Chap 2 : I,you and our promise

Hinata memencet bel rumah Yui,sekali,dua kali tidak ada bel yang ketiga,ada seseorang yang membukakan pintu.

"Oh,Hinata-kun ya,masuklah."dengan ramah,ibunya Yui membukakan pintu untuk Hinata.

"Permisi…"kata Hinata yang agak sungkan.

Ibu Yui mengantarkan Hinata ke kamar Yui,di sana Yui sedang menonton televise sendirian.

"Yui."ibunya memanggil setelah membukakan pintu "Hinata datang."

"Hinata-senpai!ternyata kau datang kemari lagi."

Hinata tersenyum meninggalkan Hinata dan Yui di Hinata duduk di kursi yang ada di sebelah tempat tidur Yui.

"Heeh,aku tidak mengira,Hinata-senpai mau kemari lagi…"

"Iya…"

Suasananya agak sedikit Hinata memecah keheningan yang ada di kamar itu.

"Hei,kau suka acara music ya?"Hinata sadar yang dilihat Yui dari tadi adalah acara musik.

"Iya,aku suka,aku suka menyanyi dan tentunya aku juga suka main gitar."

"Kalau begitu,bisa kau mainkan gitar?"

"Eeh?"Yui berekspresi serius.

Hinata berpikir,kenapa Yui diam saja?

Yui membalas dengan tersenyum, "Sayangnya aku tidak punya gitar."

"ooh…"

"Hei,senpai,aku ingin bertanya,impian senpai yang belum tercapai apa?"

Hinata berpikir, "Impian…hmmm,mungkin menangkap bola home run...mungkin..."

"Heee,kalau Hinata-senpai pasti mudahkan menangkap bola."

"Iya,menurutku juga mudah,tapi setelah dipraktekan tidak semudah itu…belum lagi saat ini lenganku cedera"

"Eh?senpai cedera?"Yui membelalakkan matanya.

"Yaah,sudah sekitar sebulan,sekarang sudah tidak apa-apa kok,hanya bisa menangkap pukulan bola biasa."

"Hmm…."Yui mengangguk "Bersama Hinata-senpai sangat menyenangkan ya… aku…sebelumnya belum punya teman yang membesuk,bahkan menengok pun tidak."

"Kenapa?apa temanmu memusuhimu?"

"Bukan,lebih dari itu,aku memang tidak punya teman."

Wajah Yui terlihat sedih kembali,sepertinya Hinata merasa bersalah membahas masalah teman.

"Ehmmm,Yui,kapan-kapan kita jalan-jalan keluar besok hari libur nasional,kita menghabiskan waktu."

"Eeh?"

"Tidak apa-apa kan?"

Wajah Yui jadi sumringah kembali, "Iya!"

Hinata pamit pulang pada Yui,tapi ada yang sedikit mengganjal di penyakit yang diderita Yui?

Karena penasaran,ia bertanya pada ibunya yang sedang duduk di sofa.

"Permisi,bibi…"

Ibu Yui menoleh. "Eh,Hinata-kun,mau pulang ya?"

"Iya,tapi sebelum pulang aku ingin bertanya terkena penyakit apa?"

"Hinata-kun benar-benar ingin tahu?"

Hinata mengangguk.

Ibu Yui menceritakan semuanya,tanpa ada yang hanya kaget dan tercengang,memandang ibu Yui bercerita.

"Jadi…"kata Hinata,suaranya agak ragu, "Yui…terkena penyakit yang mengganggu syaraf motoriknya,otaknya tak dapat merespon,sehingga kaki dan tangannya tak bisa digerakkan atau lumpuh?"

"Iya."ibu Yui sedikit sedih.

"Apa tidak bisa disembuhkan?"

Ibu Yui menggeleng , "Tidak bisa,penyakit ini jarang sekali operasi,memerlukan biaya yang tidak sedikit."

"Kuceritakan ini pada Yui,dia bilang dia tidak masalah selamanya berada di tempat tidur,asalkan dia tak dioperasi."Lanjutnya , "Yui…dia juga bilang,dia sudah siap jika maut menjemputnya."

Ibu Yui mulai menitikkan air kondisi Yui yang seperti itu,membuat Hinata sedikit sebabnya Yui tidak sanggup mengambil bola baseball yang ada di ini Yui juga selalu duduk di kursi roda dan terbaring di tempat tidurnya.

"Maaf,bibi,aku malah…mengingatkanmu pada sesuatu yang menyakitkan."

"Tidak…"dia menggeleng menanggapai perkataan Hinata. "Justru aku berterima kasih padamu,,Yui bisa tersenyum ceria,ada teman seumurannya yang bisa diajak bicara."

"Hinata-kun"Ibu Yui memegang tangan Hinata,tangannya sangat dingin. "Jagalah Yui,buat ia bahagia."

"Aku akan menjaga Yui,bibi tenang saja."Hinata baru saja menghibur hati ibu Yui yang dingin tanpa harapan.

Ibu Yui merasa senang sekali,dan merasa sangat aman bila Yui bersama dengan Hinata.

-Besoknya-

"Yui,selamat pagi."sapa Hinata pada Yui.

Tak seperti hari biasanya,kali ini Hinata datang lebih pagi.

"Pagi, kuduga,senpai kemari lagi."Yui berbaring di tempat tidur ditemani ibunya.

"Tentu saja,kan kemarin aku sudah janji akan mengajakmu jalan-jalan."

Yui hanya tersenyum saja,tentunya ia ingat akan janji yang Hinata buat kemarin. "Baiklah,senpai keluar aku menyusul."

Hinata pun menuruti perkataan Yui dan ia menunggu di luar.

Di dalam kamar,terdengar suara ibu Yui dan Yui sedang bercakap-cakap

"Ibu sepertinya senang ya?"tebak Yui asal-asalan.

Ibunya hanya tersenyum "Begitukah?ibu hanya senang akhirnya kau bisa keluar rumah tanpa bantuan ibu lihat Hinata-kun orang yang baik sekali." sambil mengancingkan baju pada Yui.

"Menurut ibu begitu?"

Ibunya memegangi pundaknya "Sayang,selagi sempat,bersenang-senanglah senang jika kau bahagia."

Tangan ibunya hangat,senyumannya merekah,membuat hati Yui senang melihat ibunya itu.

"Terima kasih bu…"

Ibu mengantarkan Yui yang duduk di kursi roda ke ruang tamu,dimana Hinata menunggu.

"Senpai,maaf,menunggu."kata Yui.

Hinata melihat penampilan Yui,dia cocok sekali dengan baju warna pink dan rok selututnya.

Hal itu membuat Hinata merasa Yui sangat cantik,walaupun bajunya sederhana.

"Ayo,senpai." Ajakan Yui seakan membangunkan Hinata dari lamunannya.

"Ah,iya…"

Hinata mengambil alih kursi roda dan Yui pamit pada ibunya sambil membungkukkan badan.

"Hei,senpai,kita kemana?"tanya Yui yang penasaran.

"Hmmm,kemana ya…menurutmu?"Hinata mencoba bermain tebak-tebakan dengan Yui.

"menurutku….? Yaaah,kita jalan-jalan di sekitar sini…"

"Salah!" kata Hinata "Kita akan ke tempat yang bagus,dan jauh dari sini."

"Hah?"Yui sedikit terheran.

"Kau akan tahu nanti."

Jalan raya sangat sepi,Hinata puny aide untuk mendorong kursi roda Yui lebih cepat lagi.

"Tu….tunggu,Hinata-senpai…"Nada Yui sedikit ketakutan.

"Tenang saja,aku akan hati-hati kau lakukan tinggal menikmati pemandangan dengan angin sepoi-sepoi saja."

Yui makin heran,tapi ia memutuskan untuk diam kelamaan Yui merasa senang ketika kursi rodanya di dorong dengan kecepatan penuh.

"Senpai,ini menyenangkan!"tawanya menghiasi wajahnya.

"Hehe,baru sadar,nanti akan kutunjukkan yang lebih hebat lagi."

Sepuluh menit kemudian,Hinata dan Yui tiba di sebuah tebing,di sana terdapat pohon Maple yang berwarna kuning kecoklatan,menandankan ini masuk musim gugur.

Yui mengagumi pohon maple itu,tapi tak hanya itu menunjuk ke arah di sana,hamparan bunga yang sangat indah menghiasi lapangan luas.

"Indah bukan?"Kata Hinata yang juga ikut mengagumi keindahan bunga itu.

"Ya,sangat indah,tak kusangkan akan mendapatkan pemandangan ini di musim gugur."

Senyuman Yui kini merekan,sangat cantik,di tambah matahari pagi yang menyinari tempat membangkitkan hati Hinata yang melihat kecantikannya.

Entah sejak kapan Hinata memandangi wajah Yui,dan entah sejak kapan dia mempunyai rasa pada Yui.

"Senpai?"

Hinata mengerjapkan matanya, "Oh,maaf,kau mengatakan sesuatu?"

"Tidak,hanya saja aku mau bilang,hebat sekali senpai menemukan tempat sebagus ini."

"Aaah,itu….aku hanya tidak sengaja menemukan tempat ini ketika pulang kebun bunga itu ditanami bunga yang tumbuh setiap musimnya."

"Oooh,jadi tiap musim bunganya berganti ya?aku jadi ingin melihatnya."Mata Yui kini seakan menerawangi bunga-bunga itu,dia seakan melihat,tetapi tidak benar-benar melihat.

"Taka pa,aku akan mengantarkanmu setiap musim."

"….."Yui termenung, "Itu kalau aku masih ada di dunia ini…"

Satu hal yang Hinata lupakan,bahwa Yui kini memiliki penyakit yang tidak diketahui. Tapi Hinata tak mau mengecewakan Yui saat ini.

"Tidak apa-apa,jika kau tidak ada sekalipun,aku akan mengantarkan bunga ke makammu,setiap musim kubawakan binga yang berbeda."

Yui kembali bangkit dari keterpurukannya,dan menatap dia menunjukkan seulas senyumnya. "Senpai…kau medoakanku meninggal ya?"

"Bu…bukan begitu…maksudku…anu…"Hinata kehabisan kata-kata,dan tergagap.

"Tidak apa-apa senpai,seperti itu saja aku sudah senang kok."

Yui tertawa lagi,kali ini tawanya lebih terlihat juga ikut tertawa melihatnya.

-To be continued-