Disclaimer : Bleach tetap punya Kubo Tite–sensei ya….. ^^
Pairing : Hitsuhina
Author : Momo Saitou
The Lost Memory
CHAPTER 2
Sudah dua minggu Hitsugaya bersekolah di Karakura High School, sudah dua minggu pula Hitsugaya dan Hinamori berteman. Banyak hal yang sudah mereka lakukan. Mereka sering berangkat dan pulang sekolah bersama. Mereka juga sering keperpustakaan kota. Terkadang mereka mengobrol disebuah café sambil menikmati lagu–lagu klasik.
Semenjak itu mereka semakin akrab. Bagi Hinamori, Hitsugaya adalah teman yang menyenangkan dan juga bisa diandalkan. Begitu pula dengan apa yang dirasakan Hitsugaya. Hitsugaya merasa semenjak kehadiran Hinamori dalam hidupnya, segalanya terasa sangat menyenangkan. Segalanya terasa lebih baik bila dia ada.
Suatu hari Hinamori pernah bertanya pada Hitsugaya alasan dia pindah. Kenapa Hitsugaya lebih memilih pindah kemari dan tinggal bersama pamannya dibanding dengan orang tuanya? namun Hitsugaya hanya menjawab kalau dirinya ingin menemukan suasana baru dan juga ingin melupakan seseorang. Hitsugaya tak pernah memberitahu Hinamori siapa orang yang ingin dilupakannya.
Keakraban mereka bukan hanya sampai disitu, Hinamori juga sering bermain kerumah Hitsugaya, karena paman Hitsugaya jarang dirumah, Hitsugaya harus membuat makanannya sendiri, Hinamori pun memutuskan membuat makanan untuk Hitsugaya. Sampai–sampai dia membeli sandal doraemon supaya dapat dia gunakan saat kerumah Hitsugaya. Terkadang malah Hitsugaya sendiri yang main kerumah Hinamori, ibu Hinamori juga sudah sangat mengenal Hitsugaya.
Namun entah kenapa akhir–akhir ini perasaannya tidak enak. Apalagi semenjak kejadian malam itu.
Flashback...
Hari itu malam sudah semakin larut, Hinamori sedang berada dirumahnya, dia sendirian dirumah, karena ibunya sedang menjenguk sepupunya yang dirawat dirumah sakit. Sambil menunggu ibunya yang belum pulang, Hinamori memilih untuk membaca buku di kamarnya.
Waktu berlalu dengan sangat cepat, tetapi ibunya belum juga pulang. Padahal ia sudah menyelesaikan buku yang ia pinjam dari perpustakaan kota dua hari lalu.
Ketika ia sedang mengambil minum didapur, tiba–tiba terdengar suara–suara berisik dari arah luar rumahnya. Ia pun segera berlari menuju ruang tamu dan segera membuka pintu rumahnya. Alangkah terkejutnya dia saat melihat Hitsugaya dan ibunya didepan rumahnya, juga... 'paman Aizen?' gumamnya.
"Tch.. kau ini memang menyusahkan, dasar anak ingusan tak tahu diri," gerutu Aizen.
"Kau lihat saja apa yang akan ku lakukan padamu," kata Aizen sambil meninggalkan Hitsugaya dan juga ibu Hinamori. Hinamori segera berlari menghampiri ibunya.
"Ibu, apa yang terjadi?" tanya Hinamori cemas.
"Nanti ibu ceritakan, Ibu masuk duluan ya," jawab ibu Hinamori mencoba untuk menenangkan hati anaknya.
Setelah itu, ibu Hinamori meninggalkan Hinamori berdua dengan Hitsugaya. Suasana jadi hening, hingga sebuah suara membuka percakapan.
"Hitsugaya–kun, kau tak apa?" tanya Hinamori dengan nada yang sangat cemas.
Hitsugaya menyunggingkan senyumnya sambil bekata,"aku tak apa Momo. Tak ada yang perlu dikhawatirkan, hanya kepalaku saja mungkin yang sedikit sakit."
"Tapi pelipismu berdarah. Aku....."
Belum sempat Hinamori berkata lebih jauh, Hitsugaya sudah memotongnya, "aku sungguh baik–baik saja Momo."
"Kalau begitu izinkan aku untuk mengobati lukamu," pinta Hinamori.
"Hahahahaha...kau ini lucu sekali kalau sedang khawatir," ledek Hitsugaya.
Hinamori hanya mengembungkan pipinya tanda ia sangat kesal dengan sikap Hitsugaya. Hitsugaya yang menyadari tampang Hinamori segera meminta maaf, "hei, kau ngambek? aku kan hanya bercanda!"
"Baka!!!!! kau masih saja bercanda walau dalam keadaan sakit begini. aku itu sangat mengkhawatirkanmu Hitsugaya–kun" kata Hinamori disertai semburat merah diwajahnya.
"Maafkan aku Momo, aku senang kau mengkhawatirkan aku. Tapi sungguh, aku benar–benar tak apa–apa," jelas Hitsugaya. "Sekarang kau lebih baik segera tidur, karena sudah larut malam"
"Baiklah kalau begitu."
End flashback
Hinamori sangat takut dengan apa yang akan terjadi dengan Hitsugaya nanti. Karena pamannya sudah mengancam Hitsugaya. Ia tahu bahwa pamannya bukanlah orang yang main–main dengan ucapannya.
'Semoga firasatku ini salah' gumam Hinamori. Sebelum akhirnya ia memejamkan matanya.
xxx
Hari ini hujan sangat deras, Hinamori baru saja pulang dari rumah Rukia. Hinamori sangat lelah dan ingin segera beristirahat, lagian saat itu Hinamori sedang terserang flu. Namun saat dia ingin menyalakan lampu ruang tamu, tiba–tiba lampunya tak menyala, membuat dia bingung karena dia tak mengerti apa–apa tentang listrik. Kebetulan saat itu ibunya sedang tidak ada dirumah dan menginap dirumah saudaranya. Sehingga dia hanya sendiri dirumah selama seminggu. Dia ingin meminta tolong pada Hitsugaya, namun sayangnnya Hitsugaya sedang tidak ada dirumah. 'aduh... kenapa sih dia malah ga ada disaat sedang dibutuhkan begini' batinnya.
'Sumi nareta kono heya wo... Dete yuku hi ga kita.. atarashii tabidachi ni mada tomadotteru... '
Tiba–tiba terdengar suara ponsel Hinamori berdenting. 'Baru saja diomongon' batin Hinamori lagi saat melihat nama seseorang di layar ponselnya. Dia pun segera menjawab," moshi – moshi?"
"Momo–chan," terdengar suara riang dari seberang sana dengan latar belakang suara hujan.
Alis Hinamori terangkat, "Hitsugaya–kun?"
"Momo–chan?" panggil Hitsugaya lagi."sedang apa?"
"Tidak sedang apa–apa," jawab Hinamori singkat.
"Ada apa dengan suaramu?"
"Hanya sedikit flu. Ada apa menelpon?" sebelum Hitsugaya menjawab, Hinamori melanjutkan lagi, "ah, aku tahu setiap kali kau meminta bantuan kau selalu memanggilku Momo-chan."
"Bingo!" seru Hitsugaya gembira."Walaupun kita baru berteman dua minggu, ternyata kita sudah saling memahami. Aku senang sekali."
Hinamori hanya tertawa hambar, "baiklah! ada apa?"
"Momo, kau tahu sekarang sedang hujan?"
"Ya," jawab Hinamori cuek.
"Aku baru pulang latihan futsal dan sekarang sedang duduk menunggu di halte bus."
"Lalu?" tanya Hinamori datar.
"Hujannya deras sekali."
"Lalu?"
"Bukankah sudah jelas? Aku tidak membawa payung dan lagi aku sudah kedinginan. Aku bosan menunggu hujan yang tak berhenti–henti," Hitsugaya berhenti sejenak dan berdehem."Jadi, kau bisa menjemputku?"
"Menjemputmu?" tanya Hinamori heran.
Hitsugaya buru–buru meralat, "mengantarkan payung untukku. Bisa? tolong? aku bersedia kok menemanimu sepanjang malam tahun baru, ya?" kata Hitsugaya memelas.
Tak butuh waktu lama untuk Hinamori berfikir. "Tunggu disana, aku akan segera datang"
xxx
Hitsugaya duduk dibangku panjang yang tersedia di halte bus sambil memandang hujan yang tak juga berhenti. Tidak mungkin ia dapat berjalan pulang tanpa membuat dirinya basah kuyup dari ujung rambut sampai ujung kaki. 'lama sekali Momo,' Batin Hitsugaya.
Sementara itu, Hinamori berjalan cepat mencoba bersiul untuk menghibur dirinya. Namun hal itu tak berhasil, karena cuaca dingin dan flu menyebabkan siulannya terdengar seperti balon kempes. Dia hampir sampai di halte bus yang Hitsugaya tuju. Dia melihat Hitsugaya yang sedang mendongak sambil memandang hujan dari atas langit, bahkan laki–laki itu sepertinya tak sadar saat Hinamori menghampirinya.
"Aku sudah datang."
Hitsugaya segera menoleh dengan cepat. Alisnya terangkat saat menyadiri bahwa Hinamori sudah berdiri didekatnya, "kau benar–benar datang? kau baik sekali! sungguh!"
Hinamori segera memberikan payung lipatnya kepada Hitsugaya, "kau pikir aku tidak akan datang?"
"Jadi kau benar–benar akan menghabiskan malam tahun baru bersama ku?" gurau Hitsugaya riang.
"Terserah apa kata kau saja," kata Hinamori ringan. Hinamori memang sudah terbiasa dengan sikap Hitsugaya yang suka bercanda dan berbicara seenak sendiri.
Hitsugaya segera menerima payung lipat yang disodorkan Hinamori sambil mengerutkan alisnya."Sepertinya flu mu sangat parah dengan apa yang kukira."
"Aku sudah minum obat kok, besok juga sudah sembuh," bantah Hinamori sambil mengamati Hitsugaya yang sedang membuka payung lipatnya."Ngomong–ngomong kenapa kau latihan futsal hingga sore begini?"
Hitsugaya berpaling menghadap Hinamori, "iya, sebentar lagi kan ada kejuaraan futsal tingkat nasional, dan aku ingin dapat masuk kekejuaraan itu."
Hinamori menarik lengan Hitsugaya, "ayo kita mengobrol sambil jalan saja. Dingin sekali!" katanya. Ia ingin cepat–cepat sampai dirumah agar Hitsugaya dapat memasang bola lampu untuknya."Bukankah kau pernah mengatakan padaku, kau ingin mengadakan pertunjukkan piano, kau kan sangat mahir dalam bidang musik?"
"Ya, tadinya! Tetapi setelah ku pikir–pikir mengadakan pertunjukkan piano itu tak semudah yang dibayangkan. Jadi, lebih baik aku mengikuti kejuaraan futsal yang memang sudah sangat jelas," sahut Hitsugaya puas. Ia menoleh menatap Hinamori yang berjalan disampingnya." Ngomong–ngomong kalau besok flumu belum sembuh, sebaiknya kau segera ke dokter."
Hinamori mendesah, "sudah kubilang, aku punya obat dirumah dan sudah kuminum. Besok juga sudah sembuh."
"Baiklah, jika kau fikir begitu."
Tiba–tiba Hitsugaya memegang siku Hinamori dan menariknya menepi tepat ketika sebuah mobil melewati mereka. Hinamori agak heran mendapat perlakuan seperti itu dari Hitsugaya. Lebih heran lagi ketika ia menyadari laki–laki itu telah bertukar posisi dengannya, sehingga kini Hinamori berjalan dibagian dalam jalan dan Hitsugaya berjalan di sebelah luar. Menurutnya sikap Hitsugaya sangat sopan dan sangat perhatian.
Sejak Hitsugaya pindah di depan rumahnya dua minggu yang lalu, Hinamori sudah memerhatikan bahwa Hitsugaya selalu bersikap sopan walaupun terkadang cara bicaranya asal–asalan. Ia juga tetangga dan teman yang baik bagi Hinamori. Karena sering menghabiskan waktu bersama, Hinamori yakin sikap Hitsugaya yang sopan itu bukan karena laki–laki itu ingin memamerkan diri tetapi karena memang sudah terbiasa melakukannya. Hitsugaya selalu membuka dan menahan pintu masuk untuk Hinamori setiap kali mereka masuk dan keluar ruangan. Dan terkadang sikap perhatian Hitsugaya itu membuat anak–anak cewek di sekolah Hinamori iri. Tetapi sopan santun itu tak berarti kalau seorang laki–laki tak bisa melakukan satu hal yang sangat penting.
Hinamori menoleh manatap Hitsugaya sambil tersenyum manis, "ngomong–ngomong Hitsugaya–kun, kau bisa memasang bola lampu?"
xxx
"Lihat! Tinggal di putar begini saja," kata Hitsugaya sambil menunjukkan cara memasang bola lampu di ruang tamu Hinamori. "Kau memang harus banyak belajar. Masa pekerjaan segampang ini saja tak bisa melakukannya? harus menuggu orang lain melakukannya untukmu!"
Hinamori yang memegangi senter cemberut saja, "aku takut kesetrum," gerutunnya pelan.
"Tidak akan kesetrum kalau kau hati–hati."
Hinamori mencibir.
"Nah selesai," kata Hitsugaya turun dari tangga."Coba nyalakan!"
Hinamori menjetrekkan sakelar lampu. Tidak ada yang terjadi, ruangan tetap gelap.
"Hitsugaya–kun, sebenarnya kau bisa tidak sih memasang bola lampu?" tanya Hinamori curiga.
Hitsugaya mendongak menatap bola lampu yang baru saja dia pasang dengan kening berkerut. "Sepertinya ini bukan masalah bola lampunya, tetapi ada masalah dengan kabel listrikmu," katanya.
"Lalu?"
"Kalau memang itu masalahnya, aku tak bisa membantu," jelas Hitsugaya.
"Ha?"
Hitsugaya mengangkat kedua bahunya, "aku bukan tukang listrik. Sebaiknya kau segera memberitahu ibumu dan menelpon tukang listrik besok. Biar mereka yang memeriksa kerusakannya."
"Tapi.. tapi.." kata Hinamori terbata–bata.
"Kenapa?" Hitsugaya berbalik menatap Hinamori.
"Bagaimana denganku?"
"Bagaimana denganmu?" Hitsugaya mengangkat kedua alisnya.
"Itu.." Hinamori memainkan kedua jari telunjuknya dan tersenyum salah tingkah. "Aku tidak suka gelap."
Walaupun ruangan itu hanya disinari lampu senter yang remang-remang, Hinamori dapat melihat senyum yang tersungging dibibir Hitsugaya. Sudah pasti laki-laki itu menertawakannya.
"Kalau kau takut gelap, diam dikamar tidur saja. Disana kan lampunya masih dapat menyala," kata Hitsugaya menahan tawa.
"Tapi aku kan sering mondar-mandir disini," Hinamori membela diri sambil menggerakan tangannya kesekeliling ruang tamu. "Perasaanku tetap tak enak kalau gelap gulita."
"Nyalakan saja lilin."
"Sama saja."
"Jadi kau maunya bagaimana?"
Hinamori memiringkan kepalanya. "Aku bisa numpang menginap dirumah Rukia, tetapi kebetulan Rukia sedang pergi. Esok baru dia pulang, lagian ini kan akhir pekan."
"Kau mau aku menemanimu disini?" tanya Hitsugaya setelah memikirkan arah pembicaraan Hinamori.
Hinamori menggeleng, "sudah kubilang kan aku tidak suka gelap, walau ada yang menemani tetap saja aku tidak suka dengan gelap."
Hitsugaya mendesah pelan, "jadi aku tak bisa mengajakmu nonton dibioskop ya?"
"Apa?" tanya Hinamori sambil mengerjapkan mata.
"Dibioskop kan gelap."
"Aah…itu." Hinamori paham akan apa yang dibicarakan Hitsugaya. "Tapi itu berbeda."
"Berbeda gimana?" tanya Hitsugaya heran. "kan sama-sama gelap!"
"Kalau dibioskop kan perhatianku sepenuhnya hanya tertuju pada film yang kutonton dan aku tak merasa gelap," jelas Hinamori panjang lebar.
"Berarti kau mau kalau kuajak nonton?"
Hinamori mengangkat kedua alisnya. Ada sedikit rasa heran dengan arah pembicaraan mereka. "Tentu saja," sahut Hinamori, lalu menambahkan, "kalau kau yang bayar."
Hitsugaya tersenyum. "Baiklah, jadi bagaimana sekarang? Kau tidak mau disini, mau menunggu dirumahku?"
Wajah Hinamori berseri-seri. "Ya!"
xxx
"Hitsugaya-kun, rumahmu sepi sekali. Dimana pamanmu?" kata Hinamori sambil duduk disofa empuk di ruang tamu. Sementara itu Hitsugaya menyalakan pemanas ruangan. Hujan diluar masih belum berhenti.
"Oh, paman sedang ada urusan dikantornya. Ada file yang tertinggal, sehingga ia harus kembali kekantornya. Mungkin nanti malam ia baru pulang," sahut Hitsugaya panjang lebar. "Kau mau minum Momo?"
Hinamori mengangguk. "Teh juga boleh," katanya. "Ngomong-ngomong Hitsugaya-kun kau sudah tak pernah bermain piano?"
"Ya, kenapa?"
"Tidak, hanya saja beberapa hari ini aku tak melihat pianomu disini," kata Hinamori sambil mengedarkan pandangan kesekeliling ruangan.
"Oh itu, paman memperbaikki pianoku karena suaranya sudah tak enak didengar. Mungkin karena piano itu sudah sangat tua umurnya…Hehehe," terdengar suara Hitsugaya dari dapur.
"Padahal aku kan ingin mendengar kau bermain piano, kau hanya bilang padaku dulu kau sering bermain piano," gumam Hinamori dengan nada menyesal.
Hitsugaya muncul sambil membawa dua cangkir teh. "Lain kali akan kutunjukkan permainan pianoku padamu."
Hinamori mengangkat kedua kakinya dan duduk bersila disofa. Ia menyesap teh dan berkata, "sewaktu kau tinggal di Amerika kau sering bermain piano?"
Hitsugaya menghembuskan napas pelan, meletakkan cangkir tehnya dimeja, dan menyandarkan punggung kesandaran sofa. "Ya," sahutnya pelan.
"Lalu kenapa sekarang kau tak pernah bermain piano lagi?" tanya Hinamori heran.
"Bukankah aku pernah bercerita padamu aku ingin mencari suasana baru?"
"Ya…dan juga ingin melupakan seseorang," sambung Hinamori. "Apakah piano ada hubungannya dengan orang yang ingin kau lupakan?"
Hitsugaya tak langsung menjawab pertanyaan gadis disebelahnya, dia sedang sibuk dengan pikirannya sendiri. Beberapa saat kemudian ia menoleh dan mendapati gadis itu tengah berbaring disofa dengan mata terpejam. Tidur? Ia bangkit untuk memastikan, benar, gadis itu sudah pulas. Flu memang dapat membuat seseorang gampang mengantuk. Tanpa suara Hitsugaya pergi ke kamar tidur dan keluar dengan membawa selimut tebal. Ia menyelimuti Hinamori dan berdiri merenungi pertanyaan Hinamori.
'Ya, piano memang mengingatkan aku kepada seseorang yang benar-benar ingin aku lupakan.'
TSUZUKU...
Wah… chaprter 2 sudah selesai!!!!! Maaf ya… apabila masih ada kesalahan!!! Karena masih bingung harus buat cerita kaya gimana lagi..hehehe
Ditunggu reviewnya …. Jangan lupa^^
