Hello, Mr. History!
Chapter 2: "Revenge"
Author: Azzelya Bara
Rated: T
Genre: Romance, Drama
Cast: KaiSoo
Summary: Hanya sebuah kisah tentang Do Kyungsoo si guru baru yang akan menjalani hari-harinya bersama salah satu siswa didikannya yang rendah dalam pelajaran sejarah, tapi pintar dalam pelajaran matematika. Kesan pertemuan pertama yang buruk membuat mereka berdua saling bersikap dingin. Tapi, apa akan begitu selamanya?/KaiSoo Fic/DLDR
Warning: Tidak sesuai EYD, alur berantakan & kecepatan, serta bahasa yang aneh! Jika tidak suka, jangan dibaca!
"Apa sih? Ini kumis asli, Jongin." ujar Kyungsoo sambil tersenyum seolah menyembunyikan segala perasaan cemas, dan khawatir di dalam hatinya. "Apa kau perlu bukti?"
"Tentu!" Kai bangun dari kursinya.
Pemuda berkulit tan itu melangkahkan kakinya ke arah si guru baru. Kyungsoo memundurkan langkahkanya ketika Kai semakin dekat dengannya. Hingga akhirnya, Kyungsoo hanya bisa pasrah karena ia telah menabrak dinding di belakangnya. Tak ada jalan untuk kabur ketika Kai menempelkan kedua telapak tangannya di sebelah kepala Kyungsoo.
Sejenak, kedua pasang manik itu saling bertemu. Tangan Kai mulai menyentuh kumis palsu Kyungsoo dan mengusap-usapnya pelan. Kyungsoo hanya bisa diam melihat tatapan Kai yang seolah ingin memakannya. Ia tak tahu apa jadinya jika Kai menarik kumis palsunya. Mungkinkah Dia akan dipukuli? Kyungsoo tahu, sepertinya Kai punya dendam pada dirinya.
"Seonsaengnim, umurmu berapa? Saat melihatmu tadi, kukira kau siswa baru." celetuk Kai sambil memainkan kumis palsu Kyungsoo.
"Umm… 23. Kai, tolong singkirkan tanganmu…" pinta Kyungsoo dengan suara lirih. Ia berusaha menyingkirkan tangan Kai dari kumis palsunya.
Bukannya menyingkirkan tangannya dari kumis palsu Kyungsoo, tangan Kai mulai bergerak ke pipi chubby Kyungsoo. Sontak saja wajah Kyungsoo memanas. Meski tindakan Kai saat ini adalah kurang ajar, tetapi kenapa jantungmu berdebar-debar seolah ingin meledak, Kyungsoo?
Seharusnya Kyungsoo mendorong Kai untuk menjauh dari dirinya. Seharusnya juga Dia memberi hukuman pada Kai. Tetapi, entah mengapa tatapan dari Kai seolah menyihirnya untuk tetap diam di tempat. Kyungsoo tak mampu berbuat apa-apa. Dia malah menyukai tatapan yang dilempar oleh siswanya tersebut.
Bodoh memang—Kyungsoo akui itu sendiri.
"Kemarin, anak Klub Teater menyuruhku untuk membeli properti drama di salah satu toko. Termasuk kumis palsu yang kau kenakan itu, Do Seonsaengnim." Kai menyeringai. "Boleh kucabut, kan?"
"Sudah kubilang itu bukan kumis palsu, Jongin! Itu kumis asli!" dusta Kyungsoo.
"Benarkah?" jari-jari Kai menari di atas pipi mulus Kyungsoo.
"Iya!" Kyungsoo mengangguk meyakinkan.
"Kalau begitu, kutarik kumismu ya! Kalau ini asli, pasti takkan lepas. Tapi kalau palsu akan lepas." Kai bersiap-siap untuk menarik kumis Kyungsoo. Dalam hati, Kyungsoo berdoa semoga ada sesuatu yang menggagalkan kegiatan Jongin.
"Cepat tarik! Aku tidak tak—"
CKLEK!
Belum sempat Kyungsoo menyelesaikan ucapannya, seseorang membuka pintu ruang kelas. Kai cepat-cepat menjauhkan diri dari Kyungsoo. Mereka berdua memandang sosok Namja berwajah rupawan yang tengah berdiri di ambang pintu sambil membawa beberapa buku tebal. Rupanya Kim Joonmyeon.
Kyungsoo menghela nafas lega melihatnya. Untunglah Suho datang. Toh, bagaimana kalau Suho tidak datang? Entahlah. Kyungsoo tak tahu—bahkan tak pernah ingin tahu—apa yang terjadi jika Suho tidak datang.
"Kai! Ikut Seonsaengnim ke ruang guru." titah Joonmyeon. Sontak Kyungsoo membelak kaget.
Jika sudah membicarakan soal siswa yang disuruh ke ruang guru, mungkin kalian berpikir kalau siswa tersebut akan dihukum karena melakukan sebuah hal jelek. Kai? Ah, siswa dengan tampang bad boy sepertinya memang pantas dihukum oleh Joonmyeon.
"K-kenapa?" Kyungsoo heran.
"Dia harus siap-siap untuk lomba matematika besok."
.
.
Ketika jam istirahat, Kyungsoo bersiap-siap untuk berangkat ke kantin. Dia tak ingin berlama-lama di dalam kelas 2-A karena takut seandainya Kai akan kembali ke kelas lalu menarik kumis palsunya. Ditambah, Kyungsoo juga malas melihat sekelompok siswi-siswi yang cekikikan ke arahnya. Mereka adalah sekelompok fangirl yang menggilai guru mereka sendiri.
Di koridor sekolah, Kyungsoo bertemu dengan salah satu guru bernama Byun Baekhyun. Mereka berdua berkenalan sebentar, lalu berjalan bersama menuju kantin. Pandangan si guru baru terarah pada mading sekolah. Di sana ada beberapa rubrik-rubrik yang menarik. Tapi ada satu yang paling menarik perhatian Kyungsoo. Rubrik tentang 10 siswa berprestasi.
"Kyungsoo, kau mau ke mana sih?" tanya Baekhyun sambil mengikuti Kyungsoo yang tengah berjalan ke arah mading.
Kyungsoo mengamati rubrik yang menarik perhatiannya itu. Di rubrik itu ada foto seorang pemuda berambut brunette yang memegang piala sambil tersenyum. Begitu mengenali orang di foto, Kyungsoo langsung malas. Dia segera membalikkan tubuhnya lalu berjalan dengan lemas menuju kantin bersama Baekhyun.
"Kenapa?" Baekhyun merasa heran melihat raut panik, dan cemas di wajah Kyungsoo.
"Ini tentang Jongin." jawab Kyungsoo. Baekhyun menaikkan alisnya.
"Ada apa dengan Jongin? Dia melakukan hal buruk?"
"Umm…" kejadian di kelas kembali terputar di kepala Kyungsoo. Meski sudah berusaha melupakannya, tetapi kejadian itu selalu muncul di otaknya. Dan Kyungsoo benci itu. Andai kejadian itu tak pernah ada—atau kalau perlu, nama 'Kim Jongin' tak pernah ada.
"Tak mungkin siswa sebaik Jongin melakukan hal buruk."
Baik?! Jadi dengan mengusap-usap pipi seorang guru dengan lancang bisa disebut baik?
"Kau tahu? Jongin adalah siswa kebanggaan sekolah. Dia sangat pintar matematika, bahkan sering memenangkan beberapa lomba. Jongin juga menjadi murid kesayangan guru-guru, terutama Joonmyeon-sshi." Baekhyun menjelaskan panjang lebar. Sementara Kyungsoo hanya diam melongo, dan menganggap ucapan Baekhyun hanyalah imajinasinya saja.
"Meski pintar di bidang matematika, tapi tak ada seorangpun yang sempurna, kan? Jongin selalu mendapat nilai merah setiap pelajaran sejarah." lanjut Baekhyun.
"Sejarah?" Kyungsoo kaget.
"Iya! Jika ditanya 'kenapa kau selalu mendapat nilai jelek di pelajaran sejarah?' maka Jongin akan jawab 'karena aku malas mempelajari orang yang sudah mati'. Makanya guru sejarah yang dulu sangat membenci Jongin. Hingga suatu saat, dia memukul Jongin saking sebalnya, dan akhirnya guru itu dipecat dari sekolah." Baekhyun kembali berucap panjang lebar tentang Jongin. "Kyungsoo."
"Kenapa?"
"Kumohon, ajari Jongin sampai ulangan sejarahnya mendapat nilai sempurna."
.
.
Kyungsoo menghela nafas berat sambil membuka kotak bekalnya. Dia mengambil sendok, dan mulai memakan bekalnya. Ucapan Baekhyun masih terputar jelas di otaknya. Entah mengapa, hal itu sangat sulit untuk dilakukan. Toh, hubungan antar Kyungsoo-Jongin kurang baik karena kesan pertemuan pertama yang buruk.
Membuat Kai mendapat nilai sempurna dalam ulangan sejarah sama dengan memberikan banyak pelajaran tambahan untuk Jongin.
Memberikan banyak pelajaran tambah untuk Jongin sama dengan Kyungsoo sering bertemu Jongin.
Kyungsoo sering bertemu Jongin sama dengan membuat kumis palsunya lepas.
Eh. Kumis palsu?
"Lho? K-kumisnya mana?" Kyungsoo panik sambil menyentuh daerah di antara hidung dan mulutnya. Namun Ia tak menemukan kumis palsu tersebut.
Dan, pada saat itu Ia sama sekali tak menyadari sepasang manik tengah memandangnya tajam dari salah satu meja. Sosok itu menyeringai lebar lalu melangkahkan kakinya ke arah meja si guru baru. Dia duduk di sebelah Kyungsoo yang masih sibuk mencari kumis palsu. Hingga, Kyungsoo sadar kalau seseorang tengah duduk di sebelahnya.
Dengan sangat lambat, Kyungsoo menoleh. Tampangnya langsung berubah horor begitu melihat Jongin yang tengah mencomot bekalnya. Bukan! Kyungsoo bukan memikirkan nasib bekalnya, tetapi pandangannya terarah pada sebuah benda berwarna hitam di tangan Jongin.
Itu kumis palsunya!
"Halo, Do Seonsaengnim!" sapa Kai sambil tersenyum lebar—menurut Kyungsoo lebih mirip sebuah senyum mematikan.
"H-halo…" balas Kyungsoo, gugup. Ia tertunduk, dan tak peduli jika bekalnya akan habis karena terus dicomot Kai.
"Bagaimana kabar Seonsaengnim?" Kai mulai basa-basi sambil menyeringai ke arah Kyungsoo.
"Sangat buruk setelah bertemu denganmu." jawab Kyungsoo tanpa menoleh.
"Tadi ketika di WC, aku menemukan kumis ini di wastafel. Sepertinya kau melepas kumis itu lalu lupa untuk memasangnya lagi, ya?" ujar Kai tepat sasaran, membuat Kyungsoo bingung harus bilang apa. Ia sudah tak bisa mengelak lagi karena Kai telah tahu kalau ia mengenakan kumis palsu. "Kau yang melempar bola basket ke wajahku! Benar begitu, Do Seonsaengnim?"
"Umm… yeah~" Kyungsoo hanya mengangguk. Tiba-tiba Kai mencengkram pergelangan tangannya. Pemuda berkulit tan itu menatap tajam ke arah Kyungsoo. Kyungsoo tersentak kaget ketika mendapat perlakuan seperti itu dari Kai.
"Kalau begitu kau harus mendapat balasan!" itu adalah sinyal bahaya yang diberikan oleh Kai. Satu-satu hal yang bisa Kyungsoo lakukan untuk menyelamatkan hidupnya adalah…
Lari.
.
.
"Seonsaengnim~ jangan lari!"
Dan, kini terjadilah adegan kejar-kejaran antara Kyungsoo, dan Kai di koridor sekolah yang menimbulkan sedikit keributan. Kyungsoo merasa sangat terancam, Ia tak berani untuk sekedar menoleh ke belakang. Kakinya terasa sangat lelah karena telah berlari sejak tadi. Kyungsoo tak sanggup berlari lagi!
Pemuda bermata bulat itu berbelok ke arah suatu ruangan. Setibanya di dalam sana, Kyungsoo mengumpat kesal dalam hati karena telah memasukki ruangan yang salah, yaitu ruang olahraga. Ia terduduk lemas di lantai dengan nafas tersenggal-senggal. Dengan takut, Kyungsoo menoleh ke belakang, dan melihat Kai tengah menyeringai lebar. Yang membuat Kyungsoo semakin panik adalah, Kai memegang bola basket yang mungkin tidak lama lagi akan mendarat di wajahnya.
"Jongin mau apa?" tanya Kyungsoo.
"Tentu saja balas dendam!" jawab Kai tanpa melepas seringai di bibirnya. Seringai itu malah membuat Kyungsoo bergidik ngeri.
"Tapi, bukankah kita sudah impas waktu itu? Jadi, kau tak perlu balas dendam, Jongin. Lagipula aku ini kan, gurumu! Guru sejarahmu! Wali kelasmu!" Kyungsoo harap, Kai tidak akan balas dendam lalu pergi setelah mendengar ucapannya barusan. Tapi yang terjadi tidak sesuai harapan Kyungsoo.
"Aku tak peduli! Mau kau guruku, atau siapapun itu, pokoknya aku harus balas dendam!"
"K-kau akan kuhukum kalau berani melempar bola itu." perkataan Kyungsoo menimbulkan raut keraguan di wajah Kai. Dalam hati, Kyungsoo berteriak senang melihat perubahan mimik muridnya tersebut.
"A-aku akan tetap melemparnya, Seonsaengnim…" kata Kai. Kyungsoo tersenyum tipis sebelum bangun berdiri.
"Baiklah, sekarang lempar bola itu ke wajahku! Sekarang!" tantang Kyungsoo tanpa menunjukkan tanda-tanda ketakutan di wajah imutnya. Mungkin Kai takkan melempar bola basket itu karena takut dihukum, begitulah yang Kyungsoo pikirkan.
"Oke!"
"Cepat lem—"
BRAK!
Sungguh melesat jauh dari pemikiran Kyungsoo. Kai tetap melempar bola basket tersebut, tetapi untunglah Kyungsoo berhasil menghindarinya sehingga bola itu mendarat di lantai. Kyungsoo menatap bola basket itu, dan wajah Kai secara bergantian.
"Gila! Kau mau membunuhku?!" teriak Kyungsoo. Asal kalian tahu, tadi Kai benar-benar marah, dan melempar bola basket itu dengan sekuat tenaga. Entah apa yang terjadi apabila bola itu mendarat di wajah Kyungsoo.
"Kan, Seonsaengnim yang minta!" bentak Kai. Kyungsoo menggeram sebal seraya mengambil bola basket di lantai. "Sekarang Seonsaengnim mau apa? Melempar bola itu ke wajahku?"
"T-tidak! Aku bisa dipecat jika melakukan kekerasan pada muridku." jawab Kyungsoo. Ia berbalik, dan berjalan menjauh. Tanpa Kyungsoo duga, Kai malah mengambil bola basket lain lalu melempar ke arahnya—tepatnya di punggung.
"Ya! Sakit tahu!" teriak Kyungsoo sebal. Kedua matanya memandang Kai dengan tajam. Sementara Kai hanya tmenyeringai.
"Sudah kubilang aku akan tetap balas den—"
BRAK!
Belum sempat Kai menyelesaikan ucapannya, Kyungsoo melempar bola basket itu ke wajah muridnya karena terlanjur marah. Kai mengepalkan tangannya kuat-kuat, dan menatap Kyungsoo penuh kebencian. Pemuda berkulit tan itu segera mengambil bola basket yang tadi dilempar Kyungsoo. Dengan kuat, Kai melempar bola itu ke arah Kyungsoo. Sama seperti sebelumnya, Kyungsoo berhasil menghindar.
"Kau gagal, hitam!" ejek Kyungsoo sambil menjulurkan lidahnya. Sementara Kai semakin murka, dan kesal.
"Awas kau Do Kyungsoo!"
Dan, mereka berdua saling lempar-melempar bola basket. Lemparan Kai sering meleset, tetapi lemparan Kyungsoo selalu tepat sasaran. Entah darimana Kyungsoo bisa melakukan lemparan tersebut, padahal Ia tak pernah mengikuti klub olahraga sewaktu sekolah dulu. Ini keajaiban.
.
.
Suho tengah berjalan dengan beberapa tumpukan buku di tangannya. Tadi, temannya, Byun Baekhyun, menyuruhnya untuk mengambilkan buku-buku itu ke perpustakaan sekolah. Merepotkan sekali. Padahal Suho harus mengajar murid favoritnya—Kim Jongin—untuk mengikuti lomba matematika besok.
Tanpa sengaja Suho melihat seorang Namja berwajah manis yang tengah berdiri di dalam ruang klub dance. Sepertinya Namja itu tidak melakukan apa-apa selain bernafas, dan berdiri. Suho memutuskan untuk mendatangi ruang klub dance. Ruangan itu benar-benar hening.
"A-annyeonghaseo…" sapa Suho. Namja itu menoleh, dan tersentak kaget.
"Annyeonghaseo, Kim Seonsaengnim. Maaf, aku membolos pelajaran Byun Seonsaengnim…" ujar pemuda berambut cokelat itu. Suho hanya menggeleng-geleng sambil mendecak.
"Ckckck, ternyata kau Zhang Yixing yang suka bolos itu. Cepat ke kelasmu!" titahnya. Yixing tertunduk, dan berjalan dengan lemas keluar ruangan. Tiba-tiba pandangan Suho teralih pada buku-buku tebal di tangannya.
"Tunggu, Yixing!" cegat Suho. Yixing yang tiba di ambang pintu menoleh ke arah pemuda berwajah tampan itu.
"Wae?"
"Kau bisa mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan?" pinta Suho sambil tersenyum, dan menunjukan buku-buku di tangannya. Lay melongo sejenak.
"Banyak sekali…"
"Kumohon!" Lay menghela nafas berat sebelum mengambil tumpukan buku-buku tebal itu dari tangan Suho. Dalam hati, Suho tertawa puas. Akhirnya segala beban yang menghalanginya untuk mengajar Jongin telah berakhir.
"Aku pergi dulu. Dah!" setelah berucap seperti itu, Suho langsung berlari meninggalkan ruang klub dance.
Lay mendengus sebal ke arah buku-buku tebal di tangannya. Ia berjalan keluar ruangan tersebut. Begitu tiba di luar, Lay tersenyum lebar ketika melihat ada teman sekelasnya, Kim Jongdae, yang tengah berjalan dengan santai di koridor. Jongdae atau Chen adalah teman akrab Lay yang kadang suka bolos saat pelajaran Byun Seonsaengnim.
"Chen!" panggil Lay. Chen menoleh ke arahnya.
"Ada apa?"
"Bisa bawakan buku-buku ini ke perpustakaan?" pinta Lay dengan tampang melas sambil menunjuk buku-buku di tangannya. Sama seperti reaksi Lay sebelumnya, Chen juga melongo sejenak. "Ayolah~ aku dipanggil Lee Seonsaengnim tadi. Aku tidak sempat mengembalikannya."
"Oke, Lay!" Chen mengangguk seraya mengambil buku-buku itu dari Lay.
Setelah Chen menghilang dari pandangannya, Lay kembali berjalan masuk ke dalam ruang klub dance. Toh, ia malas untuk mengikuti pelajaran Byun Seonsaengnim karena lupa mengerjakan PR, dan lebih memilih untuk membolos daripada harus dihukum berlari keliling lapangan.
.
.
"Jongin, berhenti~!"
"Ya! Tidak ada ampun untukmu, Seonsaengnim!"
"Auw~ kau mau membunuhku, hah? Kenapa lemparnya keras-keras sekali? Sakit tahu!"
"Rasakan itu! Itu adalah hukuman yang tepat untuk orang sepertimu!"
Suho mengerenyit heran ketika mendengar suara ribut dari ruang olahraga. Ia memutuskan untuk sedikit mengintip ke dalam ruangan itu. Kedua matanya langsung melebar begitu melihat Jongin, dan Kyungsoo tengah saling lempar bola basket. Yang membuat Suho sempat kaget adalah Jongin berkali-kali melempar bola basket itu ke arah Kyungsoo dengan kekuatan penuh.
Suho memasukki ruang olahraga, dan memandang kedua insan itu dengan tajam. Tapi karena keasyikan lempar bola, Kyungsoo, dan Kai tak menyadari kehadiran pemuda tampan itu. Suho menggeram kesal dengan kedua tangan terkepal kuat. Dia marah pada Jongin.
Oh, lihatlah mereka berdua sekarang. Jongin dengan brutal melempar bola basket ke arah Kyungsoo. Sementara Kyungsoo berusaha menghindar karena takut terkena lemparan bola tersebut. Kyungsoo terlihat sangat lelah, sebab menghindar lemparan Jongin bukanlah hal yang mudah.
"Jongin, hentikan!" teriak Suho. Sontak Kyungsoo, dan Kai menghentikan kegiatan mereka, dan menoleh ke arah Suho. "Apa yang kalian lakukan? Sekarang sudah masuk jam pelajaran terakhir!"
"Mianhae…" dengan kompak, Kyungsoo, dan Kai tertunduk menyesal.
"Kyungsoo, jelaskan padaku sekarang. Apa yang terjadi?"
"Umm… tadi…" Kyungsoo melirik ke arah pemuda berkulit tan di sebelahnya sejenak. Kai menggerak-gerakan mulutnya seolah berkata jangan-bilang-yang-aneh-aneh. "Kami hanya sedang latihan olahraga lempar bola kok, hyung. Tadi Kai yang mengajakku, ya sudah aku terima saja, toh aku lagi tak ada jam mengajar."
"Benar, Kim Seonsaengnim." Kai mengiyakan sambil mengangguk mantap. Ia merasa lega karena Kyungsoo tak mengatakan yang sebenarnya. Mungkin, jika Kyungsoo tidak berbohong akan bilang…
"Hyung, tadi Kai melempari bola basket ke arahku! Kepalaku nyaris pecah terkena hanataman bola basketnya. Padahal aku tak punya salah apa-apa padanya. Cepat hukum dia, hyung! Jangan biarkan dia ikut lomba matematika besok."—itu hanya pemikiran Kai.
"Ya sudah. Jongin, cepat ke ruang guru. Kita harus siap-siap untuk lomba besok." ujar Suho. Kai mengangguk sebelum berlari kecil meninggalkan ruang olaharaga. "Dan, Kyungsoo, bereskan bola basket itu!"
"A-arraseo…" Kyungsoo mengangguk. Ia berjalan ke arah bola basket yang berserakan di lantai ruang olahraga.
Suho melangkahkan kakinya keluar ruang olahraga, meninggalkan Kyungsoo yang tengah mengumpat kesal karena harus membereskan bola basket. Padahal yang mengeluarkan bola basket adalah Jongin, bukan dirinya.
.
.
Ketika Suho sedang berjalan menyusul Jongin ke ruang guru, seorang Namja dengan tumpukan buku di tangan menghampirinya. Suho melotot kaget. Seharusnya yang di depannya adalah Zhang Yixing—mengingat Suho yang menyuruh dia untuk mengembalikan buku ke perpustakaan sekolah—tetapi kenapa Kim Jongdae?
"Kim Seonsaengnim bisa mengembalikan buku ini ke perpustakaan? Kumohon, aku sibuk untuk latihan vokal." pinta Chen. Dia sangat berbohong. Padahal latihan vokal hanya saat jam pulang sekolah.
"Oke. Tapi, siapa yang memberikan buku-buku ini padamu?" tanya Suho sambil mengambil buku-buku tersebut. Chen berpikir sejenak untuk mengingat-ingat.
"Lay alias Zhang Yixing!" jawab Chen. Alis Suho bertaut marah.
"Astaga, anak itu benar-benar…"
.
.
Kyungsoo baru saja membereskan kekacauan di ruang olahraga sekitar 4 menit yang lalu. Pemuda itu melangkahkan kakinya di koridor sekolah. Hingga, kedua maniknya menangkap salah satu siswa yang sedang berdiri di halaman belakang sekolah seperti sedang dihukum. Kalau tak salah, dia dari kelas 2-C. Namanya Zhang Yixing.
"Kyungsoo-sshi!" merasa dipanggil, Kyungsoo menoleh dan melihat Byun Baekhyun tengah berjalan ke arahnya.
"Kenapa, Baekhyun-sshi?" tanya Kyungsoo.
"Kau lihat Zhang Yixing? Tadi katanya dia hanya mau ke toilet sebentar, tapi sampai saat ini belum kembali ke kelas. Aduh, sepertinya dia membolos lagi. Padahal tadi ulangan bahasa Inggris." celoteh Baekhyun panjang lebar. Kyungsoo mengarahkan jari telunjuknya ke sosok pemuda yang tengah berdiri di luar.
"Itu Zhang Yixing, kan?" tebaknya. Baekhyun mengikuti arah yang ditunjukan Kyungsoo.
"Astaga, kenapa dia di luar sana? Padahal panas, bagaimana kalau nanti kulitnya jadi hitam? Nanti dia hitam seperti Jongin. Ckckck… aku harus menghukum Yixing. Dia sudah membolos lebih dari 2 kali di setiap pelajaranku. Ah, anak itu memang sangat menyebalkan." Baekhyun kembali berucap lebar.
"Tapi, sepertinya Yixing sudah lebih dulu dihukum deh. Tak mungkin dia berdiri di sana tanpa sebab." celetuk Kyungsoo.
"Mungkin kau benar, Kyungsoo-sshi. Lihat saja kalau ada jam pelajaranku di kelasnya. Takkan kuizinkan untuk sedikitpun keluar dari bangkunya. Nilai ulangan bahasa Inggrisnya kali ini adalah nol. Aku malas untuk ulangan susulan ataupun remedial." Kyungsoo hanya memasang tampang (-_-). Ternyata Baekhyun tipe orang cerewet, dan berbicara sangat cepat. "Aku ke kelas dulu ya, Kyungsoo-sshi. Sebentar lagi pulang sekolah, aku harus mengumpulkan kertas-kertas ulangan. Setelah itu aku akan menghukum Zhang Yixing. Mungkin akan kusuruh membersihkan toilet, atau berlari keliling lapangan 50 kali. Ah, kalau perlu, kusuruh dia untuk menyapu semua ruang kelas. Tapi kasihan juga sih. Menurutmu, apa hukuman yang bagus untuknya, Kyungsoo-sshi?"
"A-apa?" Kyungsoo melongo. Ia bersumpah kalau sama sekali tak mengerti ucapan Baekhyun barusan. Baekhyun berbicara sangat cepat secepat-cepatnya.
"Ya ampun, Kyungsoo-sshi. Kalau orang bicara kau harus mendengarkannya, jangan melamun. Kau perlu menghargai orang lain, jadi dengarkan aku! Aku ingin menghukum Zhang Yixing. Tapi bagaimana caranya? Apa aku harus menyuruhnya membersihkan toilet? Menyapu seluruh kelas di sekolah? Berlari keliling lapangan? Atau—"
Teng! Teng! Teng!
Ucapan Baekhyun terputus oleh bunyi lonceng sekolah yang bertanda bahwa pelajaran terakhir hari ini telah berakhir. Dalam hati, Kyungsoo tersenyum penuh kemenangan. Akhirnya, rasa membosankan karena terjebak dengan Baekhyun si cerewet akan selesai! Yeah~
"Sepertinya sekarang sudah pulangan. Kau harus kembali ke kelas, Baekhyun-sshi." ujar Kyungsoo.
"Kau benar, Kyungsoo-sshi. Setelah ke kelas, kau mau pulang bersamaku?"
Apa? Pulang bersama si cerewet itu? Kyungsoo langsung bergidik ngeri ketika membayangkan apa yang terjadi jika dirinya akan pulang bersama Baekhyun. Bisa-bisa Kyungsoo stres gara-gara mendengar ocehan Baekhyun.
"Tidak perlu. Aku ada urusan, jadi kau bisa pulang sendiri." tolak Kyungsoo, sehalus mungkin.
"Ah! Kalau begitu aku akan menunggu sampai urusanmu selesai, lalu kita pulang bersama! Aku ingin menceritakan pengalamanku sewaktu di Inggris 5 bulan yang lalu. Aku tak sabar! Aku pamit dulu, Kyungsoo-sshi. Bye~" setelah berpamitan, Baekhyun langsung pergi menuju kelasnya, meninggalkan Kyungsoo yang melongo di koridor sekolah.
Oke, Do Kyungsoo, bersiap-siaplah mendengar ocehan Byun Baekhyun selama perjalanan menuju rumahmu nanti. Semoga telingamu tidak sakit!
.
.
TBC
(A/N) Annyeonghaseo, readers!
Mianhae, ga bisa update cepet.
Awalnya aku bingung mau nulis judul chapter kedua ini, akhirnya aku pilih Revenge, entah nyambung sama isinya atau tidak XD Yah, semoga tidak terlalu mengecewakan.
Thanks To:
Brigitta Bukan Brigittiw, DianaSangadji, HyunieKyungie, 7D, ajib4ff, KaiSoo Fujoshi SNH, mimi, eibie, Imeelia, Shim Yeonhae, Hisayuchi, Xi Ri Rin, Bunny Poro, Princebabysoo, siscaMinstalove, Sihyun Jung, Riyoung Kim, yulisa. mawarni. 5, S. H. I. F. F. A, BBCnindy, jenny, dookyungsoo21, dan Silent Readers
Review please!
