GIANT PROMISE
Park Chanyeol x Byun Baekhyun
.
.
Happy Reading^^
.
.
How can i hate you, giant?
Hari ini telah menentukan, untuk esok dilalui bersama. Namun sayang sang matahari tak di tempat, sehingga panas tak dapat mendarat.
Baekhyun tau, pada jam pagi seperti ini Chanyeol masih bergelut di atas ranjangnya bersama bantal guling serta boneka rilakuma kesayangannya. Atas inisiatif sendiri, Baekhyun mulai beranjak tak lupa memakai mantelnya.
Mereka berencana menghabiskan waktu di hari minggu dengan berjalan-jalan tanpa arah. Maksudnya, mereka akan pergi bersama kemanapun kaki membawanya. Entah mengapa Baekhyun begitu antusias hari ini, walau jam yang mereka janjikan ialah pukul 10.00 pagi, namun saat ini jam masih menunjukan pukul 08.00 Baekhyun telah mulai melangkah menuju kediaman sahabatnya.
Karena manusia hanya bisa berencana, sedangkan benang takdir telah memilih jalannya. Tadi malam Chanyeol mendapat panggilan dari sang ayah, bahwa sang ibu sedang berada di rumah sakit. Karena tak ada kerabat yang bisa menjaganya di sana, juga jadwal padat yang harus ayahnya jalani. Chanyeol langsung melesatkan diri menjadi pengganti untuk menemani, sayangnya ia terlalu terburu-buru sehingga alat komunikasi ditinggal pergi.
Kali ketiga Baekhyun menekan bel di kediaman Park, namun tak ada satupun sahutan yang menandakan keberadaan seseorang didalam sana. Dengan perasaan tak nyaman Baekhyun mulai menggebrak pagar di hadapannya, berharap mereka hanya tertidur dan akan terbangun oleh suara yang mengganggunya.
Semua yang Baekhyun lakukan tak membuahkan hasil, sehingga menarik kesimpulan yang terdengar tak adil. Tak terlihat satu pun pergerakan ketika Baekhyun mencoba mengintip dari sela-sela pagar di hadapannya. Rumah dalam keadaan tenang, bahkan tak ada satupun lampu yang menerang.
Keluarga Park telah meninggalkan rumahnya, dengan kata lain mereka telah pergi berkemas untuk menempati rumah baru yang entah dimana adanya. Begitulah kesimpulan Baekhyun saat mengamati yang dilihatnya. Seandainya keluarga Park memiliki seorang asisten rumah tangga, setidaknya akan ada sebuah informasi untuk mengkonfirmasi.
Suara wanita di sebrang sana yang selalu berbicara ketika Baekhyun mencoba menghubungi sahabatnya. Wanita itu bilang ponsel sahabatnya sedang tidak aktif, Baekhyun frustasi berjalan mondar-mandir berharap suara wanita itu hilang dan digantikan oleh suara berat khas sahabatnya.
Satu jam, Baekhyun sudah mencoba menghubungi Chanyeol selama satu jam, dan tak ada yang ia dapatkan selama satu jam itu. Baekhyun mulai risau, perasaannya mulai gundah, bahkan air mata mulai pecah. Ia bersandar pada tembok di belakangnya, sesekali mengangkat kepala dan menggigit bibir bawahnya, menahan sebuah bendungan agar tak roboh karena terlalu banyak air yang dimuatnya.
Namun akhirnya Baekhyun kalah, perasaannya lebih sensitif daripada sang logika. Tubuhnya merosot mempertemukan kepala dengan lututnya, dihisai oleh tangan yang melingkar menenggelamkan wajahnya. Air matanya tumpah setelah sebelumnya ia tahan agar tak keluar, membuat pakaiannya basah dan terlihat sungguh tak nyaman.
Dua, tiga... lima... sepuluh, berapa banyak waktu lagi yang Baekhyun habiskan hanya untuk meringkuk di depan pagar kediaman sahabatnya setelah 10 jam. Baekhyun tak ingin beranjak, ia hanya ingin bertemu sahabatnya. Pikirannya seolah buntu, karena tak mengerti untuk melakukan sesuatu. Dengan terus menggumamkan nama sahabatnya ia berharap, sebuah keajaiban membawa Chanyeol kehadapannya.
"Baek?"
Sebuah suara di hadapannya menyadarkannya, suara khas yang sangat ia kenal pemiliknya. Itu Chanyeol, berdiri di hadapannya dengan raut wajah penuh tanya, sekilas memeriksa sebuah benda yang melingkar di pergelangan tangannya. Pukul 07.00 malam, Chanyeol baru menyempatkan diri pulang kerumahnya, dan ia tak pernah tau bahwa seseorang telah menunggunya.
Tak perlu berfikir untuk bertindak, karena hati selalu menjadi prioritas. Ketika keinginan begitu besar mengalahkan logika, maka yang Baekhyun lakukan selanjutnya hanyalah menangis dengan memeluk sang giant begitu erat. Menenggelamkan wajah pada dekapan hangat yang memabukkan, menumpahkan isakan pada dada yang menjadi tumpuan. Siapapun yang mendengar akan berprasangka, seseorang menyiksanya karena suara tangisan yang memeka.
"Baek? Kau baik-baik saja? Apa yang kau lakukan? Kenapa kau menangis?" Namun yang terdengar selanjutnya hanyalah sebuah isakan yang kian membesar.
"Hei Baek, apa kau menung-Oh astaga! Kau pasti menungguku, aku melupakan rencana kita, maaf." Chanyeol mulai membalas pelukan Baekhyun, mengelus punggung dan surainya tanda ia menyesal.
"Sejak kapan kau menunggu Baek? Pagi?" Baekhyun mengangguk, masih menenggelamkan kepalanya dalam dekapan Chanyeol
"Dan kau tak beranjak dari pagi hingga tadi?" Anggukan menjadi sebuah jawaban lagi.
"Kenapa kau menungguku di sini? Kau bisa pulang ke rumahmu dan menungguku di sana, kau bisa saja kelelahan dan terserang penyakit Baek." Chanyeol terlalu frustasi atas rasa bersalahnya, tak berniat untuk membentak namun rasa khawatir membludak. Sedang si mungil masih nyaman tak berniat melepas sebuah dekapan, malah terus mengerat seakan takut kehilangan.
"Maaf... ibuku berada di rumah sakit, tak ada orang yang menemaninya, jadi aku pergi untuk menjaganya. Sungguh aku menyesal melupakan rencana kita, ponselku tertinggal di dalam rumah, bahkan aku lupa tentang waktu yang terus berputar. Aku benar-benar menyesal, Baek."
Baekhyun semakin mengeratkan lengannya melingkar pada tubuh Chanyeol, begitu pula Chanyeol yang menenggelamkan wajahnya pada surai si mungil. Saling mendekap menyalurkan sebuah rasa tanpa kata, seakan mengerti walau bibir tak bersuara.
"Baek, hei, coba lihat, tatap aku." Chanyeol mencoba melepas pelukan agar si mungil dapat melihat langsung pada matanya. Namun respon yang diberikan Baekhyun membuat Chanyeol serba salah, karena Baekhyun hanya menggeleng dan terus mengekangnya dalam sebuah pelukan.
"Kau tak akan melepaskannya?" Baekhyun menggeleng.
"Kau akan terus seperti ini?" Baekhyun mengangguk.
"Sampai kapan?" Baekhyun menaikkan kedua bahunya.
Chanyeol tersenyum, hampir tertawa, karena sikap Baekhyun yang seperti ini sungguh membuatnya hilang akal, mengapa Baekhyun begitu menggemaskan. Karena tak ingin Baekhyun lebih lama tersapu udara malam, Chanyeol dengan cekatan mengambil sebuah kesempatan.
Tanpa aba-aba ia langsung menggendong Baekhyun ala koala, sedangkan Baekhyun yang terkejut dengan sigap melingkarkan tangan pada leher yang tersedia. Jarak tak terdeteksi keberadaannya, dua hidung beradu saling menyapa, menyebabkan semburat merah terlukis di pipi dengan indahnya.
"Kau sudah makan?"
Masih pada posisi yang sama Chanyeol memulai sebuah percakapan, dengan gelengan sebagai satu-satunya jawaban dari sang komunikan. Chanyeol tersenyum dan mulai melangkah ke dalam dengan Baekhyun di gendongannya. Sedangkan Baekhyun mulai menenggelamkan wajahnya pada ceruk leher yang tersedia di hadapannya.
"Baiklah, ayo kita masuk dan mengisi perut."
Chanyeol membawa Baekhyun ke dalam ruang makan, membiarkan Baekhyun duduk pada salah satu kursi yang ada. Menatapnya lekat, memaksakan sebuah senyuman, hatinya tergores saat melihat bekas air mata di pipinya. Tangannya terulur pada wajah si mungil, ibu jari memimpin untuk menghapus jejak agar tak ada yang tersisa.
.
Lima belas menit waktu yang Chanyeol butuhkan untuk menyediakan sebuah hidangan sederhana namun menggugah selera. Baekhyun langsung menyantapnya dengan lahap, wajar saja, karena sedari pagi hanya sebuah roti yang ia makan untuk mengganjal perutnya. Chanyeol tersenyum melihat sosok di hadapannya, bagaimana bisa untuk sesaat ia melupakan pria itu saat sibuk dengan hal lainnya, entahlah.
"Kenapa kau tak pulang dan malah menungguku di luar?"
"Aku kira kau pergi."
Baekhyun berhenti dengan santapannya dan menundukkan kepala, mengingat sebuah alasan akan tindakan konyol yang ia lakukan.
"Tapi aku kembali."
"Ku kira kau meninggalkanku."
Dengan berani Baekhyun menatap Chanyeol tepat pada bola mata, menegaskan bahwa ia hanya takut akan kehilangan. Chanyeol menghela nafas, dan membalas tatapan Baekhyun, ia melihat banyak kekhawatiran di dalamnya.
"Itu takkan pernah terjadi, dan jika iya, maka aku akan mati."
"Huh?"
"Aku akan selalu berada di sisimu, aku berjanji takan meninggalkanmu."
Chanyeol mengulurkan kelingkingnya tepat di hadapan Baekhyun, ingin mengikat janji dengan sebuah ikrar pasti. Baekhyun hanya mengamati, bagaimana Chanyeol dengan si kelingking sang janji.
"Bagaimana? Kau suka? Aku tak pernah mengingkari janjiku. Aku takan menyakitimu, aku akan melindungimu, aku takan meninggalkanmu, hmm."
"Tapi jika kau mengingkarinya?"
Hening sejenak, perubahan terlihat jelas dari raut wajah sang giant. Berfikir mencari jawaban jika hal yang tak pasti mungkin saja terjadi. Dan akhirnya bergumam walau si mungil masih dapat mendengar.
"Maka aku akan benar-benar menyesal."
Tanpa diduga sebuah jari melengkapi sang janji, dua kelingking telah mengikrarkan proklamasi. Dua hati satu rasa, melengkapi dengan sebuah senyuman. Perbedaan kontras antara sang giant dan si mungil, namun tampak serasi menjadi sebuah kesempurnaan ilahi.
Sebuah kalimat, beberapa kata, mengungkap janji yang entah dapat ditepati. Janji ketiga telah diputuskan, sebuah benang takdir semakin menyesakkan. Terus mendekat sebagai tumpuan, tanpa pernah tau akan berubah oleh ketakutan. Menuggu semesta menggerakkan sebuah pion, entah hitam ataupun putih sebuah takdir bukanlah lelucon.
.
.
Ujian akhir semester telah dilewati, mengisi liburan panjang untuk dinikmati. Sebuah kabar gembira menemani, sang saudari akan datang menghampiri. Pagi-pagi Baekhyun telah beraksi, mencoba membangunkan sang giant yang berjanji akan mengantarnya pergi. Setelah dipersilahkan masuk oleh sang wanita pemilik rumah, Baekhyun langsung melesat menuju kamar yang telah ia hafal letaknya. Wajar, karena mereka terlalu banyak menghabiskan waktu bersama, seolah dua keluarga memang ditakdirkan menjadi satu.
Baekhyun membanting pintu dengan entengnya, langsung menerjang sang giant yang masih bergelut di atas ranjangnya. Meloncat, memukul, menggoyangkan, semua cara ia lakukan agar sang giant selesai dari hibernasinya.
"Chanyeol~"
"Yeollie~"
"GIANT BODOH! BANGUN!"
"Lima menit Baek."
Sang giant terusik mencoba berdiskusi memberinya waktu tambahan, namun sayang Baekhyun bukanlah pria penyabar. Berdiri, bersiap untuk sebuah lompatan, Baekhyun berbalik menunjukkan sang punggung sebagai tumpuan.
"Satu, dua, hyaaaa~"
BUGH
Sang punggung mendarat dengan mulus pada tubuh sang giant, tepat sasaran mengenai perut rata nan berotot yang membuatnya terbangun seketika. Sedikit merintih dan mengusap perut untuk meredakan nyeri, kepala mulai terangkat dengan tatapan tajam tertuju pada si mungil yang sedang menutup mulutnya dengan kedua tangan.
"BYUN BAEKHYUUUUNNNN!"
Amukan sang giant menyiutkan nyalinya, dengan sigap berlari mencari tempat bersembunyi yang dapat mengamankannya. Terjadilah sebuah adegan yang selalu dilakukan pemain-pemain film di india sana, hingga akhirnya seorang wanita menengahkan dan mencairkan suasana.
"Bersihkan diri dan cepatlah pergi Chan."
"Tapi bu, Baek-"
"Baekhyun sudah membantumu bangun, jangan membuatnya menunggu."
"Ba-baiklah."
Baekhyun yang berada di balik punggung sang ibu dari sahabatnya, mengolok-olok sang giant riang. Menjulurkan lidah dan menggelengkan kepala, sedang Chanyeol yang melihatnya hanya mengirimkan sebuah tatapan tajam seolah dapat menembus melewati tulang, dengan sedikit mengumpat menggumamkan sebuah kata 'Ishh' sebagai protes yang ditunjukkan.
.
Hari yang telah ditunggu oleh Baekhyun akhirnya datang. Sang saudari menjanjikannya kembali, untuk melanjutkan study bersama di kota kelahiran mereka. Sebuah kejutan yang tak pernah Baekhyun harapkan, tapi ia pantas untuk mendapatkannya dengan semua hal yang telah ia lalui sebelumnya.
Setelah menyelesaikan beberapa urusan dalam dokumen untuk kepindahan, Baekhee segera menghubungi sang kakak atas rencana kedatangannya. Dan hari ini, dengan memaksa sang giant untuk mengantarnya, Baekhyun sedang menunggu kehadiran Baekhee di dalam bandara.
Layaknya seorang aktris papan atas yang sedang melakukan adegan syuting, seorang wanita berjalan keluar dari pintu bandara dengan menarik sebuah koper di tangannya. Rambut terkibas seolah angin meniupkannya, benar-benar dramatis. Namun semua image itu hilang, ketika dua pasang hazel tak sengaja saling beradu pandang dan menyebabkan sebuah teriakan melengking memekakan telinga siapapun yang mendengarnya.
"KAKAAAAAK~"
Dengan lambaian tangan tak lupa menghiasi pertemuan dua insan yang telah lama terpisah oleh ruang dan waktu. Dinamakan saudara karena pasti memiliki sebuah persamaan walau tidak signifikan, tak terprediksi bahwa keduanya akan mulai melangkah, berlari saling mendekat.
Sang wanita mendarat dengan mulus pada gendongan sang pria, walau tubuh Baekhyun tak terlalu berisi, namun masih memiliki tenaga untuk sekedar membawa sang adik dalam pelukan. Seperti koala Baekhee bergelantungan pada tubuh sang kakak, tanpa aba-aba mendaratkan ciuman pada dua belah bibir dihadapannya, dapat dikatakan hanya sebuah kecupan singkat.
Terkejut, itulah reaksi Chanyeol saat ini, ia tak pernah tau jika mereka sedekat itu. Wajar saja jika sang adik yang bermanja ria pada sang kakak, namun matanya semakin membola dan mulutnya semakin menganga ketika reaksi yang Baekhyun berikan ialah kembali mendaratkan kecupan pada bibir sang adik, dan diakhiri dengan tawa ria dari mulut keduanya. Tolong bangunkan Chanyeol, karena ia harap ini hanya mimpi.
Chanyeol mendekat mencoba berdeham agar mendapatkan sebuah atensi, yang akhirnya disadari Baekhee dan mulai memperkenalkan diri. Mereka saling pandang, berjabat tangan dan bertukar sebuah nama, entah mengapa Chanyeol merasakan hal besar akan terjadi di hidupnya setelah ini. Hatinya bergetar, merasakan sebuah tanda, namun mencoba mengabaikan karena rasa takut belumlah singgah.
.
.
Sempurna, sebuah kata sederhana yang Baekhyun rasa mampu mendefinisikan keadaannya saat ini. Bagaimana tidak, karena akhirnya ia dapat bersama orang-orang terkasih dalam hidupnya. Walau sang ibu tetap tinggal di jepang, itu tak masalah karena mereka mulai tak jarang untuk melakukan sebuah komunikasi.
Terkadang, kita harus mengorbankan suatu hal untuk mendapatkan hal lainnya. Anggaplah kali ini begitu keadaannya, meskipun Baekhyun dapat melewati waktu bersama dengan saudari dan sahabatnya, namun hal-hal di sekitarnya mulai berubah. Hal kecil seperti sebuah perlombaan yang selalu mereka lakukan dalam perjalanan ke sekolah, tak pernah lagi terjadi karena Baekhyun takkan membiarkan sang adik lelah.
Awalnya, semua berjalan dengan sempurna, bagaimana bahagianya mereka melakukan semua hal bersama. Namun, takdir sesungguhnya baru saja dimulai, ketika ketakutan mulai terdeteksi, sehingga logika tak berfungsi. Seolah magnet tak lagi saling menarik, ketika hujan datang seolah mengusir sang pelangi, maka saat itulah sang penghapus kehilangan diri.
.
Beberapa bulan telah mereka lewati, dengan sebuah perubahan besar yang terjadi. Kesibukan menjadi alasan untuk pergi, menjauh dari sebuah kebiasaan yang tak berarti. Ingin rasanya untuk mengerti, tapi tak ada sebuah penjelasan yang diberi. Yang dapat ia lakukan hanya berdiri, menunggu sang giant untuk kembali.
Chanyeol mengikuti kegiatan olahraga basket di sekolahnya, saat tahun pertama hal itu tak terlalu mengganggu aktifitasnya. Namun kini Chanyeol berada di tingkat dua, selalu terpilih menjadi salah satu perserta untuk mengikuti lomba. Mengharuskannya bekerja lebih ekstra, agar pelatihan dapat memberikannya hasil yang tak terduga. Setidaknya itulah yang ia sampaikan pada Baekhyun, ketika ia mulai memberi jarak yang dulu tak pernah ada diantaranya.
Pergi lebih pagi, pulang lebih malam, itulah alasan mengapa mereka tak bisa melakukan hal bersama seperti sebelumnya. Kelas berbeda yang mereka tempati juga menjadi salah satu faktor sebuah jarak menghampiri. Chanyeol terlalu sibuk dengan kegiatannya, sehingga tak sengaja melupakan seseorang yang menunggunya. Berusaha berfikir positif, itulah yang Baekhyun terapkan dalam diri.
Ponsel seakan tak berguna karena mereka merasa tak membutuhkannya ketika bersama. Terlalu banyak waktu yang mereka habiskan bersama sehingga benda persegi bukanlah prioriti. Namun saat jarak mulai mendekati, sang persegi tetap tak dapat membantunya untuk kembali. Keinginan sebuah penjelasan memanglah tinggi, namun rasa takut diabaikan lebih tak tertandingi.
Jika mereka tanpa sengaja bertemu, hanya sebuah senyuman yang menghiasi, kadang sang giant memilih pergi, karena tak ingin terlalu lama terdeteksi. Jika hanya sebuah kesibukan sebagai alasan, setidaknya waktu libur dapat menggantikan. Namun nyatanya sebuah ketakutan telah mengambil alih, membuat keputusan yang akan sangat disesali.
Jika satu orang pergi, maka setidaknya masih ada seorang lagi untuk memahami. Namun apa yang dapat Baekhyun lakukan jika keduanya seolah dengan sengaja memberi jarak yang tak berarti. Saat Chanyeol mulai menjauh, setidaknya Baekhyun memilik Baekhee untuk berlabuh. Namun nyatanya tak tersisa sebuah harapan untuk singgah, keduanya pergi seakan menjajikan sebuah perpisahan.
Jika Chanyeol disibukkan dengan kegiatannya berlatih basket, maka Baekhee disibukkan dengan kegiatan berlatih cheerleader. Tak jarang mereka menghabiskan waktu bersama karena kegiatan satu sama lain yang saling berhubungan. Menempati kelas yang sama juga menjadi alasan mereka untuk terus bertemu. Seolah dengan sengaja melupakan sang pemeran utama, mereka menikmati waktu ketika bersama.
.
Baekhyun tau, seberapa sering Chanyeol menolak pemberian orang tuanya, terutama sepeda motor yang dulu tak pernah ia inginkan namun kini menjadi pendamping setiap pergerakan. Alasan sederhana sebuah penolakan, namun begitu bermakna bagi sang pemeran. Lalu mengapa kini Chanyeol merubah pikiran, seandainya Baekhyun tau sebuah alasan.
Untuk pertama kalinya ia ingin menarik perkataannya, ia tak membutuhkan sebuah alasan, ia tak menginginkan sebuah penjelasan, biarkan dia dengan ketidaktahuan, agar tak perlu merasakan sebuah kesakitan.
Dua orang sedang menikmati hidangan sebagai sarapan di pagi hari, Baekhyun turun dari arah tangga menuju ruang makan niat untuk bergabung. Namun belum mendapatkan posisi nyaman di atas kursi, sang adik sudah berdiri dan bergegas pergi. Latihan menjadi alasan untuk segera pamit dan melarikan diri.
Belum sempat bertanya, tapi sang adik telah melesat pergi. Karena penasaran apa yang membuatnya terburu-buru, maka Baekhyun mengikuti. Baekhee telah menghilang di balik pintu, berjalan keluar halaman bertemu seseorang yang menunggu. Di balik jendela Baekhyun mengetahui, alasan mengapa semua orang mendorongnya pergi.
Sepeda motor terpakir kokoh di halaman depan rumahnya, dengan seorang pengendara yang Baekhyun kenal seluruh hidupnya. Park Chanyeol, sang giant yang sedang menunggu sang putri menghampirinya. Dengan kedua senyuman sebagai sambutan, tak pernah tau ada goresan luka yang akan tercipta karenanya.
Byun Baekhyun, entah apa yang salah dengan dirinya, begitu membenci sebuah kenyataan yang harus diketahuinya. Dengan kedua matanya ia melihat sang saudari menaiki sepeda motor sang sahabat, rasanya sesak, dan semakin sesak ketika penglihatannya dipaksa menyaksikan dua insan yang berbagi kehangatan dalam sebuah pelukan.
Jika ia tau semua hal itu adalah alasan, maka ia tak akan pernah menuntut sebuah penjelasan. Namun sebagian dirinya masih tetap protes, mengapa mereka seakan menyembunyikan jika hal itu dapat membahagiakan. Seharusnya Baekhyun bahagia ketika melihat saudari dan sahabatnya dapat berbahagia, namun mengapa ia tak rela karena bukan ialah poros utamanya.
Di balik tirai jendela Baekhyun tersiksa, memaksa sang dada agar tak menimbulkan luka. Namun mengapa rasanya tetap sama, walau dengan keras ia membenturkan sebuah kepalan pada sang dada, ia tetap merosot tak dapat menahan sebuah derita.
.
Baekhyun telah berusaha, setiap detik tak terlewat untuknya mencoba mengembalikan sebuah keadaan. Namun tak dapat berubah karena tak adanya kemauan dari pihak luar, mereka terlalu nyaman dengan suasananya yang sekarang, dan Baekhyun terlalu menyedihkan untuk bisa melanjutkan kehidupan.
Pernah sekali sang sahabat berkunjung ke rumah, berfikir sebuah kesempatan akan datang merubah. Namun kembali mendapat luka ketika mengetahui alasan sebenarnya, bertemu sang ayah sekedar mendapat izin membawa sang saudari pergi hingga larut malam.
Harapan pupus ketika izin didapatkan, pergi dengan sebuah senyuman dan lambaian tangan. Bukan sebuah roda dua namun roda empat sebagai tumpangan, tak berani menatap hanya bisa meratap. Sebenarnya, apa arti dirinya bagi orang-orang itu? Apa selama ini hanya ia yang merasakan hal istimewa pada mereka? Atau ia yang begitu bodoh berfikir bahwa mereka akan selalu bersamanya?
.
Satu tahun terlewati, tahun ke-3 mulai mereka masuki. Tak pernah memprediksi perubahan yang terjadi, sehingga tak pernah siap untuk menghadapi. Menjadi hal biasa bagi Baekhyun untuk sendiri, karena semua orang yang dikasihi telah pergi. Walau mencoba untuk berlari, namun rasanya sulit untuk sekedar berdiri.
Tak asing baginya melihat mereka bersama, namun masih memendam sebuah tanya, mengapa mereka mengabaikannya. Saat pergi, saat berada di sekolah, bahkan saat pulang, ia selalu melihat bagaimana kemesraan mereka. Sampai kapan ia harus menunggu? Saat dimana mereka akan mengungkapkannya.
Dan untuk yang kedua kalinya, Baekhyun ingin menarik semua kalimat sebelumnya. Ia tak ingin sebuah kebenaran, ia tak perlu sebuah pengungkapan. Jika diumpamakan sebagai sebuah perpisahan, tak perlu mengatakan bahwa ini sebuah pemberitahuan. Hanya ucapkan selamat tinggal, atau dengan tegas katakan bahwa ia tak diperlukan.
Malam itu, tiba-tiba sebuah benda persegi yang dikenal sebagai alat komunikasi berdering menandakan pesan masuk telah diterima. Baekhyun beranjak dari ranjang sekedar melihat siapa pengirim dari pesan yang ia terima di ponselnya. Dan posisinya seketika tegap saat melihat sebuah nama yang sangat ia rindukan keberadaannya, 'My Giant' sebuah nama yang seharusnya tak pernah ia harapkan kehadirannya.
'Hei Baek?'
'Oh Chan, kenapa?'
'Kau sibuk?'
'Tidak, ada apa?'
'Ada yang ingin aku sampaikan.'
'Tentang?'
'Baekhee... dan aku. Bisakah aku menelfonmu? Kita bicara melalui telfon?'
'Ahh itu, sampaikan saja lewat pesan Chan. Aku akan membacanya dengan teliti.'
Bukan Baekhyun melewatkan kesempatan untuk sekedar melepas rindu mendengar suara sang giant kesayangannya. Namun jika hal yang disampaikan akan membuatnya tak nyaman, apa yang harus ia lakukan ketika suara yang keluar begitu bergetar. Baekhyun hanya tak ingin orang-orang mengetahui kondisinya yang lemah, maka ia takkan pernah menjadi kuat ketika sisi yang lain mulai terungkap.
'Baiklah... sebenarnya aku rasa tak perlu menyampaikan hal ini kepadamu, karena aku yakin kau akan mengerti bagaimana situasinya. Hanya saja, Baekhee bersikeras memintaku untuk memberitahumu, jadi disinilah aku, hanya bisa memberitahumu melalui pesan, maaf karena aku tak bisa menyampaikannya secara langsung.
Sebenarnya, Baekhee dan aku sudah lama berkencan. Hanya saja, kami tak memiliki keberanian untuk memberitahumu. Mungkin kau akan sulit menerimanya, maka dari itu kami mencoba memberimu waktu untuk memahaminya. Ku harap kau menyetujui hubungan kami, Baek.'
'Ahh tentu saja, kau tak perlu meminta izinku untuk bersama Baekhee. Aku mengenalmu sangat baik Yeol, aku tau kau pantas untuknya.'
'Ahh syukurlah, terima kasih Baek.'
'Hmm, ku harap kalian selalu bahagia.'
'Pasti.'
Kemudian isak tangis mulai mengisi sebuah ruangan, sedikit menahan agar tak ada satupun yang mendengar. Ia tau akan seperti ini pada akhirnya, namun mengapa rasanya masih terlalu mengejutkan. Memeluk boneka rilakuma seukuran tubuhnya, yang ia beli satu pasang bersama sang giant sebagai ati dari sebuah persahabatan. Berharap sesuatu yang berada dipelukannya, merupakan imajinasi seseorang yang dirindukannya. Memeluk erat sang boneka, seolah menyampaikan rasa pada dia yang sama memilikinya.
Dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya, ia mulai terpejam dengan sedikit isakan. Tak pernah ia lepas sebuah pelukan, seolah akan menghilang seperti orang-orang disekitarnya. Mulai malam itu Baekhyun menyerah, ia tak ingin lagi berusaha, hati yang ia coba tegarkan dengan susah payah, hanya untuk menunjukkan bahwa ia dapat terus bertahan.
.
Dengan berusaha keras Baekhyun melewati tahun terakhirnya di SHS, sendirian. Baekhyun bukanlah pria yang mudah berbaur, hanya berteman dengan mereka yang menyapanya. Bahkan sesekali mengabaikan karena terbiasa melakukan semua hal sendiri. Namun perubahan besar terjadi pada dirinya saat ia mengenal Chanyeol, entah apa yang istimewa dari seorang Park Chanyeol yang dapat membuat Baekhyun bergantung padanya.
Kehadiran Chanyeol seolah menjadi tiang dalam hidupnya agar tetap berdiri kokoh, seorang giant yang akan merelakan dirinya hanya untuk melindungi si mungil. Maka jangan salahkan Baekhyun ketika dirinya mulai bergantung, dan harus berusaha berjuang ketika dirinya ditinggalkan.
Terlalu lelah dengan keadaan, sehingga menimbulkan sebuah keputusan. Menyusul sang ibu yang berada di jepang, untuk melanjutkan sebuah pendidikan. Berharap akan ada satu yang melarang, namun semua merasa senang.
Setelah hari kelulusan, Baekhyun langsung melesat pergi ke bandara. Sang ayah menawarkan jasa untuk mengantar, namun Baekhyun bersi keras bisa melakukan semuanya sendiri. Tak ada satu orangpun yang mengantar kepergiannya. Ia berdiri di tengah ramainya aktifitas bandara, berharap seseorang akan menghampiri untuk sekedar mengucapkan salam perpisahan. Namun harapnya tak pernah terpenuhi, hingga panggilan terdengar dari pengeras suara bahwa pesawat dengan tujuannya akan segera lepas landas, tak ada seorang pun yang menahannya untuk pergi.
Jika ada satu, satu orang saja yang memintanya untuk tinggal, maka Baekhyun berjanji akan lebih kuat menjalani kehidupannya di sana bersama mereka. Namun kenyataan terlalu kejam, membiarkannya pergi dengan kesedihan. Atau bahkan semesta hanya mengasihaninya, agar tak terlalu dekat dengan sumber penderitaan.
Hari itu menjadi awal, bagaimana Baekhyun akan memulai kehidupan baru tanpa kasih sayang. Menatap jendela yang berada di sampingnya, melihat bagaimana pemandangan luar yang mulai menjauhinya. Berusaha terbang bebas tanpa adanya luka, meninggalkan seluruh kenangan yang menggetarkan jiwa. Byun Baekhyun, selalu berdo'a dalam tidurnya akan kebahagiaan yang menantinya di depan.
.
.
Waktu terasa begitu panjang jika dilewati seorang diri, itulah yang Baekhyun rasakan ketika menjalani hidupnya tanpa ada yang menemani. Ia memang tinggal bersama sang ibu di jepang, hanya saja waktu yang mereka lalui ketika bersama terlalu singkat karena kesibukan yang mereka jalani, sehingga dapat dikatakan Baekhyun mengatur seluruh kehidupannya dengan mandiri.
Jika dihitung dengan akurat, waktu yang ia lalui bersama mereka jauh lebih lama dibandingkan ia melalui semuanya sendiri. Namun entah mengapa, rasanya begitu singkat kebersamaan dengan mereka seakan ia dapat dengan mudah melupakan semua.
Membutuhkan waktu selama 4 tahun bagi Byun Baekhyun untuk menyelesaikan pendidikannya, dan hanya butuh waktu 1 tahun baginya untuk menjadi seorang kepala arsitektur sebagai profesi yang dijalaninya. Lima tahun waktu yang telah ia lewati jauh dari negara kelahirannya, dan selama itu pula Baekhyun terus berusaha melupakan setiap hal yang selalu menjadi mimpi buruknya.
Pergi menjauh bukanlah hal yang tepat dalam keputusan, meskipun mencoba mengabaikan, namun diri selalu menunjukkan ketakutan. Jika Baekhyun tau pergi akan tetap membuatnya menderita, maka ia tak perlu menunggu seseorang yang akan menariknya tetap di tempat. Tidak, maka Baekhyun takkan pernah memutuskan sebuah perpisahan, karena satu-satunya hal yang ia butuhkan hanyalah melihat senyumnya selalu berada di hadapan.
Jika diizinkan untuk menyimpulkan, maka ia yakin dialah satu-satunya yang paling mengenaskan. Ia selalu menerawang bagaimana kebahagiaan yang mereka rasakan tanpa menghiraukan dirinya yang kesepian. Begitu tragis seolah ia hanya pemeran antagonis yang menginginkan akhir sadis bagi mereka sang protagonis.
Ini kisah hidupnya, namun mengapa ia merasa hanya menjadi sebuah figuran dalam kisah orang lain. Seolah kebahagiaan yang ia rasakan bukanlah miliknya, sehingga datang waktu sang pemilik mengambilnya. Tanpa peduli bagaimana perasaannya, semua direnggut tepat di hadapannya.
.
Sudah hampir satu bulan sang ibu pergi ke kampung halaman, berniat liburan mencari kesegaran, itulah yang dikatakannya pada Baekhyun sebagai izin untuk pergi meninggalkan. Sebagai anak yang berbakti, Baekhyun mengizinkannya sepenuh hati, menyempatkan diri untuk mengantar sang ibu pergi.
Baekhyun kira sang ibu hanya akan menghabiskan waktu paling lama selama satu minggu di sana. Namun hingga kini, belum mendengar berita sebuah rencana untuk kembali. Mungkin terlalu nyaman bersama sang saudari, setelah beberapa tahun ditinggalkan, wajar saja jika sang ibu masih merindukan sang putri, begitulah yang Baekhyun fikirkan.
Namun selembar kertas memberinya sebuah penjelasan, mengapa sang ibu pergi untuk waktu yang cukup lama. Hari terlalu pagi untuk melakukan aktifitas, namun kenyamanan dalam ranjang harus disingkirkan karena seseorang yang menekan bel terus menerus. Baekhyun beranjak sedikit merapikan diri, berjalan ke arah pintu agar dapat menemui.
Seorang kurir berdiri di hadapannya saat pintu telah terbuka, dengan sebuah senyuman canggung merasa telah mengganggu, ia memberikan paket kepada sang pemilik rumah. Baekhyun menerimanya dan segera menutup pintu setelah sebelumnya mengucapkan terimakasih.
Melihat-lihat sebuah paket di tangannya, akhirnya Baekhyun menemukan sebuah alamat pengirimnya. Itu alamatnya di seoul, alamat sang ayah. Dengan perasaan yang menggebu setelah sekian lama ia tak pernah mendapat kabar dari mereka, akhirnya ia menerima sesuatu untuk sekedar melepas rindu.
Tanpa sabar Baekhyun merobek acak untuk membukanya, namun setelah mengetahui isinya. Untuk yang ketiga kalinya ia benci perkataan yang ia lontarkan, ia tak butuh sebuah kabar, ia tak ingin rasa rindunya berkobar. Selembar kertas di genggaman memberinya sejuta makna akan kesakitan, tertulis kapital dengan hiasan bergelombang, dua huruf tersemat dengan indahnya dalam sebuah ikatan.
'C & B' terpampang jelas dalam sebuah kartu undangan, undangan sebuah pernikahan. 'Park Chanyeol & Byun Baekhee' yang selanjutnya Baekhyun lihat saat mulai membuka lembaran di tangannya lebih lebar. Mencari sebuah penompang, agar diri tak ambruk dalam kesakitan, aliran bening mulai mengalir, sebuah isakan mulai terdengar.
Mengapa hanya ia satu-satunya yang baru mengetahui hal ini? Mengapa mereka seolah tak mengetahui dan menyembunyikan dari dirinya? Mengapa harus sebuah surat undangan ketika mereka bisa memberitahunya secara langsung? Apa Baekhyun orang asing bagi mereka? Lalu apa alasan Baekhyun dilahirkan?
Baekhyun terpuruk dalam kesendirian, terus mengadu dalam kesunyian. Sebuah isakan terus membesar, mulai menimbulkan sebuah kerusuhan. Terlalu sakit menerima kenyataan, membuat logikanya hilang tujuan. Seakan ruangan tempatnya bertahan, menjadi arena perang dalam pertarungan.
Semua benda yang tertangkap penglihatan, menjadi korban atas kemarahan. Kondisinya tak jauh berbeda dengan sekitar, berantakan. Baekhyun terlalu larut dalam kesedihan, sehingga tak peduli akibat yang ia lakukan. Rumahnya berubah menjadi kapal pecah, semua barang berserakan tak kenal arah.
Tak ingin terus merusak sekitar, jalan lain ia ambil sebagai keputusan. Beer, wine, semua jenis alkohol ia hidangkan, tak peduli terlalu pagi untuk menikmati, masa bodoh dengan perut yang belum diisi. Kesadaran Baekhyun terenggut begitu saja, setelah belasan botol yang ia habiskan, ia hanya tertawa meratapi kesialan.
Sebuah tawa, sebuah cegukan, sebuah tangis lalu teredam oleh dengkuran. Terus berulang saat Baekhyun mulai tersadar, lalu kembali terlelap hingga nanti sebuah ringisan menyadarkan. Pagi, siang, sore, hingga malam yang Baekhyun lakukan hanya bergelut dengan minuman. Tak terhitung berapa jumlah yang Baekhyun habiskan, mungkin puluhan.
Satu hari penuh atas ketidaksadaran, membuatnya semakin lemah saat terbangun dalam kegelapan. Hari telah berganti, namun diri sulit untuk mengenali. Sebuah ingatan menyadarkannya, akan janji yang harus ia temui. Kemarin sudah cukup bagi Baekhyun untuk merajuk, hari ini ia akan ikut merasakan kebahagiaan mereka dalam sebuah pernikahan.
Meski tubuhnya terlalu lemah, kepalanya terasa berdengung, Baekhyun memaksakan diri untuk bangun. Melihat sekitar bagaimana kacaunya keadaan yang ia timbulkan, sedikit berdecak tetap melanjutkan langkah untuk membersihkan diri sebelum perjalanan. Tak mengingat bagaimana keadaan, Baekhyun bersi keras menghadiri sebuah undangan.
Setelan jas hitam menghiasi tubuh rampingnya sebagai balutan, berdiri di depan cermin sekedar merapikan penampilan. Sesuatu berwarna merah tiba-tiba mengalir dari hidungnya, Baekhyun dengan sigap mengambil selembar tisyu untuk menghapusnya. Ia mimisan, namun tak peduli dengan keadaan.
Hanya membawa beberapa barang yang dibutuhkan, beserta tiga lembar kertas yang telah menjadi saksi kehidupan. Sebelum pergi ia menyempatkan, menambah selembar kertas dengan tulisan. Kini empat berada di genggaman, berharap dapat diterima sesuai tujuan.
.
Lima tahun lalu ia berada dalam pesawat yang sama, dengan keadaan yang kacau ia meninggalkan. Tak telintas jika ia akan kembali, setidaknya dengan kondisi yang lebih baik. Namun semesta seperti menghukumnya, ia akan kembali dengan keadaan yang lebih parah dari sebelumnya.
Di dalam pesawat, wine kembali menemani Baekhyun dalam perjalanan. Dari dalam hidung darah kental kembali timbul, tak mempermasalahkan hanya menghapus dengan sapu tangan dari dalam saku. Perutnya terasa sakit namun ia tetap mengabaikan, hingga pesawat mulai mendarat tak ada niat menyesali keputusan.
Dalam perjalanan sebuah ingatan menerawang, bagaimana dua kelingking mengikat takdir yang mengerikan. Terlintas dalam fikiran atas sebuah perubahan, untuk tak pernah menawarkan petemanan pada bocah gendut yang kesakitan. Jika ia tau hanya menjadi penghapus yang dimanfaatkan, maka tak akan mengambil satu langkah untuk membersihkan.
Namun setelahnya bayangan kembali datang, bagaimana tawa mereka bagi bersama. Menyaksikan sebuah perubahan, ketika si buruk rupa berubah menjadi pangeran. Ketika dirinya menjadi alasan, ketika dirinya menjadi tujuan, sebuah senyuman yang menghangatkan. Jika ia diberi kesempatan, untuk kembali memutuskan, maka hal yang sama akan terulang, meski ia tau diakhiri sebuah penyesalan.
Dengan kuat ia menahan diri, agar tak gugur dalam perjalanannya pergi. Walau kondisi semakin menyakiti, namun ia abaikan untuk tetap berdiri. Setelah menyaksikan sebuah janji suci, ia berjanji akan menghilang seolah ditelan bumi. Maka langkahnya menjadi kian pasti, mengakhiri sebuah beban dengan berani.
.
Byun Baekhyun berjalan dengan gontai dari arah sisi, berdiri paling belakang dengan tangan meremas pakaian bagian perut menahan sakit. Mencoba tetap berjalan agar tujuan mendapat atensi dari sang sahabat terpenuhi. Namun rasa sakit tak membiarkannya pergi, sedikit terbatuk dengan gumpalan merah yang menemani. Baekhyun ambruk dengan sebuah senyuman yang menghiasi, ketika penglihatannya dapat mendeteksi wajah seseorang untuk terakhir kali.
Park Chanyeol, beridiri di depan altar menanti seseorang di balik pintu untuk datang menghampiri. Atensinya diambil alih ketika ada keramaian dari arah sisi, belum selesai menuntaskan sebuah penasaran, hal yang ditunggu merampas kembali seluruh atensi.
Seorang wanita berjalan dengan anggunnya, tangan digenggam oleh pria yang berada di sampingnya. Byun Baekhee, menjadi satu-satu poros perhatian setiap mata yang berada di dalam ruangan. Sang pengantin wanita yang menghampiri sebuah kebahagiaan hingga akhir hidupnya. Dengan dihiasi sebuah senyuman, mereka berbahagia mengikrarkan janji, tanpa mengetahui dengan pasti, seseorang tersakiti dan memutuskan pergi.
.
.
Satu minggu terlewati, namun hanya satu orang yang tak mengetahuinya pergi. Semua menutup mulut tak memberinya informasi, seakan mengetahui akibat yang akan terjadi. Namun hati tempatnya mengasihi, tak dapat bertahan untuk terus menutupi. Dengan menggenggam sebuah kunci, Baekhee memulai suatu komunikasi.
"Pergilah temui Baekhyun, kurasa ada hal yang ingin ia sampaikan, Chan."
"Dia bisa menghubungiku, tak perlu susah payah menghampirinya. Jika ia hanya ingin mengatakan bahwa ia menyesal tidak memenuhi undangan, katakan aku tak membutuhkan sebuah penyesalan."
Sebuah tangan menariknya untuk menerima dalam genggaman, Chanyeol menatap Baekhee penuh tanya saat melihat sebuah kunci di telapak tangan. Dan setelah mendengar penjelasan, Chanyeol berlari dengan sebuah isakan. Ingatannya melayang pada setiap kata yang ia dengar dari sang pasangan.
'Maaf memeberi tahumu begitu terlambat,
Semua orang sepakat untuk menutupi hal ini hingga akhir,
Namun aku sangat mengetahui hal yang bahkan tak kau ketahui,
Aku hanya ingin kau tak menjalani hidup dalam penyesalan,
Pria yang selama ini menemani hidupmu, telah pergi dan tak akan kembali.'
Terus berlari dan menghapus tangisan, Chanyeol berusaha tegar mengingat setiap perkataan. Namun sesekali kakinya membentur bebatuan, membuatnya harus berusaha lebih untuk melanjutkan. Dirinya semakin melemah ketika ditinggalkan, namun sangat menyesal ketika mendengar alasan akan kematian.
'Hari itu ia datang, asal kau tau,
Tetapi tubuhnya terlalu lemah dan ia terlalu memaksakan diri,
Aku tak tau pasti, namun ia ambruk sebelum acara inti,
Ketika kita sibuk menjemput kebahagiaan, maka ia disibukkan menjemput kematian,
Bahkan pertolongan petama tak mampu dilakukan, hingga membuatnya berakhir dengan mengenaskan.
Mereka mengatakan kondisinya memang sudah melemah, namun karena tak mendapat asupan juga alkohol yang berlebihan, begitu mudah baginya menghembuskan nafas terakhir,
Apa ia begitu terpuruk? Atau mendapat beban begitu berat? Aku tau kau akan lebih menyesal dari yang aku rasakan,
Jadi kumohon, temui dia dalam persinggahan terakhirnya.'
Hingga tiba Chanyeol bertemu Baekhyun dalam keadaan yang berbeda, tangisnya pecah melihat sang sahabat hanya tinggal abu. Semua ingatannya melayang pada saat kelingking si mungil menawarkanya kebahagiaan, hingga ingatan dimana kelingkingnya menjanjikan tiga hal yang ia kacaukan. Mengapa Chanyeol hanya bisa memberi luka, ketika Baekhyun memberinya bahagia.
Seharusnya ia tak menekan begitu kuat sang penghapus hanya untuk menghilangkan noda, jika ia tau bahwa sang kertas hanya akan membuat sang penghapus menghilang, maka ia akan membiarkan sang pena menorehkan noda. Sebuah penyesalan dalam takdir yang ironis, akibat semesta yang tak seharusnya menyatukan dua hati untuk melengkapi.
Pandangan Chanyeol sedikit kabur karena air mata yang keluar tak ingin berhenti. Menatap ke tempat dimana sahabatnya beristirahat, dengan dua figura mungil yang menemani, Chanyeol melihat potret diri bersamanya melalui pertumbuhan selama ini, dan satunya tergambar saat sang sahabat memakai toga kelulusan, membuatnya semakin terisak dalam penyesalan.
Namun tangisnya mulai terhenti ketika pandangannya tanpa sengaja melihat lembaran kertas terselip diantaranya. Mengingat sebuah benda yang diberikan sang kekasih padanya, Chanyeol merogoh saku untuk mengeluarkan sebuah kunci yang dapat membuka pintu kaca kecil di hadapannya.
Berusaha mereda tangisan Chanyeol perlahan menggunakan sang kunci, berhasil mendengar 'klik' ia lantas membuka dan membawa tangannya untuk meraih kertas-kertas disana. Empat lembar surat dengan tanggal berbeda namun tujuan yang sama 'My Giant, Park Chanyeol' dan air mata yang berusaha ia tahan, kembali mengalir membasahi kedua pipinya. Tak ingin terlalu lama membuat sebuah kesimpulan, Chanyeol mulai membuka dan membaca setiap kata dalam tulisan.
Di awali pada tahun 2019, dua tahun setelah Baekhyun memutuskan untuk pergi.
'2019, tujuh tahun lalu,
Aku mengenal seorang giant, yang menjanjikanku suatu hal.
Namun akhirnya ia inkar, menyakitiku begitu dalam.
Apa kau fikir aku tak memiliki hati? Sehingga dengan mudah kau sakiti?
Maaf aku tak dapat memukulmu sebagai hukuman, tak seperti hal yang kau katakan.'
.
.
'2020, lima tahun lalu,
Giant yang ku kenal, kembali menjanjikanku satu hal.
Namun ia tetap inkar, tak ada disisi ketika aku butuh perlindungan.
Apa kau fikir aku pria yang kuat? Sehingga tak pantas kau lindungi?
Maaf aku tak bisa membunuhmu sebagai hukuman, tak seperti hal yang kau katakan.'
.
.
'2021, lima tahun lalu,
Lagi-lagi giant bodoh yang ku kenal menegaskan sebuah janji.
Namun hingga akhir ia tetap inkar, meninggalkanku dengan sebuah kesakitan.
Apa kau fikir aku bukanlah manusia? Sehingga dengan mudahnya kau tinggalkan aku sendirian?
Kematian tak kau dapatkan, sebuah senyuman kau lukiskan, tak seperti hal yang kau katakan.'
.
.
'2022, tahun terakhir aku mengharapkan,
Hei Giant, apa kau bahagia?
Maaf selalu memanggilmu bodoh, kini aku tau akulah manusia terbodoh.
Apa kau masih mengingatnya? Atau kau membiarkan dirimu melupakannya?
Sebuah janji yang kau berikan padaku, apa semua itu tak berarti?
Apa aku begitu tak berharga bagimu giant? Mengapa kau berjanji jika akhirnya kau inkari?
Hei Giant, apa kau bahagia?
Maaf karena aku kecewa melihat alasan lain yang membuatmu tertawa.
Kau pantas berada di sisinya, begitu juga sebaliknya.
Tolong jangan berikan ia sebuah janji, aku hanya takut kau akan mengulangi.
Jaga dia untukku giant, jangan menyakitinya maupun meninggalkannya.
Hei Giant, apa kau bahagia?
Dapatkah kau menjanjikan satu hal lagi untukku?
Berjanjilah kau akan melupakanku, biarkan aku yang hanya mengingatmu.
Berjanjilah kau akan bahagia, biarkan aku yang hanya menderita.
Berjanjilah untuk menepati janjimu kali ini.
Dan aku berjanji, ini akan menjadi permintaanku yang terakhir.
Hei Giant, apa pernah sekali kau merindukan?
Setiap saat aku selalu merindukanmu, merindukan saat dimana kita selalu bersama.
Bisakah aku menyampaikan sesuatu? Karena aku tak sanggup menyimpannya sendiri.
Terimakasih atas kebahagiaan yang kau bagi, terimakasih atas penderitaan yang kau beri.
Aku mencintaimu Giant, maaf karena aku tak bisa membencimu.'
Chanyeol bangkit menghapus air matanya, setelah dengan teliti membaca seluruh kata yang Baekhyun sampaikan dalam suratnya. Menundukkan kepala tak berani menatap walau hanya sebuah nisan dihadapannya, mengepalkan kedua tangan tak tau apa yang harus ia lakukan jika yang ia temui saat ini seseorang yang dapat meresponnya.
Beranjak, melangkah menjauh dengan sejuta penyesalan dalam dirinya. Sebelum sebuah kalimat ia sampaikan untuk terakhir kalinya.
"Maaf karena hingga akhir aku tak bisa menepati semua janji, bahkan janji terakhir meski itu permintaanmu yang terakhir. Aku akan selalu merindukanmu Baek."
.
.
The End
.
.
NO SEQUEL!
/nyemplung ke segitiga bermuda/
HAPPY BIRTHDAY TO BYUN BAEKHYUN :3
Hope you'll find your happines, ofcaurse with 'C' because B is always be side C haha.
Ternyata begini ya rasanya menyelesaikan hal sesuai dengan target, terimakasih kepada kalian yang sudah menyempatkan diri untuk membaca, fav, fol, and review, i love you guys :*
Saya memang tak berencana membuat sequel, karena saya takut mengubah arti cerita yang telah saya buat, mungkin lebih tepatnya saya tak bisa menceritakan dari sisi yang berbeda. Maka dari itu saya berniat untuk mengadakan sesi wawancara, tapi... karena feedback yang saya terima tidak sesuai ekspetasi dan kuantitas jadi saya urungkan niatnya hehe.
Saya kira akan ada jawaban dari pertanyaan saya di note chapter sebelumnya, tapi ternyata tidak ada yang menjawab sama sekali :') tapi tak apa, sekali lagi terimakasih yang sudah menyempatkan diri mampir. Dan semuanya berakhir disini, sampai jumpa di karya-karya saya selanjutnya ^v^/
gomawo~
~salam. Aciw
.
p.s: maaf karena saya membuat sebuah cerita dimana pelangi hadir sebelum hujan, saya benar-benar menyukainya :v
