Chapter 2

Huwaaa~ o(_)o

Sankyuu buat review-nya ya, minna~ Sankyuu juga buat reader2 sekalian hehhe

: Awalnya sih oneshot :o tapi sekarang author berubah pikiran /eh

hanazonorin444 : Disini ceritanya Hinata suka sama Naruto, tapi mereka gak saling kenal. Sebenarnya sih mereka ini satu sekolah, tapi emang si Hinata aja yang kudet(?)

HaruchiiYazumi : Wah~ Sankyuu ya~ (/) hehhehe

DLDR!

Alur semakin gaje dan tiba-tiba tambah cepat(?), OOC yang cukup parah

Sekali lagi, DON'T LIKE DON'T READ!

Café Yamanaka
Hari Rabu, 22 Januari 20XX

"Wah, wah. Sepertinya kamu ketagihan dengan tuna mayo buatanku ya?" seru Ino riang seperti biasa.

Gadis cantik yang matanya sewarna lavender itu hanya tersenyum tipis menanggapi sikap Ino. Mereka memang bukan teman dekat, hanya saja sepertinya status mereka akan berganti sebentar lagi. Pelanggan dan pemilik café, itulah keadaan mereka sekarang ini(?).

"Roti isi buatan cafému memang benar-benar enak" jawab Hinata tulus.

Lalu Ino memberikan buku menu kepada Hinata, namun sedetik kemudian dia menarik kembali buku itu. Hinata hanya bisa bengong sesaat.

"Sepertinya aku sudah tahu pesananmu, jadi kurasa buku ini tidak berguna untukmu" tangan Ino melambai-lambai pada udara.

Hinata mengerucutkan bibirnya.

"Hey! Dimana hak aku sebagai tamu disini?"

Ino terdiam selama beberapa detik, lalu dia mulai tertawa sembari memegang perut dengan tangan kirinya. Tampang polos Hinata kembali terpampang jelas disana.

Bukan hanya Hinata yang heran dengan tawa Ino, tapi juga sepasang kekasih yang duduk tak jauh dari posisi Hinata. Mereka saling menatap heran setelah melihat kearah Ino.

Sesudah bergulat hebat dengan keinginannya untuk tertawa, akhirnya Ino menghentikan tawanya.

"Baik, baik. Aku baru tahu bahwa selera humormu lumayan, Hinata-sama."

Alis sebelah kanan Hinata terangkat, "bagian mana yang bisa kamu sebut humor? Dan tolong jangan panggil aku dengan embel-embel sama, Ino-san."

"Hey, hey. Kamu sendiri memanggilku dengan embel-embel san kan, Hinata-chan?" Ino mengangkat jari telunjuknya dan menggerakkannya ke kiri dan ke kanan, "aku tidak suka dipanggil begitu, loh."

Hinata memejamkan matanya dan menghela napas yang cukup panjang, "Baiklah, Ino-chan?"

Gadis pemilik rambut pirang itu mengangguk senang seperti anak kecil yang baru saja diberi permen.

"Ne~ Apa sekarang aku sudah boleh meminta buku menu itu, Ino-chan?" Jari Hinata menunjuk lurus-lurus kearah buku menu yang ada ditangan kanan temannya itu.

Sesegera mungkin gadis itu memberikan buku menu karena sepertinya Hinata benar-benar kelaparan. Bagaimana tidak? Suara-suara merdu sudah terdengar jelas dari perutnya.

Disaat Hinata membuka lembar pertama buku itu, pelanggan lain mulai berdatangan kedalam café.

"Kalau sudah selesai memilih, nanti panggil aku saja. Oke?"

Hinata mengangguk mantap. Matanya menatap lurus kearah gambar demi gambar menu yang ada dihadapannya. Saat kedua bola mata lavender itu menangkap kata "jus jeruk", dia mencium aroma yang tak asing baginya.

'Si kepala kuning!' batin Hinata.

Entah angin apa yang membuatnya seperti punya suatu "ikatan" dengan laki-laki itu. Ya, si kepala kuning benar-benar datang! Duduk di posisi yang sama seperti dua hari kemarin.

Semburat merah mengubah warna pipi Hinata yang awalnya putih susu menjadi tomat. Buku menu pun langsung disulapnya menjadi tameng.

Tanpa disadari olehnya, si kepala kuning sempat memandang kearah Hinata. Tentu saja dia tidak menyadarinya sebab buku itu masih setia menjadi tameng.

Hinata semakin salah tingkah. Kaki kanannya menyilang kaki kirinya, kemudian tangan kirinya yang bebas mulai meremas-remas ujung rok hitam berenda ungu miliknya. Dia dapat merasakan bahwa kedua telapak tangannya berkeringat dalam jumlah yang tidak wajar.

Irama detak jantungnya semakin tidak normal karena berdetak tiga kali lebih cepat dibanding biasanya. Hinata meneguk ludahnya sendiri.

'Gawat, gawat. Dia benar-benar datang lagi!' ucap Hinata didalam hati.

'Tapi, mengapa aku jadi gugup begini?'

'Hayolah Hinata. Sejak kapan kamu tidak gugup, he?'

Pertanyaan-pertanyaan bodoh mulai berkeliaran di kepala Hinata, membuatnya semakin tidak bisa berpikir jernih. Gadis manis yang selalu berprestasi di sekolahnya itu kini menjadi bodoh mendadak, seolah otaknya telah berhenti untuk menjalankan tugasnya.

"Hina… Hinata-chan?"

Ino tampak melambai-lambaikan tangan kanannya tepat didepan wajah Hinata, tapi tak mendapat respon apapun. Gemas, Ino menggantikan lambaiannya dengan menepuk bahu Hinata.

Hinata terkesiap karena saraf akseptornya mendapat suatu tekanan.

"Eh? Ha…? Ada apa?" Ino hanya bisa menaikkan sebelah alisnya setelah mendapat jawaban dari Hinata.

Hinata mengedipkan kedua kelopak mata indahnya sebanyak dua kali sebelum akhirnya kembali ke dunia nyata.

"Oh. Ano~ Aku mau jus jeruk dan—"

"Roti isi tuna mayo?" putus Ino.

"Ya, benar" senyum manis andalan Hinata kembali bertengger di wajahnya. Sebenarnya Ino bingung dengan perubahan ekspresi Hinata yang terbilang sangat cepat itu. Siapa sangka gadis pintar seperti Hinata bisa membuat wajah bodoh seperti tadi?

"Ehm. Baiklah~ Tunggu sebentar ya."

Hinata menaik-turunkan kepalanya sebagai respon terhadap pertanyaan Ino.

'Huft~ Bodohnya aku' pikir Hinata.

Kedua bola mata indahnya kembali menjelajah isi café tersebut jengkal demi jengkal. Ketika matanya hendak menatap 'si kuning', tanpa sengaja matanya bertemu dengan safir yang sangat indah.

Ya, 'si kuning' itu memiliki mata yang sama-sama indah seperti Hinata, hanya saja warnanya safir.

Tanpa disadari oleh Hinata—lagi mulutnya ternganga cukup lebar. Dia takjub dengan safir yang begitu indah diseberang sana.

Melihat ekspresi Hinata yang (sangat) lucu, 'si kuning' mulai meresonansikan suaranya. Dia tertawa seperti bocah yang melihat badut(?).

Hinata yang menyadari bahwa dirinya menjadi objek 'si kuning' langsung menundukkan wajahnya. Kedua tangannya menangkup sepasang pipi yang cukup berisi miliknya. Saat itu wajahnya bukan hanya semerah tomat, tapi seperti kepiting yang dipasangkan bom waktu sehingga dapat meledak kapan saja. Maluuuuuuuuuuuuuuu. Entah berapa banyak huruf "u" yang dapat menggambarkan perasaan malu Hinata.

Kaki-kaki jenjangnya akan mengambil langkah seribu ketika Ino memanggil namanya.

"Hinata-chan? Kamu mau kemana?"

Dengan wajah yang sangat sangat sangat pucat, Hinata menghadapkan wajahnya pada sosok Ino yang sedang memegang nampan berisi pesanan miliknya.

"Dia temanmu, Ino?"

Tubuh Hinata bukannya semakin rileks malah tambah tegang karena mendengar suara itu.

'Si kuning kenal Ino?' tanyanya pada diri sendiri.

"Kamu tidak kenal dia, Naruto?"

'Eh? Namanya Naruto toh?' akhirnya Hinata mengetahui nama asli 'si kuning' sehingga dia tidak perlu memanggilnya dengan sebutan itu lagi.

'Si kuning' yang ternyata bernama Naruto itu menggeleng mantap(?).

"Kamu ini memang keterlaluan, Naru. Dia itu satu sekolah dengan kita tahu! Seangkatan malah!"

"APAAAA?!"

Keterkejutan tidak hanya tampak dari pihak Naruto saja, Hinata terlihat sangat syok setelah mendengar pernyataan dari Ino tersebut.

Bagaimana mungkin dia tidak pernah melihat 'si kuning'—Naruto di sekolahnya? Apakah matanya kini minus?

"Aku tidak pernah melihat gadis ini di sekolah."

Kedua bola mata Ino kini mengarah pada Hinata. "Kamu juga tidak pernah melihatnya, Hinata-chan?"

Setetes keringat menetes dari dahi Hinata menuju dagunya. Mulutnya hendak mengatakan sesuatu, tetapi dia katupkan lagi. Dia tak tahu harus berkata apa. Sekali lagi hal sepele membuat gadis manis ini kebingungan.

Melihat ekspresi Hinata, Ino kembali menaikkan sebelah alisnya. "Jadi?" tanya Ino sembari meletakkan nampan yang sedari tadi dipegangnya keatas meja bundar berdiameter 1,2 meter.

Gadis bermarga Hyuuga itu menggelengkan kepalanya sembari terus meremas roknya hingga kusut.

Ino hanya bisa menghela napas panjang menanggapi jawaban Naruto dan Hinata. "Baiklah. Naruto, ini temanku, Hinata Hyuuga" Ino mengambil tangan kanan Naruto dan Hinata untuk kemudian disatukan.

"Dan Hinata, ini Naruto Uzumaki."

"Ano~ Dozo yoroshiku ne, Hinata-san" Demi apapun yang ada dimuka bumi ini, senyuman Naruto bisa membuat Hinata terbang hingga langit kedelapan.

"A… Eee… Ano~ Eto~ Ehm… Doo… Dozoo… yoroshiku" tubuh Hinata gemetaran bukan main.

"Hehe… Santai saja, Hinata-san. Kalau kamu adalah teman Ino berarti kamu juga temanku" Hinata menganggukan kepalanya lemah.

"Teman atau teman nih?" tanya Ino sembari menatap Naruto tajam. Hinata menengadahkan kepalanya karena terkejut.

Naruto tertawa lebar sebelum menjawab pertanyaan yang ditujukan kepadanya. "Tentu hanya teman, gadisku~"

Hinata tertegun. Dia berada dalam kondisi speechless tingkat dewa. Hatinya hancur, wajahnya bertambah pucat, dan tubuhnya lemas. Dia jatuh terduduk diatas lantai café yang dingin.

"Hinata-chan? Kamu kenapa?" dengan sigap Ino membantu temannya itu untuk kembali berdiri.

Miris. Hinata berusaha tersenyum dibalik perasaan kecewanya. Memang bukan salah Hinata bila Naruto adalah kekasih dari Ino, tetapi ada satu hal yang disesalinya. Kalau saja dia tidak kutu buku, dia akan melihat dunia sekitarnya lebih luas. Termasuk mengetahui segala hal tentang Naruto.

Nasi telah menjadi bubur, dan bubur tidak mungkin menjadi nasi lagi. Setelah—berusaha—menghabiskan jus jeruk dan roti isi pesanannya serta menahan emosinya saat mengobrol dengan Ino dan Naruto, Hinata memutuskan untuk pulang. Dia sudah tidak sanggup lagi disana. Seandainya didepannya ada kamera, maka dia akan melambaikan tangannya dengan sepenuh hati.

Ini lah "takdir" Hinata dan cinta pada pandangan pertamanya. Mungkin ini bukan saat yang tepat bagi Hinata untuk merasakan cinta. Semua pasti ada saatnya. Suatu saat nanti. Ya, suatu saat nanti Hinata akan menemukan kebahagiaannya.


Lalalalalala~~

Maafkan segala kesalahan saya dalam fanfic diatas~

Saya juga gak ngerti kenapa ceritanya jadi begitu /dor. Masalah alur yang tambah cepat itu gara-gara tugas yang menumpuk dan rasa malas yang selalu melanda /kicked /gakadahubungannya.

Kritik dan saran?

Tolong berikan saya suatu pesan yang membangun agar karya saya selanjutnya dapat menjadi jauh lebih baik dari ini. m(_ _)m

Domo arigato gozaimasu~~