Review Section :

:: thank you karena udah mau baca dan ninggalin sedikit coret-coret motivasi.. ^^

Guest : Ini diaa~.. ^^

Kikiva - no : Petra sama Levi ketemu di chapter ini. Tapi maaf sebelumnya ya kalau garing dan Levi-nya gak masuk. Entah kenapa saya susah banget bikin Levi keluar.. -_-\

ENJOOOOOYYYYY~... XD


"Jangan bodoh! Kau itu perempuan dan tidak mungkin kau dapat membunuh titan-titan itu!"

"Lalu kenapa ibu bisa?! Kenapa ibu bisa menjadi yang terbaik sebagai perempuan?!"

v

v

v

v

v


Tiga tahun kemudian..

"Apa menurutmu ini adalah cara yang tepat untuk melatih mereka?"

"Tentu saja. Bagaimana pendapatmu?"

"Hmm, entahlah. Tapi di lapangan mereka akan menghadapi hal yang lebih liar. Lihat saja wajah-wajah mereka, begitu lucu. Mereka itu menganggap ini main-main atau apa?" ujar seseorang, penuh sarkasme.

"Levi, kau terlalu serius. Mereka hanya Pasukan Pelatihan. Mereka akan sadar kalau suatu saat nanti mereka harus serius."

"Anak-anak zaman sekarang itu terlalu tidak sadar kondisi. Aku jamin hanya beberapa orang yang akan mampu serius saat waktunya, sementara yang lain tidak."

Levi dan Keith sedang mengawasi latihan para Pasukan Pelatihan dari lantai tiga sebuah gedung asrama. Latihan adu tarung dengan menggunakan pedang itu dilaksanakan di area belakang gedung agar mudah diawasi oleh para pengawas. Cara pelatihan itu adalah : akan dipilih sepuluh orang senior, baik dari divisi Polisi Militer, Pasukan Pengintai, maupun Penjaga Gerbang. Para Pasukan Pelatihan yang ada akan dibagi lima kelompok, sehingga satu kelompok dapat berisi puluhan orang Pasukan Pelatihan. Kesepuluh senior akan dibagi pada lima kelompok tadi sehingga setiap satu kelompok Pasukan Pelatihan akan memiliki dua orang senior. Tugas mereka adalah menjadi juri dan wasit dalam pertarungan antaranggota kelompok dari Pasukan Pelatihan yang ada di bawah 'tanggungjawab'nya. Nilai yang diberikan senior akan sangat menentukan kelulusan mereka. Walaupun diawasi oleh senior, tetap saja ada orang yang menganggap latihan itu sebagai adu tarung mainan, bukan untuk pertarungan yang nyata.

Di antara semua Pasukan Pelatihan yang sedang melakukan adu tarung saat itu, hanya satu orang yang menarik perhatian Levi. Sebenarnya tidak hanya Levi, tapi juga kebanyakan orang di area pelatihan.

"Petra Rall. Dia salah satu yang terbaik dalam melakukan pertarungan satu lawan satu. Dia cantik, pintar, cepat dan sulit didekati. Jika dia masuk kedalam Divisi Pasukan Pengintai, kurasa dia akan sama denganmu, Levi." Keith tersenyum.

"Cih, apa maksudmu?" gumam Levi dingin.

Keith dan Levi berdiri mengawasi para Pasukan Pelatihan selama beberapa menit. Selama pengawasan berlangsung, Levi mengakui dalam hati bahwa kata-kata Keith pada detik-detik sebelumnya memang benar. Petra memiliki pergerakan yang lincah, cepat dan efektif saat menyerang lawannya. Di antara semua Pasukan Pelatihan yang ada, Petralah yang paling menonjol di mata Levi. Levi belum menyadari kalau matanya saat itu adalah awal dari semua hal.


Malam harinya Petra menyengajakan dirinya untuk pergi ke dalam hutan dan berlatih sendirian di sana. Ia berlatih membunuh titan menggunakan Maneuver Gear dan kedua pedang sendirian setiap tengah malam. Berlatih sendirian pada jam itu memang telah menjadi kebiasaan Petra semenjak mereka diajarkan cara membunuh titan.

Setelah satu jam Petra berlatih, Petra mengambil duduk di bawah pohon dan meneguk minuman yang telah ia bawa dari asrama. Tiba-tiba, Petra merasa ada seseorang yang mengawasi dirinya sekarang.

"Siapa itu?" tanya Petra ke arah belakang pohon di dekatnya.

Tidak ada jawaban.

Beberapa detik kemudian muncul seorang pria dengan tinggi 160 cm dari balik pohon.

Melihat sosok yang baru saja keluar dari persembunyian, Petra ingat akan masa lalunya. Pria yang ada di hadapannya ini adalah pria yang telah menyelamatkannya dari penjahat beberapa tahun yang lalu.

"Kau…. adalah….," Petra masih belum percaya pada pemandangan dihadapannya.

"Kau tahu namaku?" tanya pria itu, dingin.

"Levi-heichou," jawab Petra dengan nada agak terbata.

Petra terdiam sejenak. "Jadi, apa aku membuat masalah atau sesuatu?" tanya Petra dengan nada gugup dan takut.

Levi mengambil duduk di bawah pohon, menghadap ke Petra.

"Apa alasanmu masuk militer, Petra?"

Petra agak terkejut karena kapten ini tahu siapa namanya.

"Aku…. ingin membunuh titan."

Levi terlihat datar. "Hanya itu saja?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Aku… ingin membalas kematian ibu dan tunanganku. Mereka berdua mati karena titan. Aku tidak bisa memaafkannya. Aku ingin membunuh mereka dan membuat mereka membayar untuk mereka berdua. Itulah alasannya mengapa aku ikut bergabung ke akademi militer."

Api unggun terus menyala. Levi memperhatikan Petra yang terduduk sedih di hadapannya karena mengingat masa lalu.

"Alasan yang standar. Semua orang kehilangan orang yang mereka cintai karena titan. Kau pikir hanya dirimu saja yang menderita? Hanya orang bodoh yang masuk ke akademi militer untuk melakukan balas dendam. Buang – buang waktu saja," timpal Levi.

Petra yang mendengar itu merasa tersinggung.

"Kau pikir kau mampu melawan semua titan yang ada? Kau bahkan belum melihat bagaimana dunia luar. Sombong sekali kau bisa mengatakan akan membunuh titan. Apa jangan-jangan dua orang sebelumnya yang meninggal itu pun adalah orang bodoh yang berniat membunuh titan?"

Petra kesal mendengarnya.

"Ibuku seorang anggota Pasukan Khusus dan tunanganku adalah relawan yang keluar dari tembok untuk mencari garam. Aku tidak peduli jika kau hendak mengatakan mereka bodoh sesuka hatimu, tapi bagiku mereka amat berarti dan kematian mereka adalah kematian yang membanggakan." Petra masih menahan emosinya.

"Lalu apa yang terjadi jika kau mati saat menghadapi titan?" tanya Levi datar. "Dua orang yang kau cintai mati karena melayani masyarakat, sedang kau? Apa yang kau lakukan?"

Petra terdiam geram dan kesal mendengarnya.

"Kau pikir mereka akan senang dengan kematianmu, bodoh? Mereka melayani masyarakat agar masyarakat bisa hidup lebih baik. Kau hidup hanya untuk membalaskan dendam. Cih, hidup menjijikkan seperti itu akan segera berakhir tragis, kau tahu?"

Petra yang kesal hanya bisa diam. Ia tidak bisa berbuat apapun mengingat Levi adalah atasannya. Seketika saat itu juga air matanya terus mengalir tanpa henti.

Levi di depannya hanya memperhatikan dengan ekspresi datar.

"Kau kesal? Kau marah?"

Petra hanya diam menangis.

"Tunjukkan kepadaku hasil latihanmu. Aku ingin lihat sejauhmana dendam bisa membuatmu lebih kuat."

Petra menatap Levi dengan mata sembabnya.

"Cepat bangun, bodoh!"

Kata-kata itu membuat Petra lebih 'panas'. Ia berdiri dari tempat ia duduk.

"Ambil dua pedangmu. Anggap aku adalah titan yang telah memakan ibumu dan merobek pacarmu itu. Coba bunuh aku." Levi melepas jubah hijaunya dan menaruh jubah itu di atas cabang pohon. "Kau boleh menggunakan Maneuver 3D karena aku akan melakukannya."

Petra mengambil kedua pedangnya.

"Mulai," ujar Levi memberi aba-aba.

Petra mulai bergerak dengan cepat dan mengibaskan pedangnya ke arah Levi. Di saat yang sama, dengan cepat Levi menggunakan Maneuver 3D miliknya dan terbang menuju ke arah hutan yang semakin dalam. Petra mengejarnya dan terus berusaha menyerang Levi. Karena kecepatan yang sama, Levi selalu berhasil menghindar. Semenit kemudian, Levi mendarat dan Petra tetap berusaha menyerangnya. Levi yang bertangan kosong terus menghindar dari serangan Petra dengan tenang dan emosi yang stabil. Ia juga mampu mempertahankan kecepatannya. Sementara itu, Petra yang memegang dua pedang di tangan kanan dan kirinya terus berusaha menyerang heichou dengan kecepatan stabil dan emosi yang labil. Akibatnya, serangan akhir dilakukan oleh heichou yang sangat sukses menendang Petra tepat di diafragmanya. Seketika, Petra tersungkur jauh ke belakang dengan muntah darah yang cukup banyak keluar dari mulutnya. Satu serangan dari Levi dan Petra ambruk.

Pandangan Petra memburam…..

Selanjutnya…

Petra tidak ingat apa-apa lagi.


Pagi itu begitu tenang dan sejuk di mana Petra membuka matanya yang sudah delapan jam tertutup. Saat ia bangun, ia merasakan perutnya yang masih sakit. Di sekelilingnya hanya ada cat putih yang ia lihat. Butuh delapan detik baginya untuk menyadari kalau ia sedang berada di unit kesehatan.

"Kau sudah bangun?"

Tiba-tiba suara itu terdengar di telinga Petra. Saat ia melihat ke arah sumber suara, Petra melihat ada ayahnya di sana.

Tuan Rall yang malang. Ia terlihat tidak terurus dengan baik. Tubuhnya kurus dan pandangannya sangat sayu ke arah Petra.

"A…ayah?"

Tuan Rall tersenyum. "Petra, bagaimana keadaanmu?"

Ayah yang berdiri di sampingnya membuat Petra sadar betapa ia merindukan anggota keluarganya itu.

"Ayah~" Petra bangkit dan memeluk ayahnya dengan erat. Sayangnya, Petra masih belum pulih sehingga perutnya masih terasa sakit saat ia duduk.

"Sudahlah, berbaring dulu saja." Ayah Petra memosisikan anaknya agar ia kembali berbaring.

Ia mengelus kening Petra dengan lembut.

"Maafkan ayah, Petra. Seharusnya ayah tidak bersikap kasar waktu itu. Ayah baru sadar setelah kau pergi. Ayah hanya tidak ingin kehilangan anggota keluarga lagi, itu saja. Setelah mendengar cerita dari beberapa pelatih dan Kopral Levi mengenai dirimu, ayah akan terima jika kau masih bertekad untuk bergabung dengan militer."

"Le..vi-heichou?"

Ayah Petra mengangguk. "Dia bilang kau punya tekad yang kuat, bahkan semua pelatih di akademi mengakui dirimu sebagai salah satu siswi terbaik mereka. Levi-heichou bahkan mengatakan kepadaku kalau aku seharusnya bangga punya putri seperti dirimu. Dia bilang kau tangguh, tanggap dan cerdas. 'Dunia sangat membutuhkan Petra', begitu katanya."

Petra menatap ayahnya tidak percaya setelah mendengar sang ayah mengatakan (yang katanya) kata-kata Levi.

"Benarkah, ayah?"

Ayah Petra mengangguk sambil tersenyum. "Kau memang mirip ibu sejak awal. Setelah mendengar kata-kata Levi-heichou, ayah jadi dapat melepaskanmu. Tapi, jika kau akhirnya memutuskan untuk kembali, ayah akan selalu menerimamu lagi."

Petra merasa terharu mendengar kata-kata ayahnya.

"Lakukanlah apa yang hendak kau lakukan, Petra. Jangan buat dirimu menyesal. Ibu, ayah dan George akan sangat bangga padamu."

Mendengar kata-kata ayahnya, Petra menangis di kasur. Ia ingat bagaimana perilaku buruknya saat kabur dari rumah dan ia menyesal sudah meninggalkan ayahnya sendirian. Ia juga kembali ingat mengenai bagaimana dua orang tercintanya meninggal. Ditambah lagi, ada rasa berterima kasih yang amat besar dari diri Petra pada Levi karena telah membantunya meyakinkan sang ayah agar mengizinkan dirinya bergabung dengan militer.

Di luar ruangan itu, Levi bersandar pada tembok dengan sepucuk surat di genggaman tangannya.


Dear, Petra..

Maaf karena telah membuatmu kesal kemarin-kemarin. Aku tahu kalau sebenarnya kau mengkhawatirkan aku, tekadku untuk bergabung dengan relawan pemanen garam. Maaf karena aku mendaftar tanpa sepengetahuanmu. Aku melakukan ini karena aku merasa aku belum pernah melakukan apapun yang berarti bagi orang banyak. Aku tidak bisa masuk militer karena kondisiku yang buruk, kau tahu kan? Penyakit ini membuatku tidak bisa bergabung dengan korps dan melayani masyarakat. Oleh karena itu aku bergabung menjadi relawan.

Petra, aku tahu kalau hari terakhir kita bersama –saat kau mengantarku ke pelabuhan-, adalah saat di mana kau masih khawatir mengenai kepergianku. Tolong jangan begitu. Tersenyumlah. Aku akan membawa banyak garam untukmu. Kau suka memasak bukan? Aku yakin masakanmu akan semakin enak jika kau memberi banyak garam. Akan aku bawa sebanyak yang aku bisa untukmu.

Petra, tolong jangan mencibirku karena aku ingin menolong banyak orang. Aku hanya ingin melakukan sesuatu, sesuatu yang berguna dan dapat membuatmu bangga. Kau ingin memiliki seseorang yang dapat kau banggakan bukan? Inilah saatnya untuk membuktikan betapa membanggakannya aku bagimu ^^

Petra, tersenyumlah. Jika kau menerima surat ini, tolong jangan bersedih karena kepergianku. Aku melakukan ini untuk kita semua. Aku harap siapapun yang memberikan surat ini padamu dapat menceritakan bagaimana aku selama perjalanan ini.

Petra, jangan menangis. Kumohon. Kau terlalu cantik untuk membuat pipimu basah, pipi yang selalu aku cium itu. Tolong jangan bersedih karena itu akan membuatku terluka melihatnya. Aku baik-baik saja di dunia sana. Hiduplah yang panjang, Petra. Carilah pengganti diriku yang lebih baik. Pastikan ia lebih sehat, lebih kuat, dan sangat menyayangimu agar kau aman menjalani hidupmu. Aku akan berdoa dari sini agar kau menemukan orang itu. Jika dia jahat padamu, lihat saja, aku akan menghajarnya hingga ia menyesal telah menyakitimu.

Petra, aku menyayangimu. Selalu dan selamanya. Ingatlah aku sebagai orang yang pernah ada di kehidupanmu dan lupakanlah aku saat kau menemukan pria itu. Sampaikan pada Tuan Rall permintaan maafku karena telah meninggalkanmu sendiri.

Untuk Petra yang tersayang,

Dari kekasihmu, George Switzer

PS : tersenyumlah, kau cantik saat tersenyum dan tertawa. Aku ingin terus melihatmu tersenyum dari sini.


Tuan Rall sedang pergi mencari makanan untuk Petra saat Levi masuk ke ruangan di mana Petra dirawat. Levi membuka pintu ruangan itu dengan begitu pelan. Ia melangkah dengan tenang dan mendapati Petra sedang tertidur di sana.

Levi hanya diam memandangi Petra. Gadis manis di depannya terlihat begitu tidak berdaya dan rapuh. Berbeda dengan saat terakhir kali Levi bertemu dengannya –ia begitu bersemangat, obsesif, agresif, dan tangguh-. Kenyataannya, Petra memang rapuh di dalam, tidak peduli sekuat apapun Petra di mata orang-orang.

Dengan pelan Levi menaruh surat yang baru saja ada di tangannya di atas sebuah meja, dekat vas bunga. Tanpa diduga, suara surat dapat membuat Petra terbangun.

Levi langsung memandang keluar jendela begitu menyadari Petra bergerak.

"He…heichou?" gumam Petra saat mendapati kopral dingin itu ada di kamarnya, memandang keluar jendela yang ada di samping kanan.

Heichou itu begitu tenang, dingin.

"Apa kau sudah menyadarinya sekarang?" Levi membuka dialog.

"Eh?"

"Emosi berlebihan lebih cepat membuatmu terbunuh daripada lawan."

"Oh, ehm,," Petra menunduk terdiam. Ia baru menyadarinya saat Levi bicara.

"Kehilangan orang terdekat memang menyakitkan, walaupun kau adalah seorang pembunuh."

Petra masih tetap menunduk.

"Apa alasanmu menjadi prajurit, Petra?" tanya Levi yang masih memandang awan di luar jendela.

"Mem..balaskan dendam orang-orang yang aku cintai," jawab Petra pelan.

Levi terdiam. Tatapannya datar dan masih ke arah awan yang bergerak.

"Mereka yang mati karena berjuang akan terus diingat. Jika kau ada kesempatan berjuang untuk hidup, hiduplah dan teruskan perjuangan mereka yang sudah meninggal. Melihat orang yang dicintainya hidup adalah harapan setiap orang yang telah pergi. Menjadi prajurit bukanlah hal yang mudah. Jika kau mati dalam peperangan, apa kau yakin mereka yang mencintaimu akan senang melihat mayatmu? Tidak."

Levi memandang ke arah Petra.

"Kau suka latihan tengah malam bukan? Dokter bilang kau akan sembuh sempurna sekitar tiga hari. Mulai sejak kau bangkit dari kasur ini, temui aku di hutan setiap tengah malam. Aku ingin melihatmu bertarung sebagai pejuang, bukan sebagai anak kecil."

Petra mengangkat kepalanya dan menatap ke arah Levi lekat-lekat. "Heichou?"

Levi yang dingin melangkah ke pintu untuk keluar dari tempat itu. "Tidurlah seperti bayi agar kau cepat sembuh. Semakin cepat kau sembuh, semakin cepat kau berlatih."

Levi membuka pintu dan keluar dari ruangan itu.


"Ayah, hati-hati di jalan, ya?" ujar Petra pada ayahnya yang akan pulang ke rumah.

"Terima kasih. Petra juga, hati-hati ya? Jangan lupa, sering-sering kirimi ayah surat agar ayah tahu keadaanmu. Kalau ada waktu, pulanglah ke rumah," ujar sang ayah pada putrinya.

Petra tersenyum mengangguk. "Aku sayang ayah." Petra memeluk ayahnya.

Tuan Rall tersenyum dan membalas pelukan anaknya.

Dari jendela dil antai tiga Levi memperhatikan mereka, sepasang ayah dan anak yang saling mengucapkan salam perpisahan.

"Woi, Levi? Apa kau yakin soal melatih anak itu setiap malam? Dia perempuan dan masih kecil. Aku hanya khawatir dia gampang sakit setelahnya," ujar Hanji yang sedang duduk di sofa.

"Ya. Dia punya ambisi dan potensi yang besar. Sayang sekali jika ia tidak diasah."

"Oke..oke.. terserah kau saja."


Malam yang ditunggu akhirnya tiba. Petra sudah menunggu di tempat yang sama ketika Levi datang menghampirinya.

"Sudah sembuh?" tanya Levi pada Petra.

Petra mengangguk pelan.

"Kau marah padaku?" tanya Levi lagi.

"Sebaliknya." Petra berdiri dari tempatnya duduk dan mengangkat kepalanya.

Di tempat Levi berpijak yang hanya bermodalkan cahaya api unggun, Levi dapat melihat Petra tersenyum. Senyum yang sangat manis, seperti tidak ada kebencian yang tertanam pada dirinya.

"Terima kasih, heichou. Setelah mendengar kata-kata heichou di unit kesehatan kemarin, aku jadi sadar kalau aku memang bodoh. Sangat bodoh. Aku baru sadar kalau ibu dan George tidak akan bisa kembali lagi meskipun aku sudah membunuh ribuan titan. Aku pikir semuanya akan membaik seperti awal jika aku membunuh para titan itu. Itulah sebabnya mengapa aku begitu terobsesi untuk membunuh mereka. Sekarang aku sadar kalau aku salah. Menjadi prajurit karena dendam memang alasanku sejak awal dan lebih baik daripada menjadi prajurit untuk balas dendam. George dan ibu yang memberikan alasan untukku menjadi prajurit tapi bukan untuk balas dendam. Mereka menjadikan aku prajurit untuk membuat tidak ada lagi korban-korban berjatuhan seperti mereka."

Levi mendengarkan.

"Aku akan berjuang. Aku akan berjuang untuk tetap hidup dengan baik, berusaha membebaskan manusia dari titan-titan di luar sana, dan membuat ibu dan George bangga terhadapku! Heichou, mohon bantuannya." Petra melakukan posisi hormat pada Levi.

"Hnn,, kau lucu sekali," timpal Levi datar.

Petra hanya tersenyum menanggapinya.

"Oh iya, terima kasih lagi, heichou. Berkat anda ayah jadi mengerti jalan yang saya ambil ini. Terima kasih banyak." Petra tersenyum senang.

"Sudah selesai ucapan terima kasihnya? Cepat angkat kedua pedangmu. Sekarang, buat aku mengangkat kedua pedangku. Kau punya waktu hingga jam dua nanti."

"Baiklah," ujar Petra seraya mengeluarkan kedua pedangnya. Petra mulai memasang ekspresi serius.

"Aku malas memberi aba-aba. Serang saja aku kalau sudah siap."

Dengan cepat, Petra memulai serangan pertamanya pada Levi. Kali ini berbeda, Petra lebih stabil daripada sebelumnya walaupun emosinya masih sedikit keluar. Pada latihan kali ini Levi masih menghindar dari serangan Petra dan pada beberapa kesempatan ia memukul atau menendang Petra. Petra sendiri yakin pada heichou-nya itu. Ia yakin kalau heichou sebenarnya sedang mengajarinya bertarung secara 'sungguhan'.

'Jika membuat heichou mengangkat senjata pun aku tak sanggup, bagaimana aku bisa melawan titan?' pikir Petra dalam hati.

Malam itu adalah malam pertama bagi Petra untuk menikmati pelatihannya dari Levi. Malam pelatihan itu masih berlanjut hingga beberapa hari ke depan. Pada hari ke lima belas, Petra berhasil membuat Levi mengangkat kedua pedangnya. Pada hari ke enam belas hingga malam ke tiga puluh satu, Petra terus berlatih adu pedang bersama Levi.


Hari itu adalah hari di mana semua Pasukan Pelatihan memilih divisi tertentu sesuai minat masing-masing. Pemilihan divisi akan dilakukan saat senja. Siang itu Petra memikirkan dialognya dengan Levi saat melakukan latihan di malam sebelumnya:

Levi : "Jadi, divisi apa yang akan kau pilih?"

Petra : "Kurasa…. penjaga gerbang."

Levi : "… kenapa?"

Petra : "Karena…."

Levi : "Kau takut?"

Petra : "Tidak… hanya saja, aku merasa kalau gerbang adalah batas di mana manusia dan titan dipisahkan. Aku punya firasat kalau suatu hari nanti gerbang kita tidak dapat melindungi kita lagi. Oleh karena itu, aku ingin melindungi gerbang agar bisa menjaga orang-orang dari titan."

Levi : "….."

Petra : "Aku juga merasa kalau aku tidak memiliki kualifikasi untuk menjadi anggota dari Pasukan Pengintai."

Levi : "Kau ini, dasar aneh. Kemarin kau bilang ingin membunuh titan, sekarang ingin menjaga gerbang."

Petra hanya tertawa kecil.

Levi : "Hei,, tanya aku."

Petra : "Eh? Tanya apa?"

Levi : "Apa saja. Rasanya aneh kalau diam seperti ini."

Petra berfikir sejenak.

Petra : "Ah, baiklah! Heichou, kenapa anda bisa masuk militer?"

Levi melirik dingin ke arah Petra yang membuat Petra sedikit takut.

Petra : "Ka…kalau boleh tahu…"

Pandangan Levi beralih ke bintang-bintang yang ada di langit.

Levi : "Komandan Erwin yang memintaku bergabung. Setelah kehilangan terbesar Pasukan Pengintai pada waktu itu, Komandan Elvis mengundurkan diri dan Erwin ditunjuk untuk menggantikannya. Erwin berfikir kalau kualifikasi sebagai Pasukan Pengintai haruslah seseorang yang kuat dan tidak takut bertempur serta berpengalaman dalam bertarung. Oleh karena itu, dia memintaku bergabung."

Petra : "Heichou direkrut?"

Levi : "Ah. Aku bahkan tidak mengenal akademi militer selama tiga tahun sepertimu. Hanya enam bulan pelatihan."

Petra : "Wah? Hebat sekali! Bagaimana bisa, heichou?!"

Levi : "Karena sebelum aku masuk militer, aku adalah pembunuh bayaran."

Seketika suasana berubah hening.

Petra : "Pem…bunuh bayaran?"

Levi hanya diam dan meneguk minumannya.

Levi : "Boleh kuberi saran padamu?"

Petra : "Eh?"

Levi : "Kau punya tekad dan kemampuan yang bagus. Kecepatan, kemampuan analisis, skill bertarung, dan fleksibilitasmu sangat bagus. Kau akan memperoleh nilai tertinggi dengan mudah jika lebih berusaha. Manusia membutuhkanmu, Petra."

Petra : "He…heichou?"

Levi berdiri dan menutup botol minumnya.

Levi : "Kau tahu harus kemana jika kau akan menggunakan potensimu itu."

..

..

..

..

Percakapan di malam itu terus membuat Petra berfikir. Saat Petra memandang langit –melihat awan yang bergerak disertai burung-burung yang terbang kesana kemari-, ia melihat kedamaian. Kemudian Petra melihat ke arah dinding yang tinggi menjulang jauh di depannya, ia melihat keamanan. Sedetik kemudian Petra melihat ke sekelilingnya, ia melihat teman-temannya. Mereka tersenyum dan tertawa, berbincang satu sama lain, dan mereka hidup.

Petra menggerakkan sedikit kakinya, lalu ia melihat ke arah bawah. Ia melihat tanah, asal dari semua kehidupan dimulai dan berakhir.

Petra merasa memiliki semua keindahan. Ia memiliki langit yang berwarna biru, tanah berwarna coklat kemerahan, dinding tinggi yang kuat dan tebal, serta kehidupan bersama dengan teman-teman lainnya.

Ia tidak ingin semuanya berakhir mengerikan. Dinding yang roboh, langit berubah menjadi buram, tanah menjadi merah, yang hidup menjadi mati. Mengapa tidak mungkin hal itu terjadi?

Petra baru mendapat ilham ketika memikirkan semuanya. Dinding yang kuat tentu tidak akan menolong manusia. Sumber makanan yang hampir langka, tidak. Sumber makanan akan sangat banyak ditemukan jika manusia mampu pergi lebih jauh ke luar dinding. Sumber makanan langka karena manusia tidak bisa mengambilnya dari wilayah yang dipenuhi titan, di luar tembok. Manusia akan tetap punah karena kekurangan makanan. Itulah alasan mengapa dinding tak akan mampu melindungi manusia selamanya. Manusia akan tetap punah jika mereka berada di dalam dinding. Semuanya karena titan!

Karena titanlah ibunya meninggal, karena titanlah George meninggalkannya. Walaupun mereka memiliki alasan yang indah untuk meninggal –berjuang-, tapi tetap saja mereka meninggal karena titan ada di dunia.

Jika Petra memutuskan untuk menjadi penjaga gerbang, ia tidak bisa menghentikan kutukan dari titan-titan yang ada.

Ya…

Satu-satunya cara untuk menjamin kehidupan manusia adalah : membunuh semua titan yang ada. Manusia akan bebas jika mereka mati. Dan Petra dapat melakukannya jika ia keluar dari dinding. Pasukan Pengintai adalah satu-satunya cara di mana ia bisa melakukannya!

Dan senja itu, Petra resmi memasuki Divisi Pasukan Pengintai bersama Gunter, Auruo dan Erd Gin.