Pair : NaruSasu

Declaimer © Masashi Kishimoto

Warning : Shounen-Ai, Typo, OOC, etc


A Good Kisser


.

"Kita putus Hinata." Ucap Naruto saat mereka berdua berada di taman belakang sekolah.

"Kenapa? Apa kau sudah menemukan penggantiku?" Naruto mengangguk. Hinata tersenyum kecut melihatnya.

"Siapa?" tanyanya lirih.

Hati Hinata sangat sakit saat Naruto dengan tiba-tiba memutuskan hubungannya. Ini memang sudah seharusnya menjadi resiko berpacaran dengan seorang playboy, tapi ini terlalu singkat untuknya. Bahkan Naruto belum melakukan sesuatu terhadapnya. Ia sudah meminta Naruto untuk menciumnya, bahkan Hinata sudah berkali-kali menggoda Naruto untuk melakukan sesuatu pada tubuhnya. Hinata terlalu mencintainya, sehingga ia tak bisa melepaskan Naruto begitu saja tanpa ada kenangan indah diantara keduanya.

"Kau tak perlu tahu siapa dia. Aku pergi dulu."

Air mata Hinata tumpah saat Naruto pergi meninggalkannya sendirian di taman belakang. Ia sudah sangat kecewa kali ini. Ia sudah lama menantikan Naruto menjadikan dirinya seorang kekasih. Dan hanya dalam dua hari mereka pacaran, Naruto sudah memutuskannya tanpa alasan.

Tidak. Hinata tak bisa menerima keputusan sepihak Naruto. Ia begitu menggilai lelaki blonde tersebut, hingga ia selalu merawat setiap tubuhnya dari ujung kaki hingga ujung kepala, semua usaha yang dilakukannya tak lain untuk membuat Naruto bertahan menjadi kekasihnya.

"Aku harus mencari tahu siapa orang itu."

Hinata mengepalkan kedua tangannya. Ia bisa melakukan tindakan nekat jika berhubungan dengan Naruto —orang yang selalu dipujanya.

Naruto berjalan santai menuju ke ruang teater. Ia bersiul-siul sambil membayangkan jika dirinya akan setiap hari mencium Sasuke. Tentu saja dia bahagia, meskipun ia dan Sasuke melakukan ciuman hanyalah untuk sebuah pementasan drama, namun tetap saja itu adalah sebuah kesempatan yang besar untuk menjatuhkan Sasuke kedalam pesonanya.

"Hai semuanya. Apa latihannya akan segera dimulai?" sapa Naruto pada beberapa siswa yang ada di ruangan tersebut.

"Kau datang disaat yang tepat Naruto. Kini giliranmu dan Sasuke untuk tampil." Ucap Shikamaru.

Naruto langsung mencari keberadaan Sasuke, ia tersenyum saat melihat Sasuke sudah berada diatas panggung dengan posisi tertidur.

"Saatnya kau mencium Snow White-mu Naruto!" teriak Shikamaru saat melihat Naruto yang hanya berdiri mematung melihat Sasuke.

Naruto mulai serius dengan aktingnya, beruntung ia sudah tahu kisah Snow White seperti apa, sehingga ia tak perlu repot membaca naskah yang diserahkan oleh Shikamaru kemarin.

"Biarkanlah aku menciumnya untuk terakhir kalinya." Ucap Naruto lirih seakan-akan kini ia benar-benar akan melakukan ciuman terakhirnya dengan Sasuke. Para siswa lain yang berperan menjadi tujuh kurcacipun menyingkir dan memberi jalan pada Naruto.

Naruto berteriak kegirangan dalam hati. Dengan perlahan Naruto berlutut dan merendahkan tubuhnya. Wajahnya ia arahkan tepat di depan wajah Sasuke, namun saat wajahnya dan wajah Sasuke hanya berjarak satu kepalan tangan, Naruto membisikan sesuatu di telinga Sasuke.

"Kau sangat cantik teme, Aishiteru."

Jika kini Sasuke tidak sedang berakting, mungkin ia akan bangun dan menendang wajah Naruto sekeras mungkin detik ini juga.

"Bagus, kalian berdua mendapatkan feel-nya. Cepat cium Sasuke, Naruto!" perintah Shikamaru penuh semangat.

Naruto perlahan-lahan mendekatkan bibirnya. Saat kedua bibir tersebut bersentuhan, jantung Naruto semakin cepat berdetak. Ia berusaha menguasai dirinya agar tidak segera menyerang Sasuke yang saat ini berada dibawahnya.

Perlahan namun pasti Naruto melumat bibir Sasuke secara lembut. Kedua tangannya berada disisi kepala Sasuke, sedangkan kepalanya kini ia miringkan kembali karena kedua hidung mancung mereka menghalangi gelora nafsu Naruto untuk melumat lebih dalam bibir yang seharian ini membuatnya ketagihan.

Neji, Shikamaru serta pemain pendukung yang ada disana hanya bisa ternganga melihatnya. Mereka tak bisa melepas mata mereka dari pemandangan yang jarang sekali mereka lihat. Ada sebagian siswi disana yang sudah berteriak melihat ciuman panas Naruto pada bibir Sasuke.

"Kyaaa."

"Diamlah!" Bentak Shikamaru. Ia kembali melihat pemandangan antara Sasuke dan Naruto yang sampai saat ini masih berciuman.

Dahi Sasuke mengernyit. Ini sudah terlalu lama. Apa Naruto benar-benar ingin membunuh dirinya. Jujur saja, Sasuke sudah tidak tahan untuk tidak mendesah saat kembali merasakan bibir tebal Naruto melumat bibirnya dengan lembut dan penuh gairah.

Sasuke akan mendorong tubuh Naruto sebelum suara Shikamaru tiba-tiba terdengar olehnya. "Bagus terus seperti itu."

Hell! Apa Shikamaru benar-benar ingin membunuhnya? Pikir Sasuke

Naruto melepaskan ciumannya secara lembut. "Aku mohon bangunlah Putri."

Sasuke merasa ada sesautu yang mengenai wajahnya. Apa Naruto menangis? Tidak mungkin. Ini hanya akting, mana mungkin seorang playboy menangis hanya karena akting konyolnya seperti ini.

"Uhuk-uhuk." Sasuke berakting terbatuk sebelum membuka matanya dan menatap Naruto yang berada diatasnya.

"Cut!"

"Bagus Naruto!" teriak Shikamaru dan diiringi tepuk tangan darinya. Para siswa yang ada disanapun juga ikut bertepuk tangan melihat akting menakjubkan Naruto.

"Maaf ya teme, air liurku tak sengaja mengenai wajahmu."

Duakk

Tubuh Naruto terjungkal dari atas panggung saat mendapatkan tendangan dari Sasuke di perutnya. Sasuke segera menghapus air mata –ralat– maksudnya air liur Naruto di pipinya. Sasuke segera keluar darisana untuk mencuci mukanya.

"Kau tidak apa-apa Naruto-sama?" tanya seorang siswa yang membantu Naruto bangun dari posisinya.

"Aku tidak apa-apa. Tadi aku hanya berakting terjatuh saja. Hahaha." Tawanya saat menyadari kebodohannya sendiri. Namun bukan hanya itu saja, sekilas Naruto bisa melihat semburat merah di pipi pucat Sasuke.

'Apa aku berhasil?' batin Naruto.

"Ada apa dengan anak itu?" tanya Shikamaru bingung begitu melihat Sasuke yang meninggalkan ruangan tanpa mengatakan sepatah katapun.

Neji menggedikan bahunya tak mengerti.

.


.

Di dalam toilet, Sasuke sudah membasuh wajahnya, terutama bibirnya berkali-kali. Ia sudah dibuat gila oleh ciuman Naruto. Bahkan semalam ia terpaksa harus meminum obat tidur akibat syndrom Naruto yang menghantui kepalanya.

Sudah dua kali ini Sasuke dibuat OOC hanya karena ciuman dari Naruto. Ia sejak tadi bahkan menahan desahannya saat bibir Naruto melumat bibirnya dengan lembut.

Lalu apa yang harus Sasuke lakukan setelah ini? Ia tentunya harus rela bibirnya diperkosa oleh bibir Naruto selama latihan berlangsung. Jika tidak karena klub kesayangannya, mana mungkin Sasuke rela direndahkan harga dirinya.

"Sialan kau dobe!"

Sasuke keluar dari toilet setelah berhasil menenangkan emosinya. Ia tak tahu jika sejak tadi seseorang telah mengikutinya dibelakang.

'Jadi dia targetmu selanjutnya Naruto-sama? Bahkan kau memberikan dia ciuman tanpa dia minta.'

.


.

Sudah dua minggu ini persiapan drama dari klub Sasuke semakin mantap. Sedikit semi sedikit para pemeran sudah mulai menguasai jalan cerita, dan mereka hanya tinggal menunggu dekorasi panggung serta gladi kotor yang akan dilakukan besok.

"Teme, apa kau sudah memutuskan jawabannya?" tanya Naruto yang kini mencoba mengalihkan perhatian Sasuke pada naskahnya.

Sasuke masih tak bereaksi. Ia sebenarnya juga tidak tahu jawaban apa yang harus diberikan kepadanya atas pernyataan cinta Naruto kemarin.

Sasuke sebenarnya sudah mulai jatuh ke dalam pesona seorang Naruto, namun Sasuke juga takut jika Naruto hanya mempermainkan dirinya sama seperti para mantan Naruto dulu.

Sasuke bingung, karena Naruto terlihat sangat tulus kepadanya. Apalagi setelah melihat pengorbanan Naruto untuknya. Naruto sudah melakukan permintaannya. Hari ini ia bahkan berangkat ke sekolah tanpa mobil mewahnya, bersikap sopan pada para guru dan siswa lainnya serta tidak membully siswa yang lebih lemah.

Sasuke tak perlu bersusah payah untuk mengetahui semuanya. Karena tanpa ia bertanyapun semua siswa sudah membicarakan keanehan Naruto seharian ini.

"Suke!" ucap Naruto dengan nada suara agak tinggi. Masih tak melihat tanggapan Sasuke, maka Naruto berinisiatif merebut naskah yang saat ini sedang dibaca olehnya. Belum sempat ia melakukannya, Sasuke sudah keburu beranjak dari duduknya.

Kini mereka berada di aula sekolah. Sepulang sekolah anggota klub drama selalu meluangkan waktu untuk latihan serta mempersiapkan dekorasi panggung. Pementasan tiga hari lagi akan diselenggarakan, untuk itu kegiatan klub teater semakin sibuk menjelang event penentuan tersebut.

"Suke-chan, tunggu!" teriak Naruto namun tak diindahkan oleh Sasuke.

Tiba-tiba saja Naruto melihat ke atas, dimana posisi lampu yang dipasang seorang siswa terlihat tidak pas pada tempatnya. Naruto terkejut saat lampu panggung tersebut sedikit bergoyang dan sepertinya akan terjatuh. Tatapannya ia alihkan pada Sasuke yang sedang membenarkan tali sepatunya tepat dibawah lampu tersebut membuatnya khawatir setengah mati.

Melihat lampu tersebut terjatuh, dengan cepat Naruto berlari menerjang tubuh Sasuke yang nampaknya masih tak menyadari bahaya yang menghampirinya. Seperti gerakan slow motion, Naruto meraih pinggang Sasuke dan menggulingkan tubuhnya saat terjatuh ke lantai dengan memposisikan Sasuke berada diatasnya.

Prang

Lampu tersebut pecah berantakan. Sasuke terkejut saat melihat Naruto menyelamatkannya dari bahaya.

"Kau baik-baik saja teme?" tanyanya seraya meringis kesakitan saat sikunya tergores pecahan lampu yang mengenai kulit tannya.

"Dobe! Ka-kau–"

"Syukurlah!" ucap Naruto memotong perkataan Sasuke. Naruto memeluk Sasuke semakin erat dan membenamkan kepala Sasuke ke dadanya. Naruto sangat lega saat mengetahui Sasuke baik-baik saja.

Semua orang yang ada disana terkejut melihatnya. Shikamaru bahkan sampai menjatuhkan ponselnya saat hendak menjawab telfon dari ibunya.

Tubuh Sasuke masih bergetar di atas tubuh Naruto. Naruto yang menyadarinyapun tak mau beranjak dari posisinya dan masih setia memeluk Sasuke.

"Apa kau masih meragukan cintaku?" tanya Naruto seraya memejamkan matanya. Ia bisa merasakan detak jantung masing-masing yang seakan berlomba –jantung siapa yang berdetak lebih cepat.

Sasuke bisa mendengar detakan jantung Naruto saat ini, karena kepalanya masih setia berada di atas dada bidang tersebut.

'Seharusnya tanpa kujawabpun kau harusnya sudah tahu. Dasar dobe!' batin Sasuke.

"Sampai kapan kalian akan terus dalam posisi seperti itu?" tanya Shikamaru kesal. Naruto akhirnya melepaskan pelukannya pada Sasuke dan membantu Sasuke untuk berdiri saat menyadari sang pujaan hati nampaknya masih shock.

"Seharusnya kau bertanya 'apa kalian baik-baik saja?' Dasar tak punya perasaan." Kesal Naruto pada Shikamaru tanpa mengalihkan pandangannya sedikitpun pada Sasuke. Naruto hanya ingin benar-benar memastikan kalau calon ukenya tidak terluka sama sekali.

"Syukurlah kalian baik-baik saja. Jika kalian terluka, maka pementasan ini akan sia-sia." Sahut neji.

Naruto tak terlalu menanggapi ucapan Neji, Karena tiba-tiba saja ia teringat pada pertanyaannya yang belum dijawab oleh Sasuke. "Suke, bagaimana jawabanmu atas pertanyaanku tadi?"

"A-aku akan menjawabnya setelah pementasan selesai." Dan dengan begitu Sasuke kembali meninggalkan Naruto. Ia tak mau semua orang melihatnya tengah tersipu malu dihadapan Naruto. Maka, Sasuke memutuskan untuk keluar dari aula.

Seseorang mengepalkan tangannya saat rencananya gagal untuk mencelakai Sasuke hari ini.

'Untuk selanjutnya, aku tidak boleh gagal. Akan kubuat Naruto tak pernah bisa mendengar jawabanmu.'

.


A Good Kisser


.

Hari ini adalah acara puncak penentuan klub teater agar tidak dihentikan oleh kepala sekolah. Semua pemeran drama sudah bersiap-siap di belakang panggung menunggu acara dimulai.

"Naruto, kau tahu dimana Sasuke?" tanya Neji.

"Aku belum melihatnya sejak tadi." Jawab Naruto khawatir.

"Ah, tadi aku melihatnya ada di ruang ganti." Sahut seseorang dari belakang Naruto. Merekapun mengalihkan pandangan mereka ke asal suara.

"Baiklah aku akan kesana, kau bereskan dulu make-up mu." Ucap Neji sebelum pergi memanggil Sasuke.

Di ruang ganti, Sasuke nampak gugup. Keringat dingin sudah menetes di pelipisnya hingga membuat make-up nya sedikit luntur.

"Permisi, apa kau ingin minum?" tanya seseorang memasuki ruangan ganti tersebut.

"Boleh." Sasuke menerima softdrink yang dibagikan oleh seorang wanita yang sedikit familiar di otaknya, mata lavender itu...

"Hinata? Apa yang kau lakukan disini?" Tubuh Hinata mematung saat hendak keluar darisana begitu Sasuke memanggil namanya, di ruang ganti ini hanya ada Sasuke dan dirinya. Hinata bahkan sudah memakai topi dan menggulung rambutnya agar Sasuke tidak mengenalinya.

"A-aku ha-hanya in-ingin membantu Neji-nii." Ucapnya sebelum menghilang dibalik pintu.

Sasuke tak menanggapi tingkah aneh gadis tersebut. Ia harus menyelesaikan masalah kegugupannya kali ini. Bukan karena Sasuke terkena demam panggung. Namun ia terlalu malu jika Naruto melihatnya dengan dandanan seperti ini.

"Semoga si dobe itu tidak menertawakanku." Gumamnya. Sasuke menghabiskan minumannya sebelum keluar dari ruang ganti.

'Aish, merepotkan sekali gaun ini.' Batin Sasuke karena ia hampir saja tersandung gaunnya sendiri. Sasuke bahkan harus mengangkat gaunnya tinggi-tinggi untuk mempercepat langkahnya.

"Oh, Sasuke. Kau sudah siap? Ayo, 5 menit lagi pementasan sudah dimulai." Neji menggandeng tangan Sasuke untuk membantu mempercepat jalan Sasuke saat tak sengaja bersimpangan dengannya.

Tubuh Naruto membeku begitu melihat siapa yang sedang digandeng Neji saat ini. Tubuh ramping Sasuke kini terlihat cocok dengan gaun Snow White yang dipakainya. Kulit pucat tersebut seakan begitu kontras dengan bibir tipis Sasuke yang kini dihiasi lipstick sewarna merah darah. Bukan hanya itu saja, rambut emo Sasuke yang berdiri kini dipakaikan wig dengan rambut hitam panjang bergelombang sepunggung. Cantik! Naruto seperti melihat bidadari yang turun dari kayangan.

"Kau boleh tertawa sepuasmu dobe." Ucap Sasuke mengalihkan wajahnya ke arah lain begitu menyadari Naruto sejak tadi memperhatikannya.

Naruto tak menanggapi ucapan Sasuke. Ia seperti terhipnotis ke dalam pesona seorang Uchiha. Mungkin sudah saatnya Naruto pensium menjadi playboy. Kini ia sudah menemukan seseorang yang benar-benar memiliki setiap kriterianya.

"Kau sangat cantik teme!"

Sasuke semakin tak berani menoleh ke arah Naruto. Kini wajahnya sudah benar-benar memerah. Bahkan keringat dingin mulai menetes deras dari dahinya.

'Ada apa dengan tubuhku ini? Apa karena Naruto mengatakan jika aku cantik hingga tubuhku berkeringat dingin seperti ini.' Batin Sasuke.

"Ayo Sasuke, kau harus tampil sekarang." Teriak Shikamaru dari arah panggung.

Sasuke melangkahkan kakinya melewati Naruto tanpa memandangnya sama sekali. Ia tak mau pikirannya jadi kacau hingga tak bisa berkonsentrasi dalam pementasan ini.

"Dia sangat cantik bukan?" ucap Neji melihat Sasuke yang kini tengah memainkan perannya di atas panggung. Giliran Neji masih lima menit lagi, sehingga ia masih bisa bersiap-siap dibelakang bersama Naruto.

"Kau tidak menyukainya 'kan?" tanya Naruto menatap tajam Neji.

"Meskipun aku menyukainya. Semuanya sudah terlambat bukan? Dia sudah menyukai playboy di sekolah ini." Ucap Neji sebelum pergi ke atas panggung memainkan perannya menjadi penyihir yang mencelakai Snow White.

Naruto terdiam memikirkan perkataan Neji. 'Memangnya siapa yang disukai Sasuke? Playboy? Apa Sasuke menyukai seorang playboy.' Selama hampir sepuluh menit Naruto tenggelam dengan pikirannya sendiri hingga suara Shikamaru yang memanggilnya berhasil menariknya kembali dari dunia lamunannya untuk bersiap-siap.

"Lakukan seperti saat latihan oke." Ucapnya menyemangati Naruto sebelum naik ke atas panggung.

"Putri bangun hiks... Putri bangun… "

Seorang kurcaci menepuk pundak Naruto. Kini mereka tengah bersedih karena kehilangan orang yang sangat mereka kasihi.

Sasuke merasakan ada yang aneh dengan tubuhnya. Kini ia terbaring diatas panggung, berpura-pura terkena racun setelah memakan apel pemberian penyihir Neji.

Tubuh Sasuke seakan mulai lemas dengan sendirinya. Bahkan suara-suara rekannya diatas panggung sayup-sayup saja terdengar oleh telinganya.

Kedua mata Sasuke sudah mulai memberat. Ia bahkan sudah menutupi rasa pusing di kepalanya sejak awal pementasan tadi. Karena Sasuke pikir, dirinya hanya gugup saat ini.

"Putri!"

"Kau siapa?" tanya seorang kurcaci yang baru saja datang. Kurcaci berbaju hijau inilah yang sangat dekat degan putri Snow White, sehingga ia tak rela saat ada orang asing mendekati sahabatnya.

"Aku pangeran Naruto. Aku kemari untuk menjemput putri dan membawanya ke Istana untuk kujadikan pendampingku."

"Kau terlambat pangeran. Putri Snow White sudah tiada."

"Tidak! Kalian pasti berbohong."

Naruto berakting sedih menatap tubuh pucat Sasuke. 'Apa kulit Sasuke memang sepucat ini?' batinnya merasa aneh.

"Kau harus menerima takdir pangeran. Tuan putri benar-benar telah pergi. Dia pergi tanpa mengucapkan perpisahan kepada kita hiks"

Naruto tak mempedulikan rekannya yang memerankan kurcaci. Kini dirinya masih fokus melihat keanehan pada tubuh Sasuke. Sasuke nampak seperti orang mati sungguhan. Wajahnya sangat pucat, keringat dingin juga sudah membasahi keningnya.

"Kita harus menguburnya pangeran."

"Tidak! Tunggu! Bi-biarkan aku menciumnya untuk yang terakhir kali." Ada perasaan aneh dalam hati Naruto saat melontarkan kata tersebut. Ini tidak seperti biasanya. Naruto merasa hatinya gelisah dan ia ingin menarik kata-katanya.

"Baiklah, tapi kita harus menguburkan tuan putri segera."

Naruto merendahkan tubuhnya. Ia memangku kepala Sasuke diatas pahanya. Dengan perlahan Naruto mendekatkan wajahnya, mencium bibir Sasuke dengan lembut dan penuh cinta.

Karena tak ingin membuat Sasuke marah akibat menciumnya terlalu lama, Naruto segera melepaskan bibirnya. Hari ini Sasuke juga akan menjawab ungkapan cintanya. Naruto tak mau membuat Sasuke kesal dan berakhir dengan cintanya yang ditolak oleh Sasuke.

"Jangan tinggalkan aku." Entah kenapa Naruto berucap demikian setelah melepaskan ciumannya. Bahkan kata-kata tersebut sama sekali tak ada dalam naskah cerita.

Hampir lima menit Naruto menunggu, Sasuke sama sekali tak menunjukan tanda-tanda ingin terbangun.

"Hei Sasuke, cepat bangunlah." Ucap Naruto lirih. Para penonton yang melihatnya sudah berbisik-bisik karena melihat sang snow white yang tak juga membuka matanya.

"Suke-chan, kau tak mau mengacaukan pementasan ini 'kan?" tanya Naruto seraya mengguncangkan sedikit pundak Sasuke. Ia hanya berpikir jika Sasuke mungkin saja tertidur.

"Suke-koi." Panggil Naruto berharap Sasuke marah dan membuka matanya. Jujur saja, hatinya kini sudah mulai takut saat ia merasakan tubuh Sasuke juga mulai mendingin dipangkuannya.

"Naruto, cepat bangunkan Sasuke." Lirih Neji dari balik panggung.

Naruto mencium bibir Sasuke, kembali melumatnya bahkan memasukan lidahnya. Ia melakukan itu semua agar Sasuke marah. Namun semua usahanya nihil. Sasuke tetap memejamkan matanya.

'Rasakan itu Uchiha!' batin seseorang dibalik pintu aula. Ia pergi darisana setelah puas melihat rencananya berhasil hari ini.

Naruto sudah berkali-kali mencium bibir Sasuke disertai goncangan-goncangan keras. Bahkan para penonton yang melihatnya merasa bingung, namun mereka mengira ini semua bagian dari cerita. Hingga sampai akhirnya Naruto sudah berada di ambang batas begitu Sasuke sama sekali tak menunjukan tanda-tanda ingin membuka matanya.

"SASUKE JANGAN BERCANDA!" teriak Naruto emosi, tapi Sasuke tetap tak bergerak sama sekali.

.

To Be Continued

.


Tulisan Italic berarti adegan serta percakapan dalam dramanya. Semoga tidak bingung.

Terima kasih atas review, favorite serta follow-nya. :)