A/N: Makasih buat semua yang udah review! Seperti permintaan kalian, saya updet cepet~ Hohohoho~ ^^ Kali ini settingnya AU. Tenang, aja. Chapter ke depan AU semua kok. Gak lagi2 saya bikin canon. Jujur, saya gak bebas bikin canon. Kalo gak karena terpaksa aja... =_=" *sigh*

Dan saya gak akan menolerir kalo semisal ada yang ngeflame soal pairing yang saya bawa ini. Saya tau kalo pair ini crack dan mungkin aneh. Tapi tolong, hargai apa yang sudah saya tulis dan gak perlu menghina pairnya. Kalo gak suka ama pairnya, gak perlu dibaca. Beres 'kan? :)

On with the story~ :DDDD


I Was Born To Be With You © Viero D. Eclipse

Disclaimer: SHINee and DBSK/TVXQ are belongs to SM Entertainment, God and them self

Casts: Max Changmin, Lee Jinki 'Onew', other K-Pop Boyband members (as cameo).

Pairing: ChangNew (Max Changmin x Lee Jinki 'Onew')

Genre: Romance/Drama/Humor semi crack in this chapter

Rated: T

Warning: AU, tiap chapter settingnya berbeda, tergantung dari reinkarnasinya Changmin, Abal, Boy x Boy/Shounen ai, OOC, Alur gaje, Klise, redundansi, typo(s) mungkin bertebaran

Don't Like? Don't Read!


"And ever has it been known that love knows not its own depth until the hour of separation." – Khalil Gibran


1st Reincarnation

Branch Manager.

Itulah profesi yang diemban Changmin di kehidupan keduanya. Namja itu bukanlah lagi sesosok idola yang tenar di Korea. Namja itu bukanlah lagi menjadi figur dengan banyak fans yang memujanya. Namja itu bukanlah lagi seorang penyanyi dengan suara emas yang selalu menampakkan tahta kesempurnaannya di atas panggung.

Ia adalah seorang Branch Manager.

Balutan jas hitam dan tas kerjanya yang tampak elegan merupakan pertanda bahwa ia merupakan salah satu dari kumpulan orang-orang berdasi dengan karir yang cukup cermerlang. Meskipun ia bukanlah sesosok artis dengan nama yang mendunia, itu bukan berarti ia tak memiliki satupun penggemar.

Jangan salah.

Ia dikenal sebagai Shim Changmin. Namja dengan paras setampan dewa, berusia 24 tahun dan memiliki penghasilan yang tak bisa dianggap remeh. Di usianya yang masih muda itu, ia sudah mampu menjabat sebagai Branch Manager dari sebuah perusahaan kosmetik terbesar di Amerika. Dan kini, ia pun dipindahtugaskan ke Korea untuk mengawasi sebuah cabang baru di sana.

Belum lagi dengan beberapa saham yang sudah ia tanamkan di perusahaan tempat ia bekerja itu. Hampir 50 persen pendapatan perusahaan berada di genggamannya. Jangan tanya, sudah berapa banyak uang yang menumpuk di rekeningnya. Namja itu yakin bahwa uang itu tak akan habis sampai ia pensiun sekalipun.

Dan mengingat faktor kejeniusan dan karisma Changmin dibalik segenap kekayaan dan kesuksesannya, tentu hal itu membuatnya disegani oleh banyak orang. Rekan-rekan kerja yoejanya berlomba-lomba untuk mendapatkan cintanya. Namun, sayang. Sampai saat ini, tak ada yang mampu untuk menaklukkan namja sempurna itu. Tak ada yang tahu, seperti apa sosok ideal yang Changmin inginkan untuk dijadikan sebagai pasangan hidupnya. Namun yang jelas...

Changmin bukanlah namja yang bisa jatuh cinta semudah itu.

.

.


Udara pagi yang berhembus dari balik kaca jendela apartemen, membuat Changmin mengerjapkan matanya. Segumpal mimpi yang menyelubungi benaknya di kala matanya terpejam itu lantas sirna begitu saja. Ia bahkan tak mampu mengingat, mimpi apa yang sudah ia lihat di dalam tidurnya. Tapi perkara itu tidaklah penting untuk dipikirkan sekarang.

Dengan lemas, ia mulai mengepalkan kedua tangannya dan mengangkatnya tinggi-tinggi. Mulutnya menguap pelan dan jemarinya mencoba mengusap hamparan matanya yang masih tampak memerah. Ia masih mengantuk tentu saja. Karena baru semalam ia mendarat di Korea dan langsung menempati sebuah kamar apartemen yang sudah dipersiapkan untuknya.

Beruntung, hari ini ia memiliki waktu yang cukup luang, mengingat bosnya—yakni Jung Yunho—yang menyuruhnya untuk menyurvey cabang perusahaannya besok pagi. Bosnya itu beralibi bahwa dengan meliburkan Changmin hari ini, maka ia bisa memberikan kesempatan pada namja itu untuk mengenal Korea dan beradaptasi dengan tempat tinggal barunya itu.

"Tch. Padahal aku 'kan juga orang Korea? Sudah hampir 17 tahun aku tinggal di Seoul. Aku tak butuh waktu untuk beradaptasi."

Ya. Changmin hanya dapat bergumam sendiri. Tujuh tahun tinggal di Amerika tak akan membuatnya lupa akan setiap lekukan jalan dan beberapa tempat yang ada di Seoul. Bagaimanapun juga, ia dilahirkan di negara itu. Tentu ia tak akan melupakan bahasa ibunya meskipun lidahnya itu sudah terbasuh dengan berbagai bahasa internasional.

Grroowwll

Gemuruh suara itu membuat Changmin terbelalak. Ternyata perutnya sudah mulai meronta-ronta, memohon makanan. Dan ia belum sempat membeli suplay makanan kemarin malam.

"Aishh... sepertinya aku harus berbelanja di supermarket. Sebaiknya aku mandi dulu untuk sekarang." Dengan raut yang tak begitu antusias, namja itupun mulai beranjak dari ranjangnya dan melangkahkan kaki menuju ke kamar mandi.


Ramai.

Situasi di sepanjang tepian jalan setapak tampak dipadati oleh rumpunan orang-orang yang berlalu lalang dengan kedua kaki mereka. Dan dibalik kerumunan itu, Changmin terlihat berjalan dengan langkah stagnan sembari menyelipkan kedua tangan di saku celananya. Ia terus berjalan bersamaan dengan genangan nostalgia yang menyapu nalarnya. Seoul tak pernah berubah. Kota itu akan selalu menjadi highlight di Korea selatan sampai kapanpun juga.

Setelah melewati sebuah taman, beberapa gedung perkantoran dan juga pasar tradisional, akhirnya Changmin berhasil tiba di sebuah supermarket tak jauh dari apartemennya. Namja itu lantas melangkah masuk dan mengambil sebuah keranjang yang sudah dipersiapkan untuk para kostumer.

"Baiklah, hal pertama yang harus dibeli adalah... daging. Ya, benar. Daging. Lalu telur, tepung, minyak, beberapa sayuran dan..." Dengan gerakan yang hampir tak terbaca mata, namja itu mulai mengambil semua material yang ia butuhkan. Bahkan beberapa bahan makanan yang sejatinya tak perlu, tetap tak luput dari perhatian Changmin. Ia adalah seorang Food Monster. Jadi jangan tanyakan, mengapa ia membeli banyak sekali persediaan makanan yang sepertinya cukup untuk dihabiskan selama setahun.

Ia benar-benar terlihat seperti seorang pemborong yang membajak hampir dari setengah material yang dijual di supermarket.

Dan Changmin tak peduli dengan beberapa ahjumma yang memandangnya dengan begitu skeptis dan menganga. Cih! Apa mereka tak pernah melihat orang kaya berbelanja? Dasar...

Dan karena barang-barang belanjaan yang mulai melebihi muatan, Changmin memutuskan untuk memindahkannya ke dalam trolley. Sesaat setelah ia mengantri di meja kasir, kedua matanya terbelalak saat ia menyadari akan satu hal.

"Ah, iya juga. Ayam! Aku belum mengambil daging ayam. Kenapa aku bisa lupa seperti ini? Aisshh..." Seorang Food Monster tak akan puas jika menu makannya tak lengkap. Itu adalah prinsip Changmin. Dan ia tak akan pernah melanggar prinsip itu sampai kapanpun juga.

Dengan cepat, namja itu lantas kembali menuju ke bagian material makanan dan mulai mencari daging ayam di atas frezzer supermarket yang sudah disediakan.

"Ayam, ayam, ayam, ayam... nah, ini dia!" Sebuah daging ayam yang terbungkus dengan sterofom tipis berlapiskan plastik menjadi satu-satunya hal yang ingin direngkuh Changmin. Dan sungguh merupakan suatu kebetulan karena daging ayam itu hanya tersisa satu saja. Benar-benar beruntung, batin Changmin. Jika ia terlambat semenit saja, ia pasti akan kehabisan daging ayam itu.

Tanpa ragu-ragu, sang Branch Manager mulai mengarahkan jemarinya untuk meraih daging ayam limited edition itu.

Sampai pada akhirnya...

Tap!

"Eh?" Telapak tangan milik seseorang mulai bertumpuk di atas telapak tangan Changmin. Namja itu terbelalak kaget dan lantas menatap siapa yang sudah berani menginterupsinya.

Sesosok namja muda.

Telapak tangan itu ternyata dimiliki oleh sesosok namja muda berambut karamel, berwajah baby face yang begitu manis dan cukup tampan. Changmin semakin terbelalak saat namja itu menatapnya dengan serius. Dan tak membutuhkan waktu lama bagi namja itu untuk menjerat daging ayam yang hendak diambil oleh Changmin. Sepertinya, ia juga menginginkan ayam itu.

"Err..." Changmin mulai menggaruk belakang kepalanya saat ia ingin mengklaim ayam itu sebagai miliknya. Namun seperti, namja berambut karamel yang ada di hadapannya itu tetap persisten untuk menjerat daging ayam di tangannya dan tak ingin menyerahkannya kepada Changmin.

'Ada apa dengan bocah ini? Aku 'kan yang melihat daging ayam ini duluan!' batin Changmin tak mau kalah.

Pada akhirnya, ritual tarik menarik ayam tanpa suara pun terjadi dengan begitu sengit selama hampir lima menit lamanya—sampai-sampai penjaga supermarket di bagian penjualan makanan dan beberapa kostumer melongo menatapnya—Dan merasakan determinasi tinggi pada tatapan sang musuh lantas membuat Changmin menyerah dan membiarkan namja itu memenangkan duel perebutan ayam mereka.

"Ah, ya sudahlah. Ambil saja daging ayam itu. Aku bisa membelinya di tempat lain." Deklarasi kekalahan Changmin membuat namja berambut karamel itu tersenyum dengan kontur bahagia di parasnya.

"Gomawo!" Kekehan girang tergurat dari mulut namja itu. Kedua mata cokelat madunya bertransisi bak bulan sabit yang begitu indah. Panorama itu membuat Changmin terhenyak dan tak mampu berpikir untuk sesaat. Sampai pada akhirnya, namja maniak ayam itu mulai berlari menuju kasir dan menubruk beberapa karung beras di hadapannya. Hal itu sukses membuat ujung bibir Changmin terkait ke masing-masing sudut, menahan tawa.

"Ah, M-Mianhe, Ahjumma! Aku tak sengaja. Biar kubereskan!" Namja muda itu segera membereskan beberapa karung beras yang berceceran di lantai dan lekas menuju ke kasir untuk membayar daging ayamnya. Changmin hanya tersenyum menatap hal itu dari kejahuan. Segenap tingkah yang diperlihatkan namja maniak ayam itu benar-benar begitu lucu dan sangat unik.

Setelah keberadaan namja muda itu tak lagi tampak di supermarket, Changmin pun lantas menggeret trolley-nya menuju kasir dan membayar segenap bahan makanan yang ia beli. Atensinya lantas mengarah pada pintu kaca supermarket yang tampak terbuka di hadapannya. Benaknya mengandai-andai...

Akankah ia bertemu lagi dengan namja unik itu lagi?

Hanya waktu yang bisa menjawab itu.

.

.


Dan waktu benar-benar memberikan jawaban yang dinanti Changmin.

KFC.

Itu adalah tempat dimana ia dipertemukan dengan namja itu kembali. Seminggu setelah insiden duel ayam yang terjadi di supermarket, kini Changmin pun mendapati sosok namja itu sedang melahap paha ayam di sebuah meja di dekat jendela. Dari cara namja itu melahapnya, ia benar-benar terlihat seperti orang yang sangat kelaparan. Tapi Changmin yakin, namja itu tidak benar-benar lapar. Dengan inisiatif kecil, ia pun mulai melangkahkan diri menghampiri meja namja itu.

"Kau benar-benar maniak ayam, ya?"

"Hmm?" Namja itu menaikkan sebelah alisnya saat menatap Changmin yang sudah terduduk tepat di hadapannya.

"Kau... yang di supermarket waktu itu?"

"Iya benar. Aku yang di supermarket waktu itu." Changmin sedikit menautkan dahinya saat namja itu mulai menatapnya dengan pandangan skeptis.

"Untuk apa kau kemari?"

Haha. Apa-apaan pertanyaan namja ini?

"Tentu saja aku kemari untuk memakan ayam," sahut Changmin dengan nada sarkas sembari menunjuk sepiring ayam goreng, kentang, burger, nasi dan segelas pepsi yang ada di nampannya. Namja berambut karamel itu menggelengkan kepalanya.

"Bukan. Maksudku, kenapa kau duduk di mejaku? Bukankah masih banyak meja kosong di sini?"

"Oohh... aku hanya ingin duduk di sini. Apakah tidak boleh?" Namja muda itu lantas menaikkan bahunya.

"Ne. Boleh-boleh saja. Selama kau tak mencuri ayamku." Jawaban itu membuat Changmin tertawa. Namja yang ada di hadapannya itu benar-benar lucu. Sepertinya, ia benar-benar mendedikasikan hidupnya untuk ayam. Sama halnya seperti Changmin yang mendedikasikan dirinya untuk makanan. Ini sungguh sangat menarik.

"Perkenalkan. Aku Shim Changmin. Siapa namamu, Bocah?" Changmin melayangkan tanya sembari menenggak pepsi yang ada di gelasnya.

"Lee Jinki. Dan aku bukan bocah. Aku sudah berumur 23 tahun, kau tahu!"

"BUUUUURRRRSSSSTTTTT! Uhukk! Uhuukk!"

Changmin tersedak.

Jinki menautkan kedua alisnya menatap itu.

"M-MWOH!" Changmin berhasil mengatakan sesuatu sesaat setelah terbatuk. Ia benar-benar tak percaya dengan apa yang sudah ia dengar. Ini benar-benar tidak mungkin. "K-Kau s-sudah berumur 23 tahun?"

"Uhumm!" sahut Jinki mengangguk sembari mengunyah ayamnya. Changmin benar-benar syok dengan kenyataan itu. Ia tak menyangka bahwa namja dengan wajah yang begitu muda seperti Jinki ternyata hanya terpaut setahun saja darinya. Ini benar-benar gila.

"Tapi wajah dan perawakanmu masih terlihat seperti bocah yang berumur 17 tahun."

"Hehehe... banyak yang berkata seperti itu." Simpulan senyum mulai mengembang di paras Jinki. Dan lagi-lagi panorama itu membuat Changmin terhenyak. Jujur saja, namja di hadapannya itu benar-benar manis. Entah mengapa, sepertinya ia begitu familiar dengan eksistensi Jinki. Namun, ia tak bisa menjelaskan, mengapa namja itu tak terlalu asing di matanya.

Dan tak ada pertukaran kata yang terjadi setelah itu. Kedua namja itu terlarut dalam ritual makan siang mereka dalam diam. Changmin tak tahu, topik apalagi yang harus ia angkat untuk menghidupkan konversasi di antara mereka. Ia baru saja bertemu dengan Jinki secara kebetulan dan tak sengaja. Dan merupakan hal yang sangat canggung jika ia terus-terusan bertanya dan sok dekat begitu saja. Ia tak ingin terlihat seperti seorang stalker.

Namun, menahan diri untuk tidak menatap geliat Jinki sungguh merupakan hal yang sangat sulit untuk dilakukan Changmin.

Branch manager itu terlihat melahap burgernya sembari terus menatap Jinki. Dan beruntung, namja berambut karamel itu tak sadar dengan atensi Changmin. Atensi itu begitu intens. Bahkan Changmin sendiri tak sadar bahwa ia hampir tak mengedipkan matanya sama sekali. Jinki terus saja menunduk sembari melahap paha ayamnya dengan begitu rakus, tak peduli dengan keadaan sekelilingnya.

Nalar Changmin seolah mengambang.

Cara namja itu melahap ayamnya hingga membuat hamparan pipinya kembang kempis. Cara namja itu menengguk pepsinya dengan begitu cepat dan mengusap mulutnya dengan punggung telapak tangannya. Cara namja itu bersandar di hamparan kursi sembari mengusap perutnya yang kekenyangan. Cara namja itu mengucapkan 'aku kenyang!' dengan untaian senyum lembut di paras manisnya itu.

'Shit!'

Changmin menganga dan seakan tercekat. Nalarnya tak bisa berpikir jernih. Apa yang ia lihat dalam diri Jinki mendadak berkali-kali lipat menjadi semakin indah. Dan ia tak tahu, mengapa dadanya berdebar dengan begitu kencang. Aish! Yang benar saja. Ia adalah Shim Changmin. Heartbreaker sejati yang tak akan pernah sekalipun bisa jatuh cinta pada manusia. Ia hanya akan mencintai makanan! Selamanya, ia hanya akan mendedikasikan diri untuk makanan.

Tapi kali ini...

Semuanya berubah.

Semuanya berubah bukan karena invasi dari negara api atau apapun seperti yang dinarasikan di film Avatar—sungguh, ada angin apa Yunho mengajak Changmin menonton anime itu di kantornya dulu. Ia tak paham dengan selera bosnya—Namun yang jelas, semua pandangan Changmin seolah berubah begitu saja hanya karena satu hal.

Lee Jinki.

Namja itu berhasil melelehkan bekunya hati Changmin.

Namja itu berhasil membuatnya merasakan sebuah sensasi tak terdefinisi.

Namja itu mampu membuat nalarnya menggila dan melumpuhkan logikanya.

Lee Jinki.

Ia akui bahwa Lee Jinki... berhasil membuatnya... terpesona.

"Eh, apa kau lihat dia? Iya, namja berjas hitam yang duduk dengan namja muda di meja itu. Sedari tadi namja berjas hitam itu terus saja menatapnya dengan pandangan yang agak... bernapsu."

"M-Mwoh? Be-Benarkah? J-Jangan-jangan dia pedo lagi."

"Pedo? Hiii! Aku sungguh kasihan dengan namja muda itu. Semoga dia selamat di jalan."

'WHAT THE HELL?'

"Uhuukk!" Changmin kembali tersedak saat tak sengaja mendengar konversasi dari beberapa pegawai KFC yang berada tak jauh dari mejanya. Bagus sekali. Kini ia benar-benar terlihat seperti seorang stalker pedo yang sangat mesum. Aisshh... yang benar saja? Apakah ia terlihat setua itu? Jinki bahkan hanya setahun lebih muda darinya.

Ia bukanlah pedo.

'Shit, Man. Just... shit.'

.

.


Dalam sejarah hidupnya, baru kali ini Changmin membuat satu kesalahan yang sangat fatal.

Sedikit retrospeksi, ia selalu dipandang sebagai namja yang sempurna, sangat perfeksionis, jenius dan tak pernah salah dalam apapun. Ia selalu mempertimbangkan matang-matang segenap tindakan dan juga keputusan yang akan ia ambil. Semua ia lakukan dengan taktik jitu. Dan tak ada sesuatu yang tak bisa didapatkan Changmin di dunia ini.

Ia bisa mendapatkan apa saja. Dengan kekayaan, ketampanan, kejeniusan dan jabatan yang ia miliki itu. Tak ada yang tak mungkin. Karena semua yang diinginkan Changmin bagaikan hamparan debu yang bisa dengan mudah diraihnya. Hanya dengan menjentikkan jari saja, maka semuanya sudah tersedia di depan mata.

Namun, rangkaian teori mutlak itu seakan terbantahkan saat satu kesalahan fatal telah dilakukan oleh Changmin.

Ia kehilangan kontak... dengan Jinki.

"Pabo! Kenapa hal ini tak pernah terpikirkan olehku? Harusnya aku minta nomer ponselnya atau menanyakan dimana alamatnya? Aiisshh! Sial!" Branch Manager itu tampak mengacak-acak rambut brunetnya frustasi.

Frustasi?

Jelas saja ia frustasi. Sudah hampir dua bulan ia tak pernah menemui Jinki. Semenjak pertemuan keduanya di KFC, namja berambut karamel itu hanya tersenyum padanya dan lantas pergi begitu saja setelah menghabiskan ayamnya. Haha, tentu saja ia akan pergi. Memangnya apa yang sudah dipikirkan Changmin?

'Dia terpesona padaku dan dengan malu-malu mulai meminta nomer ponselku?' Hah, yang benar saja? Aissh! ayolah, Changmin. Jinki bukanlah namja yang seperti itu. Ia tak akan semudah itu tergiur dengan penampakan dewa dan kekayaan yang kau miliki—oke, lupakan faktor kekayaan. Ia benar-benar terdengar seperti pedo yang berprofesi sebagai kolektor pemborong brondong— Sudah jelas bahwa Lee Jinki sungguh berbeda dari segenap orang yang memuja dan mengejar Changmin.

Dan Changmin tak bisa berdiam diri saja dan menunggu keajaiban datang untuk mempertemukannya lagi dengan Jinki. Ia berada di Seoul for God's sake! Seoul bukanlah kota kecil yang berpetak-petak dan bisa dijangkau dengan mudahnya. Seoul merupakan kota yang besar. Seoul adalah jantung dari Korea selatan. Bertemu lagi dengan Jinki di tengah-tengah padatnya penduduk Seoul benar-benar merupakan probabilitas yang sulit.

Ia hanya akan akan mencari jarum di tumpukan jerami. Atau mungkin mencoba menyatukan butiran minyak di dalam genangan air. Atau mungkin mencoba menyalakan bara api dengan menggunakan pergesekan dari dua alas sepatu kulitnya? Oke, peribahasa terakhir itu memang benar-benar tak nyambung dan ngawur. Tapi yang jelas, di masa kefrustasian itu, Changmin benar-benar melakukan hal-hal konyol di luar kebiasaannya.

Hampir setiap hari ia pergi ke KFC saat jam makan siang. Berharap bahwa ia bisa bertemu Jinki. Namun hasilnya nihil. Ia bahkan pergi ke supermarket, ke pasar tradisional, ke semua tempat dimana ada ayam di dalamnya. Tapi sia-sia. Ia tak pernah sekalipun mendapati sosok Jinki.

Dan di saat semua harapannya hampir menemui titik pupus, ia pun harus menghadapi sebuah musibah yang tak mengenakkan sama sekali.

"YAH! ITU TASKU! JANGAN KABUR! DASAR, JAMBRET BRENGSEEEKK!"

Jiwa Dark Lord dalam diri Changmin seakan bangkit tatkala tasnya yang berisi ponsel, dompet dan bahkan berkas-berkas dokumen kantor berharganya lenyap begitu saja di tangan penjambret. Baiklah, musibah seperti ini tak akan terjadi kalau saja ia berangkat ke kantor dengan mobilnya. Namun sial. Mobil BMW seri terbarunya itu saat ini sedang berkencan bersama dengan beberapa montir di sebuah bengkel—yang ironisnya, bengkel itu bernama bengkel cinta. Dan ia yakin, mobilnya itu akan bercinta di sana sampai sebulan penuh hanya karena perkara mesin yang tak jelas.

Dan tak lagi-lagi ia menunggu di halte bus dengan penampilan yang mencolok. Mwoh? Mencolok? Ah, tapi menurut Changmin, ia sudah berpenampilan sewajarnya kok. Rapi, berdasi, memakai jas, membawa tas, berwajah tampan, rambut tersisir rapi, berwajah tampan, memakai sepatu kulit hitam yang terlihat mahal, berwajah tampan, tangannya dihias dengan arloji bermerk mendunia, berwajah tampan dan gayanya terlalu kebangsawanan, berwajah tampan.

Baiklah, mungkin penampilannya memang terlalu mencolok, setidaknya di mata para penjambret itu. Tapi ia tak terlalu ambil pusing dengan reaksi para yoeja yang melihatnya di sepanjang jalan. Mereka sudah pasti terpesona dengan Changmin tentu saja. Mau bagaimana lagi? Ini bukan kesalahannya. Salahkan kedua orang tuanya yang sudah memproduksi anak dengan kesempurnaan tingkat dewa seperti Changmin. Apa rahasianya? Hanya orang tua Changmin dan Tuhan yang tahu.

Dan bukanlah Changmin jika ia hanya berdiam diri saja dengan raut pasrah di parasnya saat penjambret itu membawa kabur tasnya. Ia sudah pasti akan mengejar penjambret itu sampai dapat. Cih! Yang benar saja, apakah penjambret itu berpikir bahwa ia bisa lari begitu saja? Haha, jangan salah. Takkan ada yang bisa selamat dari amukan 'The Dark Lord Voldemin!'

"Yah! Jangan kabur kau, Pabo! Rasakan ini!"

DUAAAAKKK!

"Aaarrgghh!"

Sebuah pukulan mendarat dengan begitu kerasnya. Penjambret itu mulai tersungkur di jalan dan tas Changmin yang dibawanya terlempar begitu saja bersamaan dengan segenap isinya yang berhamburan keluar.

KRAAATTAAKK!

"P-PONSELKU!"

Suara benturan itu membuat Changmin terbelalak syok. Dan penjambret itupun memanfaatkan kesempatan untuk kabur sejauh mungkin saat atensi Changmin tertuju pada ponselnya yang rusak.

"Aiissh! S-Sial! Sliding ponselku patah! Dasar penjambret sialan! Awas saja, akan kubunuh dia jika sampai ketemu!" Changmin menggertakkan deretan giginya penuh amarah. Dan suara mesin bus yang mulai terdengar melaju dan menjauh dari halte membuat namja itu membelalakkan kedua matanya dengan raut pucat.

"Yah! Tunggu! Aku belum naik! Aiiisshh! Siaaaal!" Ya, bagus sekali. Ia sudah dijambret. Ponsel sebagai satu-satunya alat komunikasinya kini rusak total. Dan ia pun ketinggalan bus yang sudah lama dinantinya.

Benar-benar sial.

Changmin hanya bisa bersandar di hamparan dinding sebuah toko yang tutup di pinggir jalan. Tahu begini, lebih baik ia menaiki taksi saja semenjak awal. Buat apa pula namja sekaya dia mencoba merakyat dengan menaiki bus? Ini sama sekali bukan seperti dirinya.

"Jinki... apa yang sudah kau lakukan padaku? Kau membuatku gila."

Changmin menghela napasnya dengan raut pasrah. Ini semua karena Lee Jinki. Ini semua terjadi karena namja maniak ayam itu. Kalau saja ia tak menghilang begitu saja dari pandangan Changmin. Kalau saja namja itu tahu betapa frustasinya Changmin saat ia mencarinya kemana-mana. Kalau saja namja itu sadar bahwa selama ini, hanya ia yang selalu dipikirkan Changmin.

Dan andaikan saja namja itu tahu tentang bagaimana isi perasaan Changmin yang sesungguhnya...

Mungkin, Changmin tak akan tersesat dalam tingkat kefrustasian yang parah seperti ini.

Meratapi nasib sungguh merupakan hal yang sia-sia. Changmin tak akan bisa tiba di kantornya tepat waktu. Sudah pasti Yunho akan marah besar padanya nanti. Ditambah lagi dengan keadaan ponselnya yang mengenaskan dan ia tak akan bisa mengabari bosnya itu. Oh, nice!

'Aiish... andaikan saja Jinki ada di sini...'

Ah, sepertinya hal itu merupakan hal yang sangat mustahil. Changmin hanya bisa memejamkan matanya dan mencoba membayangkan entitas Jinki di dalam benaknya. Membayangkan namja itu tersenyum dan menatap lembut padanya. Membayangkan namja itu mendekap dan bersandar padanya. Membayangkan mereka menghabiskan waktu berdua di taman indah penuh bunga, diiringi dengan nuansa romantis dan intermezzo dari penari latar yang entah dari mana asalnya.

Baiklah, fantasinya itu sepertinya terlalu ke-bollywood-an dan terlalu keindia-indiaan. Tapi persetan. Changmin sungguh tak peduli. Kinerja nalarnya benar-benar sudah terlalu kacau. Ia sudah positif terjatuh dalam kubangan cinta yang begitu dalam untuk namja berambut karamel itu.

Dan sialnya. Sepertinya takdir sangat senang mempermainkannya. Ia tak lagi dipertemukan dengan Jinki. Mobilnya rusak. Ia dijambret orang. Ponsel pun rusak dan what else? Harga diri Changmin semakin hancur dengan segenap kefrustasiannya? Sudah jelas.

Dan jala takdir tidak mungkin berbelas kasih padanya dan tiba-tiba mengabulkan keinginannya begitu saja.

'Hahaha... tidak mungkin.' Changmin hanya bisa membatin dengan sarkas. Ia benar-benar membenci hidupnya sekarang. Ia ingin mengutuk semua yang terlihat di depan matanya. Orang-orang menyebalkan. Ahjumma dan ahjussi menyebalkan. Pohon-pohon menyebalkan. Mobil-mobil menyebalkan. Hamparan aspal menyebalkan. Gedung-gedung menyebalkan. Tong sampah menyebalkan. Pot bunga menyebalkan. Anak kecil menyebalkan. Kerikil menyebal—

"Changmin-hyung?"

"E-Eh?"

Dan jala rutukan dalam nalar Changmin mendadak terhenti saat sesosok namja yang selalu menghantui benaknya kini sudah ada di hadapannya. Branch Manager itu menganga sejadi-jadinya. Hatinya seakan meledak.

'L-Lee Jinki... m-menyebalkan...'

"Yah! Hyung? Apa yang kau lakukan di pinggir jalan begini?" Jinki terlihat skeptis sembari menggaruk belakang kepalanya dengan raut heran. Ditatapnya Changmin yang saat ini terlihat seperti ikan yang membutuhkan air. Namja brunet itu mengatup-ngatupkan mulutnya tanpa suara. Terlalu syok dengan kehadiran Jinki.

'Apa tadi katanya? H-Hyung? I-Ia memanggilku HYUNG?' batin Changmin bersorak girang. Panggilan itu sudah mampu mengisyaratkan bahwa Jinki masih menghormatinya sebagai namja yang lebih tua. Dan lagi, namja maniak ayam itu masih mengingat namanya. Jangan salahkan Changmin jika saat ini ia ingin terjun dari gedung pencakar langit untuk meluapkan kebahagiaan supremasinya.

"J-Jinki?"

"Hei, apa kau tak apa-apa?" Namja maniak ayam itu terlihat turun dari sepeda roda duanya dan mulai mendekati Changmin. Yang didekati tampak semakin terbelalak saat jaraknya dengan Jinki tak lagi terpaut jauh. Namja berambut karamel itu menatapnya dengan pandangan bingung. Dan melihat mulutnya yang sedikit mengerucut itu membuat Changmin berusaha keras menahan diri untuk tidak mencium Jinki di saat itu juga. Bukannya ia mesum. Hanya saja, Jinki terlalu manis untuk dipandang mata.

"Aku tak a-apa-apa. K-Kau sendiri bagaimana? Kenapa kau bisa berada di sini?"

"Oh, aku baru saja berbelanja dari pasar tradisional di dekat sini." Dan beberapa potong daging ayam dalam sebuah tas plastik di keranjang sepeda Jinki membuat Changmin terkekeh dengan renyah.

"Ayam lagi? Hahaha... sebaiknya, kau jangan terlalu sering memakan ayam. Dampaknya takkan baik untuk tubuhmu."

"Yah! Siapa bilang aku sering memakan ayam? Itu hanya perasaan hyung saja." Jinki mendengus sembari melipat kedua tangannya. Changmin hanya tersenyum sembari memegangi perutnya menahan tawa.

"Oh ya, kau belum menjawab pertanyaanku, Hyung. Apa yang kau lakukan di pinggir jalan begini?"

"Ah, itu..." Changmin menggaruk belakang kepalanya. Kini ia harus mengatakan rangkaian peristiwa paling memalukan yang pernah terjadi di dalam hidupnya pada Jinki. Omo. Dari semua orang di dunia ini, mengapa harus pada Jinki? Aishh... karismanya pasti akan jatuh di mata namja berambut karamel itu.

Sungguh sial.

"A-Aku baru saja dijambret orang."

"Mwoh?"

"Saat aku hendak pergi ke kantorku naik bus, tasku dijambret oleh orang tak bertanggung jawab di halte. Aku berhasil mendapatkan tasku kembali tapi ponselku rusak. Dan aku ketinggalan busnya."

Daebak.

Dengan datarnya, Changmin mengatakan kebenaran itu. Kini ia sungguh terdengar seperti pecundang. Menatap paras Jinki dengan ekspresi tak terdefinisi itu membuat Changmin menelan ludahnya, was-was. Ia benar-benar pasrah. Jika memang Jinki mendadak ill-feel dan tak menyukainya sama sekali, ia akan memilih jalan pintas dengan cara menculik Jinki dan menyekapnya di apartemen sampai namja itu tak berkutik dan mau menikahinya.

Oke. Sepertinya jalan pintas itu terlalu ekstrim dan nista.

Dan Changmin yakin, jalan pintas nista itu bisa muncul di kepalanya pasti gara-gara menonton telenovela yang direkomendasikan Yunho saat malam natal tahun lalu. Tch! Changmin tak akan sudi lagi menonton telenovela yang direkomendasikan Yunho. Jangan harap. Meskipun Yunho terus memaksanya dan sembah sujud padanya sampai mati, Changmin tak akan membiarkan matanya rusak dengan scene-scene dramatis dalam telenovela itu. Yang benar saja!

Setelah Avatar, kini telenovela. Sungguh, bosnya itu benar-benar memberi pengaruh buruk pada pikiran Changmin.

Setelah membisu untuk sesaat, Jinki pada akhirnya beranjak dari Changmin dan kembali menaiki sepeda roda duanya. Nice! Sepertinya Jinki benar-benar illfeel padanya. Changmin mulai beraut pucat dan paranoid.

'A-Apakah ia akan meninggalkanku begitu saja?'

"Jangan diam saja di situ, Hyung. Kemarilah!" Jinki melambaikan tangannya ke arah Changmin, menyuruhnya untuk mendekat. Branch Manager itu mengerutkan dahinya, bingung. Dan Jinki hanya tersenyum menatap itu sembari mengguratkan sebuah penawaran.

"Aku akan mengantarmu sampai ke kantor. Kantormu... tak jauh dari sini 'kan?"

"Hah?" Changmin terbelalak mendengar itu. Ia tak salah dengar 'kan?

"K-Kau ingin mengantarku ke kantor?"

"Ne." Jinki kembali melayangkan seutas senyum. "Sepedaku memang tak ada boncengannya. Tapi ada pedal di belakangnya. Kau bisa berdiri di pedal itu dan memegangi pundakku."

Hening.

Jika Changmin adalah seorang yoeja, ia pasti sudah berteriak-teriak girang ala fangirl di atas menara Eiffel dan membeberkan sebuah banner raksasa bertuliskan 'SARANGHAEYO LEE JINKI-OPPA!'.

Dan jika ia adalah seorang ahjumma, ia pasti sudah mengumpulkan perserikatan ibu-ibu untuk membuat grup arisan dengan Jinki sebagai doorprize-nya.

Dan jika ia adalah seorang ahjussi tua yang sudah bau tanah, ia pasti akan mendedikasikan hari tuanya untuk menjadi fanboy hardcore Jinki sampai mati.

Namun, syukurlah karena ia adalah seorang namja yang cukup normal, tampan, sangat berkarisma dan begitu terhormat. Ia bisa mewujudkan bentuk kegirangannya itu dengan cara yang lebih elit.

"Gomawo untuk tawarannya. Ah, kantorku tak terlalu jauh dari sini. Tapi, apakah benar tak apa-apa? Aku tak ingin merepotkanmu, Jinki-yah." Changmin benar-benar memaksakan diri mengatakan itu. Karena... Hell! Ia tak akan berpikir seribu kali untuk menerima tawaran Jinki dan pasti akan langsung naik di sepeda roda dua milik namja itu secepat mungkin. Tapi ia tak bisa bertindak lancang dan tak sopan begitu saja.

"Tak apa-apa, Hyung. Ayo, naiklah. Nanti kau akan semakin terlambat jika diam saja di situ. Aku akan berusaha untuk mengayuh sepedaku secepat mungkin."

Dan tak ada lagi yang membuat Changmin semakin jatuh cinta terhadap Jinki selain hanya menatap senyum manis dan kebaikan hati namja itu. Dengan hati-hati, ia pun mulai menaiki pedal di bagian belakang sepeda Jinki dan lantas bertumpu pada punggung namja berambut karamel itu.

"Pegangan yang erat, Hyung! Kalau tidak, kau akan jatuh!"

"Mwoh? W-Woooahhh! Jangan cepat-cepat! Bosku tak akan semarah itu padaku jika aku terlambat!"

Gema tawa termuntahkan dari mulut kedua namja itu. Jinki berusaha mengayuh sepedanya secepat mungkin. Bersamaan dengan hembusan angin yang menerpa mereka, Changmin pun merasakan sebuah kehangatan yang menyejukkan. Ia merasakan kedamaian yang begitu menenangkan. Simpulan senyum lantas mengembang di parasnya.

Begitu menyenangkan.

Entah mengapa, momen ini terasa begitu menyenangkan. Kebersamaannya dengan Jinki, seolah menjadi bagian dari dimensi nostalgia yang tak bisa ia rengkuh dengan nalarnya. Seolah ada benang ketetapan yang selalu menariknya menuju ke eksistensi Jinki. Dan segenap rasa cinta yang begitu besar—yang hanya ia tujukan terhadap Jinki—seolah menjadi suratan takdir yang memang mutlak haruslah terjadi.

Dan Changmin tak keberatan dengan ketetapan itu.

Atensinya lantas berpaling pada Jinki yang terlihat mengayuh sepedanya dengan simpulan senyum di parasnya itu. Ia yakin bahwa Jinki juga dapat merasakannya. Merasakan sebuah firasat yang sama. Merasakan bahwa eksistensi mereka memang diciptakan untuk menyatu. Dan bersamaan dengan debaran jantung Changmin yang tak terkendali, ia pun paham bahwa itu hanyalah pertanda bahwa perasaan yang ia rasakan untuk Jinki akan semakin dalam kian harinya.

"C-Changmin-hyung—" Jinki mulai terbelalak saat Branch Manager itu mulai melingkarkan tangannya di pinggang Jinki dan mulai membenamkan parasnya di helai rambut karamel Jinki. Changmin memeluknya dengan begitu erat. Dan hal itu membuat Jinki berdebar dengan rona merah di parasnya.

"H-Hyung, apa yang kau lakukan?"

"Ijinkan aku memelukmu. Sebentar saja. Kumohon."

"M-Mwoh?" frase itu membuat Jinki terbelalak. Sepertinya ia pernah mendengar ucapan familiar itu sebelumnya. Tetapi ia tak tahu, kapan ia pernah mendengarnya. Namun anehnya, kontak yang dilakukan Changmin terhadapnya sungguh terkesan begitu natural.

Logisnya...

Ia pasti merasakan takut dengan aksi Changmin karena ia tak mengenal Branch manager itu luar dalam dan mereka hanya bertemu dua kali saja. Namun entah mengapa...

Jinki merasa aman.

Jantungnya berdebar kencang dan ia merasakan kehangatan yang begitu indah.

Simpulan senyum pun lantas mengembang di parasnya. Ia biarkan Changmin mendekap tubuhnya dengan erat dari belakang dan membenamkan parasnya lebih dalam di rambutnya. Jinki merasa bahwa eksistensinya memang merupakan milik Changmin. Ia seakan kembali pulang ke rumah lamanya. Dan tak ada yang membuatnya bahagia...

Selain hanya berada di sisi Changmin.

"Jinki-yah."

"Hmm?"

"Apapun yang terjadi..."

...

"... kita akan selalu bersama 'kan?"

Hening.

Pedang tanya itu bak ikrar sakral yang wajib untuk dijawab. Jinki menghentikan laju sepedanya. Mulutnya terkatup rapat. Ia terdiam sejenak meresapi pertanyaan itu. Changmin masih tetap mendekap tubuhnya dari belakang dan mulai menatapnya dengan begitu lembut. Menatapnya dengan penuh cinta. Masa-masa ini begitu familiar di benak mereka. Debaran jantung keduanya seolah bersinkronisasi dalam statis yang sama. Dan Jinki seakan menemukan tujuan hidupnya.

Ya. Ia sudah menemukan tujuan mengapa eksistensinya tercipta di dunia ini.

Changmin.

Entitasnya diciptakan hanya untuk Changmin.

Dan sampai kapanpun juga, ia hanya akan kembali kepada Changmin.

Jemari Jinki lantas beranjak. Mencoba menyelubungi telapak tangan Changmin yang melingkari perutnya. Senyum itu mengembang di parasnya. Rasa cinta yang terpendam samar kini mulai menampakkan keindahannya. Ya, benar. Ia sangat mencintai Changmin. Dan rasa itu takkan pernah padam sampai kapanpun juga.

Ini adalah ikrar absolut mereka.

Dan Jinki berjanji, bahwa ia tak akan pernah melanggarnya.

"Ne, Hyung. Apapun yang terjadi, kita akan selalu... bersama."

Selamanya.


A/N: Sekali lagi makasih buat yang udah baca apalagi sudi ninggalin review. Mohon maaf jika ada kesalahan EYD, cara penulisan, redundansi berlebihan dan sebagainya. Semoga bisa menghibur. See you all in the next chapter! :)

Kamsahamnida! xD