Disclaimer : Saya bukan pemilik Axis Power Hetalia, yang dibuat oleh Himaruya Hidekaz. Begitu juga karakter Hetalianya, Belanda/Netherlands/オランダ. Indonesia belum muncul di Hetalia dan aku berharap ia segera muncul secepatnya.

Desain Indonesia yang aku pakai adalah perempuan karena aku merasa Indonesia lebih pantas sebagai perempuan daripada lelaki. Karakter ini aku ambil lewat karakter Bung Hatta yang memilih jalan diplomasi daripada perang dan ia sangat dihormati oleh musuh dan lawan. Aku membuat kepribadiannya orang yang tenang dan lembut, menghormati sesama meskipun musuh sekalipun.

Desain Indonesia yang aku pakai adalah desain OrangAneh, ini linknya : art/Indonesia-188788591 sedangkan saat dia pertama kali bertemu Netherlands di pelabuhan Banten, ini linknya : art/First-Meeting-20724578

.

.

Netherlands, seperti yang sudah aku tulis di chapter awal, sedikit moody, pendiam, hanya memikirkan uang, self service, punya dapur tapi tak suka ketika seseorang mencoba membuat dapurnya kotor. Kebunnya indah dan berkilau bersih. Aku minta maaf jika membuat Netherlands tak sesuai dengan anime/manga Hetalia juga terlalu OC. Karakter Netherlands belum banyak diperlihatkan dan aku baru melihatnya lewat episode 9 Hetalia season 5 dan komiknya volume 5.

Inspirasi cerita ini aku dapat ketika baca sejarah Diponegoro hingga akhir hayatnya. Cerita ini diambil atau latar belakangnya saat Perang Diponegoro, sebelum dan sesudah akhir Perang Diponegoro. Dari yang aku baca, Perang Diponegoro atau "Java War" adalah perang yang paling tersulit bagi Belanda dalam menguasai Indonesia sampai Belanda membeli budak di Ghana untuk dijadikan prajurit. Perang Diponegoro dimulai dari tahun 1825-1830.

.

.

Terima Kasih banyak atas reviewnya walau hanya dua buah, tapi sangat memberi masukan untuk cerita ini walau sebenarnya aku berharap banyak review yang masuk, hahaha. Kemungkinan aku saat menulis chapter pertama, aku sedang ngantuk makanya banyak sekali typo dan aku bahkan saat membaca ulang harus memperbaiki ulang susunan kalimat dan banyak kalimat yang salah.

Jadi, selamat membaca dan nikmati chapter kedua cerita ini ya!


A Big, Warm Hands – Tangan Hangat yang Besar

.

.

.

Aku bangun saat mentari datang membangunkan aku yang tertidur lelap. Jujur saja aku tak bisa tidur karena memikirkan Netherlands. Setelah percakapan terakhir kita di dapur membicarakan perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Jenderal De Kock membuatku merasa aneh melihat wajah Netherlands yang sedih bercampur marah.

Ada apa sebenarnya? Apa perundingan mereka tak akan berhasil dan akan terjadi perang lagi? Tidak! Aku mohon jangan terjadi lagi karena aku sudah muak melihat perang dan banyak orang tak bersalah mati sia-sia baik pihak lawan dan pihakku sendiri. Aku langsung merapihkan diri, membereskan kamar tidur dan pergi ke dapur menyiapkan sarapan untuk Netherlands. Nampaknya yang tersisa hari ini hanya adonan roti dan beberapa topping seperti hagelslag, vlokken dan muisjes.

Akhirnya aku harus membuat roti yang masih berupa adonan aku mencampurnya dengan gandum. Umumnya roti Belanda dibuat dari gandum yang ditambah biji labu dan biji bunga matahari untuk penambah rasa. Setelah aku membuat rotinya dan memasukkannya ke dalam oven, aku menyiapkan peralatan makan dan membuat teh beserta kopi. Aku mengambil beberapa vlokken dan muisjes dua sendok teh dari toples kecil dan menaruhnya dalam mangkuk kecil, untuk pemanis roti yang biasanya ditabur diatas roti.

Di Belgia dan Belanda, hagelslag, vlokken dan muisjes itu topping sándwich. Sandwich Belanda dan Belgia sangat berbeda dengan sándwich Amerika dan Inggris yang dilapis daging asap, keju, dan sayuran. Sandwich Belanda dan Belgia hanya berupa roti yang ditaburi hagelslag, vlokken dan muisjes dan dimakan langsung. Bisa juga ditambah dengan parutan keju. Masih menunggu roti, aku mengambil potongan keju dan memarutnya dan menyisakan beberapa untuk dimakan langsung. Bau roti matang sudah tercium dan aku langsung membuka oven dan mendinginkan sementara karena rotinya masih memasak di dalamnya.

Setelah aku menyiapkan sarapan dan menuang teh, aku merasakan sesuatu menarik rok aku dan ternyata itu Little Bunny yang menggigit rokku dan meminta untuk dibawa ke atas meja. Aku tersenyum dan menggosok hidungku dengan hidung dia dan tertawa geli. Saat dia melompat dariku, menuju atas meja aku melihat Netherlands berdiri pas di depanku sambil menghisap pipa dia. Aku langsung merasa gugup dan merapihkan bajuku serapih mungkin karena aku berhadapan dengan meneer, Netherlands.

" Goede morgen, Nedeland..." sapaku sambil membungkukkan kepala.

"Goede morgen, Indie..." jawab dia dan ia langsung berjalan ke arahku dan mencium kedua pipiku dan aku hanya diam berdiri sementara pipiku memerah. " Hoe is uw slaap?" jawab dia sambil membelai rambut hitam panjangku dan menelusuri tulang pipiku dan mataku dengan jari putih panjangnya. Entah kenapa perasaanku merasa hangat dan tenang dan aku menikmati jari panjang dia yang menelusuri mata dan pipiku.

"Fijn, je?" aku tak menjawab kalau aku tidak bisa tidur dan hanya tidur selama empat jam. Jika aku menjawab jujur dia pasti akan bertanya mengapa sampai ke akarnya.

"Fijn Indie..." jawab dia mengelus-elus kepalaku seperti anak kecil. Lalu ia duduk dan minum kopi seperti biasa dan menagambil buah di mangkok yang sudah kupotong kecil untuk sarapan Little Bunny. " Ontbijt laten we, Indie. Met mij..."

"Meneer, ik..." apa maksudnya? Dia minta aku sarapan bersama dia sementara aku masih menunggu roti yang masih panas. Mata hijau zamrud dia menatapku yang masih berdiri sementara dia sudah duduk di meja, menghisap pipa rokoknya. "Setelah aku menyiapkan roti, aku akan sarapan bersama kamu Netherlands. Hoe?"

"Goed, ik wacht..." dan ia menompangkan dagunya di telapak tangan dia dan kembali menatapku yang sedang memotong roti untukku dan Netherlands. Setelah aku meletakkan roti di atas piring, kita sarapan bersama dan aku melihat Netherlands menaburkan muisjes dan parutan keju di atas rotinya dan dia memakannya langsung. Aku masih mengoles roti bulatku dan menabur vlokken di atas roti dan memakannya perlahan.

"Apa semua Vlokken rasanya coklat?"

"Mm…" Netherlands memakan satu gigitan roti dan mengunyahnya sambil menatapku bingung. "Ya, umumnya Vlokken rasanya coklat saja dan dibentuk seperti parutan." Katanya sambil minum kopi yang dicampur dengan susu.

"Begitu ya…." Aku menggigit potongan roti dan tanpa sadar ada vlokken yang menodai ujung bibirku saat aku mengunyah roti. Netherlands meminum habis kopinya dan ia mengambil saputangan di atas meja dan ia membungkuk di depanku sambil mengelap noda vlokken di ujung bibirku. Aku langsung diam karena melihat dia yang begitu dekat sekali denganku, memegang wajahku sambil mengarahkannya lurus ke wajahnya.

"Diam Indie… ada sisa vlokken di ujung bibirmu." Kata Netherlands sambil membersihkan noda vlokken dengan sapu tangan pelan-pelan. Setelah membersihkannya ia langsung kembali duduk. Aku masih diam tak tahu harus bicara karena perlakuan Netherlands saat membersihkan noda vlokken di ujung bibirku. Aku menarik napas dan meluruskan posisi dudukku dan melanjutkan sarapan. Setelah gigitan terakhir aku minum teh susu. Netherlands kemudian berdiri sambil menatap jam sakunya dengan wajah yang cukup khawatir. Aku merapihkan meja makan dan meletakkan piring dan gelas kotor ke wastafel dan menyalakan air. Netherlands masih menatap jam sakunya dengan wajah cemas, khawatir, sedih dll. Aku sama sekali tak bisa menebak apa yang dia pikirkan sekarang.

" Is er een probleem, Nederland?"

"Wat?"

"Is er een probleem, Nederland? Tentang perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Jenderal De Kock?" Aku melap tangan dengan kain dekat wastafel dan berjalan ke arahnya sambil menatap dia. Aku memegang lengan bajunya yang masih bingung kenapa wajah dia terlihat cemas dan selalu melihat jam saku.

"Is niet Indie, Is het niet…"

"En dan? Waar maak je je zorgen" kataku kembali bertanya dan sekarang memegang kedua lengan bajunya dan mengarahkan dia ke arahku dan sekarang kita saling berhadapan.

"Tak ada Indie, tak ada yang aku cemaskan. Hanya saja…." Netherlands meletakkan jam sakunya di dalam saku dan ia kembali menunduk, tidak menatapku.

"Wat Nederland? Misschien kan ik helpen." Kataku sambil meyakinkan dia dan menyentuh pipinya supaya dia bisa menatapku dan aku membaca pikiran dan emosi dia sebisa mungkin.

"Ik..." saat ia berusaha menjawab tiba-tiba seseorang membuka pintu dapur dan muka dia sedikit memerah karena dia merasa ia mengganggu waktu privasi antara aku dan Netherlands. Aku pikir dia ada benarnya juga, sebab posisi kita berdua cukup intim. Aku dan Netherlands berdiri sangat dekat dan seperti orang yang mau berciuman dimana aku memegang pipi dan mengarahkannya ke mukaku. Selain itu tangan Netherlands memegang pinggangku seakan menarik aku mendekat padanya.

"Wat?!" jawab Netherlands dengan nada yang sedikit marah karena waktu privasi dia diganggu. Setelah itu prajurit Belanda berkulit hitam itu langsung melapor dan mendekat pada Netherlands sambil berbisik. Aku melihat wajah prajurit itu serius dan wajah Netherlands yang sebelumnya kesal langsung berubah menjadi serius dan kembali berbisik pada prajurit kulit hitam itu. Setelah itu, prajurit itu meninggalkan Netherlands sambil memberi hormat dan meninggalkan kita berdua. Beberapa saat kemudian Netherlands mengambil syal putih biru bergarisnya dan mengambil jaket coklatnya.

"Nederland, wat?"

"Indie, aku harus pergi dan ini penting sekali." Katanya sambil memasang jaketnya buru-buru dan memposisikan syalnya dengan benar.

"Apa ini berhubungan dengan perundingan antara Pangeran dan Jenderal..."

"Niet Indie, niet... Dat gaat je niets aan en je zei niets!" kata dia sedikit berteriak dan dahi dia sedikit berkerut dan alis pirang dia mau menyatu. Aku sedikit ketakutan mendengar teriakan dia dan kaget. Tidak biasanya Netherlands seperti ini dan aku merasa ini pasti ada hubungannya dengan perundingan antara Pangeran Diponegoro dan Jenderal De Kock. Setelah itu Netherlands mencium dahiku, siap-siap pergi dan meninggalkanku tanpa berkata apa pun.

Aku sekarang sendirian di dapur dengan Little Bunny yang masih di atas meja, makan wortelnya dan mendengar Satria bangun dari tidurnya dan ikut bergabung dengan kita berdua di dapur. Saat Satria bangun dan mengerang sambil mendekat ke kakiku dan kepala dia bersandar di betisku, aku mengelus kepalanya dan menyiapkan susu untuk sarapan dia beserta buah-buahan.

"Ayo Satria, makan sarapanmu dulu. Setelah itu, kita belanja untuk makan malam nanti."


"Semuanya 10 gulden." Kata ibu penjual sate. Sebelum aku menyerahkan uang 50 gulden, ibu itu sedang memotong lontong dan bumbu kacang lalu dibungkus denga daun pisang beserta plastik. Pada masa kolonial Belanda, sate diperjual belikan dipinggir jalan dan pasar. Di pikulan penjual sate ada lontong, bumbu sate kemudian di depannya terdapat peralatan dan bumbu pelengkap sate. Di sisi lain adalah tempat menaruh bumbu dan biasanya nasi ataupun lontong. Selesai membungkus, ibu itu memberikan satenya dan aku memberikan uang.

"Dankuwel" kataku tersenyum dan meninggalkan ibu penjual sate yang tersenyum balik dan ia kembali melayani pembeli yang sudah mengantri untuk membeli satenya.

"Aah, sudah lama aku tak makan sate dan sekarang mumpung ada waktu kosong dan Netherlands lagi keluar, kita punya banyak waktu kosong." Kataku ke Satria sambil menenteng bungkusan sate dan hidung Satria sudah mendekat ke bungkusan sate, mencium bau enak dibalik bungkusan plastik itu. Aku mendapat tempat duduk kosong dekat taman beserta meja bundar kecil dari kayu. Aku duduk dan membuka bungkusan sate dan makan cukup lahap. Sudah lama aku tak makan sate dan jujur saja, aku sedikit bosan makanan Belanda walau rasanya enak. Saat aku makan tusukan ketiga dan memberi satu tusukan ke Satria, mataku menangkap seorang kakek penjual buah, memakai topi bambu dan memikul dua keranjang yang berisi buah-buahan seperti pisang, apel, nanas, dan manggis.

Kakek itu melihati aku cukup intens dan aku tak tahu kenapa. Aku balas menatapnya dan saat ia menangkap mataku, ia menunduk dan tersenyum tapi mata dia masih terpaku padaku. Aku melihat arah kemana dia memandang, ternyata dia memandang bungkusan sate yang sedang aku makan sekarang. Ya Tuhan, apa dia belum makan dan sekarang lapar? Sambil mengunyah sate beserta lontong, aku berjalan ke arah dia sambil membawa bungkusan sate dan Satria ikut bersamaku.

"Mau makan bersama, kek?" kataku sambil menyodorkan bungkusan sate yang tersisa sedikit tapi lontongnya masih lengkap.

"Benar tidak apa-apa?" tanya kakek itu ragu tapi pandangan matanya masih ke sate yang aku pegang.

"Tidak apa-apa. Lagipula aku juga sudah cukup kenyang." Kataku bohong padahal aku masih sedikit lapar tapi aku merasa kakek penjual buah ini lebih lapar dibanding aku.

"Terima Kasih banyak, nak. Aku sangat lapar sekali…" jawabnya mengambil bungkusan sate itu dan makan dengan lahap. Aku memperhatikan kakek penjual yang makan dengan lahap dan Satria duduk tenang sambil mengunyah lontong di mulutnya. Para penjual buah, yang panennya dari kebun mereka yang tidak begitu luas karena tanah mereka telah banyak diambil oleh kerakusan perkebunan Belanda.

Sehingga yang tersisa hanya pekarangan-pekarangan rumah yang ditanami berbagai macam pohon buah. Setiap waktu panen tiba, dengan alat pikul sederhana dan buah-buahan yang tidak begitu banyak, mereka membawa buah-buahan tersebut ke kota untuk dijajakan dari kampung ke kampung, dari pasar ke pasar, melewati gang bahkan sampai ke rumah-rumah mewah tuan tanah maupun bangsawan. Para penjual ini segera menjajakan buah-buahan mereka karena buah tidak tahan lama dan akan cepat membusuk bila tidak segera dijual.

Aku bisa mengerti betapa capeknya mereka menjual buah yang sangat terbatas dan lagi cepat membusuk kalau tak dijual cepat. Bahkan kadang buah mereka belum dibeli sama sekali. Dulu hasil panen buah banyak dan laris, tapi saat Belanda datang dan tanah mereka dibeli untuk perkebunan teh dan kopi, para penjual buah tak bisa menanam buah sebanyak yang mereka mau.

"Gantinya aku minta buah pisang dan apel ya kek…" kataku sambil melihat-lihat apel dan pisang yang masih bagus. "Masih segar dan asli kan?"

"Tentu nak, ini asli dari perkebunanku dan alami. Rasanya dijamin enak dan kamu akan suka." Katanya sambil mengunyah lontong dan makan satenya. Kakek penjual buah menghabiskan sate dan lontongnya dan maju mendekat ke arahku. Masih sambil mengunyah, ia mencari apel dan pisang yang masih bagus dan enak. Tangan dan mata dia dengan cekatan melihat mana yang masih bagus dan belum cacat. "Ini yang masih bagus nak…" katanya sambil memberikan apel dan pisangnya padaku.

"Benarkah?"

"Benar, aku sendiri yang menanam mereka jadi aku tahu mana yang masih bagus" katanya yakin dan ia mengambil plastik kecil dan menaruhnya di dalam plastik. "Aku berikan kamu dua apel gratis karena sudah memberi aku sate yang enak." Katanya tersenyum sambil memamerkan giginya yang mulai ompong.

"Tunggu... biar aku bayar saja..."

"Tidak apa-apa. Karena kau, aku ada tenaga lagi dan daganganku sepertinya akan laku kalau dibeli oleh kamu." Katanya sambil memegang kedua tanganku erat-erat. Aku merasakan kehangatan dari tangan kakek itu meski tangan dia kotor, kasar dan ada banyak bekas luka di sekitar jarinya. Aku yang ragu, akhirnya menganggukkan kepala, dan menerima buah apel gratis dari kakek.

"Terima kasih kek, moga Tuhan membalas kebaikan kakek."

"Sama-sama, begitu pun kau..." katanya sambil berdiri dan ia kembali memikul keranjang dan meninggalkan aku sambil melambaikan tangan. Aku balas melambaikan tangan padanya dan langsung makan apelnya. Ternyata benar, rasanya sangat enak dan manis.

"Manis sekali…" aku menggigit lagi dan mengunyahnya agak terburu-buru karena rasanya yang enak. Ini apel terenak yang pernah aku makan, aku belum pernah makan apel sesegar dan semanis ini. "Coba Satria, rasanya enak sekali loh…" kataku sambil menyerahkan apel satunya pada Satria, berjongkok dan Satria langsung memakannya dalam satu gigitan. Ia mengunyahnya dengan cepat dan aku melihat kalau dia senang dengan apel yang dimakannya.

"Enak kan?" kataku sambil menggigit apel lagi dengan cukup besar. Selesai kita makan apel dan pisang, kita langsung menuju pasar untuk belanja buat makan malam, tapi mataku menangkap orang-orang berlari ke arah gedung Gubernur Jenderal Belanda. Mereka semua lari seperti dikejar penguasa jahat yang ingin merampas harta mereka, seperti malaikat maut ingin mengambil nyawa mereka, juga mendengar akan ada berita heboh dan ingin mendengarnya walau itu menyakitkan dan perih. Masih penasaran, aku menghentikan seseorang yang berlari pas di arahku dan langsung bertanya tanpa basi-basi.

"Ada apa? Kenapa semua orang berlari-lari?" tanyaku penasaran.

"Ada penangkapan nak, penangkapan." Kata laki-laki itu dengan terengah-engah karena berlari . Mataku langsung melebar dan kaget, mendengar kalimat penangkapan sudah membuatku takut dan biasanya bila ada penangkapan, pasti akan diasingkan keluar pulau jawa bahkan di pulau terpencil sekalipun.

"Siapa? Siapa yang ditangkap?" kataku sambil bergetar dan tanganku yang memegang bahu pemuda itu lepas dan mundur sedikit, tak ingin percaya apa yang akan dikatakan pemuda itu selanjutnya.

"Pangeran keraton…" kata pemuda itu dan aku melihat mata dia sedikit berkaca-kaca dan tubuh dia gemetar.

"Pangeran?" kumohon, jangan sampai dia ditangkap. Kumohon, semoga itu tak benar. Tak mungkin Pangeran ditangkap, pasti hanya berita omong kosong. Mataku perlahan langsung kabur karena air mata dan napasku sesak. "Pangeran siapa...?"

"Pangeran Diponegoro. Dia ditangkapa oleh pasukan Belanda dan akan segera diasingkan." Kata pemuda itu dan ia langsung meninggalkan aku. Sebelum dia pergi, aku menahan tangan dia dan ia sedikit protes karena ditahan aku lagi. Aku yang linglung langsung meminta dia

"Bawa aku kesana, sekarang juga" kataku sambil menahan air mata karena merasa sudah dibohongi Netherlands yang berkata kalau tak ada penangkapan, yang ada hanya perundingan saja. Masih dengan perasaan dikhianati, aku berlari menuju gedung tempat perundingan Pangeran Diponegoro.


Apa yang aku lihat adalah semua masyarakat Jawa marah dan menangis melihat Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda. Semua masyarakat di Pulau Jawa geram dengan sikap Belanda.

'Kenapa? Kenapa? Kenapa Pangeran ditangkap? Kenapa? Bukankah hanya akan ada perundingan? Karena peperangan berlarut-larut, De Kock meminta Pangeran Diponegoro berunding bukan? Perundingan untuk menghentikan perang bukan? Supaya tak ada korban perang lagi…'

Sambil berpikir akan keraguan dan tak percaya apa yang baru terjadi, aku melihat Jenderal De Kock keluar dari gedung, mengarahkan tangan kirinya ke kereta kuda, meminta Pangeran Diponegoro segera naik kereta itu dan secara bersamaan Pangeran Diponegoro. Aku melihat Pangeran yang sedang memegang tasbihnya, wajahnya terangkat keatas, menantang Jenderal De Kock, yang sedang menahan emosinya karena ditipu oleh Belanda. Aku melihat selir pangeran disampingnya, sedang menangis karena suami beserta dia ditangkap oleh Belanda dan akan segera dibawa ke benteng De Ontmoeting, kemudian Gedung Karesidena, langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux.

Sambil menyelip, melewati masyarakat Jawa yang masih menangis melihat penangkapan Pangeran Diponegoro, aku langsung menuju ke tempat para anggota laskar Pangeran Diponegoro yang menunduk sedih juga menangis melihat pemimpin mereka ditangkap.

"Kenapa sampai…" aku berjongkok dan ikut menangis bersama mereka "…seperti ini? Bukannya hanya perunding…" aku bertanya pada mereka sambil mengatur napas yang sudah terkuras banyak karena menangis tak percaya.

"Kita ditipu nak, mereka licik…" katanya sambil menangis bercampur marah "… orang kulit putih itu, Belanda…" jawabnya sambil menggeram dan mata dia penuh emosi dan dendam.

"Ditipu…?" maksudnya pangeran ditipu oleh Jenderal De Kock dan Belanda?

"Ya, Jenderal Belanda itu berhasil menjebak kita. Sebenarnya Belanda meminta kita untuk menyerah dan menghentikan perang tapi Pangeran tak setuju. Saat itu juga, Jenderal memerintahkan prajuritnya segera menangkap Pangeran. Pangeran marah besar karena merasa ditipu…"

"Itu bukan perundingan! Itu hanya siasat Belanda untuk menangkap Pangeran! Mereka licik dan tak punya belas kasihan!" jawab anggota laskar lain dengan marah dan ia kembali menangis. Ia menunduk di tanah sambil mengulang-ulang nama Pangeran Diponegoro berulang kali tanpa henti.

"Beliau bersedia diasingkan dan ditangkap asalkan kami, anggota laskar dibebaskan Belanda, tapi... tapi... kami..." anggota laskar lain kembali menangis dan air mata dia mengalir tanpa henti.

"Kenapa anggota kerajaan keraton tak menolong..." kataku masih berharap anggota keraton menolong beliau. "Bukankah beliau juga anggota..."

"Percuma saja. Sekarang semua keberpihakan keraton-keraton di Jawa malah mendukung Belanda." Aku yang mendengar semua ucapan para laskar Pangeran langsung jatuh ke tanah, tak tahu menatap dan melihat kemana, yang pasti pandanganku kosong total. Aku tak bisa berpikir dan kaliamat-kalimat anggota laskar terngiang di kepalaku terus.

Kita ditipu...

Mereka licik, mereka menjebak kita...

Itu bukan perundingan, itu siasat mereka untuk menangkap Pangeran...

Beliau akan diasingkan...

Saat aku masih duduk di tanah, aku melihat para anggota laskar berdiri dan menghampiri Pangeran Diponegoro yang akan masuk ke dalam kereta kuda hitam, siap-siap akan dibawa dan diasingkan dan dipenjara di benteng De Ontmoeting lalu ke Gedung Karisedenan yang akan membawa dia ke Batavia, menunggu keputusan Gubernur Jenderal Van den Bosch kemana dia akan diasingkan. Aku langsung berdiri dan berlari ke arah Pangeran Diponegoro yang akan siap-siap masuk ke dalam kereta kuda.

"Pangeraan!" tangisku begitu menatap beliau yang masih kesal dengan tipuan licik Belanda namun wajah dia berubah menjadi lembut tapi mata dia merasa iba melihatku yang menangis tanpa henti. Para anggota laskar yang sebelumnya berdiri di depanku, sekarang mereka minggir ke samping, membiarkan aku mendekat ke Pangeran Diponegoro dan tanpa pikir panjang aku langsung memeluk beliau erat, menangis tak percaya beliau akan segera diasingkan.

"Kenapa... Kenapa..." aku masih menangis dan melihat beliau lewat mataku yang kabur karena air mata. Aku menggeleng-geleng kepala tak percaya kalau ini akan terjadi. Seharusnya perundingan dan perang akan berakhir, tapi kenapa jadi seperti ini...

"Tak ada yang tahu kehendak Tuhan nak..." kata Pangeran Diponegoro sambil mengelus-elus kepala dan bahuku seraya menenangkanku. "Ini semua sudah direncanakan Belanda, mereka licik dan jahat. Menipu dengan iming-iming perundingan tapi akhirnya mereka menangkapku saat aku sedang tak bersenjata." Kata beliau sambil menahan amarah. "Mereka akan menggunakan segala cara untuk menguasai tanah kita..."

"Pangeran..." kataku dengan napas naik turun yang tak teratur.

"Dengar baik-baik anakku!" kata beliau sambil mengarahkan wajahku ke beliau dan menatap mataku secara dalam dan dengan suara tenang berkata "Jangan pernah biarkan... jangan sampai... sampai kapan pun... jangan pernah biarkan orang kulit putih itu, Belanda, menguasai tanah kita dan menguasai kamu. Jangan biarkan mereka menyiksa rakyat kita, menguasai wilayah ini, bahkan memilikimu. Janji padaku nak..." kata beliau sambil meyakinkanku memegang kedua tanganku dengan erat dan menjadi tanda janji antara kita berdua.

"Pangeran... aku..."

"Berjanjilah padaku. Aku percaya kita akan merdeka dari Belanda meski aku sudah meninggalkan kamu. Suatu saat, aku yakin, kita akan menghirup udara kebebasan. Aku yakin kamu akan merasakan kebebasan yang sangat kamu inginkan. Berjanjilah padaku, berjanjilah! Jangan sampai Belanda menguasai dan memilikimu nak..." kata beliau tegas menatapku dan memegang kedua tanganku erat-erat, menunggu jawabanku. "Janji...?"

"Aku berjanji, pangeran..." kataku mengangguk dan berjanji dalam hati dan memegang erat kedua tangan beliau sama eratnya. "Aku janji..."

"Bagus anakku, sekarang sudah waktunya kita berpisah." Kata beliau melepas tanganku yang masih berpegangan dan seorang tentara melepas pegangan kita hingga akhirnya beliau masuk ke dalam kereta kuda hitam bersama selirnya yang setia menemani dia selama perang. Setelah pintu kereta kuda ditutup dan kusir kuda menarik tali kekang kuda, bergerak meninggalkan kita.

"PANGERAAAN!" teriakku yang menyatu dengan tangisan para anggota laskar pangeran yang dibebaskan beserta masyarakat Jawa yang menangis melihat Pangeran semakin menjauh dari kita.

Dalam waktu singkat, alam mulai menangis bersama kita dan membasahi bumi dengan air matanya. Sesaat sebelum alam menangis, aku melihat Netherlands di balik pilar gedung yang memperhatikan aku dari awal hingga akhir.


Siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Diponegoro, akan mendapat hadiah 50.000 Gulden. Siapa saja baik orang pribumi atau pun orang Belanda. Kami akan berikan kalian 50.000 Gulden langsung bila kalian berhasil menangkap Pangeran Diponegoro dalam keadaan hidup.

"Aku tak mau pulang Satria… " aku masih berdiri dibawah hujan deras tanpa memedulikan bajuku yang basah. Satria masih menatapku dengan iba yang juga basah kuyub karena hujan. "Aku tak mau…" kataku dengan pelan, air mata masih mengalir pelan dan kalimat ultimátum prajurit Belanda tentang hadiah penangkapan Pangeran Diponegoro masih memutar dalam kepalaku. Selama perang, prajurit Belanda selalu memberi pengumuman di alun-alun atau depan gedung sambil menempelkan poster bergambar beliau, mengatakan dengan suara lantang

'Siapa saja yang bisa menangkap Pangeran Diponegoro, akan mendapat hadiah 50.000 Gulden.'

'Kenapa ini terjadi…' pikirku masih tak percaya melihat kejadian penangkapan Pangeran pas di depan mataku. 'Kenapa semua seperti ini?' Aku berjalan tanpa arah dengan pandangan kosong, tak peduli menabrak atau ditabrak orang yang melewatiku, 'Bukannya hanya ada perundingan saja, tak ada penangkapan?' Aku terus berjalan tanpa arah dengan pertanyaan yang terus berputar di kepalaku, berjalan terus dan terus. Lurus tidak berbelok ke kiri dan ke kanan.

'Kenapa…? Kenapa…?'Satria melihatku dengan iba dan tetap disampingku walau dia juga basah kehujanan. Seketika, aku tiba di lapangan kosong, di tengah-tengah, berhenti. Orang-orang yang berteduh dibawah atap dan toko dekat lapangan melihatku dengan iba, bingung, jijik dll. Saat ini aku tak peduli dengan pikiran, ucapan, omongan mereka tentang aku yang kehujanan ini, yang aku pikirkan sekarang adalah Netherlands dan penangkapan Pangeran Diponegoro. Aku menengadah kepala ke langit, melihat rintik-rintik hujan yang jatuh ke mukaku, awan mendung yang nampaknya akan menurunkan hujan lebih deras. Aku tak bisa menangis lagi, sudah habis aku keluarkan. Aku menarik dan mengeluarkan napas, pelan-pelan.

Tarik, keluar. Tarik, keluar…. Kataku tanpa suara. Selama aku melihat langit mendung beserta rintik hujan, kata-kata perpisahan Pangeran Diponegoro kembali berbunyi di kepalaku seakan beliau memperingatkan aku kembali.

"Dengar baik-baik anakku…" Suara gemuruh muncul dan hujan mulai semakin deras. Aku menutup mata dan mendengar suara Pangeran di kepalaku dengan perasaan berkecamuk.

"Jangan pernah biarkan... sampai kapan pun... jangan pernah biarkan orang kulit putih itu, Belanda, menguasai tanah kita dan menguasai kamu." kemudian napasku kembali sesak dan suara gemuruh kedua berbunyi dan lebih keras.

"Berjanjilah padaku. Aku percaya kita akan merdeka dari Belanda meski aku sudah meninggalkan kamu. Suatu saat, aku yakin, kita akan menghirup udara kebebasan. Aku yakin kamu akan merasakan kebebasan yang sangat kamu inginkan." kepalaku kembali tertunduk menatap tanah dan kedua tanganku bergerak ke dadaku, berusaha menahan dadaku yang sesak, menopangnya supaya kuat. Aku kembali berjalan meninggalkan lapangan dan orang-orang sekitar yang melihatku langsung menyingkir, membiarkan aku jalan.

"Janji...?"

"Bagaimana caranya Pangeran? Apa ini berarti aku harus... berperang... dengan Netherlands?" kataku bingung, berusaha menutup kenyataan di depan mataku ini atau apa yang akan terjadi di masa depan. "Apa tak ada cara lain? Cara lain tanpa harus berperang, Pangeran?" aku berjongkok di depan lampu jalan sambil berpegangan dan perlahan aku jatuh dang tangan kananku menutup mulutku, berusaha agar tangisan aku tak didengar orang sekitar. Satria berhenti di depanku, menundukkan kepala dia, mencari wajahku memastikan apa aku baik-baik saja atau masih tersakiti.

"Apa tak ada jalan lain lagi...?" Masih dengan perasaan bimbang, emosional, dan sedih aku berjalan pulang ke rumah dalam keadaan basah dan kotor, tak peduli Netherlands akan memarahiku karena akan mengotori rumahnya dengan baju basahku ini.


"Ik ben thuis..." kataku sambil membuka pintu rumah dan rumah masih dalam keadaan kosong, lampu mati menandakan Netherlands masih belum balik dari kerjaannya atau berdiam diri di ruang kerjanya. Aku yang masih basah kuyub langsung masuk tak peduli membasahi lantai dan karpet rumah. Satria masuk ke dalam rumah dan ia mengibas-ngibaskan tubuhnya dari basah dan aku bisa merasakan air dari bulu-bulu dia bertebaran di lantai dan mengenai rok dan bajuku. Aku bisa mendengar tetesan air di lantai dari baju basahku dan Satria. Aku berjalan menuju ruang kerja Netherlands, berpikir apa dia ada di ruang kerjanya. Biasanya dia ada di ruang kerjanya dan tidak menyalakan lampu rumah.

"Netherlands…"aku membuka pintu ruang kerja dan aku melihat dia tak ada di ruang kerjanya. Namun jendela dia terbuka dan kertas di meja kerjanya tertiup angin dan mendarat di lantai dengan tak beraturan sampai akhirnya mendarat di kakiku. Aku mengambil kertas di kakiku dan berjalan ke arah jendela sambil menutupnya. Setelah menutupnya aku bersandar di tembok dan melihat isi surat, membacanya perlahan. Seketika mataku melebar, napasku menjadi pendek-pendek, syok setelah aku membaca sampai akhir dan melihat tanda tangan Netherlands. Isi surat itu adalah persetujuan untuk penangkapan Pangeran Diponegoro yang akan dibawa ke BentengDe Ontmoeting, di Semarang kemudian ke Gedung regentschappen Semarang, dan langsung ke Batavia menggunakan kapal Pollux.

Di Batavia beliau langsung ditawan di Stadhuis, menunggu keputusan penyelesaian dari Gubernur Jenderal Van den Bosch.

Setelah aku membaca surat itu dan melihat tanda tangan Netherlands yang menyetujui penangkapan Pangeran Diponegoro, emosi aku meledak dan aku langsung melempar semua barang-barang diatas meja kerja Netherlands. Buku, kertas, foto, alat tulis, dan gelas berisi kopi jatuh ke lantai tak peduli karpet menjadi kotor karena kopi yang merembes di karpet. Aku juga melempar meja kerja Netherlands sekuat tenaga hingga jatuh terbalik beserta kursinya berteriak,

"KAMU BILANG SEMUANYA BAIK-BAIK SAJA TAPI KENAPA MENJADI SEPERTI INIIIII!" aku melempar semua buku di lemari dan aku menarik kain gorden di jendela dengan kasar sampai tiang penahan gorden lepas dan menimbulkan suara keras berdentang. Satria dan Little Bunny yang ada di sampingku langsung menyingkir ketakutan melihat aku emosional melempar barang-barang, peralatan, apa pun semua yang ada di ruangan aku lempar ke lantai.

"Kenapa… Kenapa… KENAPAAAA !" tenagaku habis terkuras setelah melempar semua barang di ruang kerjanya dan aku kembali menangis tanpa suara. Aku berteriak tanpa suara dan air mataku sudah habis untuk keluar. Satria yang sebelumnya menyingkir, perlahan mendekat ke aku beserta Little Bunny, mereka menghiburku dengan cara mereka sendiri. Satria mendekatkan wajahnya ke kepalaku dan ia mengelus-elus kepalaku dengan wajahnya, berusaha menenangkan diriku dengan suara auman kecil dia. Little Bunny menyentuh tanganku dengan kaki mungil dia dan mendekat ke wajahku yang bersentuhan dengan lantai, menjilat pipiku pelan-pelan menenangkan aku supaya aku bisa tersenyum lagi. Tiba-tiba aku mendengar suara tapak kaki cukup besar, suara dimana orang itu memakai sepatu boot tinggi dan aku langsung menebak kalau orang itu adalah Netherlands.

"Indie? Kamu sudah sampai di rumah?" aku mendengar suara Netherlands yang memanggil aku dan emosi aku semakin naik tapi aku sudah tak punya tenaga untuk marah lagi, semuanya sudah terkuras habis. Little Bunny yang sebelumnya menjilat dan bersandar dekat wajahku langsung keluar pintu, menuju Netherlands yang ada di ruang tamu. Perlahan satu demi satu suara tapak kaki dia mendekat menuju ruang kerja dan aku tak peduli dia datang masuk ke ruang kerjanya.

"Siapa yang membasahi lantai di ruang tamu dan Indie apa yang…." Netherlands berhenti di depan ruang kerjanya dan melihat ruang kerjanya berantakan total seperti kapal pecah. Kertas-kertas yang berhamburan, kaca bingkai foto yang hancur karena dilempar, buku-buku yang berserakan sampai ada buku yang robek dan hancur, kopi yang tumpah ke karpet dan membentuk genangan berwarna coklat hitam. Netherlands hampir berteriak memanggil Indie kenapa ruang kerja dia berantakan sampai mata dia melihat seorang wanita mungil, di tengah ruang kerjanya, menangis terisak-isak di lantai sambil menggenggam kertas berisi perintah penangkapan dan pengasingan Pangeran Diponegoro, ditandatangani Netherlands. Satria yang sebelumnya masih menghibur aku, langsung menyadari ada Netherlands di belakangku dan ia berbalik langsung memasang posisi siaga, menggeram cukup keras, berusaha melindungi aku dari Netherlands.

'Akhirnya dia menemukannya juga…' pikir Netherlands meletakkan Little Bunny di lantai dan Little Bunny langsung menyingkir di dekat lemari. Netherlands pelan-pelan berjalan ke depan aku, tak berjongkok membantuku berdiri, hanya berdiri diam seperti patung.

"Kamu bilang semuanya baik-baik saja…"

"Indie…"

"Kamu bilang Pangeran Diponegoro tak akan ditangkap dan dibiarkan bebas…"

"Indie… dengar…"

"Kamu bilang kalau tak ada penangkapan lagi, hanya perundingan saja…" Aku kembali menangis dan napasku terengah-engah.

"Indie… dengar, biar aku jelaskan semuanya…"

"KENAPA PANGERAN DITANGKAP DAN KAMU BOHONG PADAKUUUU!" aku berdiri sambil memegang erat surat penangkapan itu, meremasnya hingga membentuk bola dan melemparnya pas ke wajah Netherlands dan mengenai wajah dia. Netherlands berdiri tak berkutik, diam seperti patung, seakan dia sudah tahu ini yang akan terjadi dan ia menerima semuanya secara ikhlas. Wajah dia murung sedih dan ia perlahan berjalan ke arahku, berusaha memelukku tapi aku menolaknya. Netherlands berusaha kembali ingin memelukku dan menenangkanku tapi aku menolak lagi, hingga aku menampar pipi dia hingga menjadi merah.

"Waarom Nederland, Waarom?" aku bertanya balik padanya kenapa ia melakukan ini padaku, kenapa ia berbohong padaku, kenapa dia tak bicara jujur. Aku kembali jatuh ke lantai di hadapan Netherlands, tak percaya semua ini terjadi. Netherlands tidak berusaha mengangkat aku untuk berdiri, tapi dia hanya berdiri di depanku dengan wajah sedih, kecewa, emosional, dan ingin menangis namun ia tahan. Netherlands hanya menatap aku dibawah sementara aku yang duduk dibawah dia, menatap karpet dengan emosi yang bercampur aduk.

"Nederland, waarom je me niet doden?" kataku tanpa berpikir panjang, karena yang aku pikirkan sekarang hanya ingin emosi dan rasa sakit ini menghilang dalam sekejap. "Dibandingkan menangkap Pangeran Diponegoro, bukankah lebih kamu langsung menangkap aku?"

"Indie..." sahut Netherlands dengan suara pelan tapi aku mendengar suara dia yang berat karena tekanan dan emosi.

"Bukankah aku gampang untuk dibunuh? Aku yang tinggal satu rumah denganmu, dengan mudah kamu bisa bunuh atau cekik aku hingga mati dengan tangan besarmu itu. Aku ini rapuh, kecil dan mudah sekali untuk dibunuh dan kamu punya banyak kesempatan untuk membunuhku dan mengambil kesempatan itu. Tapi kenapa tidak kamu gunakan saja kesempatan itu. Waarom, Netherlands Broer?"

"Indie..."

"KENAPA TIDAK BUNUH AKU SAJA? KENAPAAAA?!" aku teriak histeris tak peduli orang-orang dan tetangga mendengar teriakan aku. Air mataku kembali mengalir di pipi tanpa henti dan aku sudah kehabisan napas karena berteriak dan menangis putus asa. Tanganku menggenggam erat karpet di lantai dan kepalaku masih menunduk, tak mau melihat Netherlands yang sudah berbohong padaku.

Sesaat kemudian aku merasa tangaku ditarik oleh tangan besar, tangan Netherlands, dan ia langsung mendorongku ke dinding dan aku terjebak diantara kedua tangan besar dia yang memegang bahuku cukup keras sampai aku sedikit meringis kesakitan. Aku melihat wajah dia yang emosional sedangkan mata hijau zamrud dia berkaca-kaca tapi bercampur amarah.

"KAMU PIKIR KAMU SAJA YANG MENDERITA HAH? AKU JUGAAA!" Netherlands berteriak keras padaku memegang bahuku cukup erat dan mendekatkan dirinya ke dinding dan aku terjebak diantara kedua tangan besar dia yang memegang bahuku cukup keras sampai aku sedikit meringis kesakitan. "MEMANG KAMU PIKIR KAMU SAJA YANG MENDERITA? AKU JUGAAA!" aku meringis dan mengerang kesakitan karena tangan dia yang mencengkram bahuku keras dan tak melepasnya. Sekarang kita berdua, dua negara yang sedang berkonflik dan berperang saling menatap dan mata hijau zamrud bertemu mata hitam bulatku.

"Tahu berapa banyak tentara mati dari pihak aku Indie? Tahu berapa banyak? 15.000 ORANG INDIEE! 8.000 TENTARA EROPA DAN 7.000 ORANG PRIBUMI MATI KARENA PERANG BODOH INI!" teriakan Netherlands menggema mengisi seluruh rumah dimana hanya kita berdua, termasuk Satria dan Little Bunny yang menyingkir mendekat ke pintu ruang kerja seakan tak ingin mengganggu percakapan kita.

.

.

.

TBC


Akhirnya selesai untuk chapter kedua ini. Aah, soal ini maaf bila kesannya Indonesia mejadi wanita yang selalu menangis. Namun bila kalian pikir, dalam sejarahnya sendiri, dikatakan Pangeran Diponegoro akan melakukan perundingan dengan Jenderal De Kock untuk menghentikan perang tapi Pangeran justru ditangkap dan rencana ini sudah dipersiapkan sama pasukan Belanda. Aku baca dari Koran, saat penangkapan Pangeran Diponegoro masyarakat Jawa menangis dan kesal pada Belanda dan mereka kecewa dengan kerajaan keraton karena mereka diam tak membantu Pangeran atau sudah berpihak dengan pasukan kolonial.

Bayangkan saja Indonesia yang dibilang hanya ada perundingan antar kedua pemimpin tapi akhirnya Pangeran malah ditangkap dan akan diasingkan. Perasaan Indonesia pasti merasa sedih, dibohongi, ditipu oleh pihak Belanda. Tak heran untukku bila Indonesia sedih dan menangis sejadi-jadinya karena Pangeran Diponegoro masa itu adalah panutan masyarakat Jawa dan simbol semangat untuk mengusir pasukan kolonial. Alasan kenapa Belanda ingin menangkap Pangeran Diponegoro sampai diberi hadiah 50.000 gulden karena bagi Belanda, Perang Diponegoro salah satu pertempuran terbesar yang pernah dialami oleh Belanda selama masa pendudukannya di Nusantara.

Pertempuran antar kedua terbuka dengan pengerahan pasukan infantri, kavaleri dan artileri yang sejak perang Napoleon menjadi senjata andalan dalam pertempuran frontal. Pada puncak peperangan, Belanda mengerahkan lebih dari 23.000 orang serdadu, suatu hal yang belum pernah terjadi dimana wilayah yang tidak terlalu luas seperti Jawa Tengah dan sebagian Jawa timur dijaga oleh puluhan ribu serdadu. Dari sudut kemiliteran, ini perang pertama yang melibatkan semua metode yang dikenal dalam sebuah perang modern.

.

Bagi sebagian orang Keraton Yogyakarta, Pangeran Diponegoro dianggap pemberontak, sehingga konon anak cucunya tidak diperbolehkan lagi masuk ke Keraton, sampai Sri Sultan Hamengkubuwono IX memberi amnesti bagi keturunan Diponegoro, dengan mempertimbangkan semangat kebangsaan yang dipunyai Diponegoro kala itu. Kini anak cucu Diponegoro dapat bebas masuk Kraton, terutama untuk mengurus silsilah bagi mereka, tanpa rasa takut diusir.1829, Kyai Modjo, pemimpin spiritual pemberontakan, ditangkap menyusul Pangeran Mangkubumi dan panglima utamanya, Alibasah Sentot Prawirodirjo menyerah kepada Belanda.

Bila di chapter ini aku menulis suasana, perasaan, sudut pandang Indonesia dalam Perang Diponegoro sampai penangkapan maka chapter berikutnya aku ingin menulis suasana, perasaan, sudut pandang Netherlands dalam Perang Diponegoro. Aku baru saja mendapat informasi kalau Belanda sebenarnya juga menderita selama perang ini. Nanti aku jelaskan lebih banyak dan lengkap di chapter berikutnya.

.

Ada beberapa bahasa dan makanan Belanda di cerita ini, ini terjemahan dan penjelasannya :

1. Hagelslag : Sprinkles (bisa juga misis buat roti), potongan-potongan gula yang sangat kecil yang digunakan sebagai hiasan atau untuk menambahkan tekstur dan pemanis makanan penutup contohnya cupcakes, kue, donat, es krim, frozen yogurt, dan beberapa puding.

vlokken dan muisjes

2. Vlokken : potongan atau parutan coklat yang dimakan bersama roti. Satu Vlok terbuat dari coklat dan melengkung, ukurannya sekitar 0,5 cm x 2 cm x 0,1 cm. Ada tiga rasa cokelat yang berbeda, termasuk dark chocolate, susu, putih dan campuran ketiganya.

3. Muisjes : Topping tradisional Belanda, seperti misis tapi rasanya lebih manis. Dibuat dari adas manis dengan taburan lapisan luar manis dan berwarna. Muisjes, berarti "tikus kecil" dalam bahasa Belanda, diberi nama itu karena taburan biji adas manis seperti tikus kecil, dengan batang dari biji adas manis dan menyerupai ekor. Di Belanda, ada kebiasaan saat kelahiran bayi, si ibu makan muisjes dengan roti panggang atau biskuit yang melambangkan kesuburan.

4. Goede morgen, Nedeland : Selamat pagi, Netherlands

Goede morgen, Indie : Selamat pagi, Indie

Hoe is uw slaap? : Bagaimana tidur kamu?

Fijn, Je? : Baik, kamu?

Fijn, Indie : Baik Indie

Ontbijt laten we, Indie. Met mij : Ayo sarapan bareng, bersama aku

Meneer, ik… : Tuan, aku…

Hoe? : Bagaimana?

Goed, Ik wacht : Baiklah, aku tunggu

Is er een probleem, Nederland? : Apa ada masalah, Netherlands?

Wat? : Apa

Is niet Indie, Is het niet… : Bukan Indie, bukan...

En dan? Waar maak je je zorgen : Lalu apa? Apa yang kamu khawatirkan?

Wat Nederland? Misschien kan ik helpen : Apa Netherlands, mungkin aku bisa membantu

Ik... : aku...

Nederland, wat? : Netherlands, apa?

Niet Indie, niet... Dat gaat je niets aan en je zei niets! : Tak ada Indie, tak ada dan jangan ngomong apa-apa lagi!

Dankuwel : Terima kasih

Ik ben thuis : Aku pulang

Waarom Nederland, Waarom: Kenapa Netherlands, kenapa?

Nederland, waarom je me niet doden? : Netherlands, kenapa kamu tak bunuh aku saja?

7. Benteng De Ontmoeting : disebut juga benteng diponegoro dan terletak di Ungaran, Semarang. Ungaran dikenal sebagai Kota Seribu Rumah Makan. Disebabkan karena Ungaran jalur utama untuk kendaraan dari Semarang yang menuju Solo dan Yogyakarta, sehingga di sepanjang jalan banyak rumah makan bagi penumpang kendaraan

8. Gedung Karesidenan : pembagian administratif dalam sebuah provinsi di Hindia Belanda hingga tahun 1950-an. Sebuah karesidenan (regentschappen) terdiri beberapa afdeeling (kabupaten). Tidak di semua provinsi di Indonesia ada karesidenan. Hanya di pulau Jawa, Sumatra, Kalimantan, Bali, Lombok dan Sulawesi. Biasanya daerah-daerah yang banyak penduduk. Berasal dari Bahasa Belanda Residentie. Sebuah karesidenan dikepalai oleh residen (resident). Di atas residen adalah gubernur jenderal, yang memerintah atas nama Raja dan Ratu Belanda.

Silahkan review dan beri masukan untuk chapter ini! Terima kasih banyak

Nantikan chapter berikutnya! :D