A/N: Hai minna-san akhirnya aku update juga.
Well, semoga minna-san suka dan terima kasih untuk yang review...^^
Disclamer: Tite Kubo yang punya Bleach
Ket: Italic adalah flashback
The Reasons
"Apakah setelah sekian lama kita tidak bertemu sikapmu seperti ini, Ichigo?" ujar Runa. Tapi nada bicaranya sedikit berbeda dari yang tadi, terkesan lebih lembut. Ichigo memalingkan wajahnya dan menatap Runa. Aura yang terpancar dari Runa berbeda dari yang tadi, lebih lembut. Mungkinkah ini?
'Rukia...' batin Ichigo. "Kau..."
"Ini aku Ichigo." ujar Runa.
"Kalau kau bercanda, ini tidak lucu! Berhentilah menjadi Rukia!"
"Kau bicara apa, Ichigo? Ini memang aku, Rukia."
Sekarang Ichigo sudah benar-benar kesal. Ditatapnya wajah Runa dengan penuh amarah, Ichigo masih bisa bersabar kali ini. Tapi entah kenapa Ichigo benar-benar merasa ada yang berbeda dengan Runa saat ini.
"Ichigo? Kau tidak percaya?" ujar Runa yang langsung menarik kerah baju Ichigo dan mendekatkan wajahnya padanya. Pandangan mereka berdua bertemu. Dan yang membuat Ichigo terkejut adalah sesuatu yang berbeda dari Runa, ya warna matanya.
Ichigo tahu warna mata Runa adalah merah, bukan violet. Sekarang warna mata Runa menjadi violet, dan itu membuat Ichigo terkejut. Satu hal lagi yang menambah kemiripan Runa dengan Rukia. Ichigo langsung melepaskan tangan Runa yang berada di kerah bajunya.
"Sejak kapan kau bermata violet, Runa?" tanya Ichigo tidak percaya.
"Ya ampun Ichigo. Ini aku Rukia, Kuchiki Rukia." ujar Runa.
"Kau terus membawa nama Rukia. Kalau kamu memang Rukia, kau pasti bisa menjawab pertanyaanku."
"Baiklah!"
Ichigo mulai berpikir sejenak. Ditatapnya sosok Runa yang merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena tertiup angin. Dan Ichigo menemukan pertanyaan yang bagus.
"Ok! Jawab pertanyaanku," ujar Ichigo. "Pertama kapan kita pertama kali bertemu?"
"Malam hari di jembatan." ujar Runa.
'Jawabannya tepat.' batin Ichigo. Tapi Ichigo masih belum yakin dan kembali memberi pertanyaan.
"Aku menginap disana berapa hari dan sama siapa?"
"Tujuh hari, dengan kedua adik kembarmu dan ayahmu yang waktu itu jarang pulang."
"Siapa nama adikku?"
"Yuzu dan Karin."
"Seperti apa mereka?"
"Yuzu berambut coklat dan feminim, Karin berambut hitam pendek dan tomboy."
Ichigo terkejut karena jawaban pertanyaannya benar semua. Untuk Runa yang adalah orang luar, tidak mungkin dia mengetahui sedetail ini. Sangat mustahil malah. Tapi Ichigo ingin memastikan dengan satu pertanyaan terakhir.
"Baiklah pertanyaan terakhir. Kenapa saat kau akan diusir oleh Byakuya kau minta satu hari lagi?" tanya Ichigo. Ichigo yakin 100% hanya Rukia asli yang bisa menjawab ini, karena Ichigo juga tahu apa jawabannya.
"Karena... aku ingin bisa menyatakan perasaanku padamu, Ichigo." ujar Runa.
Dan Ichigo benar-benar terkejut dibuatnya, Runa berhasil menjawab semua pertanyaan itu. Ichigo tidak habis pikir apa yang sebenarnya terjadi di sini. Ditatapnya mata Runa, mata berwana violet, persis warna mata Rukia.
"Kau percaya ini aku, Ichigo?" tanya Runa.
"Aku..." Ichigo masih bingung apa yang harus diucapkannya.
"Baiklah... Aku ceritakan satu cerita untukmu."
Flashback On,Rukia's POV
Ketika aku melangkahkan kakiku menuju lubang hitam itu, lubang yang entah membawaku kemana. Aku merasa inilah saatnya. Aku akan pergi. Pergi meninggalkan hidupku yang mulai berwarna karena kehadiran Ichigo.
'Maaf, Ichigo.' batinku dan langsung melompat ke lubang itu. Dan begitu aku melompat lubang itu langsung tertutup. Samar-samar aku mendengar suara Ichigo meneriakan namaku, tapi aku tidak bisa kembali ke sana. Aku sudah siap dengan apa yang terjadi.
.
.
.
Entah kenapa semuanya terasa gelap. Hitam. Tidak ada cahaya sama sekali. Aku berusaha membuka mataku perlahan-lahan, kulihat ada sedikit cahaya. Cahaya? Padahal aku tidak yakin akan masuk surga. Kenapa ada cahaya? Aku membuka mataku dan kulihat sekelilingku. Hanya sebuah kamar.
Tunggu? Kamar? Kenapa aku ada di kamar? Aku langsung bangun dari tidurku dan segera melihat ke arah cermin yang ada di kamar itu. Ini bukan sosokku. Ini, sosok gadis di penginapan itu.
Aku memeriksa apa yang terjadi dengan diriku. Aku menyentuh dari ujung rambut hingga kaki, sosok gadis ini adalah aku. Aku adalah dia. Aku berada di dalam tubuhnya.
"Ah..." gumamku kaget.
"Runa, kau sudah bangun? Waktunya kerja!" terdengar suara wanita yang berteriak memanggil nama gadis ini. Ya, sekarang aku berada di tubuhnya, Runa.
"Iya." jawabku dan segera keluar dari kamar.
Aku masih bingung kenapa aku bisa berada di dalam tubuh Runa. Apa ada sesuatu yang salah? Semuanya terasa sangat aneh. Aku mencoba menjalankan pekerjaan sesuai petunjuk wanita itu, melayani tamu, membereskan meja dan sebagainya.
Saat aku sedang membereskan meja, datanglah seorang pelanggan. Dia wanita yang jarang kulihat disini atau mungkin aku juga yang jarang keluar.
"Selamat datang," ujarku ramah. "Anda mau pesan apa?"
"Bisa kau sediakan bir untukku?" tanya wanita itu
"Maaf, tidak ada bir disini."
"Masa tidak ada? Penginapan macam apa ini?"
"Akan saya carikan untuk Anda, Nona."
"Cepat!"
Aku bergegas bertanya pada wanita pemilik penginapan. Dia sempat heran karena mengira aku amnesia. Tapi sekarang aku bukanlah sosok yang dia kenal, aku adalah Kuchiki Rukia. Well, siapa yang percaya kalau seseorang cerita di dalam tubuhnya ada satu orang lagi. Tidak masuk akal.
Begitu mendapatkan bir aku segera bergegas menemui wanita itu dan membawa pesanannya. Wajah wanita itu kurang bersahabat, dia memandangku seolah-olah aku ini makhluk yang menjijikan. Aku tidak mengerti arti tatapannya itu.
"Kau lama sekali! Memangnya kau tidak bisa lari apa? " tanya wanita itu galak.
"Maaf." jawabku.
"Pelayanmu sangat tidak bermutu. Penginapan ini juga sebaiknya ditutup. Atau kau saja yang keluar dari sini? Kau tidak ada gunanya sama sekali!"
Aku merasa tersinggung dengan ucapan wanita itu. Aku tahu aku tidak memberikan pelayanan sebaik yang lain, tapi mendengar penghinaan seperti itu rasanya menyakitkan. Tiba-tiba aku merasa badanku bergerak sendiri, aku mengambil pisau yang ada di meja makan tiap meja dan langsung menusuk tangan wanita itu.
"Akh..." wanita itu meringis kesakitan. Semua pengunjung kaget melihatku. Mereka memandangku sangat heran.
"Ah..." dan untuk sesaat aku kembali ke diriku dan sudah melihat wanita itu berdarah. Aku tidak tahu apa yang harus kulakukan.
"Kau?"
Tanpa menjawab apa-apa aku langsung berlari meninggalkan penginapan ini. Aku melangkah keluar meninggalkan masalah ini saja. Berlari? Aku pengecut ya? Tapi aku jujur tidak tahu tindakanku, seolah-olah badanku bergerak sendiri.
'Haha... Aku menikmatinya.' ujar seseorang. Aku mendengar suara itu. Iya, suara itu berasal dari dalam diriku.
'Apa maumu?' tanyaku.
'Lho? Kok begitu? Kau sudah memasuki tubuhku, tapi kau tidak bertindak saat dihina. Biar aku yang menghabisi wanita itu.'
'Kau siapa?'
'Justru kau siapa? Aku Runa, Hikari Runa'.
'Aku Kuchiki Rukia.'
'Oh begitu. Kau yang harusnya sudah meninggal karena insiden itu kan?'
'Iya...'
Aku terdiam, ternyata Runa tahu kalau aku sebenarnya sudah tidak ada di dunia ini. Aku kira dia tidak mengetahuinya. Tapi di desa kecil seperti ini, kabar apa pun pasti akan terdengar. Apalagi tadi...
'Tidak apa kau menyerang wanita itu?' tanyaku.
'Tidak apa.' jawab Runa.
'Tapi sebaiknya kita berkonsultasi.'
'Hah? Malas!'
'Ayo...'
Aku yang menguasai tubuh Runa segera membawanya menuju kapel. Kapel yang cukup luas, aku tadinya hanya ingin singgah disana untuk berdoa saja. Ternyata ada Pastor, dan lebih mengejutkanku Pastor-nya adalah Nii-sama.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya Nii-sama.
"Nii eh Bapa tolong saya," ujarku. Dan aku menceritakan semua hal yang terjadi padaku. "Apakah aku dapat dimaafkan, Bapa?" tanyaku. "Aku... aku telah melakukan hal yang buruk."
"Tenang saja. Kau akan merasa lebih tenang jika meminta maaf, kau tahu perbuatanmu itu masih bisa diperbaiki." ujar Nii-sama.
"Baiklah... Aku permisi dulu." aku beranjak pergi dan melihat sosok Ichigo. Pandangan mata kami bertemu. Jujur aku merasa senang bisa melihat sosok Ichigo. Tapi dia tidak mungkin mengenali sosokku yang sekarang. Yang bisa kulakukan hanya berlalu dari Ichigo secepatnya.
Aku segera menemui wanita itu untuk minta maaf, walau sempat akan bertengkar lagi tapi masalah telah selesai. Kulihat sosok Ichigo yang berada tidak jauh denganku. Aku hanya tersenyum padanya dan menyuruhnya masuk ke penginapan.
Kami berdua hanya sebentar mengobrol bersama, well ini saja sudah membuatku senang. Tapi Ichigo sama sekali tidak tahu gadis yang saat ini bicara dengannya adalah aku, wajar dia tidak tahu karena sosoknya yang berbeda.
"Maaf, aku pulang dulu." pamit Ichigo.
"Eh? Mau pulang ya? Baiklah. Sampai jumpa." ujarku.
"Lebih tepatnya selamat tinggal, karena aku akan pulang."
"Eh?"
Aku tahu maksudnya. Hari ini adalah hari terakhir kami bertemu, dia akan segera pulang ke kota Karakura. Aku berusaha bertahan agar tidak menangis, memikirkan dia akan jauh setelah aku berhasil menemukannya rasanya tidak enak.
'Kau akan membiarkan dia pergi?' tanya Runa.
'Iya. Tidak apa.' jawabku.
.
.
.
Tidak lama kemudian aku keluar dari penginapan dan berjalan menuju villa yang bekas ditempati keluarga Kurosaki. Langkah kakiku terhenti dan senyum terlihat di wajahku.
'Aku juga akan selalu mengingatmu, Ichigo...' ujarku.
'Haha... Bisakah?' tanya Runa.
'Tentu. Kau mau membantuku?'
'Eh?'
'Aku janji padamu. Aku ingin bertemu dengannya sekali lagi, dan ketika saatnya tiba aku akan pergi dari sini.'
'Benarkah?'
'Iya. Tujuanku hanya itu.'
'Semoga sukses.'
'Hehe...'
Flashback Off
"Bagaimana? Kamu sekarang percaya ini aku?" tanya Rukia.
"Jadi kau berada di dalam tubuh Runa? Iya kan?" tanya Ichigo memastikan.
"Iya."
"Kukira kita tidak bisa bertemu lagi, Rukia."
"Hehe... Aku... masih ingin melihatmu dulu."
Ichigo segera memeluk Rukia, well Rukia yang berada di tubuh Runa. Rukia merasa senang bisa bertemu lagi dengan Ichigo. Mereka berdua memang saling merindukan satu sama lain. Cukup menyenangkan bisa bertemu lagi.
'Hem, hem... Kalian melupakan aku.' ujar Runa.
"Eh? Runa?" gumam Rukia.
"Runa juga ada?" tanya Ichigo.
'Tentu saja!'
Tiba-tiba warna mata Runa berubah lagi menjadi warna mata aslinya, merah. Runa menatap Ichigo sambil berusaha menahan tawanya.
"Apa yang lucu?" tanya Ichigo.
"Bisakah kau membedakan kami?" tanya Runa.
Ichigo langsung terdiam. Sejujurnya dia bingung bagaimana cara membedakan mereka. Kalau orang lain bisa saja mengira Runa ini berkepribadian ganda, Ichigo termasuk hebat bisa mempercayai hal seperti itu.
'Ada caranya.' ujar Rukia.
"Bagaimana caranya?" tanya Ichigo.
"Warna mata." ujar Runa tiba-tiba.
"Warna mata?" tanya Ichigo heran.
"Kalau aku, warna mata merah. Kalau Rukia, warna mata violet. Sikap kami juga bakal jauh beda."
"Pantas saja..."
Runa hanya menyeringai saja melihat Ichigo. Entah apa yang dipikirkannya.
"Baguslah kalau kamu mengerti," ujar Runa bersemangat. "Kau tahu, ada Rukia aku jadi tidak bebas."
'Apa maksudmu tidak bebas?' tanya Rukia.
Tiba-tiba terdengar bel yang cukup kencang, sudah bel masuk ternyata. Ichigo berjalan menjauh dari Runa dan dia sedikit bingung.
"Sudahlah Runa juga Rukia. Ayo kita ke kelas." ajak Ichigo.
"Ok..."
Ichigo dan Runa kembali ke kelas dan langsung mengikuti pelajaran. Seperti itu hingga saatnya pulang sekolah. Semua murid langsung keluar dari kelas dan pulang menuju rumah masing-masing. Ichigo memperhatikan ke arah belakangnya, dimana Runa duduk.
"Kau lama juga membereskan buku-bukumu?" tanya Ichigo.
"Haha... Rukia menghambat gerakanku." jawab Runa asal.
'Apa maksudmu, Runa?' tanya Rukia.
"Ayo kita pulang." ajak Ichigo.
"Ok..."
Sekarang Ichigo dan Runa pulang sama-sama. Ichigo melihat ke arah mata Runa, warna matanya masih merah. Dia masih berada di samping Runa. Ichigo hanya tersenyum saja, Runa yang melihatnya merasa heran.
"Kamu kenapa Ichigo?" tanya Runa. "Apa kau kerasukan sesuatu?"
"Haha... Tidak," ujar Ichigo. "Hanya saja aku merasa tidak bisa meyakinkan bahwa kau adalah Rukia begitu saja."
"Kau tidak percaya?"
"Percaya. Hanya saja pribadimu dan Rukia jauh berbeda."
Runa langsung menepuk punggung Ichigo cukup keras sambil tertawa. Ichigo sampai kaget dibuatnya, ternyata Runa agak kasar juga.
"Haha... Sudah kuduga orang sepertimu susah menerimanya. Tapi mengertilah. Rukia ingin sekali bertemu denganmu."
"Baiklah..." ujar Ichigo.
Ichigo dan Runa kembali berjalan bersama. Mereka berjalan cukup lama di jalanan kecil, jalan itu jarang dilewati banyak orang. Padahal arah rumah mereka tidak sama. Ichigo menatap Runa, dan kali ini warna mata Runa berubah menjadi violet.
"Rukia..." panggil Ichigo pelan.
"Iya? Ada apa Ichigo?" tanya Rukia.
"Ah tidak... Sampai kapan kau disini?"
"Sampai..."
Rukia menggantungkan ucapannya, cukup membuat Ichigo penasaran untuk mendengar lanjutan ucapannya. Cukup lama Rukia terdiam tanpa melanjutkan ucapannya.
"Tidak peduli kapan kau ada disini, asal kita bisa bertemu aku senang Rukia." ujar Ichigo.
Wajah Rukia langsung memerah, dia juga mengalihkan wajahnya dari Ichigo. Ichigo hanya tersenyum melihat tingkah Rukia yang malu-malu itu, memang ciri khasnya. Entah apa yang Ichigo pikirkan, Ichigo langsung merengkuh Rukia ke dalam pelukannya.
"Ichigo?" tanya Rukia.
Tapi Ichigo tidak menjawab pertanyaan Rukia, Ichigo langsung mendekatkan wajahnya pada wajah Rukia. Tinggal beberapa centi lagi bibir Ichigo akan bertemu dengan bibir Rukia. Tapi...
"MESUM!" jerit Rukia kencang sambil menampar Ichigo dengan tas sekolahnya. Cukup menarik perhatian orang-orang yang baru melewati jalanan itu.
"Aduh... Sakit tahu, Rukia!" ujar Ichigo sambil mengelus pipinya dan melihat ke arah mata Rukia, sudah berubah menjadi merah. "Runa?" Ichigo langsung merasa panas dingin.
"Apa-apaan kau Ichigo?" jerit Runa sambil marah-marah.
'Runa, kenapa kau mengacaukan semuanya?' tanya Rukia sambil berteriak frustasi.
'Berisik kau, Rukia! Bagaimanapun juga ini tubuhku. Aku tidak mau kau mengambil alih seenaknya.' ujar Runa masih dengan marah-marah. Dan karena tidak bisa berbuat banyak, Rukia hanya diam saja.
"Haha... Maaf ya Runa," ujar Ichigo. "Aku tidak bermkasud..."
"Huh..." Runa langsung berjalan meninggalkan Ichigo menuju rumahnya. Ichigo juga tidak bisa mencegahnya dan membiarkan Runa pergi.
"Haha... Aku harus bisa belajar membedakan mereka." gumam Ichigo.
Runa berjalan menuju rumahnya. Disana masih sepi, saudaranya belum pulang dari kantornya. Runa segera menuju kamarnya dan membaringkan tubuhnya di kasurnya. Mata merahnya menerawang ke langit-langit kamarnya.
"Rukia..." panggil Runa.
'Iya?' tanya Rukia. 'Ada apa?'
"Ah... Kurasa kau harus bisa menahan diri, sampaikan juga pada Ichigo."
'Baiklah...'
"Tujuanmu hanya ingin bertemu dengannya kan? Aku tidak terima kalau kalian melakukan hal itu. Bagaimana pun juga ini tubuhku, dan aku hanya ingin dicium oleh cowok yang kusukai."
'Baiklah, Runa..'
"Hari ini kau bisa bertemu dengannya. Kau pasti senang."
"Iya. Aku bersyukur bisa bertemu dengannya sekali lagi."
"Tapi sampai kapan Rukia? Kau kan tidak bisa selamanya berada di tubuhku."
"Aku tahu... Lagipula Nii-sama telah menentukan waktunya."
"Bapa ya? Oh ya juga ya..."
Runa terdiam dan hanya memejamkan matanya sejenak. Demikian Rukia juga terdiam, membiarkan Runa beristirahat.
'Kalau waktunya tiba, aku tidak akan merepotkanmu lagi.' ujar Rukia.
TBC
A/N: Akhirnya update juga minna...
Ditunggu reviewnya..^^
