Chaos

Friendship/ Adventure

Rated: T

Pair: Multi pairing in the future

Disclaimer: Ragnarok owned by Lyto and Lee Myoung Jin

Chapter two: Fateful Encounter


-Prontera's Pub-

Suara derap kaki mengisi siang yang cerah itu seperti hari-hari biasanya, entah itu derap langkah kaki manusia, peco-peco, ataupun gesekan roda cart yang ditarik oleh merchant-merchant yang ada di sana. Para Merchant berteriak-teriak mempromosikan barang dagangan miliknya, sedangkan para Novice saling berbincang-bincang membicarakan job apa yang kelak akan mereka jalani.
Vladimir berjalan dengan langkah gontai menuju pub satu-satunya yang ada di Prontera tersebut, sambil memperhatikan keadaan jalan-jalan di Prontera yang baru saja ia lewati. Tangannya menjulur kedepan untuk mendorong pintu bar dan masuk kedalamnya.

Matanya mencari-cari sosok seseorang —atau beberapa orang— didalam bar itu, ia mengarahkan pandangannya pada sudut ruangan kumuh tersebut, dan menemukan apa yang dicarinya. Dua orang manusia sedang duduk dengan santai dan berbincang-bincang sembari menikmati minuman yang terletak di meja kayu yang lapuk. Dengan malas ia melangkahkan kakinya ke sudut bar tersebut, suara berat dari Greaves miliknya bergesekan dengan lantai kayu lapuk yang kotor. Perbincangan antara kedua orang di sudut bar itupun terhenti, perhatian mereka kini terarahkan pada sang Paladin.

Seorang High Priest berambut cepak melihatnya dengan tatapan malas, sedangkan Whitesmith wanita yang duduk bersebrangan dengan sang Healer tersenyum lebar dan melambaikan tangan pada Vladimir. Ia meraih salah satu bangku kosong di meja, meletakan pedang dan perisai yang ia bawa sedari tadi di dekat kursinya.

"Bagaimana hasilnya?" Tatapan penuh tanya dari sang Whitesmith ditujukan pada orang yang baru duduk tersebut.

"Kuterima, toh kita sedang nganggur kan?"

"Kau minta dicabik hidup-hidup oleh Dia? Seenaknya saja menerima misi dari kerajaan." Ucapan bernada sakrastik terlontar dari mulut sang High Priest. Pandangannya meremehkan Paladin tersebut.

"Lalu bulan ini kita akan makan apa kalau tidak bekerja? Dasar Priest gadungan."

"Setidaknya kau bisa tanya Master dulu, Paladin lemah."

"Alat transmisi miliku rusak, mana bisa aku menghubungi Master saat itu? Priest sok tau."

"Sudahlah, sekarang sebaiknya kita menemui Master di Base."

Whitesmith tersebut sudah maklum dengan pemandangan seperti ini, setidaknya ia harus menghentikan keributan mereka sebelum menarik perhatian orang-orang di bar itu. Kedua orang yang bagai anjing dan kucing itu mengangguk dari berjalan mengikuti Whitesmith berambut pirang tersebut keluar dari bar, menuju kearah base guild mereka, Asgard. Whitesmith tersebut melontarkan beberapa kalimat yang membuat setiap bulu kuduk Vladimir berdiri.

"Berdoa saja Dia belum kembali dari misinya hari ini, kalau tidak"—ia menghela nafas—"entah bagaimana nasibmu nanti. "


-Payon, Asgard's Guild Base-

Pekikan riuh sudah menjadi trademark guild 'gila' tersebut, canda tawa, senyuman, persahabatan, dan yang lainnya adalah sesuatu yang langsung terlintas dalam benak orang-orang saat melihat pemandangan ini. Guild yang sudah menerima reputasi baik dimata masyarakat Rune Midgard ini terdiri dari banyak anggota. Namun tak hanya itu saja, guild ini juga banyak mendapat reputasi buruk, salah satu diantaranya adalah sering bertengkar di kota sehingga sering merisaukan warga.

"Yo! Kalian sudah kembali?"

Sapa seorang Clown yang sedang minum-minum dengan anggota guild lainnya saat ia melihat ketiga orang yang baru kembali dari Prontera tersebut memasuki bangunan guild. Ketiga orang tersebut hanya terseyum kecil dan mengangguk dan mengamati sekeliling guild.

"Master ada disini kan?" Tanya High Priest berambut putih itu.

"Ada di bar, bagaimana dengan misimu, Leglius?"

"Entah, Paladin tolol ini mengambil keputusan seenaknya. Entah apa kata Dia nanti."

Tatapan matanya menusuk tajam kearah Paladin berambut coklat tersebut, sedangkan yang disindir hanya mengalihkan pandangannya kearah lain sambil menggerutu pelan seperti 'Dasar rambut uban' dan semacamnya yang sontak membuat kedua orang itu kembali berseteru. Whitesmith wanita tersebut hanya menghela nafas dan menyumpahi mengapa ia bisa sekelompok dengan dua orang bodoh itu. Ia menarik kerah baju kedua orang tersebut dan menyeret mereka kearah bar yang ada di guild itu.

Tepat saat kaki mereka melangkahi pintu bar, aura-aura hitam serasa menusuk menembus kulit mereka, sontak membuat bulu kuduk ketiga orang itu berdiri tak karuan. Keringat dingin keluar dari sekujur tubuh mereka bertiga, mungkin ketiga orang itu akan memilih bungee jumping di Umbala seratus kali daripada berhadapan dengan orang yang mengeluarkan aura tidak mengenakan ini.

Orang itu yang jelas berjenis kelamin wanita, duduk di meja bar, namun posisi duduknya berlawanan dengan ketiga orang yang baru saja masuk ke bar itu. Rambut scarlet nya dengan indah tergerai sampai ke punggung, kain perban melilit daerah dadanya dengan cukup kencang, memastikan agar tidak sampai lepas. Legging hitamya membungkus pahanya yang seksi sampai kedaerah pergelangan kaki, kain putih bercorak api menyala diujungnya terikat rapi di sekeliling pinggulnya. Gauntlet yang terbuat dari Gold membungkus tangannya dengan sempurna. Hanya sedikit orang yang bisa memakai semua atribut itu, atribut yang menyatakan Job orang itu bukan job yang sering kalian temui di khayalak ramai.

Di guild ini tidak ada yang berani membuat orang itu marah, membuat sang Shura mengaum dengan buasnya. Namun malang bagi ketiga orang ini, mereka membuat keputusan yang salah. Shura wanita itu membalikan badannya menghadap pada Paladin dan komplotannya, memberi mereka semua tatapan tajam. Mungkin orang biasa sudah pingsan hanya karena aura intimidasi miliknya. Ketiga orang itu menyadari bahwa sang Shura sudah tahu tentang penerimaan misi dari kerajaan kali ini, kelihatan sekali dari mood dan kerutan sebal di wajahnya.

"Umm... kami bisa menjelaskan alasannya."

"Tidak perlu. Bagaimanapun kita tidak bisa mundur dari misi ini, kita tidak bisa mencoreng nama baik Asgard."

'Memangnya guild ini masih punya nama baik?'

Vladimir ingin mengatakan hal itu dan memutar bola matanya, namun ia masih sayang nyawa. Diberi Death Glare oleh sang Shura saja sudah tidak baik untuk kesehatan jantungmu.

"Namun misi ini tidaklah semudah yang kalian bayangkan. Kita berurusan dengan Archeon. Memang guild itu tidak terlalu membahayakan, namun kalian harus sadar bahwa guild ini mempunyai kartu as mereka, Nyx."

Ketiga orang itu diam dan mendengarkan sedikit Briefing dari Shura tersebut, walau mereka ingin segera kabur dari tempat itu.

"Kita hanya tahu sedikit mengenai Nyx, bahkan wajah dari ciri-cirinya pun kita tidak tahu. Kita hanya tahu bahwa ia seorang Assasin Cross yang mempunyai senjata Ice Pick. Besok kita akan mulai perjalanan mencari base guild Archeon."

"Kita? Kau juga akan bergabung dengan kami, Joezette?"

Shura wanita yang dipanggil Joezette itu mengangguk kecil, mengiyakan pertanyaan Whitesmith itu. Leglius tersenyum kecil, senang karena pekerjaan yang merepotkan ini akan menjadi lebih mudah. Sedangkan Vladimir hanya cemberut.

"Karena misi ini cukup penting, aku jadi ingin bergabung. Kau tidak keberatan kan, Myrtle?"

"Tentu saja tidak, kami malah senang kau mau bergabung dengan kami."

Myrtle bernafas lega, setidaknya mereka tidak jadi dikuliti oleh Joezette, malah keadaan berbalik jadi menguntungkan dimana pekerjaan akan lebih aman apabila Joezette ikut bergabung. Dan lagi, kedua orang yang selalu saja bertengkar itu akan sedikit lebih diam, mereka tidak akan berani ribut-ribut di depan Joezette.

"Master ada dimana? Kita harus melapor padanya kan?" Leglius menyadari bahwa Master dari guild Tartaros sedang tidak ada disana. "Tadi Loke bilang Master ada disini."

"Oh, Master pergi keruangannya untuk beristirahat, aku sudah melapor padanya tentang misi kali ini jadi kita bisa segera bekerja." Timpal Joezette.

"Kita punya waktu senggang sampai besok pagi kan? Aku mau bersantai dulu."

Tanpa menunggu jawaban, Vladimir melangkahkan kakinya keluar dari guild, ia ingin menyegarkan pikirannya. Ia menuju hutan Payon, tempat dimana ia biasa menghabiskan waktunya untuk bersantai selain di guild. Ia ingin menenangkan pikirannya saat ini, berada satu ruangan bersama Joezette selama kurang lebih lima menit saja sudah menguras adrenalinnya, apalagi selama beberapa hari kedepan ia akan berada dalam satu tim dengan sang Shura, membayangkannya saja sudah melelahkan.

Dalam opininya sendiri, sang Shura tidak jahat ataupun menyebalkan, malah ia sangat menyayangi wanita itu, layakanya kakak kandung. Ia percaya Myrtle maupun Leglius berpendapat sama, hanya saja Joezette terlalu tegas dan ketat dalam setiap tindakan yang mereka lakukan. Vladimir tersenyum mengingat masa kecilnya bersama Joezette dan Leglius, mereka selalu berkelahi dan bertengkar bersama. Sedangkan Myrtle baru bergabung dengan guild Asgard belakangan ini.

Vladimir berhenti berjaan saat ia mencapai sebatang pohon tua yang cukup rimbun daunnya. Menghirup udara bersih hutan Payon, ia duduk dibawah pohon itu dan meletakan perisainya disampingnya. Ia memejamkan matanya sebentar, menikmati keindahan alam yang diciptakan Tuhan. Membayangkan dirinya akan menghancurkan guild yang bernama Archeon membuatnya bersemangat. Ia tidak akan segan-segan dalam membantai guild itu, toh Archeon adalah guild ilegal.

Sebuah guild akan dikatakan ilegal jikalau melaksanakan tindakan yang mencurigakan dan berbahaya, seperti membangkang pada perintah Kerajaan dan melaksanakan misi pembunuhan terhadap penduduk sipil maupun pada anggota kerajaan. Lain hal dengan guild Assasin, namun guild Assasin hanya dilarang membunuh anggota Kerajaan.

Ia berniat untuk tidur tidur sebentar, namun bunyi gemerisik dari pohon diatasnya membuat ia segera berdiri mengambil perisainya dan mengeluarkan Holy Avenger dari sarungnya. Ia mundur beberapa langkah dengan cepat dari tempatnya semula, matanya mencari-cari objek mencurigakan dari atas pohon. Ia melihat seorang Assasin Cross berambut putih keperakan sedang bersandar dengan santai di salah satu dahan pohon itu.

Vladimir menatapnya lekat-lekat dengan pandangan curiga, sungguh ia tidak merasakan kehadiran orang lain selain dirinya tadi. Ia tahu seorang Assasin bisa menghilangkan hawa keberadaannya, namun baru kali ini ia merasakannya sendiri.

Assasin Cross wanita itu melirik kearah Paladin yang menatapnya dan dalam posisi siap siaga. Ia tersenyum kecil, namun sang Paladin tidak menyadarinya. Assasin Cross tersebut mengambil sebuah penutup mata yang Vladimir tahu adalah sebuah Odin's Mask, dan memakainya. Vladimir tidak sempat melihat matanya tadi, karena tertutup oleh bayangan daun pepohonan tua. Assasin Cross itu melompat turun dari pohon tua tersebut dengan mantap.

"Maaf aku membuatmu tidak nyaman ya? Aku akan segera pergi." Suara Assasin Cross itu begitu dingin dan dewasa, nada khas seorang Assasin.

"Ah, tidak. Aku yang mengganggu istirahatmu, aku tidak sadar ada orang lain yang sudah menempati pohon itu." Vladimir jadi salah tingkah. Ia menyarungkan kembali pedang kesayangannya tersebut, namun ia belum mau meletakan perisainya, ia tidak akan pernah lengah pada siapapun, apalagi seorang Assasin.

"Tidak masalah, lagipula aku sudah cukup lama tidur disana."

"Ah, silahkan lanjutkan istirahatnya, pohon itu bukan hanya milikku saja kan?" Vladimir tersenyum kecil.

"Terima kasih, tapi aku harus segera pergi." Tolak Assasin itu.

Ia teringat tentang misinya tadi pagi, bukankah orang yang ia cari juga seorang Assasin? Mungkin saja ia mendapatkan suatu petunjuk dari wanita itu. Vladimir melirik kearah tubuh dan pinggang Assasin Cross itu, ia mencari-cari senjata atau apapun yang bisa menjadi petunjuk, dan ia mendapatkannya. Sebuah Infilator tergantung dipinggangnya, namun bukan itu yang menarik perhatiannya, tapi sesuatu yang tergantung di pinggang sang Assasin selain Infilator itu, yaitu sebuah Ice Pick. Bingo.

Bukti utama sudah ia dapatkan, tapi ia bukanlah seseorang yang tergesa-gesa dalam melakukan sesuatu, ia harus memastikan segala sesuatunya dengan jelas. Nah, sekarang ia harus memutar otak agar ia bisa mendapatkan nama Assasin itu.

"Boleh aku tahu namamu? Aku belum pernah menemui orang lain yang nyaman bersantai di pohon ini selain kau."

"... Bukankah lebih sopan kalau kau memperkenalkan dirimu sendiri terlebih dahulu, tuan Paladin?" Assasin tersebut menjawab setelah terdia beberapa saat, sepertinya ia sedang memikirkan sesuatu tadi.

"Maaf, aku lupa. Namaku Vladimir."

Vladimir berpura-pura kikuk dan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Assasin Cross tersebut membalikan badannya dan hendak meninggalkan Vladimir. Namun Vladimir menghentikannya dengan suara mengejek.

"Ayolah, bukannya tidak sopan kalau kau pergi begitu saja tanpa memberitahu namamu, Assasin?" Assasin Cross tersebut tertawa kecil dan tersenyum. Namun hal itu hanya bertahan sebentar.

"Sebut saja aku Nyx."

Lalu bersamaan dengan hembusan angin, ia menghilang.

Gotcha.


-Payon Forest, South side-

Nyx berlari dan melompat dari satu pohon ke pohon lain dengan lincah, setelah ia merasa jarak tempatnya tidur tadi dengan tempatnya saat ini sudah cukup jauh, ia berhenti sejenak. Assasin Cross tersebut mengeluarkan selembar foto dari kantongnya dan melihatnya dengan senyum sinis.

Gotcha.


A/N: Alat Transmisi berberntuk seperti earphone, berguna untuk berkomunikasi dengan anggota guild maupun individu (whisper).

Mungkin anda masih asing dengan job Shura? Baru Release di indonesia Desember lalu sih. Kalau saya lihat di web official RO indonesia, namanya bukan Shura, melainkan Gladiator. Tapi saya lebih nyaman pakai sebutan Shura, yang berasal dari RO Korea aslinya. Job ini merupakan perubahan dari job Champion. Bila ada pertanyaan bisa melalui review ataupun PM. Thanks for reading!