Author's Note:
Thanks for d' reviews, pals! Saya cinta kalian! *group hugs*
Disclaimer:
I do not own Naruto.
"Can I go forward when my heart is here? Turn back, dull earth, and find thy center out..."
- William Shakespeare, Romeo and Juliet, 2.1
A Naruto Fanfiction
Based on 'Love Story' by Taylor Swift
Love Story
-Part 2-
By: Ange la Nuit
Sasuke membuka kelopak matanya yang sedari tadi tertutup. Dipandanginya lagi balkon kosong itu sejenak sebelum akhirnya ia berubah posisi, berbaring di atas sofa itu dengan lengan kiri yang menutupi wajah. Ah, tentu ia masih ingat persis bagaimana pertemuan keduanya dengan pemuda itu…
Hanya beberapa hari, tidak sampai seminggu setelah ulang tahunnya yang ke-17. Sasuke sedang mencoba untuk tidur malam itu, ketika sebuah pesan terkirim ke handphonenya. Sebuah pesan dari nomor yang belum ia kenal. Sebuah pesan aneh yang berbunyi:
'Can I go forward when my heart is here?
Turn back, dull earth, and find thy center out…'
Sasuke mengernyitkan dahi melihat dialog dari drama yang amat dikenalnya itu. Ia bukan penggemar drama klasik, bukan, tapi pelajaran di sekolahnya membuatnya hafal adegan itu. Dan ini membuat ia segera tahu siapa gerangan yang telah mengirimkan pesan kepadanya saat ini.
Ia pun segera mengetikkan balasan.
'Sudah kubilang kau bukan Romeo, dobe.'
Tidak butuh waktu semenit sampai ia mendapatkan pesan kembali.
'Biar bagaimanapun kau tetap Juliet bagiku, teme!"
Sasuke baru saja akan bergerak untuk menekan tuts ponselnya ketika ia mendengar suara ketukan asing dari arah pintu balkonnya. Perhatiannya teralih sejenak, dan—
BIB
Satu pesan masuk lagi.
Pemuda dengan kulit berwarna putih susu itu mengecek inbox-nya lagi.
'BTW, Romeomu sudah ada di bawah balkon, menunggu sang Juliet keluar dari kamarnya.'
Oh, Tuhan. Jangan salahkan Sasuke kalau ia merasa ada kedipan mata menggoda yang turut menyertai pesan itu. Dan ini berhasil membuat Sasuke menarik nafas dalam keheranan.
Tsk. Dikiranya ia siapa?
Sasuke segera bangkit dari tempat tidurnya, tidak menghiraukan suara ketukan kerikil yang dilemparkan—kalau ia tak salah tebak—dari kaca pintu, namun segera melangkah menuju ke balkonnya itu.
Dengan cepat dibukanya pintu kaca yang membatasi kamarnya dengan balkon sembari mencoba berkata pelan, "Kubilang aku bukan Juliet, idi—"
Namun terpotong. Terpotong oleh sebuah kerikil yang terlontar dan mengecup dahinya dengan 'manis'.
"ASTAGA!" Sasuke mendengar suara pekikan dari sisi kiri bawah balkon, "S-Sasuke! Maaf! Aku tak sengaja!"
Sembari menahan ringisan dan memegangi dahinya yang sakit, Sasuke memandang ke bawah, mempelototi Naruto yang berjaket oranye mencolok dan tengah memandang balik padanya dengan wajah khawatir.
"Jangan berisik, dobe!" pemuda Uchiha itu berusaha berseru sembari berbisik, menghentikan kalimat apapun yang hampir keluar dari pemuda yang berada di bawahnya, "kalau kau ketahuan, mati kau."
Mendengar teguran itu, Naruto segera mengambil pose merengut, memanyunkan kedua bibir ke depan, lengkap dengan mata yang menyipit dalam kesal. Ah. Sasuke jadi bertanya-tanya, ia berhadapan dengan remaja 16 tahun atau bocah berumur 6 tahun sebenarnya?
"Untuk apa kau datang ke sini?" tanya Sasuke pada akhirnya—tidak tahu harus merasa terganggu atau senang karena kehadiran yang amat tiba-tiba dari pemuda Namikaze itu.
Naruto tak menjawab. Bibirnya masih saja merengut meski ia tak menyipitkan matanya seperti tadi lagi. Sebagai balasan dari pertanyaan Sasuke, ia malah mengayun-ayunkan tangannya dari atas ke bawah; kode untuk meminta Sasuke turun dari balkonnya sekarang.
Sasuke terdiam, tentu saja. Dipandangnya Naruto dengan tatapan tajam bercampur heran, sebelum mencoba untuk menggeleng. Ya. Sebatas mencoba. Karena nyatanya, usahanya terhenti saat melihat pemuda berambut pirang itu tak lagi merengut, namun malah bergerak menyilangkan tangan di hadapan dada, lengkap dengan mata biru yang balas memandangnya tajam.
Sasuke tahu jelas artinya: si pirang tidak menerima kata tidak.
Dan Sasuke hanya bisa menghela nafas untuk yang ke sekian kali, sebelum akhirnya bergerak melangkahi balkon beton bercat putih rumahnya, dan meraih palang-palang kayu yang seharusnya menjadi tempat sulur-sulur bebungaan di halamannya untuk tumbuh menghias dinding rumah—dan jelas bukan untuk menjadi tangga tempatnya turun seperti sekarang.
Satu kaki menginjak tanah, dan pemuda yang hanya mengenakan piyama biru tua ini berniat menoleh untuk menanyakan kembali pertanyaannya tadi. Namun hanya sedetik setelah kakinya yang satu menginjak darat, dirasakannya tangan kanannya ditarik oleh pemuda itu, membuatnya mulai melangkah ke arah yang sama dengan sang Namikaze.
Sasuke mencoba berhenti tentu saja.
"Jangan menarikku, idi—!"
Kata-katanya terpotong lagi, kali ini oleh Naruto yang menoleh sembari meletakkan telunjuk kanannya di depan bibir—tanpa menghentikan langkah mereka tentu.
Sasuke tak lagi mampu bersuara mengingat peringatannya yang ia katakan sendiri—yang tentunya bukan tanpa alasan.
Kenapa begitu? Karena kalau sekarang posisi mereka diketahui oleh siapapun di rumah ini, yang 'mati' bukan Naruto saja.
Tangan terlipat di depan dada, bibir yang hampir membentuk busur ke arah bawah, dan tatapan tajam yang tak juga berhenti.
Seperti itulah ekspresi si bungsu Uchiha saat ini.
Di kali pertama Sasuke melihat benda ini, tak pernah terpikir olehnya bahwa suatu saat ia akan menaikinya. Sungguh. Ia juga tak pernah berharap akan bisa berada di dalamnya selama hampir tiga puluh menit tanpa bisa keluar karena benda ini masih terus bergerak. Benda ini. Benda oranye nista yang tadinya Sasuke anggap palsu—bahkan sampai sekarang pun masih dianggapnya begitu. OK, OK, siapapun tahu seberapa besar kekayaan keluarga Namikaze sebenarnya. Mereka bisa punya lebih dari sepuluh mobil Ferarri kalau mau. Tapi melihat ulah pemuda ini, pemuda pirang berjaket oranye bernama Naruto ini, mau tidak mau Sasuke berpikir bahwa mobil ini adalah mobil Ferarri tiruan yang didapatkannya entah dari mana untuk menggantikan mobil asli yang sudah masuk ke pabrik besi bekas terdekat. Bagaimana tidak? Mentang-mentang yang digunakannya Ferarri, pemuda ini seenaknya saja mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi—sampai nyaris membuat Sasuke jantungan di kali pertama ia menancap gas.
Sungguh gila.
Kenapa pula Sasuke mau berada di dalam benda ini? Oh, ya, Sasuke telah dipaksa masuk dan duduk di dalamnya setelah ditarik untuk diam-diam melintasi halaman luas kediaman Uchiha dan juga melewati pintu-aneh-bersembunyi-semak di pagar belakang rumahnya, dan tidak bisa keluar lagi karena mobil-oranye-nista yang segera dijalankan dengan kecepatan di atas seratus kilometer per jam. Sasuke bisa bersumpah bahwa ia benar-benar ingin menggelengkan kepala heran sekarang. Bagaimana bisa seseorang yang baru datang sekali ke kediamannya tahu ada pintu aneh itu di sana? Sasuke yang pemilik rumah saja tak pernah tahu bahwa di sana ada pintu!
Dan di atas semua tanya bingungnya tentang pintu di kediaman Uchiha, Sasuke masih punya satu pertanyaan besar yang belum juga terjawab hingga sekarang…
"Kau mau membawaku kemana sebenarnya?" …dan ia baru saja mengucap tanya itu, tanpa memandang orang yang ia tanyai barusan.
"Hmm~" pemuda yang berada di balik setir itu menggumam penuh nada. Satu senyum terlukis di wajahnya. "Lihat saja nanti, Juliet."
Death glare khas Uchiha itu kini terarah ke kepala si pirang. Oh, andai tatapan bisa membunuh.
"Berhenti memanggilku Juliet, utsuratonkachi."
"Dan berhenti memanggilku utsuratonkachi, Juliet."
Kali ini Sasuke mendapati senyum itu hilang dari wajah berkulit kecokelatan sang Namikaze muda. Selama beberapa detik, lidah pemuda ini terasa kelu. Marahkah dia?
Well, ia harap tidak.
"…Apa maumu sebenarnya?" Sasuke mencoba bertanya lagi. Kali ini, tanpa embel-embel apapun.
Dan didapatinya pemuda pirang itu menghembuskan napas panjang tertahan sebelum akhirnya menoleh sejenak ke arahnya… mempertemukan pandangan mereka dan membuat Sasuke menahan napas tanpa sadar saat mendapati ekspresi tak terbaca dari mata biru itu.
Naruto lalu kembali memandang jalanan sepi yang mereka lalui di detik berikutnya.
"Sudah kubilang aku ingin mengajakmu ke suatu tempat 'kan, Teme?" tanyanya pelan. "Dan kita akan sampai beberapa puluh detik lagi."
Benar saja. Sasuke mendapati mobil yang ditumpanginya berbelok keluar dari jalanan beraspal, ke arah tempat kosong yang agak lapang, tak jauh dari sisi jalan. Dan di sana, mobil berwarna oranye ini berhenti.
Sasuke tidak perlu dipandu untuk bergerak melepas sabuk pengamannya dan bangkit serta keluar dari kendaraan. Namun sayang, setelah menginjak tanah dan menutup pintu, pertanyaan Sasuke sepertinya belum juga terjawab.
"Untuk apa kau membawaku ke tempat seperti ini?" tanyanya sinis. Ia tahu persis tempat ini hanyalah salah satu bagian tanah kosong di sisi jalan melintasi pegunungan yang ada di sisi kotanya, dibatasi palang-palang besi untuk mencegah orang ataupun kendaraan terjatuh entah dari ketinggian berapa.
"Memangnya apa yang bisa kita lakukan di sini?" tanyanya lagi.
Naruto yang kala itu baru saja selesai menutup pintunya sendiri, segera memberinya cengiran dan menjawab, "Melihat bintang."
Dahi Sasuke kembali berkerut saat mendengar jawaban itu. Ia lalu mendongakkan kepala sejenak untuk melihat langit, mendapati tampilan langit yang berwarna cokelat tua dan hampir polos karena ditutupi awan mendung.
"Bintang macam apa yang kau cari, dobe?" tanyanya Sasuke sembari memandang pemuda itu tajam lagi, benar-benar hampir kehabisan kesabaran menghadapi pemuda ini.
"Ck ck ck," Naruto mendecak sembari menggoyangkan telunjuk di depan wajahnya.
Sasuke hanya bisa terus mengernyitkan dahi.
"Ternyata kau tak sepintar yang kubayangkan, Sasuke," kata pemuda pirang itu dengan seringai usil. "Yang namanya bintang itu bukan cuma yang di atas, tahu."
Naruto berhenti sejenak untuk menunggu balasan Sasuke. Walaupun begitu, sepertinya Sasuke masih kehabisan kata-kata untuk bisa memberikan balasan apapun. Dan Naruto akhirnya mulai melangkah memutari mobilnya menuju Sasuke sembari tersenyum.
Ia berucap, "Coba lihat di belakangmu."
Sasuke tak bisa apa-apa selain mengikuti perintah itu untuk memusnahkan rasa penasarannya. Pemuda berambut hitam itu berbalik, dan akhirnya sukses mendapati bintang-bintang yang dimaksudkan Naruto.
Bintang darat.
Ratusan—ah, atau mungkin ribuan, lampu-lampu kota dengan beragam bentuk dan warna berkumpul menjadi sekumpulan cahaya yang tersebar dan terlihat begitu kecil namun justru sangat indah dari ketinggian tempat mereka berada kini. Dan bohong namanya kalau Sasuke tidak takjub sekarang.
…Sungguhkah itu kota mereka? Sungguhkah itu kota yang setiap hari ia injak dan lintasi hingga bosan? Sasuke tidak pernah tahu kalau kota Konoha ternyata bisa seindah ini.
"Indah, 'kan?" suara itu menyadarkan Sasuke yang sempat tenggelam dalam takjubnya.
Tapi tetap saja, Sasuke sama sekali tidak menyangka bahwa saat ia berbalik lagi, yang dia dapat malah si pemuda pirang yang kini sedang duduk bersila di atas kap mobil oranye miliknya itu. Bukan hanya itu. Naruto bahkan dengan santainya membuka kaleng coke yang bisa ia pastikan baru diambilnya dari satu kantong plastik putih—sejak kapan ada benda itu bersamanya?—yang berada di dekat pemuda itu. Dan setelah melihatnya menengadah padanya, pemuda yang sama malah menepuk-nepuk tempat kosong di sebelahnya, memanggil Sasuke untuk duduk di sana.
"Di atas sini lebih bagus pemandangannya, lho, Sasuke!"
Dan Sasuke tak bisa apa-apa selain berusaha memanjat naik ke sana dengan melewati kap bagian belakang mobil. Hal ini sungguh membuat Sasuke meragukan keaslian si mobil. Pemilik Ferarri ASLI mana yang mau memanjati dan duduk di atas kap mobilnya sendiri? Pakai mengajak orang lain pula!—Yah, kalau memang ada, Naruto pasti berada di urutan teratas.
Naruto sudah mulai menegak cola-nya saat Sasuke mengatur posisi untuk duduk menjulurkan kaki ke bagian kaca dan kap belakang.
"Semoga saja tidak hujan," Naruto berkata sembari menyodorkan kantung plastik yang berisi snack dan minuman itu ke arahnya. "Dari tadi mendung, sih."
Sasuke tak membalas kalimat itu. Mata dan tangannya masih sibuk ia gunakan untuk mengaduk-aduk isi kantung belanjaan Naruto, mencari apa gerangan makanan ataupun minuman yang pantas untuk lambungnya. Sebenarnya sih, kalau boleh jujur, ia mencari satu benda secara spesifik. Salah satu minuman yang cukup langka dikonsumsi oleh pemuda seumurannya. Dan ini semakin terbukti. Mau dicari bagaimanapun Sasuke tak juga mendapatkan benda itu. Dan ia kecewa karena telah sempat berharap—
"Mencari ini?"
Sasuke menoleh ke asal suara hanya untuk mendapati Naruto dengan satu cengiran dan satu kotak tomato-juice di tangan kanannya—entah ke mana hilangnya kaleng soda tadi. Si Uchiha muda pun mengangguk pelan.
Melihat reaksi itu, Naruto langsung meledak terkekeh geli.
"Ya ampun! Isu kalau si bungsu Uchiha itu tomato-maniac ternyata benar!"
Dengan kesal, Sasuke mengernyitkan dahi dan memandang tajam pemuda yang satu. Tetapi ia tetap menjulurkan tangannya untuk mendapatkan kotak minuman itu dari Naruto—dan gagal. Gagal. Karena si pirang tiba-tiba saja mengubah posisi tangan maupun tubuhnya, menjauhkan benda itu dari jangkauan Sasuke.
Dan setelah itu… rasanya Sasuke melihat Naruto nyengir setan.
"Cium aku dulu."
Kalimat itu membuat death glare Sasuke untuk Naruto semakin tajam saja.
"Siapa yang sudi, idiot." Dan ia bergerak untuk mencari minuman lain di dalam plastik putih itu.
"Hoo," Naruto mencemooh, "ternyata semudah itu yang namanya Uchiha menyerah." Ia lalu bergerak membuka plastik sedotan yang dilepaskannya dari kotak juice itu sambil terus berbicara, "kalau kau memang tidak mau, ya sudah, buatku saja…" Naruto lalu menusukkan sedotan itu ke tempat di sisi atas kotaknya. "Well, aku hanya tidak menyangka kalau ternyata semudah ini mengalahkan seorang Uchiha Sasuke."
TWITCH.
Satu lagi saklar kesabaran Sasuke telah mati.
"Berikan padaku, dobe!"
Pemuda berambut hitam dengan spike ke belakang itu segera bergerak dan mencoba meraih kotak juice berwarna merah itu. Tetapi Naruto terus menghalaunya dengan tangan kiri, dan malah mendekatkan serta meraih ujung sedotan dengan bibirnya. Dan dalam pergulatan itu, tanpa sengaja Sasuke kehilangan keseimbangan, dan hampir terjatuh dari sisi kiri mobil—
"S-Sasuke!"
—tetapi Naruto berhasil menariknya dan menyelamatkannya, sehingga tubuhnya berakhir dengan posisi terkapar di atas kap mobil… dengan pemuda Namikaze itu tepat di atas tubuhnya. Memeluknya. Juga dengan wajah yang tersembunyi di pertemuan bahu dan lehernya.
Ya Tuhan!
"C-cukup. Lepaskan aku, dobe." Sasuke sama sekali tidak bermaksud untuk membuat getar dalam suaranya. Sungguh.
Tapi pemuda pirang itu belum juga bergerak. Ia masih saja berada di posisi yang sama, dan—ya ampun, apa yang barusan itu kecupan?
"…Aku," Naruto mulai berkata, dengan perlahan bangkit dan menggerakkan lehernya lalu mengecupi sisi terluar pipi Sasuke. "…benar-benar jatuh cinta padamu, kau tahu."
Si pemuda Uchiha terdiam. Yang bisa dilakukannya hanyalah merasakan wajahnya yang semakin memanas. Entah karena hembusan hangat pemuda yang satu di wajahnya, atau—bukan, bukan. Ini bukan merona. Ia tidak mau mengakuinya.
"Terserah kalau orang mau bilang aku bodoh karena jatuh cinta padamu hanya dalam satu pertemuan—" Naruto berucap di sela kecupan ringannya di dagu dan pipi Sasuke, "—atau tentang keluarga kita, maupun tentang gender kita."
Satu kecupan Sasuke rasakan lagi, kali ini di dahi kanannya.
"Yang aku tahu—" Naruto menempelkan dahi mereka, memandangnya tepat di mata. "—aku jatuh cinta padamu. Itu saja."
Dan Sasuke memejamkan mata. Ia hampir tak mampu berpikir lagi setelahnya.
Satu-satunya hal yang bisa ia ingat jelas hanyalah… ciuman keduanya dengan pemuda itu terasa seperti buah kesayangannya.
Perjalanan pulang hampir diisi keheningan—dari sisi Sasuke. Radio di dashboard mobil terus saja menyala, menyiarkan salah satu siaran radio swasta yang sedari tadi memutarkan lagu-lagu kesayangan Naruto. Atau mungkin Narutonya saja yang terlalu bersemangat sehingga terus bernyanyi kecil atau bersiul mengikuti hampir setiap lagu yang diputar sepanjang jalan. Entahlah. Sasuke tak tahu, dan tidak mau tahu.
Pemuda Uchiha ini duduk bertopang dagu di sebelah Naruto yang sedang mengemudi. Sikunya bersandar pada kusi jendela mobil, sementara dahinya ditempelkannya di kaca jendela, matanya terus memandangi jalan maupun muka kota yang tengah mereka lewati. Tapi bukan itu yang tengah dipikirkannya sekarang.
Kejadian di atas kap mobil tadi rasanya seperti terekam, dan sekarang terus saja terulang kembali di benaknya. Acara perebutan kotak juice yang kekanakan itu… lalu rasanya saat ia hampir jatuh, kemudian pelukan pemuda itu… pengakuan, lalu—AKH!
Diam-diam Sasuke ingin menjedukkan kepalanya pada kaca jendela saat membayangkan kembali peristiwa itu.
Untung saja, setelah itu, Naruto bersikap seolah tidak ada apapun yang terjadi—walaupun Sasuke bisa menangkap jelas bahwa mood pemuda itu naik satu tingkat lagi, lebih riang dari yang biasanya. Akh.
Sasuke menekan kepalanya ke jendela lebih kuat lagi.
Kenapa bisa-bisanya ia berpikir seolah ia telah mengenal pemuda ini selama bertahun-tahun? Mereka bahkan belum sebulan bertemu! Ia jelas tidak berhak menilai Naruto begitu saja hanya dalam pertemuan beberapa jam.
Tapi… Sasuke jelas menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda dari Naruto terhadapnya, juga sesuatu dari dia terhadap Naruto. Sesuatu yang membuatnya tidak juga bisa mengalihkan pikirannya dari pemuda aneh itu bahkan selama seminggu setelah pertemuan mereka di pesta ulang tahunnya itu.
Kepalsuan.
Tidak ada kepalsuan dari Naruto untuknya—dan mungkin begitupun sebaliknya.
Ah, tunggu, bukankah itu berarti… dia juga mungkin punya perasaan yang sama untuk—
"O'ow."
Suara Naruto menghentikan pemikiran Sasuke. Pemuda itu merasakan Naruto mengurangi laju mobilnya setelah tikungan—yang baru saja ia sadari adalah jalan yang tidak sampai dua ratus meter lagi menuju rumahnya—lalu akhirnya melihat apa yang membuat si pirang kini mematikan radio mobil: beberapa mobil polisi terparkir di depan rumahnya, juga beberapa orang yang ia kenali sebagai anggota keluarganya tengah berdiri dan berbicara dengan polisi-polisi itu. Dan salah satunya adalah…
Uchiha Fugaku.
Sang ayah.
Yang kini telah melihat mobil Ferarri oranye tempatnya berada sekarang.
-
To Be Continued…
-
.
.
.
...Review?
