Memandang tebing, kawah, lereng, dan pada akhirnya kalian melanjutkan perjalanan turun ke arah kawah. Saat hampir tiba di bawah, kalian menjumpai sosok berjubah hitam lain yang roboh lemas. Dia menyerukan nama yang kalian kenal, nama Sephiroth.
Kalian melanjutkan lagi, mencapai jalan yang berkabut. Menara hitam yang berputar seakan-akan muncul dari dalamnya. Kalian terhenti sejenak.
"Akhirnya tiba untuk menyelesaikan semuanya dengan Nii-san, eh?" Kamu menatap Cloud yang kemudian mengangguk. Kamu melanjutkan kalimatmu. "Aneh rasanya bagiku... Sudahlah, ayo pergi!"
Cloud menatapmu bingung, tapi kemudian mengikutimu disusul Vincent. Kalian melanjutkan. Tiba di dinding batu yang besar, kalian melihat sisik berjubah hitam yang lainnya. Dia terjun ke dalam jurang, menjemput kematiannya sendiri, sebelum Cloud berlari menghampirinya. Agak jauh sedikit Cloud berhenti dan melihat ke langit. Wajahnya tampak terkejut.
"Itu kan... !"
"Apa?" Kamu ikut mendongak, dan melihat sesuatu yang membuatmu agak terkejut. Sebuah pesawat besar. "Highwind...? Berarti Shinra..."
"Mereka datang, Cloud." Kata Vincent. "Kita harus lebih cepat."
--Kusingkat—
--Menyebrangi tirai angin selesai—
Kalian melanjutkan perjalanan. Berjalan di semacam jalan setapak sempit yang berliku-liku dan di kiri-kanannya lubang kawah yang dalam. Ratusan sosok berjubah hitam berjalan sepanjang jembatan. Beberapa di antara mereka terjatuh di tengah perjalanan ataupun yang terjun sendiri. Lainnya tetap berjalan dengan gaya mereka yang ganjil. Kalian melanjutkan lagi sampai tiba di suatu tempat.
'...Kepalaku sakit...'
Sephiroth terlihat berdiri tidak jauh di depan kalian.
"Ini akhir dari perjalanan kalian..." Sephiroth menyayunkan pedangnya untuk mengirim dua sosok berjubah hitam yang berlutut di hadapannya ke dasar jurang di belakang mereka.
"Sephiroth!" Cloud berteriak.
Kalian menyerbu maju dan bersiap menghadapi kakak tersayangmu. Namun, ia tidak berbalik untuk menghadapi kalian.
"Inilah akhirnya!" Teriak Cloud lagi.
Kamu mendengar tawa kecil Sephiroth yang kemudian entah kenapa membuatmu terhenti. 'Dia... tertawa...?'
"Kau benar." Sephiroth menggenggam Masamune-nya dengan erat. "Inilah akhir dari kegunaan tubuh ini."
Tiba-tiba daerah sekitar menjadi gelap bersamaan dengan lenyapnya tubuh Sephiroth hanya dalam kedipan mata. Lenyap dari balik kepulan asap yang entah kenapa menjadi ungu.
Jantung Cloud berdegup kencang. "Dia menghilang?"
"Kepalaku sakit..." Keluhmu. "Itu artinya dia masih ada di sekitar sini..." 'Tapi... kenapa rasa sakit ini bisa kukendalikan...?'
Kalian melihat sekitar namun tidak terdapat jejak Sephiroth. Mendadak kalian mendengar suaranya dari suatu tempat. Entah di mana. Dan terdengar berat menyeramkan.
"Tujuan kami adalah mengantarkan Black Materia ke tuan kami."
'Kami...? Apa maksudmu, Nii-san?' Kamu menoleh ke sana ke mari. 'Suasananya... Makin tidak enak...'
Area mendadak menjadi terang. Membuat kalian terkejut sampai tersentak. Belum hilang keterkejutan itu, Sephiroth melayang dari atas kalian dengan Masamune terhunus. Menerjang kalian, sampai kalian jatuh di lantai batu.
Cloud berdiri perlahan, tampaknya ia tidak mau sosok itu pergi dari hadapannya begitu saja. Sikapnya di sambut Sephiroth yang berbalik untuk menghadapnya.
--Battle with Jenova Death—
--Setelah Battle—
--Semuanya berkumpul—
"Sel Jenova...hmm. Jadi ini rupanya maksudnya Jenova Reunion..." Kata Cloud sambil memandang benda di depannya yang bercampur dengan Black Materia.
"Bukan Sephiroth?" Tifa terkejut. "Jadi maksudmu selama ini itu bukan Sephiroth yang kita kejar?"
Cloud menggelengkan kepalanya. "Akan aku jelaskan nanti. Saat ini, satu-satunya hal yang kupikirkan adalah mengalahkan Sephiroth..."
"Tapi Sephiroth kan..."
"Dia ada di sini." Cloud memotong kalimat Tifa. "Sephiroth yang asli berada tidak jauh dari sini. Kau juga merasakannya kan, Shaff?" Dia beralih padamu.
"...Kurasa..." Jawabmu pelan.
"Dia luar biasa kejam, luar biasa licik... Namun dia memancarkan keinginan yang sangat kuat dari jauh di dalam luka planet ini." Cloud mengambil Black Materia di depannya. "... Black Materia kembali berada di tangan kita. Sekarang yang harus kita lakukan adalah mengalahkan Sephiroth dan mengakhiri semuanya."
"Sekarang aku akan ikut." Kata Tifa. "Aku tidak mungkin menggantikan Shaffira karena aku tahu dia punya banyak urusan dengan Sephiroth. Kalau begitu aku akan bergantian dengan Vincent, tidak apa kan, Vincent?"
Vincent mengangguk pelan. Ia tidak mengatakan apa-apa.
"Kita sebaiknya tidak membawa Black Materia lebih jauh lagi. Kenapa kau tidak titipkan pada orang lain?" Saran Tifa.
Cloud mengangguk mengerti. Setelah berpikir sesaat, ia menghampiri Red dan memberikan Black Materia padanya.
"Kau ingin aku memegang Black Materia?" Red menerimanya. "... baiklah, aku mengerti."
"Jangan berikan ke SIAPAPUN. Aku percayakan padamu." Kata Cloud. Ia kembali ke Tifa dan menganggukkan kepalanya. "Selesai."
Tifa tersenyum. "Ayo, kita temukan Sephiroth!"
Cloud berbalik untuk menatap yang lainnya. "Kami pergi dulu! Kalian tetap di sini untuk berjaga-jaga."
Semuanya mengangguk pasti.
"Serahkan pada kami, anak muda!" Kata Cid.
"Aku tidak akan memaafkanmu kalau kau tidak menjaga dengan baik, Cloud!" Seru Barret dengan suara agak seraknya.
"Selamat jalan!" Yuffie melompat-lompat. "Tenang saja, aku tidak akan kabur!"
"Ya, tenang saja, Yuffie tidak akan kabur membawa Materianya!" Lanjut Cid.
"Hey, aku tidak bilang akan mencuri Materia!"
"Siapa yang tahu, gadis kecil bodoh."
"Apa katamu orang tua!"
Yuffie dan Cid bertengkar adu mulut. Membuat yang lain tertawa. Cloud mengangguk tersenyum lalu melangkah, begitu juga dengan Tifa dan kamu.
"Shaffira..."
Kamu berbalik dan melihat Vincent menghampirimu. "Bawa ini..." Dia memberimu sebuah Materia hijau. "Akan berguna nantinya."
Kamu langsung memasangnya di slot Bracelet-mu. "Barrier akan sangat berguna! Terima kasih."
"...Hati-hati..."
Kamu tersenyum padanya. "As you wish!" Lalu berlari menyusul Tifa dan Cloud.
Kalian bertiga melanjutkan perjalanan. Sampai tiba-tiba seluruh tempat menjadi putih.
"Apa ini? Apa yang terjadi?" Tifa panik.
"Tenanglah Tifa." Kata Cloud. "Sephiroth ada di dekat kita. Apapun yang terjadi."
"Hey..."
"?" Kamu memejamkan matamu. 'Suara itu lagi... Tapi kenapa kali ini...'
"Mau ingat Nibelheim?"
"Apa?" Dengan cepat kamu membuka mata, dan di depan matamu terpampang jelas gerbang Nibelheim, menuju kota awal tragedi. "Ni... Nibelheim?"
"Nibelheim..." Tifa juga terkejut.
"Ke...kenapa?" Kamu menatap kota itu dengan tidak percaya.
Cloud menggelengkan kepalanya dengan sedih. "Ini adalah ilusi yang diciptakan oleh Sephiroth. Dia mencoba membuat kita bingung. Semuanya akan baik-baik saja. Selama kita tahu ini semua adalah ilusi, tidak ada yang perlu ditakutkan."
"Aku tahu Cloud..." Ujarmu. "Tapi bagaimana kalau... ..." 'Tidak, aku tidak mungkin mengatakannya.'
"Kalau apa?" Tanya Cloud.
"Lu...lupakan..." Kamu memalingkan wajah. 'Aku takut...'
"... Baiklah. Ayo, kita terus bergerak." Kata Cloud lagi.
"Yeah, kau benar... Lihat!" Tifa menunjuk ke pintu masuk. Kamu dan Cloud menoleh, kemudian berpencar, menyingkir dari jalan. Sephiroth tiba di gerbang Nibelheim.
"Baiklah, ayo pergi." Kata Sephiroth.
Sephiroth sepertinya tidak memeperdulikan kalian bertiga saat dia memasuki kota. Dia diikuti oleh dua penjaga dan seorang pria berambut sedikit mirip Cloud namun berwarna hitam serta membawa pedang besar di punggungnya.
Tentu saja, kamu sangat terkejut, amat-sangat terkejut sampai rasanya tertembak Mako Cannon. Pemuda berambut hitam yang sangat kau kenal, dialah Zack.
'Zack?' Kamu menatap semua itu dengan terbelak.
Tifa menggelengkan kepalanya. "Hentikan... Sephiroth.."
Cloud mengangkat bahu. "Konyol..." Komentarnya.
Sephiroth mulai tertawa terbahak, sama seperti di cerita Cloud ketika ia bercerita perjalanannya ke Nibelheim bersama Sephiroth. Lalu sinar-sinar putih memencar, semuanya menjadi putih lagi. Sephiroth dan orang-orang yang bersamanya menghilang.
"Kuharap... kita kembali ke dunia nyata..." Kamu memejamkan mata. 'Karena aku tahu ini adalah Flash Back yang akan mengungkap semuanya... Nii-san, kumohon hentikan... Aku takut!'
"Cloud... Ini semua hanya ilusi. Jangan khawatir..." Di sela-sela kamu mendengar suara Tifa.
Warna putih menghilang dan terdengar suara hembusan angin yang dingin, seakan akan menyapu sisa-sisa kehidupan yang ada.
"Apa... lagi?" Cloud memandang bingung.
"Sudah, hentikan!" Kamu dan Tifa berteriak bersamaan. Lalu kalian saling memandang dengan bingung, memikirkan hal yang sama. 'Kenapa dia...?'
Kali ini di dalam kota Nibelheim ketika semuanya terbakar akibat ulah Sephiroth.
Cloud memandang sekitar. "...Ini yang sebenarnya terjadi lima tahun yang lalu. Tapi... Kemungkinan bukan aku yang keluar dari Shinra Mansion. Sephiroth akan mencoba dan menunjukkan pada kita sebuah ilusi tolol lainnya."
'Aku tahu, dan itu pasti adalah Zack.' Kamu menatap ke arah Shinra Mansion.
Seorang pemuda berambut hitam, alias Zack, keluar dari Shinra Mansion.
"Kan... Apa aku bilang?"
'Kan... Apa aku pikirkan..."
Zack perlahan berjalan ke arah kota, pedang terhunus. Zangan berada di luar penginapan, sementara beberapa orang tergeletak di tanah.
Menyadari hal yang itu, kamu langsung menolehkan kepala ke arah pintu masuk. Sesuatu yang tidak kamu inginkan, benar saja, sosokmu yang dulu memandang Zack dan Zangan berbincang, diam sambil memandang sekitar.
"Tidak... mungkin..." Gumammu dengan lirih.
Tapi, Tifa mendengarnya, ia ikut menolehkan kepalanya ke arah gerbang dan melihat sosokmu. Gadis itu terkejut, dan memandangmu tidak percaya. 'Shaffira?'
Kamu memeluk dirimu sendiri. "Tifa... aku tidak mau lihat... Kuharap kaupun tahu yang sebenarnya..."
Tifa terkejut, ia gemetar, lalu menutup kedua telinga sambil menggelengkan kepalanya. "Aku juga tidak mau... melihat ini. Cloud... Jangan lihat..."
Zack melihat sekitar, menatap rumah yang mulai terbakar. Dia menggelengkan kepalanya dengan sedih.
"Aku periksa rumah ini. Kau periksa sebelah sana." Zangan memasuki penginapan yang terbakar.
Cloud menatap Tifa dengan bingung. "... Kenapa Tifa? Aku sudah bilang, kan? Selama kita tahu ini semua adalah ilusi, tidak ada yang perlu kau takutkan."
Semuanya menjadi putih lagi, kamu menghela nafas lega karena Cloud tidak sempat melihat sosok Flash Back-mu. Kalian bertiga berdiri di tengah-tengah gedung yang terbakar sekarang.
"Sephiroth!" Teriak Cloud. "Aku tahu kau mendengarkan! Aku tahu apa yang ingin kau katakan." Cloud menggelengkan kepalanya. "Bahwa aku tidak berada di Nibelheim lima tahun yang lalu. Kau ingin mengatakan hal itu bukan?"
Sekilas cahaya putih bersinar bersama dengan dentang lonceng yang mengerikan. Sephiroth muncul di tengah-tengah kalian. "Akhirnya kau mengerti juga."
"Sebenarnya kau ingin membuatku bingung kan? Tapi, bahkan memperlihatkan semua ini tidak memberikan pengaruh. Aku ingat semuanya. Panasnya api... rasa sakit di tubuhku... dan di hatiku!" Kata Cloud.
Sephiroth menggelengkan kepalanya dengan kecewa. "Oh, papa benar? Kau hanyalah sebuah boneka... kau tidak memiliki hati... dan tidak bisa merasakan sakit... Jadi apa artinya ingatan untuk makhluk seperti kamu? Yang kutunjukkan padamu adalah kenyataan. Apa yang kau ingat, itulah ilusi."
Cloud mengangkat bahu. Dia menghampiri Sephiroth.
"...Kau mengerti?" Tanya Sephiroth.
"Aku tidak mau mengerti." Cloud membalikkan badan. "Tapi, aku ingin menanyakan sesuatu padamu. Kenapa... Kenapa kau lakukan ini?"
Kilatan sesaat. Sephiroth muncul di hadapan Cloud, di antara Tifa dan kamu, dengan tangan terangkat. Kamu dan Tifa bergegas pindah ke samping Cloud.
"Ha, ha, ha..." Sephiroth tertawa dengan ganjil. "Aku ingin mengembalikanmu ke dalam identitasmu yang asli. Individu yang memberikan Black Materia padaku saat itu... Siapa yang akan menyangka eksperimen gagal dapat sangat berguna? Hojo bisa mati berdiri kalau dia tahu."
Cloud melangkah maju. "Hojo? Apa hubungan dia denganku?"
Sephiroth menurunkan tangannya. "Lima tahun yang lalu kau... dibentuk oleh Hojo, bagian demi bagian, setelah Nibelheim terbakar. Boneka yang dibuat dari sel Jenova yang hidup, pengetahuannya, dan kekuatan dari Mako. Sephiroth Clone yang tidak sempurna. Kau bahkan tidak diberikan nomor... Itulah dirimu." Dan mendengarnya Cloud hanya mengangkat bahu.
"Cloud... Jangan dengarkan dia... Tutup telingamu! Tutup matamu!" Jerit Tifa pelan.
"Memangnya kenapa, Tifa?" Cloud menatap bingung. "Aku sama sekali tidak terpengaruh... Aku tidak memperdulikan dia."
"Semua omongan tentang Hojo membentuk dirimu adalah bohong. Bukankah kita memiliki ingatan kita bersama? Saat kita anak-anak bersama, malam yang penuh bintang..."
Sephiroth melirik ke arah Tifa. "Ha, ha, ha... Tifa... Kenapa kau begitu cemas dan takut dengan omongan itu? Hmm... Haruskah aku tunjukkan semua yang ada di dalam hatimu?"
Tifa bergegas membalikkan badan, tanpa berkata apa-apa.
"Ha, ha, ha..." Sephiroth tertawa lagi. "Kau sepertinya kurang sehat." Dia menghampirimu. "Begitu juga denganmu, Shaffira."
"Nii-san, hentikan..." Ujarmu.
Sephiroth hanya tertawa kecil lalu menghilang.
Cloud menoleh ke Tifa. "...Tifa? apakah Sephiroth benar?"
Gadis itu tidak berkomentar apa-apa selama beberapa saat. "Cloud..." Ia hanya bisa memanggil dengan lirih.
"Kenapa kau kelihatan begitu takut? Jangan mengkhawatirkan aku. Aku baik-baik saja. Tidak peduli seberapa bingungnya aku, aku tidak pernah mempercayai satu kata pun yang diucapkan oleh Sephiroth." Cloud menatap kakinya. "Memang benar bahwa terkadang aku tidak bisa memikirkan siapa aku. Ada banyak hal yangkabur dalam ingatanku. Tapi, Tifa... Tapi bukankah kau bilang, "Lama tidak bertemu, Cloud"? Kata-kata itu selalu memberikan dukungan bagiku. Aku adalah orang yang tumbuh bersamamu. Aku Cloud dari Nibelheim. Tidak peduli berapa banyak aku kehilangan kepercayaan diriku, tapi aku tahu itu benar."
Cloud menatap Tifa. "Karena itulah kau seharusnya tidak merasa takut. Tidak peduli apa yang dikatakan orang lain kepadaku, sikap kamulah yang paling penting..."
Cloud berbalik. Tifa kembali menatap Cloud dan menggelengkan kepalanya. "Itu tidak benar Cloud..."
Tapi pemuda itu menggelengkan kepalanya dengan sedih dan menatap Tifa. "Apanya? Bukankah aku Cloud yang sama. Cloud yang tumbuh bersamamu?"
"Bukan itu maksudku... aku tidak tahu bagaimana harus mengatakannya... cloud, aku butuh waktu... Berikan aku sedikit waktu..." Kata Tifa dengan lirih.
Kamu memandang gadis itu dengan sedih. 'Tapi sayang, Nii-san tidak akan memberimu waktu...'
Kilatan sesaat, dan Sephiroth datang lagi. Kamu dan Cloud berbalik untuk menatapnya.
"Cloud jangan salahkan Tifa. Kemampuan untuk mengubah penampilan, suara, dan kata-kata seseorang, merupakan kekuatan Jeonova. Di dalam dirimu... Jenova telah menyerap ingatan Tifa, menciptakan dirimu. Dari ingatan Tifa... Anak yang bernama Cloud itu mungkin hanya bagian darinya." Lalu Sephiroth menghilang.
"Nii-san, hentikan!" Jeritmu.
"Cloud... Tolonglah... Jangan berpikir apapun saat ini." Ujar Tifa.
Kilatan lagi, dan Sephiroth muncul sambil tertawa di belakang kalian. "Ha, ha, ha... Berpikirlah, Cloud! ...Cloud? Ha, ha, ha... Oh, maafkan aku. Kau tidak pernah punya nama."
Cloud menggeleng. "Tutup mulutmu, Sephiroth."
Kali ini Sephiroth menggelengkan kepalanya. "Kau masih tidak mengerti? Jadi..." Dia tertawa dan mengibaskan tangannya, berhenti lalu menatap Cloud.
"Apakan kau ingat foto yang kita ambil sebelum kita menuju ke Mt. Nibel?" Sephiroth menatap Tifa. "...Tifa kau ingat bukan?" Lalu menatapmu. "Tahukah kau siapa yang ada dalam foto itu?"
'Zack?' Kamu balik menatap Sephiroth.
Sephiroth tertawa kecil. Ia menghadap Cloud dan mengangkat tangannya. "Tapi tidak mungkin DIA bisa tahu." Sephiroth menggeleng. Cloud mengangkat bahu.
"Jadi... apa yang terjadi pada foto itu?" Sephiroth melihat sekitar dan menghampiri mayat laki-laki yang terbaring di depan penginapan, merogoh-rogoh. "...Ah, ini bukan?" Dia kembali ke Cloud, menunjukkan foto itu. "...Apakah kau ingin melihatnya? Hasil cetaknya cukup baik."
"Cloud... jangan..." Cegah Tifa.
Cloud mengangguk ke Tifa. "Aku... Seharusnya ada dalam gambar. Jika aku tidak ada, jangan khawatir. Ini hanya dunia ilusi yang dibuat oleh Sephiroth." Cloud menghampiri Sephiroth dan menatap Foto. Tentu saja, pemuda di foto itu memiliki rambut hitam bukan pirang. Krena yang ada di dalam foto itu adalah Zack.
"Sudah kuduga." Cloud mengangguk. "Foto ini palsu. Yang sebenarnya ada dalam ingatanku... Lima tahun yang lalu, aku kembali ke Nibelheim, untuk memeriksa Reactor. Usiaku enam belas tahun. Kota sama sekali tidak berubah. Apa yang aku lakukan...? Oh, yeah..." Dia mengangguk. "Yeah, aku pergi ke kamar Tifa. Si sana, aku..."
"Apa yang kau lakukan di Nibelheim?"
"Aku memainkan piano. Aku memeriksa laci! Aku menginap semalam dan pergi ke Reactor di Mt. Nibel. Aku sangat bersemangat. Karena itu merupakan misi pertamaku setelah menjadi First Class di SOLDIER.
(Flash) Sephiroth menghilang. Cloud menggelengkan kepalanya. "...SOLDIER, First Class?" Ia kembali menggelengkan kepalanya. "...SOLDIER? Kapan aku jadi SOLDIER?" Ia menggenggamkan tangannya, tubuhnya gemetar. "Bagaimana awalnya aku bergabung dengan SOLDIER?" Cloud terjatuh, tubuhnya makin bergetar. "Kenapa... kenapa aku tidak bisa mengingat?" Dia menegakkan dirinya dengan satu lutut. "Aku... aku..." Ia berusaha berdiri. "Aku tidak perlu menghawatirkan, karena aku..."
"...Cloud?" Tifa memanggil.
"Ayo pergi, Tifa. Aku... Aku baik-baik saja."
"Le...lekas pergi dari sini..." Katamu. "Jalanlah duluan...?" Kamu terhenti, karena merasakan sesuatu yang ganjil.
Semuanya berubah menjadi hitam. Tidak ada yang terlihat. Kamu menoleh ke sana ke mari dengan bingung.
"Sudah kubilang... ini adalah permulaan..."
"Apa?"
"Permulaan untukmu..."
"Apa maksudmu?"
"Ini semua adalah tentang Lifestream..."
"Hei!"
Seketika itu semuanya menjadi kilatan putih sesaat dan kalian semua muncul di sebuah gua. Di gua itu ada Rufus, Scarlet, dan Hojo.
"Hei! Dari mana mereka muncul?" Pekik Scarlet.
Cloud, yang sedang menunduk, mengangkat kepalanya. "...Tidak tahu..." Dia menoleh ke Rufus, dan menggelengkan kepalanya. "Tempat ini akan menjadi sedikit berbahaya. Sebaiknya serahkan semuanya padaku dan pergilah dari sini selagi sempat!"
"Serahkan padamu?" Rufus menatap dengan biasa. "Hmm... Aku tidak tahu apa maksudmu..."
"Ini adalah tempat di mana Reunion akan terjadi..." Kamu menjawab dengan nafas terengah. "Di mana semua akan dimulai dan berakhir..."
Entah kenapa begitu sampai di sana, nafasmu sesak dan tidak beraturan. Kamu medongak melihat atas dan melihat sebuah Materia besar.
"Sudah kubilang... Ini adalah permulaan..."
"Nii-san..." Kamu menatap Materia itu. Kamu tahu di dalamnya ada Sephiroth yang sedang tertidur, kamu bisa merasakannya. Merasakan segala kengeriannya.
"Cloud!"
Mendengar teriakan Tifa, kamu langsung menoleh. Cloud sama sekali tidak peduli apa-apa. Red datang sambil berlari. "Aku datang untuk membantumu, Cloud!"
Cloud berdiri diam lama sekali, kemudian memegang kapalanya. Dia seperti hampir menjadi gila. Dia mengambil beberapa langkah maju ke Red XIII. "Terima kasih... Ted XIII. Di mana Black Materia?"
"Cloud!" Tifa memanggil lagi.
"Percuma..." Ujarmu. "Dia tidak akan... mendengar... suaramu... Tifa..."
"Apa?" Tifa menatapmu dengan takut.
"Aku akan mengambilnya sekarang. Berikan padaku... Black Materia."
"Kau tidak bisa mendengar suaraku?" Tifa memanggil lagi.
"Kau tidak apa-apa Cloud?" Tanya Red.
Cloud mengangguk.
"Kalau begitu... Ini dia. Aku sedikit gugup memegang benda ini." Kata Red, ia menyerahkan Black Materia.
"Jangan, jangan! Tolonglah... hentikan, Cloud!" Teriak Tifa.
"Sudah kubilang!" Ujarmu. "Dia tidak akan mendengar suaramu! Karena...Nii-san... Uhh..." Lagi-lagi, penyakit itu, sakit kepala itu, membuatmu lemas hingga terjatuh.
"Shaffira!" Tifa dan Rufus meneriakkan namamu.
"Uhh... B... Black Materia..." Kamu menunjuk ke arah Cloud. "Cloud telah mengambilnya..."
Beberapa kilatan putih menyamarkan pandangan tapi langsung menjadi normal kembali.
"Datanglah... Black Materia."
"Tolonglah! Sebentar lagi?"
Cloud berjalan ke tengah ruangan. "Semuanya, terima kasih untuk semuanya. Dan... maafkan aku." Menatap Rufus. "...Maaf." Menatap Red. "...Maaf." Menatapmu. "Maafkan aku, Shaff, yang membimbingmu sampai sini."
Lalu pemuda itu menatap Tifa dengan tatapan yang amat sedih. "Terutama kau, Tifa. Aku sangat, sangat minta maaf. Kau sangat baik padaku... aku tidak tahu harus mengatakan apa..." Dia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak pernah bisa hidup sebagai "Cloud", Tifa... Mungkin suatu hari nanti kau akan bertemu dengan "Cloud" yang sebenarnya."
Cloud berjalan maju dan menoleh ke Hojo. Tifa menutupi wajahnya dengan tangannya dan terjatuh berlutut sambil menangis. Kamu menundukkan kepala, mengecewakan segalanya, menahan rasa sakitmu.
Terdengar Hojo tertawa. "Sempurna! Ini artinya eksperimenku sukses besar! Berapa nomormu? Huh? Di mana tattomu?"
Cloud menggelengkan kepalanya. "Prof. Hojo... aku tidak punya nomor. Kau tidak memberikannya padaku karena aku merupakan eksperimen yang gagal."
Prof. Hojo berbalik, dia menggumam. "Apa-apaan...? Maksudmu yang mencapai tempat ini hanya sebuah produk yang gagal?"
"Profesor... Tolong berikan nomor padaku. Kumohon , Profesor..."
Hojo berbalik. "Tutup mulutmu, makhluk gagal yang hina..."
Cloud terlihat kecewa. Sepintas kembali tampak bayangan Sephiroth lalu Cloud melayang dan menghampiri Materia besar di atas.
"Siapa... itu?" Rufus terlihat bingung melihat sosok yang biasanya menentang dan selalu percaya diri Cloud menjadi lemah dan merengek seperti anak kecil.
"...Dia adalah Sephiroht Clone yang kuceritakan setelah Sephiroth yang asli tewas lima tahun yang lalu. Sel Jenova dan Mako, dengan pengetahuan serta keahlianku, telah digabungkan dengan ilmu pengetahuan dan alam untuk membangkitkan dia dari kematian. Aku tidak terlalu senang soal produk gagal tadi, tapi teori tentang Jenova Reunion sekarang telah terbukti."
(Flash)
"Begini, kau lihat, tubuh Jenova bahkan jika terpisah-pisah, pada akhirnya akan menjadi satu lagi. Itulah yang dimaksudkan Jenova Reunion."
(Flash)
"Aku telah lama menunggu dimulainya Reunion ini. Lima tahun telah berlalu, dan sekarang para Clone mulai berkumpul."
(Flash)
"Tadinya aku pikir para Clone akan berkumpul di Midgar di mana Jenova disimpan. Tapi dugaanku tidak sepenuhnya benar. Jenova sendiri mulai bergerak menjauhi bangunan Shinra."
"Tapi karena aku sangat jenius, aku segera memahaminya. Ternyata, ini semua merupakan perbuatan Sephiroth. Sephiroth tidak puas hanya dengan menggabungkan keinginannya ke dalam Lifestream, dia ingin memanipulasi para Klon itu sendiri."
"Aku bertanya ke mana para Klon pergi, tapi aku tidak pernah menduganya. Satu hal yang aku tahu adalah Sephiroth berada di tujuan akhir mereka."
Mendengar seluruh ocehan Prof. Hojo, membuatmu sedikit tertawa. "Bodoh..." Umpatmu.
Hojo berbalik dan menatapmu dengan sinis. "Apa masksudmu?"
Kamu balik menatapnya dengan tajam. "Para Clone tidak mengejar Sephiroth, tapi mereka terpanggil oleh Sephiroth... Dan sekarang dia terpanggil." Kamu menatap ke atas.
Materia besar berwarna biru itu muncul sepenuhnya. Sephiroth berada di dalamnya, seperti tertidur. Ruangan berguncang keras.
"Kau lihat! Itu Sephiroth! Jadi dia MEMANG di sini! Ini sempurna! Baik Jenova Reunion maupun keinginan Sephiroth! Mereka tidak akan bergabung ke dalam Lifestream, tapi bersatu di sini! Mwa, haa, ha, ..."
"Dia gila..." Ujarmu sambil mencoba bangkit. 'Itu artinya bencana.'
Tifa menggelengkan kepalanya. "Apa yang membuatmu begitu gembira, Profesor? Kau tahu apa artinya ini, bukan? Cloud memiliki Black Materia! Sephiroth akan memanggil Meteor! Semua orang di Planet ini akan mati!"
"Apa pun yang aku katakan sekarang terlalu sedikit... terlambat... Kita harus mengevakuasi diri."
Semuanya berbalik untuk menatap Rufus.
"Aku mau kalian semua ikut denganku. Masih ada yang ingin aku dengar."
Kamu menatap ke atas. "?" Terlihat Cloud sedang berada di depan Materia itu. "CLOUD!" Teriakmu.
Semuanya menoleh ke atas.
"Cloud, JANGAN! Kumohon! Hentikan!" Teriak Red.
Cloud memegang kepalanya sesaat.
"Cloud--!" Jerit Tifa.
Terlambat, Cloud memasukkan Black Materia ke dalam Materia berisi Sephiroth itu. Black Meteria bersatu dengan tubuh Sephiroth.
"Cepat lari!" Teriak Red.
Semuanya lari keluar. Kamu sempat menatap Materia itu selama beberapa detik, lalu Tifa menarik tanganmu untuk lari bersamanya.
Kalian semua berpindah ke Highwind, yang kemudian segera menjauh dari sana. Terlihat semua Weapon yang mendiami wilayah itu bangkit. Pusaran hijau mengeluarkan bunyi dengung yang ganjil, dan suara teriakan planet. Highwind segera menjauh, sejauh-jauhnya.
