I'll do anything for you, dear ...

Author : MagnaEviL

Disclaimer : Death Note © Tsugumi Ohba and Takeshi Obata

Warning: Shonen-ai, AU, OOC, Typo (maybe?), Gore, Terlalu banyak adegan kekerasan yang tidak boleh ditiru, anak kecil jangan baca nekat tidak ditanggung, gaje, abal, dll dsb.

Don't Like Don't Read

Malam begitu pekat. Hujan deras ditambah dengan suara petih yang bergemuruh menambah suasana ngeri pada malam ini. Tak ada satu kendaraan maupun pejalan kaki yang melintas di jalanan. Begitu sepi dan senyap layaknya kota mati.

Namun lain halnya dengan pemuda ini. Seakan tak berpengaruh apa-apa pemuda ini tetap saja berjalan menelusuri sepinya jalan dengan tubuh yang basah kuyup. Ia sengaja membiarkan titik-titik hujan menyerang dirinya yang tanpa perlindungan apapun.

Ia tetap berjalan walaupun kini hujan makin menghujam dirinya. Rambutnya yang terbiasa berdiri itu kini menjadi lemas karena pengaruh hujan yang tiada hentinya. Tapi ekspresi pemuda ini seakan menikmati derasnya hujan yang mengerubungi dirinya. Seringai tetap terpasang di wajahnya.

Langkah demi langkah ia bawa menuju ke suatu tempat yang sudah ia kenal. Kediaman sang kepala sekolah. Senyum itu bukannya menghilang, namun bertambah lebar yang bagi siapapun yang melihat senyuman itu pasti akan bergidik ngeri. Senyum yang sangat misterius.

Tiba-tiba mendadak suasana menjadi gelap gulita. Lebih gelap dari suasana semua yang memang sudah gelap. Menambah suasana yang sangat mencekam. Fakta bahwa adanya pemadaman listrik di daerah itu. Dengan ini semuanya akan berjalan lancar.

Kepala yang semula tertunduk kini terangkat. Rintik-rintik hujan menerpa wajahnya tanpa noda apapun. Matanya menatap pandangan ke depan dengan seringai yang masih terpampang di wajahnya. Ia melangkah mendekat menuju pagar rumah itu. Ia membuka pagar itu yang sejak awal tidak terkunci, dan memasukinya kemudian. Kini ia telah sampai di depan pintu rumah sang kepala sekolah.

Tangan kanan yang bebas itu ia angkat menuju bel rumah. Ia memencet bel itu sehingga terdengar suara bel yang berbunyi. Tak ada sahutan awalnya, namun ia tetap bersikeras untuk memencet bel itu.

Kepalanya tertunduk ketika ia mendengar respon dari orang yang berada dalam rumah itu. Apalagi ia kenal betul suara siapa yang ia dengar. Siapa lagi kalau bukan orang yang akan ia ajak main kali ini. Sang kepala sekolah, Kyousuke Higuchi. Seorang pria yang telah mengganggu L-nya. Dan ia tidak terima.

Sang kepala sekolah membuka pintunya dengan alat penerangan yang berupa lilin di tangannya. Ia menyipitkan matanya dan memandang pemuda yang ada di hadapannya. Ia tersenyum begitu tahu siapa yang ada di depannya ini. Salah satu murid kebanggaannya. Tapi ia bingung, buat apa anak muridnya ini ke rumah malam-malam begini?

Higuchi pun menyuruh anak muridnya itu memasuki kediamannya. Begitu sepi dan gelap. Higuchi pun menceritakan sesuatu bahwa saat ini sang istri sedang tidak ada di rumah dikarenakan ia sedang pergi mengunjungi orang tuanya yang sedang berada di luar kota. Ini kesempatan bagus, pikir sang pemuda itu dengan seringai dingin terpasang di wajahnya.

Sang kepala sekolah menyuruh sang pemuda untuk duduk di kursi tamu sedangkan ia sendiri ingin mengambil beberapa buah lilin agar kediamannya yang lumayan luas ini menjadi terang. Namun, sang pemuda tetap bergeming. Ia tetap berdiri di belakang Higuchi dengan pakaiannya yang masih basah kuyup.

Higuchi memandang anak muridnya dengan pandangan aneh. Kepala pemuda itu yang semula tertunduk mulai terangkat. Menampilkan senyuman aneh yang menurut Higuchi sangat janggal untuk dilihat. Tangan kanan sang pemuda terangkat, menunjukkan sesuatu kepada Higuchi. Ia mengatakan bahwa ini adalah hadiah untuk dirinya.

Ruangan yang gelap itu sedikit menyulitkan Higuchi untuk mengetahui benda apa gerangan yang dibawa oleh murid kesayangannya ini. Higuchi mengambil benda itu tanpa ada rasa curiga sedikitpun. Terasa seperti berlendir dan lengket. Higuchi juga mencium bau darah yang berasal dari benda yang dipegangnya itu.

Ketika ia mendekatkan lilin ke arah benda itu, alangkah terkejutnya ia mengetahui bahwa benda yang dipegangnya adalah salah satu organ manusia yang sangat penting. Jantung. Lantas, Higuchi melempar benda yang ada di tangannya itu dan memandang horror ke arah sang pemuda. Sang pemuda tetap diam dengan seringai yang terpampang di wajahnya.

Tiba-tiba, tangan pemuda itu terangkat ke atas. Petir yang menyambar seakan memberi penjelasan pada Higuchi benda apa yang kini berada di tangan anak muridnya yang teracung. Sebuah benda tajam berkilau. Pisau.

Segera ketakutan menyergap Higuchi dengan cepat. Ia mulai memikirkan tindakkan apa yang selanjutnya akan dilakukan pemuda itu. Pemuda itu melangkah mendekati Higuchi. Tapi Higuchi tak tinggal diam. Melangkah mundur seiring dengan dengan sang pemuda yang melangkah maju.

Dengan gerakkan cepat sang pemuda mengarahkan pisaunya ke arah sang kepala sekolah. Higuchi tak sempat mengelak hingga pisau itu tertancap dengan sempurna di dadanya. Ia berteriak kesakitan dan jatuh ke lantai sambil memegangi dadanya yang tertusuk. Lilin yang dipegangnya jatuh dan mati. Kegelapan yang begitu pekat segera menerpa ruangan itu. tapi dengan kilatan petir yang menyambar, sedikitnya membantu penerang yang ada di sana.

Tapi kegelapan seperti ini takkan membuat pemuda itu mengurungkan niatnya. Ia mendekati kembali sang kepala sekolah yang terkapar. Ia tertawa cukup keras begitu mengetahui lawan mainnya sudah tak berdaya.

Mata Higuchi hampir mengeluarkan airmata menahan sakit di dadanya. Darah mengalir keluar dari tusukan itu. Tak begitu deras karena tertahan dengan pisau yang masih tertancap. Ia menyeret badannya mundur begitu mengetahui anak murid yang ada di depannya melangkah maju mendekatinya. Ia ketakutan. Sungguh ketakutan dengan sikap anak muridnya yang setahunya begitu kalem saat di sekolah. Tapi kalau sudah begini, ia seperti melihat seorang psycho.

Sang pemuda kini berdiri kemudian berjongkok di hadapan Higuchi begitu Higuchi tak sanggup lagi menyeret badannya menjauh darinya. Ia tersenyum dengan dingin seraya mengulurkan tanganya ke depan. Mengambil pisau yang tertancap itu dan mencabutnya dengan paksa. Higuchi memekik dengan nyaring sambil kesakitan. Darah mengucur dengan derasnya dari arah bekas tusukan itu. Higuchi berusaha menutup lukanya mengurangi darahnya yang mengucur keluar meskipun itu tidak berhasil.

Pemuda itu kembali mengarahkan pisau itu ke depan wajah Higuchi. Higuchi hanya terbelalak saat pisau itu mengacung di depannya. Higuchi mencoba menanyakan alasan kenapa anak muridnya itu melakukan hal sekejam ini kepadanya. Bukan jawaban yang diterima oleh Higuchi, melainkan sebuah tawa sarkastik yang didengarnya.

Tawa itu terhenti seiring dengan tatapan tajam yang diberikan pemuda itu kepada Higuchi meskipun pria itu tak melihatnya karena gelap. Kata demi kata terlontar dari mulut sang pemuda yang membentuk sebuah jawaban yang diinginkan Higuchi. Akhirnya Higuchi mengerti kenapa pemuda ini melakukan semua ini. Balas dendam karena ia telah menodai L. Menodai orang yang disayangi pemuda itu.

Tawa kembali terdengar seiring dengan torehan benda tajam itu ke pipi pria itu. sang pria memekik kesakitan. Ia merasa bahwa pipinya kini robek menimbulkan luka yang terbuka lebar. Darah mengucur dari luka itu. Dan matanya akhirnya mengeluarkan airmatanya yang sedari tadi ingin dikeluarkannya.

Higuchi memohon-mohon agar dirinya dibiarkan hidup. Namun pemuda ini menulikan telinganya. Permohonan yang didengar pemuda ini seperti sebuah nyanyian yang mengiringinya untuk tetap menyuruhnya bermain. Higuchi juga sudah beberapa kali melontarkan permintaan maaf kepada pemuda itu. Namun, pemuda itu tidak bergeming sedikitpun.

Pisau itu terangkat ke atas oleh sang pemuda. Dan dengan cepat ia hujamkan pisau itu ke mata kanan Higuchi. Darah memuncrat ke wajah sang pemuda diiringi pekikan kesakitan yang keluar dari mulut Higuchi. Tawa terus menggema sementaranya tangannya tetap menusuk-nusuk mata Higuchi. Tangan Higuchi memegang tangan anak muridnya agar ia menghentikan perbuatannya. Namun semua itu sia-sia.

Sang pemuda menghentikan permainannya begitu melihat pria yang di hadapannya terkapar dengan badan yang penuh darah. Higuchi hanya bisa bergumam 'mataku' dengan lirih seolah menyiratkan kesakitan. Lewat kilatan petir, pemuda itu bisa melihat sebelah bola mata kepala sekolah hancur tak bersisa. Ia hanya menyeringai sadis tanpa ada rasa kasihan sedikitpun.

Sang pemuda kembali mengangkat tinggi-tinggi pisau yang dipegangnya. Higuchi yang masih setengah sadar hanya bisa pasrah apa yang akan dilakukan oleh pemuda itu kepada dirinya. Untuk terakhir kalinya ia bisa merasakan tubuhnya kembali tertusuk. Dan dalam sekejap nyawanya telah menghilang dari raganya.

Darah kembali memuncrat ke wajah pemuda ini. Tanpa ada rasa ngeri, ia kembali menghujam beberapa tusukan ke tubuh Higuchi meskipun kini Higuchi sudah tak bernyawa. Ia tetap melakukan apapun yang ia mau ke tubuh kepala sekolahnya itu. Baginya, ini adalah permainan yang mengasikan.

Sebuah tusukan ia hujamkan ke perut Higuchi. Ia menyeret pisaunya yang masih tertancap itu ke atas menuju dada Higuchi. Dan kini luka itu menganga lebar diiringi darah pekat yang menguar deras dari luka lebar itu. Pemuda itu menyeringai, menikmati hasil karyanya yang menurutnya gemilang.

Sang pemuda menyudahi permainannya. Ia berdiri dari posisinya semula dan menatap sang kepala sekolah dengan diam. Tak ada ekspresi menyesal sedikitpun yang tergambar di wajahnya. Melainkan ekspresi kepuasan.

Pemuda itu memasukkan tangannya ke luka yang menganga lebar itu. Tangan itu ia masukkan dan keluarkan beberapa kali dari luka. Kini tangannya dengan sempurna berlumuran darah Higuchi.

Ia menuju dinding rumah yang tak jauh dari tempatnya berada. Dengan tangan yang berlumuran darah itu, ia menuliskan beberapa kata di dinding itu dengan darah sebagai tintanya. Dengan penyinaran yang berasal dari kilatan guntur, ia menuliskan sebuah kalimat dengan seringai yang masih terpasang di wajahnya.

'L, aku melakukan semua ini untukmu karena aku mencintaimu…'

Setelah menuliskan kalimat itu, sang pemuda beranjak dari tempatnya. Ia melangkahkan kakinya keluar dari kediaman Higuchi yang kosong. Karena sang pemilik kini telah meregang nyawa akibat ulahnya. Sebelum keluar, ia kembali menatap hasil karyanya. Dan setelah itu ia meninggalkan kediaman itu.

Hujan kembali menerpa dirinya. Bercak-bercak darah yang menempel di tubuhnya luntur seketika. Namun masih menyisakan bau darah yang masih tercium. Sang pemuda menghentikan langkahnya. Tubuhnya tetap saja terguyur hujan yang begitu derasnya. Ia merasa perlu membersihkan diri dari darah-darah yang menempel di tubuhnya. Tanpa takut ia akan jatuh sakit apabila ia berlama diguyur hujan seperti ini. Tapi, ia sudah terbiasa dengan keadaan seperti ini.

Setelah ini ia akan kembali ke tempat tinggalnya.

.

#

.

L P.O.V

Aku terbangun dari tidurku malam ini. Ini semua karena suara petir yang begitu memekakkan telinga bagi siapa saja yang mendengarnya. Aku duduk begitu aku bangun dari tidurku. Mataku kukerjap-kerjapkan demi mendapatkan sedikit pencahayaan di tempat yang gelap gulita ini. Aku baru sadar bahwa sekarang listrik sedang padam. Mungkin ini karena hujan yang begitu lebat di luar.

Saat ini aku masih di rumah Light. Aku belum kembali ke rumahku semenjak kejadian itu. Light begitu overprotektif terhadapku. Ia menjagaku dengan segala kepeduliannya. Light takut akan terjadi apa-apa kepadaku kalau aku pulang ke rumahku. Karena saat ini rumah yang aku diami sedang dalam keadaan kosong. Watari—pengasuhku sedang berada di luar kota.

Awalnya aku merasa senang karena Light begitu baik kepadaku—sangat baik malahan semenjak kejadian itu. Namun entah mengapa aku merasa begitu merepotkannya. Ia banyak membantuku tapi aku tak bisa membantunya apa-apa.

Di tempat yang gelap gulita ini aku mencoba meraba-raba di sekitarku. Hanya dengan tangan inilah yang bisa aku gunakan sebagai pengelihatanku dalam keadaan gelap. Aku meraba-raba meja di samping tempat tidurku kemudian membuka lacinya. Bersyukurlah ternyata ada alat penerangan di sini bernama senter. Aku menyalakannya dan aku bisa melihat keadaan di sekitarku.

Aku keluar kamar hanya untuk mencari lilin sebagai pengganti senter dalam penerangan. Tempat yang aku kunjungi adalah dapur. Suara petir yang menggelegar membuatku kaget. Apalagi ditambah dengan kilatan petir yang menambah suasana menjadi begitu ngeri.

Aku membawa dua lilin di tanganku. Satu untukku dan satunya untuk Light. Aku pun menuju kamarnya yang tak jauh dari kamarku berada.

Aku memanggil Light dari luar kamar. Tidak mungkin aku mengetuk pintu itu dikarenakan aku hanya mempunyai dua tangan yang saat ini sedang kugunakan untuk memegang lilin. Light tidak menjawab pertanyaanku. Aku pun berinisiatif untuk memanggilnya lagi dengan suara yang lebih keras dari yang tadi. Tapi tetap saja Light tak menyahutku.

Aku pun menyerah. Mungkin Light sedang tertidur pulas, pikirku. Aku meletakkan satu lilin di meja tak jauh dariku. Kemudian aku membawanya satu ke kamar Light. Aku terpaksa memasuki meskipun tanpa ijin. Habisnya, dia tak menjawab panggilanku daritadi.

Ketika aku memasuki kamar Light, suasana kosonglah yang aku temui. Aku heran kenapa Light tidak ada di kamarnya. Kemudian aku beralih ke kamar mandinya. Tetap saja aku tak menemukan Light di sana. Akupun keluar dari kamar Light kemudian menutup kembali pintunya rapat-rapat.

Aku mencari Light di seluruh tempat di rumah ini. Tetap saja aku tak menemukannya dimanapun. Aku mulai panik dan juga… takut. Aku mengakui kalau aku juga bisa takut kalau dalam keadaan begini. Aku khawatir kalau terjadi sesuatu dengannya.

Pintu depan tiba-tiba terbuka. Aku lekas-lekas menuju ke sana. Agak tergesa-gesa saat aku berjalan. Dan aku bersyukur ternyata orang yang membuka pintu itu adalah Light.

Aku menghampirinya dengan senyuman lega, meskipun aku yakin Light tidak akan melihatnya karena penerangan yang minim karena lilin yang kubawa tiba-tiba mengecil apinya. Aku mencoba menanyakan ia darimana saja malam-malam begini. Ia hanya menjawab bahwa ia hanya ingin mencari makanan di luar karena ia sangat lapar. Tapi ia tak mendapatkan makanan satupun dan sialnya ia terjebak dalam hujan. Ia juga tak membawa paying ketika berangkat. Alhasil dirinya jadi basah kuyup.

Aku hanya tertawa pelan melihat penampilannya yang berantakkan seperti ini. Jarang-jarang Light yang sangat memperhatikan penampilannya dimanapun ia berada bisa berantakkan seperti ini. Ia hanya menggerutu pelan.

Aku menawarkan diri untuk menyiapkannya air hangat agar ia bisa mandi. Ia hanya bisa tersenyum cerah saat mendengar penawaranku ini. Aku menuju dapur, tak lupa aku mengambilkan handuk untuknya untuk mengeringkan kepalanya yang basah. Kalau dibiarkan bisa-bisa ia sakit nantinya.

Setelah menyiapkan air hangat, aku segera memanggil Light agar ia bisa mandi. Ia pun datang dengan tubuh yang gemetar, wajahnya juga sangat pucat, terang sekali ia sangat kedinginan. Wajar saja ia begitu. Memangnya berapa lama ia berada dalam kondisi kehujanan seperti itu? Aku hanya bisa menebak… lebih dari satu jam.

Melihat Light seperti ini entah mengapa membuatku kasihan. Sudah kelaparan, tidak dapat makanan, kehujanan dan kedinginan pula. Setidaknya kalau ia membangunkanku, aku akan bersedia memasakkan makanan untuknya. Ah! Lebih baik sekarang aku membuatkannya makanan saja. Aku pun membawa lilin di tanganku.

Listrik belum juga hidup. Itu membuatku sedikit kesusahan dalam menyiapkan segalanya. Biarpun aku ini laki-laki, tapi aku cukup mahir dalam memasak. Tapi tidak semahir bikin kue.

Saat ini aku sedang memotong wortel. Aku akan membuatkannya sup sayur saja. Tidak banyak bahan yang bisa digunakan untuk dimasak. Bahkan ikan mentah pun rasanya aku tidak menemukannya di kulkas.

Aku merasa sudah sangat hati-hati dalam memasak. Tapi tetap saja listrik yang padam begini membuatku melakukan kecerobohan kecil. Aku tak sengaja melukai jariku sendiri. Aku mengaduh. Perih rasanya kalau sudah terkena sayatan pisau seperti ini. Darahpun mengalir dari lukaku.

Tiba-tiba Light datang dengan handuk di lehernya. Rupanya ia terkejut saat mendengar suara gaduhanku tadi. Ia menghampiriku dan bertanya apa yang aku lakukan di dapur. Aku pun menjelaskan semuanya dan ia mengangguk paham. Ia melirik jariku. Bisa kulihat ada kekhawatiran di matanya.

Ia mengambil jariku. Aku pun hanya terkejut dengan sikapnya seperti ini. Lalu ia mengarahkan jariku yang tersayat tadi ke mulutnya. Ia menghisap darahku agar darah yang mengalir terhenti. Aku hanya bisa menahan napas atas perbuatannya yang satu ini.

Ia begitu asik melakukannya. Sampai-sampai listrik di rumah Light pun hidup kembali. Aku menarik jariku dari Light. Ia hanya bisa memandangku datar. Akupun hanya tersenyum seraya mengucapkan 'terima kasih' kepadanya. Ketika aku ingin melanjutkan pekerjaanku yang tertunda, ia melarangku. Aku hanya mengernyit heran.

Rupanya ia pergi mengambil kotak p3k untuk membalut lukaku yang masih tampak memerah. Ia melakukannya dengan sangat hati-hati dan telaten. Setelah membalut lukaku, aku hanya bisa tersenyum lagi dan mengucapkan terima kasih. Ia membalas senyumanku.

Aku melanjutkan pekerjaanku semua, yaitu memotong sayur. Tinggal sedikit lagi maka semuanya siap dimasak. Light datang lagi ke dapur sesudah ia menyimpan kotak p3k. Ia berkata akan membantuku dalam memasak. Aku hanya mengangguk mengiyakan. Lagipula, berdua lebih baik.

Aku akui Light kurang pandai dalam memasak. Kadang-kadang ia memasak dengan masakan enak kadang pula kurang enak. Selama ini akulah yang bertugas menjadi kokinya selama ini. Bagaimanapun, Light hanya tinggal sendiri di rumahnya. Light kehilangan orang tuanya sejak enam bulan yang lalu karena kecelakaan. Adiknya pun—Sayu ikut merenggang nyawa akibat kecelakaan itu. Hanya ia saja yang selamat.

Sejak saat itu pula Light mulai menjadi seorang yang pendiam. Aku hanya bisa memandangnya miris saat ini. Light kehilangan senyum cerahnya tak seperti dulu. Bahkan aku merasa ia sekarang terkesan lebih dingin.

Untung saja Light itu murid yang cerdas, hingga ia bisa mendapatkan beasiswa untuk sekolahnya. Sedangkan untuk biaya sehari-harinya aku dan Watari yang menanggungnya. Lagipula kebutuhanku sekarang lebih dari cukup. Apa salahnya aku membantu sahabatku sendiri?

Kulihat ia sudah selesai memotong tomatnya. Aku juga sudah selesai memotong semua sayuran-sayuran ini. Tinggal dimasak maka semuanya akan selesai. Aku menyuruh Light untuk duduk di kursi meja makan. Awalnya ia menolak. Tapi dengan gerutuan pelan akhirnya ia menurut juga. Aku hanya bisa tersenyum kecil.

Kini sup sayurnya sudah matang. Light tersenyum cerah. Lagipula ia terlihat sangat kelaparan. Aku kembali menyiapkan peralatan makannya. Entah kenapa aku juga ikutan lapar. Pada akhirnya kami pun makan bersama di sini sambil berbincang dan tertawa bersama. Sungguh malam yang indah saat ini.

L P.O.V End.

.

#

.

Saat ini matahari sudah menampakkan sinarnya. Membiaskan cahaya melalui sela-sela kaca jendela yang tak tertutup tirai. Cahaya itu tak sengaja langsung mengarahkan ke wajah L. membuat sang empunya nama terbangun dari tidurnya.

Ia mengerjapkan matanya agar terbiasa dengan suasana cerah di kamar Light. Kemudian ia duduk sambil meregangkan tangannya. Ia juga tengah menguap lebar saat ini. Terlihat setitik airmata di ujung matanya.

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan membersihkan diri. Hari ini ia akan masuk sekolah. Apabila ia dilarang masuk oleh Light lagi, ia akan menolaknya. Untung saja Light sudah membelikan seragam baru untuknya karena seragam lamanya sudah tak layak pakai karena sobek. Yah, kalian tau sebabnya apa.

Setelah bersiap-siap, ia kembali merapikan seragamnya. Sudah rapi dan ia akan menemui Light saat ini. Waktu menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. Masih ada waktu satu jam bel tanda pelajaran di sekolah akan berbunyi. Ia akan membuat sarapan kali ini.

Roti bakar dengan segelas coklat hangat sangat tepat untuk dijadikan menu sarapan pagi ini. Light belum terlihat saat ini. Mungkin ia masih ada di kamarnya saat ini, pikir L. Ia kembali menekuni pelajarannya.

Light akhirnya menampakkan batang hidungnya saat L sudah menyiapkan segalanya. L menyapa Light dengan ucapan 'ohayoo'. Light pun membalasnya. L menyuruh Light untuk duduk di kursi meja makan dengan sepiring roti bakar dan segelas coklat hangat di hadapannya. Light menatap L, bertanya apakah ia akan baik-baik saja kalau masuk sekolah hari ini. Dan L menjawabnya dengan senyuman dan berkata 'daijobu' sambil melahap roti bakar rasa coklat miliknya diikuti Light. Mereka memakan sarapannya dalam diam.

Pukul tujuh lebih sedikit mereka berangkat ke sekolah. Mereka menggunak jasa bus sebagai transportasi untuk menuju ke sekolah. Tepat 12 menit sebelum jam setengah delapan mereka akhirnya tiba di sekolah.

Entah kenapa suasana suram begitu terasa di sekolah ini. L tidak mengerti semua ini. Dan ia ingin mencari tahu sekarang.

L menelusuri koridor sekolah menuju kelasnya. Ia dan Light menempati kelas yang berbeda. L menempati kelas 2A dan Light sendiri menempati kelas 2B. Sepanjang perjalanannya menuju kelasnya, L banyak disapa oleh murid-murid yang ada di sana karena kepribadiannya yang cukup ramah. Tapi kebanyakkan yang menyapanya adalah anggota OSIS.

Ketika ia memasuki kelasnya, ia dikejutkan oleh seseorang yang kini tengah bersantai duduk. Tentu saja L tau siapa orang itu. Orang yang sangat dibencinya. Saudara kembarnya sendiri, Beyond Birthday. Atau lebih akrab dipanggil B.

Keperawakkan B hampir sama dengan L, hanya saja dia memiliki mata yang merah. Tidak seperti L yang memiliki mata berwarna hitam. Selain itu pula, B memiliki kecerdasan yang melebihi dari L itu sendiri. Selama beberapa hari ini B tidak masuk sekolah karena menurut kabar B sedang liburan di LA. Tapi L tidak mau tahu tentang apa yang akan dilakukan oleh B. Dan juga ia tak tinggal seatap dengan saudara kembarnya yang satu ini.

L berjalan menuju bangkunya dengan cuek tanpa peduli pada B yang kini tengah menatapnya. Ia duduk di belakang bangku B tanpa membalas tatapan dari yang bersangkutan seolah-olah B tidak pernah ada di hadapannya. Lagipula, buat apa ia membalas tatapannya itu? Hanya akan membuatnya tambah membencinya.

Saat L mempersiapkan bukunya, B membawa tubuhnya menghadap L di belakang. Ia menatap saudara kembarnya itu dengan seksama kemudian ia menyeringai. Membuat L harus menahan diri agar tidak menonjok wajah penuh seringai itu saat ini.

B membuka percakapan dengan L. Hanya sapaan selamat pagi dan menanyakan kabar kepada L. Dan L sendiri hanya menjawab dengan gumaman pelan. Dan B dapat mendengarnya dengan jelas.

Setelah sapaan itu, ucapan selanjutnyalah yang membuat telinga L mendidih. B mengucapkan rayuan-rayuan gombalnya kepada L. Mengajaknya kencan atau berlibur bersamanya di luar kota. Ya, B sangat mencintai L, saudara kembarnya sendiri. Hal inilah yang membuat L sangat membenci B.

Sejak kecil, L dan B dibesarkan secara terpisah. Ketika berumur satu tahun, orang tua L dan B bercerai. L diambil oleh ibunya sedangkan B diambil oleh ayahnya sendiri. Orang tuanya bercerai karena sang ayah selalu bertindak kasar dan semaunya. Itulah mengapa sifat B lebih mirip ayahnya karena ayahnya lah yang mendidik B secara keras. Beda dengan L yang memiliki sifat ibunya.

Mereka dipertemukan kembali setahun yang lalu ketika penerimaan murid baru di sekolah ini. Dan semenjak melihat saudara kembarnya sendiri, B tertarik pada L saat itu juga. Dan ia pun mulai melakukan pendekatan pada saudara kembarnya itu. Maklum saja, hampir 15 tahun lamanya B memikirkan L. Tapi L sendiri bertindak sebaliknya.

Setelah mengatakan rayuannya, B mendekatkan diri pada L. L menjauhkan diri namun tarikan kasar B di bahunya membuatnya tak dapat bergerak. B mendekatkan bibirnya ke telinga L.

Satu kalimat yang diucapkan B sanggup membuat matanya melebar. L tak dapat berkata apa-apa. Lebih tepatnya ia kehilangan semua kata-katanya. Ia menatap mata merah milik B dengan seksama ketika B menjauhkan diri darinya. B mengetahuinya. Mengetahui bahwa ia pernah diperkosa oleh kepala sekolah mereka.

L mencoba bertanya darimana ia tahu berita itu pada B. Namun, hanya tawaan keras sebagai jawabannya. B kembali mendekatkan bibirnya pada telinga L. Dan ucapannya kali ini tak kalah membuatnya terkejut. Higuchi telah terbunuh. Dan itu sanggup membuat nafasnya tercekat. Ini… ia tak sanggup berpikir apa-apa lagi. Dan B juga mengucapkan, setelah ini akan ada hal yang lebih mengejutkannya lagi.

B menyeringai melihat L begitu syok mendengar semua perkataannya. Ia kembali pada duduknya yang semula sambil terkekeh-kekeh pelan. Melihat wajah syok L seperti itu membuat kesenangan tersendiri baginya. Ia menyukai apapun ekspresi yang ditampilkan L.

Bel sekolah pun berbunyi. Murid-murid yang tadinya ada di luar kelas, mulai memasuki ruangan. Mereka duduk dengan rapi sambil mempersiapkan alat tulis mereka. Menunggu sang guru untuk memasuki kelas mereka.

Namun yang memasuki kelas mereka bukanlah guru yang akan mengajar, melainkan wakil kepala sekolah mereka, Naomi Misora. Ia hanya memberitahukan bahwa sang kepala sekolah mereka telah meninggal karena serangan jantung tadi malam. Tentu saja L dan B tidak akan mempercayai hal itu karena yang sebenarnya terjadi adalah kepala sekolah mereka terbunuh.

Wakil kepala sekolah itu menatap L kemudian memanggil pemuda itu. L dengan sigap bangkit dari tempat duduk menghampiri wanita itu. Dan wanita itu menyuruhnya agar ia ikut menuju ruangannya. Murid-murid yang melihatnya hanya kebingungan, sementara B tersenyum misterius.

L hanya mengikuti dalam diam. Dalam hatinya ia bertanya-tanya hal apa yang akan ia beritahukan pada dirinya itu. Wanita itu berhenti begitu pula dengan diirinya. Rupanya nereka telah sampai di ruangan wakil kepala sekolah itu.

L duduk di kursi begitu Misora menyuruhnya. Misora menatap L dan membuat pemuda itu gugup dibuatnya. Dan L juga tak berani menatap wakil kepala sekolahnya itu.

Misora bertanya kepada L apakah ia dan sang kepala ada masalah? Tentu saja L bingung harus menjawab apa dengan wakil kepala sekolahnya itu. Lagipula ia memang ada masalah dengan kepala sekolah Higuchi. Tentu saja masalahnya adalah tentang kejadian itu. Tapi L tidak mau memberitahukannya. Ia hanya menggelengkan kepala sebagai jawabannya.

L menatap wanita itu. Pemuda itu menanyakan ada gerangan apa wanita itu menanyakan hal seperti itu. Sang wakil kepala sekolah pun menceritakan semuanya. Kebenaran dibalik kematian kepala sekolah. Tentu L tidak terkejut dalam hal ini. Ia hanya berpura-pura terkejut agar ia tak dicurigai bahwa ia telah mengetahui lebih dulu.

Lalu, beberapa saat kemudian sang wakil kepala sekolah merogoh sesuatu di kantongnya dan menunjukkannya kepala L. Selembar foto yang terlihat baru saja dicetak. L mengambilnya dan melihatnya. Setelah melihat foto itu lagi-lagi membuat matanya terbelalak lebar. Jantungnya berpacu cepat saai itu. Bukan gambar dalam foto itu yang membuatnya jadi begini. Tapi tulisan di dalam foto itu.

'L, aku melakukan semua ini untukmu karena aku mencintaimu…'

Sungguh ia kehilangan kesadarannya untuk sementara. Ia memegang foto itu dengan tangan yang gemetar. Misora yang melihatnya terlihat khawatir. Ia mendekati pemuda itu dan menepuk bahunya dengan pelan bertujuan menyadarkan pemuda itu.

L terlonjak kaget saat bahunya ditepuk. Ketika ia menoleh, ia dapat melihat sang wakil kepala sekolah menatapnya khawatir. Wanita itu menanyakan keadaannya dan dijawab dengan gelengan.

L memegang kepalanya yang tiba-tiba terasa sakit. Misora menganjurkan agar ia ke UKS saja. L mengangguk sebagai tanda setuju.

Saat ini ia telah merebahkan diri di kasur empuk berwarna putih di UKS sekolah. Ia mulai memikirkan semua ini. Banyak hal yang membuatnya terkejut hanya dalam waktu kurang dari satu jam. Ia memijit pangkal hidungnya.

Tiba-tiba ia teringat dengan perkataan saudara kembarnya, B. Setelah mendengar bahwa sang kepala sekolah terbunuh, ia mendengar bahwa ada hal yang lebih mengejutkan setelah ini. Apakah yang dimaksud oleh B adalah tentang tulisan itu? pikirnya. Dan lagi-lagi mata L terbelalak lebar. Jangan-jangan semua ini adalah perbuatan…

Beyond Birthday.

TBC

Ah, update yang sangat lama. Gomen nasai~

Maaf juga kalau karakter BB tidak sesuai dengan aslinya. Saya tidak terlalu tau bagaimana karakter aslinya. Lagipula, saya juga baru tau kalau Death Note itu ada novelnya! #headbang

Ah, jadi kepengen beli novelnya. Di Indo sudah beredar apa belum? Saya kira Death Note itu cuma ada di anime, manga sama movienya doank. Pantes aja pas saya baca fict-fict yang ada di fandom ini muncul nama BB yang berasa asing. Ternyata ia hanya muncul di novelnya aja. Begitu pula dengan si A (ngak tau nama aslinya siapa).

Sudahlah… saya tunggu reviewnya. Maaf gorenya rada kurang sadis. Saya kurang begitu mengerti tentang masalah bunuh membunuh. Saya cuma ngerti cara membunuh serangga doank *kicked*

Kritik dan saran sangat diperlukan dalam kemajuan fict ini. Dan tidak membutuhkan flame.