Pertama-tama, inilah yang ingin saya katakan: Maaf! T^T
Terutama untuk Sekar Nasri , karena saya ga mengupdate" fic challenge ini, tapi untungnya masih belum lewat deadline... dan maaf bagi yang telah menunggu 'Summer' dari fic ini...
Tema 'Summer' kali ini sebenarnya melibatkan dua prompt, namun saya pilih prompt 'Beach' (semoga cocok) Hope you enjoy!
Disclaimer: ATLUS owns Persona 4
Chapter 2: Summer, Her Traumatic Event
Sengatan matahari sungguh kejam.
Ah, setidaknya, mungkin hanya Shirogane Naoto yang berpendapat demikian, karena ketika ia melirik ke arah sahabat-sahabatnya, wajah mereka sama sekali tidak memancarkan ekspresi kekesalan.
Mereka semua tertawa ceria.
Satonaka Chie, seniornya yang sangat menggemari kung-fu, melompat dan melakukan smash dengan tenaganya yang mengerikan. Bola voli yang dipukulnya tersebut meluncur dengan kecepatan tinggi dan mendarat dengan sukses di wajah Hanamura Yosuke. Yosuke tidak akan menang dalam hal olahraga Volleyball sekalipun. Pemuda berambut coklat sekaligus sahabat kekasihnya itu terjatuh ke hamparan pasir. Naoto berharap tidak ada satupun gigi Yosuke yang patah, walaupun hidungnya berdarah. Gadis berambut biru itu tidak melihat senior lelakinya tersebut bergerak. Apa ia pingsan?
Amagi Yukiko, sahabat Chie yang sangat cantik, anggun, cerdas dan elegan, namun cukup mengerikan jika sudah marah. Yukiko mengenakan pakaian renang putih, persis seperti apa yang dikenakannya saat Beauty Pageant tahun lalu. Hanya saja, kali ini tidak ada bando merah yang menghiasi kepalanya, dan tubuhnya terbungkus sebuah jaket berwarna merah. Ia sedang duduk berdua dengan Tatsumi Kanji, teman seangkatan Naoto yang berpostur tubuh besar dan tinggi, di bawah naungan payung merah. Naoto, yang biasanya tidak peka dengan hal-hal percintaan, akhirnya berpikir juga. Sejak kapan mereka berpacaran?
Sahabat baiknya, Kujikawa Rise, sedang tertawa ceria sambil menyipratkan air laut pada Teddie, yang dibalas dengan hal yang sama oleh lelaki pirang itu. Mereka sedang bermain air… agak kekanak-kanakan, mungkin?
Yah, tentu saja. Mereka berada di pantai, dan mereka semua mengenakan pakaian renang, namun Naoto adalah pengecualian. Gadis itu mengenakan kaus putih yang terbungkus oleh sebuah jaket biru berlengan pendek, dengan celana pendek berwarna biru gelap.
Naoto membiarkan kelopak matanya menutup sepasang iris kristal biru keabu-abuannya. Ia meneguk sedikit lemonade yang terletak di atas mejanya, kemudian memain-mainkan setiap bongkahan kecil es yang tenggelam dalam lemonade tersebut dengan sedotan. Gadis itu kemudian membiarkan satu lengannya terkulai lemas di atas meja tersebut sementara matanya tetap menutup. Kepalanya pening.
"Kyaaah, Souji-senpai, Senpai memang hebat!"
Tidak salah lagi… Naoto yakin itu adalah suara Kujikawa Rise. Namun yang menarik perhatiannya adalah nama seseorang yang disebut oleh Rise. Gadis itu akhirnya membuka sedikit kelopak matanya dan menoleh ke arah laut.
Ia dapat melihat Seta Souji sedang berselancar, beradu dengan deburan ombak. Naoto dapat merasakan suara-suara itu mulai berpantulan di gendang telinganya. Suara tenang dari ombak laut yang semakin terdengar jelas.
Apa lagi? Ah ya, gerakan Souji cukup sempurna. Ketika pemuda berambut abu-abu itu turun dari papan selancar dan menginjakkan kakinya di atas pasir basah, Rise segera berlari menghampirinya dan tersenyum kagum pada Souji. Naoto dapat melihat Teddie yang juga ikut berlari kemudian memeluk Sensei-nya itu erat-erat.
Walaupun hati sang gadis berambut biru pendek itu sedikit dibakar kecemburuan, gadis itu menyadarinya dan mengasumsikan bahwa dirinya telah bertindak kekanak-kanakan jika ia cemburu. Wajahnya sedikit memerah. Bersantai di bawah pondok kecil cukup membuatnya tenang. Jika ia berjalan keluar pondok dan membiarkan sinar matahari menyengatnya, gadis itu cukup yakin ia bisa saja pingsan. Yah, ia tidak mengenakan topinya… tentu saja tidak. Rise tidak akan mengijinkannya.
Tiba-tiba, Naoto merasakan tatapan Souji. Kekasihnya yang beriris mata abu-abu jernih itu melambaikan tangan padanya sambil tersenyum. Naoto hanya membalas tersenyum dan melambaikan tangannya juga. Souji kemudian membalikkan tubuhnya dan bersiap untuk berselancar lagi. Naoto kembali menatap bongkahan-bongkahan es kecil yang mulai mencair dan menyatu dengan lemonade. Ia sudah merasa lebih baik.
"Kau sendirian, nona?"
Naoto mengangkat kepalanya lebih tinggi dan mendapati seorang pria tua sedang berdiri di dekatnya. Pria tersebut adalah pemilik pondok tempat Naoto beristirahat sekarang. Naoto menjawab sopan sambil tersenyum.
"Ah… tidak, teman-temanku sedang bermain di sana," jawab Naoto sambil menunjuk sahabat-sahabatnya yang sedang beraktivitas di pantai. Pria tua itu tersenyum, ia tidak mengetahui yang mana teman-teman Naoto, berhubung cukup banyak orang yang sedang beraktivitas di sana.
"Kau tidak bersama-sama dengan mereka?" Bola mata keabuan jernih pria tua itu menatap Naoto lembut.
"Hmm… aku tidak cukup kuat… untuk berdiri terlalu lama di bawah terik matahari… tanpa topiku," jawab gadis itu. Naoto kemudian kembali meneguk lemonade-nya perlahan.
"Kau suka lemonade itu? Istriku sendiri yang membuatnya. Ajak teman-temanmu juga untuk mencicipinya." Pria tua itu tertawa singkat. Naoto hanya tersenyum sambil mengangguk perlahan. Pria itu kemudian melanjutkan perkataannya lagi. "Cucuku juga sangat menyukai lemonade itu. Ia anak lelaki yang kuat, mungkin sekarang usianya sama sepertimu. Kami selalu membanggakannya. Cucuku selalu mengatakan bahwa lemonade buatan istriku memang yang terbaik."
"Di mana cucu anda sekarang?" Naoto bertanya sopan, cukup tertarik dengan kisah pria tua itu.
"Hmm... ia berada tidak terlalu jauh dari tempat ini… dan aku yakin, ia telah memiliki calon pasangan hidup yang terbaik untuknya. Cucuku kelihatannya sangat mencintai gadis itu," jawab pria tua itu. Pria itu kemudian memperhatikan Naoto cukup lama, ia akhirnya berkata, "Nona, maukah kau berbaik hati menerima hadiah kecil ini?" Pria tua itu mengeluarkan sebuah liontin berbentuk inisial 'S' berwarna perak.
"A-ah? T-tapi… aku tidak bisa menerima benda seperti itu, maksudku… harganya pasti mahal," Naoto merasa tidak enak dan berusaha menolak, tetapi pria tua itu justru membujuknya.
"Kumohon, nona… terimalah… tidak ada artinya kalau aku yang membawanya… liontin ini seharusnya kuberikan pada cucuku, namun aku tidak pernah sempat… kumohon…"
Naoto akhirnya menyerah pada keinginan pria itu, ia kemudian menerima liontin tersebut dan memperhatikannya. Inisal… 'S'?
"Boleh aku meninggalkan pondokku sebentar? Ada sedikit urusan…" pria itu tiba-tiba berkata.
"Ah… ya…" Naoto mengangguk sopan. Pria itu tersenyum padanya dan berjalan meninggalkan pondok tersebut. Sekarang, Naoto hanya duduk sendirian di tempat itu. Gadis itu kemudian menyimpan liontin itu ke saku celananya ketika ia mendengar sebuah suara lonceng kecil.
Criiing…
Naoto melihat ke bawah kursinya dan mendapati seekor anak anjing sedang memperhatikannya. Tatapan matanya berbinar-binar. Dilihat dari penampilannya, sepertinya anjing tersebut berjenis Labrador Retriever. Leher anjing kecil itu dikalungi sebuah lonceng.
"Sedang apa di tempat ini, anjing kecil? Di mana majikanmu?" Naoto segera bangkit dari tempatnya duduk dan membungkuk. Namun Labrador kecil itu tiba-tiba menggeram. Bukan pada Naoto, tetapi pada seseorang di belakangnya.
"Hei, gadis manis, kau sendirian?" Naoto tidak menyukai nada suara tersebut. Ia membalikkan tubuhnya dan dua orang pria yang kira-kira berusia dua tahun lebih tua dari Naoto telah berdiri di hadapan gadis itu. Di belakang Naoto, labrador kecil itu masih menggeram.
"Tidak," jawab Naoto singkat. Kedua pria itu justru berjalan semakin mendekatinya.
"Ah, kau tidak bosan berada di tempat ini sendiri? Temani kami bermain, kau mau, kan?" Salah satu pria tersebut menawarkan.
"Tidak… mohon pergi dari tempat ini, kalau kalian tidak memiliki urusan lain," jawab Naoto seraya tangannya mencoba meraba saku celana pendeknya, mencari sebuah benda yang biasa dibawa sang gadis.
Tidak ada revolver… bagus sekali. Tampaknya Rise tidak hanya menyita topi Naoto saja, tetapi revolvernya juga.
"Hei, punya hak apa, kau, gadis kecil? Beraninya mengusir kami," jawab salah satu pria tersebut.
"Saya tidak mengusir anda… saya hanya mengatakan pada anda untuk pergi dari tempat ini jika anda memang tidak memiliki urusan lain." Naoto menatap mereka tajam.
"Beraninya kau…!" salah satu pria tersebut tiba-tiba mengeluarkan sebuah benda yang sangat dikenali Naoto dari saku celananya, sebuah pisau. Cahaya matahari yang terefleksi dari pisau tersebut memperlihatkan ketajamannya yang tampaknya tidak diragukan lagi. Naoto tahu itu adalah pisau sungguhan.
Labrador Retriever kecil di belakang Naoto mulai menyalak kuat, membuat kedua pria itu tampak semakin kesal.
"Habisi dulu mahluk kecil itu," salah seorang pria tersebut tiba-tiba tersenyum sambil mengangkat pisau tersebut. Naoto memperhatikan sekelilingnya. Pondok tersebut cukup terpencil, dan orang-orang yang berada di pantai memang tampak sibuk dengan kegiatannya masing-masing, termasuk sahabat-sahabatnya. Sang gadis tahu ia berada dalam situasi yang cukup menyulitkan.
"Hentikan sekarang juga!" Naoto membentangkan kedua lengannya, berusaha melindungi labrador kecil dibelakangnya.
"Kau cukup memiliki nyali, gadis kecil," salah seorang pria tersebut mengangkat pisaunya. Naoto tahu, pria itu tidak main-main. Pria itu berniat mengayunkan pisaunya ke arah Naoto. Gadis itu memejamkan kedua matanya.
….
Tidak terjadi apa-apa?
"Gaaah!"
Suara tersebut membuat Naoto membuka kedua matanya, dan ia melihat Souji menahan lengan pria itu dan menekannya kuat, sehingga pria tersebut tampak kesakitan. Sementara pria yang satu lagi telah terkulai lemas di permukaan lantai kayu. Souji kemudian menarik lengan pria itu sehingga tubuh pria tersebut berbalik ke arah Souji, dan pemuda berambut abu-abu itu menendang perut sang pria dengan salah satu lututnya, membuat pria tersebut menjatuhkan pisau yang digenggamnya. Naoto hanya terdiam menyaksikan peristiwa di hadapannya.
Souji yang berhasil menjatuhkan dua pria tersebut akhirnya menoleh ke arah Naoto. "Kau tidak apa-apa?" tanya Souji, sorot matanya penuh kekhawatiran.
"A-ah... t-tidak! Kami tidak apa-apa, Senpai…" Naoto menyadari wajahnya mulai memerah dan ia merasakan pipinya terbakar dari dalam.
"'Kami?' Apa maks—" suara Souji terhenti ketika ia mendengar salakan anjing labrador kecil di belakang Naoto. Souji kemudian memperhatikan anjing kecil itu, ia tampak sedikit terkejut dengan kalung yang dikenakan labrador kecil tersebut. "…Tidak mungkin…" Souji bergumam kecil, membuat Naoto tampak kebingungan.
"Eh? Apanya yang 'tidak mungkin', Senpai?" pertanyaan Naoto berhasil mengalihkan perhatian Souji. Souji hanya menggaruk kepalanya perlahan.
"A-ah, tidak… tidak apa-apa. Syukurlah kau baik-baik saja. Meninggalkanmu seorang diri di pondok seperti ini sama sekali tidak membuatku tenang, kau tahu? Karena itu aku datang kemari, dan melihatmu terlibat masalah yang cukup serius." Souji tersenyum ramah.
"A-aku… um…" Naoto ingin berkata bahwa ia dapat mengatasi masalahnya sendiri, namun ia teringat akan peristiwa barusan. Kalau saja Souji tidak datang menolongnya, mungkin… .
"Um… maksudku… terima kasih telah menolongku, Senpai," Naoto tersenyum sebagai tanda terima kasih, yang dibalas oleh anggukan dari Souji.
"Anytime," jawab Souji sambil tertawa singkat. "Ah ya, kau kembali dulu ke penginapan bersama Rise, oke? Malam nanti, kutunggu kau di tempat ini." Souji tiba-tiba berkata, tanpa kehilangan senyumannya.
"Eh… ah, baik," jawab Naoto. Gadis itu baru menyadari bahwa langit sudah melukis dirinya dengan warna jingga. Hari sudah sore, dan ia dapat melihat Rise berlari ke arahnya, juga mendengar suara Yosuke yang memanggil Souji dari kejauhan. Naoto menjawab bahwa tidak ada yang perlu dikhawatirkan ketika Rise menanyakan mengapa ada dua orang pria yang terkapar tidak sadarkan diri di lantai kayu.
Ia akan menemui Souji… malam ini…
"Hei! Di sini!" Naoto dapat melihat Souji melambaikan tangannya sambil tersenyum ceria. Gadis itu segera mempercepat langkah kakinya. Hari sudah gelap dan Naoto dapat merasakan angin malam yang sejuk meniup wajahnya. Gadis itu segera berlari menghampiri pondok tersebut. Anehnya, tidak ada pria tua pemilik pondok tersebut di sana.
"Senpai, mengapa mengajakku kemari?" Naoto langsung bertanya. Namun Souji hanya mengisyaratkannya untuk duduk di ujung pondok tersebut. Tanpa mempedulikan ekspresi Naoto yang kebingungan, Souji segera mengangkat satu tangan dan menjentikkan jarinya.
Naoto terkejut melihat pemandangan yang ada di depannya. Pada sepasang bola mata jernihnya terefleksi lidah api berwarna-warni yang terpencar bagaikan bunga di langit. Ya, kembang api.
Souji tersenyum penuh terima kasih kepada Yosuke dan Chie yang telah berdiri jauh di ujung pantai, mereka yang menyalakan kembang api tersebut. Naoto dapat melihat Yukiko dan Kanji yang menyaksikannya bersama-sama dari tepi pantai, juga Rise dan Teddie yang sedang memandang kembang api itu penuh kekaguman dari tepi dermaga.
"Kami menyiapkannya khusus, kau menyukainya?" Souji tersenyum pada Naoto. Gadis berambut biru yang sedari tadi memperhatikan kembang api itu dengan penuh kekaguman akhirnya menolehkan kepalanya pada Souji dan tersenyum senang, wajahnya merona merah karena bahagia.
"Ini luar biasa, Senpai, terima kasih…" Naoto berbisik perlahan. Souji menggaruk kepalanya dan merasakan wajahnya mulai memanas dan memerah. Kemudian pemuda berambut abu-abu itu memperhatikan pondok tempat mereka duduk.
"Pondok ini… milik kakekku." Souji tiba-tiba berkata. Naoto memandangnya agak kaget.
"E-eh? Kakek? Bukankah—"
"Ya, dan anjing labrador kecil itu juga… milik kakek. Anjing itu sempat menghilang, dan aku sangat mengenali lonceng pada kalungnya." Souji memberitahu Naoto. Gadis itu kemudian teringat pada liontin berinisial 'S' yang diterimanya dari seorang pria tua pemilik pondok tersebut.
"Um… Senpai, apa kau mengenali liontin ini?" Naoto mengeluarkan liontin tersebut dari saku celananya, kemudian menyerahkannya pada Souji. Souji tampak sangat terkejut setelah melihat benda tersebut.
"Ti-tidak mungkin… kakek memiliki ini, ayahku berkata kakek ingin memberikannya padaku, namun ia tidak pernah sempat. Liontin ini dibuat khusus, tidak salah lagi. Darimana kau mendapatkannya, Naoto?" Souji tampak sangat kebingungan sekarang, yang memancing keringat dingin mengalir keluar dari wajah sang gadis.
"H-ha? Ta-tapi… aku menerimanya dari seorang pria tua yang katanya adalah pemilik pondok ini." Naoto menjawab ragu.
"Pemilik pondok? Kakekku yang memiliki pondok ini… dan kabarnya, tidak ada seorang pun yang ingin membeli pondok kecil ini… dan lagi…" Souji terdiam sejenak, "…ia sudah meninggal," lanjut Souji yakin.
Baiklah, Naoto sama sekali tidak menyukai kemana kisah ini mengarah.
"Bagaimana dengan… um… nenek? Senpai pasti…"
"Ah ya, benar juga. Dulu aku memiliki seorang nenek, dan tidak dapat kulupakan, lemonade buatannya memang yang terbaik!" Souji tertawa ceria.
Ya, Naoto sama sekali tidak menyukai pernyataan itu, entah mengapa.
"Kau ingin melihat sosok kakekku? Ia pria yang ramah," Souji kemudian mengeluarkan sebuah foto kecil dari sakunya. Fotonya bersama kakek dan neneknya, dengan Souji yang berdiri di tengah, tersenyum ceria. Souij kira-kira berusia lima tahun di foto tersebut. Dan kakek Souji di foto tersebut… mirip… sangat mirip…
Naoto dengan mudah dapat mengingat wajah orang, tentu saja. Kemampuan semacam itu sangat dibutuhkan untuk menjadi detektif. Dan pria tua yang ditemuinya siang tadi memang adalah kakek Souji. Namun Souji mengatakan bahwa ia sudah… meninggal?
"S-Senpai, kau tahu? Aku sama sekali tidak senang jika Senpai berbohong." Naoto tersenyum, sementara keringat dingin mulai bercucuran dari wajahnya. Sementara Souji memandangnya kebingungan.
"Aku tidak berbohong, Naoto. Mengapa aku harus berbohong…? Dan lagi, aku masih benar-benar penasaran, mengapa pria tua yang kau temui di pondok ini bisa memiliki liontin ini... sungguh," jawab Souji dengan sangat yakin. Pemuda tersebut kemudian menyadari wajah Naoto yang mulai memucat. "N-Naoto? Kau kenapa?"
"…Tidak apa-apa." Naoto menjawab lemas.
Sang gadis yakin ia baru saja mendengar suara bisikan kecil dari belakangnya, yang tentu saja, seharusnya tidak ada siapa-siapa.
'Tolong jaga cucuku…'
A.N: dan 'Summer' berakhir dengan gaje. :P seperti biasa, mohon kritik, saran, dan komentar. Saya tahu banget chap ini masih banyak kekurangan... -_-"
Terima kasih banyak bagi yang telah mereview fic ini: Kuroka, DeathCode, MelZzZ, Shina Suzuki, Sekar Nasri , heylalaa, dan MacTavish Van Den Bosch!
for:
Kuroka: review itu seharusnya seperti... emm... saya juga jarang bisa memberikan review yang berguna kok! -digebukin- soal tempo musik, sangat senang hal tersebut dapat membantu untuk belajar~ :) boleh diberitahu kalau ada kesalahan, ya!
DeathCode: fic lain akan dibuat, tapi kolab yah! xD ahaha, makasih! Kalo rok Chie cuma selutut, kayaknya kurang cocok dipake buat acara prom deh -sotoy kumat-
MelZzZ: hmm... di fic ini, rambut Naoto (mungkin) sudah sedikit lebih panjang, tapi masih belum sebahu kok... sedikit lebih panjang saja! -digebuk karena jawabannya ga jelas-
Shina Suzuki: Makasih banyak! xD maaf lama, dan Shina-san ikut saja challenge four seasons itu! :) masih ada waktu hingga... September kalo ga salah -sotoy bener-, Shina-san pasti bisa kok! :)
Sekar Nasri: terima kasih sarannya! Dan maaf juga, kalau Sekar telat review, saya ngapdet kelamaan ga kira" -_-" wogh! hmm... saya akan mencoba bersemangat untuk melanjutkan kok! kalo kelewat deadline, kasih waktu tambahan, ya? -digiling-
heylalaa: Rise/Kou? kalo dipikir", itu cocok juga... :) hm... risechi dapet pasangan, kok! si beruang gaje pirang bernama Teddie! -dicakar ted-
MacTavish Van Den Bosch: terima kasih reviewnya~ :) eh ya, ga apa, ga apa banget! yang penting tetep ninggalin review, iya ga? xD makasih banyak, semoga di chap ini juga... semuanya tetep pas" aja... -_-"
Mind to review?
