"Ini akan menjadi kelas kalian mulai hari ini" kata Anko sensei, sekarang kami berada di kelas XB yang terletak di lantai 2.
yosh inilah saat yangkutunggu-tunggu aku mencoba merapikan penampilanku, 'kesan pertama itu penting' itulah yang sering dikatakan ibu padaku.
"Ayo kita langsung masuk" tambahnya sambil menoleh kearah kami.
"Baik sensei" kataku.
"Errr Jeanne-san dimana uzumaki-kun?" Anko sensei dengan wajah bingung.
"Ehhhh" aku menoleh kebelakang dengan gerakan patah-patah, dan benar saja dia sudah tidak ada dibelakangku.
'Sejak kapan?' Batinku
sejak kapan aku melepaskan tangannya, dia pasti tersesat aku sangat yakin dia pati tersesat
"Bagaimana ini sensei? Ditersesat! Pasti tersesat! Bagaimana jika dia tidak bisa menemukan jalan pulang? bagaimana jika ada orang yang menculiknya? Atau lebih buruk-nya diterkam hewan buas? Kita harus lapor polisi sensei!" Aku berkata dengan penuh kepanikan.
"Tenang jeanne-san kau tidak perlu sepanik itu, lagi pula kita sedang berada di sekolah bukan di hutan" sensei mencoba menenangkanKu denga sebuah keringat besar di dahinya
"Tapi sensei!"
"Sudah lebih baik kau masuk dan memperkenalkan dirimu, seseorang pasti akan memungutnya"kata Anko sensei sambil menyeretku ke kelas.
Sensei Naruto itu manusia bukan anjing kau tahu, bisa kah kau menggunakan kalimat yang lebih manusiawi?.
Title : Holder : The Yellow Bird
Crossover : Naruto X Fate X DxD
Genre : Action, Romance, Sci-fi & Humor (sedikit)
Rate : T - M (buat jaga-jaga buat kedepannya)
Warning : OC, OOC, Typo, Miss-Typo, Penulisan - Tanda baca ngaco, dan masih banyak kesalah yang lain.
.
.
.
.
'Sial seberapa jauh kelasku ini sebenarnya" batinku entah sudah seberapa jauh aku berjalan yang jelas kaki sudah hampir mencapai batasnya.
"Jeanne seberapa jauh lagi?" Tanyaku yang masih fokus membaca buku keluaran terbaru Gama sanin-sensei, dia adalah penulis favoritku bahkan ketika aku masih tinggal di prancis aku sudah membaca seluruh karyanya, terkecuali seri icha-icha karna jeanne pasti akan membunuhku. Namun terlepas dari itu semua aku sangat menyukai buku, jika ada yang bertanya mengapa? Entahlah aku sendiri tidak tahu atau mungkin tidak ingat.
"Jeanne?" Aku memanggil lagi karna sejak tadi tidak menerima jawaban, dan ketika aku menoleh ke depan tidak ada siapa-siapa disana baik itu jeanne ataupun anko-sensei.
"Seperti nya aku tersesat" kataku sambil menoleh ke segala arah, ini bukanlah hal baru untukku sejak dulu aku memang sangat sering tersesat tapi bukan berarti aku buta arah, aku hanya tidak pernah memperhatikan kemana aku melangkah karna terlalu fokus membaca. orang-orang di rumahku sering menegurku terutama Jeanne, bahkan dia pernah membakar seluruh koleksi bukuku dan setelahnya aku tidak berbicara dengannya selama satu minggu.
"Hei sedang apa kau di sini? Jangan mentang-mentang hari ini tidak ada pelajaran kau bisa berkeliaran seenaknya" suara itu berasal dari tangga, dan saat aku lihat pemilik suara itu adalah seorang gadis dengan rambut crimson dengan ukuran E-cup mungkin?, aku tidak terlalu tahu ukuran-ukuran payudara karna aku bukan orang Mesum tapi yang jelas ukuran ny tidaklah normal untuk anak SMA.
Gadis itu berjalan kearahku dan langsung mejambak ramputku tanpa ampun.
"Terlebih lagi kau mewarnai rambutMu, apa kau ingin menjadi jagoan hahhh?" Katanya sambil mempererat jambakan-nya.
"Ittai,, ittai,," jeritku sungguh ini benar-benar sakit.
"Apakah kau tidak membaca peraturan sekolah hah?" Tambahnya.
Tentu saja tidak! Aku baru masuk hari ini, dan bukankah kau juga mewarnai rambutmu?.
"To-tolong bisakah kau melepaskan rambutku terlebih dahulu senpai, aku bisa menjelaskannya" aku memanggil nya senpai karna dari yangkulihat sepertinya dia berada di tahun ke-3.
"Kalau begitu jelaskan?"
Hoy sudahku bilang bisakah kau melepaskan rambutku terlebih dahulu! Oww aku merasak ada beberapa rambutku yang tercabut, sepertinya aku akan menjadi botak aku pasti akan botak!.
"A-aku murid baru senpai" kataku sambil menahan nyeri
"Lalu? Kau pikir aku melepaskanmu hanya karna kau murid baru? Asal kau tahu aku adalah setokaicho disini" katanya sambil mempererat jambakannya.
Oh kami-sama kenapa kau selalu mempertemukanku dengan gadis barbar seperti dia, tidak Cukupkah kau mengutus Jeanne untuk menyiksaku?
"Se-senpai asal kau tahu rambutku sudah pirang sejak lahir!" Jelasku dengan berteriak.
"Kau pikir aku akan percaya hah?"
'Dia benar-benar keras kepala'pikirku
"Kalau kau tidak percaya lihat saja ini" kataku sambil mengeluakan selembar foto dari dompetku, itu adalah foto diriku bersama jeanne saat berusia 12thn.
Aku sengaja menyimpan foto itu sebagai kartu Asku untuk mengancam jeanne, karna di foto itu jeanne terlihat sangat memalukan dengan wajah-nya yang di penuhi krim. Sebenarnya aku agak ragu mengeluarkan foto itu karna jika jeanne tahu aku pasti akan tamat tapi mau bagaimana lagi keselamatan rambutku terancam disini, aku hanya berharap semoga saja senpai ini tidak akan pernah bertemu dengan jeanne.
"Hmmm" dia sedang menimang-nimang wajahku dengan yang ada di foto.
"Ah seperti nya kau tidak berbohong" katanya sambil menjauhkan tangan nya dari kepalaku dan ternyata benar dugaanku, banyak rambutku yang tak bersalah menjadi korban dari insiden ini.
"Benarkan!" Balasku
"Lalu sedang apa kau disini?"
"Aku tersesat"
"Tersesat? apa kau anak SD?" Katanya dengan nada mengejek yang sangat menjengkelkan.
"Terserah apa katamu senpai"
"Huhhh seharusnya kau bilang sejak awal"
Oyy bagaimana aku bisa menjelaskan-nya? Jika kau dengan seenaknya saja langsung menjenggut rambutku?.
"Sudahkubilangkan" kataku sambil mengusap-usap kepalaku.
"Ya aku minta maaf sebelumnya, hmm dan perkenalkan namaku Rias Gremory setou kaicho di sekolah ini" dia mengulurkan tangannya dengan senyum lembut di wajahnya seolah-olah tidak terjadi apa-apa.
"Dan panggil saja aku Rias" tambahnya
Rias Gremory kah? Dari namanya sudah jelas bahwa dia bukan orang asia jadi aku tidak bisa melakukan komplain terhadap rambut-nya.
" Salam kenal. Rias-senpai Namaku Uzumaki Naruto" jawabku sambil membalas uluran tangan-nya.
"Hahh Uzumaki Naruto?" Katanya dengan nada heran.
"Aku tahu apa yang kau pikirkan, aku adalah orang jepang asli dan RAMBUTku juga asli dan aku bukan blasteran" jelasku dengan menggunakan penekanan saat mengatakan soal rambutku.
"Kalau begitu dari mana rambut pirang dan mata birumu itu?"
"Dari ayahku" kataku berbohong, karna aku tidak mengingat siapa dan bagaimana rupa orang tua-ku.
"Jadi ayahmu seorang blasteran?"
"Tidak, ayahku seorang manusia tulen"
"Kau menjengkelkan" katanya sambil mengembungkan pipi,
"Terima kasih aku sangat senang mendenganya"
Ku akui kau memang cantik senpai tapi maaf saja aku tidak ingin terlibat apa lagi tertarik denganmu, sudah cukup satu wanita barbar yang merunyamkan hidupku dan aku tidak ingin itu bertambah.
"Baiklah katakan berada di kelas berapa kau aku akan mengantar mu"
"Maaf aku lupa senpai" sanggahku dengan cepat, sebenar-nya aku tidak lupa hanya saja aku tidak mendengarkan apa yang kepala sekolah katakan tentang pembagian kelas kami.
"Mou kau ini! Kalau begitu ikut aku ke ruang guru" katanya sambil melangkah berjalan terlebih dahulu.
'Kryukkkk'
Dia menatap ke arahku, apa suara perutku sangat keras sampai rias-senpai bisa mendengar-nya.
"Ehh sebelum itu bisakah senpai menunjukan dimana letak kantin-nya" kataku sambil tersenyum canggung.
"Anggap saja ini sebagai permintaan maafku" balas-nya.
Change scan
"Jadi kau pindah ke jepang dengan sepupumu?" Tanya senpai sambil menikmati jus alpukat yang ia pesan.
Saat ini kami sedang berada di kantin yang terletak di lantai satu sambil melakukan obrola-obrolan ringan.
"Ya dia sangat bersikeras untuk ikut" katak sambil melahap makanan yang bernama ramen, ini sangat enak aku akan meminta jeanne untuk membuat ini nanti aku sedikit membayangkan bagaiman rupa ramen buatan jeanne nanti.
"Pasti sangat merepotkan untukmu"
"Srulppp,,, aku sudah terbiasa lagi pula aku sudah mengenal-nya sejak berusia 7thn"
"Pasti sangat menyenangkan memeliki seseorang yang sangat mengerti dirimu" entah kenapa ucapanya itu terdengar seperti keluhan, tapi aku tidak peduli karna memang tidak ada untungnya untukku,
"Apa senpai tidak punya orang seperti itu?" Tanyaku.
Aku hanya melakukan ini agar pembicaraan kami tidak terputus, karna jika itu terjadi suasana akan menjadi canggung dan aku benci itu.
"Hmm" dia berguman dalam mode berfikir sambil meletakan jari telunjuk k dagunya.
Oh Dia benar-benar manis namun sayangnya dia sangat barbar, jika saja kelakuanmu itu semanis wajahnmu mungkin aku akan jatuh cinta padamu senpai.
"Sepertinya tidak ada" kata-nya
"Bukannya tidak ada, hanya saja kau belum menyadarinya senpai" kataku sambil kembali mmasukan ramen ke mulutku, sial ini benar-benar enak.
"Maksudmu?"
"Kau tahu senpai manusia adalah mahluk zoon politicon yang artinya manusia adalah mahluk yang memiliki kecendurungan senang bergaul dan berkumpul"
"Lalu apa hubungannya dengan saling mengerti?" tanya-nya, seperti-nya dia belum bisa mengerti apa yangkukatakan.
"Srulppp... Untuk dapat berkumpul atau bergaul tentu saja manusia harus mengerti. Seperti apa perkumpulan yang akan dia masuki atau siapa yang akan dia ajak bergaul, dan secara naluriah manusia akan tergerak untuk mencoba mengerti seperti apa lingkungan pergaulannya"
"Jadi maksudMu?"
"semakin sering seseorang berinteraksi maka mereka akan semakin saling mengerti apa kau sudah paham senpai?" Kataku menghentikan sejenak aktifitas makanku.
"Tapi tidak selalu seperti itu bukan? Maksudku tidak menjamin orang yang sering berinteraks itu akan saling mengerti?" Kata-nya
"Yah tentu saja karna setiap orang memilik kapasitas tertentu, tapi itu karna mereka tidak menyadari-nya"
"Errr maksudmu?"
Dia masih bemlum mengerti. Entah ucapanku yang sulit di mengerti atau senpai ini memang bodoh.
"Seperti yangkubilang manusia melakukan itu secara naluriah yang artinya mereka tidak selalu menyadari apa yang sedang mereka lakukan karna mereka hanya mengikuti naluri yang sudah tertanam pada mereka sejak lahir" Kataku menatapnya dengan serius.
Tidak peduli apakah itu lawan maupun lawan manusia akan selalu mencoba memahami manusia yang lain, karna pada dasarnya manusia terlahir ke dunia ini sebagai orang asing tanpa tahu apapun sehingga dengan sendiri-nya mereka akan mencoba beradaptasi dengan lingkunganya, memahami orang-orang di sekitarnya dan membentuk sebuah ikatan.
"Sekarang menurutmu orang seperti apa aku ini?"
"Ehhh ke-kenapa tiba-tiba kau menanyakan hal itu" kata sedikit gugup.
Tenang saja senpai aku tidak berniat melamarmu kau tahu? Aku bahkan tidak tertarik sama sekali kepadamu, ditambah lagi dua buah daging menggumpal itu terlalu besar dan tidak sesuai seleraku.
"Sudah jawab saja" tegas
"Hmmmm" dia melakukan posisi imut seperti tadi,
"Menurutku kau itu hmmm orang yang tidak terlalu banyak bicara jika memang tidak di perlukan, cuek, rakus dan seorangkutu buku apa aku benar?" Ia mengakhiri ucapan-nya dengan sebuah senyum manis yang aku sangat yakin mempesona setiap pria masokis di luar sana.
"Ah dan satu lagi,,," lanjutnya.
Masih ada lagi? Aku terkejut sepertinya dia tidak sebodoh itu.
"Apa itu?" Tanyaku sebenarnya jawaban pertamanya saja sudah sedikit membuatku kagum,
"Kau pasti sorang jomblo yang masih perjaka kan?" Katanya dengan polos.
Entah kenapa rasanya begitu sangit di telingaku penggabungan kata jomblo dan perjaka itu benar-benar memberi demage yang luar biasa. dan senpai kata 'Perjaka' itu tidak pantas keluar dari mulut seorang gadis manis sepertimu di tambah lagi kau mengatakan-nya dengan wajah polosmu.
"I-ya jadi dari mana kau menyimpulkan hal itu?" Tanyaku
"Hmm untuk jawaban yang terakhir aku sudah menduganya saat pertama kali kita bertemu,,,"
Sejak pertama kali bertemu katanya? Apa wajahku seburuk itu senpai? Sial selain barbar senpai ini juga sangat menyebalkan.
",,,lalu untuk yang lain-nya aku tidak tahu kenapa berpikiran seperti itu" tambahnya sambil mengangkat bahunya.
"Itulah yangkukatakan padamu tadi senpai, tanpa kau sadari sejak tadi kau sudah mencoba memahamiku, jika di awal pertemuan kau sudah bisa menyimpulakn seperti itu bagaiman dengan pertemuan kita kedepannya? Mungkin kau dan aku akan lebih saling mengerti kedepannya"Kataku
"Aku mengerti jadi bukan tidak saling mengerti namun hanya tidak menyadari. Seperti itukan?" Katanya, sepertinya kau sangat senang senpai tapiku harap kau tidak menaruh perasaan kepadaku. Ok aku terlalu percaya dirilagi pula mana mungkin Rias senpai menyukaiku.
Aku hanya menganggukan kepalaku, karna tidak ada lagi yang perlu aku jelaskan.
"Kau benar-benar hebat Na-ru-to-kun" katanya dengan mengeja bagian namaku. Wooiii aku belum memberimu ijin untuk memanggil nama depanku!
"Tidak masalahkan?"
"Tentu saja masalah Senpai kau t-"
"Apa tidak boleh hmm Naruto-kun, bukan kah memanggil nama depan itu hal yang wajar di eropa" Kali ini dia mengatakan itu dengan senyum genit sambil mengedipkan sebelah matanya kepaku, dia benar-benar manis bin kawai jika saja dia tidak sedang memegang gelas dengan erat sampai retak, Senpai kau memang benar-benar gadis barbar.
"Ah i-iyakurasa tidak masalah" kataku karna tidak ingin bernasib sama dengan gelas malang itu.
"Syukurlah, ngomong-ngomong dari mana kau menemukan teori itu?"
"Zoon Politicon adalah hasil pemikiran dari Aristoteles, sedangkan untuk penjelasan yang lain aku hanya mengarangnya" kataku dengan santai aku berbicara apa adanya karna seperti yang tertera di buku yang pernah aku baca 'tidak boleh ada kebohongan dalam ilmu pengetahuan' meskipun aku bukan seoran ilmuwan maupun cendikiawan tapi aku sangat menghormati pengetahuan jadi menggabungkan pengetahuan dengan kebohongan merupakan suatu penghinaan yang besar untukku.
"Jadi sejak tadi kau hanya membodohiku?" Dia sedikit meninggikan nada bicaranya, mungkinkah dia marah?
"Tentu saja tidak senpai lagi pula bukankah penjelasanku tadi masuk akal?"
Jika di pikir-pikir lagi penjelasanku tadi memang masuk akal bukan? Lagi pula sejak awal aku tidak punya niatan untuk membodohi-nya.
Dankurasa teoriku tadi cukup bagus mungkin jika aku tulis ulang menjadi sebuah buku lalu menerbitkannya akan laku dan aku akan punya cukup uang untuk membeli rumah baru agar tidak hidup serumah dengan gadis pirang barbar bernama Jeanne, yah itu ide yang sangat cemerlang aku harus mencobanya, aku tidak bisa untuk tidak tersenyum karna menemukan ide sebagus ini.
"Hoi Naruto kau baik-baik saja? Hoi moshi-moshi" kata sebuah suara yang menyadarkanku dari lamunan.
"Eh ada apa senpai?" Tanyaku
"Aku yang harusnya bertanya seperti itu! Kenapa kau tersenyum-senyum sendiri?" Balasnya
"Tidak aku hanya seda-"
"NARUTO!" seseorang memotong perkataanku dan seperti-nya aku mengenali suara ini.
Aku dan senpai menoleh ke asal suara itu, dan seperti yangkuduga sebelumnya orang itu adalah jeanne entah kenapa perasaanku mulai tidak enak.
"Yoo jeanne" kataku sambil berdiri.
"NARUTO! Dari mana saja kau? Apa kau terluka? Apa ada seseorang yang menjahilimu?" Katanya sambil memutar-mutar tubuhku memeriksa apakah aku terluka atau tidak, melihatnya seperti ini selalu membuatku ingin tertawa apa lagi ekspresi khawatirnya yang menurutku sangat lucu.
"Wow! Wow! Tenang jeanne tarik nafas keluarkan, tarik nafas keluarkan, ok lakukan secara perlahan" kataku, jeanne mengikuti intruksi sekarang dia sedikit lebih tenang.
"Ok sekarang kau duduk dan minum ini" kataku sambil menyodorkan jus jeruk yang tadi aku pesan.
Dia memang seperti ini, walaupun kasar dan sering memukulku sebenarnya dia sangat perhatian dan menyayangiku bahkan dia terksan overprotectiv kepadaku. Memang menyebalkan namun disisi lain aku sangat bersyukur dia menjadi bagian dari hidupku, jika tidak ada dia hidupku akan serasa monoton.
"Sudah tenang?" Kataku
"Hmmm" dia hanya menganggukan kepala, pasti sedari tadi dia sangat khawatir, yah lagi pula ini salahku dia mengalami trauma seperti ini.
"Ku pikir kau tersesat sampai ke kota lain lagi" katanya lemas
"Aku minta maaf, aku akan lebih berhati-hati lagi nanti"
"Huhh padahal aku sangat mengkhawatirkanmu tapi kau malah enak-enakan makan dengan seorang gadis" dia berkata sambil memalingkan wajahnya sepertinya dia sangat kesal atau mungkin dia cemburu? Tidak, mana mungkin dia cemburu.
"Ehh perkenalkan dia adalah Rias Gramory-senpai setokaicho di sini" kataku sambil menunjuk ke arah rias-senpai.
"Jeanne Leticia panggil saja Jeanne salam kenal Rias-senpai" ujarnya sambil menjulurkan tangannya ke arah Rias-senpai
"Rias Gramory panggil saja Rias salam kenal" kata Rias-Senpai membalas uluran tanganJeanne.
"Maafkan sepupuku ini dia pasti sangat merepotkanmu" kata Jeanne sambil membungkuk.
"Tidak apa-apa lagi pula aku senang berbincang dengan Naruto-kun,,,," ujar Rias-senpai dengan senyum lembutnya.
",,,,dan maaf Jeanne-san aku tidak bisa berbincang-bincang denganmu karna baru saja aku mendapat urusan mendadak"
"Tidak apa-apa senpai terimakasih telah menjaga sepupu bodohku ini" dia sedikit melirik ke arahku dengan sinis.
"Baiklah kalau begitu sampai ketemu lagi Jeanne-san, Naruto-kun aku pamit undur diri dulu" setelah mengatakan itu dia segera bergegas pergi dengan berlari.
Apa urusannya sangat penting? Terserahlah lagi pula aku tidak begitu memikirkannya, yang lebih penting sekarang aku harus mencari cara untuk melepaskan diri dari singa betina yang sedang duduk di sampingku dengan tatapan membunuh.
Sial tatapannya lebih mengerikan dari biasanya, lupakan soal melarikan diri aku pasti tidak akan lolos darinya, satu-satu nya hal yang bisa aku lakukan saat ini hanyalah berharap agar masih bisa melihat hari esok dengan tubuh yang utuh.
Change scan
Kuoh Akademi adalah sebuah sekolah bersetaraf Internasiona di tingkat menengah atas yang didirikan 10thn lalu, bukan tanpa alasan jika kalian melihat dari gaya bangunan dan fasilitas-fasilitas sekolah ini memamng pantas bersanding dengan sekola-sekolah di taraf internasional lainnya, sekolah ini berdiri di pusat sebuah kota kecil bernamakuoh.
Mungkin terdengar aneh disebuah kota kecil sepertikuoh tapi,-nyatanya sekolah ini memang sengaja di dirikan oleh pemerintah jepang di tempat yang sedikit terpencil alasannya karna kota ini jarang menjadi sorotan publik, karna memang tidak ada yang patut di sorot dari kota kecil seperti ini.
Sebenarnya sekolah ini di dirikan oleh pemerintah jepang bukan untuk membentuk generasi pemuda jepang di masa depan jika memang ada itu hanyalah sebuah bonus bagi negri ini. Karna sekolah ini didirikan khusus bagi anak-anak pemilik kekuatan khusus yang di sebut Telakinesis.
Pemerintah mengumpulkan anak-anak dengan bakat ini untuk melindungi mereka dari orang jahat yang berniat menyalah gunakan kekuatan mereka ataupun dari ilmuwan-ilmuwan gila yang sering menggunakan mereka untuk percobaan yang tidak manusiawi. Terlebih lagi selain mendapat perlindungan mereka juga akan mendapat pelatihan mengendalikan keuatan mereka tentu saja latihan ini di lakukan secara rahasia, karna perbandingan para anak telekinesis ini hanya berjumlah 15% dari seluruh murid yang ada di sekolah ini.
Cukup sampai disini penjelasan singkat tentang sekolah ini, dan sekarang kita lihat ke salah satu ruangan disalah satu gedung sekolah ini. 'Dewan siswa' itulah yang tertulis di atas pintu.
"Maaf semuanya aku terlambat" kataku sambil terengah-engah.
"Kuharap kau punya alasan yang bagus atas keterlambatanmu ini Ka-i-cho" kata seseorang gadis berkacamata dengan rambut bergaya bob, Dia adalah Sona Shitori rival sekaligus sahabatku, dia juga seorang Holder sama sepertiku dia bertipe Hydrokinesis kemampuan yang mampu memanipulasi air disekitarnya. Sebenarnya bukan hanya Sona tapi semua orang yang ada di ruangan ini adalah Holder tanpa terkecuali. Ya, Dewan Siswa di sekolah ini berisi para Holder yang sudah dapat mengendalikan kekuatan-nya dengan sempurna, sebenarnya tidak semua sih, hanya para anggota yang memiliki posisi penting yang di haruskan seorang Holder.
Mulai dari seorang pria berambut nanas yang sedang tertidur dengan pulas di atas sofa, dia adalah Nara Shikamaru dari tahun ke-2 menajabt sebagai Sekretaris, si jenius pemalas dengan Telekinesis tipe Mnemokinesis kemampuan yang dapat mengingat segala hal dengan sangat cepat, tentu saja kemampuan ini tidak berguna dalam pertempuran tapi, untuk seorang ber-IQ 200 seperti shikamaru kemampuan ini seperti sebuah cheat yang di gunakan oleh seorang pro.
Lalu beralih keseorang gadis loli berambut putih yang sedang asyik memakan biskuit di tengah-tengah ruangan, dia adalah Toujou Koneko dari tahun pertama terkenanl menjabat sebagai bendahara dia juga terknal dengan sebutan maskotkuoh entah apa alasan yang jelas di balik tubuh loli-nya ini dia memiliki kekuatan fisik yang luar biasa, dia bertipe Myokinesis kemampuan yang dapat memanipulasi kekuatan serta otot dalam tubuh, hebat bukan? Meskipun menurutku kemampuan-nya ini sangat tidak cocok dengan tubuh lolinya yang menggemaskan itu tapi, mau bagaimana lagi kita tidak bisa memilih kemampuan apa yang kita inginkan.
Lalu yang selanjutnya seorang ikemen berambut reven yang sedang duduk sambil menatap serius keluar jendela, dia adalah Uciha Sasuke tahun ke-2 yang menjabat sebagai wakil ketua. Dia memiliki kemampuan ber-tipe sama sepertiku yaitu Pyrokinesis kemampuan mengendalikan api. Berbeda denganku yang hanya bisa melemparkan bola api lalu meledakan-nya, Sasuke bisa mengendalikan api sesuka hatinya.
"Jadi bisa kita mulai hoaammm... Aku memiliki janji dengan seseorang malam ini" kata Shikamaru.
"Paling orang yang kau maksud adalah guling kesayanganmu" jawab Sona.
"Koneko-chan bisa kau pindah dulu dari sana, kita akan memulai rapat" lanjut Sona sambil menekan sebuah tombol rahasia yang ada di- upss sebaiknya aku tidak mengatakannya, karna jika aku katakan itu tidak akan menjadi rahasia lagi bukan?.
Sesaat Sona menekan tombol rahasia muncul sebuah meja setengah lingkaran dari bawah jendela dan setiap celah tertutup rapat, kami duduk dikursi kami masing-masing lalu tak lama kemudian sebuah proyeksi meja dengan bentuk yang sama di depan kami lengkap dengan orang yang duduk disana.
"Kalian lama sekali" kata orang itu
"Maafkan kami Taicho ini semua gara-gara dia" tukas sona sambil menunjuk ke arahku"
"Hmm sudahkuduga..." Kali ini si Loli Koneko yang berbicara.
"Apa yang kau duga Koneko-chan?" Tanyaku penasaran.
"Karna akhir-akhir ini senpai sering melaksanakan misi dengan Taicho kebiasaan terlambat milik Taicho sepertinya perlahan mulai menular"
"Err aku pikir itu bukanlah penyakit yang dapat menular Koneko-chan dan sebaiknya kita mulai saja pertemuan kita kali ini karna aku masih harus melakukan beberapa hal" kata Taicho
"Apa 'beberapa hal' yang kau maksud itu adalah membaca buku laknat baru mu itu kakasi" Sasuke berbicara untuk pertama kalinya.
"Maa begitulah" balas Taicho dengan santai.
"Baiklah sekarang aku akan menjelaskan situasinya..." Lanjut Taicho, kemudian dia menceritakan kronologi pada malam itu dia juga menambahkan manfaat dari serum itu dan alasan kenapa serum itu dicuri.
"Taicho apakah kau tahu nama orang yang mencuri serum itu?" Tanya Shikamaru.
"Sayang-nya tidak, karna gelap aku tidak bisa melihat wajah-nya dengan jelas terlebih lagi dia melakukan aksiny tanpa kesalahan sedikitpun, namun dari yang aku dapat dari intel-ku Dia berkerja untuk sebuah organisasi" jelas Taicho.
"Apa kau tahu nama organisasi itu?" Kali ini sona yang bertanya.
"Tidak, organisasi ini sangat tertutup bahkan kepada para anggotanya"
"Berarti itu adalah sebuah organisasi yang sangat berbahaya" kata Sona lagi.
"Maa itu tidak penting sekarang, yang harus kita khawatirkan adalah bagaimana cara mendapatkan serum itu kembali" kata seseorang yang baru muncul
Dia adalah Ikuse Tobio Holder jenis Darktech dengan kemampuan mengendalikan gelap. Ia adalah Wakil dari tim yang di pimpin Kakashi-Taicho yang beranggotakan 3 orang dan aku termasuk salah satu di antaranya.
"Dari mana saja kau tobio? Dan dimana yang lain-nya" tanya Taicho
"Aku hanya mengikuti kebiasaan ketuaku, dan untuk yang lain mereka bilang tidak dapat hadir karna urusan mendadak" jelas Tobio-senpai.
"Urusan mendadak disaat bersamaan? Sungguh alasan yang bodoh" ujar Sasuke.
"Kita tidak punya banyak waktu lagi, mereka akan melakukan transaksi itu hari Minggu ini" ujar Taicho.
"Hari minggu ini aku dan Sasuke memeiliki misi yang lain bersama tim kami" jelas Sona
"Yah aku tahu itu, lagi pula kalian berada di pertemuan ini hanya untuk membantu kami menyusun strategi, sedangkan untuk tugas lapangan-nya timku yang akan melakukan-nya" jelas Taicho.
Jadi kami bertiga yang akan melakukan misi ini? Bukankah itu terlalu berat untuk dilakukan oleh 3orang? Lagi pula lawan kami adalah seorang Holder yang telah berhasil memojokan Taicho, belum lagi kehadiran Holder yang belum di ketahui identitas-nya akan membuat ini semakin berat.
"Apa tidak terlalu berlebihan Kakasi-Taicho? Maksudku kalian bertiga yang akan menggagalkan transaksi ini bukan kah itu terlalu berat" protesku.
"Kau tidak perlu khawatir aku sudah menyiapkan pasukan bantuan"
"Aku sudah menyebar intel-ku di seluruh tempat strategis di kota ini, namun sampai saat ini belum ada tanda-tanda dari mereka" tambah Taicho.
"Itu karna mereka akan mucul di pusat kota" kami semua menatap ke arah shikamaru yang baru saja mengatakan hal itu.
"Dari mana kau dapat asumsi seperti itu?" Tanya sona.
"Mudah saja, jika aku berada di posisi mereka aku pasti akan mecari tempat dimana musuhku tidak dapat menggunakan kemampuannya. Dan juga jika dikerumunan banyak orang akan sulit bagi kita mencari mereka seperti kata pepatah 'tempat terbaik untuk menyembunyika pohon adalah hutan"
"Kau benar jika di tempat yang banyak orang kita tidak bisa menggunakan kemampuan kita" balas Taicho
"ditambah lagi kita belum mengetahui siapa musuh kita" tambahku
Ku akui Shikamaru memang jenius IQ-nya yang tinggi ditambah kemampuan Mnemokinesis-nya menambah kecerdasannya menjadi sangat menakutkan
"Untuk itu kau tidak perlu khawatir" kata Tobio-senpai sambil menampilkan sebuah foto. Seorang wanita berambut ungu dan seorang pria berambut abu-abu.
"Baiklah kalau begitu kita tinggal menyusun rencana" kata Shikamaru
"Ngomong-ngomong Shikamaru-kun entah hanya perasaanku sepertinya hari ini aku tidak mendengar kau mengatakan merepotkan seperti biasanya" kata Sona sambil menatap Shikamaru
Yah sebenarnya aku juga penasaran bukan hanya aku tapi yang lain-nya juga terlihat penasaran, bahkan Sasuke yang biasa-nya acuh pun tampak penasaran meskipun tidak terlalu kentara karan tertutup wajah datarnya.
"Hoaammm,,, Apakah penting membahas hal itu sekarang?" Tanya Shikamaru
"Tentu saja karna ini tidak seperti kau yang biasa nya" tambah Tobio-senpai, jika Shikamru yang biasa dia pasti sudah mengatakan 'merepotkan' 10x dalam satu menit.
"Hoamm,,, merepotkan" katanya " aku sudah memikirkan ini selama seminggu terakhir, jika aku terus mengatakan merepotkan setiap kali aku berbicara itu hanya akan semakin Merepotkan dan kalian tahu sendiri aku benci hal-hal yang merepotkan,,, Cih merepotkan"
Kami semua tertegun mendengar penjelasan Shikamaru, dia menghabiskan waktu satu minggu hanya untuk memikirkan hal tidak berguna seperti ini? Ayolah Shika kau taruh kemana otak jeniusmu itu selama seminggu terakhir ini?
Change Scane
Apa yang pertama kali terlintas di kepalamu jika kau mendengar kata 'Sosial'?
Sekumpulan manusia kah? Masyarakt kah? Atau sebuah pelajaran yang membosankan?
Jika aku hal pertama yang terlintas dalam benakku adalah sebuah ciri kelemahan, karna pada dasarnya alasan kenapa manusia bersosialisasi adalah karena manusia itu lemah, mereka tidak bisa hidup sendiri mereka membutuhkan orang lain untuk bisa bertahan hidup. Tapi bukan berarti aku mengatakan seorang penyendiri adalah manusia tanpa kelemahan, justru merekalah manusia yang paling banyak memiliki kelemahan, tapi itulah yang membuatku kagum karna mereka masih bisa berdiri seorang diri di atas kelemahan mereka sendiri tanpa mengandalkan orang lain.
Kenapa aku mebahas tentang sosialisasi, karena beberapa saat lalu aku menjadi korban dari kejam sosialisasi, mungkin terlalu berlebihan tapi itulah yang aku rasakan.
Ceritanya bermula sesaat setelah kejadian di kantin, Jeanne menyeretku dengan paksa ke kelas untuk memperkenalkan diri, di sepanjang perjalanan Jeanne terus berceloteh tentang bagaiman ramahnya para siswa di kelas kami, dia juga menambahkan bahwa setelah pulang sekolah ia di ajak oleh para gadis untuk karoke. Untuk sesaat aku membayangkan bagaimana diriku berbaur di antara teman sekelas baruku, seperti bertegur sapa ketika berpapasan, bercanda ketika tidak ada pelajaran, atau pergi bersama usai sekolah. Membayangkan hal itu ada sedikit rasa senang di hatiku, mungkin karna aku menghabiskan 9thn kehidupan sekolah sebagai seorang penyendiri meskipun aku tidak perna menyesalinya karna aku masih memilik Jeanne yang selalu menemaniku, tapi terkadang rasa iri melintas di hatiku ketika melihat teman-teman sekelas bercanda atau melakukan hal-hal konyol bersama-sama, dan saat mendengar penuturan dari Jeanne aku sedikit merasa bersemangat.
Tapi semuah fantasiku sirna begitu saja, sesaat setelah kami masuk Jeanne memperkenalkanku keseluruh kelas, namun tidak ada sorakan maupun ucapan selamat datang yang hangat yangku terima hanyalah tatapan kecewa terutama dari para gadis, mungkin karna aku tidak seperti yang mereka harapkan. Aku juga memahami hal itu mereka pasti membayangkan jika siswa pindahan dari luar negri adalah seorang siswa yang tampan dengan tubuh tinggi yang proposional, bukan-nya seorangkutu buku culun dengan tampang suram sepertiku.
Meskipun ada beberapa orang yang terlihat masih mau menghampiriku seperti dua gadis yang. Tadi mengajak Jeanne pergi karoke dan 3orang idiot yang dengan bangga memproklamirkan diri mereka sebagai pecinta oppai, ya aku tidak membenci orang-orang seperti mereka tapi kehadiran mereka membuatku semakin terpuruk.
Kita lupakan saja curhatan hatiku tadi karna mengingatnya hanya membuatku terlihat semakin menyedihkan. Sekarang aku sedang berada di sebuah kafe sederhana tak jauh dari sekolahku, sebenarnya aku ingin langsung pulang tapi karna Jeanne bilang dia akan pergi hingga makan malam, jadi aku memutuskan untuk mampir kemari, sesekali bersantai tidak apa-apakan? Lagi pula jika aku langsung pulang tidak ada apa-apa yang bisa di makan di sana dan aku juga tidak terlalu pandai memasak.
Aku kembali membuka lembaran-lembaran buku yangku bawa, 'Cinta dan Komedi Volume 9' itulah yang tertera di sampul buku-nya, aku sangat menyukai buku ini selain dari kisah-nya yang menarik, banyak-nya nilai moral yang disampaikan dalam buku ini dan tak lupa pula komedi antara si Main Character dan si Heroine yang sangat mengglitik.
"-Misi"
"Permisi" kata seseorang mengejutkanku sejak kapan dia ada di sampingku
"Ya ada ap-" aku tidak bisa melanjutkan ucapanku.
Aku terpesona! Oh bung dia sangat manis dan jika dilihat dari penampilan sangat jelas kalau dia bukanlah gadis barbar seperti Jeanne maupun Senpai Merah itu.
"Ano,,,kau baik-baik saja?" Katanya sambil melambaikan tangan nya di depan wajahku.
"Eh ya aku baik-baik saja,, ada yang bisakubantu Nona?"
"Bolehkah aku duduk disini? Tempat lain sudah penuh" katanya dengan sedikit gugup.
Aku mengedarkan pandanganku dan benar tidak ada tempat duduk lagi, sepertinya tempat ini sangat populer.
"Silahkan" jawabku singkat.
"Terimakasih" katanya sambil duduk dikursi kosong yang ada di depanku.
Aku kembali membaca buku dengan khidmat, aku memang sempat terpesona dengan kecantikan nya tapi itu hanya sekilas, lagi pula aku bukan orang yang suka berintraksi dengan orang asing yang baruku temui.
"Apakah itu buku 'Cinta dan Komedi'?" Tanya-nya kepadaku.
"Ya ini buku favoritku" aku menjawab tanpa mengalihkan pandanganku dari buku.
"Benarkah? Berarti kita sama"
Aku menoleh ke arah nya, dia meperlihatkan sebuah buku yang sama denganku di sertai senyuman yang karna sakin manis nya membuatku berfikir mungkin aku akan terkena diabetes jika terlalu sering melihat nya.
"Apa kau juga penggema berat 'Gamma Sanin-sensei'?" Tanyaku sedikit antusias, tentu saja karna ini pertama kali nya aku bertemu dengan orang yang memiliki hobi yang sama denganku.
"Ya tentu aku sudah membaca semua bukunya, mulai dari Cinta Samurai Berdarah, Iblis dan Kenyataan, lalu ehmm?"
" Kisah Ninja Pemberani" kataku karna sepertinya dia sedikit lupa tentang judul buku yang terakhir.
"Ya benar itu adalah buku favoritku"
"Benarkah? Itu juga buku favoritku" kataku dengan sangat antusias.
"Itu sudah wajar karna buku itu sangat bagus, teruatama ketika menceritakan bagian di mana si tokoh utama membangkitkan semangat juang orang-orang ketika perang ninja ke-3"
"Aku juga menyukai bagian itu, apa lagi saat si tokoh utama itu bertemu denga sahabat lama nya dan bertarung bersama"
"Menurutku bagian itu adalah momen yang paling mengharukan"
Kami terus berceloteh mengenai pendapat kami tentang buku itu, entah sudah berapa menit yang terlewat yang jelas aku sangat menikmati pembicaraan ini. Sebelum pada akhirnya kami berhenti dan saling menatap untuk beberapa saat.
"Hihih..."
"Hahah,,,"
Kami tertawa, tapi ini bukanlah tawa yang sering orang keluarkan ketika melihat hal-hal lucu ini lebih seperti tawa bahagia karna menemukan orang memiliki kesamaan dengan dirinya.
"Hihih,,, Maaf aku memang selalu terbawa suasana jika membicarakan tentang buku apalagi jika buku itu adalah karya dari 'Gamma Sanin-sensei" katanya sambil mencoba menghentikan tawa nya.
"Ahah aku juga minta karna ini pertama kali nya aku bertemu dengan orang yang memiliki Hobi yang sama denganku, aku jadi terlalu antusias"
"Ngomong kita belum memperkenalkan diri"
"Kau benar"
"Namaku Kamishiro Rize salam kenal" dia memulai perkenalannya dengan senyum lembut sambil mengulurkan tangannya kepadaku.
" Uzumaki Naruto salam kenal Kamishiro-san" kataku sambil membalas uluran tangannya.
"Wow namamu sama dengan tokoh utama 'Kisah Ninja Pemberani' orang tuamu pasti penggemar 'Gamma Sanin-sensei' juga"
"Ahaha mungkin saja"
Setelah perkenalan singkat itu kami melanjutkan obrolan ringan kami, dan tentu saja masih di seputar buku mungkin terdengar membosankan tapi bagi kami ini adalah percakapan yang paling kami nikmati.
"Jadi kau masih kls-2 SMA?" Tanya nya
"Ya,,, apa aku terlihat tidak cocok?"
"Hmmm,,,, mungkin dari penampilan cocok-cocok saja..." katanya.
"... Tapi cara berpikirMu sama sekali tidak cocok untuk anak SMA"
"Maksudmu?"
"Kau terlalu dewasa Uzumaki-kun, cara berpikirmu sangat realistis kau tidak, tidak seperti anak SMA yang biasanya masih suka mengandai-andai atau memikirkan hal-hal yang sepele seperti percintaan atau hal-hal tidak berguna lain nya"
"Entahlah aku bahkan tidak menyadarinya" jawabku
"Lalu Kamishiro-san sendiri bagaimana apa yang sedang kau lakukan saat ini? Maksudku apa profesimu"
"Hmm menurutmu?"
"Yang jelas kau bukan anak SMA sama sepertiku kan?"
"Hahah tentu saja, aku adalah seorang ibu rumah tangga dan aku sudah memilik 3orang anak" katanya sambil tersenyum.
"Hahhh?"
"Kau tidak percaya?"
"Tidak, maksud Iya aku hanya heran kosmetik jenis apa sehingga kau masih terlihat muda dan cantik meski sudah memiliki 3 oran anak"
"Fufu sepertinya kau sangat pandai menggoda istri orang Uzumaki-kun"
"Errr Gomen,,,aku tidak bermaksud seperti itu sungguh aku hanya mengatakan apa yang aku pikirkan"
"Hahah aku hanya bercanda, sebenatnya aku seorang mahasiswa"
"Huhh Syukurlah" kataku sambil menghembuskan nafas lega.
"Kau mengatakna sesuatu" katanya sambil mengotak ngatik ponsel nya.
Apa yang sedang dia lakukan? Apakah dia sedang menghubungi temannya? Atau mungkin pacarnya? Tunggu kenapa juga aku harus peduli, tapi tetap saja aku penasaran mungkinkah aku menaruh rasa padanya?
"Gomen ne Uzumaki-kun aku harus pergi"
Perkataan nya menyadarkanku dari lamunan singkat yang tidak berguna tadi, dan saat aku melihat ke arah nya, Kamishiro-san sedang mengemasi barang-barang nya.
"Uh baiklah"
Sebenar nya ada perasaan tidak rela aku masih ingin menghabiskan waktu dengan berasama dengan nya, mungkin karna ini pertama kali nya akau bertemu dengan orang yang bisa membuatku nyaman, pertanyaan yanga sama hinggap di kepalaku 'apakah aku menaruh rasa padanya?'
"Mauku antar sampai stasiun" kataku
Tunggu apa yang baru saja aku katakan? Mengantarnya? Bagaimana jika dia memikirkan hal yang tidak-tidak lagi pula kami baru saja bertemu beberapa saat yang lalu, berfikir Naruto! Kau harus mencari alasan yang logis agar Kamishiro-san tidak curiga.
"Eto... Hmm maksudku aku baru saja sampai ke kota ini kemarin malam dan aku belum mengetahui dimana lokasi stasiun, jadiku pikir kenapa tidak sekalian saja"
Jenius! Kau benar-benar jenius diriku itu adalah alasan yang sangat logis.
"Hmm baiklah aku tidak keberatan" katanya
Aku senang! Sangat sangat senang! Jika saja aku memiliki diary aku pasti akan menandai hari ini sebagai hari bersejarah untukku, jika dipikir-pikir kembali seperti nya aku telah Jatuh Cinta kepada nya.
Skip Time
Kami sudah berada di stasiun sekarang, aku sangat menikmati perjalanan kami bahkan kami tidak sadar sudah sampai ke stasiun, dalam hatiku aku berharap jika pemerintah mau memindahkan stasiun itu sedikit lebih jauh lagi agar aku masih bisa bersama dengan gadis ini.
"Baiklah kita sudah sampai" kata nya.
"Ya aku sangat menikmati perjalanan ini" balasku
"Benarkah? Aku senang jika kau menikmati nya"
"Ya Arigatou dan sampai jumpa" kataku.
"Hmm tidak,,, tidak,,, bukan seperti itu Uzumaki-kun!" Katanya sambil menyilangkan tangannya dan menggeleng perlahan.
"Seharusnya kau mengatakan 'Sampai ketemu besok'" tambah nya lagi.
Aku menundukan kepalaku, Sampai ketemu besok ya? Memang aku juga ingin bisa bertemu dengamu lagi besok, tapi apakah itu mungkin? Pertemuan kita ini adalah bentuk dari ketidak sengajaan, sangat kecil kemungkinan kita bisa bertemu lagi.
"Kenapa kau menunduk apa kau tidak senang jika kita bertemu lagi?" Kali ini ada sedikit nada kecewa dari bicara nya, mungkinkah dia juga ingin bertemu denganku lagi? Ahh seperti nya aku hanya terlalu berharap mana mungkin gadis seperti Kamishiro-san mau menemui pria sepertiku lagi dan juga gadis cantik seperti dirinya pasti sudah memiliki pasangan bukan?
"Ti-tidak, justru aku juga ingin bisa bertemu denganmu lagi Kamishiro-san, tapi yah kau tahu sepertinya akan sulit"
"Kalau begitu bagaimana kalau kita betuka kontak?"
Bertukar kontak? Itu adalah kalimat asing di telingaku, karna sejak pertmama kali aku memiliki ponsel hanya ada empat nomor yang tertera di sana yaitu nomor Jeanne, Kakek, Paman, dan Bibi.
Dan hari ini untuk pertama kali nya ada orang lain slain keluagaku yang nomor nya akan tersimpan di ponselku terlebih lagi orang itu adalah seorang gadis semanis Kamishiro-san, oh bung seperti nya aku memang harus manandai hari ini sebagai Momentum bersejarah dalam hidupku.
"Baiklah" kataku sambil mengeluarkan ponselku. Lalu kami saling bertukar kontak.
"Yosh karna sekarang kita sudah bertukar kontak kita tidak perlu khawatir tidak bisa bertemu lagi" Kamishiro-san mengatakan itu dengan senyum manis yang biasa nya.
"Ya kau benar"
"Kalau begitu Sam-pai ke-te-mu be-sok Uzumaki-kun" setelah mengatak itu Kamishiro-san berlari kecil masuk ke dalam stasiun.
"Sampai ketemu besok Kamishiro-san" kataku entah dia bisa mendengar nya atau tidak, tapi setelah itu dia berbalik kembali ke arahku sambil melambaikan tangan nya dan kemudian dia pergi hingga tidak bisaku lihat.
Hahah Sial! Aku benar-benar senang! Bahkan sampai sekarang aku tidak bisa menghilangkan senyum di wajahku, sekarang aku tidak sabar menanti hari esok. Jam besar yang ada di depan stasiun menunjukkan jika sekarang sudah pukul 6 sore, sebenarnya aku masih ingin jalan-jalan sedikit lebih lama lagi tapi karna senyuman sialan ini tak kunjung hilang aku memutuskan untuk pulang, aku tidak ingin di cap gila karna senyum sendiri tanpa alasan yang jelas.
"Are? Aku tadi datang dari mana?"
Kiri? Kanan? Sial aku lupa karan sejak perjalana tadi aku terlalu asyik berbincang dengan Kamishiro-san aku lupa untuk memperhatikan jalan.
"Sial! Seperti nya aku tersesat lagi"
To be continued
Oke salam kenal readers sekalian gw author baru yang mencoba untuk menambah keramaian di Fandom ini...
Gimana ceritanya? Bagus gk? Seru gk? Kalau gk maaf aja namanya juga masih baru.
Gw ucapin terimakasih buat Unknowman senpai yang udah mau bantu gw publish cerita ini,,, kalian pasti kenalkan sama dia? Author kece yang udah cukup lama melalang buana di Ffn,,,
Dan gw juga ngucapin terimakasih buat 3orang pertama yang ngasih gw review yang positive,,, jujur aja pas baca review dari mereka semangat gw yang lagi down tiba-tiba membuludag lagi,,,
Jangan lupa tulis komentar kalian di kolom review,,, karna itu nambah semangat author, bukan cuma di Fic punya gw di fic2 yang lain kalian juga harus. Terlebih lagi nge-review itu GRATIS! Gw ulangi sekali lagi GRATIS!
Oke segitu aja gw ucapin terimkasih buat yang udah baca dan gw The Plato Baskom pamit mengundurkan diri Sampai ketemu lagi
