Disclaimer: 7 Seeds adalah milik Tamura Yumi dan semua puisi yang saya gunakan di fanfic ini adalah milik Sapardi Djoko Damono. Saya cuma bermain-main sebentar dengan dunia kata milik mereka.


Fanamu Abadi

Bagian Dua : Igauan Embun

bibir-bibir bunga yang pecah-pecah
mengunyah matahari,
jangan ceritakan padaku tentang dingin
yang melengking malam-malam
—lalu mengembun

(Jangan Ceritakan – Sapardi Djoko Damono)

Yang mengawali harinya setiap hari selalu saja sama: gonggongan ringan dan sensasi basah di kedua pipi.

"Fubuki... Mitsuru..."

"Guk! Guk!"

Kedua anak serigala itu seperti gumpalan energi yang tak pernah padam. Berlari kesana kemari, menjelajahi setiap bagian ruangan hanya untuk kembali melompati tubuhnya. Celotehan mereka menghidupkan harinya yang terasa hampir tidak nyata: tidak tanpa dua sosok yang menemaninya semenjak terbangun di dunia ini. Dua orang yang kehadirannya telah terpisah sepenuhnya dari eksistensinya sendiri.

Hari kedua ia terbangun di tempat penyimpanan ini, ia merasa aneh bila tidak segera menamai kedua anak serigala itu. Mereka sepasang, jantan dan betina, ternyata. Sungguh kebetulan yang praktis, ternyata yang berbulu seputih salju adalah yang betina dan yang jantan abu-abu.

"Mitsuru juga punya kulit seputih salju, jadi bagaimana kalau aku menamaimu Mitsuru?"

"Guk!" Ah, tampaknya yang diberi nama juga setuju.

"Dan kamu... sudah pasti kamu adalah Fubuki, bukan? Mohon bantuannya ya, Fubuki, Mitsuru..."

"Guk! Guk!"

Aneh, kenapa ia tidak merasa terlalu hampa lagi setelah mengucapkan kedua nama itu dengan lisannya sendiri? Seolah Fubuki dan Mitsuru tidak benar-benar pergi... Seolah mereka berdua masih tetap di sampingnya, saling mengganggu dan menggoda.

Seolah kehidupan dan pertemuan bukanlah sesuatu yang berada di luar jangkauan.

"Hm... persediaan daging kita hampir habis, Fubuki... Mitsuru... Apa sebaiknya kita pergi berburu ke luar sana? Tapi jumlah binatang buruan di luar sudah jauh berkurang di cuaca sedingin ini."

"Guk! Guk!" Kedua anak serigala itu menarik-narik celananya ke arah deretan laci tempat penyimpanan makanan. Apa cuma perasaannya atau mereka memang mencoba mengatakan periksa lagi?

"Sarden... lupakan saja. Daging asap... kornet... ini juga meragukan. Siapa yang tahu entah sudah berapa tahun berlalu sejak masa kadaluwarsanya?" Ia terus membongkar laci demi laci dengan pengharapan akan menemukan sesuatu yang bisa dimakan kedua hewan karnivora itu.

"Eh, mereka juga menyimpan ini?" Seingatnya dulu tidak ada produsen makanan yang mengalengkan daging kering atau dendeng... atau mungkin ia saja yang tidak tahu?

Tapi baguslah... setidaknya, mungkin daging kering masih layak dimakan meski sudah kadaluwarsa. Ah, orang bilang, hewan punya insting yang kuat untuk membedakan mana yang bisa dimakan dan mana yang tidak, bukan? Mungkin sebaiknya ia biarkan kedua makhluk mungil itu yang memutuskannya sendiri.

"Fubuki... Mitsuru, kalian mau coba makan ini?" Ia membukakan satu kemasan, menuangkan isinya ke wadah yang landai, dan menyodorkannya ke kedua anak serigala itu.

"Guk! Guk!" Mereka segera menyerbu makanan itu dan melahapnya tanpa ragu. Sepertinya daging kering itu cukup aman... mungkin ia bisa mencobanya juga nanti.

Kalau untuk dirinya sendiri, ia bisa memakan biji-bijian yang ada di tempat penyimpanan itu. Beras dan jagung ada dalam jumlah banyak, bisa dimasak langsung atau diolah dulu jadi produk lain... seperti tepung, misalnya? Sepertinya di deretan rak buku ada buku petunjuk tentang cara pembuatan tepung. Ah, ya, kedelai juga bisa dibuat tepung... sepertinya cukup bagus untuk sumber protein.

Selama temperatur di luar sana masih bertahan pada satu digit, sepertinya ia harus sepenuhnya bergantung pada persediaaan makanan di tempat penyimpanan ini. Bukan saja karena jumlah hewan dan tumbuhan yang bisa diburu dan dikumpulkan berkurang drastis, tapi karena masih ada kemungkinan hewan buas lain di luar sana. Mereka juga pasti kekurangan mangsa dan tidak akan ragu melahap manusia, makhluk yang bahkan tidak punya taring, cakar, maupun cangkang untuk melindungi diri. Kedua anak serigala itu juga masih kecil-kecil, mereka juga bisa menjadi mangsa empuk.

Setidaknya persediaan daging di laci penyimpanan masih mencukupi untuk satu atau dua bulan ini... semoga saat itu tiba, musim dingin sudah berakhir.

Mungkin nasib baik sedikit berpihak kepadanya, karena dalam empat puluh tiga hari, salju sudah berhenti turun dan temperatur beranjak naik ke dua digit.

"Fubuki, Mitsuru... kalian mau ikut aku keluar?"

"Guk! Guk!" Menilik dari nyaringnya suara dan antusiasnya kibasan ekor mereka, mereka juga pasti sudah bosan mengurung diri dan tak sabar lagi melihat sinar matahari.

Kedua hewan itu segera melompat keluar begitu ia membukakan pintu shelter.

"Hei, tunggu! Jangan jauh-jauh dariku, Fubuki, Mitsuru!" Siapa yang tahu bahaya entah apa yang mengintai di suatu tempat dari padang luas ini? Kedua anak serigala itu masih terlalu kecil untuk melindungi diri mereka sendiri.

"Guk! Guk!" Fubuki dan Mitsuru berlari berputar-putar dalam radius beberapa meter darinya. Bagus, dalam jarak ini, setidaknya ia masih bisa mengawasi mereka. Untuk jaga-jaga, ia juga sudah membawa tombak bersamanya, kalau-kalau ada hewan buas yang muncul.

Kelegaannya hanya bertahan sebentar karena kedua anak itu segera lari begitu melihat pergerakan samar di semak-semak.

"Fubuki! Mitsuru!"

Yang dipanggil muncul tak lama kemudian dengan membawa hewan kecil di sela-sela gigi depan mereka.

Insting berburu serigala, betapapun muda atau kecilnya mereka, memang tidak bisa diremehkan.

Fubuki dan Mitsuru menjatuhkan kedua hewan kecil di hadapannya. Untuk sejenak, makhluk malang itu masih menggelepar, sebelum akhirnya terbujur diam. Tampaknya kehabisan darah karena luka di leher.

"Coba kulihat apa yang kalian dapatkan. Hmm... kelinci-tikus?" Makhluk itu mirip kelinci, hanya saja berukuran lebih kecil dan memiliki deretan gigi yang lebih pantas dimiliki oleh tikus.

Biasanya mereka hidup bergerombol, jadi mungkin masih banyak temannya di sekitar sana? Tapi kelinci-tikus juga sering mengundang predator lain, yang kadang jauh lebih besar dan berbahaya, jadi ia harus tetap menyiagakan tombaknya.

Dimana adanya batu-batu kecil? Ia perlu itu untuk berburu dalam situasi seperti ini.

Segera setelah ia menggenggam empat batu kecil di kedua tanggannya, ia berjalan pelan ke arah semak-semak dimana kumpulan kelinci-tikus itu mungkin berada.

"Fubuki, Mitsuru, lari ke sana dan kacaukan mereka! Ayo!"

Sepasang hewan kecil itu lebih dari gembira untuk mengikuti instruksinya.

Hasil buruan hari itu cukup memuaskan. Dua belas ekor kelinci-tikus cukup untuk persediaan daging selama tiga hari.

Andai ia masih ada di dunia yang dulu, ia pasti tidak akan pernah berpikir untuk menggunakan keahliannya sebagai pitcher untuk melempari hewan- hewan kecil sampai mati. Ia yang dulu pasti berpikir itu adalah tindakan yang kejam dan tidak bermoral. Tapi di dunia ini... itu bukan kekejaman. Tindakan itu tak lebih dari usaha untuk bertahan hidup

Memangsa dan dimangsa... rantai tak terputus yang mengaliri kehidupan.

"Hei, Fubuki... Mitsuru... apa menurut kalian, kita ini beruntung?"

Apa hidup itu anugrah atau kutukan?

Pertanyaan sederhana yang masih kerap menghantuinya bahkan hingga ke senyapnya mimpi. Apa ia beruntung karena masih hidup? Apa ia benar-benar bahagia? Apa ini bisa ia sebut kemenangan atau keberhasilan?

Tapi masih saja ada lubang menganga di hatinya yang takkan pernah bisa tersembuhkan oleh apapun.

Berkali-kali ia berpikir mungkin sebentar lagi, sebentar lagi... ia akan kehilangan kewarasannya. Kadang satu hari terasa begitu panjang, kadang begitu pendek. Kadang ia tak tahu apakah ia akan menangis atau justru tertawa histeris. Kenyataan dan ilusi kadang membaur terlalu rapi...

Setidaknya, bila ia menjaga dirinya agar tetap sibuk, ia tidak perlu memikirkan, atau merasakan, apapun yang tidak perlu. Dan melatih dua ekor anak serigala sambil berusaha mengumpulkan makanan lebih dari cukup untuk membuatnya sekedar sibuk.

Belakangan, ia juga mengajak mereka untuk bermain tangkap bola.

Bola baseball peninggalan Fubuki masih ia simpan dengan rapi, diam-diam berharap suatu hari nanti ia bisa bermainkannya bersama manusia lain. Tapi, untuk saat ini, mungkin menyenangkan juga kalau ia bisa memainkannya bersama dua hewan kecil yang selalu menemaninya.

"Guk!" Fubuki membawakan bola yang tadi ia lemparkan ke jarak yang tidak terlalu jauh. Ia mengambil bola dari moncong anak serigala itu.

"Guk! Guk!" Fubuki dan Mitsuru mengibas-ngibaskan ekor dengan bersemangat dan menatapnya dengan mata penuh harap.

"Lagi? Tapi aku bisa repot kalau sampai kehilangan bola ini..."

Tingkah riang sepasang anak serigala itu membuatnya tertawa. Sesaat, seolah semua beban dan duka telah diangkat dari bahunya.

"Hei, apa menurut kalian, kita perlu pergi ke selatan, ke Honshu? Barangkali ada manusia di sana?"

Apa salahnya berharap? Toh kemungkinanan terburuk adalah tidak bisa menemukan manusia lain, dan itu tidak berbeda dengan keadaannya sekarang.

Tiga bulan setelah menemukan 7Fuji, ia menyiapkan perbekalan yang mencukupi untuk perjalanan panjang, termasuk perahu karet. Fubuki dan Mitsuru berlari-lari kecil di sampingnya. Bertiga, mereka akan menempuh jarak jauh ke pulau utama, Honshu.

Meninggalkan shelter dan padang rumput yang nyaman. Tanpa ide sedikitpun akan seperti apa iklim dan tantangan alam yang akan mereka hadapi.

"Kita harus terus bertahan hidup, sampai bertemu manusia lain, dan juga jauh setelah itu..."

Apa kita dicintai atau dibenci oleh Tuhan? Aku tidak peduli. Aku akan terus bertahan hidup.