BAB 1
Namaku Kagamine Rin. Aku adalah anak tunggal dari keluarga Kagmine. Salah satu keluarga Terpandang yang disegani dari lima kelurga besar di Vocaloid city. Dan aku sudah bertunangan. Laki-laki itu tujuh tahun lebih tua dariku yang masih 16. Gakupo kelihatannya memang tidak terlalu peduli tentang masalah itu. Selagi aku adalah Putri dari keluarga Kagamine, dia tidak akan banyak komentar.
"Rin, apa yang kalau lakukan? cepat turun, nanti kau terlambat!" teriak suara serak seorang wanita dari luar pintu kamar.
"Iya sebentar." Aku memandangi sekali lagi pantulan diriku di cermin. Pita kuning itu selalu menjadi favoritku. Dan seragam ini, semuanya sempurna.
Aku membuka pintu, kemudian segera berlari menuruni tangga dengan terburu. "Jangan berlari seperti itu, Rin! itu sangat tidak Lady, sekali!" omelnya.
Aku tidak terlalu mempedulikannya. Dia memang selalu cerewet. Selalu mengomentari tentang tatakrama dan tepat waktu. Namanya Suzuka, dia Bibiku. Sebenarnya dia bukan bibi kandung, lebih tepatnya, dia adalah pengasuhku. Dari kecil dia yang mengajari, dan melakukan berbagai hal untuk kebaikanku, termasuk menjadi perwalianku saat orang tuaku di luar negri. Mereka sering sekali ke luar negri, selalu meninggalkanku, dan kami jarang bertemu. Itulah yang selalu membuatku sedih.
"Jangan makan sambil berlari, Rin!" teriaknya lagi saat melihatku menyambar sarapan dan langsung melesat ke pintu keluar.
"Aku terlambat. Tidak ada waktu untuk table of manner." kataku sambil menggigit roti selagi memakai sepatu.
Aku bisa mendengar bibi Suzuka mendesah, dan bisa kupastikan Pengasuhku itu sedang menggeleng-geleng melihat kelakuan anak didiknya yang seperti itu.
"Rin," Panggil Bibi Suzuka. Kali ini dalan nada yang lebih rendah. "Kau tidak lupa dengan acara nanti sore kan?"
Sepasang tanganku sempat berhenti mengikat sejenak. Aku tahu apa maksud kata-katanya. Aku menarik nafas, berdiri menuju pintu keluar.
"Rin..."
"Ya, aku tahu." kataku sambil menoleh. Aku mencoba sebisa mungkin sapaya senyuman yang kuperlihatkan natural. "Ayah dan Ibu akan pulang. Ya, aku tidak lupa. Bibi tenang saja."
"Selain itu..." cegahnya lagi. "Ada sesuatu penting yang ingin dibicarakan Ayahmu tentang keluarga Kamui. Bibi harap kau bisa menikmati hari ini sebaik mungkin."
Aku masih sedikit bingung dengan apa yang dikatakan bibi Suzuka, tapi akhirnya aku menanggapinya dengan anggukan.
Sekeluarnya dari rumah besar itu, aku melangkah terburu menyusuri jalanan beraspal yang sudah tidak asing lagi. Aku tidak suka naik mobil ke sekolah, itu hanya membuatku semakin jadi sorotan, dan aku kurang suka dengan segala sesuatu yang menarik perhatian publik. Aku kurang baik dalam hal itu. Dan seperti yang kukatakan tadi. Orang tuaku memang selalu pergi ke luar negri. Sejak bercerai dengan Ibu kandungku, Ayah lebih banyak menghabiskan waktunya mengurusi pekerjaan di luar. Juga saat ia menikah lagi dengan istri mudanya tiga tahun lalu, Lazzete. Aku bersyukur Lazzete tidak seperti ibu tiri jahat yang ada di dongeng-dongeng, tapi itu juga tidak bisa dibilang kalau hubungan kami sudah seperti Ibu dan anak. Kami jarang bicara. Sejauh ini, hubungan kami memang baik-baik saja, dan kuharap selamanya begitu.
Sisi-sisi jalan yang kulalui di jejeri oleh pohon sakura seperti pagar pembatas berbatang besar. Kelopak bunga sakuranya yang memiliki warna pink lembut, berjatuhan lambat ke atas tanah. Pemandangan ini sangat indah, jauh lebih indah dari Salju di musim dingin. Aroma bunga Sakura dan suasana tenang ini, begitu juga hembusan angin musim semi, aku suka semuanya.
Kemudian di sela-sela suara angin yang behembus, aku mendengarnya lagi. Alunan lagu dari biola yang di gesek. Musik yang indah, lembut, dan mempesona. Ketika mataku mengerjap, aku melihat seorang laki-laki berdiri di bawah salah satu pohon sakura. Sebelumnya aku tidak melihat laki-laki itu. Seolah dia muncul begitu saja ketika mataku mengedip. Di salah satu tangannya yang memegang biola, pita kuning terikat di pergelan tangan. Matanya terpejam. Seakan ia telah terhanyut sepenuhnya dalam alunan biola yang dimainkan. Sampai lagu terakhir selesai, kelopak mata itu baru terbuka.
Cahaya dari matanya, aku belum pernah melihat seseorang dengan cahaya seperti itu. Ia kelihatan sedih dan kesepian. Jauh berbeda dari sorot mata Gakupo yang mana diliputi rasa percaya diri dan kesombongan.
Menyadari kehadiran seseorang, sepasang mata itu beralih ke mari. Sorotan yang kulihat sebelumnya menghilang. Ia memandangiku dengan ekspresi terkejut. Dan saat mata kami saling bertemu, Entah kenapa aku merasakan sesuatu aneh bergejolak di dalam hatiku. Ada sesuatu yang tidak kumengerti. Aku merasakan sebuah keterikatan ganjil di sana.
"Kau..." Laki-laki itu bersuara.
"Eh,...ah, l-lagu dari biola yang yang mainkan sangat indah sekali." kataku yang tidak tahu harus berkata apa. Aku tahu apa yang kukatakan barusan pasti kedengaran bodoh. Dan kini aku jadi salah tingkah karena tanpa sadar sudah memandanginya terlalu lama.
Si laki-laki sempat bingung sesaat. Tapi kemudian ia tersenyum. "Terimakasih." ucapnya. "Ini pertama kalinya ada seseorang yang megatakan hal itu di hadapanku secara langsung."
Aku semakin salah tingkah melihat senyumannya. Wajahku mulai terasa hangat sekarang. "Aku suka mendengar permainan biolamu. Aku belum pernah mendengar lagu itu sebelumnya. Apa kau menulisnya sendiri?"
Laki-laki itu masih tersenyum. Ia berjalan menghampiriku. Membuat jantungku berdebar tidak beraturan. "Ya, aku yang membuatnya."
"Itu...sangat luar biasa!" Kataku tiba-tiba jadi bersemangat. "Apa kau sering memainkankan biola di bawah pohon sakura? Apa yang kemarin juga kau yang memainkannya?"
Ia tampak terkejut, "bagaimana kau..."
"Kemarin aku tidak sengaja mendengar suara biola, dan lagu yang dimainkan sama. Rumahku di dekat sini, jadi kupikir pasti orang yang samalah yang memainkannya." kemudian aku terkesiap. "Ah, maaf. aku lupa memperkenalkan diri. Aku Rin, aku suka mendengar permainan biolamu."
Ada keraguan dari ekspresinya, saat ia membalas juluran tanganku, senyumannya kembali. "Aku Len. Terimakasih."
"Ah, sudah jam segini?!" Aku terkejut melihat jam tanganku. "Kurasa aku harus pergi sekarang. Senang bertemu denganmu, Len." tanpa menunggu jawabannya, aku langsung berlari secepat mungkin ke sekolah. Mengejar jam pertama yang lima menit lagi bel masuk berbunyi.
To be Continue...
