suigetsu, un?" tanya Deidara tiba-tiba teringat pada sahabatnya yang seorang lagi.

"Oh. Seperti biasa, ia sudah menyediakan tempat untuk kita bertiga yang akan kita tempati selama kelas dua SMA ini," jelas Hidan sambil menunjuk ke pojok ruang kelas dan mengantar Deidara kesana.

"Deidara!" sapa temannya yang berambut biru pucat itu yang sedang duduk di atas meja pada Deidara saat lelaki berambut pirang itu menghampiri. "Bagaimana, tempat yang bagus, kan?" tanya Suigetsu.

"Yah, lumayan. Tidak begitu menarik perhatian guru, un," jawab Deidara sambil menyeringai kecil. Ia mengamati tempat duduk Suigetsu yang tepat berada di paling belakang, di pojok kiri ruang kelas, dekat jendela. Tempat duduknya sendiri berada di depan Suigetsu, dan Hidan berada di sebelah kanan Suigetsu.

"Tapi, kenapa aku harus sendirian dan berada paling depan dari kita bertiga, un?" ia memandang tempat di sebelah kanannya yang masih kosong, lalu memandang sedikit kesal pada Suigetsu.

"Ah, cuma sedikit kuubah tata letaknya. Agar segala ulah kita tidak terlalu mencolok seperti kelas satu lalu," Suigetsu tertawa kecil sambil mengingat masa kelas satu, dimana tempat duduk mereka bertiga benar-benar saling bersebelahan dalam satu deretan.

"Setidaknya kita 'kan masih bersama," ujar Hidan, yang disetujui Suigetsu.

"Oh, ya. Bagaimana liburanmu? Masih bersama keluarga Uchiha itu?" tiba-tiba Hidan bertanya pada Deidara.

Sejak keluarga Namikaze dan Uchiha itu menjalin hubungan persahabatan yang erat, memang mereka semua sering liburan bersama. Dan tidak ada satu pun menurut Deidara yang menyenangkan dari semua liburan yang pernah mereka alami.

"Cih. Orangtua kami malah memutuskan untuk camping bersama sewaktu liburan kemarin, un. Dan tentunya aku tidak menyukainya, un. Selama masih ada dia di hadapanku, mana mungkin aku bisa tenang," ujar Deidara dengan ketus sementara duduk di tempatnya menghadapi Suigetsu dan Hidan sambil menyilangkan kedua lengannya di depan dadanya.

Tepat setelah Deidara berkata begitu, dia yang dimaksudkan memasuki ruangan kelas. Beberapa anak perempuan mulai berbisik-bisik, sementara beberapa mulai berusaha terlihat semenarik mungkin di mata lelaki berambut hitam itu – selalu kejadian yang sama tiap tahun. Ya, Itachi Uchiha telah datang. Namun tampaknya ia tak tertarik terhadap semua kelakuan gadis-gadis itu. Ia malah mulai mencari tempat duduk yang akan ia singgahi untuk selama satu tahun itu.

Suigetsu sengaja terbatuk kecil – yang sangat terdengar dibuat-buat – ketika melihat sang Uchiha.

"Tampaknya ia mendengar panggilanmu, Deidara," sindirnya.

"Maksudmu?" tanya Deidara heran terhadap kelakuan aneh sahabatnya.

"Lihat di belakangmu, bodoh," singgung Hidan, walau yang disuruh tidak juga memalingkan wajahnya ke belakang. Lelaki berambut pirang itu sepertinya mulai mengerti.

"Jangan bilang dia sudah datang, un," balas Deidara, enggan menyebut nama orang yang dimaksud.

"Oh, ya, dia bahkan sedang berjalan ke arah sini," ejek Suigetsu sambil menyeringai lebar, menunjukkan kedua gigi taringnya.

Sejenak lelaki berambut biru pucat itu tampak seperti iblis bagi Deidara, hanya saja tanpa tanduk. Rasanya Deidara ingin mencekik keparat itu.

"Boleh aku menempati tempat ini?" tanya sebuah suara yang sangat Deidara kenal dari arah belakang. Sial, batinnya.

Suigetsu dan Hidan menatap Deidara untuk sejenak, lalu Suigetsu membuka mulutnya untuk bicara.

Tidak, jangan biarkan dia duduk disampingku!, pinta Deidara dalam hati sambil memejamkan erat kedua matanya.

"Tentu saja boleh. Siapa yang melarang?" dengan lantang Suigetsu menjawab. Deidara seketika itu juga merasa mual. Ia benar-benar akan mencekik bocah yang banyak bicara itu nanti...

Lalu, Itachi pun duduk dan sesaat kemudian bel tanda masuk berbunyi. Sementara Deidara menatap kedua sahabatnya dengan tatapan membunuh, Suigetsu dan Hidan hanya cekikikan kecil menertawai penderitaan si rambut pirang. Untung saja tatapan tidak benar-benar membunuh...

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

"Sial kau, un!" cetus Deidara pada Suigetsu saat ia, Suigetsu, dan Hidan sedang duduk bertiga di kafetaria saat jam istirahat.

"Memang apa salahnya? 'Toh, dia takkan mengganggu kita saat kita melakukan hal-hal yang seharusnya tidak dilakukan saat jam pelajaran, kan? Dia tidak akan peduli," jelas Suigetsu pada temannya yang sekarang menatapnya dalam. Tapi memang sang Uchiha lebih suka diam dan jadi murid emas di kelas, kan?, pikir Suigetsu.

"Itu tidak terlalu kupikirkan. Dan bukan itu masalah utamanya, un," bantah Deidara dengan nada sedikit kesal.

"Aku mengerti, Deidara." ucap Hidan tiba-tiba, "Kau tidak suka kalau dia ada di sebelahmu, kan? Apalagi kau sangat membencinya."

"Terlebih lagi aku membenci tatapannya, un!" sahut lelaki berambut pirang itu.

"Memang apa yang salah dengan tatapannya?" tanya Suigetsu penasaran.

"Ahh, kau tidak akan mengerti! Susah berbicara denganmu, un!" balas Deidara seraya mulai memakan makanannya.

x-x-x-x-x-x-x-x-x-x

Itachi meluruskan pandangannya terhadap papan tulis di depan kelas yang sedang ditulisi oleh seorang guru, namun pikirannya tak tertuju pada pelajaran. Mungkin kali ini aku hanya beruntung, begitu pikirnya. Ya, beruntung. Itulah apa yang dirasakan Itachi hari itu. Mendapatkan tempat duduk yang ia inginkan di hari pertama sekolah. Ia memang telah menimbang-nimbang untuk tidak duduk dekat-dekat dengan anak-anak perempuan, karena nantinya ia pasti akan terganggu oleh perempuan-perempuan yang ingin mendekatinya – seperti tahun lalu. Walau harus duduk dekat dengan tiga pembuat onar yang terkenal sejak dulu, namun mendapat tempat yang sedikit terpojok memuaskan hatinya. Apalagi ia bisa berdekatan dengan Deidara...

Entahlah, sejak hari pertama bertemu dengan anak berambut pirang itu, Itachi merasakan perasaan aneh dalam hatinya. Tadinya ia merasa kalau perasaan itu biasa-biasa saja. Untuk hari-hari berikutnya, ia masih berusaha untuk berteman dengan Deidara – walau kenyataannya tidak pernah berhasil sampai sekarang. Namun saat ia berumur sepuluh tahun, seiring ia bertumbuh, ia mulai sadar bahwa sebenarnya ia jatuh cinta pada Deidara. Pada awalnya, ia tak begitu memusingkan hal tersebut. Hingga suatu waktu sang Uchiha mengetahui bahwa perasaan yang ia punya itu tidak lazim dan bisa dibilang tidak normal untuk orang biasa. Sejak itu ia mulai merasa khawatir dan perlahan berhenti mendekati sang Namikaze yang menjadi pujaan hatinya itu. Ia mulai bersikap seolah ia membenci Deidara – yang sayangnya dianggap serius oleh Deidara, sehingga mereka benar-benar bermusuhan. Entah dapat dikatakan 'untungnya' atau 'sialnya', perasaan itu tak kunjung hilang. Malah semakin besar dan mulai menjadi obsesi. Walau banyak anak perempuan – dari yang biasa saja sampai yang sangat mempesona – bisa Itachi dapatkan dengan mudah; apalagi karena ia bisa dibilang 'sempurna' dalam segala hal, masih saja, hatinya tetap dan hanya tertuju pada Deidara. Sampai akhirnya ia menyerah juga atas rasa cintanya yang terlarang itu. Karena baginya, lelaki berambut pirang itu adalah orang tercantik yang pernah dilihatnya...

Ternyata, secara tidak sadar, Itachi sedang memerhatikan lelaki berambut pirang itu selama memikirkan hal tersebut. Ia melihat bahwa anak yang duduk di sebelah kirinya itu juga sedang tak memerhatikan pelajaran. Walau bagi sang guru yang berada di depan kelas Deidara terlihat seperti sedang mencatat pelajaran, nyatanya ia hanya mencorat-coret buku catatannya secara asal-asalan, entah menggambar atau menulis. Walau yang dilakukannya tampak tak jelas, sepertinya anak berambut pirang itu menikmatinya. Senyum tipis tersungging di wajah Itachi sambil memerhatikan Deidara. Lama-kelamaan, yang diperhatikan pun sadar.

"Mau apa kau lihat-lihat kesini, un?" tanya Deidara dengan nada ketus. Meskipun ada sedikit perasaan janggal karena tertangkap basah sedang memerhatikan lelaki berambut pirang itu, Itachi tetap memaksa dirinya untuk bersikap tenang.

"Tidak. Aku hanya tidak suka kalau guru yang sedang menerangkan pelajaran di depan kelas tidak dihargai. Itu saja." tutur Itachi dengan ekspresi datar di wajahnya, kembali ke topeng palsunya. Deidara mengernyitkan kedua alisnya.

"Aku tidak memerlukan nasehatmu, un," ujarnya dingin sambil membuang muka. Kenapa, sih, dia suka sekali mengatur orang?, batin Deidara kesal.

Tiba-tiba Suigetsu mencolek punggungnya dari belakang.

"Ada apa, hah?" tanya Suigetsu santai.

"Huh! Lihat saja kelakuannya! Mengatur orang seenaknya saja, un!" jawab Deidara.

Suigetsu hanya tertawa kecil mendengar pernyataan temannya.

"Apanya yang lucu, un?"

"Kalau begitu, berarti kaunya saja yang susah diatur," ejek Suigetsu.

Deidara hanya menggeram membalas perkataan Suigetsu.

Deidara teringat kembali pada ekspresi wajah Itachi saat memperhatikannya tadi. Aneh. Lelaki berambut hitam itu sepertinya tersenyum. Deidara tidak tahu pasti apa yang tersembunyi dibalik hal itu, namun ia tidak suka melihat ekspresi aneh sang Uchiha, menurutnya sangat mengganggu... Tetapi ia masih penasaran dengan apa yang selama ini Itachi sembunyikan. Memang sudah sering ia mendapat tatapan aneh dari Itachi, kadang ia merasa sangat kesal sampai-sampai ingin mengoyakkan wajah lelaki yang lebih tua darinya itu. Kalau Deidara bertanya kenapa, jawaban yang didapat pasti selalu tidak begitu penting, atau malah sangat mengesalkan hati Deidara. Namun yang benar-benar ia pikirkan saat itu, ia ingin mencari tahu apa rahasia yang terselubung dibalik semua itu... Sesuatu yang sengaja disembunyikan sang Uchiha dari siapa pun.

Uwaaa~ Noa gak tau mau nulis apa!!

Noa bener-bener bingung sama chapter ini! Gak jelas!!

Maaf ya, kalo ada tulisan-tulisan yang gak begitu penting di ceritanya...

Itu karena Noa kehabisan ideee~~

*meratap sujud sembah di hadapan reader*

Pokoknya REVIEW lah!!

Biar Noa semangat nulis lagi~! ^o^

Soalnya tanpa review pembaca, Noa bukan apa-apa melainkan sehelai kertas kosooong~ *puitis mode: ON*

OKE!! See ya later, honey-bees!! X3