Pesan aneh yang kuterima dari 333 kemarin malam membuat firasatku tidak enak. Aku telah mencoba menghubungi dan membalas pesannya berkali-kali tapi tidak ada tanggapan. Apa yang harus kulihat hari ini?, tanyaku khawatir dalam hati sembari memperhatikan ruang kelas yang masih sepi. Aku datang pagi-pagi ke sekolah hanya untuk memastikan apa ada yang aneh disini tapi nyatanya tidak ada satu pun yang terlihat janggal.

Dasar bodoh!, batinku. Mungkin saja kan, itu hanya orang iseng! Buat apa aku was-was begini!

Dengan malas-malasan aku mengikuti pelajaran pada hari itu tanpa memperdulikan lagi si 333. Aku tidak memberitahukan Hinata dan Ino karena menurutku itu adalah hal yang bodoh. Mereka pasti akan ketakutan sendiri, bahkan ketika aku mengatakan itu pasti hanya orang iseng, mereka akan melarangku berbuat hal-hal yang konyol lagi dan menasihatiku macam-macam.

Sampai akhirnya pada saat pelajaran kimia, kami akan menciptakan sabun cuci tangan sendiri. Ini gampang!, kataku dengan sombong dalam hati.

Kami diberikan bahan-bahan untuk membuat sabun cuci tangan tersebut . Guru kimia kami memberikan intruksi dan setelah itu mempersilahkan kami melakukannya sendiri. Tanpa berlama-lama, aku melakuakan semua yang di intruksikan tadi.

Saat aku sedang memasukkan cairan caustic soda ke dalam sabun cuci tanganku yang hampir selesai, tiba-tiba terdengar bunyi ledakan persis di samping yang berjarak tak lebih dari satu meter. Ledakan yang menulikan itu sontak membuat semuanya terkejut bahkan berteriak kaget dan menolehkan kepala ke arah suara yang berasal dari ujung laboratorium. Asap hitam memenuhi ruangan, cairan sabun membasahi meja dan menetesi lantai. Pecahan botol berhamburan ke segala arah ketika ledakan itu terjadi.

Terlihat seorang siswa sedang merintih kesakitan sambil menutupi wajahnya yang terkena luka bakar akibat ledakan. Terdapat banyak luka pecahan kaca di tubuhnya.

Keadaan menjadi kacau, ada yang menjauh dari tempat ledakan, sebagian hanya terperangah, dan beberapa yang telah tersadar dari keterkejutannya segera menolong siswa yang terluka tersebut. Mendadak laboratorium menjadi ramai, semua orang yang mendengar suara ledakan segera datang mencari tahu.

Aku bergeming, takut dengan apa yang sedang kupikirkan sekarang. Jadi itu yang dimaksud si 333? Jadi peristiwa ini salahku?! Tidak…..tidak…..ini pasti hanya kebetulan!

"Sakura…..sakura…..kamu tidak apa-apa?" tanya Hinata yang menyadarkanku dari pikiran-pikiran yang menakutkan itu.

"Oh,aku tidak apa-apa," kataku sambil memperlihatkan senyum yang agak dipaksakan.

"Ya ampun Sakura, tanganmu berdarah!" katanya lagi saat melihat lenganku yang terkena serpihan kaca yang mental akibat ledakan tadi. Sebenarnya aku tidak menyadarinya, pantas rasanya perih daritadi.

"Lebih baik kamu ke UKS juga," saran Hinata yang terlihat cemas, sepertinya bukan karena luka ini tapi karena aku yang terlihat shock.

"Hm……baiklah," kataku dengan ekspresi kosong.

Sepanjang perjalanan ke UKS aku hanya diam dan memandang ke lantai. Mungkin Hinata berpikir aku masih trauma dengan kejadian tadi. Selama diam, aku memikirkan banyak hal yang semakin membuatku merasa bersalah.

Sesampainya di UKS, aku dan Hinata melihat dari balik kaca di pintu, siswa yang tadi terkena ledakan sedang diobati dengan semacam krim anti luka bakar. Terlihat jelas wajahnya terbakar cukup parah sehingga butuh beberapa orang untuk mengobatinya.

Pikiranku semakin kacau. Perasaan bersalah semakin besar dan aku hanya bisa menunduk dalam-dalam. Hinata menatapku bingung.

Tiba-tiba handphoneku bergetar di dalam saku rokku, menandakan ada pesan yang masuk. Kaget, aku yang meninggalkan handphone di rumah mengapa sekarang ada di sakuku?! Aku mengangkat handphoneku yang masih bergetar itu dengan takut-takut. Melihat pesan itu daru siapa. Terpampang di sana angka 333 yang mengirimiku pesan. Sontak aku menutup mulutku menahan luapan rasa ketakutanku.

"Dari siapa?" tanya spontan Hinata yang melihatku mengangkat handphone.

"I….ini…..ini dari ibuku," jawabku terbata-bata.

"Aku mau ke toilet dulu ya!" sambungku cepat.

"Mau ditemani?" tawar Hinata.

"Tidak apa-apa. Aku sendiri saja," kataku cepat-cepat sembari berlari kecil ke arah toilet.

Setibanya di toilet, aku langsung mengunci diriku di salah satu bilik. Tanpa berlama-lama, aku langsung membaca pesannya.

'Jadi, apa yang kau inginkan sekarang?

Apa kau masih ingin bermain-main?'

Aku tidak tahu lagi harus membalas apa. Pikiranku sangat kacau. Aku mencoba untuk menenangkan diri. Aku menarik napas dalam-dalam dan membuangnya perlahan. Lalu berpikir, apa yang harus kulakukan sekarang.

Apa yang harus kubalas?! Apa aku tidak usah berurusan lagi dengannya? Tidak-tidak! Kalau begitu dia bisa saja mencelakai teman-temanku.

Aku memegang handphoneku dengan kuat. Berusaha melawan rasa takut, aku membalas pesannya.

'Bisakah kita sudahi saja semua ini?'

Setelah kukirimkan, aku menggenggam handphoneku kuat-kuat berharap ia menjawab bisa atau ya. Tidak menunggu lama, dia membalas pesanku.

'Kalau kau ingin menyelesaikan semuanya, kau yang harus menyelesaikannya'

'Menyelesaikan apa??'

'Keinginanmu'

Aku berpikir agak lama untuk membalas pesan ini.

'Baiklah, keinginanku adalah kau jangan mencampuri kehidupanku lagi'

'Itu bukan keinginan. Itu pelarian.'

'Tidak!! Itu keinginanku!!'

'Bukankah sewaktu diawal kau berkata ingin bermain?'

'Itu aku salah ketik'

'Jangan berbohong! Kau sudah memulainya! Mau salah ketik atau tidak, pertanggung jawabkan itu!'

Dia memerintahku!, pikirku dalam hati setelah membaca pesan terakhirnya. Sepertinya, satu-satunya jalan adalah aku harus meminta satu keinginan. Tapi tak terlintas satu pun keinginan di dalam otakku. Setelah berpikir sekitar lima menit, aku membalas pesannya.

'Aku ingin keluargaku bahagia'

Aku merasa sangat bodoh tapi aku sudah tidak peduli lagi. Aku hanya berharap ia membalas pesan ini dengan kata iya atau baiklah. Tidak berapa lama, ia membalas pesanku.

'Itu HARAPAN BUKAN KEINGINAN!!!

Apa kau tidak bisa membedakan antara HARAPAN dengan KEINGINAN?!'

Sepertinya dia sudah naik darah. Firasatku mengatakan sebaiknya aku berterus terang saja.

'Aku tidak mempunyai keinginan.

Hanya itu satu-satunya yang ada di kepalaku.'

'Ya sudah kembali keawal.

Kau berkata ingin bermain-main dengan menghubungiku. Jadi apa yang ingin kau mainkan sekarang?'

Setelah membaca pesan itu, aku berpikir keras. Apa yang ingin kumainkan? Sejujurnya aku ingin bermain race bersama teman-temanku. Tapi bagaimana nanti kalau dia bilang, seandainya aku kalah maka nyawa teman-temanku taruhannya atau hal-hal lain semacam itu?! Tidak….tidak….itu tidak boleh terjadi!

'Terserah permainan apa saja tapi aku tidak ingin permainan ini melibatkan orang-orang lain.'

'Baiklah. Berarti ini permainan antara aku dan kau'

Aku mengetik balasannya dengan takut-takut.

'Ya…..ini permainan antara kita berdua'

Aku menghela napas panjang. Sepertinya, aku telah bermain-main dengan maut.

To be Continue


Maaf ya updatenya lama (_ _)

Butuh kerja keras untuk mengetik….*sigh*

Terima kasih atas review di chap sebelumnya! ^^

Aku udah betulin kesalahannya tapi kalo masih salah tolong dikasih tau lagi…. ^_^

Maklumlah masih baru =P

Reviewnya jangan lupa ya